
Waktu pernikahan Stella dan Tamar sudah tiba. Seluruh anggota keluarga Hikmat, keluarga Ramadhan dan juga keluarga Tamar sudah berkumpul di ballroom hotel Arjuna. Zar dan Arya yang bertugas menunggu kedatangan petugas KUA berjaga di depan lobi hotel. Tak berapa lama, sebuah kendaraan roda dua berhenti di depan lobi. Seorang pria paruh baya turun dari motor.
“Dengan pak Badar?” tanya Zar.
“Betul. Pernikahan keluarga Hikmat di sini, bukan?”
“Iya, pak. Mari masuk.”
Bersama dengan Arya, Zar memandu pria itu masuk ke dalam ballroom. Kedatangannya di ballroom langsung disambut oleh Irvin dan juga Cakra. Keduanya mengantar pria bernama Badar itu menuju meja akad yang berada di bagian depan ballroom. Di sana Tamar sudah duduk menunggu.
“Maaf saya sedikit terlambat. Maklum musim nikah, jadwal padat merayap,” ujar Badar.
“Tidak apa pak Badar. Yang penting ngaretnya ngga sampai lewat tengah malam. Kasihan calon pengantin yang udah ngga sabar belah duren,” celetuk Cakra yang langsung disambut tawa Badar.
Tamar hanya menundukkan kepalanya saja. Akad belum dimulai tapi serangan mental sudah terjadi. Pria itu mengangkat kepalanya ketika sebuah tepukan mendarat di pundaknya. Ternyata Irzal, sahabatnya yang melakukan itu.
“Tenang aja, jangan tegang. Inget bener-bener nama Stella, jangan salah sebut. Jangan sampe tiga kali salah ijab kabul.”
“Berisik. Udah sana, bikin tegang gue aja.”
“Hahaha…”
Puas membuat sahabatnya bertambah tegang, Irzal segera menuju kursi di dekat sang istri. Sang penghulu nampak masih melihat kelengkapan dokumen pasangan calon pengantin. Sambil memeriksa dokumen, dia mempersilahkan saksi dari kedua keluarga duduk di tempatnya masing-masing. Kemudian matanya melihat pada toples yang ada di dekat mempelai pria.
“Ai ieu naon (ini apa?).”
“Oh.. itu mas kawinnya,” jawab Irvin.
“Karek ningali mas kawin model kieu, hahaha… (baru tahu mas kawin model kaya gini, hahaha..).”
“Maklum aja, mempelai wanitanya rada antik pak. Ngga ada duanya, somplaknya benar-benar haqiqi. Nyebutnya aja pake qalqalah, pak.”
Mata Irvin melotot mendengar Barra begitu lancar menjelaskan kelakukan anaknya yang memang di atas rata-rata kenormalan. Elang hanya mengulum saja mendengarnya. Dia diaulat menjadi saksi pernikahan dari pihak Tamar. Sedang dari pihak Stella, Barra yang menjadi saksi.
“Tos siap cep Tamar? (sudah siang cep Tamar?).”
“Sudah, pak.”
“Namina Taufik Urahman, leres? (namanya Taufik Urahman, benar?).”
“Benar, pak.”
“Naha dipanggilna Tamar? Kedahnya Taman atanapi Takur,” sang penghulu tertawa setelahnya.
Hanya senyum miris yang diberikan Tamar. Ternyata penderitaannya masih belum berakhir. Sang penghulu lagi-lagi melontarkan kalimat yang membuatnya malu. Apalagi jelas terdengar suara tawa para sahabat durjananya setelah mendengar ucapan Badar.
“Cep Tamar bogoh henteu ka neng Stella? (cep Tamar cinta ngga sama neng Stella?).”
“Cinta banget, pak. Malah kemarin dia sengaja majuin jarum jam biar cepet jam sembilan pagi, hahaha,” celetuk Aidan seraya tertawa puas.
“Dari tadi sibuk nyari tutorial malam pertama juga. Buat kado spesial ke calon istri, hahaha,” celetuk Irzal.
“Sapu tangan bekas ingus Stella juga dipegang terus sambil diciumin, pak,” sahut Daffa.
