Hate Is Love

Hate Is Love
Kualat


__ADS_3

Lewat jalan pintas, Tamar berhasil menghadang mobil. Namun sang napi yang tidak mau tertangkap, terus melajukan mobilnya, tanpa mempedulikan keberadaan Tamar di depan sana. Melihat sang napi terus melajukan kendaraan, Tamar terpaksa menyingkir, namun gerakannya sedikit terlambat. Bagian depan mobil menyenggol tubuh pria itu hingga jatuh terguling.


“Captain!!”


Aji bergegas menghampiri Tamar, sedang salah satu rekannya membidikkan senjata pada ban mobil yang digunakan napi tersebut. Tembakannya tepat sasaran, mobil yang dikemudikan oleng dan menabrak pohon. Beberapa petugas segera mendekat untuk meringkus sang napi.


“Capt.. capt..”


“Eeeuughhh..”


Terdengar erangan Tamar ketika Aji membantunya untuk bangun. Bahu sebelah kanannya terluka. Aji segera memapah Tamar, Ridwan berlari mendekati anak buahnya itu. Dia terkejut melihat Tamar yang tadi nekad menghadang mobil.


“Dasar gila! Kenapa kamu ceroboh? Kamu pikir kamu superman?” kesal Ridwan.


“Aduh.. badan saya sakit, jangan dimarahi, pak.”


“Syukur!! Kualat kamu sama istri, siapa suruh kamu datang. Saya sudah kasih kamu cuti, tapi ngeyel datang ke sini!”


Aji membantu Tamar duduk di atas kap mobil kemudian memeriksa keadaan atasannya. Sambil menahan sakit, Tamar juga harus menahan telinganya mendengar omelan sang atasan.


“Aaarrghhh.. sakit.”


Tamar berteriak ketika Aji menyentuh tulang selangkanya. Aji mengesah panjang, matanya menatap kesal pada atasannya itu.


“Kita harus ke rumah sakit. Tulang selangkanya bergeser,” ujar Aji.


“Bawa dia ke rumah sakit. Bilang sama dokter, jangan ijinin dia pulang selama seminggu!!”


Setelah mengatakan perintahnya, Ridwan segera meninggalkan Tamar yang tampak kesal mendengar ucapannya. Dia harus segera membereskan kekacauan yang terjadi. Aji membimbing Tamar masuk ke dalam mobil. Dia pun segera masuk dan menjalankan kendaraannya.


“Telpon Stella, capt,” ujar Aji.


“Ngga usah.”


“Telpon! Kasihan dia pasti cemas. Astaga ada ya yang habis nikah kaya gini. Harusnya captain tuh mesra-mesraan di kamar, siap-siap malam pertama. Ini malah milih ngejar buronan. Captain normal ngga sih?”


“Berisik!”


Terdengar ringisan Tamar ketika bahu dan punggungnya sedikit terguncang akibat jalan berlubang yang dilalui Aji. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, anak buahnya itu tidak berhenti bicara. Sudah seperti emak-emak yang menawar sayuran di pasar. Tamar memilih memejamkan matanya, dari pada mendengar cerocosan Aji.


Sesampainya di rumah sakit Ibnu Sina, Aji segera memapah Tamar menuju ruang IGD. Daffa yang kebetulan sedang piket malam, terkejut melihat Tamar. Apalagi pengantin baru itu terluka. Aji mendudukkan Tamar di blankar. Daffa segera mengambil peralatan untuk memeriksa.


“Bang Tamar kenapa?” tanya Daffa sambil memeriksa.


“Captain kesenggol mobil. Abis jadi superman, hadang mobil yang dipake napi.”


“Bukannya abang cuti? Kok kerja?”


“Tau tuh. Kepo banget hidupnya, pake lihat-lihat pesan di WA. Udah tahu lagi malam pertama, matiin hp-nya, ngga usah ribet ngurusin kerjaan. Kan gini jadinya, malam pertama ngga, masuk IGD yang ada.”


Daffa tak bisa menahan tawanya mendengar cerocosan Aji. Dia seperti ibunya Tamar saja yang sedang mengomeli anaknya yang bandel. Dengan kesal Tamar melihat pada bawahannya itu, namun Aji sama sekali tidak mempedulikannya.


“Abang dislokasi tulang selangka. Aku benarin dulu, ya.”


Daffa meminta kain pada perawat yang membantunya. Dia melilitkan kain ke daerah tulang selangka. Beberapa kali dia mengusap punggung dan bahu Tamar, mencari bagian yang dislokasi. Kemudian dengan satu gerakan dia memindahkan posisi yang bergeser ke tempat semula.


“Aaaarrgghh..” Tamar menjerit merasakan sakit.


Selesai membenarkan posisi tulang, Daffa meminta Aji membantu Tamar membuka kaos yang dikenakannya. Dia mengambil pembebat dan membebat bagian yang terluka. Aji kembali memakaikan kaos pada Tamar setelah Daffa selesai.


