Hate Is Love

Hate Is Love
Rakan Sakit


__ADS_3

Seharian ini Vanila nampak uring-uringan. Seharusnya hari ini Rakan sudah kembali ke Bandung sesuai yang dikatakannya tempo hari. Namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda kedatangan pria itu. Telepon atau pesan pun tak ada yang masuk ke ponsel gadis itu. Dia menghentak kaki dengan kesal. Ternyata Rakan membohonginya.


Dengan kesal Vanila keluar dari kamarnya, kemudian berjalan menuruni anak tangga dengan langkah gontai. Sesampainya di bawah, suasana begitu sepi. Lalu matanya menangkap Juna yang sedang memberi makan burung Jalak Bali yang baru saja dibeli sebulan yang lalu di halaman belakang. Vanilla melangkahkan kakinya mendekati Juna.


“Grandpa,” sapa Vanila seraya mendudukkan diri di dekat sang kakek.


“Kamu ngga latihan masak hari ini?”


“Ngga, grandpa. Chef Gavin sama Gibrannya lagi sibuk.”


“Kamu ngga ada kesibukan lain? Tumben hari ini ngga kemana-mana.”


“Sebenarnya aku punya janji, grandpa. Tapi aku batalin karena suatu hal. Tapi ternyata sia-sia,” Vanila memajukan bibirnya.


Juna menghentikan kegiatannya memberi makan burung peliharaannya. Dia mulai fokus pada sang cucu yang sepertinya sedang dilanda kekesalan. Pria itu mengulum senyum melihat wajah cucunya yang nampak kusut.


“Kamu kenapa, sayang?”


“Aku lagi kesal, grandpa.”


“Kesal kenapa?”


“Bang Rakan bilangnya hari ini pulang dari Singapura. Dari pagi sampai sekarang aku tunggu kabarnya, ternyata ngga ada. Padahal aku udah batalin janji sama teman hari ini khusus buat nyambut bang Rakan pulang, taunya cuma dikasih janji palsu.”


“Coba kamu telepon.”


“Males.”


“Kalau males, bagaimana kamu bisa dapet kejelasan kenapa dia belum pulang? Mungkin ada hal mendesak yang terjadi makanya dia ngga bisa pulang. Coba kamu telepon.”


“Gitu ya, grandpa?”


Juna hanya menganggukkan kepalanya. Vanilla merogoh saku bajunya lalu mengambil ponsel dari dalamnya. Dia pun menghubungi Rakan atas anjuran Juna. Namun wajahnya kembali menunjukkan kekecewaan karena panggilannya hanya terhubung pada kotak suara. Gadis itu bertambah kesal saja.


“Kenapa?”


“Ngga aktif hapenya. Ish nyebelin banget. Ini dari terakhir online juga tujuh jam lalu. Bener-bener nyebelin!”


Melihat tingkah sang cucu, Juna yakin kalau dalam hati Vanila sudah tumbuh benih cinta untuk Rakan. Pria itu mengambil ponselnya kemudian menghubungi Reyhan. Dia ingin mencari tahu kabar Rakan dari ayahnya. Setelah beberapa saat, Reyhan menjawab panggilannya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam, Reyhan. Bagaimana kabarmu?”


“Alhamdulillah baik, om. Om sendiri bagaimana? Sehat?”


“Alhamdulillah. Kamu.. sedang sibuk?”


“Ngga juga, om. Ada apa?”


“Om cuma mau menanyakan soal Rakan. Apa dia sudah pulang dari Singapura?”


“Rakan sudah pulang tadi pagi, om. Tapi dia kurang sehat, jadi istirahat di rumah. Om ada perlu dengan Rakan?”


“Ngga.. hanya ingin menanyakan kabarnya saja. Ada yang sedang dilanda malarindu soalnya.”


“Grandpa iiihhh..”


Vanila mencubit lengan Juna karena sang grandpa membongkar aibnya pada Reyhan. Wajahnya memerah menahan malu, padahal Reyhan tidak ada bersama mereka. Terdengar suara tawa Reyhan atas jawaban yang diberikan oleh Juna. Dia bisa menebak yang dimaksud oleh Juna adalah Vanila, gadis yang saat ini tengah didekati anaknya.


“Baiklah, Rey. Nanti om kirimkan obat untuk Rakan.”


“Baik, om.”


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“Bang Rakan sakit, grandpa?”


Alih-alih menjawab pertanyaan Vanila, Juna malah melanjutkan kembali kegiatannya memberi makan burung kesayangannya.


