
Tamar mengepak pakaian secukupnya ke dalam ransel. Dia juga memasukkan charger, peralatan mandi dan barang lainnya ke dalam tas punggung tersebut. Rencananya hari ini dia akan bertolak menuju Kuningan. Waktu liburnya akan digunakan untuk menyelidiki kembali kasus kematian Putra yang dibunuh oleh istrinya, Lina.
Setelah selesai dengan barang bawaan, pria itu segera keluar dari unit apartmen yang ditinggalinya. Tamar memang tinggal sendiri di kota kembang ini. Semua keluarganya berada di Bogor. Tamar anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya laki-laki, sudah bekerja sebagai ASN di Bogor. Dia menyewa apartemen tipe studio sebagai tempatnya tinggal.
Sambil menggendong ranselnya, Tamar keluar dari unit apartemennya yang berada di lantai lima. Pria itu memasuki lift yang akan membawanya ke basement. Setelah memasukkan ransel ke dalam mobil, pria itu menyusul masuk ke dalamnya. Tak berapa lama, kendaraan roda empat itu melaju.
Setelah melewati dua lampu merah, di sebuah jalanan yang tidak terlalu ramai, tiba-tiba sebuah mobil menyalipnya lalu berhenti beberapa meter di depannya. Dengan cepat Tamar menekan pedal rem, sampai kepalanya hampir menyentuh setir. Dari dalam mobil tersebut turun seorang gadis dan menghampiri mobilnya. Dengan kesal Tamar keluar dari mobil.
“Heh!! Udah gila ya? Seenak jidatnya aja kamu salip mobil dan berhenti. Kalau aku ngga rem tepat waktu gimana?!”
“Tapi buktinya bisa ngerem, kan?” tanya Stella santai.
Tamar menepuk keningnya dengan kesal. Berharap hari ini bisa pergi dengan tenang, namun ternyata Stella masih saja menguntitnya. Mata Stella melihat-lihat ke arah mobil Tamar, lalu melihat tas ransel pria tersebut.
“Abang mau kemana?”
“Mudik.”
“Bohong!”
“Ya udah kalau ngga percaya.”
“Ya jelas ngga percaya. Aku tanya sama Aji, katanya abang mau ke Kuningan. Mau nyelidikin kasus bu Lina, istri yang bunuh suaminya. Iya, kan?”
Dalam hati Tamar merutuki mulut bawahannya yang sudah seperti ember bocor. Tanpa mempedulikan Stella, pria itu hendak kembali ke mobilnya. Namun dengan cepat Stella menghalangi. Gadis itu berdiri di depan pintu mobil Tamar.
“Abang mau ke Kuningan kan?”
“Iya.”
“Aaahhhh…. Mau ikut,” jawab Stella dengan suara merajuk.
“Dengar ya, aku ke Kuningan bukan buat jalan-jalan atau refreshing. Tapi ada pekerjaan.”
“Iya, tapi abang kan udah janji sama kakek, mau bawa aku kalau selidikin kasus bu Lina.”
“Terus?”
“Ya aku mau ikut.”
“Astaga.”
Tamar benar-benar dibuat pusing oleh tingkah Stella. Gadis itu masih tetap berdiri di depan pintu mobilnya, menatapnya tajam dengan wajah cemberut. Terdengar helaan nafas Tamar sebelum akhirnya pria itu mengalah.
“Ya udah kalau kamu mau ikut. Simpen dulu mobilmu, kamu ikut mobilku aja.”
“Tapi ngga bisa sekarang.”
“Ngga bisa gimana?”
“Aku tiga hari ini kuliah padat, tugas juga banyak. Abang diundur aja ke Kuningannya, abis aku beresin tugas kuliah.”
“Mana bisa. Aku cuma punya libur dua hari. Dan aku juga harus cepat ke sana, keburu Putranya kabur nanti.”
“Huaaaa… terus nasib aku gimana? Abang jahat.”
Tubuh Stella merosot ke bawah hingga jatuh terduduk di aspal. Kakinya digerak-gerakkan persis seperti anak kecil sedang ngambek. Tamar hanya bisa melongo melihat kelakuan ajaib Stella. Dia buru-buru membangunkan gadis itu karena malu dilihat orang-orang yang melintas.
