Hate Is Love

Hate Is Love
Infinity Corp


__ADS_3

Seluruh rombongan relawan sudah bersiap untuk kembali ke Bandung. Waktu mereka sebagai relawan sudah selesai, dan hari ini waktunya mereka kembali. Semua aparat dewa, guru di sekolah, petugas medis di puskesmas, warga dan anak-anak di sekolah melepas kepergian orang-orang yang sudah membantu dan menjadi bagian warga desa Tampaure selama satu bulan.


Tiga orang murid memberikan karangan bunga yang dirangkai oleh murid-murid di sekolah pada seluruh relawan. Dayana mendapat karangan paling besar. Dia memeluk murid yang memberikan bunga padanya. Tak lupa dia mengambil gambar dengan semua murid yang diajarnya. Perasaan sedih menggelayuti hatinya, harus berpisah dengan murid-murid yang selama ini diajarnya.


“Kalian belajarnya harus rajin ya, harus sering-sering latihan,” suara Dayana terdengar serak menahan tangis yang hendak keluar.


“Iya, miss.. jangan lupain kita ya.”


“Aku ngga akan bisa melupakan kalian semua. You’re all the best students that I ever have.”


Dayana menghapus genangan air yang membasahi matanya. Bagaimana pun juga gadis itu tidak bisa menahan kesedihannya berpisah dengan anak-anak yang selama sebulan ini menemaninya. Bukan hanya Dayana, Wina juga merasakan hal yang sama. Amran mendekat kemudian memberikan tisu untuk Dayana.


“Makasih.”


“Jangan nangis. Kita kan masih bisa bertukar kabar lewat e-mail atau WA. Nanti aku bakalan kasih tau perkembangan anak-anak sama kamu.”


“Makasih ya Am.. nanti aku bakal kirim bahan-bahan supaya mereka bisa belajar lebih banyak lagi. Aku juga bakal kirim buku atau modul buat bantu pembelajaran.”


“Makasih ya, Ay.. kamu udah mau peduli sama kita-kita di sini.”


Perbincangan Dayana dan Amran tertangkap oleh telinga Rafa. Walau pembicaraan mereka terkesan biasa dan hanya membahas tentang pekerjaan, tetap saja pria itu tak menyukainya. Apalagi saat tahu keduanya sudah saling bertukar nomor WA. Lamunan pria itu buyar ketika kepala desa mengajaknya bicara.


Bis yang akan membawa mereka ke kota sudah sampai. Mereka memasukkan dulu barang-barang ke dalam bagasi, baru bersiap menaiki bis. Smeua murid Dayana mengikuti gadis itu sampai ke depan bis. Dayana memeluk satu per satu anak didiknya itu. Airmatanya kembali mengalir.


“Titip mereka ya, Am.”


“Tenang aja, Ay.”


“Salam juga buat calon istrimu. Maaf aku kayanya ngga bisa datang ke nikahan kamu.”


“Ngga apa-apa, yang penting kiriman doanya aja.”


“Pasti itu. Aku pergi dulu, ya. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Hati-hati, Ay.”


Dayana naik ke dalam bis. Dia mengambil tempat duduk di sisi sebelah kiri. Tangannya membuka jendela lalu mengeluarkan kepalanya. Anak-anak muridnya masih setia berdiri di dekat bis. Satu per satu relawan naik ke dalam bis, termasuk Rafa. Pria itu langsung mengambil tempat duduk di samping Dayana. Namun karena masih asik berdadah ria dengan murid-muridnya, Dayana tak menyadari hal tersebut.


“Bye miss Aya!! We’re gonna miss you!!”


“Bye… belajar yang rajin.”


Tangan Dayana terus melambai pada murid-muridnya saat bis mulai bergerak maju. Gadis itu masih saja menengok ke belakang, sampai akhirnya posisi bis semakin menjauhi balai desa. Gadis itu menutup jendela lalu menyenderkan punggung ke jok. Tangannya mengusap airmata yang masih mengaliri pipinya.


“Sesedih itu berpisah dengan murid-muridmu?”


Dayana terjengit mendengar suara Rafa di sampingnya. Sontak gadis itu menolehkan kepalanya. Dia tidak menyangka kalau yang saat ini duduk di sampingnya adalah Rafa. Dokter bedah spesialis jantung yang sudah berhasil mencuri hatinya sejak pertama melihatnya.


“Sedih aja, mas. Sebulan aku jadi guru mereka. Siapa yang ngga sedih, coba.”


“Kan kamu masih bisa tau kabar mereka dari siapa tuh guru honorer yang tadi ngobrol sama kamu.”


“Amran.”


“Iya, Amran.”


