Hate Is Love

Hate Is Love
I Love You


__ADS_3

“Sy.. kamu ngapain di sini?”


Daffa terkejut melihat Arsy berada di ruang istirahat dokter IGD. Padahal tadi siang wanita itu baru saja melangsungkan pesta pernikahannya. Arsy mengalungkan stetoskop ke lehernya kemudian mendekati Daffa.


“Tadi suster Asri telepon. Katanya di IGD kekurangan staf. Makanya aku ke sini.”


“Udah balik aja. Suster Asri ngga tau apa kamu lagi mau malam pertama.”


“Apaan sih. Ayo, bentar lagi ambulans dateng.”


Bergegas Arsy keluar dari ruang istirahat tersebut. Daffa segera menyusul di belakangnya. Beberapa dokter sudah bersiaga di IGD, termasuk Fabian dan Reyhan. Bahkan Aqeel juga datang untuk membantu begitu mendengar ada korban anak dalam kecelakaan tersebut.


Berturut-turut ambulans datang membawa korban kecelakaan. Ternyata jumlah pasien yang datang melebihi jumlah bilik di IGD. Mereka terpaksa mengatur ulang agar semua pasien dapat teratasi. Pasien dengan luka ringan ditempatnya di ruang tunggu, pasien dengan luka berat masuk ke bilik perawatan, sedang pasien kritis langsung ke ruang tindakan.


Reyhan menempatkan Arsy di bagian pasien dengan luka ringan. Di sana juga ada dokter Genta dan beberapa anak koas. Mereka memeriksa pasien yang jumlahnya ada dua puluh orang. Dengan cekatan, Arsy mengobati korban dengan luka ringan. Setelah itu dia membantu Daffa di bagian korban dengan luka berat.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Arsy menepuk punggungnya yang terasa pegal. Setelah dari pagi melewati serangkaian acara pernikahan. Di malam hari dia berjibaku merawat pasien korban kecelakaan. Baru saja dirinya dengan Daffa dan beberapa dokter lainnya beristirahat. Ambulans kembali berdatangan. Kini mereka kedatangan korban kebakaran.


Suasana di IGD kembali ricuh. Korban yang datang ternyata cukup banyak juga. Lokasi kebakaran adalah gedung asrama salah satu kampus yang ada di kota Bandung. Para dokter di IGD kembali bekerja keras membantu mengobati luka bakar yang diderita korban.


“Sy..”


Daffa mengguncang bahu Arsy yang tidur sambil duduk di dekat blankar salah satu pasien yang ditanganinya. Pria itu memberikan kopi panas untuk Arsy kemudian menarik kursi ke dekatnya.


“Bagaimana keadaan pasien?”


“Udah stabil. Tapi aku masih nunggu perkembangannya sekitar sejam lagi. Kalau kondisinya tetap stabil, dia baru dipindahkan ke ruang perawatan.”


“Sekarang udah jam tiga.”


“Iya.”


“Habis mantau pasien ini kamu pulang. Nanti aku antar ke hotel.”


Arsy menganggukkan kepala. Daffa meninggalkan Arsy untuk melihat keadaan pasien lainnya. Malam ini memang malam yang panjang, hampir tujuh jam lamanya mereka berjuang menyelamatkan nyawa pasien.


🍁🍁🍁


Mobil yang dikendarai Daffa berhenti di depan lobi Arjuna hotel. Setelah mengucapkan terima kasih, Arsy segera masuk ke dalam hotel dan Daffa pulang ke rumahnya. Sebelum menuju lantai di mana kamar pengantinnya berada, Arsy terlebih dulu menuju resepsionis. Dia hendak meminjam kunci kamar karena tidak mau membangunkan Irzal.


Arsy menempelkan kunci ke panel yang ada di depan pintu kemudian membukanya. Suasana di dalam kamar begitu sepi. Arsy masuk ke dalam ruang tidur, nampak Irzal masih tertidur nyenyak. Pelan-pelan Arsy menaruh tasnya di atas meja rias. Dia membuka pintu untuk mengambil piyama dari dalamnya lalu masuk ke kamar mandi.


Tubuh Arsy terasa lebih segar setelah diguyur air hangat. Wanita itu juga sudah mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah shalat shubuh. Dia berjongkok di depan Irzal yang masih menutup matanya. Pelan-pelan dia mengguncang bahu sang suami.


“Mas.. bangun mas, udah shubuh.”


Mendengar seseorang membangunkannya, Irzal membuka matanya. Arsy terlihat berjongkok di depannya. Sontak pria itu bangun dari tidurnya, tangannya langsung menyambar ponsel yang ada di atas nakas. Jam digital menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh lima menit.