“Bangun, kamu jangan malu-maluin.”
“Aku mau ikut abang.”
“Kan kamu kuliah, gimana sih.”
“Emang ngga bisa diundur?”
“Ngga bisalah. Emangnya tuh kantor punya bapak moyangku apa? Udah sana, mending kamu ke kampus. Dosen ganteng kamu udah nungguin.”
“Sok teu.. ganteng dari mana. Udah tuir, botak, perut buncit, kumis baplang lagi.”
“Waduh..”
Hampir saja Tamar tertawa mendengar deskripsi Stella tentang dosennya. Kemudian dibawanya gadis itu menuju mobilnya. Tamar membukakan pintu mobil, kemudian mendudukkan Stella di belakang kemudi.
“Kuliah yang bener, jangan sampai dapet nilai D apalagi E.”
“Abang harus laporin ya dapet apa aja di sana.”
Kening Tamar berkerut mendengar permintaan Stella. Atasannya saja jarang melakukan hal seperti itu. Yang penting kasus selesai dan tersangka ditemukan.
“Sana pergi, nanti aku bawain oleh-oleh buat kamu.”
“Aku ngga mau oleh-oleh.”
“Ya udah.”
“Ish.. ngga niat bawain oleh-oleh. Emang abang mau bawain apa?”
“Pocong bakar.”
“Abaaaaang!!!”
Tamar terus melangkahkan kakinya walau mendengar lengkingan keras Stella. Pria itu masuk ke dalam mobilnya lalu melanjutkan perjalanan. Dia sungguh tak percaya Stella benar-benar membuat kepalanya pusing. Dia heran, selama hamil, mengidam apa maminya Stella sampai kelakuan anaknya ajaib seperti itu.
🍁🍁🍁
Pukul satu siang Tamar tiba di Kuningan. Lebih dulu dia menyewa penginapan untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam. Setelah beristirahat dan makan siang, sore harinya Tamar berniat mengunjungi tempat di mana Isma melihat pria yang diduga adalah Putra.
Lewat bantuan google maps, dia melajukan kendaraannya menuju daerah Palutungan. Palutungan berada di bawah kaki gunung Ciremai dan menjadi jalur pendakian menuju gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut. Udara dingin langsung terasa begitu Tamar membuka kaca jendela. Pria itu mengarahkan kendaraannya terus ke arah atas, dan membelokkan mobilnya memasuki pelataran Up Hill café.
Suasana café Up Hill cukup ramai juga. Kendaraan roda dua dan empat memenuhi tempat parkir café yang baru berdiri tiga tahun lalu. Tamar masuk ke dalam café, kemudian mengambil tempat duduk di depan barista yang tengah menyiapkan kopi. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan. Kawula muda mendominasi pelanggan yang datang saat ini.
“Pesan apa mas?” tanya sang barista.
“Double espresso.”
__ADS_1
“Siap.”
Dengan cepat pria itu menyiapkan bahan untuk kopi yang dipesan oleh Tamar. Dia menunggu sang barista selesai membuatkan pesanan untuknya, sebelum memulai penyelidikannya.
“Selamat menikmati.”
Secangkir kopi panas yang masih terlihat kepulan asap di atasnya sudah berada di depan Tamar. Pria itu hanya melemparkan senyuman saja. Hanya butuh waktu lima menit saja untuk membuat kopi di cangkirnya berkurang hangatnya. Udara pegunungan yang dingin membuat minuman panasnya cepat mendingin.
“Mas.. pernah lihat orang ini?”
Tamar menunjukkan foto Putra di ponselnya. Sang barista memperhatikan sejenak gambar di ponsel Tamar. Tak lama kemudian kepalanya menggeleng.
“Yang datang ke sini banyak. Saya kadang ngga perhatiin satu per satu. Kecuali pelanggan tetap, baru saya kenal. Minimal hafal wajahnya.”
“Gitu ya. Ada laporan katanya minggu terakhir pria ini terlihat di sini.”
“Emang dia siapa, mas?”
Tamar mengeluarkan tanda pengenalnya lalu memperlihatkan pada barista tersebut. Dia cukup terkejut mengetahui Tamar adalah seorang polisi. Dipikirnya Tamar adalah model yang tengah melakukan pemotretan di daerah ini.
