
Mata Stella dan Tamar terus memandangi layar di depannya tanpa berkedip. Dokter Suci menunjuk titik kecil hitam di layar. Pasangan tersebut masih belum percaya kalau titik kecil itu adalah cikal bakal calon anak mereka. Tangan Tamar terus menggenggam tangan Stella. Perasaan bahagia menyeruak dalam hatinya.
Setelah dokter selesai melakukan USG, dengan dibantu Tamar, Stella turun dari bed pemeriksaan. Pria itu terus menggenggam tangan sang istri lalu mendudukkannya di atas kursi. Tamar juga mendudukkan diri di samping Stella. Bersiap mendengar apa yang akan dikatakan dokter kandungan tersebut.
“Kandungan ibu Stella baru berumur lima minggu. Masih sangat muda, dijaga kondisinya ya, bapak, ibu. Jangan terlalu cape, jangan mengangkat beban berat, jangan stress juga. Masa trimester pertama itu bisa dibilang masih masa rawan. Kalau bapak bisa tahan, puasa dulu ya, pak. Sampai kondisi janin sudah cukup kuat. Tapi kalau bapak mau main, hati-hati jangan terlalu keras memberikan goncangan.”
Wajah Tamar memerah mendengar penjelasan dokter Suci. Demi calon buah hati, Tamar rela kalau harus berpuasa. Yang penting calon anaknya selamat, sehat sampai lahir nanti. Keduanya kembali mendengarkan apa yang dikatakan dokter Suci selanjutnya.
“Banyak makan makanan bergizi ya, bu. Banyak makan sayuran, daging, ikan, buah-buahan dan jangan lupa susunya. Saya akan memberikan obat penambah darah dan juga vitamin. Apa ada rasa mual atau muntah mungkin?”
“Ngga ada, dok. Lancar aja. Cuma badan aja suka lemas, dan kepala pusing.”
“Syukurlah kalau tidak ada. Kondisi ibu hamil memang beda-beda.”
Dokter Suci segera menuliskan resep untuk Stella. Wanita itu nampak bahagia akan kabar kehamilannya. Setelah sadar dirinya telat satu minggu dari jadwal datang bulannya, dia langsung melakukan pengetesan. Dan ternyata Stella memang tengah berbadan dua. Usaha dan doa mereka selama ini dikabulkan oleh Tuhan.
“Ini resepnya. Kita bertemu lagi bulan depan.”
“Iya, dok. Makasih.”
Tamar bangun lebih dulu, setelah menyalami dokter Suci, pria itu membawa sang istri keluar dari ruangan. Wajah bahagia nampak pada keduanya. Pelan-pelan Tamar mengajak Stella menuruni anak tangga. Mereka langsung menuju apotik untuk menebus obat. Saat tengah menunggu giliran, Geya datang menghampiri lalu duduk di samping sepupunya.
“Gimana hasilnya, kak?”
“Alhamdulillah aku hamil.”
“Alhamdulillah, selamat ya, kak. Aku ikutan senang loh.”
Geya langsung memeluk Stella. Gadis itu juga merasa bahagia akan kabar bahagia tersebut. Tak lupa dia mengucapkan selamat pada Tamar yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyuman. Pria itu masih berhati-hati kalau hendak bicara dengan Geya.
“Kak, sekarang berat badan kakak berapa?”
“Ngapain lo nanya-nanya?”
“Ya nanya aja.”
“50 kg.”
“Masih ideal lah. Kan kakak tingginya 165 ya. Tapi delapan bulan kemudian pasti kaya bola. Secara kakak kan makannya banyak. Ngga hamil aja bisa ngabisin satu bakul kecil, apalagi kalau hamil.”
Mata Stella membulat mendengar ucapan adik sepupunya ini. Sekuat mungkin Tamar berusaha menahan tawa yang hendak meledak. Rupanya nafsu makan Stella yang luar biasa sudah menjadi rahasia umum di keluarga.
“Kayanya kakak ngga perlu dikasih obat nafsu makan lagi. Bang.. siap-siap aja kantong jebol, hihihi…”
“Mulut lo ya, pengen gue karetin kali,” geram Stella.
