Hate Is Love

Hate Is Love
Konspirasi Jilid II


__ADS_3

Keesokan harinya, kediaman Abi sudah dipenuhi oleh anggota keluarganya yang diundang khusus ke acara syukuran atas kehamilan Arsy. Berhubung di keluarganya banyak memiliki kemampuan memasak, jadi Nina tidak perlu memesan makanan dari restoran. Bahkan wanita itu diminta duduk cantik saja oleh anak, menantu dan cucunya.


Freya, Nara dan Zahra bertanggung jawab di dapur membuatkan aneka hidangan yang akan disuguhkan untuk acara hari ini. mereka juga dibantu oleh Dayana, Vanila dan Renata yang datang bersama dengan Jojo dan Adinda. Wanita itu memperlihatkan kemampuan memasaknya.


Senyum tak lepas dari wajah Abi dan Jojo. Keduanya sangat bahagia akan segera mendapatkan cicit pertama dari Arsy, cucu mereka berdua hasil kolaborasi Kenzie dan Nara. Selain keluarga Hikmat, acara juga dihadiri oleh keluarga Ramadhan. Elang bersama dengan Azkia juga turut datang. Ditambah Reyhan dan Ayunda. Rena tak mau ketinggalan, dia datang bersama dengan Dimas dan Ily. Begitu pula Farel menyempatkan datang bersama sang istri tercinta, Ara.


Sang pemilik hajat yang sebenarnya baru datang setelah Irzal menyelesaikan meeting singkatnya di kantor. Kedatangan Arsy disambut penuh sukacita oleh yang lainnya. Nina langsung menghampiri dan memeluk cucunya ini. Diusapnya perut rata Arsy seraya mendoakan sang cicit. Begitu pula Rena yang tidak mau ketinggalan mendoakan calon cicitnya.


Aqeel datang bersama dengan Azizah. Istrinya itu juga tengah mengandung anak pertamanya. Saat ini kandungan Azizah sudah berusia empat bulan. Keduanya segera menghampiri Arsy untuk memberikan ucapan selamat. Mata Arsy langsung tertuju pada perut Azizah yang sedikit membuncit.


“Selamat ya, Arsy,” ujar Iza.


“Makasih. Ya ampun kandunganmu sudah mulai terlihat, ya. Sudah berapa bulan?”


“Alhamdulillah sudah empat bulan.”


“Anakmu berapa bulan?” tanya Aqeel.


“Baru lima minggu.”


“Masih muda sekali. Jangan capek-capek ya, Sy. Harus banyak istirahat kalau masih hamil muda.”


“Iya, makasih bang.”


“Nanti anak kita bisa main bareng kayanya,” seru Iza.


“Hahaha.. iya kayanya.”


Irzal yang tengah berkumpul bersama dengan Daffa, Tamar, Aidan, dan Rakan tak lepas memandangi istrinya yang tengah berinteraksi dengan Iza dan Aqeel. Dia masih tidak suka melihat Arsy begitu akrab dengan Aqeel, mengingat istrinya itu pernah menyimpan rasa untuk sepupunya itu.


“Biasa aja lihatnya, ketahuan banget jealousnya,” Aidan mengusap wajah Irzal dengan tangannya.


“Masih cemburu, Bie? Hahaha…” Rakan tak bisa menahan tawanya melihat wajah sepupunya yang terlihat masam.


“Elah.. cebong lo udah ada di perut Arsy masih aja cemburu ama bang Aqeel,” timpal Tamar.


“Berisik lo pada!”


“Susah emang kalo udah bucin. Biar bapaknya yang meluk juga dicemburuin, hahaha…”


Suara tawa kembali terdengar. Irzal tak mempedulikan ledekan sepupu dan sahabatnya. Matanya terus memperhatikan Arsy yang kini sedang bersama dengan saudara dan sepupunya. Nampak Zar memeluk bahu istrinya itu. Sesekali pria itu mengusap perut adik kembarnya.


Irzal bangun dari duduknya ketika melihat sepupu Arsy yang lain mulai memeluk dan mengusap perut istrinya itu. Jika Zar yang melakukannya, dia masih bisa menerima tapi tidak dengan sepupu Arsy yang lain. Arya dan Gilang yang tengah berjongkok di dekat Arsy dan menempelkan kepalanya ke perut ibu hamil itu langsung berdiri ketika melihat kedatangan Irzal.


