
Malam hari selepas isya, Elang datang dengan membawa Azkia dan Irzal ke kediaman Abi. Pria itu mendapat undangan dari mantan CEO Metro East yang sekarang sudah beralih peran menjadi kakek comblang. Selain Elang, Abi juga memanggil anak sulungnya, Kenzie. Pria itu tidak datang sendiri, melainkan bersama dengan Nara dan Arsy.
Sejatinya Elang dan Irzal sudah tahu kemana arah pertemuan mereka di kediaman Abi. Mereka ingin melihat sejauhmana Abi akan bertindak untuk memaksa menikahkan anak-anak mereka, setelah semalam Arsy dan Irzal harus menginap di rooftop berdua saja karena ulah Abi.
Semua yang berkepentingan sudah hadir di ruang tengah. Abi bersama dengan Nina datang kemudian bergabung dengan para tamunya. Selain Abi, Kenan dan Juna juga ikut bergabung. Juna penasaran sekali dengan tingkah polah adiknya. Dia sudah mendengar kalau kemarin Abi membuat Arsy dan Irzal menginap di rooftop.
Ghea dan Gilang duduk di tangga, mereka juga ingin mencuri dengar apa yang para orang tua bicarakan. Mereka penasaran apakah Irzal akan setuju menikah dengan Arsy, kakak sepupunya yang bar-bar. Sedang Abrisam memilih ke kamarnya saja. Pria itu tidak terlalu peduli dengan masalah perjodohan Arsy. Sifat Abrisam lebih mirip Kenzie dibanding Kenan.
“Arsy… kamu kemarin malam kemana?”
“Itu kek..”
“Harusnya kamu telepon kalau tidak pulang. Apa kamu ngga kasihan sama mamamu? Dia nangis-nangis telepon kakek menanyakan keberadaanmu.”
Nara hanya melongo mendengar penuturan Abi. Kenzie menoleh pada istrinya dan hanya dijawab dengan gelengan lemah. Melihat gelengan kepala Nara, Arsy semakin yakin kalau pelaku penjebakan kemarin adalah kakeknya sendiri.
“Jawab Arsy.. kamu kemana kemarin?”
“Euung.. gini kek. Kemarin KiJo bilang kalau Rena hilang. Ada yang kasih info kalau Rena ke kantor Irzal…”
“Mas…”
“I.. iya kek, mas Irzal. Aku ke sana, katanya Rena ada di rooftop. Terus pas aku sampe, ngga lama mas Irzal sampe. Ternyata pintu keluar dikunci, kita ngga bisa keluar dari sana.”
“Siapa yang kunciin? Apa anak buahmu, El?”
“Bukan, om.”
Heleh si kakek.. malah ngedrama. Dia yang ngejebak, sekarang dia yang koar-koar kaya jaksa lagi nanya tersangka.. hadeuh.. kalo bukan kakek sendiri, gue suntik mati nih..
“Apa saja yang kalian lakukan selama di rooftop?”
“Kita ngga ngapa-ngapain kok, beneran kek.”
“Kalian makan mie kan?”
“Kok kakek tau kita makan mie?” celetuk Irzal.
“Ya.. ada yang laporan aja ke kakek, nemu bungkus mie di sana,” elak Abi yang keceplosan.
“Pa.. mereka emang kekunci di rooftop, tapi mereka ngga ngapa-ngapain kok,” seru Kenzie.
“Sssttt..”
Kenzie langsung membungkam mulutnya melihat reaksi Abi. Pria itu hanya bisa menghela nafas panjang. Sepertinya pembicaraan ini akan memakan waktu lama. Dia yakin sekali kalau Abi sudah menyiapkan jurus seribu bayang untuk memborbardir Arsy dan Irzal, dan ujung-ujungnya menekan dirinya juga Elang untuk meminta keduanya menikah.
“Jawab Arsy.. kalian ngapain aja?”
“Kita ngga ngapa-ngapain, kek. Cuma ngobrol, makan terus tidur.”
“Nah itu… kalian tidur bareng kan?”
