Hate Is Love

Hate Is Love
Menjerat Jodoh


__ADS_3

Sebuah kendaraan berhenti di kediaman Azriel. Untuk sejenak Arya masih bertahan di dalam mobil. Matanya menatap lurus ke arah rumah wanita yang tengah dikejarnya. Tak lama pintu rumah terbuka, nampak Shifa keluar dari dalamnya. Melihat itu, Arya segera turun dari mobil. Langkah Shifa terhenti ketika melihat Arya sudah berada di depannya.


“Ngapain ke sini?” tanya Shifa tanpa basa-basi.


“Ketemu kamu. Kemarin kamu kenapa ngga dateng ke rumah opa?”


“Opa?”


Kening Shifa berkerut mendengar ucapan Arya. Wanita itu memang tidak terlalu mengenal keluarga Hikmat. Maklum saja, setahun belakangan dia lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri, mengikuti berbagai turnamen.


“Opa Kevin, syukuran kehamilan Aya.”


“Ooh..”


“Kenapa ngga datang?”


“Emang harus ya?”


“Harus. Kamu kan sebentar lagi jadi bagian keluarga Hikmat. Jadi kalau ada acara keluarga harus datang.”


“Hah?”


Untuk sesaat Shifa hanya tercenung, mencoba mencerna ucapan Arya yang tiba-tiba saja membuat kepalanya pusing. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba pria itu mengatakan dirinya akan menjadi bagian keluarga Hikmat. Namun Arya tak mempedulikan itu semua, dia sudah mantap menjadikan Shifa sebagai calon istrinya, bagaimana pun caranya.


Dari arah dalam, keluar Azriel sambil membawa traveling bag di tangannya. Keningnya berkerut melihat Shifa tengah berbincang dengan seorang pria. Melihat kehadiran calon papa mertuanya, Arya segera mendekati pria itu. Dia meraih tangan Azriel kemudian mencium punggung tangannya.


“Sehat, om?”


“Alhamdulillah. Kamu siapa?”


“Aku, Arya, om. Anaknya Muhammad Atalaric Dunia.”


“Oh.. anaknya pak Aric. Wah tumben main ke sini.”


“Iya, om. Kangen pengen ketemu Shifa.”


Mata Shifa membulat mendengar penuturan Arya. Azriel hanya tersenyum saja, namun kepalanya terus berpikir apa hubungan anaknya dengan pria ini. Dilihat dari penampilannya, usia Arya di bawah anaknya. Shifa mendekati papanya kemudian berbisik di telinganya.


“Itu secret admirer yang pernah aku ceritain ke papa.”


“Ooh.. masih muda, ganteng lagi.”


“Ish.. papa.”


Azriel hanya terkekeh melihat wajah anaknya yang sudah bersemu merah. Arya melemparkan senyum manisnya melihat acara bisik-bisik ayah dan anak di depannya. Dia yakin pasti Shifa tengah mengatakan siapa dirinya pada Azriel. Dengan begitu usahanya untuk mendekati Shifa akan lebih mudah.


“Kamu mau kemana?” tanya Arya begitu melihat beberapa barang di bagasi mobil Azriel.


“Mau ke Jakarta.”


“Ngapain?”


“Turnamen. Indonesia open.”


“Oh iya, hampir aku lupa. Kamu harus menang ya. Kalau kamu sampai final, aku bakal bawa pasukan. Kita bakal duduk di bagian paling depan buat semangatin kamu.”


“Ngga usah.”


“Yakin ngga mau? Aku kan bisa jadi penyemangat kamu. Pasti kamu bakalan tambah keren mainnya kalau lihat aku,” Arya mengedipkan sebelah matanya.


Senyum di wajah Azriel mengembang melihat sikap Arya. Hal tersebut mengingatkan pada istrinya. Dulu juga Yossie menjadi supporter istimewa untuknya. Dia selalu hadir memberikan semangat di setiap pertandingan. Awalnya Azriel merasa risih, namun akhirnya dia harus mengakui kalau sudah terbiasa dengan semua perhatian Yossie dan jatuh cinta pada wanita itu. Sekarang mereka hidup bahagia, dikaruniai tiga orang anak sebelum Shafa meninggalkan mereka semua.


