
Ballroom hotel Yudhistira sudah didatangi oleh pihak keluarga kedua calon pengantin. Semua keluarga Hikmat, dari mulai kakek hingga cucu sudah datang. Stella dan Dayana membawa serta anak mereka, begitu pula dengan Vanila. Keluarga Ramadhan juga ikut datang untuk menyaksikan hari bahagia Ayumi, anak kedua dari pasangan Barra dan Hanna.
Bukan hanya kedua keluarga itu, tapi keluarga Kemal juga sudah datang. Raut bahagia tercetak jelas di wajah kedua orang tua Kemal. Mereka tak menyangka bisa berbesan dengan keluarga Hikmat. Berbeda dengan Kemal yang sedari tadi terlihat gelisah. Pria itu duduk seraya menggerak-gerakkan kakinya. Dari arah pintu masuk, muncul Deri sahabatnya. Pria itu segera mendekatinya.
Untuk beberapa saat kedua pria itu berbicara serius. Kemal mengusap wajahnya kasar, Deri pun tidak kalah kesal melihat sikap Kemal yang seperti ini. Percakapan keduanya terganggu ketika ibu Kemal datang dan mengajak anaknya segera menuju meja akad. Penghulu yang akan menikahkannya sudah datang.
Untuk pernikahan kali ini, penghulu yang diberi kepercayaan menunaikan tugasnya, adalah Resnu. Berkat therapy yang diberikan Rahman Badarudin Surahman, pria itu sudah tidak gugup dan gagap lagi. Hanya saja terkadang rasa grogi kerap melanda. Apalagi kalau melihat mempelai wanitanya cantik. Langsung konsentrasi pria itu buyar.
Sementara itu, Ayumi sudah berada di ruangan kecil yang ada di ballroom. Dia akan tetap tinggal di sana sampai acara ijab kabul selesai. Dirinya ditemani oleh Hanna dan juga Chelsea, adiknya. Gadis itu juga merasa gugup menghadapi pernikahannya. Apalagi dia dan Kemal sudah tidak bertukar kabar, maupun bertemu. Pertemuan terakhir mereka saat belanja hantaran pernikahan yang gagal karena Ayumi memilih menjenguk Vanila yang baru saja melahirkan.
Farel mendekati Resnu yang sedang mengecek dokumen pernikahan kedua mempelai. Pria itu menaruh segelas air mineral kemasan di dekat Resnu, membuatnya melihat pada Farel. Ayah dari Nalendra itu melemparkan senyumnya.
“Apa kabar pak Resnu?”
“Baik, pak Farel.”
“Sudah tidak gagap sekarang?”
“Alhamdulillah udah, ngga.”
“Syukurlah. Situasi aman terkendali ya, pak.”
Resnu hanya melemparkan cengirannya saja. Farel menepuk bahu penghulu muda itu, kemudian kembali ke tempatnya. Dia duduk di samping Ara dan juga anaknya, Nalendra. Setelah memeriksa kelengapan dokumen, Resnu mempersilahkan pada Barra dan Kemal untuk memulai prosesi ijab kabul.
Beberapa kali Kemal mengusap keningnya yang basah oleh keringat. Chandra, ayah dari Kemal memijat pundak sang anak untuk menghilangkan kegugupannya. Perasaan Kemal langsung tak karuan ketika Barra menggenggam erat tangannya. Dapat pria itu rasakan telapak tangan calon menantunya sedingin es.
“Ananda Kemal Afriansyah, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Ayumi Dafhina Romano binti Barra El Fatih Romano, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas seberat tiga puluh gram dibayar tunai!”
“Sa.. saya.. te.. terima nikah dan kawinnya….”
Kemal tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba saja pria itu lupa dengan nama panjang calon istrinya. Ijab kabul yang pertama langsung dinyatakan gagal. Chandra memberikan minuman untuk anaknya dan kembali memijat pundaknya. Wajah Kemal nampak frustrasi. Tanpa sengaja dia melihat pada Deri yang menatapnya dengan tajam.
