Hate Is Love

Hate Is Love
Derita Pengantin Baru


__ADS_3

Usai syukuran di kediaman Abi, Daffa langsung memboyong Geya ke rumahnya. Di sana mereka juga sudah menyiapkan syukuran untuk tetangga dekat. Gibran dan Gavin yang menghandle semuanya.


Mendapat undangan mendadak dari Reyhan, apalagi syukuran pernikahan Daffa, tentu saja membuat para tetangga terkejut. Tidak ada angin, tidak ada hujan, anak bungsu pasangan Reyhan dan Ayunda akhirnya melepas masa lajangnya. Namun mereka tidak berani berspekulasi apapun, mengingat sepak terjang keluarga Ramadhan. Para pria dari keluarga itu bukanlah pria yang suka mengumbar syahwat pada lawan jenis kalau belum halal.


Tapi yang jelas, pernikahan Daffa ini membuat para pemujanya yang ada di kompleks perumahan ini patah hati berjamaah. Sudah bukan rahasia lagi kalau Daffa menjadi most wanted male di kompleks ini. Bahkan Reyhan sudah beberapa kali menerima lamaran tak langsung dari beberapa tetangganya.


Geya yang tahu kalau sang suami memiliki banyak penggemar, tentu saja tidak melepaskan pria itu sedetik pun. Kemana pun Daffa pergi, Geya selalu mendampingi. Mulai sekarang dia akan menjadi garda terdepan untuk menghalau para wanita yang berusaha menggoda suaminya.


“Selamat ya, Daffa. Sepertinya Wulan patah hati nih,” ucap Suryono, ketua RT di mana Daffa tinggal.


Pria itu hanya membalas ucapan pak RT dengan senyum tipis saja. Sudah menjadi rahasia di kompleks ini kalau Wulan, anak bungsu pak Suryono tergila-gila padanya. Bahkan Wulan pernah terang-terangan meminta Daffa pada Ayunda. Namun melihat pergaulan Wulan dan cara gadis itu berpakaian, tentu saja Ayunda tidak menyetujuinya.


“Yang mana yang namanya Wulan, bang?” bisik Geya pelan.


“Itu, yang pakai dress maroon.”


Mata Geya langsung memindai penampilan Wulan. Gadis itu memang cantik, tapi mukanya terlihat lebih dewasa, mungkin karena make up yang dipakainya. Belum lagi pakaiannya juga sedikit terbuka. Wajar saja kalau Ayunda tidak terlalu menyukainya. Sadar ada yang memperhatikan, Wulan refleks melihat pada Geya. Dengan santai Geya mengangkat kedua jarinya, lalu mengarahkan ke matanya dan pada Wulan.


“Kamu ngapain?” tegur Daffa.


“Aku lagi kasih bahasa isyarat sama dia. Awas aja kalau berani gangguin suami aku.”


“Hahahaha.. kamu tuh gemesin banget sih.”


Daffa berpindah posisi menghadap Geya kemudian memegangi kedua pipinya. Sontak pipi Geya langsung memerah. Hal tersebut semakin membuat Daffa bertambah gemas, tanpa melihat tempat pria itu mendaratkan ciuman di pipi yang merona itu.


“Ehem!! Lihat tempat, jangan main sosor,” sindir Aqeel.


“Sirik aja. Ayo, Ge..”


Daffa menarik tangan Geya. Dia mengajak istrinya itu menuju halaman belakang. Setidaknya di sini mereka bisa bermesraan dengan aman. Geya merebahkan kepalanya di bahu Daffa. Tangannya terus memegangi tangan sang suami, kemudian merekatkan jari-jari mereka.


“Abang.. aku masih belum percaya kalau kita udah nikah.”


“Abang juga masih belum percaya sih. Tapi kenyataannya kita udah nikah.”


“Ini beneran kan, bang. Bukan mimpi?”


“Kamu mau bukti?”


Kepala Geya mengangguk dengan cepat. Daffa mendekatkan kepalanya, tangannya sedikit menarik kepala sang istri. Jarak keduanya semakin dekat, dan saat pria itu akan mendaratkan bibirnya, sebuah suara menghentikan aksinya.


“Masih banyak orang,” seru Rakan.