“Kenyataan itu, kak. Bang Tamar juga udah tahu.”
“Iya, bang Tamar udah tahu kalau gue makannya banyak. Tapi Daffa kan belum tahu kalau tidur lo suka ngiler sama ngigo.”
Kali ini giliran mata Geya yang membelalak mendengarnya. Senyum penuh kemenangan nampak di wajah Stella. Dia sekarang punya cara untuk meredam mulut Geya yang sudah seperti kompor mledug.
“Baek-baek lo ama gue. Kalau ngga mau semua rahasia jelek lo gue bongkar ke Daffa.”
“Stella..”
Kepala Tamar, Stella dan Geya langsung menoleh ke sumber suara. Orang yang dibicarakan sudah berada di samping mereka. Geya melemparkan senyuman semanis madunya pada sang calon imam. Stella hanya mencebikkan bibirnya melihat sikap Geya yang tiba-tiba berubah imut.
“Kalian ngapain di sini? Siapa yang sakit?”
“Kak Stella yang sakit,” jawab Geya.
“Sakit apa?”
“Masuk angin, bang. Kebanyakan ditiup sama bang Tamar,” ceplos Geya lagi.
Sebuah jitakan mendarat di kepala gadis itu. Bukan Stella yang melakukannya, tapi Tamar. Hari ini sudah dua kali gadis itu sukses membuatnya malu. Daffa terdiam sebentar, namun kemudian dia tersenyum bahagia.
“Stella hamil ya.”
“Alhamdulillah.”
“Wah selamat ya. Tokcer juga, bang. Tuh GPS di badan lo udah dipindah ke cebong lo ya, makanya sekarang tepat sasaran dan langsung bikin Stella masuk angin, hahaha..”
Tidak Geya, tidak Daffa sama-sama mengeluarkan kata-kata absurdnya. Stella hanya menepuk keningnya. Pantas saja Daffa kuat ditempeli Geya lama-lama, ternyata kelakuan keduanya hampir sama.
“Lo belum pernah keselek tiang listrik ya, Daf,” kesal Tamar.
“Alhamdulillah belum, bang. Tapi kalau Stella kayanya sering keselek rudal makanya melendung, bhuahaha..”
“Hahaha…”
Geya tertawa tak kalah kencang. Kembali wajah Tamar dibuat memerah oleh dokter residen tersebut. Panggilan apoteker menyelamatkan suami istri itu. Stella bangun lalu mengambil obat yang diresepkan untukya. Setelah mengambil obat, Tamar langsung mengajak sang istri pulang. Sebelum Daffa atau Geya meledek mereka lagi.
Sepeninggal Stella dan Tamar, Daffa mengajak Geya meninggalkan area apotik. Pria itu berjalan menuju mesin yang menjual minuman. Dia membelikan minuman sari buah untuk gadis di sebelahnya. Kemudian mereka duduk di ruang tunggu yang ada di lobi.
“Makasih, bang.”
“Sama-sama.”
“Besok mau aku bawain makan siang lagi, ngga?”
“Ngga ah. Malu aku, dibawain makan siang terus. Besok aku traktir kamu makan aja deh. Mau, ngga?”
“Boleh dong, abang sayang.”
Senyum terkulum di bibir Daffa mendengar panggilan Geya untuknya. Sebagai pria yang memiliki banyak penggemar, dia sudah terbiasa mendengar panggilan sayang atau yang lebih mesra dari itu. tapi kalau Geya yang mengucapkan terdengar lebih lucu dan menggemaskan.
“Abang belum punya pacar, kan?”
“Belum.”
“Aman. Abang jangan pacaran sama yang lain, ya. Inget loh ada aku yang nungguin jawaban abang lulus kuliah nanti.”
“Iya. Kamu sendiri gimana magangnya?”
“Lancar, bang. Semua staf humas baik-baik orangnya. Aku suka kerja di sana. Cuma ada satu yang bikin sebel.”
“Siapa?”
