Hate Is Love

Hate Is Love
Pasangan Mesra


__ADS_3

Sore harinya, Irzal mengantar sang istri memeriksakan diri ke dokter kandungan. Sesuai hasil test pack, Arsy memang sedang berbadan dua. Usia kehamilannya baru memasuki satu bulan. Arsy begitu bahagia ketika dokter mengatakan kalau tidak ada masalah dengan rahimnya kali ini. Tidak seperti kehamilan yang pertama. Dan yang paling membahagiakan adalah saat dokter menunjuk dua titik hitam yang ada di dalam rahim Arsy. Ternyata pasangan ini akan dikarunai anak kembar.


Rona kebahagiaan nampak jelas di wajah pasangan muda tersebut. Setelah menebus resep, mereka tidak langsung pulang. Keduanya mampir ke supermarket untuk membeli susu hamil, buah-buahan dan makanan lainnya. Tak lupa mereka juga membeli kue untuk orang tua mereka serta buah tangan lain untuk kakek dan nenek. Irzal juga menganjak Arsy makan di luar. Sang istri sedang ingin makan nasi goreng di tempat Tamar biasa membeli makanan tersebut.


Pertama-tama Arsy mengunjungi kedua orang tuanya. Kedatangannya tentu saja disambut suka cita oleh Nara. Wanita itu memang sudah merindukan sang anak. Dipeluknya sang anak dengan erat seperti tidak pernah bertemu berabad-abad lamanya. Lepas dari Nara, Arsy menghampiri Kenzie. Mencium punggung tangannya kemudian memeluknya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Irzal.


“Tumben ke sini ngga bilang dulu, ada apa?” tanya Kenzie.


“Kita ke sini mau kasih kabar gembira buat mama dan papa.”


“Kabar apa?”


“Alhamdulillah, Arsy positif hamil, ma. Tadi kita baru selesai periksa ke dokter kandungan. Sekarang usianya baru sebulan,” jawab Irzal.


“Alhamdulillah, selamat ya sayang. Mama senang mendengarnya.”


Nara berpindah duduk ke dekat anaknya, lalu kembali memeluknya. Kabar kehamilan Arsy tentu saja membuatnya bahagia. Setelah anaknya sempat kehilangan anak pertama mereka, kini mereka diberi kesempatan lagi untuk memiliki momongan. Kenzie juga memeluk putri satu-satunya ini.


“Jaga kandunganmu baik-baik, Sy. Jadikan pengalaman kemarin sebagai pelajaran. Jangan terlalu capek.”


“Iya, ma.”


“Kamu juga, Zal. Kurangi kesibukanmu di kantor. Lebih perhatikan lagi istrimu.”


“Iya, pa.”


“Tapi aku minta yang lain ngga usah tau dulu ya, ma, pa. Aku takut kejadian kaya kemarin. Biar nanti aja kasih taunya sekalian syukuran empat bulanan. Abang juga jangan dikasih tau dulu. kadang dia suka ember mulutnya.”


“Hahaha.. iya, sayang.”


“Abang kemana? Belum pulang kerja?”


“Hari ini dan besok, dia ada meeting di Jakarta. Rena juga dibawa, katanya pulangnya mau bulan madu dulu.”


“Perasaan udah deh bulan madunya.”


“Namanya juga pengantin baru, Sy. Pasti pengen bulan madu terus.”


“Kejar setoran,” celetuk Irzal.


Terdengar tawa yang lain mendengar celetukan Irzal. Setelah berbincang dan melepas rindu, Arsy dan Irzal berpamitan. Mereka harus mengunjungi kediaman Abi untuk mengatakan kabar bahagia ini.


Setelah memarkirkan kendaraannya, Irzal turun bersama Arsy dengan membawa buah tangan untuk kakek neneknya. Keadaan rumah terlihat sepi, Abi dan Nina sudah masuk kamar ketika mereka datang. Mereka segera keluar kamar begitu mendengar kedatangan sang cucu.


“Nenek.”


Arsy menghambur ke dalam pelukan Nina. Irzal mendekat, kemudian mencium punggung tangan kakek dan nenek dari pihak istrinya. Abi mengajak mereka ke ruangan tengah. Mata Arsy berkeliling mencari keberadaan Kenan, Zahra dan kedua sepupunya.


“Daddy belum pulang kantor?”


“Daddy kamu lagi ke rumah kakek Dharmawan sama mommy, Sam juga Gilang. Mau ada acara kumpul keluarga besar katanya.”


“Oh..”


“Kalian tumben ke sini malam-malam.”


“Aku kangen sama kakek, sama mau kasih kabar gembira buat kakek sama nenek.”


