Hate Is Love

Hate Is Love
Pacaran Setelah Nikah


__ADS_3

Sesuai janjinya, sepulang dari kediaman Abi, Rakan membawa Vanila ke gedung Artha Boga. Perusahaan ini dirintis oleh Dimas dan sekarang dikelola oleh Gibran, anak ketiganya dari Ily. Artha Boga mengurus semua restoran yang didirikan oleh Dimas. Perusahaan itu juga membawahi sekolah tata boga yang didirikan pria itu, termasuk tempat kursus memasak yang berada di gedung yang sama.


Vanilla melihat bangunan di depannya yang masih berdiri kokoh. Dia sama sekali tidak menyangka kalau chef favoritnya masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Irzal, suami sepupunya. Dimas adalah adik kandung Poppy, nenek dari Irzal. Terdengar suara Rakan mengajak gadis itu masuk.


Seorang resepsionis melemparkan senyumnya pada Rakan, CEO Rakan Putra Group yang memiliki banyak penggemar karena statusnya yang high quality jomblo. Dia terus menuju lift yang akan membawanya ke lantai sembilan. Nampak Ari, sekretaris Gibran tersenyum menyambut kedatangan Rakan.


“Pak Gibran ada?”


“Ada, silahkan masuk.”


Ari membukakan pintu untuk keponakan atasannya. Dia mempersilahkan Rakan dan Vanila masuk ke dalam. Melihat kedatangan Rakan, Gibran yang sedang berada di belakang meja kerjanya segera bangun lalu menghampiri keponakannya ini. Pria berusia 31 tahun itu memeluk Rakan.


“Tumben ke sini,” ujar Gibran.


“Iya, om. Ada yang mau ketemu.”


“Siapa?”


“Ini, namanya Vanila, biasa dipanggil Ila. Dia cucunya Perwira Arjuna.”


“Oh cucu keluarga Hikmat rupanya. Apa kabar nona cantik?”


“Baik, chef. Ya ampun ternyata chef Gibran ganteng banget aslinya.”


“Hahaha.. bisa aja, kamu. Ayo duduk.”


Gibran mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk. Senyum tak lepas dari wajah Vanila. Dia benar-benar tak menyangka bisa bertemu langsung dengan salah satu chef terkenal di Indonesia, chef Gibran, adik kandung chef Gavin. Jika Gavin lebih memiliki kemampuan mumpuni di bidang western food, berbeda dengan Gibran yang lebih condong pada Asian food, khususnya Chinese food.


“Awalnya dia mau ketemu om Gavin. Berhubung om masih di Milan, jadi aku ajak ketemu om Gibran dulu deh.”


“Fansnya bang Gavin ternyata.”


“Fans chef Gibran juga kok,” ralat Vanila seraya menyunggingkan senyum manis.


“Dia itu lulusan tata boga, om. Cuma sekarang lagi nganggur, hahaha..”


“Berarti sudah bisa masak ya?”


“Alhamdulillah bisa, chef. Dikit-dikit sih, makanya mau belajar lagi sama chef Gibran dan chef Gavin kalau ngga keberatan.”


“Sama sekali ngga. Berbagi ilmu itu menyenangkan. Kapan pun kamu mau belajar, kamu bisa datang ke sini. Mau belajar privat atau bareng peserta kursus bebas aja.”


“Beneran chef?”


Melihat anggukan kepala Gibran, membuat Vanila semakin senang. Mendapatkan kesempatan belajar langsung dari chef favoritnya seperti mendapat durian runtuh. Sepertinya dia harus berterima kasih pada Rakan yang sudah membawanya bertemu dengan Gibran. Ternyata chef terkenal itu begitu ramah.


“Gratis kan, om?” tanya Rakan seraya tersenyum.


“Gratis, apa sih yang ngga buat pacar kamu.”


Uhuk.. uhuk..


Rakan terbatuk mendengar ucapan Gibran. Vanila hanya melemparkan cengiran saja. Dia tidak menampik namun tidak mengiyakan juga. Terserah Gibran akan menganggapnya apa, yang penting dia bisa belajar pada chef terkenal tersebut.


