
Shifa mendongakkan kepalanya, menatap gedung pencakar langit di hadapannya. Berdasarkan hasil penyelidikan Darren, orang yang menjadi pengagum rahasianya bekerja di kantor ini. Wanita itu membaca nama gedung yang tertera di bagian atas gedung, MAESWARA DUNIA.
Dengan langkah mantap Shifa melangkahkan kakinya memasuki lobi kantor. Dia harus bertemu dengan pengagum rahasianya hari ini juga. Sudah enam bulan lebih dia dibuat penasaran oleh orang yang sudah mengiriminya berbagai macam hadiah. Wanita itu melangkah mendekati meja resepsionis.
“Siang, mba. Saya bisa bertemu dengan pak Ferry?” ujar Shifa. Dari Darren diketahui kalau orang yang mengirimkan hadiah padanya bernama Ferry.
“Sudah buat janji sebelumnya?”
“Belum sih. Tapi coba bilang aja ke pak Ferry kalau Shifa Kamaliya yang mau ketemu.”
“Baik, bu.”
Resepsionis itu hendak mengangkat telepon untuk menghubungi Ferry, namun dia menghentikan sejenak kegiatannya kemudian melihat pada wanita di depannya. Nama yang disebutkan tadi begitu familiar di telinga.
“Mba kan Shifa pemain bulu tangkis nomor satu dunia kan?” tanya sang resepsionis.
Tak ada jawaban dari Shifa, hanya saja senyum wanita itu sudah cukup menjawab pertanyaan resepsionis tersebut. Wajah sang resepsionis tersebut nampak sumringah, tak menyangka bisa bertemu dengan atlit bulu tangkis yang namanya kerap disebut-sebut di layar televisi atau media sosial karena prestasinya yang membanggakan.
Buru-buru resepsionis tersebut menghubungi Ferry dan mengatakan kedatangan pemain nomor satu dunia itu. Dia melihat pada Shifa sejenak.
“Mba Shifa mau ke ruangan pak Ferry atau menunggu di sini?”
“Saya tunggu di sini aja.”
“Ok.”
Setelah menghubungi Ferry, resepsionis tersebut segera keluar dari meja tempatnya bekerja. Sambil membawa ponselnya, dia mendekati Shifa, ingin mengajaknya berfoto bersama. Apa yang dilakukan oleh wanita itu ikut mengundang reaksi teman-temannya.
“Mba Shifa foto bareng ya.”
Dengan ramah Shifa mengabulkan permintaan wanita itu. Beberapa kali mereka berpose foto bersama. Bukan hanya melayani permintaan satu orang saja, tapi ada beberapa karyawan lain yang juga meminta berfoto dengannya. Bahkan petugas security pun tak ketinggalan ingin berfoto bersama pemain bulu tangkis tunggal putri nomor satu dunia.
“Mba Shifa mau minum apa? Biar saya ambilkan.”
“Apa aja, tapi kalau bisa yang dingin.”
“Ok, mba. Silahkan duduk di sini. Sebentar lagi pak Ferry datang.”
Sambil menganggukkan kepala Shifa berjalan menuju sofa yang ada di lobi. Mata wanita itu terus memandang ke arah lift. Menanti pria bernama Ferry datang menemuinya. Dalam hatinya terus bertanya-tanya, seperti apa rupa wajah Ferry itu.
Setelah menunggu sekitar lima menit, seorang pria keluar dari lift. Dia berjalan menuju sofa di mana Shifa menunggu. Mata Shifa membulat melihat pria yang berjalan ke arahnya. Pria itu benar-benar di luar ekspektasinya.
Buset udah tuir. Ada kali lima puluh lebih umurnya. Waduh beneran dia nih secret admirer gue? Jauh panggang dari api gini caranya mah.
Dengan kikuk Shifa bangun dari duduknya ketika Ferry sampai di dekatnya. Seorang pria berusia di atas lima puluh tahun, rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban, perutnya sedikit buncit dan mengenakan kacamata.
