
Acara resepsi yang telah disiapkan tetap dilangsungkan. Hanya saja nama Kemal diganti dengan Nalendra. Di bagian penerima tamu, disiapkan tim tambahan untuk menyeleksi tamu yang hadir. Undangan dari pihak Kemal dipersilahkan kembali, sedang dari pihak Ayumi diperkenankan masuk. Terkecuali teman kuliah mereka berdua, karena keduanya kuliah di jurusan dan kelas yang sama.
Tentu saja tamu dari pihak Kemal bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba ada pergantian mempelai pria di detik-detik terakhir pernikahan. Banyak yang menanyakan pada petugas keamanan yang diterjunkan Barra untuk menertibkan undangan. Namun mereka hanya menjawab untuk konfirmasi langsung dengan pihak keluarga Kemal, dan Ayumi sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan mereka.
Banyak yang merasa kecewa karena perubahan yang terjadi. Tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan, kecuali mengikuti arahan. Tak sedikit spekulasi yang berkembang, namun mereka tak berani menyuarakannya secara langsung. Mereka harus berpikir ulang jika harus bersinggungan dengan keluarga Hikmat.
Teman-teman kuliah Ayumi yang datang tak kalah terkejut dengan pergantian pengantin teman mereka. Sebenarnya banyak yang curiga dengan hubungan Kemal dan Ayumi. Mereka tidak seperti pasangan kekasih. Sikap Kemal pada Ayumi dan Deri sangat jauh berbeda. Demi Deri, Kemal rela lari pontang-panting jika mendengar sesuatu tentang pria itu. Namun jika menyangkut Ayumi, pria itu terlihat biasa saja.
Beberapa teman sekelas Ayumi nampak berkumpul di dekat panggung pelaminan. Mereka masih menunggu antrian untuk bisa naik ke atas panggung, karena masih ada sesi foto dari kedua keluarga pengantin. Mata mereka tak lepas memandangi Nalendra yang menggantikan Kemal, berada di samping Ayumi. Dan yang membuat heran, wajah Ayumi juga terlihat biasa saja, malah bisa dikatakan bahagia.
“Gue bingung deh, ini sebenarnya gimana sih? Kenapa pernikahan mereka gagal dan pengantin prianya jadi ganti casing?”
“Iya, gue juga bingung. Tapi kalau gue lihat, Ayumi kayanya baik-baik aja deh.”
“Syukur deh kalau Ayumi ngga jadi nikah sama Kemal. Anak ngga jelas kaya gitu. Mending sama suaminya yang sekarang. Lihat aja tuh, lebih dewasa dan ganteng lagi. Kemal mah ngga ada seujung kukunya.”
“Iya. Dulu si Ayumi kesambet kali. Nah pas mau nikah, sadar dia ternyata laki-laki pilihannya buluk terus putar haluan.”
“Hahahaha…”
“Kira-kira si Kemal lagi ngapain sekarang?”
“Nangis di pojokan kali, hahaha..”
“Ngga yakin gue. Palingan dia lagi mesra-mesraan sama si Deri. Mereka berdua kan terong makan terong.”
“Serius???”
Semua mata teman Ayumi langsung tertuju pada salah satu temannya yang bertubuh paling kurus, namun memiliki postur tubuh paling tinggi. Pria itu nampak begitu yakin dengan apa yang dikatakannya.
“Lo tau dari mana? Wah jangan fitrun lo.”
“Gue pernah lihat mereka c*pok*n di belakang kantin kampus.”
“Whattt????”
Antara percaya tidak percaya mereka mendengar kabar itu. Namun melihat kedua pria itu, sepertinya kabar tersebut benar adanya. Mereka kembali melayangkan pandangannya pada Ayumi. Ada perasaan iba sekaligus syukur. Iba, karena Ayumi dan keluarganya harus dipermalukan oleh Kemal. Namun bersyukur karena teman mereka mendapat ganti yang kualitasnya jauh lebih unggul.
“Gila ya si Kemal. Dapet berlian malah pilih tai kebo.”
“Ya gimana lagi. Kalau cinta sudah melekat, tai kebo pun lebih berharga dari berlian, hahaha…”
“Hahaha.. najong amat peribahasa lo.”