“Aiih.. pengantin baru kok ngga sabaran banget sih,” lanjut Vanila.


Geya mencebikkan bibirnya mendengar ucapan sepupunya. Untuk kedua kalinya mereka gagal bersilaturahim bibir. Rakan hanya terkekeh melihat wajah kesal adiknya. Dan yang paling membuat pria itu gondok, ketika tiba-tiba Rakan mengecup bibir Vanila tepat di depan Daffa dan Geya. Tanpa merasa berdosa sama sekali, Rakan meninggalkan pasangan pengantin baru yang tengah cengo melihat aksinya tadi.


🍁🍁🍁


Selesai makan malam, semua keluarga berkumpul di ruang tengah. Rakan dan Vanila juga memutuskan menginap di kediaman Reyhan. Sayang rasanya kalau mereka pulang dan melewatkan momen menggoda pengantin baru. Aqeel yang memang masih tinggal bersama kedua orang tuanya sejak tadi sore tak henti menggoda adiknya. Ada saja celetukannya yang membuat Daffa gondok.


Ternyata bukan hanya Rakan dan Aqeel saja yang ingin mengerjai Daffa dan Geya. Irzal dan Arsy pun ikutan. Mereka menyempatkan diri makan malam di kediaman Reyhan. Daffa yang sudah melihat gelagat tak menyenangkan dari kakak dan sepupunya bersiap untuk masuk ke kamar. Namun Reyhan memintanya tinggal, karena ada hal yang hendak dibicarakan.


“Kalian ngga ada rencana bulan madu?” tanya Reyhan pada Daffa dan Geya.


“Ngga, pa. Geya harus nyusun laporan magang, aku juga baru diangkat jadi dokter spesialis bedah umum. Masa mau langsung minta cuti.”


“Geya ngga keberatan?”


“Aku ikut bang Daffa aja.”


“Tenang aja, pa. Biar mereka ngga bulan madu, tapi aksi jebol gawang ngga akan tertunda kayanya, hahaha..”


Mata Daffa melotot mendengar ucapan Aqeel yang tanpa saringan. Sejak menikah, pria itu jadi lebih aktif bicara. Iza menepuk lengan suaminya yang sedari tadi tidak berhenti menggoda adik iparnya.


“Harus kuat mental, Ge jadi istrinya Daffa. Dia itu banyak penggemarnya. Kamu kayanya harus bawa Daffa ke tempat tato, terus bikin tato di jidatnya Daffa, kasih tulisan MILIK GEYA SEORANG, hahaha..”


Kali ini giliran Irzal yang memanasi. Geya hanya melemparkan cengiran khasnya. Sebenarnya dia sudah terbiasa mendengar perkataan nyeleneh seperti ini, karena saudara sepupunya juga otaknya kurang seons semua. Tapi karena sekarang kalimat tersebut ditujukan padanya, tak ayal membuatnya merana juga.


“Apalagi di rumah sakit, Ge.. beuuhh.. jangan ditanya. Aku sempat dijulidin dokter magang gara-gara disangka aku ini ngeceng Daffa. Belum lagi perawat, mau perawat IGD, perawat rawat jalan atau ruang ICU ada aja penggemarnya Daffa.”


“Sy.. bisa diem ngga tuh mulut,” protes Daffa.


“Daffa tuh ngga pernah mikirin makan siang atau sarapan, karena selalu dibawain suster Rima. Mana makanannya enak-enak, hihihi…”

__ADS_1


Arsy terus melanjutkan aksinya mengompori Geya. Wajah Geya sekarang sudah sepeti ikan buntal. Pipinya menggembung, bibirnya maju beberapa senti. Hatinya panas mendengar apa yang dikatakan kakak sepupunya itu.


“Apalagi Daffa itu terkenal dokter yang ramah, selalu senyum sama siapa aja. Bahaya, Ge… bisa dianggap tebar pesona,” lanjut Rakan.


“Baek-baek, Ge. Pelakor itu ngga kenal waktu dan tempat. Ngga bisa lihat yang bening dikit langsung disamber. Apalagi Daffa dokter spesialis bedah, pasti banyak yang ngincer,” Vanila juga tidak mau ketinggalan untuk ikut mengompori.