“Tiap malem ngigo terus pak. Ppsssttt.. ppssstt…” sambung Zar.
“Hahaha…”
Dengan wajah kesal Tamar melihat pada para sahabat somplaknya. Tapi keempat orang tersebut terus saja tertawa tanpa merasa bersalah sama sekali. Suasana ballroom riuh oleh suara tawa. Wajah Tamar sukses memerah mendengarnya.
“Naha ngigona ppsstt? (kenapa ngigonya ppssttt?).”
“Kan Stella itu merk pengharum ruangan pak. Bunyinya ppsstt.. ppsstt..”
Badar hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar jawaban Zar. Ternyata keluarga calon pengantin tidak kalah absurd seperti dirinya. Kemudian pria itu melihat pada Tamar yang wajahnya sudah seperti udang rebus.
“Tos.. tos.. ah.. karunya ieu calon panganten bisi grogi. Mun pingsan barabe, moal jadi akadna (udah.. udah.. kasihan ini calon pengantinnya takut grogi. Kalau pingsan berabe, ngga akan jadi akadnya).”
“Hahaha..”
“Cep Tamar tos siap nya? Mangga pak Irvin (cep Tamar sudah siap ya? silahkan pak Irvin).”
Irvin segera menggenggam tangan Tamar dengan erat. Matanya menatap ke arah pria yang sebentar lagi akan menjadi menantunya tanpa berkedip. Tamar menarik nafas dalam sebelum prosesi ijab kabul dilakukan.
“Bismillahirrahmanirrahiim,” ujar Irvin.
“Ananda Taufik Urahman, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Auristella Danastri Dunia binti Irvin Mahaprana dengan mas kawin uang tunai sebesar satu juta rupiah dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Au.. Au.. Au apa ya om?”
“Au oooo..” celetuk Zar.
__ADS_1
Gelak tawa kembali terdengar. Irvin membisikkan nama lengkap anaknya pada Tamar. Pria itu menganggukkan kepalanya. Mencoba mengingat nama lengkap calon istrinya. Sang penghulu memberikan tanda pada Irvin untuk melanjutkan ijab kabul.
“Ananda Taufik Urahman, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Auristella Danastri Dunia binti Irvin Mahaprana dengan mas kawin uang tunai sebesar satu juta rupiah dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Aurisketela..”
“Stella bukan ketela,” celetuk Cakra.
Tamar menundukkan kepalanya lunglai, lagi-lagi dia salah menyebut nama panjang Stella. Sang penghulu meminta anggota keluarga yang lain menuliskan nama Stella di secarik kertas supaya Tamar bisa lancar menyelesaikan kalimat ijab kabul di percobaan yang ketiga.
Dayana mendekat dengan satu gelas air mineral kemasan, lalu memberikannya pada Tamar. Pria itu menyeruput minuman tersebut. Bima mendekat lalu memijat bahu sang kakak agar lebih rileks.
“Tos siap cep Tamar?”
“In Syaa Allah.”
“Dibaca we, meh teu hilap deui (Dibaca aja, biar ngga salah lagi).
Kembali Irvin menggenggam tangan Tamar. Mata Tamar kini tertuju pada selembar kertas di depannya. Dalam hatinya terus berdoa agar kali ini tidak salah lagi mengucapkan nama Stella.
“Ananda Taufik Urahman, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Auristella Danastri Dunia binti Irvin Mahaprana dengan mas kawin uang tunai sebesar satu juta rupiah dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Auristella Danastri Dunia binti Irvin Mahaprana dengan mas kawin tersebut tunai!”
“Sah?”
“SAAAHHH!!”
“Alhamdulillah.”
Terlihat kelegaan di wajah Tamar. Akhirnya drama ijab kabul yang membuatnya gugup sampai harus mengulang sampai tiga kali selesai juga. Kini dirinya menunggu sang mempelai perempuan keluar dari persembunyiannya.