“Tuh si dokter Ransel.”
Geya menunjuk Ansel yang kebetulan melintas tak jauh dari mereka dengan dagunya. Seperti memiliki firasat, dokter tersebut menoleh ke arah Daffa dan Geya. Matanya terus memandangi pasangan tersebut. Kemudian dia melangkahkan kakinya mendekati keduanya.
“Daffa!”
“Ya, dok.”
__ADS_1
“Pasien yang habis dioperasi, apa sudah kamu pantau lagi?”
“Sudah, dok. Satu jam lalu.”
“Kalau gitu pantau lagi! Kamu tahu kalau kondisinya belum benar-benar membaik. Kalau terjadi sesuatu padanya, apa kamu mau bertanggung jawab?! Cek tekanan darahnya, dan juga periksa urinenya. Apa warnanya masih kuning atau sudah lebih cerah.”
“Baik, dok. Ge.. aku pergi dulu ya.”
Hanya anggukan kepala saja yang diberikan oleh Geya. Daffa bergegas meninggalkan tempatnya. Kini hanya tinggal Geya dan Ansel saja. Gadis itu bangun dari dudukya, matanya menatap tajam pada Ansel. Kemudian dengan satu kali hentakan, dia menginjak kaki Ansel hingga pria itu mengaduh kesakitan. Tanpa mengatakan apapun, Geya segera meninggalkan Ansel tanpa menoleh lagi.
“Ehmm.. benar-benar gadis yang unik. Aduh kakiku sakit.”
Ansel mendudukkan diri di kursi kemudian melapaskan kakinya dari sepatu. Dia mengusap-ngusap kakinya yang tadi diinjak Geya. Dari sudut matanya Geya melihat apa yang dilakukan Ansel. Senyum tipisnya tersungging.
“Rasain, lo! Sapa suruh lo galak-galak ama yayang Daffa.”
🍁🍁🍁
Sepulang dari rumah sakit, Stella dan Tamar tidak langsung kembali ke unit apartemennya. Tapi lebih dulu mereka mengunjungi kedua orang tua Stella. Tentu saja mereka ingin memberitahukan kabar gembira pada semua keluarga. Tamar menghentikan mobilnya di depan rumah Cakra.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Stella.. kok datang ngga bilang-bilang.”
Anya menyambut kedatangan anak sulungnya itu. Dia memeluk anak yang dulu kerap membuat kepalanya pusing. Wanita itu mengusap lengan Tamar lalu memintanya masuk ke dalam. Stella segera menghampiri Cakra yang tengah menonton berita bersama dengan sang istri. Dia mencium punggung tangan kedua eyangnya, disusul oleh Tamar.
“Papi belum pulang, mi?” tanya Stella sambil mendudukkan diri di samping sang mami.
“Belum. Biasa kalau mau produksi film baru, pasti papimu lembur.”
“Film apa, mi?”
“Horor komedi. Judulnya aja udah aneh.”
“Apaan emang, mi?”
“Derita Kuntilanak Jomblo.”
“Hahaha…”
Baik Stella maupun Tamar tidak bisa menahan tawanya mendengar judul yang disebutkan oleh Anya. Ada-ada saja yang memilih judul tersebut. Entah bagaimana mereka menggambarkan penderitaan kuntilanak yang jomblo akut. Tapi tidak aneh juga kalau sampai neng kunti menjomblo. Melihat wajahnya saja sudah seram. Siapa juga yang mau jadi pasangannya.
“Tumben ke sini ngga bilang-bilang. Biasanya kan kalau mau ke sini kamu suka pesan makanan seabreg.”
“Hehehe.. mami gitu banget. Aku sama bang Tamar mau kasih kabar bahagia.”
“Apa?”
“Hasil semprotan bang Tamar udah ada di perutku, mi,” Stella mengusap perutnya.
Wajah Tamar lagi-lagi dibuat memerah. Sang istri memberikan kabar bahagia dengan kata-kata nyelenehnya. Mendengar itu, tentu saja Anya, Cakra dan Sekar terkejut sekaligus bahagia. Refleks Anya langsung memeluk sang anak karena bahagianya. Sekar bangun dari duduknya lalu memeluk cucunya itu. Cakra memeluk Tamar seraya menepuk-nepuk punggungnya.