“Grandpa…. Bang Rakan sakit?”


“Iya. Kata papanya begitu pulang dari Singapura, dia sakit. Sekarang lagi istirahat di rumah.”


Sontak Vanila langsung berdiri mendengar Rakan sakit, hatinya langsung cemas. Juna diam-diam tersenyum melihat kecemasan cucunya. Vanila kembali melihat pada Juna.


“Grandpa, aku mau ke rumah bang Rakan dulu ya.”


“Mau ngapain? Katanya Rakan itu nyebelin.”


“Ish grandpa..”

__ADS_1


Tanpa menunggu persetujuan Juna, Vanila segera bangun dari duduknya lalu segera meninggalkan taman belakang. Dia bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Gadis itu akan menengok Rakan. Juna hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Vanila. Sebentar lagi dia akan mendapatkan cucu menantu, dan tentu saja membuatnya bahagia.


🍁🍁🍁


Kedatangan Vanila di kediaman Reyhan disambut ramah oleh Ayunda. Wanita cantik itu segera mempersilahkan Vanila untuk masuk. Rumah besar itu nampak sepi karena Reyhan dan Daffa belum pulang dari bekerja. Aqeel sendiri sudah tinggal terpisah sejak menikah.


Ayunda mempersilahkan Vanila untuk duduk. Wanita itu bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman. Tak berapa lama dia kembali dengan segelas minuman dingin. Diletakkan minuman tersebut di atas meja.


“Tumben main ke sini. Mau ketemu siapa?”


Sebenarnya Ayunda sudah tahu tujuan Vanila datang ke rumahnya, hanya dia senang saja membuat gadis itu terlihat gugup. Vanila tak langsung menjawab pertanyaan Ayunda. Dia memilih meneguk minuman yang disediakan untuknya. Setelah menghabiskan minuman setengah gelas, Vanila meletakkan minuman kembali ke tempatnya.


“Be.. begini tante. Tadi aku dengar dari grandpa kalau bang Rakan sakit.”


“Iya, Rakan lagi ngga enak badan. Sepertinya dia kecapean. Sekarang dia lagi istirahat di kamarnya.”


“Tapi keadaannya ngga parah kan, tan?”


“Sepertinya tidak. Tadi sudah diperiksa papanya. Dia hanya butuh istirahat aja.”


“Syukurlah.”


“Kamu mau melihat Rakan?”


“Bo.. boleh tan?”


“Tentu saja boleh. Ayo.”


Ayunda bangun dari duduknya kemudian mengajak Vanila mengikutinya. Dua wanita berbeda generasi tersebut berjalan menapaki anak tangga. Ayunda berhenti di depan kamar yang tertutup rapat. Jantung Vanila berdebar kencang saat tangan Ayunda mulai menggerakkan handle pintu.


Wajah pucat Rakan langsung tertangkap mata Vanila begitu pintu terbuka. Pria itu nampak tertidur dengan pulas. Dengan langkah pelan, Vanila mendekati ranjang Rakan. Kerinduan yang dirasakannya akhirnya terbayar setelah melihat wajah pria yang akhir-akhir ini membuatnya susah tidur.


“Rakannya masih tidur,” ujar Ayunda pelan.


“Ngga usah dibangunin tante. Ngga apa-apa biarin aja.”


Keduanya memutuskan meninggalkan kamar Rakan dan kembali ke bawah. Melihat wajah Rakan sudah cukup baginya. Dan rasa penasarannya tidak mendapat kabar dari pria itu akhirnya terjawab sudah.


“Kata Rakan kamu lagi belajar masak sama Gavin dan Gibran.”


“Iya, tante.”


“Berarti kamu pintar masak ya.”


“Masih belajar, tan. Rasanya juga belum enak-enak banget kok,” Vanila merendah.


“Hah? Ma.. masakin apa, tan?”


“Terserah kamu aja. Rakan itu ngga pilih-pilih soal makanan. Tapi kalau lagi sakit dia lebih suka makan olahan dari kentang.”


Untuk beberapa saat Vanila terdiam, memikirkan menu olahan kentang apa yang cocok diberikan untuk Rakan. Ayunda yang duduk di samping Vanila, hanya diam sambil memperhatikan gadis itu. Sikap dan pembawaan Vanila jauh berbeda dengan Shafa. Vanila lebih ceria, supel dan terlihat sedikit manja. Mungkin itu yang membuat Rakan tertarik padanya.