“Kamu harus datang, Ar. Pasti Shifa tambah semangat buat bertanding.”


“Papa..” terdengar suara protes Shifa.


Tentu saja Aryan bahagia mendapatkan dukungan dari Azriel. Tak peduli berapa banyak penolakan Shifa padanya, dia akan terus mengejar wanita itu sampai dapat. Baginya tidak ada wanita lain yang menarik hati dan pikirannya selain Shifa.


“Mau berangkat sekarang, om?”


“Iya. Pertandingannya dimulai besok buat yang ikut babak kualifikasi. Kalau Shifa dua hari kemudian. Kan dia juara bertahan, jadi langsung masuk ke putaran pertama.”


“Aku doain semoga menang dan bisa mempertahankan gelar juara.”


“Aamiin.. kamu mau datang?”


“Pengennya sih aku nememin Shifa ke Jakarta sekarang. Tapi aku masih ada kuliah dan kerjaan di kantor. Jadi kalau Shifa masuk semifinal baru aku bisa ke Jakarta. Pokoknya kamu harus menang ya.”


Tak ada jawaban dari Shifa, namun begitu dia senang melihat Arya sangat antusias mendukungnya. Dia berjanji akan main dengan baik hingga bisa tembus ke semifinal dan final. Wanita itu penasaran, siapa saja yang akan diajak pria itu untuk melihat pertandingannya.


“Kalau begitu kita berangkat dulu, ya,” ujar Azriel.


“Iya, om. Hati-hati di jalan. Kalau udah sampe Jakarta, kasih kabar ya, Fa.”


“In Syaa Allah kalau ngga lupa.”


“Yakin ngga bakal lupa. Karena aku tuh sosok yang sulit dilupakan.”


Shifa hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kenarsisan Arya. Dia segera masuk ke dalam mobil, disusul oleh Azriel. Arya masih bertahan di tempatnya, melihat mobil yang ditumpangi calon istri dan calon papa mertuanya melaju. Setelah kendaraan tersebut berlalu, barulah dia masuk ke dalam mobilnya. Namun niatnya tertahan ketika melihat Irzal keluar dari rumah. Pria itu segera menghampiri suami dari sepupunya.


“Bang..” panggilnya.


Irzal menolehkan kepalanya. Melihat Arya, pria itu tak jadi masuk ke dalam mobilnya. Terlebih dulu dia menghampiri Arya. Disalaminya pria tersebut.

__ADS_1


“Ngapain pagi-pagi ke sini?”


“Abis ketemu sama Shifa.”


“Kamu serius sama Shifa?”


“Serius dong, bang. Cuma dianya masih jinak-jinak merpati. Mungkin karena umurku lebih muda dari dia, makanya dia ngga anggap serius.”


“Jangan nyerah. Terus kejar sampai dapat,” Irzal menyemangati.


“So pasti, bang.”


“Dia ada pertandingan di Jakarta.”


“Iya. Kalau dia masuk semifinal, aku bakal ke Jakarta buat nonton langsung.”


“Jangan lupa bawain Japanese cheese cake buat dia. Itu kue kesukaannya.”


“Wah aku baru tahu. Makasih ya, bang.”


Ucapan Arya hanya dibalas senyuman saja oleh Irzal. Dari dalam rumah keluar Arsy membawakan berkas yang tertinggal. Sama seperti Irzal, dia juga terkejut melihat keberadaan Arya.


“Ar.. kamu ngapain di sini pagi-pagi?”


“Abis ketemu calon istri.”


“Calon istri?”


Sejenak Arsy terdiam. Namun begitu melihat mobil Arya terparkir di depan kediaman Azriel, dia paham siapa calon istri yang dimaksud sepupunya itu. Arsy memberikan berkas di tangannya pada sang suami.


