
Geya terlihat bingung melihat kesibukan sudah terjadi di rumahnya sejak shubuh. Di dapur bukan hanya mamanya saja, tapi juga ada Alisha, Freya dan Anya. Gadis itu bertambah bingung, kenapa tantenya ada di rumahnya sejak shubuh. Dengan santai, Geya mendekati dapur.
“Tumben mama Freya, mami Anya sama mama Alisha di sini. Kaya lagi ada hajatan aja. Pada masak apa, sih?”
“Kamu udah mandi belum?” tanya Zahra.
“Belum.”
“Mandi dulu sana. Nanti mama Azra ke sini, dia mau dandanin kamu.”
“Emang ada acara apaan sih? Aku ada janji kencan sama bang Daffa.”
“Udah sana mandi.”
Dengan wajah memberengut Geya kembali ke kamarnya. Melihat kesibukan yang terjadi, dia curiga akan ada acara di rumahnya. Kalau begini, acara kencannya dengan Daffa bisa gagal total. Gadis itu masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Dia menggosok semua badannya, memastikan tidak ada daki yang tertinggal di kulitnya.
Cukup lama waktu yang dibutuhkan Geya untuk mandi, hampir tiga perempat jam. Ketika gadis itu keluar kamar, ternyata Azra sudah berada di sana. Matanya membulat melihat Adhisti kakak sepupunya juga berada di kamarnya. Langsung saja Geya menghampiri Adhisti kemudian memeluknya erat.
“Kak Dhisti kapan pulang? Aku kangen banget.”
“Baru kemarin. Aku langsung ke sini begitu tahu….” Adhisti menghentikan ucapannya begitu melihat wajah mamanya.
“Tahu apa, kak?”
“Kamu udah beres magang.”
“Ooh.. kak Dhisti tambah cantik aja. Mana nih calonnya? Siapa tuh namanya, ehmm.. Agra.”
Wajah Adhisti langsung sendu begitu mendengar nama mantan kekasihnya. Anak sulung dari pasangan Azra dan Fathan ini sudah menjalin hubungan selama tiga tahun dengan kekasihnya. Namun menjelang kelulusannnya kemarin, mereka malah berpisah. Agra mengatakan kalau dirinya sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Adhisti pulang ke Indonesia dengan membawa hatinya yang patah.
“Udah ngobrolnya nanti aja. Sekarang kamu dandan dulu.”
“Dandan buat apa, mama?”
“Daddy-mu bikin syukuran kamu beres magang,” jawab Azra asal. Bagaimana pun juga akad nikah antara Geya dan Daffa masih disembunyikan dari gadis itu.
“Tapi aku mau kencan sama bang Daffa.”
“Kencannya abis syukuran kan bisa.”
Geya hanya bisa mengikuti kemauan Azra. Gadis itu mengganti handuk yang melilit tubuhnya dengan bath robe, kemudian duduk di kursi rias. Dibantu Adhisti, Azra mulai merias wajah keponakannya.
🍁🍁🍁
Satu per satu anggota keluarga Hikmat dan Ramadhan mulai berdatangan. Mereka terkejut karena Abi mengundang mereka secara tiba-tiba. Semua sepupu Geya juga mulai berdatangan. Rakan datang bersama Vanila, Dayana bersama dengan Rafa, Stella bersama Tamar dan Arsy bersama Irzal.
Selain mereka yang sudah berpasangan, sepupu Geya yang berstatus jomblo juga datang, minus Zar. Pria itu sedang berada di Macau untuk mengurus proyek yang sedang ditanganinya. Kenzie sengaja tidak memberitahukan perihal pernikahan Geya karena tidak ingin mengganggu konsentrasi anaknya dalam bekerja.
Renata juga datang bersama dengan keluarga besar Jojo. Aidan ikut datang sebagai perwakilan dari keluarga Ramadhan. Pria itu datang bersama dengan Nalendra. Shifa dan Azriel yang baru saja menyelesaikan pertandingan di Jepang langsung terbang ke Indonesia begitu mendengar Daffa akan menikah.
Arya yang bingung melihat hampir semua anggota keluarga Hikmat dan Ramadhan datang, segera mendekati Stella. Ibu hamil itu nampak anteng duduk di depan meja yang menghidangkan aneka makanan.
“Pppsssttt.. mau ada acara apaan sih?” tanya Arya setengah berbisik.
“Daffa mau ngelamar Geya.”
“Ooh.. waduh.. gue kesalip lagi. Kemarin Zar yang ngelamar, sekarang Daffa. Buset kapan gue ketemu penghulu kalo disalip mulu.”
