
Perhelatan pesta pernikahan Aqeel dan Iza digelar secara mewah di ballroom Humanity Corp. Semua kolega Aqeel di rumah sakit diundang datang ke persta pernikahannya. Teman Iza sendiri tidak banyak yang datang, karena lima tahun terakhir dia tinggal di Kairo. Dia hanya mengundang beberapa teman dekatnya saat sekolah dulu. Sisanya tentu saja rekan bisnis Rakan Putra Group, tetangga dan yang pasti para sahabat.
Wajah pasangan pengantin nampak bahagia menerima ucapan selamat dari tamu yang datang. Iza terlihat begitu cantik dalam balutan busana pengantin muslim berwarna putih. Begitu pula dengan Aqeel yang terlihat tampan dan gagah mengenakan tuxedo berwarna putih.
Arsy melihat sendu ke arah panggung. Pria pertama yang membangkitkan cinta di hatinya kini telah resmi menjadi suami orang lain. Dulu dia sempat berkhayal kalau dirinya yang akan bersanding bersama Aqeel. Menghabiskan hidup bersama hingga ajal menjemput. Tapi kini semua harapannya musnah, tertelan oleh senyum kebahagiaan Iza.
Gadis itu terjengit ketika seseorang menepuk pundaknya kemudian merangkulnya. Stella ternyata sudah berada di sampingnya. Arsy segera mengalihkan pandangannya dari panggung. Takut kalau sepupunya itu menyadari hatinya yang tengah patah.
“Biasa aja kali ngelihatnya. Jangan sedih gitu, berarti dokter Aqeel bukan jodoh lo.”
“Apaan sih.”
“Heleh ngga usah ngeles. Emangnya gue ngga tau dari tadi lo mantengin pasangan pengantin baru. Nih mata lo aja kelihatan sedih kaya gini. Baek-baek lo, dari tadi kakanda lo ngeliatin lo mulu, hihihi..” Stela menutup mulut dengan tangannya.
Refleks Arsy menolehkan kepalanya pada Irzal. Benar saja, pria itu tengah melihat padanya. Gadis itu jadi grogi sendiri, diperhatikan begitu intens oleh Irzal. Namun kemudian pandangan Irzal beralih darinya.
“Lo beneran mau nikah sama si es kering?”
“Iya,” jawab Arsy lemah.
“Kakek ajib juga cara ngejodohinnya. Eh sini duduk sini, gue pengen tanya-tanya nih.”
Stella menarik tangan Arsy menuju salah satu meja yang ada di sana. Keduanya mendudukkan diri dengan posisi bersisian. Arsy menatap pada sepupunya yang sudah memasang wajah penasaran.
“Mau nanya apa?”
“Waktu lo di rooftop sama es kering ngapain aja?”
“Ngga ngapa-ngapain. Kita cuma makan mie, ngobrol terus tidur.”
“Cie… udah kaya di drakor dong hihihi… terus ada adegan sosor menyosor ngga?”
“Otak lo isinya pasir semua, makanya ngeres. Lo ngga denger tadi gue bilang apa? Makan, ngobrol, tidur.”
Stella mengulum senyumnya melihat kegondokan di wajah sepupunya. Tapi hal itu malah semakin membuatnya ingin menggoda lebih lanjut.
“Ooh.. abis makan terus ngobrol terus tidur. Kalian tidurnya gimana? Saling hadap, pandang-pandangan terus si es kering belai-belai pipi lo gitu?”
“Haaiisshh.. mana ada yang begituan. Posisi kita tidur tuh kehalang sofa, mana ada adegan kaya lo bilang tadi. Ngehalu aja lo.”
“Ck.. ck.. ck.. beneran es kering. Dalam posisi kalian berdua di satu ruangan. Dia masih bisa nahan diri ngga ngelakuin macem-macem sama elo. Tidur pake pembatas juga, salut gue sama dia.”