“Ngga kek..”
“Kamu tidur di mana?”
“Di ruangan yang ada di rooftop.”
“Terus Irzal?”
“Sama di sana juga.”
“Berarti kalian tidur bareng kan? Satu ruangan. Jangan bilang ngga ada apa-apa.”
“Maaf kek, kita emang tidur satu ruangan, tapi aman kok. Tempat kita terhalang sofa, dan aku juga ngga macem-macem sama Arsy,” akhirnya Irzal melakukan pembelaan.
“Apa ada saksi yang melihat kalian tidur dengan posisi seperti itu?”
“Ya ngga ada kek,” kesal Arsy.
“Kalau gitu, kakek ngga bisa percaya begitu aja.”
“Heleh.. papamu, Nan. Emang liciknya ngga ada lawan. Sama kaya kamu juga,” bisik Juna di telinga Kenan. Pria itu hanya terkekeh saja mendengar ucapan Juna.
Gilang menggeleng-gelengkan kepalanya melihat aksi Abi yang aktingnya benar-benar jempolan. Sepertinya peraih piala Oscar pun akan kalah dengan acting kakeknya ini. Ghea yang juga menyimak pembicaraan, dalam hati bersyukur bukan dirinya yang menjadi korban drama Abi.
“Kakek kecewa sama kamu Sy,” Abi menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kakek ngga usah lebay, deh. Kan kakek yang udah jebak aku sama mas Irzal,” Arsy melihat keki pada sang kakek.
“Sayang, mas-mu salah apa? Bisa-bisanya cucu kesayanganku menuduh seperti itu,” Abi menoleh pada Nina dengan wajah memelasnya.
Kenzie memutar bola matanya melihat aksi Abi yang benar-benar membagongkan. Arsy membulatkan matanya, tak percaya kalau sang kakek benar-benar berakting begitu total. Elang yang sedari tadi hanya menyimak saja, mulai memutar otak bagaimana caranya menangkis serangan Abi yang sebentar lagi pasti mengarah padanya.
“El.. bagaimana menurutmu? Apa yang dilakukan Arsy dan Irzal baik menurutmu?” Abi melihat pada Elang.
Hmmm… bener kan, pasti ujung-ujungnya nembak nih. Ya salam kenapa orang tua satu ini otak liciknya ngga habis-habis.
“Aku tahu om, dua orang yang bukan mahram berduaan di tempat sepi itu tidak baik, sudah mendekati zina.”
__ADS_1
“Betul itu..”
“Tapi.. aku percaya kalau Irzal tidak akan berbuat macam-macam. Mereka juga tidak dengan sengaja berada berduaan di sana. Kondisinya mendesak, dan mereka terpaksa tidur bersama di satu ruangan. Sebagai ayah dari Irzal, aku minta maaf kalau anakku sudah melakukan hal yang salah. Tapi aku berani jamin kalau tidak terjadi apa-apa di antara mereka.”
Arsy mengangguk-anggukkan kepalanya, menyetujui apa yang dikatakan Elang. Perasaannya lega karena ternyata Elang tidak ikut dalam drama yang diciptakan sang kakek.
Asem si Elang… duh nih anak bukannya ikutin alur aja. Malah pake bela Irzal sama Arsy. Tapi ngga semudah itu mengalahkanku, El hahahaha…
“Kamu boleh saja mengatakan hal itu. Kamu boleh percaya pada anakmu, tapi apa orang lain akan percaya? Pasti ada satu atau dua karyawanmu yang melihat Irzal dan Arsy keluar dari kantormu tadi shubuh. Apa tanggapan mereka? Apa kamu tidak takut akan tersebar gossip? Anak bungsu CEO Humanity Corp tidur bersama dengan putri satu-satunya CEO Metro East. Apa kamu bisa meredam berita itu? Apa kamu bisa membuat orang-orang tidak membicarakan cucuku?”