“Mamposs satpamnya dateng, hahaha…” Zar tertawa keras melihat kedua sepupunya langsung ngacir melihat kedatangan Irzal.


Dengan senyum di wajahnya, Arsy menyambut suaminya. Dia memeluk pinggang Irzal dengan mesra, membuat kecemburuan pria itu menguap. Dia mengajak Arsy menuju halaman belakang, jauh dari gangguan para sepupunya yang jahil. Mereka duduk di kursi taman yang ada di sana.


“Harus ya Arya sama Gilang kaya tadi? Anak kita bentuknya masih kaya kacang polong. Belum bisa gerak-gerak,” protes Irzal. Arsy hanya tertawa kecil mendengar kelutusan suaminya.


“Maklum aja, mas. Kan di antara yang lain, aku duluan yang hamil. Jadi mereka senang aja bakal punya keponakan.”


Hanya decakan saja yang keluar dari mulut Irzal. Pria itu menolehkan kepalanya ke samping. Arsy menaruh tangannya di wajah suaminya kemudian mengarahkan ke arahnya. Dia langsung mencium bibir Irzal.


“Jangan cemburu, masku. Laki-laki yang aku cintai kan tetap mas Bibie tersayang.”


Senyum terbit di wajah Irzal. Pria itu meraih tengkuk Arsy kemudian melanjutkan ciuman mereka. Dia terus m*lum*t dan memagut bibir istrinya itu tanpa mempedulikan kalau saat ini di kediaman sang kakek tengah ramai didatangi sanak saudara. Gilang yang hendak ke halaman belakang terpaksa berputar arah kembali ke dalam.


“Anjay.. mata gue ternoda,” seru Gilang.


“Kenapa?” tanya Zar.


“Noh adek kembar abang lagi reunian bibir ama lakinya. Jiwa jombloku meronta-ronta.”


“Heleh sekolah aja yang bener,” Zar menoyor kepala adik sepupunya itu.


Renata tertawa kecil melihat interaksi Zar dan Gilang. Menangkap suara tawa Renata, Zar menolehkan kepalanya ke arah Renata. Pria itu meninggalkan Gilang lalu mendekati Renata yang sedang menata kroket kentang di atas piring.


“Bikin apa, Ren?”


“Kroket kentang.”


“Wah kayanya enak tuh, mau dong.”


“Ambil aja.”


“Suapin.”


Sejenak Renata memandangi Zar yang tengah membuka mulutnya. Renata mengambilkan satu buah kroket kentang kemudian memasukkan ke dalam mulut pria itu. Sebelum Renata menarik tangannya, Zar menahan tangan itu. Dia menggigit setengah kroket kentang dan setengahnya dibiarkan berada di tangan Renata. Kemudian dia mengarahkan kroket tersebut ke arah Renata. Mau tak mau Renata membuka mulutnya dan menerima suapan Zar.


Nara yang juga tengah berada di dapur hanya terseyum saja melihat tingkah anak sulungya itu. Interaksi manis itu juga tertangkap oleh yang lainnya. Stella yang jahil tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengusili sepupunya.


“Uhuk…. Yang bucin.. yang bucin… mending minggir, jangan ganggu ketentraman dapur.”


“Berisik ppssstt.. sirik aja lo. Cari sono si paklpol terus lo suapin pake sendok semen, hahaha…”


Tawa Renata dan yang lain langsung meledak mendengar ucapan Zar. Renata bahkan sampai terbatuk. Secepat kilat Zar mengambilkan minuman dari dalam kulkas lalu memberikannya pada sang pujaan hati.


“Bae-bae kak Rena, tuh di minumannya ada pelet kayanya. Abis minum langsung kerasa efeknya,” celetuk Vanila.


“Efeknya apaan La?” sambar Stella.


“Efeknya bang Zar keliatan kaya Sarimin yang pergi ke pasar sambil bawa payung hitam, uu aa uu aa,” Vanila memperagakan gaya monyet berjalan. Sontak suara tawa langsung memenuhi dapur.


“Dasar Iler!!”


“Udah sana keluar, nanti semua makanan malah dihabisin sama kamu.”


Zahra segera mendorong keponakannya itu keluar dari dapur. Sebelum keluar, pria itu mencomot lagi sepotong kroket. Sambil mengedipkan mata pada Renata, Zar meninggalkan dapur seraya memasukkan kroket ke dalam mulutnya.