Semua mata langsung tertuju pada ruangan kecil yang ada di dalam ballroom. Dari dalamnya keluar Stella didampingi oleh Anya dan Naya. Kedua wanita itu berjalan mengapit pengantin wanita yang sudah sah menjadi istri dari AKP Taufik Urahman. Dengan kepala tertunduk, Stella terus berjalan hingga di dekat meja akad.
Tamar berdiri setelah sang istri sampai di dekatnya. Untuk sesaat dia terbengong melihat wajah cantik istrinya. Anya sampai harus menyadarkan menantunya itu dengan berdehem. Tamar mengulurkan tangannya lalu membantu Stella duduk di samping dirinya. Sang penghulu tersenyum melihat pengantin wanita yang baru saja tiba.
“Pantes we cep Tamar meni gugup. Da neng Stellana geulis pisan (pantas cep Tamar gugup. Neng Stellanya cantik banget),” puji Badar.
Stella duduk berhadapan dengan Tamar. Pria itu menerima kotak beludru berisikan cincin pernikahannya dengan Stella.
Dia mengambil cincin pernikahan kemudian menyematkannya di jari manis Stella. Gadis itu mengambil cincin tersisa kemudian menyematkan di jari Tamar.
Selesai dengan foto bersama, kedua pengantin kembali duduk di tempatnya. Mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh sang penghulu. Badar memberikan nasehat pernikahan pada pasangan pengantin baru, utamanya tentang hak dan kewajiban suami istri.
“Parantos nikah teh, cep Tamar sareng neng Stella bade kamana? (setelah nikah, cep Tamar sama neng Stella mau kemana?”
“Ngga kemana-mana, pak. Mau resepsi di sini juga,” jawab Stella.
“Upami tos resepsi bade kamana? (kalau sudah resepsi mau kemana?).”
“Pulang,” jawab Tamar.
“Masuk kamar,” jawab Stella.
“Kumaha ieu, nu hiji masuk kamar, nu hiji uih (gimana ini. yang satu masuk kamar, yang satu pulang).”
“Yang masuk kamar, fix udah ngga sabar, pak!” celetuk Zar.
Sontak Stella menolehkan kepalanya pada sepupunya yang super jahil tersebut. Gadis itu mengepalkan tangannya ke arah Zar, namun hanya dibalas ledekan saja oleh Zar. Tamar memberi kode pada Stella untuk tidak menanggapi Zar.
“Cep Tamar tos nyarios bogoh teu acan? (cep Tamar udah bilang cinta belum?).”
“Belum, pak,” jawab Stella cepat.
“Hahahaha.. ngarep tuh Tam…” Adian.
“Cepet bilang sarangbeo,” Irzal.
“Pake pantun aja biar seru,” Daffa.
Sebisa mungkin Tamar menulikan telinganya dari ledekan pada sahabatnya. Stella hanya terkikik geli melihat wajah Tamar yang sudah memerah.
“Neng Stella tos nyarios bogoh ka akang Tamar? (neng Stella udah bilang cinta sama kang Tamar?).”
“Ngga pak, males banget. Masa cewek dulu yang bilang.”
“Uhuuuyyyy… denger tuh Tam! Jadi laki pasif banget. Bilang lope-lope aja susah banget,” Zar.
“Sok atuh kang Tamar, nyarios bogoh ka neng Stella (ayo kang Tamar, ngomong cinta sama neng Stella).”
__ADS_1
Tamar hanya mengusap tengkuknya mendengar ucapan pak penghulu. Lebih baik dirinya menginterogasi terdakwa dari pada harus mengucapkan kata cinta pada Stella di depan orang banyak. Melihat Tamar yang malu-malu meong, Badar pun bersiap untuk membimbing.
“Sok kang Tamar dibimbing ku bapak (ayo kang Tamar dibimbing bapak).”
Kedua pengantin tersebut kembali diminta duduk berhadapan sambil berpegangan tangan. Daffa berinisiatif maju ke depan, mengambil mic lalu mengarahkannya ke mulut Tamar. Sang penghulu bersiap melontarkan kata-kata cintanya.
“Neneng Stella anu geulis (neneng Stella yang cantik),” Badar memberi kode pada Tamar untuk mengikuti kata-katanya.
“Neneng Stella anu geulis.”