“Kabar apa, sayang?” tanya Nina.


“Alhamdulillah, sebentar lagi kakek sama nenek mau ketambahan cicit.”


Abi dan Nina saling berpandangan sejenak, kemudian keduanya kompak mengucapkan hamdallah. Ikut bahagia dengan kabar yang didengarnya. Akhirnya Irzal membuktikan ucapannya, benihnya berkembang lebih dulu dibanding ketiga pengantin baru yang sedang berlomba-lomba beternak cebong.


“In Syaa Allah aku hamil anak kembar, kek.”


“Alhamdulillah.”


Kembali Abi mengucapkan syukur. Setelah Kenzie menikah dengan Nara, keturunannya sekarang bisa memiliki gen kembar. Kalau dulu Arsy dan Zar termasuk kembar tidak identik, kalau sekarang pria itu berharap sang cucu akan memiliki anak kembar identik. Supaya keluarganya lebih berwarna.


“Tapi kakek jangan adain syukuran dulu, ya. Jangan kasih tau yang lain dulu. Aku juga udah bilang ke papa sama mama. aku takut kejadian kaya dulu.”


“Iya.. iya, kakek setuju. Nanti aja pengumumannya kalau sudah empat bulan. Kita syukuran sekalian kasih kejutan buat semuanya.”


“Makasih kakek.”


“Kamu mau dibuatin apa, Sy? Nanti nenek buatkan.”


“Ngga usah, nek. Aku udah punya dua ibu yang pintar masak. Nenek ngga usah capek-capek. Cukup temani kakek aja, biar kakek ngga gabut di rumah.”


“Kakek kan punya hobi baru, mancing.”


“Mancing apa ngerusuh? Kalian mancing ngga ada hasilnya, ikan yang dibawa pulang juga hasil beli. Yang ada kalian bikin onar di tempat mancing,” ujar Nina.


“Hahaha.. iya, nek. Pasti di sana ribut bin heboh dengar kakek sama opa ribut. KiJo sama eyang ledek-ledekan, terus grandpa jadi tim hore, hahaha..”


Irzal tertawa mendengar ucapan istrinya. Jika acara memancing seperti yang digambarkan Arsy, sudah pasti suasana di pemancingan heboh dengan suara-suara para pandawa lima. Tapi setidaknya pemilik pemancingan akan untung karena ikan mereka juga habis dibeli oleh pelanggan ajaib tersebut.

__ADS_1


“Ya udah, kita pulang dulu ya, kek, nek. Udah malam juga. Belum harus ke rumah KiJo.”


“KiJo biar kakek yang telepon. Mending besok kalian ke sini lagi, kakek bakal minta KiJo ke sini sama Ninda. Sekarang kalian pulang aja, udah malam.”


“Ya udah kalau gitu. Kita pulang ya, kek.”


“Iya, hati-hati bawa mobilnya, Zal.”


“Iya, kek.”


Keduanya segera berdiri kemudian mencium punggung tangan Abi dan Nina bergantian. Pasangan yang tetap harmonis sampai di usia senja itu mengantarkan cucunya sampai ke depan. Tangan Arsy melambai ketika mobil yang ditumpanginya melaju pergi.


Jarak antara kediaman Abi dengan Elang tidaklah jauh. Tak lebih dari sepuluh menit, mereka sudah sampai. Nampak Elang dan Azkia sedang menonton televisi saat keduanya memasuki rumah. Mereka langsung bergabung dengan pasangan tersebut.


“Dari mana kalian? Kok baru pulang?” tanya Azkia.


“Tadi habis ke rumah papa sama kakek dulu, bun,” jawab Irzal.


“Bagaimana papa dan kakekmu? Sehat?”


“Alhamdulillah, sehat, yah.”


“Ini kue kesukaan ayah sama bunda,” Arsy menaruh kotak kue yang dibawanya ke atas meja.


“Makasih, sayang. Kalian kayanya lagi bahagia nih.”


Sejak datang, Azkia sudah bisa melihat rona kebahagiaan di wajah anak dan menantunya. Mereka nampak berseri-seri. Sebagai seorang ibu yang sangat memperhatikan anak-anaknya, tentu saja Azkia menyadari apa yang dirasakan oleh mereka.


“Iya, ma. Tadi aku sama mas Bibie periksa ke dokter kandungan. Alhamdulillah, aku hamil.”


“Alhamdulillah, selamat ya, sayang.”