“Di sini ada cctv?”
“Ada, mas.”
“Bisa saya minta rekaman minggu lalu?”
“Sebentar ya, mas.”
Barista tersebut masuk ke bagian dalam café untuk memanggil manajernya. Tak lama seorang wanita berusia tiga puluhan datang menemui Tamar. Wanita itu melemparkan senyumannya.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Begini, saya perlu melihat rekaman cctv di café selama seminggu kemarin sampai sekarang.”
“Boleh, pak. Silahkan ikuti saya.”
Manajer wanita itu langsung menyetujui permintaan Tamar, karena sebelumnya sang barista sudah mengatakan siapa Tamar sebenarnya. Mereka naik ke bagian atas café lalu memasuki sebuah ruangan yang merupakan control room café ini. Kurang lebih ada enam cctv yang ditempatkan di café ini, baik di luar maupun di dalam. Pria yang bertugas segera melakukan apa yang diminta Tamar.
Cukup lama juga Tamar memperhatikan satu per satu rekaman dari tiap cctv yang terpasang. Beberapa kali dia memijat matanya yang terasa perih. Setelah satu jam lebih berjibaku menatap layar monitor, akhirnya dia bisa menemukan sosok yang dicarinya. Nampak Putra sedang duduk menikmati hidangan bersama dengan seorang wanita.
Tamar memindahkan rekaman menuju bagian luar café, tepatnya di parkiran. Dia terus mengikuti Putra masuk ke dalam mobil. Diambilnya kertas juga pulpen, lalu mencatat nomor polisi kendaraan yang digunakan Putra.
“Terima kasih, pak,” ujar Tamar setelah mengcopy rekaman yang berisi keberadaan Putra.
Pria tersebut langsung keluar dari control room. Saat berjalan keluar café, dia menghubungi Aji dan meminta anak buahnya itu untuk melacak nomor polisi yang didapatnya tadi. Tamar segera kembali ke mobilnya, lalu keluar dari pelataran parkir Up Hill café.
🍁🍁🍁
Tamar terjaga dari tidurnya ketika ponselnya berdering. Melihat panggilan berasal dari Aji, pria itu langsung mengangkatnya. Ternyata Panji sudah berhasil melacak mobil yang digunakan oleh Putra.
“Pemilik mobil adalah Liliana Subrata. Dia tinggal di daerah Cikaso, Kuningan. Nanti aku kirimkan alamat lengkapnya, capt.”
“Ok, kerja bagus.”
“Jadi kasus bu Lina mau diadakan penyelidikan ulang?”
“Siap, capt.”
“Jaga mulutmu jangan seperti ember bocor.”
“Hehehe.. maaf capt. Lagian captain, pergi ke Kuningan ngga bilang-bilang sama calon istri. Kan dia panik nyariin.”
“Haaiisshh..”
Terdengar suara tawa Aji dari sebrang. Dia tak bisa menahan tawa membayangkan wajah Tamar saat ini. Pasti atasannya itu tengah kesal setengah mati. Dalam hatinya, pria itu berdoa semoga saja Stella benar-benar berjodoh dengan Tamar.
🍁🍁🍁
Dengan langkah gontai, Dayana berjalan menyusuri jalanan berbatu untuk sampai ke kediamannya. Dia baru saja mengunjungi rumah murid terakhirnya. Tugasnya berkeliling mengunjungi semua muridnya selesai sudah. Tubuh gadis itu terasa lemas, karena selama sepuluh hari terus berkeliling. Pergi pagi, pulang menjelang maghrib.
Rafa baru saja kembali dari jembatan sinyal. Saat hendak masuk ke dalam rumah, dia melihat Dayana berjalan sendiri. Pria itu memilih untuk menemui Dayana. Sudah lama juga dia tidak berbincang dengan gadis tersebut. Semakin dekat, dapat Rafa lihat dengan jelas wajah letih Dayana yang terlihat sedikit pucat.
“Ay..” sapa Rafa.
“Eh mas Rafa. Apa kabar mas?”
“Kamu kenapa? Sakit?”
“Ngga kok. Kayanya aku kecapean aja.”
