
“Elina…”
Kepala anak itu bergerak ke kanan dan kiri mencari suara sang papa yang memanggilnya. Zar segera mengangkat sang anak dari baby stroller. Pria itu menggendong anaknya sambil tak henti mengajaknya bicara. Usia Elina sekarang sudah tiga bulan, dan bobot tubuhnya juga semakin bertambah.
Dari dalam rumah, Renata datang dengan piring berisi pempek di tangannya. Dia baru saja selesai membuat makanan khas Palembang tersebut bersama dengan mama mertuanya. Wanita itu mengambil sepotong pempek yang sudah diberi irisan timun, lalu menyuapkan ke mulut suaminya.
“Enak ngga, mas?”
“Ehm.. enak. Ini ngga pake ikan, ya?”
“Iya, mas. Pempek dos.. habisnya aku males ke pasar cari ikan.”
“Ini juga udah enak, mantul. Tapi kuahnya kurang pedas.”
“Mau ditambah sambel lagi? Aku sengaja bikin sambelnya pisah. Takutnya mas ngga suka pedas.”
“Boleh deh.”
Renata kembali masuk ke dalam rumah. Wanita itu menambahkan sambal ke dalam kuah cuko yang ada di mangkok. Setelahnya dia segera kembali ke depan. Zar masih mengajak anaknya bicara. Dibanding sang istri, Zar memang lebih aktif mengajak Elina bicara. Ada saja yang dibicarkan pria itu. Dia bisa tahan berbicara berjam-jam di depan anaknya. Renata duduk di sebelah zar, kemudian menyuapi lagi suaminya. Wajahnya tersenyum melihat Elina yang nampak serius mendengarkan suara ayahnya.
“Elina nanti kalau udah besar bakalan cerewet ngga, ya?” tanya Zar.
“Pasti cerewet, yang ngajarin ngomong kan papanya yang kalau ngomong ngga putus-putus.”
“Ck.. harusnya kamu bersukur punya suami aktif kaya aku. Mengurangi tugas kamu.”
“Iya deh iya. Makasih ya, sayang.”
Renata mendaratkan ciuman di pipi suaminya. Zar dengan cepat menyambar bibir istrinya, menciumnya secara kilat. Elina hanya memandangi apa yang dilakukan oleh ayah dan ibunya itu.
“Jangan lupa, mas, lusa ada syukuran di rumah om Rey.”
“Iya. Syukuran keberangkatan Daffa sama Geya, kan.”
“Iya. Aku pasti bakalan kangen banget sama Geya.”
“Nanti kalau Elina udah bisa diajak pergi jauh, kita nengok mereka di Boston.”
“Bener, mas?”
Zar menganggukkan kepalanya. Tentu saja Renata senang dengan rencana yang dikatakan suaminya. Selain bisa mengunjungi Geya, dia juga bisa merasakan berkunjung ke luar negeri. Apalagi pergi bersama anak dan suaminya tercinta. Pasti akan menjadi momen yang tidak terlupakan.
“Kita liburan, yuk. Kita ajak Elina ke pantai. Ngga usah yang jauh-jauh, ke Subang, Tasik atau Garut.”
“Nanti aja kalau Elina udah enam bulan, mas. Dia kan udah mulai makan, jadi ngga akan ASI terus.”
“Boleh, sayang. Oh iya, kamu ada rencana apa gitu.”
“Rencana apa, mas?”
“Kali aja kamu bête di rumah terus. Kamu bisa kok bantu mama di yayasan.”
“Kalau sekarang aku lagi menikmati momen sama Elina. Nanti aja kalau dia udah lepas ASI.”
“Iya, sayang. Aku ngga akan ngelarang kamu, asalkan kegiatan yang kamu lakukan itu positif dan ngga membuatmu melupakan tugas sebagai istri dan ibu.”
“Makasih, mas.”
Mata Renata memandangi suaminya yang masih mengajak bicara Elina. Sebuah keberuntungan mendapatkan Zar sebagai suaminya. Pria itu mau menerima dirinya yang sudah tidak suci lagi. Begitu pula dengan semua keluarganya. Rasa sakit dan kesedihannya terbayar dengan mendapatkan Zar sebagai imbalan. Sikap Zar yang selalu melindungi dan menyayanginya, semakin membuat rasa cintanya bertambah subur.