“Iya, sih. Tapi tetap aja sedih aku tuh. Emang mas ngga sedih apa?”


“Yang datang ke puskesmas banyak dan orangnya juga ganti-ganti, jadi aku bingung juga, yang mana yang mau dikangenin.”


“Ish..”


Tak ayal senyum Dayana terbit juga mendengar perkataan Rafa. Kesedihannya berangsur menghilang, berganti dengan kebahagiaan. Sikap Rafa padanya sudah menunjukkan kemajuan. Dia sudah mau lebih dulu berinteraksi dengannya. Namun Dayana tidak mau terlalu percaya diri dulu. Gadis itu masih akan memainkan taktik tarik ulurnya seperti saran nenek Rena. Perjuangannya belum berakhir, sampai Rafa mengatakan sendiri padanya kalau pria itu sudah jatuh cinta padanya.


Perbincangan di antara keduanya terus berlanjut, sesekali terdengar tawa mereka. Nilam yang duduk tak jauh dari kursi yang ditempati Dayana, hanya bisa memandang penuh iri. Kenapa pada Dayana yang sikapnya kadang dekat kadang jauh, Rafa justru lebih tertarik. Dibanding dirinya yang notabene adalah rekan kerja di rumah sakit dan sudah mengenalnya lebih lama.


🍁🍁🍁


Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya seluru rombongan dapat menapakkan kakinya kembali ke tanah pasundan. Bis yang membawa mereka dari bandara Soekarno Hatta, sudah tiba dengan selamat di parkiran rumah sakit Ibnu Sina. Dayana mengambil tasnya kemudian turun dari bis. Dia mengambil kopernya yang ditaruh di bagasi bis.


Ketika gadis itu membalikkan tubuhnya. Nampak papanya sudah menunggu di dekat mobil. Dayana mempercepat langkahnya menuju Ravin sambil menggeret kopernya. Ditaruhnya begitu saja koper di dekat mobil, kemudian dia menghambur ke arah Ravin.


“Papa… kangen.”


Dayana mencium punggung tangan sang papa lalu memeluk pria itu. Ravin memeluk erat punggung anak gadisnya itu. Dia juga merasakan kerinduan yang sama. Baru pertama ini Ravin berpisah dengan anaknya dalam waktu yang cukup lama. Perlahan pria itu melepas pelukannya.


“Bagaimana keadaanmu?”


“Baik, pa. Alhamdulillah. Papa sama yang lain sehat juga kan?”


“Alhamdulillah.”


“Opa sehat?”


“Opa juga sehat.”


“Papa… laper.. aku mau makan pizza sama burger.”


“Ya ampun baru sampe udah minta makan. Ayo kita pulang, kita beli sebanyak apapun pizza yang kamu mau.”


“Asiiikkk…”


Saat akan masuk ke dalam mobilnya, Ravin melihat Rafa yang berjalan mendekatinya. Pria itu menunda masuk ke dalam mobil, memilih menghampiri Rafa lebih dulu.


“Dokter Rafa, terima kasih sudah menjaga anak saya.”


“Sama-sama, pak. Saya tidak melakukan apa-apa. Aya adalah anak yang mandiri.”


“Benarkah? Alhamdulillah, padahal di rumah dia manja sekali.”

__ADS_1


“Aya bisa menempatkan diri dengan baik di mana dia berada.”


“Syukurlah. Saya pergi dulu. Kapan-kapan datang ke rumah, kita makan bersama.”


“In Syaa Allah, pak.”


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Ravin masuk ke dalam mobilnya, begitu pula dengan Rafa yang langsung menuju mobilnya. Dayana membuka kaca mobil lalu melambaikan tangannya pada Lastri, Wina dan Sinta. Kendaraan roda empat tersebut segera melaju meninggalkan area parkir rumah sakit. Lastri masih terus memandangi mobil Ravin yang baru saja keluar pintu gerbang.


“Ya ampun Aya, lucu banget itu anak. Aku kaget lihat dia manja banget sama papanya,” celetuk Sinta sambil terkikik.


“Namanya anak perempuan pasti akan manja sama ayahnya. Anakku yang perempuan juga gitu, manja banget sama ayahnya. Tapi Aya itu hebat, selama dia jadi relawan, bisa menempatkan diri dengan baik, mandiri dan tidak menyusahkan orang lain. Dia juga menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Kalian lihat kan semua muridnya datang buat nganter dia.”


“Iya. Aku salut sama dia. Dengar-dengar orang tua Aya itu orang berada ya,” ujar Wina penasaran.


“Bukan berada lagi. Bisa dibilang keluarga konglomerat. Dia itu cucunya Abimanyu Hikmat.”