Elang memijat keningnya yang tiba-tiba saja terasa pening. Ada saja kalimat yang dilontarkan oleh Abi dan sialnya memang benar. Dia melihat pada Kenzie, berharap pria itu mau membantunya melawan Abi. Tapi sorot mata Kenzie seolah mengatakan, sorry El, kartuku udah di tangan papa semua. Aku ngga bisa bantu, pasrah ajalah.
“Kakek.. mana ada aku tidur bareng sama mas Irzal. Lagian kalau mau tidur bareng, ngapain juga di rooftop. Mending aku sewa kamar hotel, lebih nyaman.”
“Nah.. berarti kamu udah ada niat ya?” Abi langsung menoleh pada Arsy.
Mamvus gue.. dibalikin kan sama aki-aki licik ini. Ya Tuhan.. kenapa kakekku selicik ini… tolong hamba-Mu ini.
“Jadi papa maunya gimana?” Kenzie yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya mengeluarkan kalimat yang begitu ditunggu oleh Abi.
“Nikahkan Arsy dan Irzal.”
“APA???!! NGGA MAU!! Aku ngga salah, aku sama mas Irzal dijebak, pokoknya ngga mau!”
“Kakek ngga butuh jawabanmu. Kamu itu pelaku kejahatan, diam saja dan terima hukumanmu.”
“What??? Pelaku kejahatan. OMG kakek drama banget.”
Nara langsung menyentuh tangan Arsy, meminta anaknya itu untuk diam. Ingin rasanya Arsy nangis guling-guling melihat tingkah polah kakeknya. Dengan seenaknya saja Abi meminta dirinya dan Irzal menikah.
“El.. bagaimana? Apa anakmu mau bertanggung jawab?”
“Om, maaf…”
Belum sempat Elang meneruskan kalimatnya, ponsel pria itu berdering. Melihat panggilan berasal dari Farel, dia meminta ijin untuk menjawab panggilan. Elang beranjak dari tempatnya, mengabil posisi yang agak jauh dari ruang tengah.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.. El, semua persiapan sudah selesai.”
“Makasih, bang. Tapi aku lagi ada sedikit masalah.”
“Masalah apa?”
Elang segera menceritakan apa yang tengah terjadi sekarang. Tentang jebakan Abi pada Irzal dan Arsy, dan kini pria itu menekannya untuk menyetujui pernikahan anak bungsunya dengan anak Kenzie.”
“Bang… abang tahu kalau aku ngga pernah ikut campur dalam urusan percintaan anak-anak. Mereka bebas menikah dengan siapa saja yang mereka inginkan. Aku ngga mungkin menyuruh Bibie nikah sama Arsy. Aku juga ngga tahu gimana perasaan Bibie untuknya. Aku ngga mau Arsy menderita nantinya.”
“Bagaimana reaksi Bibie?”
“Dia ngga bilang apa-apa.”
“Aku tahu Bibie seperti apa. Kalau dia menolak, dia pasti akan protes keras. Kamu tahu sendiri kerasnya Bibie. Dia diam, berarti dia tidak masalah dengan perjodohan ini. Mungkin aja dia sudah menaruh hati pada Arsy tapi tidak menyadarinya. El.. masih banyak hal yang harus kita urus. Kita bereskan satu-satu. Ingat, Infinity Corp harus segera diurus, jadi nikahkan Bibie dengan Arsy, baru setelah itu kita urus Infinity.”
“Iya, bang.”
“Aku tunggu kabar darimu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Setelah percakapannya dengan Farel berakhir, Elang kembali ke tempatnya semula. Abi masih menunggu jawaban dari Elang. Dia melihat sebentar pada Kenzie, kemudian pada Irzal. Pria itu melanjutkan ucapannya yang sempat terjeda.
“Baiklah om, demi menjaga nama baik Arsy, Irzal akan menikahinya.”
Spontan Irzal menolehkan kepalanya pada Elang, namun wajahnya sama sekali tak menunjukkan reaksi apapun. Arsy langsung memeluk lengan Nara, kemudian membenamkan wajahnya ke lengan sang mama. Sebuah senyum samar tersungging di wajah Abi dan Kenan. Juna hanya menggelengkan kepalanya saja. Sang adik akhirnya berhasil mencapai keinginannya.