Walau Elang dan Azkia sudah dikaruniai empat orang cucu dari kedua anaknya yang lain. Namun tetap saja kabar kehamilan Arsy menjadi kebahagiaan untuk mereka juga. Setelah sempat kehilangan calon buah hatinya, akhirnya sang menantu diberi kesempatan lagi untuk mengandung.


“In Syaa Allah, anak kita kembar, bun,” sahut Irzal.


“Alhamdulillah.”


Lagi-lagi terdengar kalimat syukur dari mulut Azkia dan Elang. Akhirnya di keluarga mereka bisa memiliki keturunan anak kembar.


“Kalau kamu mau sesuatu bilang aja sama bunda. Kalian udah makan belum?”


“Udah, bun. Tadi mas Bibie ajak makan di luar sebelum pulang.”


“Sekarang kamu istirahat aja. Ingat, jangan capek-capek.”


“Iya, bun.”


“Ternyata bulan madu kita ngga sia-sia ya, mas.”


“Alhamdulillah. Ingat pesan bunda, nenek dan mama, kamu jangan terlalu capek.”


“Iya, mas.”


“Kalau mau sesuatu bilang aja.”


“Iya.”


Irzal melepaskan pelukannya di bahu sang istri, kemudian memposisikan diri di dekat perut sang istri. Perlahan diangkatnya piyama yang membalut tubuh Arsy, lalu menciuminya beberapa kali. Tangan Arsy mengusap puncak kepala sang suami. Senyum tersungging di bibirnya melihat betapa sang suami sangat menyayanginya dan juga calon anak mereka.


“Ayah doakan kalian tumbuh sehat. Tidak menyusahkan bunda, dan keluar dengan selamat saat kelahiran nanti. Ayah doakan kalian menjadi anak yang soleh dan solehah.”


“Aamiin..”


Puas menciumi perut istrinya, Irzal kembali ke posisi semula. Sebuah ciuman diberikan di kening Arsy. Kemudian bibirnya turun mencium kedua mata, kedua pipi dan terakhir berakhir di bibir ranum istrinya. Pria itu menyesap lembut bibir atas dan bawah istrinya bergantian.


“Sekarang tidur, ya.”


Hanya anggukan kepala saja yang diberikan Arsy. Keduanya segera membaringkan diri. Arsy segera masuk ke dalam pelukan suaminya. Tangannya memeluk pinggang Irzal. Usapan lembut Irzal di punggung Arsy, membuat wanita itu tertidur dengan cepat.


🍁🍁🍁


Zar merentangkan tangannya lebar-lebar sambil menghirup udara segar. Kemarin dia baru saja menyelesaikan meeting dengan kliennya. Pria itu memang diutus oleh Kenzie untuk bertemu dengan beberapa klien di Jakarta. Untuk klien terakhir, acara pertemuan dipindahkan ke daerah Sentul.


Hal tersebut dimanfaatkan Zar untuk menghabiskan akhir pekan di daerah yang masuk dalam wilayah Bogor. Sepulang meeting, pria itu langsung menuju Bogor dan menyewa vila di sana. Selain menghabiskan waktu di vila, pria itu juga berencana mengajak istrinya mengunjungi tempat wisata di daerah ini yang tengah viral, Leuwi Hejo.


Aroma kopi terendus olehnya ketika Renata datang membawakan secangkir kopi hitam untuknya. Wanita itu meletakkan cangkir kopi di atas meja, berikut roti bakar yang dibuatnya tadi. Zar segera mendudukkan diri di sofa dan menikmati sarapan yang dibuatkan istrinya.


“Sayang, habis ini siap-siap ya. Kita ke Leuwi Hejo, kita main air di sana.”


“Leuwi Hejo?”


“Iya, air terjun. Coba kamu tanya mbah gugel. Tempatnya bagus loh.”


“Masa?”


Tak percaya dengan ucapan suaminya, Renata segera mencari tempat yang dimaksud di kolom pencarian mbah pintar. Ternyata apa yang dikatakan suaminya memang benar. Kolam dengan air kehijauan sangat menggoda Renata. Tak sabar rasanya wanita itu untuk segera pergi ke sana.

__ADS_1


Usai sarapan, Zar dan Renata bersiap untuk pergi. Tak lupa mereka baju ganti dan handuk. Zar memang berencana untuk berenang di sana. Pria itu segera melajukan kendaraannya menuju Leuwi Hejo yang berada di kampung Wangan Cileungsi.


Setelah melewati beberapa titik kemacetan di kota Bogor, akhirnya mobil yang dikendarai Zar sampai juga di tempat yang dimaksud. Setelah memarkirkan kendaraannya, Zar dan Renata masih harus berjalan menuju tempat yang dimaksud. Sambil menggendong ranselnya, Zar menggandeng tangan sang istri.