“Oh ya ampun, aku ngga nyangka. Anaknya humble banget. Mau bergaul dengan siapa aja. Biasanya kan kalau keluarga konglomerat suka milih-milih gitu gaulnya, ngga mau hidup susah. Tapi aku salut sama Aya.”


“Ya ngga semua kaya gitu, contohnya Aya. Eh aku duluan ya, tuh suamiku udah jemput.”


Lastri berpamitan dengan yang lain saat melihat suaminya keluar dari taksi online. Wanita itu menghampiri sang suami. Setelah memasukkan koper ke dalam bagasi, keduanya masuk kembali ke taksi online tersebut. Wina dan Sinta juga segera keluar dari rumah sakit Ibnu Sina untuk kembali ke kediamannya masing-masing. Diam- diam Nilam mendengarkan percakapan mereka. Dia cukup terkejut mengetahui Dayana adalah cucu keluarga Hikmat.


🍁🍁🍁


PRAK!!


Dengan kesal Elang membanting berkas di tangannya ke meja dengan kasar hingga menimbulkan suara yang cukup kencang. Di depannya berdiri Irzal dengan kepala menunduk. Proyek barunya lagi-lagi berhasil didapatkan oleh Infinity Corp. Padahal pria itu sudah membuat proposal sebaik dan sesempurna mungkin. Namun perusahaan itu bisa menemukan celah dan berhasil merebut proyek yang sedikit lagi akan jatuh ke Humanity Corp.


“Kenapa bisa terjadi lagi?” tanya Elang berang.


“Maaf, pak. Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tapi pihak lawan berhasil menemukan celah dan memanfaatkan hal itu.”


“Jadi.. kamu menyalahkan mereka?”


“Bukan begitu.. tapi..”


“Apa saya terlalu lunak padamu akhir-akhir ini padamu, hah?!!”


Irzal tak berani menatap wajah sang ayah yang tengah dilanda kemarahan. Wajar saja jika CEO Humanity Corp tersebut murka. Bukan sekali atau dua kali Infinity Corp dapat mengalahkan mereka. Tapi ini sudah keempat kalinya. Bahkan di proyek terakhir, mereka kalah di detik-detik terakhir. Dan Irzal yang menjadi penanggung jawab, tentu saja dia harus menerima amukan sang atasan.


Aslan yang hendak masuk ke dalam ruangan, mengurungkan niatnya melihat sang ayah yang tengah melampiaskan kekecewaan dan kemarahan pada adik bungsunya. Pria itu memilih kembali ke ruangannya.


“Proyek pembangunan tempat wisata di Bandung Barat, segera garap itu. Saya berikan kesempatan terakhir padamu. Kamu harus bisa menggaet Global Company sebagai partner. Kalau sampai proyek ini gagal dan Global Company memilih Infinity Corp sebagai partner, kamu harus menanggung akibatnya.”


“Tapi pak, proyek wisata bukan garapan pekerjaan kita.”


“Kalau itu bukan garapan kita apa kamu tidak mau mencobanya?”


“Siapkan proposal dalam dua hari!!”


“Baik, pak.”


Setelah tak ada yang perlu dibicarakan lagi, Irzal memilih kembali ke ruangannya. Namun langkahnya tertahan ketika mendengar suara Elang.


“Jika proyek ini gagal lagi. Bersiaplah kamu keluar dari perusahaan ini.”


“Baik, pak.”


Dengan langkah gontai Irzal keluar dari ruangan CEO yang notabene adalah ayahnya. Di dalam kantor tidak mengenal istilah kekeluargaan. Jika dirinya tidak mampu bekerja dan memenuhi target yang sudah ditentukan, maka harus siap hengkang dari kantor. Itulah yang sejak awal ditekankan Elang pada kedua anak lelakinya, Aslan dan Irzal saat mereka bergabung di perusahaan.


Irzal masuk ke dalam ruangan lalu menghempaskan tubuhnya di kursi kerja. Aidan yang melihat wajah kuyu Irzal segera masuk ke dalam ruangan. Pria itu berdiri di depan meja kerja atasannya. Irzal nampak melamun, memikirkan langkah apa yang harus diambilnya demi bisa menggaet Global Company sebagai partner.


Sebagai direktur perencanaan dan inovasi, tentulah dirinya dituntut untuk memiliki wawasan luas, kreativitas dan analisis mendalam akan keadaan di sekitarnya. Apalagi sekarang ini dia diberi tugas yang bukan merupakan bidang garapan Humanity Corp. Terdengar helaan nafas pria itu yang cukup berat.


“Bie..” panggil Aidan.


