
Udara sejuk yang berasal dari air conditioner langsung menerpa kulit Arsy, ketika kakinya melangkah masuk ke dalam mall. Wanita itu masih belum kembali bertugas ke rumah sakit. Sebelum kembali pada aktivitasnya sebagai dokter magang, Arsy ingin melakukan sesuatu untuk membuat hatinya tenang dan membahagiakan suaminya.
Baru saja wanita itu melewati beberapa tenant ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya. Arsy nampak terkejut sekaligus senang melihat Renata yang melakukannya. Matanya refleks melihat pada jam di pergelangan tangannya. Waktu baru menunjukkan pukul sebelas siang, tapi Renata sudah bisa keluar dari tempat kerjanya.
“Rena.. tumben jam segini ada di mall.”
“Iya, aku ijin sama bang Rakan sampai jam makan siang. Ada yang mau aku beli. Kamu sendiri belum tugas lagi di rumah sakit?”
“Belum. Ada yang mau aku lakuin dulu. Kamu mau beli apa?”
Belum sempat Renata menjawab, dari arah lain muncul Iza. Ibu hamil tersebut langsung bergabung dengan kedua wanita itu. Arsy lagi-lagi terkejut melihat kemunculan Iza. Dia langsung memeluk seraya bercipika-cipiki dengan istri Aqeel tersebut.
“Sama siapa ke sini?” tanya Arsy.
“Sendiri. Tadi diantar supir.”
“Bumil jalan-jalan sendiri ngga apa-apa? Tuh bawa-bawa gendang ngga berat apa?”
Tawa Iza pecah mendengar ucapan Arsy. Di usia kehamilannya yang sudah menginjak tujuh bulan lebih, membuat wanita tersebut harus lebih banyak bergerak. Karenanya dia menerima tawaran Renata untuk berbelanja bersama. Wanita itu juga hendak membeli keperluan untuk calon anaknya.
“Kamu sendiri? Ngga sama Bibie?”
“Ngga, sendiri aja. Aku mau kasih kejutan buat mas Bibie. Kamu mau belanja keperluan bayi ya? Ngga sama bang Aqeel?”
“Sekarang beli baju aja. Kalau sama bang Aqeel nanti pas beli peralatan lain. Kamu mau ikut belanja bareng sama kita?” tawar Iza.
“Rena mau belanja apa?”
“Ng.. itu.. aku..”
“Rena mau beli pakaian muslim. Katanya dia mau belajar menutup aurat. Alhamdulillah udah ada keinginan untuk berhijab,” terang Iza.
“Alhamdulillah, selamat ya, Ren. Tapi kok kita samaan ya.”
“Kamu juga mau beli pakaian muslim?”
“Iya. Sejak kehilangan calon anakku, mas Bibie banyak kasih support ke aku. Dia selalu ada di sampingku dan memberiku semangat. Padahal aku tahu kalau dia juga sedih. Udah banyak yang mas Bibie lakukan buatku. Aku juga ingin membuatnya bahagia. Mudah-mudahan dengan menutup aurat, aku bisa membuatnya bahagia.”
“Alhamdulillah. Bibie pasti bahagia. Sejak dulu dia emang mau punya pendamping yang berhijab.”
“Oh ya? Kok dia ngga pernah bilang ke aku,” gumam Arsy.
“Mungkin dia mau kamu memakainya karena kesadaran sendiri, bukan karena permintaannya. Seperti sekarang.”
Arsy hanya menganggukkan kepalanya. Mendengar hal tersebut dari Iza, tentu saja membuatnya senang. Kejutan yang akan diberikan untuknya pasti akan membuat suaminya bahagia. Arsy semakin bersemangat untuk melanjutkan niatnya berhijab.
“Ayo kita hunting busana muslim dulu,” ajak Iza.
Arsy dan Renata menganggukkan kepalanya. Ketiga wanita tersebut segera naik ke lantai tiga. Di lantai ini, kebutuhan wanita berhijab tersedia di sini. Iza mengajak Arsy dan Renata menuju tenant langganannya. Di sana banyak terdapat model gamis dengan berbagai model. Cocok untuk mereka yang masih berjiwa muda.
