Hate Is Love

Hate Is Love
Ular Kobra Pergi Ke Sawah


__ADS_3

Water park yang dijadikan tempat resepsi pernikahan Zar dan Renata sudah didatangi para tamu undangan. Untuk resepsi kali ini, Zar sengaja tidak ingin dibuatkan panggung pelaminan. Pasangan pengantin dan kedua orang tua mereka duduk di kursi pelaminan yang ditempatkan di dekat kolam renang, dengan pahatan bebatuan sebagai latar belakangnya.


Konsep pesta dibuat santai. Bahkan untuk dress code pun para tamu dibebaskan hendak memakai pakaian seperti apa, asalkan sopan. Stall disebar di sekitar lokasi resepsi dan memberikan banyak tempat duduk bagi tamu yang datang. Untuk prasmanan di sediakan di dekat kolam.


Teman kuliah Zar dan Renata banyak yang datang memberikan ucapan selamat. Begitu pula dengan rekan bisnis pria itu. Tetangga dan karyawan di kantor tempatnya bekerja juga tak lupa diundang. Jangan lupakan anak-anak panti di mana Renata dibesarkan, tentu saja mereka diundang dan mendapatkan perlakuan istimewa.


Di dekat taman berdiri sebuah panggung kecil sebagai hiburan. L’amour menyewa wedding singer ternama untuk menghibur tamu yang datang. Bahkan ada tiga artis ibu kota yang didaulat memberikan hiburan. Mereka juga mempersilahkan pada anggota keluarga atau tamu yang hendak menyumbang suara. Gilang yang membentuk band dengan teman-teman SMA-nya ikut menyumbangkan lagu.


Senyum tak lepas dari wajah Zar. Ucapan terima kasih terus keluar dari mulut pria itu ketika menerima ucapan selamat. Akhirnya dia bisa juga menikahi wanita yang dicintainya setelah melewati berbagai rintangan. Begitu pula dengan Renata. Tak menyangka dirinya yang sudah terpuruk dalam lumpur, bisa mendapatkan pria sebaik Zar. Terlebih keluarga pria itu menerimanya dengan hangat.


Rahman Surahman yang masih berada di tempat pesta mendekati panggung hiburan. Dia ingin memberikan sumbangan lagu untuk pasangan pengantin. Sang wedding singer mempersilahkan pria itu untuk naik ke panggung. Melihat sang penghulu fenomenal yang naik ke pentas, karuan saja menarik semua perhatian keluarga Hikmat.


“Selamat pagi menjelang siang. Pada kesempatan ini, ijinkan saya menyumbangkan sebuah lagu untuk pasangan pengantin.”


Suara tepuk tangan langsung bergema menyambut ucapan Rahman Surahman. Pria itu mendekati pemain band, lalu mengatakan lagu apa yang akan dinyanyikan olehnya. Dia mengambil nada lebih dulu, baru kemudian berdiri di depan stand mic. Alunan musik mulai terdengar. Mata Rahman tertuju pada pasangan pengantin di depannya.


“Bila ingin melihat ikan di dalam kolam. Tenangkan dulu airnya sebening kaca. Bila mata tertuju pada gadis pendiam. Caranya tak sama menggoda dara lincah. Hei


Sek. Jangan, jangan dulu. Janganlah di ganggu. Biarkan saja biar duduk dengan tenang. Senyum, senyum dulu. Senyum dari jauh. Kalau dia senyum tandanya hatinya mau. Hei.”


Pria itu menggoyangkan tubuhnya saat musik kembali mengalun. Gilang menarik teman satu band-nya dan juga para sepupunya berkumpul di depan panggung, lalu bergoyang. Melihat banyak yang berjoged mengikuti irama musik, membuat Rahman semakin bersemangat untuk bernyanyi.


“Ini lagunya buat kita ya?” tanya Zar pada Renata.


“Buat kamu aja kali. Ngga usah bawa-bawa aku,” balas Renata.


“Kita kan sepaket sekarang, sayang.”


“Ish..”


Zar tergelak melihat reaksi Renata. Dia memegang tangan istrinya itu, kemudian ikut berjoged. Pria itu menggerak-gerakkan pinggulnya. Renata menutup wajah dengan sebelah tangan. Kelakuan pria yang sudah menjadi suaminya ini semakin absurd saja.