“Tapi.. aku minta waktu. Minggu besok, Aqeel akan menikah dengan Iza. Keluarga kami sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Bagaimana kalau pernikahan Bibie dan Arsy dilaksanakan satu atau dua bulan ke depan?”
“Sebulan dari sekarang, oke. Bagaimana, Ken?”
“Terserah papa aja,” jawab Kenzie pasrah.
“Ok.. satu bulan waktu kalian untuk mempersiapkan pernikahan. Arsy, persiapkan dirimu dengan baik sebelum menjadi istri. Irzal, belajarlah untuk mencintai Arsy mulai dari sekarang. Pembicaraan selesai, ayo kita makan malam dulu.”
Elang melirik Irzal yang tak mengatakan apapun sejak dia memberikan keputusannya. Anaknya itu beranjak dari duduknya kemudian menyusul yang lain menuju halaman belakang. Nina sudah menyiapkan makan malam untuk mereka semua di sana.
🍁🍁🍁
TOK
TOK
TOK
Elang membuka pintu ruang kenangan. Nampak Irzal tengah duduk termenung di sofa. Sejak pulang dari kediaman Abi, pria itu langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Dia memang sering menghabiskan waktu di sana jika hatinya gundah gulana. Elang mendudukkan diri di samping Irzal.
“Bie.. maafkan ayah kalau harus mengambil keputusan seperti tadi,” ujar Elang.
“Ngga apa-apa, yah.”
__ADS_1
“Kamu lihat sendiri bagaimana gigihnya om Abi untuk menjodohkanmu dengan Arsy. Ayah percaya kalau kamu selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga sebaik mungkin. Tapi..”
“Aku ngerti, yah. Kalau memang Arsy jodohku, sekuat mungkin aku menolak, pasti akan menikah juga dengannya. Begitu juga sebaliknya. Ayah ngga salah, aku ikhlas kalau memang Arsy jodohku.”
“Ayah tahu kalau kamu menginginkan perempuan seperti bunda yang jadi jodohmu. Perempuan yang bisa menjaga auratnya dengan baik. Tapi.. bukankah lebih baik jika kamu yang memberikan perubahan pada istrimu? Jika kamu menikah dengan Arsy, kamu bisa membimbingnya lebih baik lagi. Ayah percaya kamu mampu melakukannya,” Elang menepuk pundak anak bungsunya.
Irzal hanya melemparkan senyum tipisnya. Memiliki pasangan yang tertutup rapat seperti sang bunda atau kakaknya, adalah impiannya. Tapi dia juga tidak bisa mengelak seandainya Arsy yang menjadi jodohnya. Walau di beberapa kesempatan mereka kerap beradu mulut, tapi Arsy tidak seburuk itu. Dia juga bisa menjadi teman bicara yang menyenangkan.
“Apa kamu mencintai Arsy?”
“Entahlah, yah. Ayah tau aku belum pernah dekat dengan perempuan sebelumnya. Jadi aku juga tidak tahu, mencintai perempuan itu seperti apa.”
Elang terkekeh mendengar jawaban sang anak. Sepertinya Irzal lebih parah darinya. Dulu, dia merasakan cinta pertama dengan Rain, walau harus kandas karena Rain memilih menikah dengan Akhtar, sahabatnya. Dan dia juga butuh waktu lama untuk menyadari perasaannya pada Azkia, istrinya sekarang. Tapi setidaknya dia tahu seperti apa jatuh cinta. Tapi Irzal… Elang hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Apa kamu nyaman jika bicara dengannya?”
“Hmm.. lumayan.”
“Apa dia sering membuatmu cemas, mungkin karena kecorobohan atau apapun itu?”
“Hmm.. iya, dia terkadang bertindak ceroboh.”
Irzal mengingat ketika Arsy tiba-tiba menghalangi Zar yang hampir terkena bogeman Tamar. Begitu juga saat gadis itu pasrah saja ketika wali pasien mencekik lehernya. Dan ketika Arsy mendatangi Renata dengan emosi. Dia takut gadis itu bertindak gegabah yang akan membuatnya menyesal.