“Kamu pulang jam berapa?”


“Jam empat lebih, mas.”


“Sendiri? Kenapa ngga telepon aku?”


“Dianter sama Daffa. Bangun, mas.”


Irzal segera beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju kamar mandi. Arsy menggelar dua buah sajadah kemudian memakai mukenanya. Dia duduk bersila di atas sajadah, menunggu Irzal yang langsung mandi. Tak lama pria itu keluar dan langsung bersiap untuk memimpin shalat.


Usai menunaikan shalat shubuh, Arsy masih duduk di atas sajadahnya. Dia membuka mukena kemudian melipatnya. Irzal membalikkan tubuhnya menghadap Arsy. Istrinya itu nampak lelah dan mengantuk. Beberapa kali Arsy menguap panjang.


“Bagaimana keadaan rumah sakit?”


“Sudah terkendali. Kita kedatangan banyak korban malam ini. Korban kecelakaan dan kebakaran. Aku ngantuk banget, mas.”


“Wajar kalau kamu ngantuk. Kamu pasti capek banget.”


Irzal mendekat kemudian mengangkat tubuh Arsy dan mendudukkan di pangkuannya. Dengan nyaman Arsy menyandarkan kepalanya di dada Irzal. Sebelah tangan Irzal menahan punggung sang istri dan sebelah lagi memeluk pinggangnya.


“Mas tadi langsung tidur?”


“Ngga.. aku tidur jam tigaan kayanya.”


“Kenapa ngga tidur?”


“Aku takut kamu telepon minta jemput.”


“Maaf ya mas.”


Arsy mengalungkan tangannya ke leher Irzal. Dia tak mengerti bisa melakukan ini. Yang dia tahu hanya ingin bersandar di dada Irzal dan melepaskan rasa penatnya. Wangi sabun yang menguar dari tubuh suaminya semakin membuatnya nyaman saja.


“Sekarang kamu tidur. Istirahat,” Irzal mengusap punggung Arsy.


“Mas juga tidur. Mas kan kurang tidur juga.”


“Iya.”


“Hari ini kita mau kemana, mas?”


“Kita ke vila. Kamu ngga keberatan kan kalau kita habiskan bulan madu di vila? Kita cuma punya waktu tiga hari.”


“Ngga apa-apa, mas.”


Lama-lama mata Arsy mulai memberat dan akhirnya jatuh tertidur dalam pangkuan suaminya. Mengetahui Arsy sudah tidur, Irzal bangun kemudian membaringkan sang istri di ranjang. Dia merapihkan dulu alat shalat yang tadi digunakan, baru kemudian menyusul naik ke atas ranjang.

__ADS_1


Pelan-pelan Irzal mengangkat kepala Arsy lalu menyelipkan sebelah tangannya ke bawah kepala wanita itu. Kemudian dia merebahkan kembali kepala Arsy di atas lengannya. Pria itu merapatkan tubuhnya ke arah sang istri. Jarinya merapihkan anak rambut yang menghalangi mata Arsy, lalu mendaratkan ciuman di kening.


Tangan Irzal melingkari pinggang Arsy, menariknya lebih dekat ke arahnya. Setelah itu dia pun memejamkan matanya. Dengkuran halus terdengar dari keduanya, pertanda mereka telah lelap masuk ke alam mimpi.


🍁🍁🍁


Perlahan Arsy membuka matanya. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan suaminya. Menyadari kalau dirinya tidur dalam pelukan Irzal, membuat wajahnya memerah. Otaknya mulai mereka ulang apa yang mereka lewati setelah sah menjadi suami istri. Wanita itu menutup wajah dengan kedua tangannya saat ingat shubuh tadi tidur dalam pangkaun Irzal.


Arsy bingung sendiri kenapa tadi shubuh dia membiarkan saja saat Irzal memangkunya, bahkan dia memeluk leher suaminya, merasa nyaman dalam pelukannya. Dan sekarang mereka juga tidur bersama di atas ranjang dengan dirinya berada dalam pelukan Irzal. Arsy masih menutup wajahnya, rasa malu sekaligus bahagia menerpanya.


Tenang Sy.. tenang.. sekarang kan dia udah jadi suami kamu. Jadi bebas dong kalian mau ngapain juga.


Perlahan Arsy melepaskan tangan dari wajahnya. Matanya terus memandangi wajah tampan sang suami. Satu per satu panca indra di wajah Irzal diselusuri oleh mata indahnya. Mulai dari mata, hidung dan terakhir bibir. Kepala wanita itu menggeleng ketika membayangkan bibir itu mencium bibirnya.


