
Mobil yang dikendarai Nalendra mulai melaju meninggalkan area rumah sakit. Di sebelahnya duduk Ayumi. Gadis itu nampak melamun. Dia masih kesal pada Kemal. Semakin mendekati hari pernikahan, dirinya semakin ragu saja untuk menghabiskan waktu, hidup bersama pria itu.
Pandangannya kemudian beralih pada Nalendra yang tengah fokus menyetir. Ayumi mulai membandingkan Kemal dengan pria di sebelahnya. Dan perbedaannya sangat jauh sekali. Walaupun usia mereka hanya terpaut dua tahun saja, namun Nalendra jauh lebih dewasa dan bertanggung jawab.
“Bang..”
“Hem..”
“Aku.. boleh ikut ke perkebunan, ngga?”
“Kamu mau ikut ke perkebunan?”
Nalendra menolehkan kepalanya ke arah Ayumi. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Nalendra berpikir sejenak. Bukannya dia tidak mau mengajak Ayumi, hanya saja waktu sudah siang. Nalendra juga akan menghabiskan banyak waktu di perkebunan, bisa jadi sampai malam.
“Gimana ya, Ay. Aku bakalan lama di sana. Bisa jadi sampai maghrib. Kamu bakalan pulang malam kalau ikut ke sana. Gimana kalau lain kali aja?”
“Aku mau sekarang, bang. Aku lagi bête banget. Please ya, bang,” Ayumi menangkupkan kedua tangannya.
Nalendra jadi bingung sendiri. Melihat wajah Ayumi, dia tidak tega untuk menolak. Tapi waktu yang mereka miliki terbatas sekarang. Tangan Nalendra nampak mengetuk setir yang dikemudikannya.
“Aku telepon papa deh, minta ijin. Boleh ya, bang.”
Mau tak mau Nalendra menganggukkan kepalanya, melihat Ayumi yang begitu bersikeras. Senyum terbit di wajah cantik gadis itu. Dengan cepat dia mengambil ponselnya, kemudian menghubungi Barra. Setelah beberapa deringan, sang papa menjawab panggilan darinya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Pa.. aku mau ikut bang Nal ke perkebunan, boleh ya, pa.”
“Di mana itu?”
“Di mana, bang?” Ayumi bertanya pada Nalendra.
“Ciwidey.”
“Di Ciwidey, pa.”
Nalendra meminta Ayumi mengubah mode panggilan menjadi loud speak. Dia sendiri yang akan bicara pada Barra dan menjelaskan situasi mereka. Ayumi mendekatkan ponsel pada pria itu.
“Om.. ini dengan Nal. Maaf, Ayumi mau ikut aku ke perkebunan. Tapi kayanya aku bakal lama di sana. Kemungkinan aku anterin pulangnya malam, om.”
“Pasti Yumi yang maksa pengen ikut,” terka Barra.
Pria itu sudah khatam dengan sikap keras kepala sang anak. Termasuk juga soal pernikahannya dengan Kemal. Nalendra hanya tertawa kecil saja mendengar ucapan Barra. Ayumi mencebikkan bibirnya.
“Om titip Yumi, ya.”
“Iya, om.”
“Kalau anak itu nyusahin kamu, kirim pulang aja. Suruh nebeng truk sapi.”
“Papa..” protes Ayumi.
“Iya, om. Kebetulan ada truk pengantar susu yang akan ke Bandung nanti. Aku bisa titipin Ayumi ke supirnya.”
“Abang iiihh..”
“Yumi.. kamu baik-baik di sana. Jangan ngerusuh, jangan gangguin kerjaan Nal.”
“Iya, pa, iya. Udah dulu ah. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Wajah Ayumi nampak sumringah setelah mendapat ijin dari ayahnya untuk mengunjungi perkebunan Humanity Corp. Gadis itu kemudian meminta Nalendra memutar audio mobil untuk menemani perjalanan mereka sampai ke Ciwidey. Terdengar suara gadis itu bersenandung mengikuti lagu yang diputar.