“Mba Shifa ya?” tanya Ferry.
“I.. iya, pak.”
“Kenalkan, saya Ferry.”
Ferry mengulurkan tangannya pada Shifa, dengan cepat wanita itu membalas uluran tangan Ferry. Pria tersebut mempersilahkan Shifa kembali duduk. Tak lama seorang OB datang membawakan minuman untuk Shifa.
“Jadi.. bapak yang selama ini mengirimkan hadiah untuk saya?” tanya Shifa membuka pertanyaan.
“Iya, benar.”
Mamvus gue, bener kan dia orangnya. Ya ampun Shifa, makanya udah gue bilang kaga usah ngarep ketinggian. Huaaaa… gue pikir secret admirer gue masih muda dan seger. Taunya udah tuir dan hampir expired.
“Tapi.. saya hanya ditugaskan untuk mengirimkan saja.”
“Hah? Maksudnya, pak?”
“Hadiah-hadiah itu bukan dari saya. Saya hanya ditugaskan untuk mengirimkannya.”
“Oh begitu.”
Shifa dapat bernafas dengan lega mendengar penuturan Ferry. Secercah harapan kembali muncul di hatinya. Siapa tahu saja anak pria di hadapannya ini yang telah memintanya mengirimkan hadiah padanya.
“Kalau begitu, siapa yang kirim hadiah itu buat saya?”
“Sebentar lagi orangnya sampai.”
Di depan lobi, sebuah mobil berhenti. Dari dalamnya keluar Aric. Pria itu segera masuk ke dalam mobil. Melihat kedatangan Aric, Ferry segera bangun dari duduknya. Aric segera menghampiri Ferry. Shifa kembali dibuat terkejut melihat kedatangan Aric.
Jangan-jangan om ini yang kasih hadiah sama gue. Apa bedanya coba? Umurnya cuma didiskon beberapa persen doang. Emang sih masih ganteng, tapi kan seumuran sama papa. Bisa pingsan papa kalau tau secret admirer gue seumuran ama papa.
“Pak Aric,” sapa Ferry
__ADS_1
Aric hanya menganggukkan kepalanya, kemudian melihat pada Shifa. Wajah Shifa tak asing di matanya. Pria itu melihat lebih intens lagi pada atlit wanita tersebut.
“Kamu pasti Shifa, atlit bulu tangkis yang sedang naik daun.”
“Iya, om. Ulet kali om, naik daun.”
“Hahaha.. bisa aja kamu.”
“Jadi om ini yang udah kirim hadiah?” tanya Shifa pada Ferry.
“Hadiah?” kening Aric nampak berkerut.
“Bukan.. bukan pak Aric.”
“Hadiah apa?” tanya Aric bingung.
“Begini pak. Saya ditugaskan untuk mengirimkan hadiah untuk mba Shifa setiap dia habis mengikuti turnamen kejuaran. Mba Shifa datang ke sini untuk bertemu orang yang sudah mengirimkan hadiah itu.”
“Memang siapa yang kirim?”
“Pak Arya.”
“Arya?”
Hanya anggukan saja yang diberikan oleh Ferry. Shifa yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan semakin dibuat bingung. Ternyata orang yang mengirimkan hadiah untuknya bukan Ferry atau Aric, melainkan seseorang yang bernama Arya.
“Aryanya mana?”
“Pak Arya masih meeting dengan bu Rima.”
“Tolong susul dia suruh ke sini secepatnya.”
Ferry menanggukkan kepalanya, kemudian bergegas meninggalkan lobi. Aric memilih duduk di hadapan Shifa. Dia tak menyangka sang anak diam-diam mengagumi seorang wanita.
“Saat ini kamu tidak ada turnamen?”
“Sebenarnya ada, om. Tapi saya memilih libur dulu. Sudah lama saya ngga pulang ke rumah. Jadi, saya mau istirahat aja dulu.”
“Kamu ngga takut tempatmu tergeser?”