“Sus.. beri suntikan pereda nyeri dan juga obat tidur. Untuk sementara jangan banyak bergerak. Jadi lebih baik abang istirahat.”


“Bisa ngga dimasukkin ke ruang perawatan? Seminggu dirawat gitu,” ujar Aji mengatakan apa yang diperintahkan Ridwan tadi.


“Ngga usah lebay!” protes Tamar.

__ADS_1


“Stella udah tahu?” tanya Daffa.


“Belum.”


“Ck.. inget, bang. Sekarang abang udah punya istri. Abang pikir dia bisa tidur, abang pergi gitu aja? Hadeuh…”


Daffa mengambil ponsel di saku seragamnya kemudian menghubungi Stella. Baru satu deringan, istri dari Tamar itu langsung menjawab panggilannya. Daffa mengubah panggilan ke mode loud speak.


“Halo, Daf..”


“Stell.. bisa ke rumah sakit sekarang?”


“Ngapain? Kenapa? Jangan bilang bang Tamar..”


“Iya. Bang Tamar masuk rumah sakit. Tadi dia ketabrak mobil.”


“Hah? Te.. terus gimana keadaannya?” tanya Stella dengan nada cemas.


“Lukanya ngga terlalu parah. Cuma dia harus diperban sebadan-badan sampe muka.”


Mata Tamar melotot mendengar ucapan Daffa. Aji pun tak bisa menahan tawanya. Daffa hanya mengangkat bahunya saja, seolah tak melakukan hal yang salah.


“Hah? Kok bisa?”


“Mending kamu ke sini aja.”


“Ya udah, aku ke sana sekarang.”


Panggilan pun berakhir. Daffa memasukkan kembali ponsel ke saku seragamnya. Kemudian pria itu memanggil perawat.


“Sus.. siapin kamar VIP, antar pasien ini ke sana.”


“Baik, dok.”


“Ngga usah dirawat!” protes Tamar.


Daffa menaruh jarinya di kening Tamar, kemudian mendorongnya hingga pria itu jatuh dalam posisi berbaring. Baru saja dia hendak bangun, Aji menahannya dan membuat sang atasan tetap dalam keadaan berbaring. Tak berapa lama dua perawat datang untuk memindahkan Tamar ke ruang perawatan.


Lima belas menit berselang, Stella sampai ke rumah sakit. Dia langsung menemui Daffa yang berada di IGD. Daffa langsung meminta Stella menuju lantai 11, tempat ruang VIP berada. Dengan perasaan cemas, gadis itu langsung menuju lift.


Aji yang sedang menunggui Tamar terkejut ketika pintu ruangan terbuka. Stella masuk dan menghambur ke arah bed. Dia terdiam di dekat bed suaminya. Pakaian pria itu sudah berganti dengan pakaian pasien. Di pergelangan tangannya juga sudah terpasang gelang medis. Tapi dia tidak melihat perban menutupi tubuh suaminya. Aji langsung mendekati Stella.


“Bang Tamar kenapa?” tanya Stella.


“Tadi dia kesenggol mobil. Dia berusaha menghalangi napi yang kabur bawa mobil.”


“Emang dia superman apa?” gerutu Stella kesal.


“Nah iya, aku juga kesal. Bisa-bisanya dia datang ke TKP, padahal lagi cuti.”


“Terus apanya yang luka?”


“Tulang selangkanya bergeser. Apa ya tadi namanya, dislokasi, iya.. dislokasi. Tapi udah dibenerin sama Daffa.”


“Itu aja? Tapi kenapa bang Tamar ngga sadar?”


“Bukan ngga sadar, dia dikasih obat tidur biar istirahat. Karena kamu sudah datang, aku pulang dulu. Masih harus buat laporan.”


“Iya, makasih.”


Aji hanya menganggukkan kepalanya. Pria itu kemudian keluar dari ruang perawatan VIP tersebut. Stella memandangi sejenak Tamar yang sedang tertidur. Ditariknya kursi yang ada di dekat bed, lalu mendudukkan diri di sana. Walau kesal Tamar meninggalkan dirinya dan tak mendengarkan kata-katanya. Tapi dia bersyukur suaminya tidak mengalami cedera parah.


🍁🍁🍁


Mendengar kecelakaan yang menimpa Tamar, keluarga kedua pengantin bergegas menuju rumah sakit. Mereka bingung kenapa Tamar bisa berada di rumah sakit. Apakah Stella terlalu buas dan menghajar Tamar yang hendak melakukan belah duren? Cakra, Sekar, Ahmad, Wida, Anya dan Irvin datang untuk melihat keadaan Tamar.

__ADS_1


Begitu masuk ke dalam kamar, terlihat Tamar tertidur di atas bed dan Stella tidur di kursi dengan kepala berada di atas bed. Pelan-pelan Anya mendekati anaknya yang tertidur pulas. Dia lalu membangunkan Stella dengan pelan.