“Kapan kamu mau mulai belajar?”


“Aku sih bebas aja, chef. Namanya juga pengangguran, waktunya selalu siap sedia kapan aja. Tergantung chef aja, kapan waktu luangnya.”


“Kalau mau belajar privat, bisa sore jam empat. Kalau kamu mau, mulai besok kita bisa mulai pelajarannya.”


“Waaahhh.. makasih chef.. makasih.. aku mau. Besok jam empat aku udah di sini.”


Senyum Gibran terbit mendengar kesanggupan Vanila. Dia juga senang melihat semangat gadis itu untuk belajar. Berharap Vanila bisa menyerap ilmu yang akan diajarkan olehnya.


“Siap-siap aja, om Gibran kalau udah di dapur itu lebih nyeremin. Jangan harap ramah kaya di sini, hahaha..” seru Rakan.


“In Syaa Allah aku siap kok. Namanya di dapur kan memang harus siap mental. Dibentak-bentak udah jadi makanan sehari-hari. Waktu kuliah dan PKL dulu juga gitu.”


“Bagus itu. Bekerja di dapur itu harus kuat mental. Kita berpacu dengan waktu menyiapkan hidangan enak untuk orang yang sudah menunggu.”


“Benar, chef. Harus siap terima kritikan juga, kan ngga semua orang punya selera yang sama dengan lidah kita.”


“Betul itu."


Pembicaraan antara Gibran dan Vanila terus terjadi. Rakan hanya menjadi pendengar setia saja. Dia tidak paham soal pekerjaan di dapur. Dia hanya tahu makannya saja tanpa mau tahu bagaimana proses pembuatannya.


🍁🍁🍁


Usai bertemu dan berbincang dengan Gibran, Rakan dan Vanila berpamitan. Besok Vanila akan datang lagi untuk memulai pelajarannya bersama dengan Gibran. Rakan meminta Vanila menunggu di depan lobi, sedang dirinya mengambil kendaraan. Tak butuh waktu lama, mobil yang dikemudikan Rakan berhenti di depan lobi kantor.


Vanila masuk ke dalam mobil dan segera mengenakan sabuk pengamannya. Rakan pun menjalankan kendaraannya. Mobilnya terhenti di sebuah perempatan ketika lampu menujukkan warna merah.


“Mau langsung pulang atau mau jalan dulu?”


“Jalan kemana?”


“Terserah kamu. Mau makan di luar atau kemana aja, terserah kamu.”


“Abang ngga sibuk?”


“Ngga.”


“Nonton mau ngga, bang? Ada film baru yang mau aku tonton,”


“Boleh. Kamu mau nonton apa?”


“Biasa, bang. Marvel series hehehe..”


Hanya anggukan kepala saja yang diberikan oleh Rakan. Dia mengarahkan kendaraannya menuju The Ocean mall, tempat mereka akan menghabiskan waktu menonton di bisokop. Mobil Rakan berbelok memasuki mall milik keluarga Ega dan memarkirkan kendaraannya di basement.


Keduanya masuk ke dalam mall yang masih banyak didatangi pengunjung. Mereka segera menuju lantai teratas mall ini. Hati Rakan begitu senang bisa menghabiskan waktu bersama Vanila. Dirinya seakan terlempar pada kejadian beberapa tahun silam ketika merasakan manisnya cinta bersama dengan Shafa.

__ADS_1


Sesampainya di lantai teratas, keduanya langsung memasuki bioskop. Tanpa harus memilih film lagi, Vanila segera menuju penjaga tiket. Dia memesan tempat duduk di bagian atas, tepatnya dua deret dari atas. Kemudian menuju stand yang menjual makanan. Dua buah popcorn dan minuman dipesan oleh mereka. Setelahnya mereka duduk di kursi yang tersedia, menunggu pintu studio dibuka.


“Abang sering nonton di bioskop?”


“Ehmm.. dulu.”