“Ayo siapa lagi yang mau nyumbang lagu?” tantang Rahman.


“Pengantin baru aja!” seru Aidan.


“Jangan weh.. bisa kacau nih pesta kalau ada angin ribut,” celetuk Arya.


“Hahaha..”


Terlihat Zar mengepalkan tangannya pada sepupunya itu. Kali ini wedding singer yang kembali menyanyikan lagu tema cinta. Gilang dan yang lainnya yang tadi ada di depan panggung, langsung membubarkan diri.


Nalendra berjalan menuju stand es krim. Baru saja dia akan mengambil es krim yang tersedia, tangannya kalah cepat dari seseorang. Spontan pria itu menolehkan kepalanya. Seorang gadis muda nampak tersenyum padanya. Dia adalah Ayumi, anak kedua Barra.


“Aku duluan ya, bang.”


“Silahkan.”


“Makasih loh.”


“Sama-sama.”


Nalendra mengambil cup es krim lain kemudian menuju kursi kosong yang ada di sana. Tak lama kemudian, Ayumi menyusul duduk di dekatnya. Mata Ayumi terus melihat pada pintu masuk, seperti menunggu seseorang. Hal tersebut juga disadari oleh Nalendra.


“Lagi nunggu seseorang?”


“Iya. Calon suamiku. Katanya mau datang, tapi udah jam segini belum dateng juga.”


“Calon suami?”


“Iya.”


Kening Nalendra sedikit berkerut. Pasalnya gadis di sampingnya ini terlihat masih muda. Mungkin usianya baru 21 tahun. Tapi sudah ingin mengakhiri masa lajangnya.


“Emang umur kamu berapa?”


“21.”


“Belum lulus kuliah dong?”


“Iya. Ini lagi nyusun.”


“Kamu mau nikah kapan?”


“Ehmm.. kira-kira empat bulan lagi.”


“Wah, ngga nyesel masih muda udah nikah? Calonmu udah kerja?”


“Udah. Dia kerja di perusahaan bapaknya sih. Biar masih muda kalau udah siap, ngga masalah kan?”


“Ya ngga juga. Semoga lancar ya pernikahannya nanti.”


“Aamiin.. makasih, bang.”


Keduanya melanjutkan kegiatan menikmati es krim. Mata Ayumi terus melihat ke arah pintu. Sampai saat ini calon suaminya masih belum kelihatan batang hidungnya. Padahal dia sudah mewanti-wanti untuk datang pada hari bahagia ini. Tapi sepertinya Kemal melupakannya.

__ADS_1


Terdengar helaan nafas Ayumi. Dia cukup kesal pada Kemal. Tadinya dia ingin mengenalkan pria itu pada seluruh keluarganya. Hubungannya memang baru terjalin enam bulan dengan pria itu, namun Ayumi sudah yakin untuk mengabiskan seumur hidup bersamanya.


“Kenapa?” tanya Nalendra lagi.


“Kesal aja aku. Kemal janjinya mau datang, tapi sampai sekarang ngga nongol juga.”


“Ditelepon aja.”


“Udah. Ngga diangkat dari tadi. Aku heran sama dia, tiap ada acara di keluargaku dia itu susah banget kalau disuruh datang. Ada aja alasannya. Dia itu sebenarnya serius ngga sih sama aku.”


Tanpa sadar, Ayumi mencurahkan keluh kesahnya pada Nalendra. Pria itu hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan gadis di sebelahnya. Melihat Ayumi yang misah-misuh malah membuat Nalendra ingin tertawa. Bibir gadis itu maju beberapa senti dan wajahnya terlihat masam, justru terlihat lucu di matanya.


“Abang kan laki-laki. Menurut abang kenapa sih cowok susah diajak ketemu sama keluarga besarku?”


“Ehmm.. mungkin aja dia belum siap untuk bertemu dengan keluargamu. Bisa aja karena minder atau ngga serius sama kamu.”


“Masa sih? Tapi dia kan mau nikah sama aku.”


“Yang ngajakin nikah itu kamu atau dia?”


“Awalnya aku iseng aja ajakin dia nikah pas makan malam bareng keluarganya. Eh ternyata orang tuanya langsung setuju. Ngga lama dari itu, mereka langsung ngelamar ke rumah.”


“Tapi kamu udah dengar dari mulutnya langsung belum, kalau mau nikah sama kamu?”


