Hate Is Love

Hate Is Love
Rembukan


__ADS_3

Hari ini, Arsy kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan magangnya. Irzal mengantarkan sang istri ke tempatnya bertugas. Dan nanti dia juga yang akan menjemputnya sepulang dari kantor. Irzal menghentikan kendaraan di depan lobi rumah sakit. Arsy melepaskan seat belt di tubuhnya, kemudian meraih tangan Irzal dan mencium punggung tangannya.


“Fokus ya, sayang,” ujar Irzal seraya mengusap puncak kepala istrinya.


“Iya, mas.”


“Nanti sore mas jemput.”


Senyum mengembang di wajah Arsy mendengar Irzal mengubah panggilan untuk dirinya dari aku menjadi mas. Pernikahannya masih hitungan hari, tapi Irzal sudah menunjukkan betapa besar cintanya pada sang istri.


“Iya, mas. Kerja yang benar, matanya dijaga, jangan larak lirik pegawai perempuan. Aku punya mata-mata di sana.”


Arsy mengedipkan matanya pada Irzal. Pria itu hanya tertawa kecil mendengar ucapan istrinya. Sudah pasti mata-mata yang dimaksud adalah Aidan. Sahabatnya itu memang bermulut ember, yang tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak mengoceh. Dia menarik tengkuk Arsy kemudian mencium bibirnya, sebagai jawaban atas pertanyaan wanita itu tadi.


“I love you,” bisik Irzal setelah ciuman mereka berakhir.


“Love you, mas,” balas Arsy.


TOK


TOK


TOK


Kemesraan pengantin baru terganggu ketika mendengar ketokan di kaca mobil. Irzal menurunkan kaca jendela, dan wajah lelaki tua yang masih tampan muncul dari baliknya. Terlihat senyum pria tua itu, apalagi tadi dia sempat mengintip aksi adu bibir Arsy dan Irzal dengan menempelkan wajahnya di kaca jendela.


“Kakek..” panggil Arsy dan Irzal bersamaan.


“Kakek ganggu ya?” terdengar kekehan Abi setelahnya.


Sontak kedua wajah pengantin baru itu memerah mendengar ucapan frontal si kakek tua. Arsy buru-buru turun dari mobil, agar tidak mendapat ledekan lagi dari Abi. Irzal berpamitan pada Abi lalu melajukan kendaraannya kembali. Arsy memeluk tangan Abi lalu membawanya masuk ke dalam gedung.


“Kakek mau lihat Stella, ya?”


“Iya. Gimana Sy?”


“Apa kek?”


“Nikah sama Irzal, enak ya?”


“Ish kakek apaan sih,” semburat merah terlihat di pipi Arsy.


Arsy mengantar Abi sampai ke depan lift. Dia mencium punggung tangan Abi. Dia menunggu sampai sang kakek masuk ke dalam lift. Setelah lift yang dinaiki Abi mulai bergerak, barulah Arsy menuju ruang ganti. Dia sudah siap memulai tugasnya di hari ini.


Sementara itu, lift yang membawa Abi terus bergerak dan berhenti di lantai 12. Pria itu melangkah pelan dan berjalan menuju kamar VVIP yang ditempati sang cucu. Saat dia memasuki ruangan, terlihat sahabatnya, Cakra sudah berada di sana. Abi menghampiri bed Stella.


“Bagaimana kabarnya cucu kakek?” tanya Abi seraya memeluk Stella.


“Alhamdulillah, baik. Kangen kakek,” Stella memeluk pinggang Abi.


“Sudah sarapan?”


“Udah, kek. Baru aja.”


“Kamu mau makan yang lain ngga? Nanti biar Gilang yang bawakan. Pulang sekolah dia mau ke sini katanya.”


“Nanti aja deh, kek. Belum kepikiran.”


“Ngga usah, pa. Nih anak udah makan bubur, corn soup sama croissant. Ditambah susu juga. Udah penuh itu perutnya,” celetuk Anya. Stella hanya memajukan bibirnya mendengar sang mami yang membongkar kerewogannya.


“Hahaha..”