“Dulu? Dulunya kapan? Jaman penjajahan Belanda?”


“Hahaha.. bisa aja kamu.”


“Yang jelas dong dulunya kapan. Kepo nih aku.”


“Sekitar tiga atau empat tahun lalu.”


“Ya ampun selama itu, bang?”


“Iya.”


“Kenapa?”


“Ehmm.. kenapa ya.. mungkin karena ngga ada teman nonton.”


“Kalau sekarang?”


“Kan udah ada kamu teman nontonnya.”


“Ya ampun aku tersandung eh tersanjung bisa jadi teman nonton bang Rakan.”


“Bisa aja.”


Sebuah usakan mendarat di kepala Vanila. Dada Rakan berdesir saat melakukan hal tersebut. Benarkah dirinya sudah mulai tertarik pada gadis ceria ini. Bukan hanya wajah cantiknya, tapi sikap Vanila yang supel, ceria dan selalu sukses membuatnya tertawa menghadirkan getaran aneh setiap berdekatan dengan gadis itu.


Suara sang operator terdengar memanggil para pentonton untuk masuk ke dalam studio. Rakan berdiri disusul oleh Vanila. Sambil membawa makanan dan minuman, mereka masuk ke dalam studio dan menuju kursi mereka yang ada di bagian atas. Satu per satu penonton masuk memenuhi studio.


Mata Vanila memandang tak berkedip layar lebar di hadapannya. Adegan action para superhero marvel tersaji apik di depan matanya. Sebagai penggemar film action hero, tentu saja gadis itu tidak pernah melewatkan setiap besutan baru dari marvel. Mulai dari Spiderman, Captain America, Iron Man, The Avengers dan gerombolan super heroes lainnya sudah habis ditonton olehnya.


Rakan yang tidak pernah mengikuti film series tersebut mencoba menikmati saja jalan cerita yang disuguhkan. Beberapa kali dia bertanya pada Vanila tentang tokoh utama di film tersebut. Dengan suara pelan, Vanila menjawab apa yang ditanyakan oleh Rakan.


Hampir dua jam lamanya mereka berada di dalam studio hingga akhirnya pertunjukkan berakhir. Lampu studio menyala dan satu per satu penonton meninggalkan studio tersebut, termasuk Rakan dan Vanila.


“Mau makan ngga?” tanya Rakan begitu mereka berada di luar studio.


“Boleh, bang.”


“Mau makan apa?”


“Apa aja, yang penting bisa dimakan.”


“Hahaha.. bisa aja kamu. Ayo..”


Rakan mengajak Vanila turun ke lantai bawah. Dia bermaksud membawa Vanila makan di Rose café. Sudah banyak pengunjung yang datang ke café. Rakan mengambil meja di bagian luar café. Seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka.


“Kamu mau makan apa?”


“Tenderloin steak satu sama iced lemon tea.”


Sang pelayan mencatat pesanan, kemudian segera meninggalkan meja. Vanilla memandang sekeliling café. Café Rose sudah berumur puluhan tahun, dan sampai saat ini masih ramai didatangi pengunjung karena cita rasa makanan mereka yang tidak berubah sejak awal berdiri.


“Kamu tahu ngga siapa yang punya café ini?” tanya Rakan.


“Siapa bang?”


“Kakek Dimas.”


“OMG.”


“Ini salah satu usaha yang dikelola kakek Dimas. Sekarang berada di bawah om Gibran, karena om Gibran yang bertanggung jawab mengelola Artha Boga. Kalau om Gavin, bertanggung jawab mengurus sekolah dan catering.”


“Wow keren banget deh. Kakek Dimas anaknya berapa?”


“Total ada lima. Tante Ara, yang paling besar anak kakek Dimas dengan nenek Sissy. Kalau dari nenek Ily, ada om Gemma, om Gavin, om Gibran sama tante Gea.”


“Semuanya jadi chef?”


“Ngga. Anak perempuan kakek Dimas ngga ada yang bisa masak. Kemampuannya nurun ke anak cowok semua, hahaha..”