“Bisa dimulai kembali?” tanya Resnu.
“Bisa, pak. Ayo Kemal, pasti kamu bisa,” ujar Chandra.
Kemal hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, walau pikirannya entah berkelana kemana. Barra terlihat kesal melihat pria pilihan anaknya yang terlihat tidak serius dan ogah-ogahan melakukan proses ijab kabul. Penasaran dengan apa yang terjadi di luar, Ayumi meminta Chelsea untuk melihat keluar.
Barra kembali menarik tangan Kemal, lalu menggenggamnya erat. Chelsea mengawasi prosesi ijab kabul yang akan berlangsung sebentar lagi. Kemal mengusap lagi keningnya yang berkeringat.
“Ananda Kemal Afriansyah, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Ayumi Dafhina Romano binti Barra El Fatih Romano, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas seberat tiga puluh gram dibayar tunai!”
“Maaf, om. Sa.. saya tidak bisa meneruskan pernikahan ini,” Kemal melepaskan genggaman tangan Barra.
“Apa maksud kamu?!” geram Barra.
“Kemal! Kamu jangan bercanda!”
“Aku ngga bercanda pa. Maaf pa, om dan yang lainnya. Aku.. aku ngga bisa menikahi Ayumi.”
“Kenapa?” tanya Barra sambil berusaha menahan kemarahannya.
“Sa.. saya tidak mencintai Ayumi, om.”
Sontak saja jawaban Kemal mengejutkan semua orang. Chelsea menutup mulutnya mendengar pengakuan Kemal. Farzan yang tak terima Kemal memperlakukan adiknya seperti itu, segera maju untuk menghajarnya. Namun langkahnya langsung di tahan oleh Zar dan Arya.
Suasana di ballroom langsung ricuh. Pihak keluarga Kemal malu bukan main dengan pengakuan pria itu. Jojo mengetatkan rahangnya, begitu pula dengan Anfa. Cucu mereka dijadikan bahan permainan oleh bocah ingusan itu. Sementara Abi, Juna, Cakra dan Kevin menatap tajam pada Kemal.
“Chel.. kenapa, Chel?” tanya Ayumi yang melihat sang adik tak kunjung masuk.
“Kak.. bang Kemal batalin pernikahan.”
“Hah?”
Baik Ayumi maupun Hanna terkejut mendengarnya. Keduanya segera keluar dari ruangan. Kemal menolehkan kepalanya, melihat pada Ayumi. Pria itu bangun dari duduknya, lalu menghampiri Ayumi.
“Yumi.. maafkan aku. Maaf, aku tidak bisa menikahimu.”
“Apa alasanmu tidak mau menikahiku?” tanya Ayumi dengan suara bergetar menahan amarah.
“Aku.. aku tidak mencintaimu. Maafkan aku, Yumi.”
“Kalau kamu tidak mencintaiku, kenapa kamu setuju berpacaran denganku. Kenapa kamu mau menikah denganku. KENAPA?!”
“Maaf Yumi, maaf. Aku hanya tidak tega padamu.”
“Tidak tega? Tapi kamu tega membatalkan pernikahan ini dan membuatku malu!! Harusnya kamu menolaknya sejak awal!! Dasar brengsek!!”
PLAK!!
__ADS_1
Ayumi menampar pipi Kemal, untuk melampiaskan kekesalannya. Deri yang melihat itu segera mendekat. Dia menahan tangan Ayumi, menghentikan gadis itu yang hendak menampar Kemal lagi. Dengan kasar, Ayumi menarik tangannya.
“Jangan salahin Kemal. Aku yang minta dia dekatin kamu dan berpacaran dengamu. Tapi aku ngga nyangka kalau kamu ingin menikah dengannya,” jelas Deri.
“Kenapa kamu menyuruhnya berpacaran denganku. Kenapa?!”