“Kamu harus service Daffa full. Secara kerjaannya tiap hari pegang-pegang pasien, kali aja dia modus, elus-elus perut pasien cewek.”


“ABAAAAANG!!!”


Tawa Irzal lepas melihat wajah Daffa yang sudah memerah. Matanya menatap kesal pada kakak sepupunya itu. Di hari pernikahannya, mereka malah senang sekali menggoda istrinya. Geya segera bangun dari duduknya.


“Ma, pa.. semuanya, aku ke kamar duluan, ngantuk.”


“Eh mau kemana, Ge? Kan kita belum selesai,” tahan Arsy.


“Tau.. ngga asik, lo,” sambung Vanila.


“Daff.. jangan lupa sediain sapu tangan dekat bantal kalau mau tidur.”


“Buat apa?” tanya Daffa seraya melihat pada Arsy.


“Dia suka ngiler kalo tidur, hahaha..”


“Kaaakkaaaaakk,” wajah Geya sukses dibuat merona gara-gara ucapan Arsy.


“Kalau bangunin Geya, ngga usah sok lembut juga. Pukul-pukul aja tuh panci dekat kupingnya biar cepat bangun, hahaha..” sambung Vanila.


“Kalian… ter.. la.. lu..”


Sambil menghentakkan kaki, Geya segera berlari menuju lantai atas. Gadis itu malu bukan main, aibnya dibuka seenak jidatnya di depan kedua mertuanya. Tawa Arsy dan Vanila pecah melihat Geya yang tidak kuat mental mendengar ledekan mereka lagi. Daffa hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia juga ikutan bangun dari duduknya.


“Aku ke kamar duluan.”


“Cieeee.. yang mau unboxing,” Vanila.


“Siapin tendangan Beckham, Daff,” Arsy.


“Pelan-pelan aja, Daff. Masih kinyis-kinyis bini lo,” Aqeel.


“Uh.. ah.. uh.. ah..” Irzal.


Daffa berusaha menulikan telinganya, pria itu terus berjalan menuju lantai atas. Reyhan dan Ayunda hanya menyunggingkan senyuman seraya menggelengkan kepalanya. Iza yang masih terjaga kewarasannya hanya tertawa saja melihat tingkah suaminya dan yang lain saat menggoda Daffa.


Geya yang sedang duduk di kasur sambil melipat kedua kakinya terkejut saat mendengar suara pintu terbuka. Dari luar, Daffa masuk lalu menutup dan mengunci pintu kamar. Sontak jantung Geya berdebar dengan kencang. Pikirannya langsung berkelana, apakah sekarang sang suami akan langsung menjebol gawangnya.


Perlahan Daffa mendekat lalu naik ke atas ranjang. Pria itu duduk menyandar di headboard ranjang. Tangannya melambai, memanggil Geya agar duduk di dekatnya. Sebenarnya pria itu juga merasa gugup, namun sebisa mungkin Daffa berusaha untuk tenang. Geya mendekat lalu duduk di samping suaminya.


“Jangan diambil hati yang dibilang Arsy.”


“Soal apa? Soal suster Rima? Emang benar kan suster itu suka sama abang. Waktu itu aja dia kasih makanan buat abang.”


“Iya, emang benar suster Rima suka sama abang. Tapi yang penting abang ngga ada perasaan apa-apa sama dia. Apalagi sekarang abang udah punya orang yang dampingi abang selamanya.”


Perasaan Geya yang tadi kesal bercampur was-was akhirnya tenang mendengar ucapan suaminya. Apalagi Daffa mengatakannya dengan suara yang lembut dan diiringi senyum manisnya. Gadis itu beringsut mendekat pada Daffa, lalu merebahkan kepalanya di dada pria itu.


“Abang..”


“Hem…”


“Ehmm.. soal itu.. apa abang mau cepat-cepat?”


“Soal apa?”


Sebenarnya Daffa tahu kemana arah pembicaraan Geya, tapi dia ingin mendengar dengan jelas apa yang dimaksud istrinya itu. Kepalanya menoleh pada sang istri, memandanginya lekat hingga membuat pipi Geya kembali merona.


“Soal itu..”


“Itu apa?” senyum Daffa terkulum.


“Ish.. abang kura-kura dalam perahu.”