Beberapa kali Iza memilihkan gamis yang dirasa sesuai untuk kedua sahabatnya. Selain gamis, wanita itu juga memberikan setelan tunik untuk dicoba. Renata dan Arsy harus bolak balik mencoba busana hasil rekomendasi Iza. Dari toko tersebut Renata membeli tiga buah gamis dan dua setel tunik. Sedang Arsy mengambil empat gamis dan empat stel tunik. Tak lupa dia membelikan gamis untuk mertuanya.
Setelah mendapatkan pakaian, Iza mengajak Renata dan Arsy berburu hijab. Mereka memilih hijab instan dan segi empat yang sesuai dengan warna pakaian yang dibeli tadi. Tidak lupa wanita tersebut menyarankan membeli ciput agar rambut dapat lebih tertutup.
Perburuan mereka masih belum berakhir. Kini ketiganya masuk ke dalam toko yang menjual aksesoris. Aneka bros dan juga hiasan lain untuk hijab tersedia di toko tersebut. Baik Arsy, maupun Renata begitu bersemangat untuk berbelanja. Tak sadar sudah banyak paper bag di tangan mereka.
“Sekarang tinggal beli baju buat debay,” ujar Arsy.
“Kita turun lagi ke lantai dua ya,” sahut Arsy.
Bersama-sama ketiganya menuju eskalator untuk kembali ke lantai dua. Kini mereka akan berburu pakaian untuk calon anak Iza. Mereka memasuki toko yang menyediakan pakaian bayi dari umur 0 bulan sampai satu tahun.
“Za.. anak kamu apa jenis kelaminnya?” tanya Arsy.
“In Syaa Allah laki-laki.”
“Berarti warna biru ya kalau laki-laki.”
“Kuning atau hijau juga bagus. Pokoknya yang cerah deh, biar debaynya kelihatan tambah ganteng,” sambung Arsy.
Arsy nampak bersemangat memilihkan pakaian untuk calon anak Iza dan Aqeel. Dia seperti tengah berbelanja untuk calon anaknya sendiri. Iza mengikuti saja pakaian yang dipilihkan Arsy. Kebetulan apa yang dipilihkan Arsy, dia juga menyukainya.
“Kalau yang ini biar aku yang bayar. Anggap aja hadiah buat calon anakmu,” ujar Arsy begitu mereka berada di depan kasir.
“Makasih ya, Sy.”
“Aku yang harusnya makasih. Kamu udah bantu aku milih baju dan kamu juga setuju aja sama pilihanku buat calon anakmu.”
“Pilihanmu emang bagus kok. Aku doakan secepatnya kamu dapat momongan lagi.”
“Aamiin..”
“Ngga ada yang doain aku nih,” timpal Renata.
“Kalau buat kamu aku doain, mudah-mudahan bang Zar cepet sadar buat ngelamar kamu secepatnya.”
“Apaan sih,” Renata jadi malu sendiri mendengar doa Arsy untuknya.
“Bang Zar emang pecicilan orangnya, kalau ngomong asal jeplak. Tapi kalau dia udah sayang sama perempuan, kalau bisa gunung juga dipindahin sama dia,” ujar Arsy lagi.
“Secepatnya ya, Ren. Kita tunggu undangan pernikahan kalian,” sahut Iza
“Aamiin.”
Hanya itu saja yang bisa Renata ucapkan. Hatinya senang ternyata Arsy menyetujui hubungannya dengan Zar. Tapi dia belum tahu dengan kedua orang tua pria itu. Akankah Kenzie dan Nara mau menerimanya sebagai menantu. Apalagi dia pernah melakukan hal yang tak mengenakan pada Zar, dan juga dirinya yang sudah tidak suci lagi.
“Kamu ngga usah mikir macam-macam. Sekarang fokus aja untuk memperbaiki diri lebih baik lagi. In Syaa Allah, niat baik akan berbalas kebaikan juga.”
Iza menepuk pundak Renata, seakan tahu apa yang dipikirkan wanita itu. sebagai sesama perempuan dia tahu apa yang dipikirkan Renata. Arsy juga turut memberikan semangat pada calon kakak iparnya. Dia yakin kalau Renata akan membuat hidup Zar bahagia.
“Makan yuk, laper nih,” ajak Iza.
“Sama, aku juga laper. Let’s go.”
Setelah berbelanja pakaian bayi, ketiganya kembali ke lantai satu untuk mengisi perut mereka yang keroncongan. Mereka memilih makan di Rose café yang rasa masakannya sudah tidak diragukan lagi.