Ternyata konser Ayumi hanya bertahan sebentar. Gadis itu sekarang sudah terlelap. Nalendra menolehkan kepalanya, begitu tidak mendengar suara Ayumi lagi. Nampak Ayumi tertidur pulas dengan kepala menyender ke kaca jendela. Nalendra menepikan kendaraannya sebentar. Dia mengambil bantal kecil dari jok belakang. Pelan-pelan dia mengganjal kepala Ayumi dengan bantal, baru kemudian melanjutkan perjalanan kembali.
🍁🍁🍁
Sebuah tepukan di pundak, membangunkan Ayumi dari tidurnya. Matanya langsung terbuka, dan menangkap Nalendra yang tengah membangunkannya. Gadis itu langsug menegakkan dirinya. Saking mengantuknya, dia tidak sadar kalau sudah sampai di perkebunan.
“Aduh, aku ketiduran. Maaf ya, bang.”
__ADS_1
“Ngga apa-apa. Ayo turun.”
Ayumi segera turun dari mobil. Mata Ayumi langsung memandang sekeliling. Mereka sekarang berada di kantor administrasi perkebunan. Nalendra mengajak Ayumi untuk masuk. Nampak seorang pria paruh baya mendekati Nalendra. Mereka bercakap-cakap sebentar. Sesekali Nalendra melihat kertas di tangannya.
“Ay.. aku mau ke silo. Kamu mau ikut?”
“Silo apa, bang?”
“Gudang tempat penyimpanan hasil panen.”
“Ooh.. iya, aku ikut dong.”
“Kita shalat dulu, ya. Tuh udah adzan.”
Terdengar suara adzan yang berasal dari masjid yang ada di komplek perkebunan ini. Nalendra segera mengajak Ayumi ke sana untuk menunaikan shalat ashar. Terlihat beberapa pegawai juga berjalan menuju ke sana. Sesampainya di masjid keduanya segera menuju tempat terpisah.
Usai melaksanakan shalat, Nalendra mengajak Ayumi menuju silo menggunakan club car. Gadis itu nampak senang mengelilingi kebun menggunakan mobil yang biasa digunakan untuk bermain golf. Matanya terus memandangi deretan tanaman yang mereka lintasi saat menuju silo.
Terdengar sapaan para pekerja ketika club car yang mereka kendarai melewati mereka. Nalendra membalas sapaan mereka seraya tersenyum. Tanpa dijelaskan pun, Ayumi tahu kalau Nalendra disukai oleh semua pegawai di sini. Anak dari Farel ini terkenal sebagai pria yang ramah lingkungan.
Club car berhenti di depan silo. Ukuran gudang tersebut ternyata cukup besar juga. Nampak banyak pegawai sedang menyortir sayuran yang baru saja dipanen. Ada wortel, tomat, kentang, pokcoy, cabe merah, cabe hijau, kol, kembang kol dan juga brokoli. Nalendra mempersilahkan Ayumi duduk di mana pun gadis itu mau. Sedangkan dirinya langsung mengontrol proses sortir dan packing.
“Apa ada kendala saat panen?” tanya Nalendra.
“Ngga, pak. Hasil yang buruk juga lebih sedikit dari panen sebelumnya.”
“Syukurlah. Untuk distribusinya sudah dirinci dengan benar?”
“Sudah, pak. Hanya saja ada tambahan permintaan dari The Ocean, Arjuna dan Yudhistira hotel. Rose café dan Premium juga untuk bulan depan ada penambahan permintaan.”
“Apa kita bisa memenuhinya?”
“Sejauh ini masih aman, pak.”
“Ok.. pak Herman mana?”
“Masih mantau panen ikan, pak.”
“Baik, pak.”
Pria yang berbincang dengan Nalendra, segera pergi untuk melakukan apa yang diperintahkan padanya. Nalendra berjalan mendekati para ibu yang tengah menyortir kentang. Dia berjongkok dan melihat hasil panen kentang kali ini yang lebih banyak dari panen sebelumnya.
