
Setelah hampir sebulan lamanya berhenti magang, akhirnya Arsy kembali ke rumah sakit. kehadiran Arsy di Instalasi Gawat Darurat disambut sukacita oleh semua yang bertugas di sana, termasuk Daffa. Mereka juga terkejut melihat perubahan pada Arsy. Dokter muda itu sudah menutup dirinya dengan hijab.
“Dokter Arsy.. selamat kembali bertugas. Ya Allah, cantik banget dok,” ujar Reni, salah seorang perawat senior.
“Makasih suster. Maaf ya, aku kelamaan off. Harus kuatin mental dulu.”
“Ngga apa-apa, dok. Kita semua mengerti kok. Dokter yang kuat dan sabar ya.”
“Aamiin.. makasih.”
Arsy kembali ke tempatnya bertugas tidak dengan tangan kosong. Dia membawa banyak makanan untuk teman-teman kerjanya di bagian yang paling sibuk di rumah sakit tempatnya bekerja.
Mereka tak punya banyak waktu bersantai karena pasien sudah banyak berdatangan. Semenjak Ibnu Sina menjadikan IGD sebagai trauma center, maka banyak pasien yang mengalami kecelakaan atau tiba-tiba terserang penyakit datang ke sini. Itu juga yang membuat pihak rumah sakit menambah banyak dokter magang di bagian ini.
Selama Arsy tidak bertugas, ada tiga orang dokter magang baru yang bergabung. Satu dokter pria dan dua wanita. Untuk dokter wanita, ini baru pertama kalinya mereka bertugas di rumah sakit Ibnu Sina. Mereka melamar magang di rumah sakit ini ketika pihak rumah sakit membuka lowongan untuk dokter magang di IGD.
Mereka adalah Faqih, Titian dan Astrid. Nama Arsy sering mereka dengar saat mulai bertugas, kecuali Faqih karena dia sudah mengenal dokter muda itu saat masih menjadi koas. Titian dan Astrid penasaran dengan sosok Arsy. Dokter wanita itu bisa ijin magang sampai hampir satu bulan lamanya.
Keduanya masuk ke dalam IGD setelah berganti pakaian. Mereka langsung disibukkan dengan pasien yang datang. Arsy juga tengah mengobati salah satu pasiennya. Seorang anak berusian lima tahun yang jatuh dari ayunan dan kepalaya terluka. Anak itu terus saja menangis. Sang kakak yang datang bersamanya berusaha untuk menenangkan sang adik.
“Anak ganteng, siapa namanya?” tanya Arsy.
“Di.. Dika,” jawab sang anak di sela-sela tangisnya.
“Oh Dika. Coba tante periksa dulu kepalanya ya.”
“Sakit tante.. huaaaa..”
“Iya, tante periksa dulu ya.”
Arsy segera memeriksa luka di kepala Dika. Ada sedikit robekan di dekat pelipisnya. Dengan cekatan Arsy menghentikan pendarahan anak itu sambil terus mengajaknya bicara. Setelah darahnya berhenti keluar, sang anak mulai berhenti menangis.
“Posisi jatuhnya tadi bagaimana?” tanya Arsy pada sang kakak.
“Waktu main ayunan, pas lagi naik pegangan Dika lepas terus jatuh ke tanah. Kepalanya duluan yang kena tanah.”
“Hanya itu? Apa ada benturan lain?”
“Oh ya, punggungnya kena pinggiran ayunan.”
Segera Arsy memeriksa punggung Dika. Dibukanya pelan-pelan kaos yang dikenakannya. Di punggung anak itu terdapat luka baret. Namun perhatiannya tertuju pada luka lebam di dekat tengkuknya. Saat Arsy menekan luka lebam tersebut, terdengar ringisan Dika.
“Luka ini sejak kapan?” tanya Arsy.
“Ngga tahu.”
Sang kakak nampak terkejut melihat ada luka lebam di bagian tubuh adiknya. Arsy lebih dulu mengurus luka di punggung dan bagian kepala. Setelah mengobati luka di punggung, wanita itu menjahit luka di kepala. Untung saja lukanya tidak terlalu panjang dan dalam. Hanya butuh beberapa jahitan saja.
“Dika.. ini yang dekat tengkuk, Dika ingat ngga kenapa bisa luka?” tanya Arsy pelan-pelan.
Tak ada tanggapan dari Dika, anak itu hanya menundukkan kepalanya saja. Arsy berjongkok lalu mencoba melihat wajah Dika. Anak itu tetap membungkam mulutnya. Tak lama ibu dari Dika datang. Dia yang sedang bekerja terkejut mendengar kalau sang anak mengalami kecelakaan saat sedang bermain.