__ADS_1
🍁🍁🍁
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Azkia menyambut kepulangan menantunya. Matanya langsung tertuju pada paper bag yang ada di tangan Arsy. Rupanya sang menantu baru selesai berbelanja. Arsy mendekati Azkia kemudian mencium punggung tangannya.
“Ini buat bunda.”
Arsy menyerahkan dua buah paper bag di tangannya. Setelah mengucapkan terima kasih, Azkia membuka paper bag yang diberikan sang menantu. Senyumnya mengembang ketika melihat Arsy membelikan dua buah gamis yang sangat cantik.
“Gamisnya bagus. Warnanya juga bunda suka. Makasih ya, Sy.”
“Sama-sama, bunda. Ng.. aku boleh minta tolong ngga, bunda?”
“Soal apa?”
“Tolong ajari aku pake hijab segi empat.”
“Kamu… mau berhijab?”
“In Syaa Allah, bunda. Aku sayang mas Bibie, dan aku ngga mau mas Bibie menanggung dosa karena istrinya yang belum menutup aurat.”
“Alhamdulillah, bunda senang mendengarnya. Ayo bunda ajari.”
Terlebih dulu Azkia menaruh belanjaan yang tadi diberikan Arsy di kamar. Kemudian wanita itu segera menuju ke lantai tiga bersama sang menantu. Dia akan mengajarkan beberapa model untuk mengenakan kerudung segi empat.
Arsy memakai dahulu salah satu gamis yang dibelinya tadi, kemudian mengambil hijab segi empat dengan warna yang cocok. Azkia meminta menantunya mengenakan ciput lebih dulu, baru kemudian mengajarkan bagaimana mengenakan hijab segi empat yang baik dan benar.
“Hijabmu harus terulur sampai menutupi dada. Seperti ini menggunakan hijab yang benar. Pakaian juga tidak boleh menonjolkan lekuk tubuh, harus longgar.”
“Kalau aku tugas di IGD gimana, bunda? Hijabnya kalau panjang begini, takutnya mengganggu pergerakan.”
“Kamu bisa mengikatnya. Ini kamu sudah membeli bros bentuk cincin. Kamu bisa memasukkannya seperti ini. Dan biar tidak gerak-gerak, bisa disematkan ke seragammu.”
“Oh iya, bunda.”
“Kamu cantik, sayang. Pasti Bibie bahagia melihatmu seperti ini.”
“Aamiin.. memang itu yang aku harapkan, bunda. Aku mau membuat mas Bibie bahagia, karena dia juga sudah membuatku bahagia.”
Senyum Azkia mengembang mendengarkan ucapan menantunya. Dia lalu mengajarkan lagi model lain dalam berhijab yang tetap terulur menutupi bagian dadanya. Dengan cepat Arsy mempelajari apa yang diajarkan mama mertuanya.
“Sudah bisa kan?”
“Sudah bunda. Tapi kalau ngga keberatan, aku mau minta tolong yang lain.”
“Apa?”
“Aku mau masak makanan kesukaan mas Bibie. Bunda mau ajarin?”
“Tentu. Kamu bereskan dulu pakaian ini, bunda tunggu di dapur.”
🍁🍁🍁
Di kantor, Irzal masih disibukkan dengan pekerjaannya. Setelah menghadiri meeting dengan para kepala bagian, kini dia tengah mengevaluasi pekerjaan tim perencanaan. Aidan dengan setia terus mendampingi sahabat sekaligus atasannya itu. Tiba-tiba saja ponsel Irzal berdenting. Sebuah pesan dari Arsy masuk.
From My Lovely Wife :
Mas.. hari ini ngga lembur kan?
To My Lovely Wife :
In Syaa Allah, ngga. Kenapa sayang?
From My Lovely Wife :
Aku udah masak makanan kesukaan mas. Dibantu bunda juga.
To My Lovely Wife :
Makasih, sayang. Mas ngga sabar pengen nyicipin makanan buatanmu. Tunggu ya, mas akan pulang tepat waktu.