“Untuk menyembunyikan hubungan kami.”
Kemal menundukkan kepalanya saat Deri memberikan penjelasannya. Ayumi hanya terbengong mendengarnya, tubuhnya sedikit limbung dan hampir saja terjatuh kalau Chelsea tidak langsung menahannya. Mata gadis itu memandang Kemal dan Deri bergantian. Pantas saja kedua pria ini sudah seperti kancing cetet yang tidak bisa dipisahkan. Ternyata ada hubungan terlarang di antara keduanya.
Mama Kemal hampir pingsan mendengar pengakuan Deri. Wanita itu menangis. Tak menyangka anak laki-laki satu-satunya ternyata mengidap kelainan ****. Alih-alih mencintai perempuan, dia malah menyukai sesama jenis. Wajah Chandra nampak memerah menahan malu sekaligus marah.
“Maaf Yumi.. maafkan kami,” ujar Deri.
Pria itu segera menarik tangan Kemal untuk pergi dari sana. Tanpa mempedulikan panggilan Chandra dan juga anggota keluarganya yang lain, Kemal segera pergi meninggalkan ballroom. Chandra mengusap kasar wajahnya, kemudian melihat pada Barra yang masih bergeming di tempatnya. Namun pria itu terlihat sangat marah.
“Maafkan kami, pak Barra. Kami tidak tahu tentang perilaku Kemal yang sebenarnya. Maaf.. kami akan menanggung apapun yang akan bapak lakukan pada kami. Kami permisi dulu.”
Bergegas Chandra mengajak istri dan kerabat yang lain untuk meninggalkan ballroom. Dia sudah tidak ada muka lagi berhadapan dengan keluarga Hikmat dan juga Ramadhan. Tangan Barra terkepal erat, pria itu menggebrak meja dengan kencang membuat Resnu terlonjak dari duduknya. Penghulu muda itu mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat. Baru kali ini dia menyaksikan drama pernikahan seperti ini.
Ayumi melayangkan pandangannya pada Barra. Gadis itu mulai menangis. Hari ini dia sukses mempermalukan mama, papanya dan juga seluruh keluarga besar. Hanna merangkul bahu anaknya.
“Jangan menangis, sayang. Laki-laki seperti dia tidak pantas ditangisi.”
“Aku menangis bukan karena dia, ma. Aku merasa bersalah sudah mempermalukan papa dan mama. Harusnya aku mendengarkan kalian. Maafkan aku, ma.”
Hanna menarik Ayumi ke dalam pelukannya. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia dalam hidupnya, kini menjadi hari yang paling memalukan. Nalendra memandang tak berkedip pada Ayumi yang masih menangis dalam pelukan mamanya. Kemudian beralih pada Barra yang tengah ditenangkan para sahabatnya. Pria itu kemudian melihat pada kedua orang tuanya.
“Ma.. pa.. kalau mama dan papa mengijinkan, aku akan menikahi Ayumi hari ini.”
Karuan saja Farel dan Ara terkejut mendengarnya. Bukan mereka tidak setuju, tapi mereka tidak memiliki persiapan apapun untuk pernikahan putra satu-satunya ini. Ara menggenggam tangan sang anak.
“Nal.. apa kamu yakin?”
“Iya, ma. Tolong ijinkan aku.”
“Bicaralah pada Ayumi dan juga om Barra. Kalau mereka bersedia, kami pasti mengijinkanmu,” putus Farel.
Nalendra menarik nafas panjang, kemudian berdiri dari duduknya. Dengan langkah mantap pria itu menuju Barra yang masih berada di meja akad. Dia mendudukkan diri di depan Barra.
“Om.. mohon maaf sebelumnya kalau apa yang saya katakan mungkin tidak terdengar sopan. Saya bersedia menikah dengan Ayumi.”
“Kenapa kamu mau menikahinya? Apa karena kasihan? Ayumi tidak butuh dikasihani.”