“Bu… kentang yang itu jangan dimasukkan ke grade A. Lihat, ada sedikit cacat di bagian ini,” Nalendra menunjuk bagian kentang yang ada legokan sedikit.
“Cuma sedikit, pak.”
“Iya, tapi kalau dikupas, pasti ada sedikit kehitamanan di dalamnya.”
“Ooh.. begitu ya, pak.”
Ibu tadi mengembalikan kentang ke keranjang. Dia kembali menyortir kentang yang tersisa. Nalendra membantu para pekerja sebentar, kemudian melanjutkan pengontrolannya. Kini dia berada di bagian brokoli. Sejak diserahi tanggung jawab oleh Farel untuk mengurus perkebunan, Nalendra menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Walau kadang dia harus bolak-balik Ciwidey-Bandung, karena pria itu masih menyelesaikan kuliah S2-nya.
Selain itu, ilmu yang diperolehnya di bangku perkuliahan diterapkannya saat mengurus perkebunan ini. Banyak ilmu yang dia ajarkan pada pekerja perkebunan yang rata-rata adalah penduduk sekitar yang sudah berusia di atas tiga puluh. Sikapnya yang ramah, membuat pria itu disukai oleh para pekerja, terutama kaum ibu. Banyak yang menawarkan anak gadis mereka pada Nalendra.
“Kalau neng ini pacarnya pak Nalen?” tanya salah satu ibu pada Ayumi.
“Bu..”
“Iya, bu,” sambar Ayumi.
Nalendra membelakkan matanya, melihat pada Ayumi. Gadis itu hanya mengedipkan matanya pada Nalendra. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia melanjutkan pekerjaannya kembali dan membiarkan Ayumi berbincang dengan pekerja lainnya.
“Udah lama pacarannya?” tanya ibu bernama Lilis itu, kepo.
“Baru hari ini,” jawab Ayumi asal.
Entah mengapa, gadis itu ingin saja mengatakan itu semua. Hari ini dia ingin cosplay menjadi kekasih Nalendra. Penasaran bagaimana reaksi para ibu yang menginginkan pria itu menjadi menantunya. Ayumi memang pernah mendengar hal tersebut saat Aidan berbincang dengan para sepupunya, ketika meledek Nalendra.
“Bang Nalen ngga punya pacar kan, bu?” selidik Ayumi.
“Ngga, kok. Masih single, tapi emang banyak peminatnya. Dari mulai gadis sampai janda, hihihi..”
__ADS_1
Ayumi hanya melemparkan cengirannya. Sambil terus menyortir sayuran, Lilis terus menceritakan bagaimana sosok Nalendra. Diam-diam Ayumi mengagumi Nalendra yang tidak hanya pintar, tapi juga baik, ramah dan soleh. Andai saja dia bertemu dengan pria itu lebih cepat, mungkin dirinya tidak akan bersama dengan Kemal. Kekasihnya yang masih kekanakkan dan sering membuatnya kesal.
“Masih betah di sini?” pertanyaan Nalendra mengiterupsi perbincangan Ayumi dengan Lilis.
“Abang mau kemana?”
“Mau ke kantor lagi. Kamu kalau masih di sini, ngga apa-apa. Nanti biar diantar pak Jaka ke kantor.”
“Ngga ah. Aku ikut bareng abang aja. Bu Lilis, aku pergi dulu, ya. Nanti disambung lagi ceritanya.”
“Iya, neng.”
Dengan berlari kecil, Ayumi menyusul Nalendra yang sudah lebih dulu keluar. Keduanya kembali menaiki club car untuk kembali ke kantor. Tangan Ayumi melambai ketika melewati para pegawai yang bersiap untuk pulang, karena waktu sudah hampir pukul lima sore.
“Abang di sini negtop banget ya. Banyak yang pengen jadiin abang calon mantu, hihihi..”
“Kamu ngapain tadi pake bilang kita pacaran?”