“Mas lupa ini.”


“Oh iya, makasih sayang.”


“Sama-sama, mas.”


“Aku pergi dulu, ya,” pamit Arya.


“Iya, Ar.”


Pria itu melambaikan tangannya kemudian berbalik menuju mobilnya. Dengan cepat dia menaiki mobil dan tak lama kemudian menjalankan kendaraannya. Arya membunyikan klakson saat melewati Irzal dan Arsy. Sepeninggal Arya, Arsy merapihkan dasi Irzal yang sedikit miring.


“Yang semangat kerjanya.”


“Iya, sayang.”


“Nanti mau aku bawain makan siang?”


“Boleh, kalau kamu ngga repot.”


“Boleh.”


Irzal menarik pinggang Arsy hingga tubuh mereka tak berjarak lagi. Tanpa merasa malu, pria itu m*lum*t bibir istrinya sebentar. Senyum mengembang di wajah Arsy begitu ciuman mereka berakhir.


“Mas berangkat dulu, ya.”


“Iya, mas.”


Sebelum masuk ke dalam mobil, Irzal mengecup kening dan bibir sang istri, baru kemudian masuk ke dalam mobilnya. Tangan Arsy melambai ketika kendaraan yang dikemudikan suaminya bergerak meninggalkan kediamannya. Setelah mobil Irzal tak terlihat lagi, barulah dia masuk ke dalam rumah.


🍁🍁🍁


Sambil bernyanyi-nyanyi, Geya berkutat di dapur. Selesai shalat shubuh dia langsung berjibaku di dapur, menyiapkan sarapan spesial untuk Daffa. Dia baru saja selesai mengiris wortel, kol, sawi hijau, ayam yang dipotong kotak-kotak, sosis dan bawang bombay. Di mangkok kecil sudah disiapkan bumbu putih. Lalu ada sebutir telur, kecap manis, kecap Inggris, kecap asin,minyak wijen, saos tomat, saos sambal dan saos tiram.


Selesai menyiapkan bahan untuk nasi gila, dia lalu memotong-motong buah untuk dijadikan salad buah. Buah naga, pir, apel, anggur yang dibagi dua dan kiwi yang sudah dipotong-potong olehnya lalu dimasukkan ke dalam mangkok. Kemudian gadis itu menambahkan yoghurt plain ditambah dengan susu kental manis putih. Sambil menggerak-gerakkan kepalanya Geya mengaduk buah agar tercampur rata dengan yoghurt dan susu.


Setelah salad buah selesai dibuat, dia memasukkan mangkok salad ke dalam kulkas. Geya lalu memasak nasi menggunakan magic com. Usai menurunkan tombol penanak nasi, gadis itu bergegas naik ke lantai dua. Dia memilih untuk mandi, baru kemudian membuat menu nasi gila. Agar makanan masih hangat begitu dibawa ke rumah sakit.


Setengah jam kemudian gadis itu sudah selesai mandi dan berdandan. Tubuhnya terbalut celana jeans dan blouse berwarna biru muda. Rambutnya dikuncir kuda, dan sebuah tas terselempang di bahunya. Dia keluar dari kamar dan langsung menuju dapur. Diletakkan tas di atas meja, lalu mengenakan celemek. Geya bersiap untuk membuat menu nasi gila.


Pertama-tama dia menumis bumbu putih dengan minyak wijen, setelah bumbu matang, dimasukkan bawang bombay beserta potongan ayam. Melihat daging ayam yang setengah matang, dia memasukkan wortel lalu menambahkan sedikit air. Setelah wortel empuk, dimasukkan sosis ke dalamnya, kemudian dia menambahkan kecap asin, kecap Inggris, kecap manis, saos tomat, saos tomat dan saos tiram ke dalamnya.


Untuk beberapa saat dia mengaduk sampai semua bumbu tercampur rata, tak lupa dia memasukkan sedikit garam, kaldu jamur dan gula. Kemudian Geya memecahkan telur dan mengaduk-aduknya hingga tercampur dengan kuah. Terakhir, dia menambahkan irisan kol dan sawi hijau lalu mengaduknya sampai sayuran tersebut matang.