Mata Irzal tiba-tiba saja terbuka, dengan cepat Arsy menutup matanya, berpura-pura masih tertidur. Sejenak Irzal memandangi wajah cantik di depannya yang masih menutup mata. Tapi dia melihat kelopak mata Arsy bergerak-gerak, pertanda wanita itu tak benar-benar tidur. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya.


CUP


Sontak mata Arsy terbuka saat merasakan kecupan di keningnya. Wajah tampan Irzal terpampang di depan matanya lengkap dengan senyum manisnya. Tangannya kemudian bergerak mengusap rambut Arsy dengan lembut.


“Bagaimana tidurmu?” tanya Irzal seraya menyelipkan rambut ke belakang telinga Arsy.


“Nyeyak.”


“Sekarang jam berapa?”


Tanpa menunggu jawaban Arsy, tangan Irzal menyambar ponsel di atas nakas. Jam digital di benda pipih itu menunjukkan pukul sebelas lebih sepuluh menit. Irzal kembali meletakkan ponsel ken akas, lalu memeluk pinggang Arsy kembali.


“Jam berapa, mas?”


“Jam sebelas lebih sepuluh menit.”


“Lama juga ya kita tidurnya.”


“Kamu masih cape?”


“Ngga. Tidurku nyenyak banget, rasanya nyaman.”


“Oh ya? Nyaman kenapa?”


“Aiisshh..”


Arsy menyurukkan kepalanya ke dada Irzal. Dia malu sendiri sudah mengucapkan kalimat yang memancing pertanyaan yang tak berani untuk dijawabnya. Irzal kembali tersenyum melihat tingkah Arsy yang malu-malu. Sejujurnya dia juga merasa gugup, baru kali ini tidur dengan posisi intim dengan seorang wanita. Tapi mengingat wanita itu adalah istrinya, membuat kegugupan Irzal berangsur menghilang.


“Mas.. ehm.. aku boleh jujur, ngga?”


“Soal apa?”


“Sebenarnya aku ngga terlalu suka memanggilmu dengan sebutan mas Irzal. Tapi karena kakek maksa, ya aku terpaksa ikut aja. Aku boleh kan ngga panggil mas Irzal?”


“Kalau mas Bie, sopan dan enak didengar ngga?”


Pipi Arsy memerah mendengar kalimatnya sendiri. Tapi sejak dia mendengar dari Rena kalau Bibie adalah panggilan kesayangan keluarganya pada Irzal, wanita itu jadi ingin mengubah panggilannya juga. Senyum Irzal terbit mendengar panggilan baru Arsy untuknya.


“Mas Bie.. aku suka.”


Jiwa Arsy serasa melayang ketika Irzal mencium kedua pipinya. Namun ada satu bagian lagi yang ditunggunya untuk mendapatkan ciuman dari suaminya. Tapi sepertinya dia harus bersabar untuk mendapatkannya.


“Kita ke vila siapa nanti?”


“Vila kakek, di Ciwidey. Nanti kita bisa jalan-jalan ke kawah putih atau ke cagar alam di sana. Atau bisa juga kita ke perkebunan Humanity Corp. kalau ngga salah, mereka mau panen sayuran. Kamu mau?”


“Mau mas. Kita ke sana jam berapa?”


“Bebas. Sesiapnya kamu aja.”


“Sekarang juga aku siap, kok. Tapi aku laper.”


“Kita pesan makan sekarang. Nanti habis shalat dzuhur kita berangkat.”


“Ehhmm.. oke. Eh biar aku yang pesan makan.”


Arsy bangun dari posisi berbaringnya. Dia meraih telepon yang ada di nakas kecil samping bed. Wanita itu menghubungi operator dan memesan makanan untuk dirinya juga Irzal. Setelahnya Arsy kembali berbaring dan masuk dalam pelukan Irzal lagi. Dia sudah merasa nyaman dalam pelukan suaminya.


“Korban kecelakaan yang datang, apa banyak yang parah?”


“Lumayan, mas. Aku kebagian mengobati pasien dengan luka ringan lalu bantu Daffa di bagian luka berat. Tapi ngga lama Daffa harus masuk ruang operasi, karena ada beberapa pasien kritis. Aku dengar papa Rey sampai harus keluar masuk ruang operasi. Semua ruang operasi terpakai malam itu. Bang Aqeel juga ikut bantu.”


“Bang Aqeel?”


Arsy menganggukkan kepalanya. Raut wajah Irzal berubah mendengar nama sepupunya itu. Dia masih belum bisa menghilangkan rasa cemburu dari hatinya setiap mendengar nama Aqeel. Bagaimana pun juga Arsy pernah mencintai pria itu. Menyadari perubahan wajah Irzal, Arsy jadi sadar, mungkin saja suaminya itu cemburu pada Aqeel.