“Bokap suruh gue bikin proposal pembangunan proyek wisata di Bandung Barat. Gue harus bisa menggaet Global Company sebagai partner.”


“Bukannya Infinity Corp juga lagi garap proyek itu?”


“Iya. Proyek Wisata kan bukan garapan kita, gue bingung aja gimana mulainya.”


“Kenapa ngga konsul sama om Kenan?”


“Oh iya, benar juga. Tolong teleponin asistennya, minta buat janji ketemu om Kenan.”


Dengan cepat Aidan menghubungi asisten Kenan. Bagaimana pun juga mereka harus bisa memenangkan Global Company. Jika sampai Irzal keluar dari perusahaan, maka nasibnya juga akan terkatung-katung. Setelah berhasil menghubungi sang asisten, Aidan melihat pada atasannya itu.


“Gimana?” tanya Irzal.


“Kata om Ken, ngga usah pake telpon. Langsung aja dateng kalau mau dateng.”


“Ok. Ayo kita ke sana sekarang.”


Irzal menyambar ponsel di atas meja, lalu bergegas keluar ruangan disusul oleh Aidan. Dia harus mendapatkan pencerahan dari Kenan mengenai proyek wisata. Das Archipel dangat berpengalaman dalam menangangi proyek wisata.


🍁🍁🍁


Sedari tadi Arsy bolak-balik keluar masuk kamar. Sesekali matanya melihat pada ruang kerja pribadi suaminya yang masih tertutup rapat. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Aidan juga sudah pulang satu jam lalu, tapi suaminya tak kunjung masuk ke dalam kamar.


Wanita itu bergegas menuju dapur. Dia bermaksud membuatkan teh hijau untuk suaminya. Karena penasaran, Arsy mencari tahu apa yang dilakukan suaminya itu pada Aidan, namun pria itu tak mengatakan apapun. Arsy terpaksa bertanya pada kakak iparnya. Dia terkejut saat mendengar Irzal diberi tugas menggaet Global Company, jika sampai gagal, dia akan dikeluarkan dari Humanity Corp.


TOK


TOK

__ADS_1


TOK


Terlebih dulu Arsy mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruang kerja suaminya itu. Nampak Irzal tengah berkutat di belakang meja kerjanya. Banyak kertas berserakan di atas meja, dan wajah suaminya juga nampak kusut dan lelah. Arsy membereskan beberapa lembar kertas sebelum menaruh cangkir ke atas meja.


“Diminum dulu, mas.”


“Makasih sayang.”


Irzal mengambil cangkir di atas meja lalu menyesap isinya perlahan. Arsy berdiri di belakang kursi kerja sang suami. Tangannya mulai bergerak memijat pundak Irzal. Mata Irzal terpejam merasakan pijatan sang istri.


“Belum selesai pekerjaannya, mas?”


“Belum.”


“Ngga bisa dilanjut besok?”


“Ayah mau proposal ini selesai dalam dua hari.”


“Tapi kalau otak mas lelah, proposal tetap ngga akan jadi. Lebih baik mas istirahat, mengistirahatkan tubuh dan pikiran supaya fresh dan besok ide-ide bagus akan datang dengan sendirinya.”


“Kamu benar.”


Setelah menghabiskan tehnya, Irzal bangun dari duduknya. Sambil merangkul bahu istrinya, dia keluar dari ruang kerja lalu masuk ke dalam kamarnya. Pria itu naik ke atas tempat tidur. Arsy mematikan lebih dulu lampu kamar sebelum ikut menyusul ke atas ranjang. Dia membaringkan tubuhnya di samping sang suami.


“Sayang.. menurutmu apa mas bisa mendapatkan proyek ini?”


“Aku yakin mas pasti bisa.”


“Tapi saingannya Infinity Corp. Perusahaan itu sudah empat kali berhasil merebut proyek Humanity.”


“Apa mas ngga bisa cari tahu soal Infinity Corp. Ya kalau kita tahu soal musuh kita kan lebih bagus. Kita bisa tahu kelemahannya apa. Aku yakin selama ini mereka juga pelajari sistem Humanity seperti apa, makanya bisa terus menang.”


“Informasi soal Infinity itu tertutup rapat. Aku juga heran tidak ada info penting yang bisa didapatkan soal mereka.”


“Om Jay ngga bisa bantu?”


“Aku udah pernah minta. Tapi sistem pertahanannya berlapis katanya. Kalau sekarang bisa jebol tiga lapisan, besok sistemnya diperbarui lagi. Dan semua yang berkaitan dengan mereka, proyek apa aja yang sudah didapatkan mereka hasilnya nol besar.”