“Maaf, om. Sama sekali tidak ada rasa iba terbersit di hati saya untuknya. Apa yang terjadi hari ini adalah jawaban dari doa-doa saya. Saya selalu menginginkan jodoh yang baik untuk saya. Perempuan yang bisa membuat hari-hari saya ceria dan lebih berwarna. Dan perempuan itu adalah Ayumi. Perempuan yang selalu datang dalam mimpi saya akhir-akhir ini. Kalau om mengijinkan, saya ingin menikahi Ayumi.”
Barra tak langsung menjawab. Dia menolehkan kepalanya pada sang anak. Nalendra pun melakukan hal yang sama. Kedua netra mereka bertemu dan saling mengunci. Ayumi tidak tahu apa yang dirasakannya sekarang. Kecewakah atau bahagiakah. Pria yang bersedia menjadi pengantin pengganti untuknya adalah pria yang juga datang ke mimpinya akhir-akhir ini. Pria yang berhasil menyita pikirannya beberapa hari belakangan.
“Kaya dejavu, ya,” bisik Abi.
“Bener. Akhirnya ada juga yang ngikutin jadi pengantin pengganti,” timpal Cakra.
“Mas kawinnya patungan lagi, ngga?” sahut Jojo.
“Yang ini kayanya ngutang,” pungkas Kevin.
Sontak keempat sahabatnya langsung menolehkan kepala pada pria itu. Namun Kevin hanya mengangkat bahunya saja.
Perhatian semua orang kini kembali tertuju pada Nalendra, Ayumi dan Barra. Mereka masih menunggu kelanjutan drama pernikahan ini. Begitu pula dengan Resnu. Pria itu seperti sedang menonton film drama secara live.
“Ayumi.. apa kamu mau menikah dengan Nal?” tanya Barra.
“Aku serahkan semuanya pada papa. Aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Sudah cukup aku mempermalukan papa hari ini.”
“Apa kamu menyukai Nal?” tanya Barra lagi.
Kembali Ayumi melihat pada Nalendra yang masih melihatnya tanpa berkedip. Dari bahasa tubuh keduanya, Barra bisa melihat percikan cinta dari mereka. Barra tak habis pikir dengan kelakuan Ayumi yang tetap memaksakan menikah dengan Kemal, di saat hatinya mulai terpaut pada Nalendra.
“Kenapa kamu tetap bersikeras menikah dengan Kemal kalau kamu menyukai laki-laki lain?”
“Aku tidak mau mempermalukan papa.”
“Tapi kamu sudah mempermalukan papa sekarang.”
“Maaf, pa,” Ayumi menundukkan kepalanya.
“Tebuslah kesalahanmu. Jangan permalukan papa lagi. Menikahkah dengan Nal.”
“Papa..”
__ADS_1
Barra bangun dari duduknya, lalu menghampiri anak keduanya ini. Ditariknya sang anak ke dalam pelukannya. Tangis Ayumi pecah dalam pelukan sang papa. Kelegaan nampak di wajah semua orang, tak terkecuali Jojo. Akhirnya dia bisa mendapatkan cucu menantu dari klan Ramadhan lagi.
Perlahan Barra mengurai pelukannya. Dia meminta tisu pada Hanna, kemudian menghapus airmata di wajah anaknya. Pria itu memeluk bahu Ayumi, kemudian melihat pada Nalendra.
“Om serahkan Ayumi padamu. Om harap kamu bisa menjaga, melindungi, menyayangi dan membahagiakannya.”
“In Syaa Allah, om. Tapi.. maaf om..”
Dengan cepat Nalendra menghampiri Barra. Dia membicarakan masalah penting dengan suara sedikit berbisik, tidak ingin terdengar oleh para sahabat dan sepupu durjananya.
“Kalau mas kawinnya hutang dulu ngga apa-apa, om? Karena mendadak, saya belum ada persiapan,” Nalendra melemparkan cengirannya.