“Mas cemburu ya sama bang Aqeel?”


“Emang aku ngga boleh cemburu?”


“Boleh. Tapi abang salah kalau cemburu sama dia.”


“Apa yang salah? Kamu kan suka sama dia.”


Kepala Arsy mendongak, melihat dalam pada netra suaminya. Jemari Arsy mulai menelusuri wajah Irzal, mengusap rahangnya cukup lama. Kemudian mendaratkan ciuman di sana. Hati Irzal yang awalnya panas, seketika menjadi adem mendapatkan ciuman dari sang istri.


“Bang Aqeel itu cuma masa lalu. Dan masa lalu itu tempatnya di belakang, bukan di depan. Sekarang yang ada di depanku itu, mas Bibie. Jadi.. aku hanya akan melihat mas Bie seorang.”

__ADS_1


“Kamu yakin?”


“Yakin. Dan aku harap mas juga seperti itu padaku. Jangan ada perempuan lain yang kamu tatap selain aku, termasuk Rena.”


“Rena? Nenek Rena maksudnya?”


“Ish.. bukan. Renata.”


“Aku ngga pernah punya hubungan atau perasaan apapun pada Rena. Kenapa kamu cemburu?”


“Karena Rena suka sama mas.”


“Lalu? Kalau dia suka terus aku harus balas perasaannya?”


“Jangan..”


“Makanya kamu jangan pikir macam-macam. Sekarang di hatiku cuma ada kamu, karena kamu istriku. Begitu juga kamu. Dan satu yang harus kamu tahu, aku ini sangat pencemburu.”


“Kalau mas cemburu, berarti mas cinta sama aku.”


Irzal tak menjawab pertanyaan Arsy. Pria mendekatkan wajahnya, matanya menatap bibir Arsy yang kemerahan. Perlahan dia mendekatkan bibirnya pada bibir Arsy. Dan saat jarak pertemuan bibir hanya tinggal beberapa senti lagi, terdengar suara bel di pintu. Lagi-lagi ciuman pertama pasangan pengantin gagal terjadi.


🍁🍁🍁


Arsy menurunkan kaca jendela mobil, kemudian mengeluarkan tangannya, menikmati udara dingin yang menerpanya. Mobil yang dikendarai Irzal sudah memasuki daerah Ciwidey. Udara khas pegunungan yang sejuk sudah mulai terasa. Kendaraan roda empat itu terus berjalan, sampai akhirnya berbelok memasuki sebuah bangunan bercat putih.


Pak Dani, orang yang menjaga dan merawat vila sudah membukakan pintu gerbang untuk Irzal setelah pria itu mengabarkan akan segera sampai. Mata Arsy terus memandangi bangunan vila yang nampak unik. Walau usia vila lebih tua darinya, tapi bangunan masih kokoh dan terlihat begitu terawat.


Sambil memeluk pinggang Arsy, Irzal mengajak masuk istrinya ke dalam vila yang khusus dibuatkan Irzal untuk istrinya, Poppy sebagai hadiah ulang tahun. Pak Dani memasukkan koper yang dibawa pasangan pengantin ke kamar utama. Sedang Irzal masih mengajak Arsy untuk berkeliling.


“Vila ini dibangun khusus oleh kakek untuk hadiah ulang tahun nenek. Opa Nino yang mendesain bangunan. Opa Nino itu arsitek.”


“Vilanya cantik. Bangunannya juga unik, aku suka di sini. Pasti nenek bahagia banget dapet hadiah spesial ini dari kakek.”


“Iya.. kata nenek Rena, kakek dan nenek sering menghabiskan waktu di sini di hari tua mereka. Aku berharap pernikahan kita akan seperti mereka.”


“Aamiin..”


Irzal menggandeng tangan Arsy, menaiki tangga menuju lantai dua. Pria itu membawa Arsy menuju selasar yang ada di sana. Dari selasar, mereka bisa melihat pemandangan indah. Gunung Patuha berdiri kokoh di depan sana, perumahan penduduk dan persawahan bisa terlihat dari lantai dua ini.


“Wah indahnya. Aku betah tinggal lama-lama di sini. Udaranya juga sejuk.”


“Kita bisa ke sini kapan aja kamu mau.”


Arsy terjengit ketika Irzal memeluknya dari belakang. Awalnya tubuh mereka masih sama-sama kaku, namun mereka akhirnya bisa rileks juga. Irzal melingkarkan kedua tangannya di perut Arsy, dan istrinya itu menyandarkan kepala ke dada bidangnya.