Abi hanya tertawa sambil berjalan menuju sofa. Di sana sahabat sekaligus adik iparnya sudah menunggu. Pria itu semalam menghubungi Abi dan meminta bertemu di rumah sakit. Abi mendudukkan diri di samping Cakra.


“Ada apa, Cak?”


Cakra berdehem sebentar sebelum menceritakan rencananya dirinya mencarikan jodoh untuk Stella. Mereka kebingungan, siapa lelaki yang cocok menjadi imam seumur hidup untuk cucunya itu. Kemudian dia mengatakan usulan Sekar, menjadikan Tamar sebagai calon Stella. Cakra meminta saran pada Abi, bagaimana menjodohkan mereka berdua.


Belum sempat Abi menjawab pertanyaan Cakra, pintu ruangan kembali terbuka. Berturut-turut Juna, Kevin dan Jojo masuk. Di belakang mereka, menyusul masuk Ghea. Abi menggerakkan tangannya memanggil anak kedua dari Kenan. Dengan cepat Ghea menghampiri sang kakek.


“Kenapa, kek?”


“Kamu ajak Stella jalan-jalan gih.”


“Ok, kek,” Ghea mengangkat ibu jarinya.


Bergegas Ghea menghampiri bed Stella. Gadis itu membujuk sepupunya itu untuk berjalan-jalan ke roof top. Stella langsung mengiyakan ajakan Ghea karena dirinya juga bosan terus berada di dalam kamar. Setelah berpamitan dengan semua, keduanya segera keluar dari kamar.


Begitu Stella dan Ghea pergi, Cakra memanggil Anya untuk bergabung dengan mereka. Pembicaraan soal perjodohan Stella akan dimulai. Cakra kembali menceritakan tentang rencananya menjodohkan Stella dengan Tamar. Ketiga sahabatnya yang baru datang mendengarkan dengan seksama perkataan pria tersebut.


“Kalian sudah tahu kan, Tamar? Sudah bisa melihat secara sekilas bagaimana kepribadiannya. Nah, Cak.. coba kamu anggap kita-kita ini adalah Tamar. Tanyakan soal perjodohan, kita akan memberikan jawaban yang kira-kira sesuai dengan reaksi Tamar.”


“Ok.”


Cakra menarik nafas panjang sejenak. Diperhatikannya wajah para sahabatnya satu per satu. Dia benar-benar menganggap keempat pria tersebut adalah Tamar. Anya mencoba menahan tawa yang hendak meledak melihat keseriusan papinya.


“Tamar.. eyang bermaksud menjodohkanmu dengan Stella. Kira-kira, apa kamu bersedia?” Cakra melihat Juna, Jojo, Kevin dan Abi bergantian. Harap-harap cemas menunggu jawaban keempat pria itu.


“Ngga salah, eyang?” Juna


“Lo naenya?”


“Jo! Serius!” kesal Cakra.


“Hahaha… oke.. oke.. ngga ada perempuan lain, eyang?”


“Ngga, eyang. Makasih,” Kevin.


Kini pandangan tertuju pada Abi, hanya pria itu yang tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memandangi wajah Cakra tanpa berkedip dengan wajah cengonya.


“Bi.. jawab.”


“Ini udah jawab. Palingan Tamar cuma bengong doang kaya abis digigit soang, hahaha..”

__ADS_1


“Hahaha…”


Akhirnya tawa Anya lepas juga melihat tingkah absurd kelima orang tua tersebut. Tawanya melebur jadi satu dengan Juna dan yang lainnya. Wajah Cakra bertambah masam melihat reaksi para sahabatnya.


“Kalian keterlaluan,” sungut Cakra.


“Itu kenyataannya. Yang jelas Tamar pasti shock kalau langsung ditanya kaya gitu,” jelas Abi.


“Ya udah jebak aja.”


“Modelan Stella kalo dijebak ngeri-ngeri sedap. Tau sendiri cucumu tuh ajaib, bukannya berhasil bisa-bisa gagal total. Udah tau si Stella udah kaya ondel-ondel yang ngga bisa diem.”


“Papa iihhh.. itu anakku tau. Masa dikatain ondel-ondel,” protes Anya.


“Jarang kepang,” sambar Kevin. Anya mendelik pada Kevin.