“Selamat untuk kalian. Eyang benar-benar bahagia. Akhir minggu ini kita syukuran ya.”
“Boleh eyang. Buat makanan yang banyak ya.”
“Pasti itu. Selain kami siapa lagi yang sudah tahu?”
“Geya sama Daffa. Tadi kita ketemu di rumah sakit.”
“Geya ngapain di rumah sakit? Ngintilin Daffa?” tanya Cakra dengan kening berkerut.
Kali ini Tamar tidak bisa menahan tawanya lagi. Semua orang yang mendengar gadis itu berada di rumah sakit, pasti menyangka kalau Geya sedang mengintili Daffa. Kalau dipikir-pikir kelakuan Geya hampir mirip seperti Stella. Dulu istrinya itu juga sering mengikutinya demi bisa terlibat dalam kasus yang ditanganinya.
“Aku juga nebak gitu tadi, eyang. Eh dia bilang fatonah. Katanya dia magang di rumah sakit.”
“Magang apa ngintilin Daffa?”
“Dua-duanya kayanya. Aku yakin banget, dia pasti udah nyebarin ke semua staf kalau dia calonnya Daffa.”
“Hahahaha.. kasihan banget Daffa, pasarannya turun.”
“Jangan salah, di rumah sakit banyak banget penggemar Daffa,” kali ini Tamar ikut nimbrung dalam pembicaraan.
“Masa? Ck.. si Geya mah ngga akan peduli. Dia pasti punya banyak cara buat nyingkirin fans-fans Daffa.”
Percaya tidak percaya, tapi sepertinya apa yang dikatakan Stella benar. Pasti gadis itu bisa menyingkirkan para ulat bulu yang mencoba mendekati lelaki pujaan hatinya.
“Mi.. aku pengen dimasakin udang tempura sama cumi saos singapura.”
“Mami ke supermarket dulu beli udang sama cuminya.”
“Biar aku yang antar, mi. Sekalian aku mau beli susu hamil,” tawar Tamar.
“Boleh. Mami ganti baju dulu ya.”
Anya bangun dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar. Tak lama dia keluar sambil membawa tasnya. Tamar berpamitan pada Cakra dan Sekar kemudian mengikuti langkah sang mami mertua. Keduanya segera masuk ke dalam mobil dan kendaraan roda empat tersebut segera meluncur pergi.
“Eyang, aku keluar dulu, ya.”
“Mau kemana?”
“Mau ke pos satpam.”
“Ngapain?”
“Ngontrol aja, eyang. Tuh para satpam kerjanya benar ngga, sama sekalian mau bagi-bagi angpau.”
“Udah kaya pak rete aja kamu.”
Stella hanya menyunggingkan senyuman pada Cakra. Dia segera keluar dari rumah lalu berjalan menuju pos satpam yang letaknya di depan blok rumah eyangnya. Tujuannya tentu saja ingin bertemu dengan Suzy. Walau sudah tidak bisa melihat makhluk astral lagi, tapi tidak ada salahnya mencoba. Dia kangen ingin ngobrol dengan sahabatnya astralnya lagi.
Dari kejauhan dia melihat tiga orang satpam berjaga di sana. Dari ketiga orang tersebut, ada satpam yang paling muda. Stella yakin sekali kalau satpam itu yang bernama Johan, kecengan Suzy. Mereka tengah berbicara dengan seorang anak laki-laki. Entah apa yang mereka bicarakan.
“Selamat sore bapak-bapak yang ganteng,” sapa Stella.
“Eh neng Stella. Apa kabarnya, neng? Udah nikah jarang lihat di sini,” jawab pria berkepala plontos. Dia adalah kepala satpam di kompleks ini, namanya Sastro.
“Ya namanya juga udah nikah, pak. Harus ikut suami dong.”