Arsy termenung mendengarkan penuturan Stella. Irzal memang tidak melakukan apapun selama mereka terkurung. Dia tidak melakukan hal yang melewati batas dan menjaga jarak darinya. Apalagi ketika teringat pria itu melantunkan ayat suci, suaranya begitu merdu. Gadis itu jadi merinding sendiri mengingatnya.
“Sy.. lo beneran kaga ada hati sama bang Irzal?” pertanyaan Stella sukses menarik kesadaran Arsy yang tengah melanglang buana pada kejadian minggu lalu.
“Hah? Euung.. apaan sih lo? Kepo.”
“Waktu dia dibombardir kakek terus ujung-ujungnya disuruh nikahin elo, dia diem aja gitu? Ngga ada pembelaan sama sekali?”
“Ada, tapi lo tau sendiri kakek kaya gimana. Gue juga sempat protes sama dia besoknya. Tapi dia bilang, kalau kita emang jodoh pasti kita akan ketemu di depan penghulu. Tapi kalau ngga jodoh, pernikahan kita tidak akan terjadi, entah bagaimana caranya.”
“Benar juga. Johan, jodoh di tangan Tuhan. Eh tapi.. kira-kira nih, lo ngarep pernikahan lo jadi apa batal?”
Kali ini Arsy tak menjawab pertanyaan sepupunya. Bibirnya memang menolak keras-keras perjodohan yang diatur untuknya. Namun dalam hatinya, dia juga tidak ikhlas melepas lelaki sebaik Irzal pada wanita lain.
“Woii.. Sy..”
“Apaan sih?”
“Itu.. lo ngarep jadi apa batal nikahnya?”
“Kepo lo! Udah ah, gue laper.”
Arsy segera berdiri kemudian meninggalkan Stella di sana sendiri. Lebih baik dirinya mengantri makanan dari pada terus menerima cecaran pertanyaan dari sepupunya yang tingkat kebawelan dan kekepoannya sudah berada di level maksimum.
Ditinggal Arsy sendirian, Stella bangun dari duduknya. Dia juga ingin berburu makanan. Apalagi panitia pernikahan sudah menyediakan banyak sekali stall dan juga aneka hidangan prasmanan. Ketika sedang melihat sekeliling, memilih stall apa yang akan dikunjunginya terlebih dulu, matanya menangkap sosok yang sedikit aneh.
Seorang wanita mengenakan dress panjang berwarna merah, dengan rambut panjang yang sebagiannya menutupi wajahnya. Tiba-tiba saja wanita itu menolehkan kepalanya pada Stella, membuat gadis itu terkesiap. Langsung saja Stella menundukkan kepala, ketika menyadari wanita itu bukanlah manusia. Dia berjalan dengan kepala menunduk sambil sesekali melirik pada makhluk itu.
Langkahnya terhenti ketika kepalanya menabrak punggung seseorang. Sontak Stella mengangkat kepala, di saat bersamaan, pria yang ditabraknya membalikkan badan. Untuk sesaat mereka hanya saling melihat saja. Stella mengenali kalau pria di hadapannya adalah pria yang sama saat di lift rumah sakit.
“Kamu ngga apa-apa?”
“I… iya.. ma.. maaf.. aku…”
Perkataan Stella tergantung ketika tiba-tiba dari belakang pundak Tamar muncul hantu perempuan yang tadi dilihatnya. Dia memperlihatkan setengah wajahnya yang rusak dan dipenuhi darah.
“Aaaaaaa!!!!!”
Stella berteriak kencang hingga menarik perhatian semua orang yang ada di dekatnya, termasuk Tamar. Dengan cepat gadis itu memegang tangan Tamar seraya menundukkan kepalanya.
“Hei.. kamu ngga apa-apa?”
“I.. itu.. di be.. belakangmu..”
Jari Stella menunjuk ke belakang bahu Tamar. Pria itu menolehkan kepalanya, tapi tak melihat apa-apa. Perlahan Stella mengangkat kepalanya, ternyata sosok hantu perempuan itu sudah tidak ada. Dia melihat ke sekeliling tapi tidak menemukannya.