“Boneka chuky atuh,” timpal Jojo.


“Udah-udah… Stella kan cucu kita juga. Ya walau modelan Masha, hahaha..” seru Juna.


“Kalo Stella, Masha, yang jadi beruangnya siapa?” tanya Cakra.


“Tamar, hahaha..”


Gelak tawa kembali terdengar di ruang perawatan VVIP tersebut. Sang pemilik nama tidak tahu menahu kalau para tetua sedang bergibah tentangnya. Dia asik menikmati udara pagi di roof top bersama dengan Ghea.


“Nya, telepon papa kamu. Suruh ke sini, suruh bantuin mikir,” seru Cakra.


“Radix kan lagi umroh sama istrinya, bareng Gurit dan Syakira,” ujar Juna.


“Oh iya, lupa. Mereka berdua beneran kaya kancing cetet, dari muda sampai tua kemana-mana berdua terus.”


“Lah kalau mereka kancing cetet, terus papi sama yang lain gimana? Kemana-mana keroyokan terus,” sahut Anya.


“Kita.. power rangers, hahaha..” jawab Cakra.


“Jangan power rangers, kan ngga semua personilnya cowok,” protes Jojo.


“Ya kan ranger pink-nya kamu, Jo. Hahaha…” pungkas Juna.


Kembali gelak tawa terdengar. Jojo hanya menggelengkan kepalanya saja. Juna yang dulu terkenal kalem dan tenang, sekarang sudah benar-benar seperti adiknya. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya sering membuat orang yang mendengarnya muntah gerobak.


“Tadi waktu kita sampai, Tamar juga baru sampai,” celetuk Juna.


“Wah dia pasti mau nengok Stella,” ujar Cakra bersemangat.


“Jangan kegeeran. Paling dia mau nengok siapa tuh, anak yang sama Stella.”


“Yogi.”


“Nah iya, Yogi.”


“Ya sambil nengok Yogi, pasti nengok Stella juga,” Cakra tetap bersikukuh dengan pendapatnya.


“Pagi eyang, kakek dan yang lain,” sapa Tamar.


“Pagi juga. Wah ada pak polisi, mau jenguk Stella ya,” jawab Cakra.


“Iya, eyang.”


“Anya, coba telepon Ghea. Suruh bawa balik Stella.”


Anya langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi Ghea. Tamar melemparkan senyumnya pada semua tetua yang ada di dalam ruangan. Pria itu tidak tahu kalau sedari tadi kelima pria tersebut sibuk berdebat tentang rencana perjodohannya dengan Stella.


Tak butuh waktu lama bagi Stella untuk kembali ke ruangannya. Dia terkejut melihat Tamar sudah berada di ruangannya sepagi ini. Anya melambaikan tangan dan meminta anaknya duduk di sampingnya.


“Itu Stellanya sudah datang. Silahkan berbincang, apa perlu kita semua keluar?” ujar Cakra.


“Ngga perlu, eyang. Kebetulan kalau eyang dan yang lain berada di sini. Ada yang mau saya tanyakan pada Stella.”


“Oh silahkan.. silahkan..”


Mata Cakra nampak berbinar. Tak menyangka kalau pria muda ini ternyata sudah mulai kepincut oleh cucunya. Pasti dia ingin menanyakan apakah Stella mau menjadi kekasihnya. Itulah yang ada dalam benak Cakra.


“Stel.. apa kamu bersedia menjadi saksi untuk kasus Bertrand? Kami sedang memproses kasusnya sekarang.”


Kompak Juna, Jojo dan Kevin menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan tawa mereka. Abi melihat pada Cakra dengan tatapan menyebalkan. Gue bilang juga apa, mana mungkin si Tamar tiba-tiba bilang cinta sama si ondel-ondel. Begitulah kira-kira kata hati Abi saat ini. Cakra mendengus kesal, seakan dia bisa membaca pikiran Abi.


“Boleh, bang. Nanti kasih tau aja kapan aku harus kasih kesaksian.”


“Sekeluarnya kamu dari rumah sakit aja.”


“Siap.”