“Ngga apa-apalah, yang perempuan cuma ongkang-ongkang kaki aja.”


Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Vanilla langsung menyantap makanan pesanannya. Menurutnya chicken cordon bleu di café ini termasuk salah satu yang terbaik. Rakan menyunggingkan senyuman melihat gadis di depannya yang makan dengan lahapnya.


“Abang umurnya berapa sih?”


“Tahun ini 28, kenapa?”


“Ngga apa-apa, pengen tau aja, hehehe. Belum ada niatan nikah? Abang ngga punya pacar apa tunangan?”


“Dulu ada. Awalnya aku berniat nikah muda. Umur 24 sudah bertunangan, hanya tinggal menunggu tunanganku lulus. Tapi ternyata takdir berkata lain, aku dan Shafa tidak berjodoh.”


“Kenapa, bang? Tunangan abang nikah sama yang lain?”


“Ngga.. dia lebih dulu kembali pada penciptanya.”


“Ooh.. maaf, bang.”


Vanila langsung dihantam perasaan bersalah ketika melihat wajah sedih Rakan. Dia merutuki mulutnya yang tidak berhenti menanyakan masalah pribadi pria di depannya. Pantas saja sampai sekarang pria itu belum memiliki pasangan. Sepertinya dia masih belum bisa move on dari mendiang tunangannya.


“Ngga apa-apa, udah lewat juga. Udah tiga tahun yang lalu.”


“Abang belum ada niatan cari pengganti?”


“Kemarin-kemarin belum, tapi kalau sekarang kayanya ada. Tapi aku ngga yakin perempuan yang aku suka mau denganku.”

__ADS_1


“Eey.. jangan merendah gitu, bang. Abang tuh ganteng, mapan, jabatan di tempat kerja juga keren CEO. Siapa juga yang ngga mau sama abang.”


“Kalau kamu mau?” tembak Rakan. Walau sebenarnya dia terkejut juga melontarkan pertanyaan tersebut. Seperti bukan dirinya saja.


“Ya ampun aku ditembak CEO, ya maulah, hehehe..”


“Kalau aku bukan CEO, kamu masih mau ngga?”


“Ehmm.. pikir-pikir dulu, bang. Hahaha.. bercanda bang. Jujur ya bang, kalau menurut aku, abang tuh ganteng, keren, ramah, pastinya romantis deh.”


“Masa?”


“Iya.”


“Menurut kamu momen romantis itu kaya apa?”


“Ehmm.. apa ya? Lihat pertunjukkan air mancur atau kembang api, makan disuapin atau menikmati pemandangan kota Bandung di ketinggian berdua, kaya gitu kali ya. Tapi ngga tau juga, bang.”


“Tapi kamu kan udah punya pengalaman pacaran.”


“Cuma sebulan, bang. Abis itu putus. Kalau abang sendiri ngga mau pacaran lagi?”


“Ngga. Aku mau langsung nikah aja. Pacarannya sesudah nikah.”


“Pacaran sesudah nikah, asik kayanya bang.”


Senyum Rakan terbit mendengar ucapan Vanila. Tangannya terangkat untuk memanggil pelayan. Setelah menghabiskan makanan, dia bermaksud untuk membayar. Seorang pelayan datang membawakan bill. Pria itu meletakkan sejumlah uang yang harus dibayarkan, kemudian mengajak Vanila meninggalkan tempat tersebut.


Selesai kencan dadakan, Rakan langsung mengantarkan Vanila pulang. Pria itu menuju kediaman Juna, tempat Vanila tinggal. Langit sudah menggelap saat mobil yang dikendarainya memasuki kompleks perumahan elit di mana rumah Juna berada. Dia menghentikan kendaraan di depan rumah.


“Makasih, ya bang.”


“Sama-sama. Besok kamu mau berangkat sendiri ke kantor om Gibran?”


“Emang abang mau nganterin?”


“Kalau mau bareng aku, kayanya harus nunggu pulang kerja deh. Gimana kalau kamu berangkatnya sendiri, nanti pulangnya aku jemput.”