From My Lovely Wife :
Iya, mas. Love you
To My Lovely Wife :
Love you too
Aidan melirik pada Irzal yang tengah senyam-senyum sambil membalas chat. Dia yakin sekali kalau Arsy yang tengah berbalas pesan dengan atasannya. Melihat kemesraan Irzal dan Arsy kadang membuatnya iri. Ingin rasanya dia mengakhiri masa lajangnya, tapi sayang, sampai sekarang dia masih belum mendapatkan tambatan hati alias jomblo.
“Cengar-cengir udah kaya orgil,” sindir Aidan begitu Irzal selesai berbalas pesan dengan sang istri.
“Sirik aja. Sana cari pasangan. Truk aja punya gandengan, masa asisten CEO Infinity Corp jomblo mulu. Lo emang belum minat nikah apa ngga laku?” balas Irzal.
“Sumpah mulut lo ya, Bie.”
Hanya kekehan saja yang terdengar dari mulut Irzal. Dia sangat senang mengganggu asisten sekaligus sahabatnya ini. Sejak ditinggal nikah calon pendamping hidupnya dua tahun lalu, Aidan sampai sekarang belum mendapatkan wanita lagi.
“Andai nyari cewek buat dijadiin istri segampang kaya belanja sayur di pasar, dari kemarin gue udah nikah kali.”
“Lo nya aja yang terlalu pilih-pilih. Cewek mah banyak.”
“Yang setia dan memenuhi kriteria gue, susah nyarinya.”
“Ceu enok yang jualan lotek di dekat kantor sesuai tuh sama kriteria elo.”
“Sue lo.”
Irzal terpingkal melihat kekesalan di wajah Aidan. Sebenarnya pria itu tidak muluk-muluk dalam mencari wanita yang akan dijadikan pendamping. Cukup paham ilmu agama, tahu bagaimana menjaga kehormatan dan pintar memasak. Aidan bukan pria yang senang makan di luar. Dia lebih menyukai masakan rumahan.
“Sepupunya Arsy kayanya banyak yang masih jomblo.”
__ADS_1
“Duh berat kalau sama cucu keluarga Hikmat.”
“Berat kenapa? Mereka bukan orang yang memandang seseorang dari status sosialnya.”
“Bukan soal itu. Ngga tau kenapa ya, cucu keluarga Hikmat tuh rata-rata somplak. Otaknya kaya kurang se-ons timbangannya, hahaha..”
“Ngatain bini gue juga, lo. Kampret!”
Irzal melempar pulpen ke arah Aidan. Dengan cepat pria itu menghindar seraya menangkap pulpen tersebut. Dirinya masih belum bisa berhenti tertawa. Melihat Arsy, Stella, Geya dan Vanila sudah cukup membuktikan hipotesisnya. Hanya Dayana saja yang dianggap masih masuk kategori normal.
“Sekarang aja bini lo udah jinak. Ingat ngga waktu kalian awal-awal kenal. Lo malahan disangka copet kan sama dia, hahaha..”
Senyum Irzal terkulum mengingat kejadian tersebut. Dirinya yang tidak tahu apa-apa justru disangka copet oleh Arsy. Belum lagi saat wanita itu menuduhnya sudah meracuni Abi hingga harus masuk rumah sakit. Tapi kejadian konyol seperti itu yang menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya.
“Kalau ngga salah anaknya tante Azra ada yang masih jomblo. Pepet aja.”
“Yang mana? Kok gue ngga pernah tahu?”
“Dia jarang ikut pertemuan, kalau ngga salah kuliahnya di London.”
“Cantik, ngga?”
“Ya lo lihat aja tante Azra.”
“Cantik tante Azra mah. Boleh nih dikenalin.”
“Tapi kalau dia belum punya calon ya, hahaha..”
“Kampret.”
Pintu ruangan Irzal terketuk, membuat perbincangan kedua pria itu terhenti. Zain masuk dengan membawa beberapa dokumen di tangannya. Dia langsung menuju meja Irzal dan menyerahkan dokumen tersebut.
“Ini dokumen yang harus bapak tanda tangani. Isinya sudah sesuai dengan yang bapak minta revisi.”
Irzal mengambil dokumen tersebut. Sebelumnya dia memeriksa lebih dulu isi dokumen. Setelah tidak ada yang salah, barulah pria itu membubuhkan tanda tangan. Zain mengambil kembali dokumen yang sudah ditanda tangani.