“Dika, kamu kenapa, sayang.”
“Mama.”
Dika langsung memeluk ibunya. Anak sulungnya langsung menceritakan apa yang terjadi. Ibu itu mengucapkan terima kasih pada dokter yang sudah mengobati anaknya. Arsy mengajak sang ibu sedikit menjauh dari blankar.
“Ibu maaf, saya mendapati luka lain di dekat tengkuk Dika. Luka lebam, sepertinya sudah dua atau tiga hari lalu. Apa Dika pernah cerita kenapa dia sampai terluka?”
“Luka, dok?”
Seperti halnya sang kakak, ibu Dika juga terkejut mendengarnya. Arsy mengajak ibu tersebut kembali ke blankar dan memperlihatkan luka yang dimaksud. Kening wanita itu berkerut, dia sama sekali tidak menyadari ada luka itu. Pantas saja sudah dua hari ini Dika selalu menolak untuk dimandikan.
“Pengobatan Dika sudah selesai. Saya akan memberikan salep untuk mengurangi luka lebamnya. Coba ibu tanyakan pada Dika nanti. Takutnya luka itu didapat di sekolah atau saat bermain dengan teman-temannya.”
“Iya, dok. Makasih.”
Ibu tersebut segera menggendong Dika dan mengajak anak sulungnya untuk pulang. Sebelumnya dia menyelesaikan administrasi lebih dulu. Arsy juga meresepkan salep untuk mengurangi luka memar. Tangannya melambai pada Dika saat anak itu meninggalkan IGD.
“Kenapa, dok? Ada yang salah dengan pasien itu?” tanya suster Mira.
“Ada luka lain di dekat tengkuknya. Luka lebam, sepertinya itu bekas kena pukul.”
“Ibunya ngga tau?”
“Iya. Aku tanya anaknya juga ngga mau jawab. Takutnya dia dapat luka itu di sekolah dan ngga mau bilang karena takut.”
“Iya, dok. Jaman sekarang pembullyan itu bukan di SMA atau kampus aja. Tapi di TK juga sudah ada kasusnya.”
Perbincangan keduanya terputus ketika tiga buah ambulans datang berturut-turut membawa korban kecelakaan lalu lintas. Sebuah mobil menabrak pengendara sepeda motor dan sepeda. Pengendara sepeda yang mengalami cedera paling parah. Kakinya terjepit antara bemper mobil dan tiang jalan.
Arsy dan Daffa bergegas menuju ruang tindakan. Saat mereka sedang memeriksa kondisi korban, terdengar teriakan suster memanggil dokter karena pengendara mobil mengeluhkan dadanya sakit. Arsy bergegas menuju blankar pengemudi mobil tersebut.
“Sepertinya dia mengalami luka benturan di dada.”
__ADS_1
“Nafasnya juga sesak, dok,” ujar suster Mira.
“Dokter Astrid, tolong lakukan intubasi,” ujar Arsy.
“Kenapa aku? Kamu lakukan saja sendiri.”
“Aku sedang memeriksa luka di bagian dadanya, apa kamu tidak melihat?”
“Memangnya kamu siapa berani memerintahku? Kita ini sama-sama dokter magang.”
Arsy memandang kesal pada dokter magang tersebut. Dia langsung mengambil alih pekerjaan dan melakukan intubasi untuk membantu pernafasan pasien. Astrid hanya diam memandangi Arsy yang berusaha mencari tahu luka di bagian dada. Suster Mira sangat kesal melihat dokter Astrid. Sejak awal bergabung, dokter muda itu memang terlihat arogan.
“Sepertinya dia mengalami phenomothorax. Tolong lihat dokter Daffa apa sudah selesai?” titah Arsy.
“Baik dok.”
“Pasien harus segera dirontgen. Apa kamu bisa mengantarnya?” Arsy melihat pada Astrid.
“Kenapa kamu terus menyuruhku?” berang Astrid.
“Biar aku saja.”
Faqih yang mendengar perdebatan Arsy dan Astrid segera mendekat dan mengambil alih pasien. Dibantu seorang perawat, dia segera mendorong blankar menuju ruang rontgen. Arsy mendekati Astrid. Jika tadi dia sudah menahannya, tidak sekarang. Astrid benar-benar membuatnya kesal.
“Apa masalahmu? Kenapa kamu terus menolak apa yang kuminta?”
“Kita ini sama-sama dokter magang, kamu tidak ada hak untuk menyuruhku. Kalau dokter Daffa atau dokter Dante yang meminta, aku mau menurutinya.”