“Pas aku tanya dia bilang sih iya.”


“Sebelum semuanya terlambat. Lebih baik tanyakan lagi. Minta kejelasan dan keseriusan darinya.”


“Gitu ya?”


Hanya anggukan kepala saja yang diberikan Nalendra. Ayumi nampak tercenung, kemudian dia melihat pada pria di sebelahnya. Ternyata pria yang sedari berbicara dengannya memiliki wajah yang tampan. Melihat Nalendra yang sering bersama dengan Irzal, Daffa dan Aidan, Ayumi sudah bisa menebak kalau dia berasal dari keluarga Ramadhan.


“Abang namanya siapa?” tanya Ayumi.


“Nalendra. Panggil aja, Nal. Kamu siapa?”


“Ayumi.”


“Panggilannya Ayum?”


“Ish.. ngga enak banget. Yumi lah.”


“Kaya nama permen, Yumi.”


“Yupi itu,” protes Ayumi.


“Abang udah punya pacar?”


“Belum.”


“Kenapa?”


“Emang ada yang salah? Punya pacar atau ngga kan, pilihan. Lagian aku bukan penganut paham pacaran. Kalau udah ada perempuan yang disuka dan cocok, ya udah langsung nikah aja.”


“Gitu ya. Abang sepupunya bang Irzal ya?”


“Iya.”


“Kerja di mana? Di kantor bang Irzal juga?”


“Ngga. Aku kerja di Ciwidey, ngurus peternakan sama perkebunan. Kenapa?”


“Kenapa ngga di kantor?”


“Aku lebih suka kerja di lapangan, sesuai dengan pendidikanku.”


“Emang abang lulusan apa?”


“Teknik Pertanian.”


“Ooohhh..”


Hanya itu saja yang keluar dari mulut Ayumi. Pantas saja dia jarang melihat Nalendra hadir di pertemuan keluarga. Perbincangan keduanya kembali berlanjut. Gadis itu sudah melupakan Kemal yang tak kunjung datang. Menurutnya berbincang dengan Nalendra itu menyenangkan dan bisa membuat moodnya membaik.


🍁🍁🍁


Pukul empat sore, resepsi pernikahan selesai digelar. Semua keluarga sudah kembali ke kediamannya masing-masing. Kini hanya petugas kebersihan dan juga tim WO yang membersekan sisa-sisa pernikahan. Pasangan pengantin juga langsung menuju tempatnya menghabiskan malam pengantin.


Jika biasanya pasangan pengantin lain diberikan kamar suite room untuk malam pengantin mereka. Hal tersebut tidak berlaku untuk Zar. Pria itu memilih menghabiskan malam pengantin di tempat glamping. Lagi-lagi dia memilih lokasi glamping yang dimiliki oleh pamannya, Kenan. Untuknya sudah disiapkan glamping dengan fasilitas seperti kamar hotel bintang lima.


Sebelum menuju glamping, dibantu oleh Arsy, Geya dan Vanila, wanita lebih dulu melepas gaun pengantin yang dikenakannya dan menggantinya dengan pakaian kasual. Dia juga mengahapus make upnya dan mengganti hijabnya dengan hijab instan. Sebuah koper yang berisi pakaiannya juga sudah tersedia. Setelah semuanya selesai, Renata langsung pergi menuju tempatnya menghabiskan malam bersama suaminya.


Suasana sejuk langsung terasa ketika Renata menjejakkan kakinya di area glamping yang ada di daerah Lembang, tepatnya berada di jalan raya Tangkuban Parahu. Keduanya berjalan menuju glamping yang sudah disiapkan untuk mereka. Hamparan rumput hijau dan pepohonan tinggi mengiringi perjalanan mereka. Sayup-sayup, mereka juga bisa mendengar gemericik air sungai.


“Silahkan pak, bu,” ujar petugas yang memandunya.

__ADS_1


Mata Renata langsung memandang sekeliling begitu memasuki glamping. Satu buah kasur berukuran king size tanpa ranjang terletak di sudut ruangan. Di samping kanan dan kirinya terdapat nakas kecil yang terbuat dari kayu. Di dinding depan kasur, tergantung televisi layar datar 42 inch. Selain itu, sebuah sofa panjang juga terdapat di sisi lain, berikut mejanya.