“Lo tinggal ke KUA kalau mau ketemu penghulu, banyak, tinggal pilih mau yang mana,” sambar Tamar.
“Set dah, gue mah kaga butuh penghulunya, gue butuh kata sahnya.”
“Elah tinggal ketemu penghulu terus minta dia bilang sah, udah beres.”
“Sumpah ya Tam, mulut lo sekarang ember banget.”
Sambil misah-misuh Arya meninggalkan Tamar. Pria itu hanya terkekeh melihat kekesalan Arya. Sedang Stella sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi antara suaminya dengan saudara sepupunya. Fokusnya hanya tertuju pada makanan yang ada di depannya.
Gilang dan Aqeel yang bertugas menunggu datangnya penghulu, langsung menyongsong seseorang yang baru saja turun dari ojek online. Seorang pria berusia 25 tahun, mengenakan batik dan peci hitam dengan membawa tas kerjanya masih berdiri di depan kediaman Abi. Tangannya merogoh saku celana, mengambil sapu tangan untuk mengelap keringat yang membasahi wajahnya.
“Dengan pak Resnu?” tanya Aqeel.
“I.. iya.”
__ADS_1
“Silahkan masuk, pak.”
“Te.. terima ka.. kasih. Sa.. saya su.. suka ga.. gagap ka.. kalau gro.. grogi. I.. ini pe.. pengalaman pe.. pertama sa.. saya ni.. nikahin ca.. calon pe.. pengantin.”
“Rileks aja pak.”
Aqeel menepuk pundak penghulu bernama Resnu itu. Sebisa mungkin dia menahan tawanya melihat pria itu yang terlihat gugup. Begitu juga dengan Gilang, baru kali ini dia melihat penghulu yang grogi menghadapi akad nikah.
“Si.. silahkan ma.. masuk pa.. pak,” ujar Gilang.
Sebuah tepakan mendarat di kepala anak bungsu Kenan itu. Bisa-bisanya Gilang mengikuti gaya bicara sang penghulu. Aqeel sang pelaku hanya melemparkan senyuman saja pada Resnu. Tak ada tanggapan dari Resnu, pria itu sibuk mengelap wajahnya yang bersimbah keringat.
“Pa.. ini penghulunya sudah datang,” ujar Gilang seraya mendekati Kenan.
Kenan menjabat tangan Resnu, kemudian mempersilahkan pria itu menuju meja akad yang berada di atas karpet. Acara akad nikah akan digelar secara lesehan. Mata Arya memicing melihat pria yang baru masuk bersama dengan Aqeel dan Gilang. Dia menggeser duduknya mendekati Irzal.
“Zal.. tuh yang baru dateng siapa ya?”
“Calonnya Shifa,” jawab Irzal sekenanya.
“Eh buset jangan ngadi-ngadi lo. Masa iya calonnya Shifa bentukannya kaya gitu?”
Irzal hanya terkekeh saja mendengar ucapan Arya. Shifa yang duduk tak jauh dari kedua pria itu, sontak melayangkan pandangan pada keduanya saat mendengar namanya disebut. Dia mengepalkan tangannya pada Irzal.
“Baiklah karena semua keluarga sudah berkumpul, orang yang kita tunggu sedari tadi sudah datang. Maka tanpa harus menunda lagi, acara akan dimulai. Alhamdulillah pada kesempatan ini, anak kami, Daffa, memiliki itikad baik untuk mempersunting Geya. Sebagai orang tua, kami hanya bisa mendukung dan mendoakan semoga niat baiknya dapat terlaksana dan menjadi amal ibadah untuknya.”
“Aamiin..”
Semua yang berada di sana ikut mengaminkan apa yang dikatakan oleh Elang. Pria itu didapuk menjadi perwakilan keluarga Ramadhan untuk membuka acara akad nikah yang akan digelar sebentar lagi. Zahra segera naik ke lantai atas untuk menemui anaknya. Setelah ijab kabul, nanti dirinya bersama dengan Azra dan Adhisty yang akan membawanya keluar menemui suaminya.
“Silahkan pak penghulu,” ujar Elang pelan.
“Te.. terima ka.. kasih, pa.. pak. Na.. nama me.. mempelai pri.. pria Da.. Daffa Ce.. Cemal Va.. Vaughan ya?”
“Iya, pak.”
Bukan hanya Daffa yang terlihat bingung dengan gaya bicara sang penghulu yang gagap. Kenan, Reyhan dan pandawa lima juga dibuat terkejut. Apalagi pria itu tidak kunjung berhenti mengusap wajah dengan sapu tangan. Farel menyodorkan segelas minuman untuk Resnu.
“Te.. terima ka.. kasih.”