“Apa mungkin gang Margarita ada di belakang mereka?”


“Entahlah.”


Irzal tak berani berasumsi apapun perihal perusahaan yang sudah membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Yang menjadi fokus utamanya kali ini hanyalah membuat proyek yang membuat Global Company memilih mereka sebagai partner bisnis.


“Kalau proyek ini gagal, mas harus siap ditendang dari perusahaan. Kamu ngga apa-apa?”


“Aku ngga masalah. Aku percaya suamiku ini sangat kompeten. Dikeluarkan dari perusahaan bukanlah akhir dari segalanya. Mas pasti bisa mencari jalan untuk kembali sukses walau tidak bersama Humanity.”


“Terima kasih, sayang.”


Sebuah kecupan mendarat di kening Arsy. Pria itu mengeratkan pelukannya di tubuh istrinya itu. Matanya mulai terpejam. Dia perlu berisitirahat agar esok hari bisa menyelesaikan proposal tepat waktu.


🍁🍁🍁


Pagi sekali Irzal sudah meninggalkan kediamannya. Pria itu memutuskan berangkat ke kantor lebih awal, bahkan sampai melewatkan sarapannya. Arsy tidak bisa menahan suaminya karena tahu Irzal tengah dikejar deadline. Wanita itu juga ijin tidak mengikuti sarapan bersama. Dia ingin sarapan di kediaman Abi.


Daffa berbaik hati mengantarkan istri dari sepupunya itu ke kediaman Abi sebelum menuju rumah sakit. Setelah mengucapkan terima kasih, Arsy segera masuk ke rumah besar milik sang kakek.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Kedatangan Arsy tentu saja disambut penuh suka cinta oleh kakek dan nenek tercinta. Abi langsung mengajak cucunya itu untuk sarapan. Bersama mereka juga sudah ada Kenan, Zahra, Abrisham, Ghea dan Gilang. Selain ingin sarapan bersama sang kakek, Arsy juga ingin meminta bantuan darinya.


“Kakek.. aku bisa minta tolong ngga?”


“Minta tolong apa sayang?”


Arsy segera menceritakan permasalahan yang menimpa suaminya. Seandainya hal buruk terjadi dan Irzal dikeluarkan dari perusahaan, dia berharap sang suami bisa bekerja di Metro East, Das Archipel, Blue Sky atau The Ocean. Nina cukup terkejut mendengar cerita Arsy. Dia tak menyangka Elang cukup kejam juga pada anaknya.


“Apa kamu ngga percaya sama suamimu sampai meminta hal seperti ini?” tanya Abi.


“Bukan ngga percaya, kek. Aku kan cuma mau bantu aja. Aku kasihan lihat mas Bibie. Dia stress banget, cuma dikasih waktu dua hari buat proposal sama ayah.”


“Pantes kemarin dia dateng ke kantor. Banyak tanya sama daddy soal proyek wisata. Ternyata itu masalahnya. Kemarin daddy tanya dia ngga bilang apa-apa.”


“Suamimu itu orang yang cerdas dan penuh perhitungan. Kakek yakin dia pasti akan bisa mencari jalan keluar terbaik dari masalah ini. Tapi kalau sampai dia harus keluar dari perusahaan, kakek akan bantu.”


“Makasih, kakek.”


Senyum terbit di wajah Arsy. Dia tahu akan selalu bisa mengandalkan kakeknya ini. Semoga saja sang suami bisa melakukan semuanya dengan baik dan tidak sampai dikeluarkan adri perusahaan.


🍁🍁🍁


Di sebuah ruangan, dua orang sedang berbincang serius. Satu pria muda dan satu lagi sudah berumur setengah abad lebih. Pria yang lebih muda tengah memberikan laporan pada yang lebih tua.


“Maaf pak, sepertinya kali ini kita akan kehilangan Global Company. Proposal yang diajukan Irzal sangat bagus, tidak ada cacat di dalamnya.”


“Kalau begitu curi proposal itu. Pastikan kita yang lebih dulu memberikannya pada Global Company, mengerti?”


“Baik, pak.”


Pria paruh baya itu memandangi deretan gedung tinggi dari kaca jendela kerjanya. Bagaimana pun juga proyek wisata harus jatuh ke tangan Infinity Corp, jangan sampai Humanty Corp yang mendapatkannya. Perjuangannya selama ini akan sia-sia kalau begitu.


🍁🍁🍁


**Uhuuyy Aya, udah mulai ada getar² cintrong tuh dokter Rafa😘😘😘


Mas Bibie sabar yaa.. Kamu pasti bisa. Tenang aja ayah El ngga sesadis itu kok🤗**

__ADS_1


__ADS_2