__ADS_1


“Cie kak Rena kayanya udah mulai kepelet ecengnya bang Abid,” goda Vanila.


“Abid siapa?” tanya Renata bingung.


“Bang Zar kan namanya Abidzar, pake dz, jadi aku manggilnya bang Abid.”


“Hahaha… ada-ada aja kamu.”


“Siapa suruh dia manggil aku Iler.”


“Betul dia manggil aku juga ppsssttt.. dasar somplak.”


“Ya wajar kamu dipanggil ppsssttt, kan nama kamu kaya pengharum ruangan, hahaha..” timpal Freya sambil tertawa.


“Ya ampun mama jahara bingit, anak sendiri dikatain pengharum ruangan,” protes Stella.


“Tapi emang bener. Kan di supermarket refilan elo banyak, Stel, hahaha…”


Suara tawa kembali terdengar gara-gara ucapan Dayana. Stella hanya menyebikkan bibirnya. Ingin rasanya dia menyalahkan kedua orang tuanya yang menamai dirinya Auristella. Dipanggil Stella salah, dipanggil Aus lebih tidak enak didengar di telinga.


Setelah semua makanan siap, satu per satu makanan dikeluarkan dan dibawa ke ruang tengah. Sebelum mencicipi makanan, mereka berdoa untuk kehamilan Arsy agar diberikan kesehatan dan kelancaran. Tak lupa pula mereka mendoakan Iza yang juga tengah berbadan dua. Doa dipimpin oleh Elang dan diamini oleh yang lain.


“Ngga sabar pengen lihat cicit lahir,” gumam Abi pelan namun masih bisa tertangkap oleh Jojo.


“Sama,” timpal Jojo.


“Ck.. ngikut-ngikut aja. Cari kata-kata yang lain bisa kan?” Abi mulai dengan mode menyebalkan.


“Bodo,” jawab Jojo kesal.


“Kalian selalu aja berisik. Dari pada ribut, mending bahas perjodohan cucu-cucu kita,” timpal Juna.


“Kan Stella sama Aya udah aman,” jawab Jojo.


“Emang cucuku ngga masuk hitungan?” sengit Juna kesal.


“Anaknya Azra udah punya calon, anaknya Ezra belum waktunya nikah,” balas Jojo tak mau kalah.


“Cucuku Ila udah siap nikah,” sambar Kevin sambil melotot.


“Oh iya, lupa,” cengir Jojo.


“Ngga usah khawatir soal Ila. Kayanya dia udah ada calonnya,” celetuk Cakra.


“Siapa?” kompak Juna dan Kevin penasaran.


“Tuh Rakan.”


Kompak kelima pria itu melihat pada Rakan. Nampak pria itu tengah berbincang dengan Vanila. Sesekali terdengar tawa mereka yang entah tengah membicarakan apa. Senyum mengembang di wajah Juna dan Kevin.


“Tenang aja, nanti aku aja yang jodohin mereka,” celetuk Kevin.


Wajah Kevin langsung menunjukkan peperangan melihat reaksi para sahabatnya. Sepertinya mereka masih meragukan kemampuannya menjodohkan cucu-cucu mereka.


“Lihat Aya sama Rafa, mereka sebentar lagi mau nikah. Siapa coba comblangnya?”


“Rena!” jawab yang lain kompak.


Rena yang merasa namanya disebut sontak melihat pada kelima pria itu. Kevin hanya menghembuskan nafas kasar. Memang benar Rena yang memiliki ide hingga akhirnya sang cucu akan menuju pelaminan bersama Rafa. Tapi setidaknya dia yang membuka jalan untuk keduanya.


“Emang dia nyumbang ide apa sih?” Juna seakan menabuh genderang perang pada sahabatnya.


“Ide jodohin doang, hahaha..” timpal Abi sambil tertawa keras.


“Assalamu’alaikum.”


Semua yang berada di ruangan tengah langsung menolehkan kepala ke arah datangnya suara. Ternyata Rafa yang datang. Pria itu baru bisa bergabung setelah menyelesaikan operasi yang ditanganinya.


“Waalaikumsalam.”


Dayana segera bangun dari duduknya untuk menyambut kedatangan calon suaminya. Dia mengajak Rafa bergabung bersama yang lainnya. Tak lupa gadis itu menawarkan calon suaminya itu untuk makan.


“Makan dulu, mas. Yang lain udah.”


“Nanti aja.”