“Bi.. kamu nemu penghulu gagap di mana?” tanya Juna sambil berbisik.
“Itu stok terakhir yang ada di KUA. Masih baru, baru juga dua minggu jadi penghulu. Katanya sih ini pengalaman pertamanya.”
“Dari pada dia, mending aku yang jadi penghulunya. Bisa peyot duluan aku dengar dia ngomong,” timpal Cakra.
“Heleh udah peyot juga,” sahut Jojo.
“Jangan bilang aku sih yes,” sambar Abi yang melihat mulut Kevin sudah terbuka. Kevin mengatupkan kembali mulutnya begitu mendengar ucapan Abi.
Sementara itu di lantai atas, Geya sudah selesai didandani oleh Azra dibantu oleh anaknya. Zahra yang masuk ke kamar sang anak, puas melihat putri satu-satunya terlihat begitu cantik. Dia memandangi anak gadisnya dalam balutan kebaya berwarna putih tulang. Wanita itu memeluk anaknya dengan erat.
“Ma.. buat sykuran aku beres magang berlebihan ngga sih? Masa aku didandanin kaya pengantin gini.”
“Sssttt.. udah ngga usah ribut. Sebentar lagi acaraya mau mulai. Dhisty.. tolong buka pintunya.”
Adhisty bangun dari duduknya, lalu membuka pintu kamar Geya. Itu agar suara Daffa yang akan membayar tunai Geya terdengar sampai ke kamar.
Di lantai bawah, Resnu sudah selesai memeriksa kelengkapan kedua mempelai. Dia mempersilahkan Kenan untuk melaksanakan ijab kabul bersama dengan Daffa. Kenan menarik nafas dalam-dalam sebentar lalu menggenggam tangan Daffa dengan erat.
“Eh.. itu daddy mau ngapain? Kok kaya mo ijab kabul?” tanya Arya panik.
“Ananda Daffa Cemal Vaughan, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Geya Kirania Hikmat binti Kenan Mahendra Hikmat dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas batangan seberat 100 gram dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Geya Kirania Hikmat binti Kenan Mahendra Hikmat dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”
Dalam satu helaan nafas, Daffa menjawab ijab yang dilontarkan oleh Kenan. Resnu melihat ke kanan dan kirinya, menatap Elang dan Revan yang menjadi saksi pernikahan.
“Ba.. bagaimana pa.. para sa.. saksi? A.. apakah sa.. sah?”
“SAAAAHHHH!!”
Jawab semua sepupu dan sahabat Daffa, meredam suara kedua saksi. Resnu semakin dibuat gugup mendengar teriakan kencang para pria di dekatnya. Tangannya kembali mengusapkan sapu tangan ke wajahnya. Sedang Arya hanya melongo saja mendengar ijab kabul yang baru terjadi.
__ADS_1
“Buset si Daffa, nyalipnya kaga tanggung-tanggung,” gumam Arya pelan.
Di lantai atas, Geya dibuat terkejut mendengar ijab Kabul yang diucapkan Daffa. Matanya menatap pada Zahra tanpa berkedip. Perlahan namun pasti, kedua netranya mulai berembun. Gadis yang biasanya selalu mengeluarkan celotehan absurd, kini hanya diam membisu saja mengetahui kalau dirinya sudah dibayar tunai oleh pria yang dicintainya.
“Ma.. i.. itu suara bang Daffa, kan?”
“Iya, sayang. Selamat, sekarang kamu sudah resmi menikah dengan Daffa.”
Zahra kembali memeluk anaknya. Airmata Geya tak tertahankan juga dan jatuh mengalir di kedua pipinya. Azra mengambil tisu, kemudian mengusap lembut airmata itu.
“Ayo sayang, temui suamimu.”
Kepala Geya terangguk-angguk. Dengan didampingi Zahra dan Azra, gadis itu keluar dari kamarnya. Tak dapat digambarkan bagaimana perasaannya saat ini. yang jelas Geya merasa sangat bahagia. Ternyata rencana Daffa datang di hari Minggu adalah untuk membayar tunai dirinya.
Suara langkah kaki menuruni anak tangga, membuat Daffa menolehkan kepalanya. Wajahnya menyunggingkan senyuman saat melihat pengantin wanitanya. Geya pun membalas senyum Daffa dengan senyum sumringah. Matanya tak lepas menatap suaminya yang terlihat tampan dalam balutan beskap berwarna putih.
Selain Daffa, ada pria lain yang ikut tak berkedip saat melihat ke arah tangga. Pandangannya bukan tertuju pada Geya, melainkan pada wanita yang ada di belakang Geya. Aidan terus melihat ke arah Adhisty tanpa berkedip. Irzal yang berada di sampingnya sampai harus mengusap wajah sahabatnya itu untuk menyadarkannya.