“Ngga lah, om. Kalau memang harus tergeser ya ngga apa-apa, yang penting saya udah ngerasain jadi pemain nomor satu dunia.”
“Kalau tidak salah kamu anaknya Azriel, adiknya Firlan pemilik Gala Corp, benar?”
“Benar, om. Papa adalah pelatih saya juga.”
“Bagaimana rasanya dilatih papa sendiri?”
“Ada enaknya ada ngga nya. Enaknya karena papa sendiri, jadi papa tahu betul bagaimana diriku dan tahu apa yang harus dilakukan. Ngga enaknya, ada tekanan sendiri buat saya, papa kan juga atlit bulu tangkis. Selama empat tahun berturut-turut papa menyandang status pemain bulu tangkis nomor satu dunia. Jadi ada tuntutan tersendiri buat saya melakukan hal yang sama bahkan lebih dari papa.”
“Hmm.. iya juga. Tapi dari pada menjadikan itu beban, lebih baik kamu menikmatinya saja. Dengan begitu kamu bisa lebih enjoy dalam bermain.”
“Iya, om. Terima kasih atas nasehatnya.”
Shifa meraih gelas di atas meja kemudian membasahi kerongkongannya yang kering dengan minuman dingin tersebut. Berbicara dengan Aric ternyata begitu menyenangkan, seperti berbicara dengan papanya sendiri.
“Kamu sudah punya pacar?”
Uhuk.. uhuk..
Shifa yang tengah menikmati minumannya sampai terbatuk mendengar pertanyaan Aric. Jangankan pacar, gebetan pun tak ada saking sibuknya mengejar karirnya sebagai atlit. Aric hanya tersenyum melihat kekikukkan Shifa akan pertanyaan yang dilontarkannya.
“Pasti belum punya ya,” terka Aric.
“Hehehe.. iya, om. Maklum lah saya kan jomblo dari lahir.”
“Berapa usiamu?”
“Tahun ini 27. Udah tua ya om buat ukuran perempuan. Untung mama sama papa ngga pernah rewel minta saya cepat-cepat nikah, hehehe..”
Segurat senyum tercetak di wajah Aric mendengar penuturan Shifa. Pria itu menyukai cara Shifa ketika berbicara dengannya, tidak ada yang ditutupi dan mengalir begitu saja. Pantas kalau sang anak sampai menjadi pengagum rahasianya.
Perbincangan keduanya terhenti ketika sosok yang ditunggu-tunggu Shifa akhirnya tiba. Arya yang baru selesai meeting dengan salah satu staf senior bergegas menuju lobi begitu mendengar ada Shifa yang mencarinya. Sudah enam bulan ini pria itu memang menjadi secret admirer Shifa. Dia banyak mengirimkan hadiah kepada pemain bulu tangkis kebanggaan Indonesia tersebut.
“Papa ngapain di sini?” tanya Arya yang terkejut melihat sang papa asik berbincang dengan Shifa.
“Nemenin wanita pujaan kamu,” jawab Aric asal.
Wajah Arya langsung memerah mendengar ucapan Aric. Shifa yang awalnya belum sadar akan situasi yang dihadapinya, perlahan mulai mengerti. Apalagi ketika Aric mengenalkan Arya padanya.
__ADS_1
“Kamu sudah kenal dengan anak om?” Aric bertanya pada Shifa.
“Su.. sudah om. Kita kenalan pas nikahan Tamar.”
“Iya,” jawab Arya.
“Nah dia ini pengagum rahasia kamu, Shifa. Arya yang selama ini mengirimkan hadiah buat kamu.”
“Ja.. jadi kamu yang ngirim semua hadiah?”
“Iya,” Arya mengusap tengkuknya guna menghalau rasa groginya.
Shifa hanya terbengong saja begitu tahu Arya yang mengirimkan semua hadiah padanya. Dia tak pernah menyangka ternyata pengagum rahasianya berasal dari keluarga Hikmat. Arya segera mengambil duduk di depan Shifa.