Gadis itu paham, mungkin Rafa merasa malu makan sendiri. Dia segera mengambil piring dan mengisi dengan nasi dan lauk pauknya. Dayana kemudian berdiri dan mengajak Rafa menuju halaman belakang. Mereka mendudukkan diri di kursi taman yang ada di sana.


“Mas pasti laper, kan habis operasi. Makan dulu, aku ambilin minumnya.”


“Makasih, sayang.”


Rafa mengambil piring dari tangan Dayana. Calon istrinya itu segera beranjak untuk mengambilkan minum. Daffa yang baru turun dari rumah pohon, menghampiri dokter spesialis bedah jantung tersebut.


“Kapan datang, dok?”


“Baru aja.”


Dayana kembali dengan segelas minuman di tangannya lalu menaruhnya di dekat Rafa. Keinginan makan Rafa menguap ketika melihat Daffa tersenyum pada Dayana. Perasaan cemburu kembali menguasai dirinya. Daffa yang menyadari hal tersebut hanya tertawa dalam hati saja. Kemudian matanya menangkap Ghea yang hendak menuju rumah pohon. Dengan cepat Daffa menyambar tangan Ghea, membuat gadis itu terjengit.


“Cari aku ya sayang?” tanya Daffa.


“Eh..” Ghea terkejut mendengar Daffa yang tiba-tiba memanggil sayang padanya.


“Aku baru mau nyusulin kamu. Ayo kita ke rumah pohon lagi.”


Dengan wajah bingung Ghea mengikuti saja kemana Daffa membawanya. Tangan pria itu tak lepas menggenggam tangannya. Mereka segera menuju rumah pohon. Daffa baru melepaskan pegangannya ketika sampai di atas.


“Sorry ya, Ghe.. terpaksa, soalnya dokter Rafa masih cemburu sama aku.”

__ADS_1


“Ngga apa-apa sih. Harusnya koling dulu, nih jantung jadi drum band sendiri kan. Kalo aku baper gimana coba?”


“Hahaha.. bisa aja kamu.”


Tangan Daffa bergerak mengusak puncak kepala Ghea. Harus Daffa akui kalau anak gadis dari Kenan ini memang cantik, namun dirinya saat ini masih belum mau menjalin hubungan dengan siapa pun. Dia masih nyaman sebagai tim comblang Abi dan Rena. Pria itu masih berkonsentrasi menyelesaikan tugas residennya yang akan berakhir enam bulan lagi. Setelah dirinya secara resmi menyandang titel dokter spesialis bedah umum, baru akan memirkan jodoh sebelum melanjutkan studi fellowshipnya.


Sementara itu di dalam, pandawa lima masih asik bergosip membicarakan cucu-cucu mereka yang masih berstatus jomblo. Setelah berhasil menjodohkan Arsy, Dayana dan Stella. Tentu saja mereka akan meneruskan track record mereka.


“Kalau Sam belum ada tanda-tanda suka sama siapa gitu?” tanya Juna pada Abi.


“Belum. Tuh anak kan modelan Kenzie. Lagian masih 21 tahun. Biarin aja dia beresin kuliah dulu, kerja baru cari jodoh.”


“Kalau Zar gimana?” tanya Cakra.


“Zar lagi pedekate sama Rena,” celetuk Jojo.


“Hah? Ngga salah Zar sama Rena? Emang sih Rena janda tapi kan udah tua, masa Zar mau sama Rena.”


Mata Jojo langsung melotot melihat pada Kevin. Pria itu hanya terpingkal saja melihat sahabatnya yang nampak kesal. Lumayan dia bisa membalas dendam pada Jojo yang sedari tadi memojokkannya. Yang lain hanya tertawa saja melihat kelakuan dua pria itu.


“Kalian setuju kalau Zar sama Rena?” tanya Juna.


“Kalau Zarnya suka, kenapa ngga? Aku pribadi ngga peduli dengan apa yang terjadi pada Rena dulu. Yang penting anaknya baik,” jawab Abi bijak.


“Iya, betul. Aku senang Rena sekarang sudah mulai pulih kepercayaan dirinya. Coba kalian bayangkan bagaimana perasaan Rena saat dirinya hancur akibat ulah Richie dan teman-temannya.”


“Aku pikir Rena sama Rakan,” ujar Juna pelan.


“Rakan cuma anggap dia adik aja. Aku rasa Rena juga suka sama Zar. Cuma dia masih takut aja. Takut kalau keluarga kita ngga mau terima dia.”