“Iseng aja. Aku lagi pengen cosplay jadi pacarnya abang,” Ayumi mengedip-ngedipkan matanya.
“Ketahuan Kemal dimarahin nanti.”
“Aah abang mah, malah ngomongin si onta. Aku sebel banget sama dia.”
“Kamu udah lama pacaran sama dia?”
“Baru setahun sih pacarannya. Tapi udah lama kenal. Waktu masih jadi teman, dia itu asik orangnya. Giliran udah pacaran, awalnya aja manis, lama-lama nyebelin.”
“Hahaha.. nyebelin gimana?”
“Dia tuh kaya anak kecil. Kerjanya main game mulu sama si Deri, sahabatnya. Tadi aja dia lebih milih ketemu Deri dari pada temenin aku nengok kak Ila, nyebelin banget, kan?”
“Kalau kaya gitu, kenapa kamu mau nikah sama dia? Mumpung belum terlambat, batalin aja.”
“Maunya sih, bang. Tapi aku ngga enak sama orang tuanya, terutama mamanya. Mamanya tuh baiiiik banget sama aku. Aku ngga tega bikin mama Rindi kecewa.”
Percakapan mereka berakhir ketika club car yang mereka naiki berhenti di depan kantor administrasi. Nalendra segera turun dan masuk ke dalam kantor. Ayumi mengikuti pria itu dari belakang. Nalendra meminta Ayumi menunggu di ruangannya. Sementara dirinya harus membicarakan hal penting dengan Herman.
🍁🍁🍁
Tak terasa, waktu sudah mendekati malam. Suara adzan maghrib terdengar dari masjid. Nalendra segera mengakhiri perbincangannya. Dia kembali ke ruangannya, kemudian mengajak Ayumi ke masjid.
“Ay.. kita ke rumahku dulu, ngga apa-apa? Aku mau mandi,” ujar Nalendra selesai menunaikan ibadah shalat maghrib.
“Rumah abang? Abang punya rumah di sini?”
“Masih nyewa. Dekat kok, ngga apa-apa, kan?”
“Iya, ngga apa-apa, bang.”
Nalendra masuk ke dalam mobil disusul oleh Ayumi. Kendaraannya segera melaju keluar dari perkebunan. Mereka hanya berkendara selama sepuluh menit saja, dan sudah sampai di rumah yang menjadi tempat tinggal Nalendra saat tidak bisa pulang ke Bandung. Ayumi memandangi rumah mungil di hadapannya.
“Ayo.”
Pria itu membuka pintu rumah, kemudian mempersilahkan Ayumi masuk. Dia bergegas masuk ke dalam kamar, sedang Ayumi menonton televisi sampai Nalendra selesai mandi. Sepuluh menit berselang, Nalendra sudah selesai dengan aktivitas mandinya. Ayumi sedikit tertegun ketika melihat pria itu keluar dari kamar. Pria itu terlihat tampan mengenakan pakaian casual.
“Kita makan dulu, baru pulang.”
“Iya, bang. Aku juga udah laper.”
“Ayo, kita makan di Ki Sunda aja. Kamu suka makanan Sunda, kan?”
“Suka, bang.”
Setelah mengunci pintu, keduanya segera masuk ke dalam mobil. Nalendra kembali mengarahkan kendaraannya menuju perkebunan. Letak rumah makan Ki Sunda memang berada di dekat pintu masuk perkebunan. Suasana khas bumi parahyangan langsung terasa ketika mereka memasuki area restoran. Nalendra memilih makan di saung yang ada di sana.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, keduanya kembali berbincang santai. Wawasan Nalendra sangat luas, dan Ayumi senang berbincang dengan pria itu. Saking senangnya, dia sampai melupakan Kemal dan pernikahannya yang akan berlangsung sebentar lagi.
🍁🍁🍁
**Kira² Ayumi jadi ngga nikahnya, nih?
__ADS_1
Yang minta silsilah udah ya di bab pengumuman tadi**.