Perbincangan mereka terhenti ketika melihat antrian di depan sudah bergerak naik ke atas panggung. Dengan tertib mereka menunggu giliran untuk naik dan memberikan ucapan selamat. Senyum sumringah Ayumi langsung terlihat ketika melihat teman-temannya datang di hari bahagianya.
“Yumi.. selamat ya. Tapi kok pengantin lakinya ganti casing ya?”
“Bukan ganti casing doang, tapi sama mesinnya juga, hihihi..”
Nalendra hanya membalas ucapan teman-teman Ayumi dengan senyuman saja. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih karena sudah datang untuk memberikan ucapan selamat. Ayumi sendiri tidak mengatakan apapun perihal pergantian pengantin.
“Yum… nemu yang bening kaya laki lo, di mana? Mau dong kalau masih ada stok,” bisik salah satu temannya.
“Udah ngga ada lagi. Limited edition laki gue mah.”
“Hahaha..”
“Selamat ya, Yum.. buat aa-nya juga selamat. Terima kasih sudah menyelamatkan teman kami dari bebegig sawah kaya si Kemal.”
Teman-teman Ayumi terkikik geli mendengar ucapan salah satu dari mereka, tak terkecuali Ayumi. Apa yang terjadi padanya seperti kata pepatah, sengsara membawa nikmat. Sengsara telah dipermalukan Kemal, namun ada nikmat di baliknya. Mendapatkan suami lelaki tulen, soleh dan ganteng.
Setelah berfoto dengan kedua pengantin, teman-teman Ayumi menuruni panggung pelaminan. Tentu saja mereka langsung berburu makanan yang sudah disiapkan oleh pihak catering. Ayumi menolehkan kepalanya pada Nalendra, yang sedari tadi tidak banyak bicara.
__ADS_1
“Abang ngga nyesal kan nikah sama aku?”
“Kenapa harus nyesal?”
“Ngga apa-apa. Abisnya abang dari tadi diam aja. Takutnya abang nyesal aja nikah sama aku.”
Ayumi menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja gadis itu berpikir kalau tindakan Nalendra tadi hanyalah sebuah spontanitas untuk menyelamatkan wajah keluarganya. Dia terjengit ketika Nalendra meraih tangannya. kepalanya terangkat, melihat pada pria di sampingnya.
“Abang ngga nyesal. Sebenarnya abang masih belum percaya kalau kita sudah menikah. Rasanya mimpi aja, perempuan yang pernah cosplay jadi pacar, ternyata sekarang jadi istri abang.”
Tak ada kata-kata yang mampu Ayumi ucapkan. Hanya pandangan matanya saja yang menatap tak berkedip pada suaminya. Bukan hanya Nalendra, tapi dirinya pun masih belum percaya kalau yang menjadi suaminya sekarang adalah pria yang belakangan ini wara-wiri di kepalanya.
Kebisuan di antara keduanya berakhir ketika tamu undangan kembali datang untuk memberikan ucapan selamat. Beberapa tamu undangan dari pihak Barra merupakan kolega bisnis Farel dan Elang. Mereka terkejut pemilik J&J Entertainment tersebut ternyata berbesan dengan keluarga Ramadhan.
“Selamat ya, Nal. Om ngga nyangka yang jadi mempelai prianya ternyata kamu. Setahu om, di undangan bukan namamu.”
“Terima kasih, om.”
“Semoga jadi keluarga sakinah mawaddah warohmah dan cepat dikaruniai momongan.”
“Aamiin.. makasih tante.”
“Eh jangan dulu punya anak. Mereka masih muda, biar pacaran saja dulu,” timpal sang suami.
“Oh iya. Puas-puasin dulu masa pacaran kalian, baru punya momongan,” ralat sang istri.
Baik Nalendra maupun Ayumi hanya menanggapi dengan senyuman. Namun sepertinya usulan tersebut ada benarnya juga. Baru kenal beberapa bulan dan langsung menikah, itu pun karena insiden. Pastinya keduanya membutuhkan waktu untuk lebih saling mengenal dan menumbuhkan perasaan cinta di antara mereka.
Sementara di bagian bawah panggung, para sepupu Ayumi dan Nalendra tengah berkumpul bersama. Pembicaraan tentu saja didominasi tentang pernikahan fenomenal antara Ayumi dengan Nalendra.
“Ngga nyangka ya, si Nal bisa langsung ngebut gitu ninggalin si Vano di belakang. Sekarang jabatan presiden jomblo antara si Vano atau Farzan. Suit deh lo berdua,” seru Zar.