“Itu… siapa, Bie?” tanya Aidan masih dengan pandangan terpana.
“Itu Dhisty, anaknya tante Azra.”
“Masya Allah.. sungguh ciptaan Tuhan paling sempurna.”
Berturut-turut pria itu mendapat toyoran dari Irzal, Tamar, Ervano dan yang paling keras menoyor kepalanya adalah Arya. Pria itu tengah melampiaskan kekesalannya karena disalip mendadak oleh Daffa. Melihat wajah Arya, Ervano malah terpingkal.
“Dasar sodara durhalim. Lihat gue merana malah bahagia.”
“Gue bukan ngetawain elo, PEA.”
“Lah terus lo ngetawain siapa?” sewot Arya.
“Gue lagi ngebayangin kalo si Zar tahu dia abis disalip terus ditendang si Daffa di tikungan gimana reaksinya, bhuahahaha..”
Arya yang awalnya kesal, ikut tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu. Setidaknya, Arya belum melamar Shifa, jadi tidak terlalu gondok jika mengalami salipan. Tapi Zar yang melamar Renata lebih dulu harus ikhlas kalau pertemuannya dengan penghulu didahului oleh Daffa.
Daffa terus memandangi Geya sampai gadis itu didudukkan di sampingnya. Dia langsung mengambil kotak beludru lalu mengeluarkan cincin nikah dari dalamnya. Disematkan cincin tersebut ke jari manis Geya. Dengan cepat Geya mengambil cincin yang tersisa, lalu memakaikannya ke jari manis suaminya. Kemudian gadis itu mencium punggung tangannya dan tanpa disangka-sangka dia mencium pipi Daffa.
“Astaga,” Kenan menepuk keningnya.
Terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya, Daffa hanya terdiam sesaat sebelum dia membalas mencium kening Geya. Sedangkan penghulu gagap hanya bisa mengusap wajahnya dengan sapu tangan. Mengeringkan keringatnya yang semakin deras bercucuran.
“Santai aja, pak. Ini minum lagi,” Farel kembali memberikan minuman pada penghulu gagap itu.
“Te.. terima ka.. kasih. Sa.. saya i.. iri li.. lihat pe.. pengantin. So.. soalnya sa.. saya ma.. masih jo.. jomblo.”
“Latihan ngomong aja dulu, pak. Nanti pasti ada perempuan yang nyantol. Jangan gagap,” ujar Farel yang hanya dibalas cengiran saja oleh Resnu.
Setelah acara ijab kabul dan sungkeman yang awalnya mengharu biru, menjadi heboh karena kelakuan para sahabat Daffa, semua yang datang menyaksikan janji suci Daffa dan Geya dipersilahkan untuk mencicipi makanan. Geya menarik tangan Daffa ke halaman belakang. Dia mengajak suaminya itu naik ke rumah pohon.
“Abang kok ngga bilang-bilang mau nikahin aku,” ujar Geya sesampainya di rumah pohon.
“Biar buat surprise aja. Kamu suka ngga sama surprise yang aku kasih?”
“Suka.. pake baget. Tapi.. sejak kapan abang punya perasaan sama aku.”
Daffa tak langsung menjawab pertanyaan istrinya. Pria itu memegang bahu Geya kemudian menghadapkan gadis itu padanya. Dia menyelipkan sisa rambut yang dibiarkan tergerai ke belakang telinga gadis itu.
“Aku udah jatuh cinta sama kamu sejak pertama kita bertemu di ruang rawat opa Kevin. Sejak saat itu, kamu udah nyuri hati aku.”
Pria itu menarik kedua tangan Geya, kemudian mengecupnya bergantian. Perasaan Geya dibuat terbang melayang, tak henti gadis itu menyunggingkan senyumanya. Perlahan Daffa menarik tubuh Geya hingga merapat padanya. Jantung Geya langsung berdebar kencang berada sedekat ini dengan pria pujaannya.
“I love you, Geya.”
Bisik Daffa di telinga Geya. Wajah gadis itu sontak langsung merona. Daffa merangkum wajah istrinya lalu menyatukan bibir mereka. Mata Geya menutup, dia pasrah menerima sesapan dari suaminya.
🍁🍁🍁
**Selamat ya Daffa, Geya, akhirnya sah juga ya kalian🤗
Zar masih belum tahu nih klo dia abis disalip Daffa🤣
Penghulu yang nikahin Stella sama Vanila lagi sibuk, jadi gantinya penghulu gagap🤣**
__ADS_1