
“DAFFAAAAAAA!!!!”
Semua yang berada di IGD langsung mengarahkan pandangannya ke pintu masuk IGD, termasuk Daffa. Pria itu nampak terkejut dengan kedatangan Zar diiringi teriakan kencangnya saat memanggil namanya. Namun sedetik kemudian wajahnya tersenyum, dia sudah mengira apa yang membawa kakak sepupunya suaminya itu ke sini.
Dengan langkah panjang Zar, segera memasuki IGD. Arsy yang baru memasuki IGD terkejut melihat kedatangan kakak kembarnya. Rima nampak tegang melihat Zar yang terus melihat pada Daffa. Wanita itu takut akan terjadi di rumah sakit ini. Begitu pula dengan Ansel. Pria itu bergerak cepat menghalangi Zar karena tak ingin terjadi keributan di IGD.
“Maaf, ada apa ini?” tanya Ansel. Namun tangan Zar dengan cepat mendorong tubuh Ansel ke samping.
“Aaahh.. minggir! Gue ngga ada urusan sama lo!”
Setelah berhasil menyingkirkan Ansel, Zar akhirnya berdiri berhadapan dengan Daffa. Sebisa mungkin Daffa menahan tawa yang hendak meledak. Ternyata seperti ini reaksi orang yang sudah terkena tikungan tajamnya. Zar mendekati Daffa kemudian menaruh kedua tangannya di kerah jas sneli pria itu. Ditarik-tariknya jas tersebut.
“Tega lo, Daff. Bisa-bisanya lo nyalip gue tanpa sen! Kaga ada angin kaga ada hujan lo main bayar tunai si Geya aja.”
“Hahaha.. sorry Zar… sorry, hahaha..”
“Malah ketawa. Ngga rela gue, pokoknya lo harus bayar tanjakan sama gue!”
“Hahaha.. bayar turunan aja, Zar. Kalo tanjakan gue ngga kuat, hahaha…”
“Dasar PEA. Awas lo ya, liatin aja, gue bakal recokin terus lo sama si Geger. Pokoknya lo belum boleh jebol gawang sebelum gue nikah!”
“Hahaha… kaga janji, Zar. Orang udah halal, hahaha… eh Rena..”
Mendengar nama Renata, sontak Zar langsung menolehkan kepalanya ke belakang. hal tersebut langsung dimanfaatkan Daffa untuk melepaskan diri dari cengkeraman Zar.
“Sorry, Zar. Lo kayanya masih jabat presiden jomblo lebih lama lagi, hahaha..”
“DAFFFFAAAAA!!!”
Secepat kilat Daffa langsung lari meninggalkan IGD. Refleks Zar pun langsung mengejar suami dari adik sepupunya itu. Arsy tak bisa menahan tawanya melihat tingkah kedua pria itu. Sambil terus tertawa, dia menuju meja perawat. Nampak Rima dan Ansel termenung. Keduanya sempat mendengar percakapan antara Daffa dan Zar tadi.
“Sus.. kok bengong,” tegur Rima.
“Eh.. ng.. ngga apa-apa, dok.”
Rima melanjutkan kembali pekerjaannya. Hatinya galau, menangkap percakapan Daffa dan Zar, sepertinya dokter pujaan hatinya itu sudah resmi menikah. Apalagi cincin yang dikenakan Daffa juga terlihat seperti cincin pernikahan. Tanpa sadar airmata Rima keluar dengan sendirinya. Sia-sia penantiannya selama ini, mencoba menarik perhatian Daffa hampir dua tahun lamanya.
Hal yang sama juga menimpa Ansel. Pria itu berjalan menjauh dari meja perawat. Dia memilih kembali ke ruang kerjanya. Ansel menghempaskan bokongnya ke kursi kerjanya. Di kepalanya terus terngiang pembicaraan Zar dengan Daffa.
“Rania.. apa kamu benar sudah menikah dengan Daffa? Aaarrgghhh..” terdengar teriakan kesal Ansel seraya meremat rambutnya.