Stella terus memandangi pos satpam yang luasnya tidak seberapa, tapi tidak ada Suzy di sana. Matanya kemudian melihat pada Johan. Pria bertubuh jangkung itu sampai grogi sendiri dilihat oleh wanita cantik seperti Stella. Anak kecil yang sedang bersama para satpam terus memperhatikan nyonya Tamar tersebut.
“Nyari apa, neng?” tanya Sastro.
“Ngga nyari apa-apa. Tapi aku baru lihat bapak yang ini,” Stella menunjuk pada Johan.
“Oh dia emang baru, neng. Namanya Johan, alias Juhana.”
__ADS_1
“Saya mau ke toko di depan sana. Bapak-bapak mau es krim, ngga?”
“Boleh, neng.”
“Adek namanya siapa?” Stella melihat pada anak laki-laki di dekat pos satpam.
“Dia Dito, neng. Tiap sore dia emang seneng banget main ke sini. Cita-citanya pengen jadi satpam kali, hahaha..”
“Dito mau es krim, ngga?”
“Mau kak.”
“Ayo temanin kakak.”
Bersama dengan Dito, Stella menuju toko yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pos satpam. Dia segera mengambil empat buah es krim untuk dirinya dan juga para satpam. Sedang untuk Dito dibiarkan memilih sendiri. Setelah memilih dan membayar es krim, mereka kembali ke pos satpam.
“Aduh, makasih neng.”
“Sama-sama, pak.”
Stella dan Dito memilih duduk di kursi bale yang ada di bawah pohon sambil memakan es krimnya. Dito terus melihat ke samping kiri Stella, seperti tengah melihat sesuatu. Stella yang menyadari itu langsung bertanya.
“Kamu lihatin apa?”
“Itu temannya kakak, dari tadi ngintilin terus. Namanya Suzy.”
“Hah? Kamu bisa lihat Suzy”
“Bisa kak.”
“Gimana mukanya sekarang?”
“Cantik, kaya orang Korea.”
Senyum mengembang di wajah Stella. Ternyata Suzy tidak merubah penampakannya, masih seperti yang dimintanya dulu. Mengambil wajah Bae Suzy, salah satu aktris favoritnya. Kemudian wanita itu melihat pada Dito yang tengah asik memakan es krimnya.
“Kamu kenal Suzy?”
“Kenal, kak. Dia baik, dia suka ngintilin pak Johan. Aku sering ke pos satpam juga karena ada dia. Aku ngga punya teman, jadi dia yang jadi temanku. Eh iya, Suzy tanya kabar kakak.”
“Kabarku baik. Suzy.. sekarang gue lagi hamil.”
“Selamat katanya, kak. Bang Tamar tokcer juga.”
“Iya, dong. Suami gue gitu loh. Lo sendiri gimana ama Johan?”
“Baik. Dia betah tinggal di rumah bang Johan. Orangnya baik dan suka ngurus ibunya yang sakit-sakitan.”
“Lo jangan nyusahin Johan, ya. Kalo lo nempel mulu sama Johan, tar dia ngga bisa punya pasangan loh.”
“Pak Johan belum mau punya pasangan, masih mau ngurus ibunya dulu yang sakit.”
“Wah lo sekarang ngeceng cowok soleh ya. BTW gue kangen sama elo. Gue kangen kita aksi bareng nangkep penjahat, gue kangen marahin elo.”
“Dia juga kangen, kak. Lihat kakak sehat, hidup bahagia dan mau punya anak, dia ikut bahagia.”
“Makasih ya, Suz… lo emang betie gue.”
Stella terus berbicang dengan Suzy dengan Dito menjadi perantara. Selain berbincang dengan Suzy, Stella juga berbicara dengan Dito. Ternyata rumah Dito berada di belakang kompleks perumahan, di dekat rumah Johan. Ayah dan ibunya sibuk berjualan bakso, kakaknya sibuk dengan sekolahnya. Dito yang sekarang berusia enam tahun, tidak punya teman. Banyak yang menganggapnya aneh karena bisa melihat makhluk astral.