“Di hati akang hanya ada dirimu seorang. Di setiap helaan nafasku hanya tersebut namamu.”
Tamar tak mengikuti apa yang dikatakan sang penghulu. Dia menolehkan kepalanya, tatapan matanya menunjukkan protesan. Namun Badar bergeming, dia memerintahkan Tamar mengikuti apa yang dikatakannya. Mau tak mau Tamar mengikuti ucapan pria itu karena desakan keluarganya walau merasa geli sendiri.
“Di hati akang hanya ada dirimu seorang. Di setiap helaan nafasku hanya tersebut namamu.”
Stella terkikik mendengar penyataan cinta terpaksa pada dirinya. Apalagi saat mengatakan itu wajah Tamar sudah seperti permen gula asam.
“Sok ayeuna neng Stella (ayo sekarang neng Stella).”
“Saya? Ngga usahlah pak, hehehe..”
“Harus, biar adil,” cetus Tamar.
Lirikan maut langsung diberikan oleh Stella pada Tamar. Tapi pria itu tidak peduli. Stella harus merasakan malu seperti yang dirasakannya tadi. Apalagi rayuan maut sang penghulu sangat lebay dotcom di matanya.
“Akang Tamar anu kasep (kang Tamar yang ganteng).”
“Akang Tamar anu kasep,” Stella mengikuti dengan setengah hati.
“Dirimu ibaratkan hujan di tengah siang terik. Memberiku kesegaran dengan cintamu.”
“Dirimu ibaratkan hujan di tengah siang terik. Memberiku kesegaran dengan cintamu.”
Setelah mengatakan itu, Stella memperagakan orang yang seperti hampir muntah. Arsy tak bisa menahan tawanya. Untung saja, saat menikah dulu, dia tidak mendapatkan penghulu sableng seperti Badar.
“Neng Stella, aku punya pantun untuk neng. Sok akang,” Badar kembali memberi kode.
“Neng Stella, aku punya pantun untuk neng.”
“Apa itu, kang?” sang penghulu melihat pada Stella.
“Apa itu, kang?” Stella mengikuti.
“Jinak-jinak burung merpati. Tak sejinak burung sendiri.”
“Jinak-jinak burung merpati. Tak sejinak burung sendiri,” perasaan Tamar langsung tak enak saat mengikuti ucapan sang penghulu.
“Burung merpati dipegang lari.”
“Burung merpati dipegang lari.”
“Burung sendiri dipegang adek berdiri.”
“Bhuahahaha…” tawa langsung terdengar dari semua yang datang. Badar terus melihat pada Tamar, meminta pria itu mengikutinya.
“Burung sendiri dipegang adek berdiri.”
Suara gelak tawa membahana memenuhi seisi ballroom. Aidan sampai memegangi perutnya karena tak bisa berhenti tertawa. Sahabatnya yang super jutek harus tunduk mengikuti arahan penghulu sableng.
“Bales pantunna akang, neng Stella.”
“Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi.”
“Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi.”
“Wahai akang Tamar yang tampan. Sini adek pegang biar berdiri.”
Mata Stella membulat. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tamar mengepalkan tangan di depan mulutnya, mencoba menahan tawa yang hendak meledak. Tapi mau tak mau dia akhirnya mengikuti ucapan penghulu itu.
“Wahai akang Tamar yang tampan. Sini adek pegang biar berdiri.”
Kembali suara gelak tawa terdengar. Pasangan pengantin hanya bisa menundukkan kepalanya. Wajah keduanya sudah bersemu merah dikerjai habis-habisan oleh sang penghulu. Irvin, Elang dan Barra tak bisa berhenti tertawa. Sungguh sebuah akad nikah yang tidak dapat dilupakan seumur hidup.
🍂🍂🍂
**Uhuuyy.. Udah sah ya Tamar - Stella..
Resepsinya besok ya. Jangan lupa yang mau dateng, dress codenya Kuning Buluk🤣
Aku mau nyiapin dulu upacara pedang poranya😁
__ADS_1
NR ngga up ya. Hari Kamis, hari liburku, aku cuma bisa kasih up HIL aja, ok😉**