Sementara itu, Daffa dan Zar masih bermain kucing-kucingan. Kedua pria itu masih saling mengejar. Daffa keluar dari rumah sakit melalui pintu lobi utama. Dia terus menghindari kejaran Zar berikut mulut merconnya.
“Oii Daffa! Jangan lari, lo! Tanggung jawab!"
“Oii tukang tikung, berhenti!!”
“Rossi monyet!! Berhenti lo! Berhenti!”
“Buset lari lo kenceng banget udah kaya copet! Oii Daffa!!”
Sambil terus tertawa Daffa terus berlari. Beberapa orang yang dilintasi oleh mereka berdua hanya bisa melihat dengan tatapan heran. Zar yang masih mengejar Daffa, menghentikan langkahnya sejenak ketika melihat dua security di dekatnya.
“Pak.. tolong tangkepin tuh dokter tukang salip! Buruan! Nanti saja kasih duit! Cepetan!”
Mendengar ucapan Zar, dua orang security langsung bergerak mengejar orang yang dimaksud. Daffa yang sedang beristirahat, terkejut melihat Zar mendekatinya sambil membawa bala bantuan.
“Woii! Curang lo, Zar!” seru Daffa.
“Bodo!! Curang mana ama elo, kampret!!”
“Hahaha!!!”
Daffa kembali melanjutkan larinya. Mereka terus berputar-putar di pelataran parkir, hingga tak terasa Daffa berlari kembali ke depan lobi rumah sakit. Langkahnya terhenti ketika melihat Geya berdiri di depan pintu masuk lobi. Di tangan gadis itu terdapat dua buah tote bag. Di saat bersamaan Zar juga sampai di dekat Daffa dengan dua orang security yang ikut mengejar. Ketiganya berhenti untuk mengambil nafas. Daffa cepat bersembunyi di belakang Geya.
“Apa-apaan nih?” tanya Geya.
“Mas.. itu dokter Daffanya. Bantuan kita masih diperlukan ngga?” tanya salah satu security dengan nafas tersengal.
“Udah ngga usah.”
“Bayarannya?”
“Ah elah.. lo berdua juga kaga ada gunanya.”
Sambil menggerutu, Zar mengeluarkan dompetnya. Dia mengambil empat lembar uang lembaran merah lalu memberikan pada dua security tersebut. Dengan wajah sumringah, keduanya menerima pemberian Zar, lalu segera meninggalkan tempat tersebut.
“Abang ngapain ngejar-ngejar suami aku?”
“Lo berdua udah nikung gue!”
“Yee.. itu salah abang, napa kelamaan nikahin kak Rena. Jangan salahin suami aku, dong. Makanya jadi laki jangan lelet, kesalip kan, wlee.”
Geya menjulurkan lidahnya pada Zar, dan semakin sukses membuat pria itu gondok setengah hidup. Daffa kembali dibuat tertawa mendengar perdebatan Zar dengan istrinya.
“Gue bakalan maafin elo, asal bayar tanjakan sama gue.”
“Dih emang abang siapa pake bayar tanjakan segala? Anak buah kang emus bukan, anak buah om Edi juga bukan. Jangan dengerin, ayang. Anggap aja tuh jomblo akut lagi ngereog.”
“Buset bacot lo ya, Ge. Gue kutuk jadi centong baru tau rasa, lo!”
“Masih mending jadi centong, masih ada gunanya. Dari pada abang, kalo aku kutuk jadi kutil gimana?”
“Hahahaha…”
Tawa Daffa kembali meledak. Pria itu sampai memegangi perutnya yang terasa sakit karena banyak tertawa. Arsy yang sedari tadi mencari rekan kerja dan juga kakaknya, akhirnya tiba juga di dekat mereka.
“Udah main kejar-kejarannya kaya polisi India?” tanya Arsy.
__ADS_1
“Kak.. nih abangnya minta diruqiyah, masa dateng-dateng langsung mencak-mencak sama yayang aku. Coba panggilin dukun biar disemprot mukanya pake air tajin.”
“Hahaha.. dukun Rena aja yang dipanggil, Sy. Biar langsung mingkem dia, hahaha..” timpal Daffa.