“Enak aja. Noh si Farzan, kenapa gue dibawa-bawa. Gue kan masih kinyis-kinyis,” sewot Ervano.
“Hahaha..”
“BTW gue bersyukur sih, Nal yang ikahin adek gue. Kebayang ngga kalau si onta yang nikahin Yumi. Dijamin kaga punya ponakan gue.”
“Yang ada dia nyosor elo, Zan, hahaha..”
Ucapan Zar langsung disambut gelak tawa. Farzan bergidik sendiri membayangkannya. Jika sampai terjadi, mungkin saja akan ada novel baru berjudul, digoda adik ipar. Dan sudah pasti para pembaca akan terkecoh. Disangkanya sang penggoda alias adik ipar adalah wanita cantik bertubuh bohai, namun ternyata pria berbatang.
Resepsi pernikahan terus berlanjut sampai waktu yang telah ditentukan. Tamu yang datang pun tidak sebanyak undangan yang disebarkan. Alhasil banyak makanan tersisa. Barra meminta petugas catering membungkus makanan untuk dibagikan pada para tuna wisma, pedagang asongan atau driver online.
Pasangan pengantin dipersilahkan kembali ke kamar pengantin. Nalendra memilih berganti pakaian di kamar Farzan, agar tidak membuat Ayumi canggung. Pria itu langsung pergi ke suatu tempat begitu selesai berganti pakaian.
🍁🍁🍁
Ayumi melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, namun suaminya masih belum masuk ke dalam kamar. Terhitung sudah satu setengah jam lamanya sejak Nalendra berpamitan hendak keluar. Gadis itu masih tetap menunggu sang suami di kamarnya.
Baru saja Ayumi hendak menghubungi Nalendra, ketika terdengar suara bel. Bergegas gadis itu membukakan pintu. Ternyata Nalendra yang datang. Di tangannya terdapat paper bag. Pria itu langsung masuk ke dalam kamar, kemudian mendudukkan diri di sofa. Dia memberikan paper bag di tangannya pada Ayumi.
“Apa ini, bang?”
“Itu mas kawin yang abang janjikan. Tadi abang harus mengambilnya dulu di toko perhiasan. Oh ya, abang minta nomor rekeningmu. Uangnya abang transfer aja, ya. Biar cepat. Berapa nomornya?”
Ayumi memberitahukan nomor rekening banknya. Dengan cepat Nalendra memasukkan nomor tersebut kemudian mengirimkan uang sebesar 50 juta rupiah ke rekening istrinya. Satu set perhiasan yang menjadi mas kawin juga sudah diberikan pada Ayumi. Mas kawin yang tadi terhutang, sudah dibayar lunas olehnya.
“Lunas ya, mas kawinnya.”
Hanya senyuman saja yang diberikan Ayumi. Gadis itu membuka paper bag, lalu mengambil kotak perhiasan dari dalamnya. Di dalam kotak tersebut, terdapat anting, kalung, cincin dan gelang.
“Kamu suka?”
__ADS_1
“Suka, bang. Bagus banget. Tapi kok cepat sih?”
“Sebenarnya aku emang udah pesan ini seminggu yang lalu. Iseng aja, aku pengen siapin mahar buat calonku nanti.”
“Jadi abang udah punya calon? Terus gimana dong? Kasihan calonnya.”
Nalendra justru tertawa melihat wajah panik dan terkejut Ayumi. Pria itu masih belum mengatakan apapun. Dia masih menikmati wajah sang istri yang terlihat lucu di matanya. Karena Nalendra tak kunjung menjawab, Ayumi kembali mengatakan hal yang semakin membuat Nalendra terbahak.
“Bang.. ayo temuin aku sama calon abang. Aku mau minta maaf.”
“Hahahaha…”
“Iih.. malah ketawa. Aku serius, bang.”
“Aku belum punya calon.”
“Itu kata abang tadi pesan perhiasan buat mahar calon abang.”
“Emang iya, aku pesan perhiasan buat mahar. Tapi calonnya sendiri belum ada. Maksudnya, sedia payung sebelum hujan. Kalau udah dapat calonnya, maharnya udah siap. Karena aku kan emang ngga mau pacaran. Kalau sudah menemukan perempuan yang tepat, ya niatnya langsung nikah. Ternyata keinginanku diijabah Allah. Aku langsung nikah hari ini. jadi calonnya ya kamu.”