Melihat mobil suaminya sudah kembali, Stella mengajak Dito kembali ke toko tadi. Dia membeli empat buah amplop dan juga camilan untuk Dito bawa pulang. Di tiga amplop dia memasukkan uang masing-masing dua lembaran merah. Sedang di amplop satunya memasukkan lima lembar uang berwarna merah. Untuk Dito dia memberikan satu lembar lima puluh ribuan.
“Ini buat kamu jajan. Kakak akan sering-sering ke sini buat ngobrol lagi sama Suzy. Kalau kamu mau makan atau jajan, kamu dateng aja ke rumah yang pagarnya hitam, nomer 29. Itu rumah orang tua kakak. Bilang aja kamu temannya kakak. Ok.”
“Iya, kak. Makasih.”
“Ini camilan buat di rumah. Jagain Suzy buat kakak ya.”
“Siap, ka.”
Setelah membayar semua belanjaan, Stella kembali ke pos satpam. Dia memberikan tiga amplop pada semua satpam yang berada di sana. Tentu saja ketiga pria itu merasa senang. Mereka mengucapkan banyak terima kasih pada Stella.
“Pak Johan, ini buat ibunya bapak. Kata Dito ibunya bapak sakit, ya. Pakai uang ini buat beli obat atau ke dokter.”
“Ya ampun ini benar buat saya?” Johan nampak terkejut.
“Iya, pak.”
“Ambil, Jo. Rejeki namanya.”
“Terima kasih, neng.”
“Sama-sama, pak. Kalau ibunya bapak tiba-tiba sakit, bawa aja ke IGD rumah sakit Ibnu Sina. Cari dokter Daffa atau Arsy, terus bilang dikirim sama saya.”
“Makasih, neng. Makasih.”
“Sama-sama, pak. Saya pulang dulu ya. Dito, salam ya buat Suzy.”
“Iya, kak.”
Sambil bersenandung Stella kembali ke rumahnya. Hatinya bahagia bisa berbincang dengan Suzy walau harus melalui perantara. Setidaknya itu bisa mengobati kerinduannya. Selain itu, dia juga senang bisa memberikan kebahagiaan untuk para satpam tersebut. Walau uang yang diberikannya tidak seberapa, tapi bagi mereka itu sangat berarti.
“Kamu dari mana, sayang?” tegur Tamar ketika melihat istrinya membuka pintu pagar.
“Abis dari pos satpam. Aku abis ngobrol sama Suzy. Dia bilang selalu ada di sana, kalau pak Johan tugas.”
“Emang kamu masih bisa lihat dia?”
“Ngga. Tapi ada anak namanya Dito. Dia yang bantu aku komunikasi sama Suzy. Aku kangen dia, bang.”
Wajah Stella berubah sendu ketika mengatakan hal tersebut. Banyak hal yang sudah mereka lalui bersama dan menjadi kenangan untuknya. Tamar mendekat lalu memeluk tubuh istrinya itu.
“Kalian sudah hidup di alam masing-masing. Aku yakin Suzy juga bahagia dengan kehidupannya sekarang. Kamu jangan sedih lagi. Kalau kamu kangen dia, kamu bisa datang sesekali ke sini.”
“Makasih, bang.”
“Kalau aku yang pergi lama, kamu kangen ngga?” tanya Tamar sambil melepas pelukannya.
“Abang mau kemana? Jangan pergi lama-lama, aku kangen.”
“Abang ngga kemana-mana, cuma nanya aja. Kali aja kamu kangennya sama Suzy aja.”
“Ish abang masa cemburu sama Suzy. Kalau abang kan belahan jiwaku.”
Senyum terbit di wajah Tamar. Dia menangkup wajah Stella dengan kedua tangannya lalu memberikan kecupan di bibirnya. Sambil memeluk pinggang sang istri, keduanya masuk ke dalam rumah. Stella langsung menuju dapur untuk melihat sang mami memasak untuknya.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Ya ampun keasyikan ngetik sampe ngga sadar udah 2800 kata. Mudah²an kalian ngga gumoh ya bacanya🤣