Baru saja akan membuka mulutnya, tiba-tiba saja ponsel Zar berdering. Pria itu segera merogoh saku celananya. Mata pria itu membulat ketika melihat nama sang pemanggil adalah calon istrinya. Dia menepuk keningnya, gara-gara kiriman foto dan video dari Arya, pria itu sampai melupakan janjinya. Dengan cepat Zar menjawab panggilan.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Zar.. kamu jadi ke kantorku, ngga?”
“Aduh maaf, sayang.. iya bentar lagi aku otw.”
“Kak Rena!! Nih suaminya lagi ngamuk di rumah sakit!” teriak Geya.
“Sssttt… berisik!”
“Kamu ngga usah ke sini, Zar. Barusan bang Rakan ajak aku makan siang bareng klien. Udah ya, aku pergi dulu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Dengan lunglai Zar mengakhiri panggilannya. Kemudian matanya kembali pada pasangan di depannya yang sudah menyalipnya.
“Gara-gara lo berdua nih, gue jadi gagal makan siang bareng sama Rena.”
“Dih.. kenapa nyalahin kita. Sapa suruh abang ke sini terus ngejar-ngejar suami aku.”
“Bang.. pulang gih, malu-maluin aja, lo. Kalo lo bikin malu terus, gue suntik obat penenang nih,” ancam Arsy.
“Aah.. kaga bisa. Gue tadi emosi gara-gara ditikung. Sekarang gue laper abis ngejar-ngejar dia. Tanggung jawab!”
“Heleh.. ujung-ujungnya tetap minta makan gratis. Ya udah ayo kita makan dulu. Aku banyak bawa makanan nih,” Geya mengangkat kedua tote bag di tangannya.
“Ayo kita makan di rooftop aja,” ajak Daffa.
“Kalian duluan, aku lagi nunggu mas Bie. Bentar lagi dia sampe.”
Mendengar jawaban dari Arsy, Daffa segera mengajak Geya menuju roortop disusul Zar dari belakang. Dari arah pintu IGD, diam-diam Rima melihat kebersamaan Daffa dan Geya. Hatinya merintih ketika melihat Daffa memeluk mesra pinggang Geya. Rima yang sudah cukup lama bekerja bersama dengan Daffa tahu kalau dia bukan pria yang suka menyentuh wanita sembarangan, kecuali pasiennya. Melihat kedekatan Daffa dengan Geya, dia yakin kalau keduanya sudah disatukan dalam ikatan suci pernikahan.
🍁🍁🍁
Terdengar dengkusan kencang Zar. Menyesal rasanya dia menyetujui usulan Geya dan Daffa untuk makan bersama. Nyatanya hatinya semakin dibuat kesal dan berdarah-darah melihat kemesraan pasangan di dekatnya. Selain Geya dan Daffa, Arsy juga ikut makan siang bersama Irzal. Dan Dayana yang sudah kembali bisa beraktivitas, datang membawakan makan siang untuk suaminya. Bersama dengan Rafa, mereka bergabung di gazebo yang ada di rooftop.
Zar menyuapkan makanan ke mulutnya sambil memperhatikan Rafa yang terus mengusap perut Dayana yang mulai membuncit. Sesekali pria itu mencium perut Dayana tanpa risih dengan yang lain. Rafa memang tak sungkan memperlihatkan kemesraannya dengan Dayana, karena yakin yang lain juga sibuk dengan pasangannya, kecuali Zar.
Zar menolehkan kepalanya ke arah kanan. Pemandangan menyebalkan kembali menyapa indra penglihatannya. Adik kembarnya, Arsy nampak menikmati makan siang bersama suaminya. Walau kedua tangan kanan mereka sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulut, tapi tangan kiri mereka selalu berpegangan.
“Cih.. gandengan mulu, udah kaya orang mau nyebrang,” sindir Zar.
“Sirik aja, lo. Makanya buruan halalin Rena,” celetuk Irzal.
“Gue juga maunya cepat. Tapi ngga boleh ama bokap.”