Geya mematikan wajan, kemudian mengambil tempat bekal. Diisinya setengah wadah bekal yang berbentuk bulat dengan nasi, kemudian di bagian tersisa, dia memasukkan sayuran yang tadi di masaknya. Gadis itu membuat dua porsi untuk dirinya juga Daffa. Setelahnya dia memindahkan salad buah ke dalam wadah lain lalu menambahkan parutan keju.


“Selesai,” ujarnya puas.


“Ge..” panggil Zahra.


“Iya, ma?”


“Pagi-pagi udah rapih. Mau kemana?”


“Mau ke rumah sakit. Aku janji mau bawain sarapan buat bang Daffa. Sebentar lagi shiftnya selesai,” jawab Geya seraya melepaskan celemek di tubuhnya.


“Ma.. ini perabotan kotornya titip ke mba Mimin buat dicuci ya.”


Sebelum pergi, Geya mengambil dua botol minuman berisi lemon jasmine tea. Irisan lemon nampak mengambang dalam minuman tersebut. Lalu dia memasukkan kotak bekal dan botol minuman ke dalam tote bag. Setelah mencium pipi Zahra, Geya segera keluar dari rumah. Dia meminta pak Toni, salah satu security yang menjaga rumahnya untuk mengantarnya ke rumah sakit.


🍁🍁🍁


Geya langsung turun dari mobil begitu sampai di depan lobi rumah sakit. Gadis itu segera masuk ke gedung rumah sakit yang masih terlihat sepi. Baru ada beberapa pasien rawat jalan yang mengantri untuk melakukan pengobatan menggunakan kartu asuransi yang dikeluarkan pemerintah. Karena kuota pasien terbatas, jadi mereka harus mengantri sejak pagi.

__ADS_1


Dengan langkah mantap, dia segera menuju IGD. Matanya melihat ke jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit. Berarti dia masih harus menunggu lima menit lagi sebelum shift Daffa berakhir. Geya mengambil ponselnya, lalu mengirimkan pesan pada Daffa.


To Calon Imam :


Abang, aku udah sampai. Aku tunggu di lobi aja, ya.


Selesai mengirimkan pesan, Geya kembali melangkah menuju lobi. Dia mendudukkan diri di sana sambil menunggu shift Daffa usai. Dilihatnya layar ponsel, belum ada jawaban dari Daffa, bahkan pesannya belum dibaca.


Dengan sabar Geya menunggu Daffa keluar dari IGD. Kepalanya terus saja tertuju pada pintu Instalasi Gawat Darurat tersebut. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit, namun belum ada tanda-tanda kedatangan pria itu. Geya kembali melihat ponselnya. Centang abu sudah berganti menjadi biru, namun Daffa tak membalas pesannya.


Geya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Kakinya terentang dan bergerak naik turun. Bibirnya maju beberapa senti. Sudah lewat lima menit dari terakhir kali dia melihat jam di tangannya. senyumnya terbit ketika melihat ke arah pintu, nampak Daffa berjalan ke arahnya.


Baru saja tangannya hendak melambai, ketika gadis itu melihat seorang wanita menghampiri Daffa. Mata Geya terus mengawasi wanita tersebut. Di tangan wanita itu juga terdapat kotak bekal. Dia memberikan kotak bekal tersebut pada Daffa.


“Ini masakan buatanku, dimakan ya dok,” ujar wanita itu.


“Makasih.”


Hanya itu saja yang dikatakan Daffa. Kemudian wanita tersebut meninggalkan Daffa seraya menyunggingkan senyuman. Hati Geya terbakar cemburu melihat wanita itu. Dia bangun dari duduknya lalu menghampiri Daffa.


“Udah lama nunggu?” tanya Daffa.


“Lumayan,” jawab Geya dengan wajah cemberut.


“Kita ke atas aja, yuk. Makan di rooftop.”