“Apa kamu tidak tahu yang namanya kerjasama tim?”
“Jangan bersikap sok senior. Kamu memang lebih dulu magang di sini tapi bukan berarti kemampuanku di bawahmu. Kamu tidak boleh seenaknya memerintahku.”
Perdebatan mereka berakhir ketika Faqih kembali membawa blankar pasien. Arsy mengambil hasil rontgen dan memeriksanya. Terdapat luka robekan di paru akibat dari benturan yang terjadi. Daffa yang sudah selesai menangani pasien, segera mendekati Arsy.
“Bagaimana keadaannya?”
“Pasien mengalami luka benturan. Dari sini bisa dilihat ada robekan di bagian parunya. pasien harus segera dioperasi, dok.”
Bukan Arsy yang menjelaskannya, tetapi Astrid yang melakukannya. Arsy menarik nafas panjang untuk menghilangkan kekesalannya. Daffa melihat sekilas pada Astrid lalu melihat pada hasil rontgen. Apa yang dikatakan dokter magang itu memang benar.
“Walinya sudah datang?” tanya Daffa.
“Belum, dok.”
“Hubungi terus walinya. Pasien harus segera dioperasi.”
“Baik, dok.”
“Siapkan ruang operasi dan hubungi dokter Fabian,” ujar Daffa.
“Siap, dok.”
Suster yang bertugas segera menghubungi bagian operasi. Dia juga menghubungi Fabian yang sedang berkeliling memeriksa pasien. Begitu surat persetujuan operasi di dapat, perawat segera mengirim pasien menuju ruang operasi. Dokter Fabian meminta Dante untuk membantunya melakukan operasi.
“Dok, wali pasien yang terluka di bagian kaki sudah datang.”
Daffa segera menuju wali pasien yang tadi ditanganinya. Dia segera menjelaskan apa yang terjadi dengan pasien serta tindakan apa yang perlu dilakukan. Wali pasien menyerahkan sepenuhnya pada Daffa. Dokter muda tersebut segera menuju meja perawat.
“Hubungi ruang operasi. Lalu jubungi dokter Reyhan dan dokter Damar.”
“Baik, dok.”
Dua orang memasuki unit gawat darurat. Seorang pria memapah seorang wanita yang nampak kesakitan. Arsy segera meminta pria itu membawa wanitanya menuju blankar. Dengan cepat dia melakukan pemeriksaan. Astrid yang tidak mau kalah ikut melakukan pemeriksaan.
“Ambilkan mesin USG,” ujar Arsy pada suster Mira.
“Baik, dok.”
“Sudah berapa lama dia mengeluh sakit?” tanya Arsy pada pria yang membawanya.
“Sudah tiga hari ini. Dia selalu bilang sakit di bagian kanan perutnya.”
Arsy menekan perut pasien. Ketika dia menekan bagian bawah kanan perut, terdengar teriakan wanita itu.
“Berapa tekanan darahnya?”
“100/70, dok.”
Suster Mira datang membawakan mesin USG. Arsy segera mengoleskan gel di perut wanita itu. Dia menggerakkan probe di bagian kanan bawah perut wanita itu. Dia menggerakkan ke sisi lain dan kembali ke bagian tadi.
“Pasien ini siapa bapak?” tanya Arsy.
“Dia istri saya, dok.”
“Istri bapak terkena usus buntu. Melihat kondisinya, ibu harus segera dioperasi.”
__ADS_1
“Baik, dok. Tolong lakukan apa saja untuk menolongnya.”
“Apa ibu menderita alergi pada obat tertentu?”
“Ngga, dok.”
“Ok, saya akan memberinya obat pereda nyeri dulu. Ibu harus menjalani serangkaian tes untuk menjalani operasi.”
“Iya, dok.”
Suami pasien usus buntu tersebut segera mengurus adminitrasi. Arsy memerintahkan suster Mira untuk mengecek darah pasien. Astrid mendekati suami pasien saat tengah menandatangani surat persetujuan operasi.
“Maaf, pak. Saya akan menjelaskan prosedur operasi yang bisa dilakukan. Yang pertama adalah operasi terbuka atau laparotomi. Perut ibu akan dibedah dan usus yang bermasalah akan dipotong. Sedang yang kedua adalah laparoskopi atau operasi lubang kunci. Di sini kami hanya membuat sayatan kecil. Pemulihannya juga lebih cepat. Saya menyarankan bapak mengambil laparoskopi dari pada laparotomo,” jelas Astrid.
“Oh begitu, dok. Terima kasih atas penjelasannya.”