“Lebih baik kamu cepat masuk lalu istirahat. Muka kamu pucat begitu.”
“Masa sih?”
Dengan kedua tangannya, Dayana menyentuh wajahnya. Interaksi Dayana dan Rafa tertangkap oleh Nilam yang berdiri di depan jendela. Mata wanita itu terus memandangi keduanya yang masih berbincang.
“Iya, muka kamu pucat banget. Sana masuk.”
Dayana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja lalu masuk ke dalam rumah. Sejenak Rafa masih bertahan di tempatnya. Setelah melihat Dayana masuk, barulah pria itu kembali ke rumahnya.
Begitu sampai di rumah, Dayana langsung membersihkan diri. Air yang biasanya terasa biasa saja walau dirinya mandi malam hari, kini terasa dingin di kulitnya. Bahkan gadis itu sampai menggigil. Dayana mempercepat mandinya, kemudian keluar dari kamar mandi. Lastri terkejut melihat wajah Dayana yang begitu pucat.
“Ay.. ya ampun muka kamu pucat banget.”
“Masa sih, mba? Aduh.. kepalaku pusing banget.”
“Ay.. Aya!”
Dayana sudah tak bisa mendengar lagi suara Lastri yang memanggilnya. Tubuh gadis itu ambruk di depan Lastri. Dengan cepat Lastri, Wina dan Reni menggendong Dayana lalu membawanya masuk ke kamar. Nilam yang melihat itu, segera mengambil peralatan medisnya dan memeriksa Dayana.
Perlahan Dayana bangun dari pingsannya, setelah Lastri memberinya minyak kayu putih. Dia melihat beberapa teman mengerubunginya. Gadis itu berusaha bangun, namun Lastri menahannya, memintanya tetap berbaring.
“Aku kenapa, mba?”
“Kamu pingsan tadi.”
__ADS_1
“Iya. Sepertinya kamu kecapean,” sambung Nilam seraya memasukkan stetoskop ke dalam tas medisnya.
“Sepertinya Aya perlu diinfus dok,” ujar Lastri.
“Iya. Tapi semua perlengkapan ada di puskesmas. Siapa yang mau mengantar malam-malam begini?”
“Sebentar, saya hubungi dokter Rafa.”
“Eh ngga usah. Biar saya aja yang kasih tahu.”
Tanpa menunggu persetujuan Lastri, Nilam bergegas keluar dari kamar lalu menuju rumah di mana Rafa tinggal. Mendapat kabar dari Nilam akan keadaan Dayana, tentu saja Rafa terkejut. Dia meminjam motor yang memang disediakan untuk mereka. Dengan cepat Nilam naik ke belakang Rafa saat pria itu menaiki motor.
“Aku ikut, dok,” ujar Nilam sebelum pria itu bertanya.
Rafa segera menjalankan kendaraannya menuju puskesmas. Tak butuh waktu lama untuknya sampai di sana. Dia segera mengambil peralatan dan obat yang dibutuhkan, lalu segera kembali. Rafa menghentikan kendaraan di depan kediaman relawan wanita.
“Biar aku aja dok yang pasang infusannya.”
“Biar saya saja.”
“Aku juga dokter, kalau dokter lupa. Biar saya saja.”
“Papa Aya menitipkannya padaku. Jadi aku harus memastikan keadaannya baik-baik saja.”
Rafa berlalu begitu saja masuk ke dalam rumah, meninggalkan Nilam yang masih terpaku di tempatnya. Wanita itu segera menyusul masuk ke dalam begitu kesadarannya kembali. Rafa segera masuk ke dalam kamar yang ditempati Aya. Masih ada Lastri, Wina, Reni dan Sinta. Melihat kedatangan Rafa, semuanya menjauh sedikit dari Dayana.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Lumayan lemas dok.”
“Sudah makan?”
“Aya ngga mau makan, dok,” jawab Lastri.
Rafa mengeluarkan jarum, selang, cairan infus beserta vitamin. Dengan cepat pria tersebut memasang infusan ke tangan Dayana. Lastri mencarikan barang agar infusan dapat tergantung.
“Sekarang kamu makan.”
“Ngga laper.”