“Jangan pikirkan soal mas kawin. Apapun itu, kami dan juga Ayumi akan menerimanya.”
“Ngga bisa, om. Ayumi itu perempuan istimewa yang akan menjadi istri dan calon anakku. Aku harus memberikan mas kawin yang istimewa untuknya.”
“Baiklah. Terserah kamu saja.”
“Kamu ngga keberatan kan, Ay? Cincin pernikahan juga kita akan beli nanti.”
“Iya, bang.”
“Baiklah. Ayo kita mulai saja akad nikahnya.”
Setelah kesepakatan di dapat, Barra mengajak Nalendra duduk di meja akad. Ayumi juga diminta duduk di dekat calon suaminya. Nara datang membawakan sehelai kain putih, lalu menaruhnya di atas kepala calon pengantin. Elang duduk sebagai saksi dari pihak Farel, sedang Ravin akan menjadi saksi dari pihak Barra.
“Jadi nikahnya, ya?” tanya Resnu memastikan.
“Jadi, pak.”
“Untuk kelengkapannya, nanti menyusul saja ke KUA.”
“Baik, pak,” jawab Nalendra.
Setelah Nalendra mengatakan mas kawinnya, Barra menggenggam tangan Nalendra. Tidak seperti Kemal, kali ini Nalendra balas menggenggam tangannya dengan erat. Pria itu bersyukur mendapatkan calon menantu pengganti di detik-detik akhir.
“Ananda Nalendra Altezza Ramadhan, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Ayumi Dafhina Romano binti Barra El Fatih Romano, dengan mas kawin satu set perhiasan seberat 30 gram dan uang tunai lima puluh juta rupiah, dibayar hutang!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Ayumi Dafhina Romano binti Barra El Fatih Romano dengan mas kawin tersebut dibayar hutang!”
“Bagaimana para saksi, sah?”
“SAH!”
Terdengar suara yang lain mengucapkan hamdallah, setelah mempelai pengganti berhasil mengucapkan kalimat kabul dengan lancar, aman dan terkendali, walau mas kawinnya masih hutang.
“Benar kan hutang,” celetuk Kevin.
“Tumben bener,” sahut Jojo.
“Nal ngga mau ikut jejak kak Juna yang mas kawinnya patungan,” timpal Abi.
“Hahaha..”
Juna hanya menggelengkan kepalanya saja. Mas kawin patungan yang terjadi saat pernikahannya dulu, ternyata masih melekat kuat dalam ingatan adik dan juga para sahabatnya.
“Buset.. bos perkebunan mas kawinnya ngutang, hahaha..” seru Zar.
“Padahal kasih aja mas kawinnya brokoli dan kawan-kawan,” timpal Irzal sambil terkekeh.
“Woii adik gue tuh!” sewot Farzan yang hanya dibalas tawa oleh yang lain.
Hanna mengarahkan Ayumi untuk mencium punggung tangan suaminya. Ayumi merubah posisi duduknya, kemudian mencium punggung tangan Nalendra. Dengan lembut pria itu merengkuh bahu sang istri, kemudian mendaratkan ciuman di keningnya. Jodoh memang tidak mengenal tempat dan waktu saat menghampiri. Tak disangka Nalendra akan menjadi pengantin pengganti untuk gadis yang belakangan sering mampir ke dalam mimpinya.
Begitu pula dengan Ayumi. Ada berkah dibalik musibah yang dialaminya tadi. Tuhan memang selalu punya cara untuk mempertemukan hamba-Nya yang sudah dijodohkan oleh-Nya. Kepergian Kemal di hari pernikahan, digantikan oleh Nalendra. Pria yang akan menjadi teman seumur hidupnya.
🍁🍁🍁
**Selamat ya, Nal dan Ay.. Walau mas kawinnya ngutang🤭
Ini penampakan pasangan pengantin.
Nal, pengantin pria pengganti**
Ayumi, pengantin wanita yang ditinggal pergi
__ADS_1