“Makasih ya, mas..”
“Untuk apa?”
“Makasih sudah memilihku yang penuh kekurangan ini. Mas bisa saja mendapatkan yang lebih baik dariku, tapi mas tetap memilihku. Aku sangat mencintaimu,” ucap Renata tulus.
“Aku juga mencintaimu, Rena. Sejak kita pertama bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu. Dan kamu adalah wanita terbaik untukku. Kamu sudah memberikan kebahagiaan terbesar untukku dengan kehadiran Elina.”
__ADS_1
Renata mendekati Zar, kemudian memeluknya. Dia menyandarkan kepalanya di puncak kepala sang suami. Lagi-lagi sang anak memperhatikan apa yang dilakukan oleh mama papanya. Zar menarik tangan Renata, lalu mencium punggung tangannya dengan mesra.
🍁🍁🍁
Nampak sepasang insan sedang tiduran santai di atas bale bambu. Kedua mata mereka betah berlama-lama memandangi langit malam yang bertaburan bintang. Apalagi bulan juga bersinar terang, bentuknya bulat penuh atau yang biasa disebut bulan purnama.
Nalendra merengkuh bahu sang istri yang tiduran di sampingnya dengan menjadikan lengannya sebagai bantalan. Setelah keduanya disibukkan dengan tugas akhir dan juga pekerjaan di perkebunan, akhirnya mereka bisa bersantai sambil bermesraan di bawah langit malam. Nalendra sudah menyelesaikan studi S2-nya, begitu juga Ayumi yang sudah menyelesaikan studinya di jenjang strata satu.
“Bang.. besok kita berangkat jam berapa?” tanya Ayumi.
Rencananya besok mereka akan mengantar Daffa dan Geya ke bandara. Sepupunya itu akan berangkat ke Boston, menemani suaminya yang akan mengambil program fellowship di negeri paman Sam tersebut.
“Abis shubuh aja, ya. Kita nanti nebeng sarapan di rumah ayah El aja.”
“Papa Farel ikut nganter, ngga?”
“Pasti ikut, kan Daffa itu salah satu anak kesayangan papa.”
“Kalau aku kesayangan siapa?”
“Ya kesayangan abang, dong.”
Nalendra menolehkan kepalanya, lalu mencium bibir istrinya dengan mesra. Ayumi membalas ciuman suaminya tak kalah mesra. Kini tubuh wanita itu sudah berada di atas suaminya. Mereka masih belum mengakhiri pertautan bibir. Nalendra mengubah posisi, sekarang Ayumi yang ada di bawahnya. Pria itu mengakhiri ciumannya, jarinya mengusap bibir sang istri yang basah karena salivanya.
“Abang kapan mau rencana punya momongan?”
“Tunda sebentar lagi ya, sayang. Abang masih pengen pacaran sama kamu dulu. Kamu ngga keberatan, kan?”
“Ngga. Aku ikut abang aja.”
“Masuk yuk, sayang. Joni mau ketemu Memes, mau kolaborasi katanya.”
“Ish..”
Ayumi menepuk pelan dada suaminya. Nalendra menegakkan tubuhnya, kemudian menarik tangan sang istri hingga bangun dari posisinya. Keduanya segera masuk ke dalam rumah. Setelah menutup pintu belakang, keduanya segera masuk ke dalam kamar. Konser Joni dan Memes akan digelar sebentar lagi.
🍁🍁🍁
Sudah setengah jam lebih, namun suami dan kedua anak kembarnya belum juga keluar dari kamar mandi. Tadi Irzal menawarkan diri memandikan anak kembarnya, dan Arsy menyetujuinya. Tapi yang terjadi, ritual mandi lebih lama selesai dari perkiraannya. Arsy masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa dua handuk.
Kepalanya mengeleng ketika melihat suaminya masih asik bermain air dengan anak kembarnya. Pria itu berdiri dari bath tub, mengeringkan tubuhnya sebentar, lalu memakai bath robe-nya. Arsy mengambil Arsyad, sedang Irzal mengambil Irsyad. Mereka segera keluar dari kamar mandi.