Terdengar tawa kecil Daffa. Tangannya meraih bahu Geya kemudian menarik tubuh istrinya itu semakin mendekat. Jantung geya berdegup lebih kencang. Tak sengaja dia menaruh tangannya di dada Daffa. Ternyata debaran suaminya itu juga tak kalah kencang darinya.


“Kita mulai pelan-pelan aja ya, Ge. Kalau kamu belum siap, ngga masalah buat abang. Kita pacaran aja dulu. Bisa peluk dan cium kamu aja, abang udah senang banget. Kamu konsen aja dulu beresin laporan magang kamu. Belajar yang benar biar nilainya naik.”

__ADS_1


“Iya, bang. Tapi kalau akunya udah siap, terus aku bilangnya gimana sama abang?”


“Kamu tinggal cium abang aja, kaya gini.”


Daffa merengkuh wajah Geya, lalu menautkan bibir mereka. Refleks Geya memejamkan matanya. Bibir gadis itu masih belum bergerak, hanya menikmati saja sesapan dari suaminya. Daffa tak menghentikan aksinya, bibirnya terus bergerak menyapu bibir Geya, berusaha memancing sang istri untuk membalas ciumannya.


Akhirnya bibir Geya bergerak juga membalas ciuman Daffa. Walau gerakannya masih kaku, tapi sudah cukup membuat Daffa senang. Pria itu menarik tengkuk Geya, tubuh keduanya semakin merapat dan ciumannya bertambah intens. Dengan lidahnya dia mengetuk bibir Geya, ketika mulut istrinya terbuka, pria itu memasukkan lidahnya.


Cengkeraman tangan Geya di kaos yang dikenakan Daffa semakin erat. Sebisa mungkin dia mengikuti dan membalas ciuman suaminya. Sebelah tangan Daffa menarik pinggangnya lebih dekat lagi. Beberapa kali Daffa menarik dan menghisap lidah Geya, membuat keduanya kehabisan nafas. Daffa pun mengakhiri ciumannya. Pria itu menyatukan kening mereka. Nafas keduanya terdengar saling bersahutan.


“Mau lanjut apa tidur?”


“Lanjut tapi sambil tiduran.”


Perlahan tubuh keduanya mulai berbaring. Daffa merentangkan lengan kirinya, kemudian meminta Geya merebahkan kepalanya di sana. Posisi mereka saling berhadapan, sekali lagi Daffa mencium bibir istrinya. Namun ciumannya tidak sepanas tadi, takut kalau adik kecilnya menggeliat dan membuatnya harus solo karir, karena Daffa masih belum tega menjebol gawang Geya.


“I love you, abang.”


“I love you too, ayang.”


Senyum Geya terbit mendengar panggilan Daffa untuknya. Dia semakin mendekatkan tubuhnya pada Daffa, menyurukkan kepalanya ke dada bidang yang sering dikhayalkan menjadi tempat bersandarnya. Tangan Daffa memeluk punggung istrinya, kemudian mengusapnya lembut. Merasa nyaman dalam dekapan suaminya, Geya mulai memejamkan matanya. Tidur bersama dengan Daffa yang selama ini hanyalah khayalannya saja, sekarang sudah menjadi kenyataan.


🍁🍁🍁


Zar menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Setelah empat hari berada di Macau, akhirnya pria itu kembali ke tanah air. Dengan wajah sumringah pria itu turun dari pesawat jet pribadi milik keluarganya. Sambil menggeret koper dan membawa beberapa paper bag di tangannya, dia berjalan keluar dari bandara.


Seorang supir yang ditugaskan untuk menjemputnya segera berlari begitu melihat Zar. Diambilnya koper dan paper bag dari tangan pria itu lalu menaruhnya ke bagasi mobil. Tanpa menunggu lama, Zar segera masuk ke dalam mobil. Dia sudah tidak sabar untuk menemui calon istrinya. empat hari tidak bertemu rasanya seperti sewindu.


Ketika mobil mulai berjalan meninggalkan area parkiran bandara Husein Sastranegara, Zar mengambil ponsel dari saku celananya. Dia segera mencari nomor Renata dan langsung melakukan panggilan video call. Tak butuh waktu lama bagi Renata untuk menjawab panggilannya. Wajah cantik calon istrinya langsung memenuhi layar ponselnya.