“Kita lihat dulu aja sejauh mana usaha Zar. Kalau udah mentok, baru kita bantu,” ujar Abi.


“Betul, masa cucu bon cabe sama mantan playboy ngga bisa dapetin cewek incerannya,” timpal Kevin seraya terkekeh. Ucapan Kevin tentu saja disambut tawa oleh lainnya.


“Masih ada satu calon cucu mantu ideal nih,” seru Cakra.


“Siapa?”


“Daffa. Tuh anak kan belum ada yang punya kan? Kira-kira mau kita jodohin sama siapa?”


“Kayanya sama Ghea cocok tuh,” timpal Juna.


“Kebayang ya Daffa yang modelannya mirip si Nan yang kaya kompor mledug, dapet Ghea yang pecicilan kaya gasing, hahaha..” Cakra tertawa sendiri.


“Boleh juga tuh. Tapi tunggu dia beres residen dulu. Lagian Ghea juga masih kuliah,” ujar Abi.


“Diagendakan aja dulu, hahaha..”


“Aidan juga boleh tuh,” timpal Kevin.


“Masukkan dalam list, hahaha…”


Tawa lepas pandawa lima kembali terdengar. Para istri mereka sontak langsung melihat pada suami-suami mereka. Dilihat dari cara mereka bergosip dan tertawa, sudah pasti akan ada konspirasi lain untuk menjodohkan cucu-cucu mereka. Entah siapa yang kali ini akan menjadi korban mereka.


Rakan baru saja selesai berbicara dengan asistennya via ponsel. Ketika pria itu akan kembali ke dalam, langkahnya tertahan saat melihat Vanila berjalan ke arahnya. Gadis itu mendekatinya, dia bermaksud menagih janji Rakan.


“Bang..”


“Iya.."


“Masih inget janjinya kan?”


“Masih, tenang aja. Aku belum pikun kok, hehehe..”


“Kapan aku bisa ketemu chef Gavin?”


“Chef Gavin lagi ke Milan dulu ninjau resto di sana. Tapi kalau mau ketemu chef Gibran bisa sore ini.”


“Ya ampun Chef Gibran, mau dong,” mata Vanila nampak berbinar.


“Siapa yang mau ketemu Gibran?” terdengar suara Dimas dari arah belakang.


“Ila.. ngebet banget pengen ketemu om Gavin. Berhubung om Gavin masih di Milan aku tawarin ketemu om Gibran aja,” jawab Rakan sambil tersenyum.


Sambil menyunggingkan senyumnya, Dimas berjalan mendekati Rakan dan juga Vanila. Dia mendudukkan diri di kursi yang ada di sana.


“Sebelum ketemu sama om Gavin dan om Gibran, ketemu sama bibitnya aja dulu, hahaha..” ujar Rakan.


“Eh chef Gavin sama chef Gibran anaknya kakek Dimas ya?”


“Iya. Lihat aja muka mereka mirip. Tapi jangan naksir ya kalau ketemu, mereka udah pada nikah soalnya.”


“Aku naksir sama skill mereka.”


“Dari pada naksir Gavin sama Gibran, mending naksir Rakan ya, La,” goda Dimas.


Hanya senyuman saja yang diberikan Vanila dan Rakan menanggapi ucapan Dimas. Namun dada Rakan berdesir juga mendengar kata-kata Dimas. Dia melihat pada Vanila yang senyumnya terlihat menawan di matanya.


“Ajak aja Ila ke kantor, Gibran pasti ada di sana,” ujar Dimas.


“Iya, kek. Nanti sore aku ajak Ila ke sana.”


“Makasih ya kakek, abang.”


Dimas hanya menganggukkan kepalanya. Matanya tertuju pada Rakan yang lebih banyak diam setelah dia menggodanya. Sebagai yang sudah berpengalaman, dia tahu kalau Rakan sepertinya ada ketertarikan pada Vanila. Semoga saja cucunya itu bisa secepatnya membuka hati untuk gadis lain setelah terpuruk selama tiga tahun sejak ditinggal Shafa.


🍁🍁🍁


**Astaga pandawa lima pada ngga inget umur ya🤣

__ADS_1


Tenang, stok cogan berstatus jomblo masih banyak. Ada Daffa, Aidan sama Nalendra. Siapa hayo Nalendra**?


__ADS_2