Mata Abi terus mengawasi interaksi Tamar dan Stella. Tiba-tiba saja di otaknya terlintas ide brilian untuk mendekatkan kedua orang tersebut. Pria itu berdehem pelan, sebelum memulai aksinya.


“Stella.. apa kamu benar bisa berinteraksi dengan makhluk astral?”


“Iya, kek.”


“Jadi kamu tahu soal Yogi juga dari dia?”


“Iya.”


Abi mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia kemudian melihat pada Tamar. Sepertinya pria itu sudah tahu soal kemampuan Stella.


“Tamar. Kakek minta maaf kalau cucu kakek sudah membuatmu susah. Kejadian kemarin pasti membuatmu terkejut. Kakek dengar juga dia sempat mengacau di salah satu kasusmu.”


“Sebenarnya Stella hanya coba membantu, tapi karena sumbernya makhluk astral, jadi saya agak ngga percaya.”


“Wajar itu. Orang rasional seperti kita pasti akan sulit percaya masalah mistis seperti itu. Apa kamu punya kasus-kasus lama yang belum terpecahkan?”


“Ehmm… sepertinya ngga ada kek. Tapi… sebenarnya ada satu kasus yang buat saya penasaran. Kasusnya sendiri sudah ditutup, tapi saya ngga yakin kalau pelakunya adalah yang saat ini ada di dalam penjara.”

__ADS_1


“Kasus apa itu?”


“Istri yang membunuh suaminya. Semua bukti memang mengarah pada wanita itu, tapi sepertinya masih ada yang janggal.”


“Kenapa kamu ngga coba selidiki?”


“Jujur aja, kek. Saya udah coba gali lagi kasusnya, tapi malah nemu jalan buntu.”


“Kenapa kamu ngga minta bantuan Stella.”


Stella menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk ketika Abi menyebut namanya. Bukan hanya Stella, tapi Cakra dan Anya dibuat terkejut.


“Maksudnya kek?”


“Stella, teman kamu siapa namanya? Yang jin itu.”


“Suzy.”


“Nah iya Suzy. Kasih dia kerjaan buat bantuin Tamar, dari pada luntang lantung ngga jelas gangguin orang. Coba minta bantuannya menyelidiki kasus itu lagi. Kalau memang istrinya ngga bersalah, ngga adil bukan untuknya?”


Sejenak suasana di antara mereka menjadi sepi. Tamar masih menimbang-nimbang apa yang dikatakan Abi. Jika Stella membantunya, itu artinya dia akan lebih banyak bertemu dan berinteraksi dengan gadis itu. Sudah terbayang hidupnya pasti akan kacau balau, mengingat tingkah Stella yang ajaib.


“Emang boleh, eyang?”


Takut-takut Stella melihat pada Cakra. Eyangnya itu sudah menegaskan pada dirinya kalau tidak boleh berhubungan lagi dengan Suzy. Cakra melihat sekilas pada Abi, kemudian menganggukkan kepalanya. Segurat senyum terbit di wajah Stella, dan itu menjadi sebuah kabar buruk untuk Tamar.


“Nah Stella sudah setuju. Bagaimana Tamar?” tanya Abi.


“Kalau Stella tidak keberatan, saya akan coba gali lagi kasusnya.”


Abi tersenyum puas mendengar persetujuan Tamar. Rencananya untuk membuat pria itu dekat dengan Stella bisa berjalan dengan baik. Tamar hanya tersenyum kikuk membalas senyum Abi. Entah mengapa dia merasakan ada aura menyeramkan dari senyum yang diberikan Abi.


“Kalau kamu membutuhkan bantuan, bilang saja pada Imron. Dia akan membantumu.”


“Terima kasih, kek.”


“Sama-sama. Semoga keadilan bisa ditegakkan.”


“Aamiin..”


Setelah mendengar kesiapan Stella untuk menjadi saksi, Tamar pun berpamitan. Cakra meminta Stella mengantarkan Tamar sampai ke lift. Setelah keduanya keluar ruangan, hal tersebut dimanfaatkan pria itu untuk bertanya pada Abi.


“Bi.. maksud kamu apa?”


“Kita ngga bisa jebak Stella sama Tamar. Tapi kita bisa buat mereka dekat. Dengan menangani kasus bersama, mereka akan bertambah dekat.”