Setelah menandatangani surat persetujuan operasi, suami pasien kembali menemui Arsy. Dia hendak mengatakan soal operasi yang dipilihnya untuk sang istri.
“Dok, saya mau istri saya operasi laparoskopi aja.”
Kening Arsy berkerut. Dari mana suami pasien mengetahui soal prosedur operasi buntu. Seingatnya dia belum menjelaskan tentang dua teknik tersebut. Sebetulnya juga dia tidak perlu menjelaskan karena pasien akan menjalani operasi terbuka.
“Maaf, pak. Ibu harus dioperasi terbuka.”
“Kenapa harus dioperasi terbuka kalau bisa di hanya dibuat sayatan kecil saja. Saya dengar pemulihannya lebih cepat.”
“Itu benar, pak. Lebih baik bapak memilih laparoskopi,” sambar Astrid.
“Pasien tidak bisa melakukan laparoskopi! Dia harus dioperasi terbuka!” tegas Arsy.
“Resiko laparoskopi lebih kecil dan pemulihan lebih kecil. Saya lebih memilih ini untuk istri saya. Tidak peduli berapa biaya yang dikeluarkan.”
“Kamu! Ikut saya!”
Arsy segera meninggalkan blankar pasien penderita usus buntu tersebut. Karena Astrid tak kunjung mengikutinya, Arsy menarik lengan wanita itu. Dia terus menarik Astrid sedikit menjauh, sampai ke dekat pintu masuk.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menyarankan laparoskopi?”
“Kenapa? Aku hanya menawarkan operasi yang lebih efisien untuk pasien. Bukankah itu juga keuntungan untuk pihak rumah sakit karena biayanya jauh lebih mahal.”
“Ada apa ini?”
Daffa yang melihat Arsy dan Astrid bersitegang segera menghampiri keduanya. Matanya melihat bergantian pada kedua wanita di depannya. Arsy baru saja akan menjawab, tapi Astrid sudah lebih dulu menjawabnya. Dia menceritakan semua apa yang diterangkan olehnya pada suami pasien.
“Saya tidak salah kan, dok?”
“Tidak. Lalu Arsy, kenapa kamu menyarankan laparotomi?”
“Usus buntu pasien sudah mengalami peradangan, mungkin sudah bernanah. Terlalu beresiko jika pasien menjalani laparoskopi.”
Tak ingin terjadi perdebatan lebih jauh antara Arsy dan Astrid, Daffa memilih memeriksa kondisi pasien sendiri. Dia kembali menggerakkan probe di perut pasien wanita itu. Apa yang dikatakan Arsy memang benar. Bentuk usus tersebut berbeda, seperti ada penumpukan nanah di dalamnya.
“Pasien harus menjalani operasi terbuka,” putus Daffa.
“Tapi dok, kata dokter ini…”
“Pasien mengalami peradangan dan ada kemungkinan sudah bernanah. Kami tidak bisa melakukan laparoskopi dalam kondisi seperti itu.”
“Oh.. baik, dok.”
“Suster, apa ruang operasi sudah siap?” tanya Daffa.
“Ruang operasi tiga masih dipakai. Sekitar 10 menit lagi baru selesai.”
“Baiklah. Terus pantau keadaan pasien.”
Daffa meninggalkan blankar pasien tersebut lalu menuju perawat. Dia tengah menuliskan laporan pasien yang ditanganinya tadi. Arsy mendekat, dia juga melakukan hal yang sama. Menulis laporan untuk pasien Dika.
“Kamu ngga apa-apa?”
“Pengen kutabok tuh mulut si Astrid. Dari tadi ngajak ribut terus. Sabar.. sabar ya Allah.”
“Sabar… ini ujian.”
Daffa menepuk lengan Arsy seraya melayangkan senyuman. Senyum terbit di wajah wanita cantik itu. Astrid terlihat kesal karena Daffa memilih operasi terbuka untuk pasien usus buntu tersebut. Titian mendekati rekan kerjanya yang terlihat masam.
“Kenapa?”
“Tuh princess Arsy. Berasa paling pinter dan benar di sini.”
“Sabar..”
Hanya itu yang dikatakan Titian pada rekan kerjanya. Dilihat dari kinerja, Titian harus mengakui kalau Arsy pintar dan cekatan. Tapi dia juga tidak menyukai dokter muda itu. apalagi Arsy terlihat begitu dekat dengan Daffa.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Arsy baru balik ke rumah sakit udah ketemu duo nenek kecemun ya. Sabar Ar, orang sabar jidatnya lebar🤭