“Aku boleh pake dapurnya, tan?” pertanyaan Vanila membuyarkan lamunan Ayunda.


“Boleh. Ayo kita ke dapur.”


Dengan bersemangat Vanila mengikuti langkah Ayunda menuju dapur. Dia sudah mendapatkan ide akan membuat apa untuk Rakan. Sesampainya di dapur, gadis itu langsung mengenakan celemek.


“Kamu butuh bahan apa aja?”


“Ehmm.. kentang, susu cair, butter, terigu, keju sama demiglass.”


“Kamu mau buat apa?”


“Kentang panggang pake soas béchamel.”


Ayunda hanya menganggukkan kepalanya saja. Kebetulan sekali menu yang disebutkan Vanila adalah salah satu makanan kesukaan Rakan. Wanita itu segera mengeluarkan bahan-bahan yang tadi disebutkan oleh Vanila.


Terlebih dulu Vanila mengupas kentang kemudian mengirisnya tipis. Setelah itu dia merebus kentang sampai setengah matang lalu meniriskannya. Gadis itu melanjutkan pekerjaannya membuat saos béchamel.


Vanila menyisihkan susu cair yang sudah dipanaskan. Dia lalu memanaskan butter lalu memasukkan terigu sambil terus mengaduknya. Setelah butter dan terigu tercampur, sedikit demi sedikit gadis itu memasukkan susu dan terus mengaduknya sampai tercampur rata. Tak lupa dia memberi garam, merica bubuk dan pala bubuk pada adonan saos.


Vanila mengambil loyang kaca, mengolesnya dengan margarin tipis-tipis saja. Disusunnya kentang iris yang sudah direbus setengah matang ke dalam loyang. Setelah dasar loyang tertutup kentang, dia menutupinya dengan saos béchamel. Disusunnya kembali kentang di atas saos lalu menutupinya lagi dengan saos. Terus saja dia melakukan hal tersebut sampai kentang dan saos bechamel habis. Di bagian atas, dia menutupi adonan saos dengan parutan keju. Setelahnya dia memasukkan loyang ke dalam microwave untuk dipanggang sebentar.


Sambil menunggu kentang matang, Vanila membuat saos demiglass. Dituangkannya tiga sendok kecil bubuk demiglass ke dalam panci kecil kemudian menambahkan air ke dalamnya. Gadis itu memanaskan panci di atas kompor dengan api kecil. Sambil mengaduk bubuk demiglass tercampur dengan air, dia menambahkan black pepper bubuk ke dalamnya dan mengaduknya kembali sampai sedikit kental. Setelah matang, Vanila memindahkan saos demiglas ke dalam wadah.


Sementara itu di lantai atas, Rakan sudah bangun dari tidurnya. Mata pria itu langsung tertuju pada jam di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul setengah empat sore. Dia segera bangun lalu masuk ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, Rakan langsung menjalankan ibadah shalat ashar.


Setelah melipat sajadahnya, Rakan keluar dari kamar. Dia ingin mengisi perutnya yang terasa keroncongan. Dari arah tangga dia bisa mencium aroma yang begitu enak. Dengan langkah cepat pria itu bergegas menuju dapur. Matanya membelalak melihat Vanila tengah mengeluarkan loyang dari microwave.


“Ila..” panggil Rakan.


“Eh bang Rakan udah bangun.”

__ADS_1


Vanila menaruh loyang dan sarung tangan di meja begitu saja lalu langsung mendekati Rakan. Dia menaruh tangannya ke kening Rakan untuk mengukur suhu tubuh pria itu. Suhunya sudah normal dan itu membuatnya lega.


“Abang udah baikan?”


“Alhamdulillah udah. Kamu tahu dari mana aku sakit?”


“Ada deh,” Vanila mengedipkan matanya. Rakan hanya tertawa melihat sikap gadis itu.


“Abang makan ya. aku udah buatin kentang béchamel buat abang.”


“Itu makanan kesukaanku.”


“Oh ya? Wah aku ngga nyangka. Berarti kita sehati ya.”


“Sehati dan sejodoh.”


Wajah Vanila memerah mendengar ucapan Rakan. Dia buru-buru mengambilkan kentang lalu menaruhnya ke dalam piring kecil. Tak lupa gadis itu meyiramkan saos demiglass di atas kentang, baru menyuguhkannya untuk Rakan.


“Makasih, Ila.”


“Sama-sama, bang. Dicobain dulu, enak ngga.”