“Tapi itu bahaya.”


“Kamu ngga percaya Tamar bisa melindunginya? Kalau tidak percaya, kenapa kamu mau menjodohkannya?”


Cakra terdiam, apa yang dikatakan Abi memang benar. Perdebatan keduan terhenti ketika Stella masuk ke dalam kamar. Gadis itu jangan sampai tahu kalau mereka tengah merencanakan perjodohan dirinya dengan Tamar.


🍁🍁🍁


Dayana tengah bersiap untuk keberangkatannya menjadi sukarelawan di salah satu daerah terpencil yang digagas yayasan Qurota ‘Ayyun bersama dengan rumah sakit Ibnu Sina. Kali ini dia akan menjadi tim pengajar di salah satu sekolah yang ada di sana. Daerah yang dikunjunginya memang membutuhkan lebih banyak tenaga pengajar.


Sebuah koper berukuran sedang sudah siap di ruang tengah. Saat ini gadis tersebut sedang menikmati sarapan bersama dengan semua keluarganya. Freya yang baru pertama kali berpisah dengan sang anak dalam waktu cukup lama, terus saja memberikan nasehatnya. Dia juga membekali banyak camilan dan obat-obatan pribadi.


“Kamu hati-hati di sana. Beda daerah, beda budaya.”


“Iya, ma.”


“Jaga kesehatan.”


“Tenang aja, Frey. Kan di sana ada dokter Rafa,” ujar Kevin.


Dayana terdiam begitu mendengar nama Rafa. Sebelum berangkat dia memang sudah bertemu dengan Rena. Wanita itu sudah memberikan beberapa tips untuk menaklukkan Rafa. Gadis itu berharap, misi sosialnya kali ini bisa menyukseskan misinya menggaet Rafa. Awalnya Dayana pesimis dan sudah berhenti berharap pada Rafa. Namun mendengar nasehat Rena, gadis itu kembali bersemangat.


Usai sarapan, Dayana berpamitan pada Freya, Kevin dan Rindu. Dia segera bersiap berangkat menuju rumah sakit Ibnu Sina. Tim keberangkatan berkumpul di rumah sakit tersebut. Ravin sendiri yang akan mengantar anak gadisnya ke sana. Setelah memasukkan koper ke dalam bagasi. Ravin segera menjalankan kendaraannya.


Seluruh personil yang siap berangkat ke Desa Tampaure sudah bersiap, termasuk Rafa. Ravin menurunkan koper Dayana, kemudian memasukkannya ke dalam bagasi bis. Dia juga mengantar anaknya naik ke dalam bis. Mata Dayana langsung beradu pandang dengan Rafa. Nampak keterkejutan terlihat di wajah pria itu.


“Baik-baik di sana, sayang.”


“Iya, pa. Doain Aya.”


“Pasti sayang.”


Dayana mencium punggung tangan Ravin. Pria itu memeluk tubuh anaknya sebentar lalu mencium keningnya. Karena dia hanya mengenal dokter Rafa, Ravin menitipkan anak sulungnya itu padanya.


“Dokter, saya titip anak saya, ya.”


“Iya, pak.”


“Terima kasih. Aya, hati-hati.”


“Iya, pa.”


Melihat bis akan segera berangkat, Ravin segera turun. Dayana melambaikan tangan pada sang papa dari balik jendela. Perlahan bis tersebut bergerak meninggalkan area parkir rumah sakit Ibnu Sina. Tempat duduk Dayana berada tepat di belakang kursi Rafa. Dayana menyumpal telinganya dengan ear phone. Dia menikmati perjalanan sambil mendengarkan musik.


🍁🍁🍁


Kira² yang duluan nyusul Arsy, Dayana apa ondel²?😂


**Duh kemarin pada ribut soal volos. Volos itu nama makanan, orang Bandung pasti tau. Yamg dibuat dari tepung ketan, gula merah, santen. Suka dibungkus pake daun pisang, bubur volos namanya🏃🏃🏃🏃


Numpang lewat Stella sama Tamar mau lewat


Stella bestienya Suzy**



Tamar, polgan galak

__ADS_1



__ADS_2