“Mas udah mandi belum?”
“Belum.”
“Ish.. dari tadi ngapain aja?”
“Main air, hehehe..”
“Udah sana mandi. Biar anak-anak aku yang pakein baju.”
“Mas bantu, biar cepat.”
Bersama, keduanya segera mengeringkan tubuh sang anak, memakaikannya minyak telon, baby cream, bedak, diapers dan pakaian. Arsyad memakai kaos berwarna biru cerah, sedang Irsyad kaos warna putih. Di bagian depan tertulis nama masing-masing. Itu dilakukan agar yang lain tidak tertukar lagi ketika memanggil anak mereka.
“Mas mandi, aku mau nitip anak-anak ke suster.”
Sambil menggendong kedua anaknya, Arsy keluar kemudian memberikan Irsyad pada suster yang membantunya. Keduanya segera ke lantai bawah. Arsy menitipkan anak kembarnya pada mertuanya, kemudian bergegas kembali ke lantai tiga. Wanita itu segera menuju kamar mandi. Dilihatnya sang suami masih berada di bawah pancuran.
Arsy melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya, kemudian berjalan mendekati suaminya. Irzal memang sengaja menunggu momen ini. Dia langsung menarik sang istri ke dalam pelukannya. Sebuah ciuman langsung diberikan olehnya. Bibirnya kemudian turun ke leher, sedang tangannya meremat bongkahan padat di bagian belakang istrinya.
Terdengar lenguhan Arsy saat merasakan sentuhan suaminya. Suasana di kamar mandi menjadi semakin panas. Irzal memilih bermain dulu dengan sang istri mumpung kedua anaknya berada dalam pengawasan orang tuanya.
"I love you," bisik Irzal di sela-sela cumbuannya.
"I love you too," balas Arsy di telinga sang suami.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Hampir semua keluarga ikut mengantar Daffa dan Geya ke bandara. Bandar udara Husein Sastranegara pagi ini dipenuhi oleh keluarga Hikmat dan Ramadhan. Suasana di sana sudah seperti acara halal bilahal kedua keluarga saja. Bergantian para sepupu memeluk Daffa dan juga Geya.
“Baik-baik di sana, Daf. Jaga diri baik-baik. Jaga Geya juga,” nasehat Irzal.
“Iya, bang.”
“Jaga kesehatan, jangan lupa makan, istirahat yang cukup,” sambung Aqeel.
“Jangan menghabiskan waktu terlalu banyak di rumah sakit. Perhatikan Geya juga,” pungkas Rakan.
Kepala Daffa mengangguk-angguk mendengarkan nasehat dari kakak dan kakak sepupunya. Sementara Geya masih berada dalam pelukan Kenan. Pria itu mencium puncak kepala anaknya yang sekarang sudah tertutup hijab. Sehari sebelum keberangkatannya ke Amerika, Geya memang memutuskan untuk menutup auratnya. Tentu saja keputusannya itu disambut gembira oleh sang suami.
“Jaga dirimu baik-baik, Ge. Ikuti apa kata suamimu. Jangan lupa kasih kabar ke papa dan mama.”
“Iya, pa.”
“Kalau kamu udah isi, cepat kasih tahu, mama. Kami akan mengunjungimu di sana,” ujar Zahra.
“Iya, ma.”
Selain memutuskan untuk berhijab, Geya juga sudah melepas alat kontrasepsi yang dipilihnya. Dia dan Daffa sudah mantap memiliki momongan. Walau pun jauh dari orang tua dan saudara, namun wanita itu siap kalau harus mengandung di negeri orang.
Usai bermanja pada kedua orang tuanya, tak lupa Geya berpamitan pada para tetua. Dharmawan juga ikut untuk melepas cucunya itu, bersama dengan Nita. Bergantian Abi, Juna, Kevin, Cakra dan Jojo memeluk anak kedua Kenan itu. Tak lupa nasehat juga mereka sampaikan.
“Kakek akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan Daffa,” Abi.
“Kalau ada waktu libur, usahakan untuk pulang,” Cakra.