Wanita itu lalu menuju kamar mandi. Di dalamnya terdapat bath tub, shower, kloset dan wastafel yang terbuat dari batu hitam. Kemudian ada dapur kecil yang dilengkapi dengan mini bar, kompor dan beberapa alat memasak. Di dekat dapur terdapat pintu yang menghadap ke belakang gampling. Dari pintu belakang, dia bisa melihat aliran sungai yang ada di bagian bawah lokasi glamping.


“Kamu suka?” tanya Zar yang sudah ada di belakangnya.


“Suka. Tempatnya bagus banget. Glamping ini punya om Kenan ya?”


“Daddy.. jangan panggil om. Nanti orangnya ngamuk kalau dipanggil om.”


“Kenapa?”


“Karena kamu sudah jadi bagian keluarga Hikmat. Jadi, tidak boleh manggil om, ngerti?”


Zar menjawil hidung mancung istrinya. Renata hanya menganggukkan kepalanya. Matanya kembali memandangi pemandangan asri di depannya. Jika di bagian belakang glamping dia bisa melihat pemandangan aliran sungai, di bagian depan, area pegunungan yang terhampar. Udaranya juga sejuk, membuat siapa saja yang menginap di sini akan merasa betah.


Wanita itu terjengit ketika Zar memeluknya dari belakang. Jantungnya sontak langsung berdegup kencang. Suaminya itu meletakkan dagu di bahunya. Antara perasaan berdebar dan bahagia menjadi satu. Malu-malu, Renata memegang tangan Zar yang melingkari perutnya.


“Kita bisa main di sungai, ngga?”


“Bisa. Besok pagi kalau kamu mau, kita bisa ke sana. Lihat pemandangan sambil sarapan.”


“Bisa sarapan di sana?”


“Bisa. Ada tempat duduk dan saung kecil di dekat sungai.”


“Wah.. pasti bagus banget.”


“Sebentar lagi maghrib. Kita makan di resto aja, ya.”


“Boleh, mas.”


“Mas?” goda Zar. Namun tak ayal dia senang mendengar Renata memanggilnya dengan sebutan mas.


“Kan sekarang kamu sudah jadi suamiku. Apa kamu ngga mau dipanggil mas?”


“Ngga, aku suka. Coba panggil lagi.”


“Ngga, ah.”


Renata melepaskan diri dari Zar. Dia terlalu malu saat ini. Wanita itu bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu. Suara adzan sayup-sayup terdengar dari masjid yang terdapat di bagian atas area glamping ini.


🍁🍁🍁


Malam mulai merangkak naik. Makan malam sudah mereka lakukan dua jam lalu. Kini, pasangan pengantin sudah berada di atas kasur. Mereka masih menonton film dari layar datar di depannya. Zar menyandarkan punggungnya ke dinding yang terbuat dari kayu, sebelah tangannya merangkul bahu sang istri.


Renata menundukkan kepalanya, ketika melihat adegan reuni bibir di film yang ditontonnya. Zar menolehkan kepalanya, kemudian mengangkat wajah sang istri dengan jari telunjuknya. Pria itu langsung membenamkan bibirnya di bibir Renata. Sejak tadi, pria itu sudah menunggu momen seperti ini. Namun Zar tahu, Renata memiliki pengalaman tak menyenangkan soal pria. Jadi dia tidak bisa bermain langsung, harus membangun suasana lebih dulu.


Lama kelamaan, adegan pertautan bibir antara Zar dengan Renata semakin lama dan dalam. Walau ini pertama kali Zar mencium bibir wanita, namun instingnya sebagai lelaki dengan cepat membawa pria itu ke tahap professional. Pagutan dan lum*tannya bisa membuat Renata terbuai. Posisi mereka kini sudah berbaring di atas kasur.


Perlahan namun pasti, pria itu mulai melucuti pakaian yang dikenakan oleh Renata. Sebisa mungkin dia membuat wanitanya ini merasa nyaman. Renata sendiri berusaha menyingkirkan ketakutannya yang mulai menyergap. Bayang-bayang perbuatan keji Richie dan teman-temannya berseliweran di kepalanya. Dia memejamkan matanya dengan erat. Mencoba menghalau bayangan buruk yang melintas.


“Rena.. sayang.. buka matamu.”