“Abang ngga repot?”


“Ngga.”


“Ok deh, nanti aku cari tebengan ke kantor chef Gibran. Pulangnya bareng abang.”


“Ok. Makasih ya, Ila. Aku senang jalan-jalan sama kamu.”


“Aku juga, bang. Makasih udah ditraktir nonton sama makan. Jangan kapok ya.”


“Ngga akan kapok, kok. Apalagi kalau kamu mau diajakin pacaran sesudah nikah.”


Sontak Rakan langsung menutup mulutnya setelah melontarkan pernyataan seperti itu. Lagi-lagi pria itu merutuki dirinya yang tidak bisa menjaga lidahnya. Vanilla memandangi wajah Rakan tanpa berkedip. Dia hanya membalas ucapan Rakan dengan senyuman saja, kemudian turun dari mobil.


Ya ampun, Rakan. Kenapa ngomong gitu coba. Kalau dia ilfil gimana?


Rakan hanya memandangi punggung Vanila yang memasuki pekarangan rumah Juna. Ada ketakutan dalam dirinya kalau Vanila akan berubah sikap setelah pernyataan frontalnya tadi. Setelah sang gadis masuk ke dalam rumah, barulah dirinya menjalankan kendaraan meninggalkan kediaman Juna.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab Juna.


Juna yang sedang menonton televisi menggerakkan tangannya, meminta sang cucu untuk mendekat. Setelah mencium punggung tangan sang kakek, Vanila duduk di samping pria itu. Dia masuk ke dalam pelukan Juna.


“Kenapa cucu grandpa?”


“Ngga apa-apa. Tadi aku ketemu chef Gibran. Besok aku belajar masak sama dia. Orangnya juga baik, senang deh.”


“Kamu harus belajar sungguh-sungguh. Ngga semua orang dapet kesempatan seperti kamu. Kamu sama siapa ketemu chef Gibran?”


“Diajak bang Rakan.”


Juna hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Dalam hatinya tersenyum senang, hubungan sang cucu dengan Rakan berjalan dengan mulus. Semoga saja hubungan keduanya akan cepat berlanjut menuju jenjang yang lebih serius.


“Grandpa, tadi bang Rakan ngajakin aku pacaran.”


“Oh ya?”


“Iya, tapi pacarannya habis nikah. Secara ngga langsung dia lagi ngelamar aku atau gimana sih?”


“Bisa jadi.”


“Grandpa setuju kalau aku sama bang Rakan?”


“Kenapa ngga? Rakan itu pria yang baik, keluarganya juga baik. Kalau kamu sama Rakan, grandpa yakin kamu akan bahagia hidup dengannya.”


“Tapi aku belum ada rasa sama bang Rakan. Aku emang suka ngobrol atau jalan sama bang Rakan, tapi kalau cinta kayanya belum deh.”


“Tresno jalaran suko kulino. Cinta akan datang karena terbiasa. Yang penting kamunya merasa nyaman dulu aja. Kalau kamunya nyaman dan yakin dengan hatimu, kenapa ngga? Rakan juga sudah dewasa, dia tahu bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik.”


“Gitu ya, grandpa.”


Vanilla terdiam merenungi ucapan Juna. Dia memang belum memiliki perasaan apapun pada Rakan. Tapi dia senang saat mendengar pria itu mengajaknya pacaran setelah menikah. Namun gadis itu harus memikirkan kembali semua itu. Termasuk berkonsultasi dengan kedua orang tuanya.


🍁🍁🍁


**Kira² apa jawaban Ila ya? Viren sama Al setuju ngga🙈


Ini mamake kasih visual Ila dan Rakan versi diriku. Ingat ya versi aku, yg ngga suka, ngga sreg atau kecewa aku ngga pake visual lokal, monggo cari penggambaran masing². Beda kepala, beda selera. Sekali lagi ini versi diriku🙏


Ila**


__ADS_1


Rakan



__ADS_2