“Kamu cari siapa?”
__ADS_1
“Perempuan yang tadi di belakang kamu.”
“Siapa? Ngga ada siapa-siapa.”
“Tadi ada.”
Kepala Stella terus berputar mencari sosok tersebut sambil memegang erat tangan Tamar. Dengan segera Tamar melepaskan diri dari Stella, kemudian menatap gadis di depannya sambil menyilangkan tangan di dada.
“Kamu bohongin saya kan?”
“Ngga. Terserah deh mau percaya atau ngga. Bye..”
Stella segera meninggalkan Tamar. Gadis itu mencari-cari keberadaan Dipa, adiknya. Hanya bersama Dipa dia merasa aman. Kemudian matanya menangkap Dipa tengah mengobrol bersama dengan Gilang dan Farzan. Bergegas dia mendekati Dipa, lalu memeluk lengan adiknya itu.
“Kenapa lo?”
“Ada setan,” bisik Stella.
“Serius? Di sini?”
“Huum.. lo jangan jauh-jauh dari gue. Gue takut.”
“Iya, iya.”
Selesai mengambil kambing guling, mata Arsy menyapu seluruh ruangan, mencari tempat yang kosong. Kemudian dia melihat Daffa melambai padanya. Sebenarnya dia malas duduk bersama Daffa, karena ada Irzal di sana. Tapi karena hampir semua meja terisi, Arsy pun akhirnya mendekati Daffa.
“Apaan tuh, Sy?” tanya Daffa.
“Kambing guling.”
“Weh kayanya enak. Mau aahh..”
“Ini aja. Biar aku ambil lagi.”
“Wei.. emang aku cowok apaan, terima beres diambilin cewek. Makan aja.”
Daffa berdiri seraya menepuk pundak Arsy. Kemudian pria itu bergegas menuju stall kambing guling. Kini hanya ada Arsy dan Irzal saja di meja tersebut. Arsy mulai menikmati kambing guling tersebut. Rasanya memang enak. Sekilas Irzal melihat pada wanita yang akan dinikahinya sebentar lagi.
Perhatian Arsy langsung tertuju pada panggung saat mendengar pembawa acara mempersilahkan pada para tamu untuk berfoto bersama pasangan pengantin. Sejenak dia melihat pada Aqeel yang tengah tersenyum bahagia. Tanpa gadis itu sadari, Irzal menangkap semua yang dilakukan Arsy.
“Apa pantas kamu melihat laki-laki yang sudah menikah dengan pandangan seperti itu?”
Arsy langsung menolehkan kepalanya pada Irzal. Dia jadi malu sendiri, pria itu memergokinya tengah memandangi Aqeel. Tanpa menjawab apapun, dia meneruskan makannya.
“Berhentilah memikirkan bang Aqeel, dia sudah menikah. Kamu juga akan segera menikah. Jaga pandanganmu.”
“Apa kamu cemburu?” tanya Arsy setengah emosi.
“Kamu terlalu melebihkan.”
“Oh ya? Teruslah menyangkal, tapi matamu tidak bisa berbohong.”
Irzal bangun dari duduknya kemudian meninggalkan Arsy sendiri. Gadis itu mendesis kesal, selalu saja dirinya yang disalahkan. Dia menolehkan kepalanya, menatap Irzal yang tengah mengantri makanan sambil berbincang dengan Aidan.
Dasar es kering… emang kenapa kalau gue masih belum bisa move on dari bang Aqeel? Gue cuma lihat doang, ngga ada niatan jadi pelakor. Lo pikir gue serendah itu apa, mau ngerusak kebahagiaan orang lain. Dasar rese!!
“Kenapa lo? Tuh muka asem banget,” celetuk Aidan.
“Diem lo! Gue masih belum bikin perhitungan sama elo, ya.”
“Hahaha.. masih dendam aja bos.. sorry.. hehehe..”