“Apa dia cantik?”
“Iya.”
“Apa kamu cemburu kalau melihatnya dengan laki-laki lain?”
“Tidak tahu. Aku sering melihatnya dengan Daffa. Tapi papa kan tau sendiri Daffa seperti apa.”
“Hahaha… tidurlah. Sudah malam.”
Tangan Elang memeluk bahu sang anak, kemudian merematnya pelan. Pria itu lalu berdiri dan meninggalkan sang anak sendiri. Di luar ruangan dia terkejut melihat Rena sudah berada di rumahnya.
“Tante..” sambut Elang.
Dengan wajah sumringah, Rena menyambut Elang dengan tangan terbuka. Dengan erat Elang memeluk adik dari ayahnya yang sudah tiga bulan tidak berkunjung ke rumahnya. Tangan Rena menepuk-nepuk punggung keponakannya tersayang. Perlahan pelukan mereka terurai. Elang meraih tangan Rena lalu mencium punggung tangannya, yang dilanjut dengan mencium kedua pipi wanita tua itu.
“Sehat tante. Kenapa jarang ke sini?”
“Tante habis jalan-jalan dengan grup pengajian,” Rena tersenyum.
“Segitu sibuknya tante. Tapi sekarang tante nginep di sini kan?”
“Iya, dong. Tante sudah kangen sama Bibie. Mana dia?”
“Di ruang kenangan.”
Elang melepaskan Renata, membiarkan wanita itu mengunjungi anaknya. Dia tahu jika Rena merindukan Irzal, pasti tantenya itu akan menemui anak bungsunya yang wajahnya memang sangat mirip dengan sang ayah.
“Bibie..” panggil Rena seraya membuka pintu.
“Nenek.”
Dengan cepat Irzal berdiri lalu memeluk wanita tua yang dirindukannya akhir-akhir ini. Dia mengajak Rena duduk di sofa. Rena terus memandagi wajah Irzal, cucunya ini benar-benar mirip dengan sang kakak. Menatap wajahnya, mengobati kerinduan pada Irzal yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
“Nenek dengar kamu mau menikah?”
“Nenek.. cepat banget dapet kabarnya.”
“Hihihi..”
Irzal merebahkan kepalanya di pangkuan Rena. Ditariknya tangan Rena lalu dipeluknya. Rena hanya tertawa melihat kemanjaan Irzal padanya. Tangannya mengusap puncak kepala cucunya itu.
“Siapa perempuan yang beruntung dapetin kamu?”
“Baru rencana, nek. Aku ini korban perjodohan paksa.”
“Hahaha.. ada-ada aja. Tapi kakek dan nenekmu juga dulu korban perjodohan. Buktinya mereka langgeng terus sampai ajal memisahkan. Kakek kamu akhirnya bucin abis sama nenekmu. Ngga bisa lihat ada yang deketin langsung keluar taringnya.”
“Ceritain lagi, nek. Soal kakek.”
“Cerita yang mana? Yang nenek bantuin mereka akhirnya tidur seranjang? Hahaha…”
“Boleh, nek.”
Rena menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Sambil terus mengusap puncak kepala Irzal. Wanita itu mulai menceritakan bagaimana dulu dirinya membuat Irzal tidur satu ranjang dengan Poppy. Cara nyelenehnya akhirnya bisa membuka jalan bagi kakak dan kakak iparnya jujur dengan perasaannya masing-masing.
Walau ini bukan yang pertama kali didengarnya, namun Irzal tetap bersemangat jika Rena bercerita. Dia sambil membayangkan apakah nanti dirinya dan Arsy akan mengalami hal yang sama seperti kisah kakek neneknya.
🍁🍁🍁
**Cieee mas Bibie udah ngayal aja kaya kakek Irzal dan nenek Poppy😁
Abi.. Sumpah gedekin banget ya🤣🤣🤣
Siapa yang pengen getok Abi🙋**
__ADS_1