“Aku mau ngucapin terima kasih buat semua hadiah yang kamu kasih. Waktu kita ketemu di nikahan Tamar kenapa ngga bilang?”
“Ada Zar, bahaya. Hahaha..”
“Hah?”
Hanya itu saja yang mampu dikatakan oleh Shifa. Wanita itu masih belum bisa menguasai dirinya begitu tahu pengagum rahasianya adalah Arya, pria berwajah tampan, keturunan keluarga Hikmat dan yang pasti usianya berada di bawahnya.
“Papa tinggal dulu. Kalian lanjut aja ngobrolnya. Shifa, om tinggal dulu, ya.”
“Iya, om.”
Setelah Aric meninggalkan keduanya, suasana menjadi hening sejenak. Shifa tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Dia juga cukup grogi saat Arya terus menatapnya tanpa berkedip.
“Hadiah dari aku, ngga kamu buang kan?”
“Ngga, kok. Aku kumpulin. Udah ada satu lemari kayanya.”
“Hahaha.. bagus deh. Sekarang kalau lihat hadiah dari aku, ingat-ingat aku aja ya.”
“Boleh. Mau diingat sebagai apa nih?”
“Bebas apa aja boleh. Diingat jadi penjaga hati kamu juga ngga apa-apa.”
“Hahaha.. bisa aja ngegembelnya.”
Perbincangan di antaranya mengalir tanpa hambatan. Shifa yang pada dasarnya adalah orang yang supel, dengan cepat bisa membaur dengan Arya. Banyak hal yang mereka bicarakan, dari mulai suka dukanya sebagai seorang atlit sampai masalah pribadi. Arya juga menceritakan kegiatannya sekarang yang tengah menyelesaikan studi S2 sambil membantu sang ayah di kantor.
Tak lama keduanya meninggalkan kantor. Arya mengajak Shifa makan siang di café yang ada di sebrang kantor. Mereka memilih duduk di bagian luar café sambil menikmati lalu lalang jalan. Arya benar-benar menikmati pertemuannya dengan Shifa. Biasanya dia hanya bisa melihat wanita itu dari kejauhan saja.
“Kamu sudah punya pacar?” tanya Arya.
“Belum. Mana sempat aku mikirin yang begituan.”
“Ya disempatin lah. Biar kamu tandingnya tambah semangat kalau udah punya pacar. Ada orang yang bakal terus kasih dukungan sama kamu tanpa henti.”
“Gitu ya. Tapi belum kepikiran juga sih.”
“Mau aku kasih kandidat calon pacar ngga?”
“Siapa?”
“Aku.”
Uhuk.. uhuk..
Shifa langsung terbatuk mendengar ucapan frontal Arya. Pria itu buru-buru memberi minum pada Shifa. Setelah batuknya mereda, barulah Shifa menanggapi apa yang dikatakan Arya.
“Berapa umurmu?” tanya Shifa.
“23.”
“Aku 27, artinya aku empat tahun lebih tua dari kamu.”
“Emang ada aturan dalam sebuah hubungan kalau laki-laki harus lebih tua dari pasangannya?”
“Ngga ada sih. Tapi aku ngga suka berondong.”
“Kalau begitu mulai sekarang aku bakal buat kamu suka berondong.”
Arya mengakhiri ucapannya dengan senyuman manis. Dada Shifa berdesir melihat senyum manis pria di hadapannya. Wanita itu berdehem kemudian melanjutkan makannya kembali. Arya mengulas senyum tipis melihat sikap grogi Shifa. Bagaimana pun juga dia akan mengejar wanita di hadapannya ini. Pria itu akan membuat Shifa bertekuk lutut di hadapannya. Usia bukanlah penghalang untuknya mendapatkan cinta Shifa.
🍁🍁🍁
**Go Arya kejar terus jangan kasih kendor.
__ADS_1
Alamat Zar jadi presiden jomblo kalo gini caranya🤣**