“Assalamu’alaikum..”


“Waalaikumsalam. Lagi apa cantik? Kamu lagi di mana?”


“Aku di kantor.”


“Aku baru aja sampe. Aku langsung ke kantor kamu, ya. Aku udah kangen banget nih sama kamu.”


Tak ada jawaban dari Renata, hanya anggukan kepalanya saja yang terlihat disertai pipinya yang merona. Melihat itu semakin membuat Zar cenat-cenut. Ingin rasanya dia mencium pipi calon istrinya itu. Sayang, dia masih harus sabar menunggu sampai hubungannya disahkan oleh penghulu.


“Tunggu aku ya, sayang. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Panggilan segera berakhir. Senyum Zar terkembang, tak sabar rasanya untuk bertemu dengan kekasih hatinya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke jok mobil. Matanya terpejam sambil membayangkan wajah cantik Renata. Matanya kembali terbuka ketika ponselnya berdenting. Dengan cepat Zar mengambil ponselnya lalu membuka pesan yang datang dari Arya.


Zar yang tengah duduk santai langsung terlonjak begitu melihat deretan foto yang diberikan Arya dan terakhir kiriman video. Jarinya mengetuk layar untuk memutar video tersebut. Matanya membelalak melihat video akad nikah Daffa dan Geya. Dia semakin terkejut melihat pernikahan dilangsungkan dua hari lalu.


“Pak.. ke rumah sakit Ibnu Sina.”


Tanpa berpikir dua kali, Zar langsung mengganti tujuannya. Keinginannya bertemu dengan Renata menguap. Sekarang dia hanya ingin bertemu dengan Daffa. Bisa-bisanya pria itu menyalipnya tanpa memberi sen sedikit pun.


🍁🍁🍁


Suasana IGD rumah sakit Ibnu Sina siang ini tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pasien saja yang datang dan penyakitnya juga tidak serius. Daffa bisa sedikit bersantai, begitu pula dengan Arsy dan tentu saja Ansel. Selesai memeriksa pasiennya, Daffa berjalan menuju meja perawat. Dia segera menulis laporan pasien yang baru saja ditanganinya.


Melihat Daffa ada di meja perawat, suster Rima segera menuju ke sana. Dua hari tidak melihat dokter spesialis bedah umum itu, membuatnya dilanda malarindu. Perlahan suster Rima mendekati Daffa.


“Dokter selamat ya. Sekarang udah jadi dokter spesialis bedah umum.”


“Makasih, sus. Masih belum resmi kok.”


“Tapi yang penting pendidikannya udah selesai. Lagi pula dokter itu kan dokter yang berbakat. Selama residen, dokter Daffa udah banyak terlibat dalam operasi penting.”


Daffa hanya membalas ucapan Rima dengan senyuman saja. Pria itu terus melanjutkan kegiatannya. Ansel yang baru selesai bertemu dengan dokter Fadli, ikut mendekati meja perawat. Pria itu mengecek pasien yang datang hari ini. Sesekali dia melihat Daffa yang terlihat serius dengan laporannya.


Suster Rima keluar dari meja perawat. Dia segera menuju mesin penjual minum otomatis. Dia memilih minuman kopi instan dalam kaleng, lalu bergegas menuju meja perawat. Baru saja dia akan meletakkan minuman di dekat Daffa. Matanya menangkap sebuah cincin melingkar di jari manis pria itu.


Jantung Rima langsung berdetak kencang. Sebelumnya dia tidak pernah melihat Daffa mengenakan cincin. Dilihat dari bentuknya, itu seperti cincin pernikahan. Seketika Rima mulai resah, hatinya bertanya-tanya apakah dokter yang sudah memikat hatinya sudah memiliki belahan jiwa? Rima mengurungkan niatnya memberikan minuman pada Daffa.


Sementara itu, mobil yang ditumpangi Zar memasuki pekarangan rumah sakit. Pria itu segera turun dari mobil saat sampai di depan pintu masuk IGD. Pria itu berjalan memasuki IGD, kemudian matanya melihat Daffa yang ada di dekat meja perawat.


“DAFFAAAAAAA!!!!”


🍁🍁🍁

__ADS_1


Nah loh.. Zar mau ngapain tuh🤣


__ADS_2