Rakan mulai menyendokkan kentang yang dilapis saos béchamel kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Pria itu mengangkat dua jempolnya untuk memberitahu rasa masakan tersebut. Senyum terbit di wajah Vanila melihat itu. Rakan kembali menyendok kentang dan kali ini menyuapkannya ke mulut Vanila.


“Cobain masakan buatanmu. Aaaaa…”


Vanila membuka mulutnya dan menerima suapan Rakan. Rasa kentang béchamel buatannya memang enak. Rakan menarik sebuah kursi dan meminta gadis itu duduk di dekatnya. Dia melarang Vanila mengambil piring, pria itu ingin makan sepiring berdua dengan gadis itu sambil menyuapinya.


Diam-diam Ayunda memperhatikan kebersamaan pasangan itu. Senyum mengembang di wajah cantiknya. Dia sungguh bersyukur Rakan akhirnya bisa menemukan wanita pengganti Shafa. Hanya doa yang bisa Ayunda panjatkan. Semoga saja bersama dengan Vanila, Rakan bisa menemukan kebahagiaannya kembali.


🍁🍁🍁


Dengan membawa boneka dan beberapa oleh-oleh lain yang diberikan Rakan, Vanila berjalan menuju mobilnya. Rakan mengantar sang gadis sampai ke dekat mobilnya. Dia membukakan pintu dan membantu memasukkan oleh-oleh yang diberikan olehnya.


“Kamu beneran bisa pulang sendiri?”


“Iya. Rumah aku kan ngga jauh dari sini. Sepuluh menit juga sampe.”


“Yakin ngga mau aku antar?”


“Ngga usah, bang. Abang mending istirahat. Besok ngga usah ke kantor dulu, istirahat aja dulu. Kantor abang ngga akan ada yang gondol, yakin deh.”


“Hahaha.. bisa aja kamu.”


“Awas pokoknya ngga boleh ke kantor.”


“Iya. Calis sayang.”


BLUSH


Semburat merah langsung terlihat di kedua pipi Vanila. Ingin rasanya Rakan mencubit atau mencium pipi merah itu, namun sayang dia masih belum boleh melakukannya. Pria itu hanya bisa melihatnya sambil tak lepas menampilkan senyumnya.


“Aku pulang dulu ya, bang.”


“Iya. Hati-hati. Kasih kabar aku kalau sudah sampai rumah.”


“Iya. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Vanila segera masuk ke dalam mobilnya. Gadis itu menyalakan mesin seraya menurunkan kaca mobil. Tangannya melambai pada Rakan bersamaan dengan roda kendaraannya yang bergerak meninggalkan kediaman pria itu. Rakan masih bertahan di tempatnya sampai mobil yang dikendarai Vanila tak terlihat lagi.


Pria itu masuk ke dalam rumah setelah memastikan kendaraan Vanila sudah benar-benar pergi. Dia tak langsung ke kamarnya, melainkan memilih bergabung dengan kedua orang tuanya juga Daffa yang ada di ruang tengah. Rakan mendudukkan diri di samping sang mama.


“Vanila sudah pulang?” tanya Reyhan.


“Udah, pa.”


“Jadi kapan nih acara lamarannya?” goda Daffa seraya menaikturunkan alisnya.


“Nantilah, ngga usah buru-buru. Aku masih mau kasih dia waktu dulu untuk berpikir.”


“Mikir apa lagi sih, bang? Begitu dengar abang sakit dia langsung ke sini. Ditengokin, dimasakin, apa itu namanya kalau bukan eceng?”


“Berisik! Mending kamu pikirin diri sendiri. Mau sama siapa kamu? Masih betah aja ngejomblo.”


“Ck.. abang ngga usah khawatir. Adik abang ini ganteng maksimal, ramah dan mempesona. Pasti banyak cewek yang mau sama aku.”


“Narsis!”


Daffa hanya tergelak mendengar ucapan sang kakak. Reyhan dan Ayunda mengulum senyumnya melihat perdebatan kedua anaknya. Rakan mereka yang dulu sudah mulai kembali. Tidak ada lagi kesedihan yang menggelayuti wajahnya. Kini hanya ada senyuman yang menghiasi wajahnya. Kehadiran Vanila benar-benar sudah mengembalikan kebahagiaan Rakan.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Yang nunggu Arsy dan Bibie, sabar ya. Semua sudah ada waktunya kapan nongol.


Buat yang penasaran sama menu kentang bechamelnya, silahkan dicoba ya. Anak² biasanya suka sama makanan itu😊**


__ADS_2