Hati Geya sedikit senang mendengar ajakan Daffa. Tapi kemudian dia kembali kecewa ketika Daffa mengajak Dante, salah satu rekannya untuk ikut sarapan bersamanya. Selama di dalam lift, Geya hanya mengatupkan mulutnya. Sedang Daffa dan Dante berbincang membicarakan kondisi pasien yang mereka tangani tadi.


Sesampainya di rooftop, Daffa mengajak Geya menuju salah satu gazebo yang kosong. Suasana rooftop masih sepi, belum ada pasien yang datang ke sana. Mereka masih membersihkan diri dan juga bersiap untuk sarapan.


“Itu apa?” tanganGeya menujuk kotak bekal yang dibawa Daffa ketika mereka duduk di gazebo.


“Tadi suster Mira yang kasih. Katanya buat sarapan.”


Wajah Geya kembali cemberut. Padahal sejak shubuh dia sudah berkutat di dapur membuatkan makanan, tapi Daffa malah menerima pemberian wanita lain. Daffa menyorongkan kotak bekal dan minuman yang diterimanya dari Mira pada Dante.


“Apaan nih?” tanya Dante.


“Buat sarapan. Tadi Mira yang kasih.”


“Kan buat elo.”


“Gue udah dibuatin sarapan sama Geya. Jadi yang ini buat elo aja.”


“Ini ngga ada peletnya kan? Hahaha..”


“Kalau ada juga ngga apa-apa. Bagus kan, lo jadi ngga jomblo lagi, hahaha..”


Terdengar tawa kedua pria itu. Dante membuka kotak bekal yang diberikan Daffa. Begitu penutupnya terbuka, aroma harum nasi uduk langsung tercium. Di dalamnya selain nasi uduk, juga terdapat ayam goreng, mustopa, soun goreng, irisan timun dan sambal. Sedang untuk minumnya, Mira memberikan orange jus.


“Kamu masak apa?” tanya Daffa.


Dengan wajah sumringah Geya membuka kotak bekal yang dibawanya. Dia memberikan kotak berisi salad buah pada Daffa, dan satu buah lagi berisi nasi gila. Tak lupa gadis itu memberikan minuman yang dibuatnya, lemon jasmine tea.


“Wah ada salad buah,” seru Daffa senang.


“Eh kok gue ngga ada?” protes Dante.


“Ya ngga ada. Kan ini spesial buat gue, hahaha..”


“Asem.. gue jadi obat nyamuk tak berasap nih ceritanya.”


“Bukan obat nyamuk, bang,” sela Geya.


“Terus apa?”


“Pengharum ruangan, hahaha..”


“Sama aja, hahaha..”


Daffa mengambil wadah bekal berbentuk bulat lalu membukanya. Harum aroma masakan langsung masuk ke indra penciumannya.


"Kalau ini apa?" tanya Daffa saat melihat isi wadah bekalnya.


"Nasi gila."


"Aku ngga akan gila kan kalau makan ini?"


"Paling abang yang tergila-gila sama aku."


Hanya senyuman yang diberikan oleh Daffa. Sebelum menikmati nasi gila, pria itu lebih dulu memakan salad buah yabg dibuat Geya. Dante melihat pada Geya. Sekali lihat dia sudah bisa menebak kalau gadis itu termasuk salah satu pengagum Daffa.


Ketiganya menikmati sarapan sambil berbincang. Daffa menanyakan keseriusan Geya magang di rumah sakit. Mendengar jawaban mantap Geya, pria itu berjanji akan membantu Geya agar bisa magang di rumah sakit ini. Tentu saja gadis itu senang mendengarnya. Upayanya mendapatkan Daffa sebentar lagi akan berhasil.


🍁🍁🍁


**Geya sama Arya ternyata sama aja ya. PD nya pol banget😂


Yang mau au visual Geya versi diriku, nih aku kasih.


Geya, PD dan narsisnya paling pol**


__ADS_1


Daffa, dokter ganteng pujaan Geya



__ADS_2