Untuk sampai di curug, mereka harus melewati jalanan yang cukup memakan waktu, bisa sampai setengah jam. Namun perjalanan tidak akan terasa, karena pemandangan yang disuguhkan. Hamparan sawah dan perbukitan hijau menemani perjalanan mereka sampai ke curug.


Perjalanan panjang mereka akhirnya terbayarkan setelah sampai di lokasi curug. Aliran air nan jernih dan berwarna kehijauan di bagian kolamnya langsung terpampang nyata di depan mereka. Renata terpekik senang melihat pemandangan indah di hadapannya. Zar mengajak Renata menuju bebatuan yang ada di pinggir sungai. Setelah menaruh ranselnya, dia mengajak sang istri bermain air di sana.


Nama Leuwi Hejo diambil dari bahasa Sunda. Dalam bahasa Sunda, Leuwi artinya relungan atau kolam, sedang hejo artinya hijau. Curug ini dinamakan demikian karena air yang tertampung di kolam berwarna kehijauan. Ditambah lagi bebatuan yang ada di sekeliling curug, membuat tempat ini menjadi semakin indah.


Leuwi Hejo memiliki lima buah curug yang jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya berjalan sekitar lima sampai lima belas menit dengan perjalanan trecking. Kelima curug tersebut adalah Leuwi Hejo



Leuwi Lieuk



Leuwi Ciung



Leuwi Cepet



Leuwi Baliung.



Terdengar teriakan Zar ketika menceburkan dirinya ke dalam air. Renata yang hanya melihat dari pinggiran saja, sambil mengabadikan gambar sang suami. Pria itu berenang mengelilingi kolam yang kedalamannya hanya sekitar tiga meter saja. Sesekali tangannya melambai pada sang istri.


“Sayang! Taro hapenya, sini berenang sama aku!” teriak Zar.


Renata menaruh ponsel ke dalam tas, kemudian menceburkan diri ke dalam kolam. Dia berteriak ketika tiba-tiba Zar mengangkat tubuhnya. Dari bawah. Dia memukuli pundak suaminya minta di turunkan. Kemudian keduanya berenang menyusuri kolam. Airnya benar-benar sejuk dan membuat betah bermain di dalamnya.


Puas berenang, bermain air dan mengambil gambar. Mereka pun menyudahi aktivitasnya. Setelah mandi dan berganti pakaian, keduanya menuju kedai yang ada di sana. Mereka memesan minuman hangat dan juga makanan. Perut mereka terasa lapar setelah asik bermain air.


“Gimana, asik kan?”


“Iya. Betah aku lama-lama di sini. Airnya sejuk banget.”


“Kapan-kapan kita ke sini lagi.”


“Habis dari sini kita kemana?”


“Ke vila dong. Kita ngadon anak.”


“Ish.. ngadon mulu.”


“Emangnya kamu ngga mau cepet-cepet punya anak?”


“Ya mau, dong.”


“Makanya harus rajin ngadon.”


“Maunya kamu itu. Ngadon mulu.”


“Kamu kan ngga perlu capek. Terima jadi aja, biar aku yang kerja.”


“Dasar.”


Tawa Renata terdengar menanggapi ucapan mesum suaminya. Dia memang ingin cepat-cepat memiliki anak dari Zar. Kebahagiaan pasti akan bertambah dengan kehadiran anak di antara mereka.


“Sebelum pulang ke vila, mampir beli roti unyil dulu ya.”


“Iya, sayang. Apa sih yang ngga buat kamu.”


“Dasar gombal.”


“Kalau gombalnya ke kamu aja, halal dong.”


“Awas aja kamu gombalin cewek lain.”


“Ya ngga mungkin, sayang. Di mataku, cuma kamu yang terlihat kaya bidadari. Yang lainnya kaya ceu Edoh.”


“Berarti mama, nenek, Ninda sama Arsy mirip ceu Edoh juga?”


“Ya, ngga. Mereka pengecualian. Ah kamu mah ngerusak gombalanku aja.”


“Hahaha..”


“Utututu.. jangan ngambek dong, sayang.”


CUP


Sebuah kecupan didaratkan Renata ke pipi Zar. Karuan saja pria itu langsung tersenyum senang. Dipeluknya tubuh sang istri, kemudian mendaratkan ciuman di pipinya. Tak dipedulikannya tatapan iri sang penjaga kedai yang sampai saat ini masih betah dengan status jomblonya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Tinggal trio pengantin baru ya, yang belum ketahuan siapa yang nyangkut duluan cebongnya😂


__ADS_2