“Mas.. kamu kok sekarang manis banget sih. Padahal waktu awal kenal, kalau ngomong suka bikin sakit telinga, sering marah-marah dan bikin naik darah.”


“Karena kamu istriku, sekarang. Ayah adalah orang yang keras, dia juga tidak pernah bersikap manis pada perempuan yang bukan mahramnya. Selalu menjaga jarak jika berinteraksi dengan mereka. Tapi semuanya hilang ketika berhadapan dengan bunda. Ayah tidak pernah bersikap kasar, bahkan meninggikan suaranya juga tidak. Ayah sangat menyayangi bunda. Aku ingin seperti ayah yang memperlakukan istriku dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang.”


Senyum Arsy mengembang mendengar penuturan panjang suaminya. Dirinya semakin bersyukur mendapatkan suami yang begitu menyayanginya. Benar apa yang dikatakan Ily dan Azzam padanya. Menikahlah dengannya dan kamu akan melihat seberapa besar cinta Irzal padamu.


“Papa juga seperti itu sama mama. Kalau mama marah, papa hanya diam saja. Memilih menyingkir dari pada terlibat perdebatan. Dan mama itu manja banget sama papa. Kadang aku iri kalau melihat mereka lagi mesra-mesraan.”


“Sekarang kamu ngga usah iri lagi sama mereka. Kamu punya aku kalau ingin bermanja.”


Arsy tak bisa melukiskan lagi bagaimana bahagianya dia saat ini. Diraihnya jemari Irzal, kemudian menautkan jari mereka. Irzal menaruh dagu di pundak sang istri. Jantung Arsy seperti tengah bermain roller coaster ketika Irzal mengecup lehernya.


🍁🍁🍁


Selepas shalat isya, Irzal mengajak istrinya itu menunaikan shalat sunat pengantin. Kemudian keduanya keluar dari mushola kecil yang ada di bagian belakang vila. Mereka berjalan menuju kolam renang. Arsy memandangi pantulan bulan di air kolam yang nampak tenang.


Irzal berdiri di sampingnya seraya memeluk mesra pinggang istrinya. Arsy menyandarkan kepalanya ke dada Arsy, tangannya juga melingkari pinggang sang suami. Untuk beberapa saat mereka terdiam menikmati suasana syahdu di halaman belakang.


“Mas..”


“Hmm..”


“Apa mas mencintaiku?”


Kepala Arsy terdongak melihat pada Irzal. Tangan Irzal bergerak menarik pinggang Arsy hingga kini posisi keduanya saling berhadapan. Sebelah tangannya lagi mengusap pipi mulus Arsy.


“Apa aku harus mengatakannya?”


“Wanita butuh pengakuan, bukan hanya perbuatan.”


CUP


Mata Arsy membulat ketika Irzal mengecup bibirnya. Posisi wajah mereka masih berdekatan, bahkan sangat dekat.


“I love you… Arsy.”


Irzal kembali mendaratkan ciuman di bibir Arsy. Kali ini dia mulai berani menyesap bibir atas dan bawah istrinya bergantian. Arsy menutup matanya, dia memberanikan diri membalas ciuman suaminya. Bergantian bibir mereka saling menyesap dan perlahan berubah menjadi pagutan.


Suasana sepi di sekitar kolam kini mulai terisi dengan suara decapan bibir keduanya. Kedua tangan Arsy memeluk leher suaminya. Sebelah tangan Irzal menarik pinggang Arsy dan sebelahnya lagi menahan tengkuk Arsy, membuat ciuman mereka semakin dalam dan menuntut.


Penyatuan bibir keduanya terlepas ketika hampir saja kehabisan oksigen. Tapi itu hanya sebentar, Irzal kembali memagut bibir sang istri. Kini ciumannya sudah tak sekaku yang pertama. Mengandalkan instingnya pria itu terus mencecap bibir ranum istrinya.


Perlahan Irzal mengangkat tubuh Arsy. Kini tubuh istrinya itu sudah berada dalam gendongannya. Arsy melingkarkan kedua kakinya di pinggang Irzal. Kemudian, tanpa melepaskan pertautan bibir mereka, Irzal beranjak dari halaman belakang menuju kamar utama. Dia sudah siap untuk menghabiskan malam bersama sang istri, menjalankan ibadah bersama.


🍁🍁🍁


**Ada yang baper ngga?🤔

__ADS_1


Hadeuh jam 1 msh belum beres review. Aku up jam 10 pagi. Padahal cuma adegan uwu ama kiss aja🤦 ini aku ajuin lagi. Coba jam berapa nongolnya😏**


__ADS_2