“Ooh.. aku pikir abang udah punya calon. Aku jadi ngga enak body udah rebut abang.”
“Ngga lah. Aku kan jomblo dari lahir. Ngga ada yang mau sama aku. Alhamdulillah kamu mau abang bayar hutang, hahaha.”
“Hilih abang menurunkan harga, menaikkan mutu. Apa kabarnya para gadis dan janda yang ngantri pengen jadi pasangan abang. Abang banyak fansnya di perkebunan.”
“Hahaha.. hoax itu. Kamu jangan percaya. Eh tapi.. kamu ngga nyesal kan nikah sama abang?”
“Ngga, kok.”
Ayumi langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika menjawab pertanyaan Nalendra. Wajahnya nampak bersemu merah. Alih-alih merasa sedih karena sudah ditinggalkan mempelai pria tepat menjelang akad, gadis itu justru merasa bahagia mendapatkan mempelai pengganti yang jauh lebih berkualitas dari calon suaminya dulu.
“Ay.. abang tahu banyak yang kamu lalui hari ini. Pasti kamu kesal, marah, kecewa dan malu dengan semua yang terjadi. Tapi.. abang menikahimu dengan niat tulus, ingin membina rumah tangga bersamamu. Bukan karena kasihan atau keterpaksaan. Kita memang belum saling kenal terlalu lama. Tapi kita bisa mencicilnya mulai sekarang. Kamu setuju, kan?”
Hanya anggukan kepala saja yang diberikan Ayumi. Bahkan gadis itu tidak berani melihat pada Nalendra. Tatapan Nalendra yang teduh dan hangat, selalu sukses membuat jantungnya berdebar. Apalagi ketika mendengar suaranya yang lembut saat berbicara dengannya. Nikmat mana lagi yang kau dustakan. Mungkin itulah kata-kata yang tepat menggambarkan keadaannya sekarang.
“Besok rencananya abang mau adain syukuran di perkebunan, sekalian mengumumkan soal pernikahan kita. Kamu ngga keberatan?”
“Ngga, bang.”
“Saat ini abang sendiri masih sering bolak-balik Bandung-Ciwidey. Abang masih beresin kuliah S2. Mungkin sekitar enam bulan lagi baru selesai. Kamu juga masih harus membereskan kuliah. Jadi mungkin ada kalanya kita tinggal terpisah, kalau abang harus tinggal di Ciwidey dalam waktu lama.”
“Iya, bang.”
“Untuk sementara, kita tinggal di rumah papa Farel dulu, kamu ngga apa-apa, kan? Lagi pula hanya ada Naima selain mama dan papa. Kamu sudah kenal kan dengan Naima?”
“Kenal, bang.”
“Apa ada lagi yang mau kamu tahu soal abang? Atau ada yang harus abang tahu soal kamu? Misalnya apa yang kamu suka atau ngga, apa kamu ada alergi makanan atau apapun, bilang aja. Kita harus mulai saling mengenal sekarang.”
“Aku ngga ada pantangan kalau makan. Tapi aku belum terlalu bisa masak. Aku juga belum terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Kaya nyuci, nyetrika atau ngepel. Kalo nyapu sama beresin tempat tidur sih tiap hari. Cuma kalau kerjaan lain, aku ngga pernah.”
“Ngga apa-apa. Kamu bisa belajar pelan-pelan. Kalau di rumah papa, sudah ada asisten rumah tangga yang mengerjakan itu semua. Tapi kalau di Ciwidey, abang terbiasa mengerjakannya sendiri. Abang harap kamu mau belajar dari sekarang.”
“Iya, bang.”
“Terima kasih, ya. Maaf kalau abang banyak menuntut. Abang mandi dulu, belum shalat ashar juga.”
Nalendra bangun dari duduknya, kemudian memasuki ruang tidur mereka. Pria itu segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh keringat. Ayumi masih bertahan di tempatnya. Merenungi apa yang mereka bicarakan tadi. Babak baru kehidupannya sudah dimulai sekarang. Mendapatkan suami yang mandiri seperti Nalendra, dia pun harus mulai belajar mandiri. Gadis itu optimis bisa menjadi istri yang baik untuk Nalendra.
🍁🍁🍁
Pada nungguin MP ngga nih? Wkwkwk...
__ADS_1