“Pak Nalendra tadi telepon. Katanya mereka ada perjanjian dengan hotel Arjuna dan Yudhistira. Rencananya besok pak Nalendra akan ke Bandung.”
“Tumben dia ngga telpon aku,” seru Irzal.
“Sebenarnya dia mau kasih surprise, hehehe..” Zain hanya melemparkan cengiran setelah sadar sudah keceplosan.
“Bilangin ke Nal, suruh bawa calon jangan bawa sayur mulu, hahaha,” ceplos Aidan.
“Heleh sesama jomblo jangan saling meledek.”
Mata Aidan melotot mendengar ucapan Irzal. Zain hanya mengulum senyumnya, dan hal tersebut tertangkap oleh Aidan.
“Ngga usah senyum. Sama masih jomblo juga.”
“Tapi saya udah punya calon, pak.”
“Masa?” tanya Aidan tak percaya.
“Udah punya calon dia. Adeknya Darren,” jawab Irzal.
“Wah ngga bisa nih. Kok main serobot aja,” protes Aidan.
“Maaf, pak. Gimana amal-amalan kayanya.”
Setelah sukses melontarkan kalimat yang membuat Aidan semakin dibuat gondok tingkat tinggi, Zain segera keluar dari ruangan sang atasan. Irzal hanya terpingkal saja melihat kekesalan di wajah Aidan.
🍁🍁🍁
Mobil yang dikemudikan Irzal sampai di rumahnya. Pria itu segera turun lalu masuk ke dalam rumah. Setelah mencium punggung tangan ayah dan bundanya, dia bergegas naik ke lantai tiga. Suasana di kediamannya terlihat sepi. Dia tidak melihat keberadaan sang istri di mana pun. Irzal menaruh tas kerjanya di ruang kerja pribadinya, kemudian masuk ke dalam kamar.
Di atas ranjang dia melihat Arsy sudah menyiapkan pakaian ganti untuknya. Pria itu mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. Mungkin istrinya tengah menyiapkan makan malam, dan dia memutuskan untuk langsung membersihkan diri. Tak butuh waktu lama baginya membersihkan diri, Irzal segera keluar dari kamar mandi.
Dengan cepat dia mengenakan pakaian yang disiapkan sang istri lalu keluar dari kamar. Semua ruangan yang ada di lantai tiga dibuka olehnya, namun pria itu tak menemukan kebeberadaan istrinya.
“Sayang..” panggilnya, namun tak ada jawaban dari Arsy.
Kemudian sudut matanya menangkap seorang wanita berdiri di balkon. Irzal berjalan mendekat, hatinya bertanya-tanya, siapa wanita yang memakai gamis plus hijab yang berdiri membelakanginya.
“Kamu siapa?” tanya Irzal.
Perlahan wanita tersebut membalikkan tubuhnya. Dia melemparkan senyuman pada Irzal yang berdiri di depannya. Pria itu menatap dirinya tanpa berkedip. Irzal berjalan mendekati wanita yang ternyata adalah istrinya sendiri.
“Arsy..”
“Mas.. apa aku cantik pakai pakaian seperti ini?”
“Cantik.. sangat cantik.”
Irzal membelai wajah sang istri dengan lembut. Matanya terus menatap Arsy lekat. Hatinya benar-benar bahagia melihat Arsy yang sudah merubah penampilannya. Arsy menangkap tangan Irzal lalu mencium punggung tangannya.
“Maaf mas, baru sekarang aku bisa menutup aurat.”
“Tidak ada kata terlambat untuk melakukan hal baik.”
“Mas senang?”
“Senang. Sangat senang dan bahagia. Terima kasih, sayang.”
Tangan Irzal merengkuh tubuh sang istri kemudian memeluknya. Arsy balas memeluk punggung pria itu. Melihat Irzal yang bahagia, hatinya juga sangat bahagia. Perlahan Irzal melepaskan pelukannya. Sambil menangkup wajah istrinya, pria itu mencium bibir Arsy. Dengan penuh cinta Irzal menyesap bibir sang istri bergantian.
“I love you,” bisik Irzal setelah ciuman mereka berakhir.
“Love you mas Bie,” balas Arsy.
🍁🍁🍁
**Haaaahhhh... Kira² pada baper ngga ya🤔
Siapa yang cocok jadi jodoh Aidan? Kasihan jomblo mulu😂**
__ADS_1