“Sering-sering telepon juga ya,” Jojo.
“Kalau sudah isi, kasih kabar,” Kevin.
“Mudah-mudahan saat kamu dan Daffa pulang, kami masih bisa bertemu dengan kalian,” pungkas Juna.
Kata-kata terakhir Juna, membuat Geya menangis. Dia sungguh berharap bisa bertemu dengan para tetua sepulangnya dari Amerika. Daffa juga sedih mendengar ucapan Juna. Dalam hatinya berdoa, semoga saja mereka semua diberikan kesehatan dan umur yang panjang.
Usai mengucapkan selamat tinggal, Daffa dan Geya pun bersiap memasuki gerbang boarding pass. Sambil menggeret koper, keduanya segera masuk. Lambaian tangan mengiringi keduanya. Zahra menangis dalam pelukan suaminya. Baru pertama ini sang putri pergi keluar negeri tanpa didampingi dirinya.
Daffa menghapus airmata Geya begitu mereka sudah berada di pesawat. Dia tahu bagaimana perasaan istrinya. Berpisah dengan keluarga yang sangat dicintai tentu saja sangat berat. Namun mereka harus menjalaninya demi cita-cita dan masa depan. Daffa menggenggam tangan istrinya erat ketika pesawat yang ditumpangi mulai lepas landas.
🍁🍁🍁
Usai mengantarkan Daffa dan Geya ke bandara, semua keluarga memutuskan untuk berkumpul di kediaman Abi. Zahra memesan makanan dari restoran untuk makan siang mereka.
Abi, Kevin, Juna, Cakra dan Jojo berkumpul bersama di ruang tengah. Mereka masih sedikit sedih melepas Daffa dan Geya ke Amerika. Hanya doa saja yang bisa mereka kirimkan, dan semoga mereka diberi umur panjang dan bisa berkumpul bersama lagi. Pandangan pandawa lima langsung tertuju pada suara gaduh yang berasal dari Ervano, Farzan, Sam, Alden, Firhan dan Gilang.
“Masih banyak yang jomblo ternyata,” cetus Cakra.
“Gimana? Mau ada proyek lagi?” tanya Jojo bersemangat.
“Stok keluarga Ramadhan udah habis kayanya,” timpal Jun.
“Tenang, masih ada keluarga Adhiana, Kencana dan yang lain. Mari kita lebarkan sayap, berbesan dengan keluarga yang lain,” ujar Abi yang disetujui oleh yang lain.
“Aku sih yes,” celetuk Kevin.
Abi memlilih mengabaikan perkataan Kevin. Otaknya sibuk merangkai strategi mengenalkan cucunya pada keturunan Fahri, Farhan, Erik, Devano atau Rendi. Dia yakin, keturunan mereka ada yang cocok dijadikan cucu menantu oleh mereka. Suara tawa dari para jomblo kembali terdengar. Mereka tidak tahu saja kalau sang kakek sedang merancang jodoh untuk mereka.
🍁🍁🍁 **THE END 🍁🍁🍁**
Alhamdulillah, cerita HIL akhirnya tamat juga. Terima kasih untuk semua yang sudah setia mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir. Tidak akan ada bonchap, ya. Cerita ini akan bersambung ke judul baru, makanya tidak akan ada bonchap.
Aku break sejenak, sebelum masuk ke kisah Azzam. Lagi mempersiapkan sequel Naik Ranjang. In Syaa Allah, kalau fisik tetap sehat dan masih ada umur, kita ketemu lagi di cerita tentang Azzam dan juga para jomblo yang belum laku. Setelah sequel NR meluncur, ngga lama lagi kisah Azzam juga meluncur.
Sekali lagi terima kasih atas semua like, komen positif, vote, gift dan tipsnya. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil dari novel ini. Sampai ketemu di karyaku selanjutnya. Love you all😘😘😘
__ADS_1
Sambil nunggu Azzam rilis, silahkan mampir ke novelku lainnya yang ada di sini maupun rumah sebelah. Oh iya untuk para jomblo, aku mau colab dengan novel lain. Yang udah baca The Heart Chooses, pasti tau nama² yang tadi disebutin Abi😉