Irzal tak mempedulikan perkataan Aidan, dia maju setelah orang di dekatnya mendekati stall. Aidan masih setia di sampingnya. Matanya mengawasi Arsy yang terlihat kesal.
“Lo ribut lagi sama Arsy?”
“Ngga..”
“Heleh ngeles aja, lo. Noh si Arsy keliatan kesel banget, muka lo juga asem. Pasti nih ribut lagi. Ribut kenapa sih?”
“Ngga ribut. Gue cuma ingetin dia, jaga pandangannya sama bang Aqeel. Sekarang bang Aqeel udah nikah.”
“Emang dia naksir bang Aqeel?”
“Hmm..”
“Jiaaahhhh cemburu nih? Calon istriku mencintai sepupuku, gitu judulnya ya, hahaha…”
“Ngomong aja terus. Bentar lagi gue masukin ke wadah empal gentong.”
“Hahaha… bos gue emang sadisss… kabur aahhh..”
Dengan cepat Aidan meninggalkan Irzal demi keselamatan dirinya. Pria itu memilih berkeliling saja, siapa tahu ada gadis atau janda yang kepincut olehnya.
Sementara itu di bagian lain, Renata yang datang bersama dengan Jojo dan Dinda, duduk tenang bersama kedua orang tua itu. Wanita itu menikmati makanan dengan tenang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kondisi Renata sudah lebih baik, tapi dirinya masih membatasi interaksi dengan orang lain.
“Kamu mau makan apa lagi?” tanya Jojo.
“Ngga, KiJo.. ini udah cukup.”
__ADS_1
“Kalau kamu mau mencicipi makanan lain, bilang aja. Biar Farzan yang ambilkan.”
Kepala Renata mengangguk seraya melemparkan senyuman tipis. Dia terkejut ketika seseorang menaruh piring kecil berisi puding di depannya. Wanita itu mendongakkan kepalanya, dan melihat Rakan yang melakukannya.
“Duduk sini, Rakan. Ngobrol bareng KiJo.”
Rakan melemparkan senyumannya, kemudian menarik kursi di dekat Renata. Tangan Renata menarik puding yang diberikan Rakan kemudian mulai memakannya. Dia memang sangat suka puding susu yang ditambah vla coklat.
“Bagaimana pekerjaanmu di kantor?” tanya Jojo membuka percakapan.
“Alhamdulillah lancar, KiJo.”
“Apa kamu ada lowongan untuk Rena? KiJo sudah menawarkan dia bekerja di J&J Entertainment bersama Barra, tapi Rena tidak mau.”
“Ren.. sekretarisku dipindahkan ke Jakarta untuk mengurus pekerjaan di sana. Apa kamu mau menjadi sekretarisku?”
“Jadi sekretaris abang?”
“Iya.”
“Tapi aku ngga tahu pekerjaan sekretaris itu apa saja.”
“Tenang saja, nanti Akbar yang akan menjelaskannya. Sebelum dia pindah ke Jakarta, dia akan mengajarimu semuanya. Bagaimana? Kamu mau?”
“Ehmm… boleh, kalau abang percaya padaku.”
“Aku percaya. Kamu anak yang pintar, kamu pasti akan cepat belajar.”
Senyum Rakan mengembang setelah mengatakan itu semua. Jojo terus memperhatikan Rakan. Sikap pria itu selain ramah, tutur kata dan sikapnya juga lembut. Dari satu kali lihat, dia bisa menebak kalau Rakan begitu perhatian pada Renata. Namun sebagai pria yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, dia tahu kalau perhatian dan sikap ramah Rakan bukan karena cinta. Tapi hanya perhatian seorang kakak pada adiknya.
Tak jauh dari meja yang ditempati Renata, Arsy masih berkeliling untuk mencicipi stall yang tersedia. Gadis itu menuju stall yang menyediakan roti maryam. Saat sedang mengantri di belakang tamu lain, seorang wanita tua mendekatinya.