“Stella.. bangun Stella..”


“Euungghhh..”


Stella membuka matanya perlahan. Setengah memicing, dia melihat pada orang yang sudah membangunkannya. Ternyata sang mama yang sudah menyadarkannya dari alam mimpi.


“Mami..”


“Tamar kenapa?”


“Bang Tamar kesenggol mobil. Tulang selangkanya dislokasi,” jawab Stella dengan suara serak.


“Kok bisa kesenggol mobil. Memang kalian kemana?” tanya Wida bingung.


“Bang Tamar tadi pergi ke lapas. Ada kebakaran di sana dan ada beberapa napi yang kabur.”


“Gimana sih, orang lagi cuti malah dipanggil tugas,” kesal Wida.


“Bukan dipanggil, ma. Bang Tamar yang inisiatif ke sana sendiri pas baca pesan di grup WA.”


“Tuh anak keterlaluan.”


Dengan gemas Wida mendekati bed kemudian memukul bahu anaknya. Usaha Stella untuk mencegahnya terlambat. Sebuah pukulan mendarat di bahu Tamar. Untung saja bukan di bagian yang terluka. Merasakan pukulan di tubuhnya, Tamar membuka matanya. Dia terkejut melihat semua keluarganya sudah berkumpul di kamar.


“Mama.. papa..”


“Dasar anak nakal. Ngapain kamu datang ke TKP? Kamu itu baru saja menikah, ngapain kamu ngurusin kerjaan? Kamu pikir teman-teman kamu ngga mampu nangkep napi yang kabur? Mau jadi jagoan kamu? Emang polisi cuma kamu aja, hah?”


Kepala Tamar langsung pusing mendengar cerocosan sang mama. Setelah Wida, berturut-turut Ahmad, Sekar, Cakra, Anya dan Irvin memberikan ceramah panjangnya. Tamar hanya bisa mendengarkan sambil menahan kantuk yang masih melanda. Matanya melirik jam di dinding yang baru menunjukkan pukul dua malam.


“Maaf mama, papa, mami, papa, eyang kakung, eyang putri. Aku ngaku salah. Maaf.. tapi mohon maaf, aku mau istirahat. Ngantuk banget.”


“Ya sudah tidur sana. Awas kamu jangan keluar dari rumah sakit sebelum mama mengijinkan!”


Tamar hanya menganggukkan kepalanya saja. Wida dan yang lainnya segera meninggalkan rumah sakit setelah puas membuat telinga Tamar merah karena ucapan mereka. Suasana di ruang perawatan kembali sunyi sepeninggal mereka. Tamar meraih tangan Stella yang duduk di sisi bed.


“Kamu kapan sampe sini?”


“Jam sepuluh kalau ngga salah.”


“Sini naik. Jangan tidur di kursi,” Tamar sedikit menggeser tubuhnya dan meminta Stella untuk naik.


“Ngga ah. Kan bahu abang lagi luka.”


“Bahu kananku yang luka, bukan yang kiri. Sini naik.”


Akhirnya Stella naik ke atas bed. Dirinya juga masih mengantuk dan terbangun karena kedatangan keluarganya tadi. Gadis itu merebahkan diri di samping sang suami. Tamar merubah posisi tidurnya menjadi miring, menghadap Stella.


“Maaf sudah membuatmu cemas.”


“Aku harap abang ngga seperti ini lagi. Aku cemas waktu dapet kabar dari Daffa. Aku juga ngga bisa tidur pas abang pergi. Tolong jangan buat aku cemas lagi.”


“Iya, maaf.”


Tamar mengusap rambut Stella dengan lembut. Kemudian dia mendekatkan wajahnya dan mencium kening Stella. Kedua netra mereka saling menatap dan mengunci, posisi wajah mereka cukup dekat. Jemari Tamar mengusap kulit mulus pipi sang istri. Matanya terus menelusuri wajah cantik istrinya, lalu berhenti di bibirnya.


Jantung Stella berdegup kencang ketika Tamar menatapnya begitu intens. Perlahan matanya terpejam ketika Tamar menempelkan bibir ke bibirnya. Tak ada pergerakan dari pria itu, hanya kedua bibir mereka yang saling menempel. Pelan-pelan Tamar menjauhkan wajahnya, Stella membuka kembali matanya.


Tamar menarik tubuh istrinya lebih mendekat lalu memeluknya dengan erat. Dia kembali memejamkan matanya dengan Stella berada dalam pelukannya. Stella juga memejamkan matanya. Hatinya sudah lebih tenang bisa bersama suaminya lagi. Tak lama keduanya sudah masuk ke alam mimpi.


🍁🍁🍁


**Aduh jadwal up berantakan. Kondisi lagi kurang fit, kena bapil🤧

__ADS_1


NR aku usahakan up tapi ngga janji ya. Badan lemes, pen bocan aja bawaannya**.


__ADS_2