Terdengar suara lembut Zar menyapa indra pendengarannya. Pelan-pelan Renata membuka matanya. Wajahnya merona begitu melihat Zar yang ada di atasnya sudah tidak mengenakan apapun lagi, begitu pula dengan dirinya. Pria itu menciumi wajah, leher dan dadanya dengan penuh kelembutan.


“Jangan tutup matamu. Lihat aku. Aku yang ada di depanmu sekarang,” ujar Zar lagi.


Renata hanya menganggukkan kepalanya. Dia terus menyadarkan dirinya, kalau yang sedang menyentuhnya saat ini adalah suaminya. Pria yang sangat dicintai dan mencintainya dengan tulus. Walau malu, des*han keluar juga dari mulutnya ketika Zar meremat melonnya yang berukuran sedang.


Wanita itu semakin terbuai menerima sentuhan demi sentuhan yang diberikan suaminya. Ketakutannya tadi perlahan menghilang, tergantikan dengan hasrat yang mulai naik berkat kelembutan dan kelihaian Zar. Melihat sang istri yang sudah terbuai dengan sentuhannya, sudah waktunya untuk meningkatkan permainan. Dia siap menuju hidangan utama, membajak sawah sang istri.


Pelan-pelan Zar memulai permainannya. Sawah hijau yang terlihat subur terpampang di hadapannya. Ular cobranya seketika menggeliat melihat sawah yang terhampar di depannya. Perlahan ular itu merayap, mencoba mencari lubang untuk tempatnya bernaung.


Setelah merayap beberapa saat, akhirnya ular tersebut menemukan sebuah lubang yang di bagian atasnya nampak kering, namun dia yakin di dalamnya terdapat genangan air yang akan memanjakan dirinya. Pelan-pelan kepala ular cobra itu masuk ke dalam lubang tersebut.


Awalnya ular cobra tersebut kesulitan untuk masuk ke dalam lubang. Walau lubang tersebut sudah pernah dimasuki sebelumnya, namun tetap saja sang kobra cukup kesulitan untuk memasukinya. Beberapa kali kepalanya keluar masuk lubang, hingga akhirnya dengan menambah kecepatan dan kekuatan, dia memasukkan kepala dan juga badannya ke dalam lubang.


Cukup lama sang kobra berdiam di dalam lubang tersebut. Kemudian dia mulai menjelajahi lubang tersebut. Kobra tersebut menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri, menyentuh setiap titik yang dilaluinya. Sesekali tubuhnya maju mundur, lalu kembali merayap sambil sesekali mengeluarkan lidahnya.


Kemudian dapat dirasakan genangan air mengenai kepala dan tubuhnya. Dia semakin bersemangat menjelajah dan bermain. Gerakannya semakin cepat, memasuki lubang sampai ke ujungnya dan kemudian sang kobra mengeluarkan bisanya di dalam lubang tersebut. Cukup banyak bisa yang dikeluarkan olehnya, sebelum akhirnya sang kobra keluar dari lubang.


Zar merebahkan tubuhnya di samping Renata. Permainan panjang yang penuh gelora, bermandikan keringat dan diiringi suara-suara kenikmatan berakhir sudah. Raut kepuasan tercetak di wajah Zar. Akhirnya ular cobranya menemukan sarang yang tepat untuk menyemburkan bisanya.


Pria itu menarik Renata ke dalam pelukannya. Mengusap peluh yang membasahi keningnya. Wajah wanita itu juga nampak bahagia. Dulu dia merasakan kesakitan dan penderitaan saat dipaksa melakukan percintaan. Tapi sekarang hanya kebahagiaan yang dirasakannya. Sebuah kecupan mendarat di kening Renata, menyadarkan wanita itu dari lamunannya.


“I love you, Rena,” bisik Zar.


“I love you too, Zar. Maaf kamu bukan yang pertama menyentuhku.”


“Ngga masalah. Yang penting kamu menjadi milikku sekarang. Semoga Zar atau Rena junior segera launching.”


Aamiin..”


Kembali Zar memeluk tubuh istrinya itu. Sebuah senyuman tercetak di wajahnya. Hatinya tak henti mengucapkan syukur, mendapatkan istri yang baik untuk menemani dirinya seumur hidup. Semoga kebahagiaan akan senantiasa mengiringi perjalanan pernikahan mereka.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Akhirnya Zar udah sah jadi manten dan bisa lepas keperjakaan🤭


__ADS_2