“Kamu pasti Arsy,” tegur wanita itu.
Untuk sejenak, Arsy hanya memandangi wanita tua di depannya. Pikirannya menebak-nebak, siapa gerangan wanita di hadapannya. Ini kali pertama mereka bertemu, dan Arsy benar-benar tidak mengenalnya.
“Kenalkan, nama nenek, Rena. Nenek ini neneknya Bibie alias Irzal.”
“Oh nenek.. maaf..”
Arsy segera meraih tangan Rena kemudian mencium punggung tangannya. Rena tersenyum melihat gadis cantik calon cucu mantunya bersikap begitu sopan. Setelah mengambil dua porsi roti maryam, Arsy mengajak Rena duduk di meja yang ditempatinya tadi.
“Ternyata calonnya Bibie itu cantik,” puji Rena.
“Nenek bisa aja,” wajah Arsy sedikit memerah.
“Sudah lama kenal Bibie?”
“Ehmm.. sudah beberapa bulan sih, nek.”
“Tapi kalian sepertinya sudah akrab ya. Sampai kakekmu mau menjodohkan kalian.”
Arsy hanya menjawab dengan tawa hambar saja. Perkataan Rena mengingatkannya pada aksi Abi yang habis-habisan menjebaknya lalu mendorongnya masuk ke dalam jurang perjodohan.
“Ehmm.. nek, boleh tanya ngga?”
“Tanya apa?”
“Kok Ir.. ehm.. mas Irzal dipanggilnya Bibie?”
“Nama Irzal itu, Irzal Habibie Ramadhan. Berhubung nama kakeknya adalah Irzal, jadi kami semua lebih nyaman memanggilnya dengan sebutan Bibie.”
“Oh gitu. Kenapa mas Irzal dinamain sama kaya kakeknya?”
“Mungkin El ingin mengenang sang ayah dalam wujud anaknya. Apalagi Bibie lahir beberapa jam setelah nenek dan kakeknya wafat.”
“Kakek dan nenek mas Irzal meninggalnya barengan?”
Rena tersenyum sejenak, kemudian dia mulai menceritakan bagaimana pasangan yang terlihat begitu harmonis itu meninggalkan dunia secara bersamaan. Poppy yang memang sudah sakit-sakitan, pergi lebih dulu meninggalkan Irzal di pagi hari. Setelah sang suami memakamkannya, siang harinya, Irzal pun menyusul kepergian istrinya. dan malam harinya, Irzal junior lahir ke dunia.
“Benar-benar cinta sejati ya, nek,” ujar Arsy setelah mendengarkan cerita Rena.
“Iya. Makanya Bibie juga ingin kisah cintanya seperti kakeknya. Dan sepertinya itu akan menjadi kenyataan,” Rena kembali tersenyum seraya melihat pada Arsy.
“Maksud nenek.”
“Dulu.. kakeknya Bibie, menikah juga karena dijodohkan. Tapi akhirnya mereka saling cinta dan hidup bersama sampai maut memisahkan. Kapan-kapan nenek akan ceritakan kisah cinta mereka.”
“Iya, nek.”
“Kamu sendiri, apa sudah punya perasaan pada Bibie?”
“Euuung… ngga tau nek.”
“Cinta itu sulit ditebak. Tidak ada yang tahu kapan dia datang dan kemana akan berlabuh. Terkadang cinta datang dari jalan yang tidak terduga. Dari benci bisa jadi cinta. Karena seringnya bersama, tumbuh cinta. Ada saja jalannya. Nenek hanya bisa mendoakan, semoga hubunganmu dengan Bibie sama seperti kisah cinta kakek dan neneknya.”
Arsy terdiam mendengarkan ucapan Rena. Namun dalam hatinya mengamini perkataan wanita tua itu. Entah karena memang benih cinta sudah tumbuh di hatinya, atau karena terbawa suasana percakapan dengan Rena.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Udah sepakat mau nikah masih ribut juga🙈