“Harus dipaksain. Habis itu baru minum obat. Lastri. Bawakan makanan untuk dia.”
Wanita bernama Lastri tersebut segera keluar dari kamar. Tak lama dia kembali dengan sepiring nasi beserta lauknya. Rafa membantu Dayana untuk duduk. Mata gadis itu menatap tanpa selera pada piring di tangan Lastri.
“Aku ngga mau makan.”
“Kamu harus makan.”
“Aku kangen pengen makan bakso, mie ayam, pizza, burger, soto betawi, seafood.”
“Ya.. ya.. ya.. nanti kalau kita pulang, aku akan ajak kamu makan semua yang mau kamu makan. Tapi sekarang makan ini dulu.”
Rafa mengambil piring dari tangan Lastri, lalu mulai menyuapi gadis itu. Walau enggan, akhirnya Dayana membuka mulutnya juga. Lidahnya terasa pahit, jadi makanan yang dimakannya pun terasa pahit. Namun karena Rafa yang menyuapinya, dia mencoba memakan dan menelannya. Nilam melihat pemandangan di depannya dengan perasaan kesal. Belum pernah dia melihat Rafa seperhatian ini pada seorang wanita sebelumnya.
🍁🍁🍁
Satu ember hitam yang masih tertutup rapat, empat bungkus keripik kering berwarna kuning, kemerahan dan ungu serta satu pak botol minuman tertata di atas meja. Tamar yang baru kembali dari Kuningan, menepati janjinya membawakan oleh-oleh untuk Stella. Kini pria itu berada di kediaman Cakra.
“Ini peuyeum, ini gemblong original, ini gemblong pedas, ini gemblong ubi dan ini jeniper.”
“Apaan jeniper?”
“Jeruk Nipis Peras.”
“Ini aja yang abang dapet dari Kuningan?”
“Terus kamu mau apa? Ngga mungkin kan aku bawa gunung Ciremai ke sini.”
“Ck.. ngga usah kura-kura dalam perahu. Abang tahu apa yang aku omongin.”
Tak ada jawaban dari Tamar. Pria itu menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa seraya melipat kedua tangannya. Matanya terus melihat pada Stella yang juga tengah melihat padanya. Rupanya gadis itu masih mendesaknya memberitahukan hasil penyelidikan yang didapatnya dari Kuningan.
“Tugasmu sudah beres?”
“Belum.”
“Bereskan dulu tugasmu, baru aku akan menjawab pertanyaanmu. Sekarang nikmati oleh-oleh yang kukasih. Makan yang banyak.”
Tamar menepuk lengan Stella kemudian berdiri dari duduknya. Cakra, Sekar, Anya dan Irvin yang sedang berada di ruang makan, pura-pura berbincang ketika Tamar mendekat. Mereka tidak mau Tamar sampai tahu kalau sedari tadi mereka menguping pembicaraan.
“Eyang, om, tante, saya pamit pulang dulu.”
“Oh iya, makasih buat oleh-olehnya.”
“Sama-sama, eyang. Saya permisi, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Anya berdiri untuk mengantarkan bakal calon menantunya itu sampai ke teras rumah. Tamar segera menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah. Dia melihat sebentar pada Anya sebelum melajukan kendaraannya. Sepeninggal Tamar, Anya kembali ke dalam lalu menghampiri putrinya.
“Apa ini?”
“Oleh-oleh, ini peuyeum, ini gemblong, ini jeniper.”
“Tamar emang pengertian banget. Ini peuyeum kan kesukaan mami.”
“Mami jangan banyak-banyak makannya, sisain buat aku.”
“Kapan mami ngabisin makanan? Yang ada kamu tukang ngabisin.”
Anya mengambil ember hitam berisi peuyeum kemudian membawanya ke ruang makan. Stella meraih gemblong berwarna ungu kemudian membukanya.
“Ehmm.. ternyata enak rasanya.”
Stella terus saja menyuapkan makanan yang terbuat dari olahan ubi ungu. Rasanya pas, tidak terlalu manis. Dalam waktu singkat, keripik dengan berat setengah kilo itu sudah habis setengahnya.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Ada yang kangen Arsy sama Bibie? Sabar ya, bentar lagi mereka nongol kok😉