“Ya protesnya ama bokap lo, kenapa sama gue,” balas Irzal.
Tawa Irzal dan Arsy lepas, keduanya nampak senang sekali menaburkan garam pada luka Zar. Rafa yang sedang minum hampir tersedak mendengar ucapan Zar. Sebenarnya dia juga prihatin pada nasib jomblo yang habis terkena tikungan. Tapi dia juga tidak bisa melewatkan momen romantis ini bersama istrinya.
Jakun Zar bergerak naik turun ketika sedang meneguk minumannya. Matanya kemudian tertuju pada pasangan Daffa dan Geya. Pasangan pengantin baru itu asik menikmati makan siang dengan sambil menyuapi. Terlihat Daffa mengambil sisa nasi yang menempel di ujung bibir Geya lalu memasukkan ke dalam mulutnya.
“Cih.. sok mesra banget,” sindir Zar lagi.
“Buset Zar, dari tadi lo ngga berenti ngebacot, kaga pegel apa lidah lo,” balas Daffa.
“Lidah gue baik-baik aja. Pala gue yang berasap!”
Wajar saja kalau Zar merasa kesal. Setelah mendapat kabar kalau dirinya baru saja mendapat tikungan tajam dari Daffa, calon istrinya membatalkan janji temu mereka karena urusan pekerjaan. Belum lagi saat makan siang bersama, dia disuguhkan adegan yang membuat jiwa jomblonya meronta-ronta.
“Dari pada lo ngomel-ngomel ama gue, mending lo waspada sama si Arya.”
“Emang kenapa si Arya?”
“Sekarang gue tanya, lo tau kabar gue sama Geya nikah dari siapa?”
“Arya.”
“Nah itu. Dia pengen lo mencak-mencak sama gue, tapi di belakang lo, diem-diem lagi usaha buat nyalip lo lagi.”
“Wah minta disunat lagi si Arya kalo berani nyalip gue!”
Daffa mengulum senyumnya. Dia berhasil mengalihkan perhatian Zar darinya. Pria itu mengembalikan bola panas yang tadi digulirkan Arya padanya. Zar mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Arya.
“Kaga diangkat telepon gue,” gerutu Zar.
“Palingan si Arya lagi mepet Shifa. Kan dia ngga kemana-mana lagi sekarang, mau fokus buat piala Sudirman,” Irzal semakin memperkeruh suasana.
“Wah.. si Arya kalau bener mau nyalip gue, liatin aja. Gue botakin palanya.”
“Hahahaha…”
Zar meneguk minumannya sampai habis. Mulai sekarang dia harus mengikuti perkembangan Arya dan Shifa, jangan sampai dia jatuh di lubang yang sama untuk kedua kali. Lamunan pria itu buyar ketika mendengar ponselnya bordering. Zar meneguk ludahnya kelat ketika melihat nama sang pemanggil.
“Mamvus gue,” Zar buru-buru menjawab panggilannya.
“Halo, pa.”
“Di mana kamu?”
“Di rumah sakit, pa. Abis ngucapin selamat sama Daffa, terus diajak makan siang.”
“Ngucapin selamet pala lo peyang,” sembur Daffa. Zar membulatkan matanya pada dokter spesialis bedah umum itu.
__ADS_1
“Papa tunggu di kantor, sekarang!”
“I.. iya, pa.”
Panggilan dari Kenzie segera berakhir. Zar memasukkan ponsel ke dalam saku celananya, lalu dengan terburu mengenakan kembali sepatunya. Arsy melihat bingung pada saudara kembarnya itu.
“Buur-buru amat, mau kemana?”
“Gue dipanggil big boss. Lupa gue, kalo disuruh langsung ke kantor begitu sampe.”
“Hahaha.. mamvus.. tambah lama nikah lo kalo bikin papa tandukan,” seru Irzal.
“Kampret lo! Dasar adik ipar durhakim!”
“Elah beda lima menit doang, sombong amat,” balas Irzal tak mau kalah.
“Yang penting gue nongol duluan, PEA! Gue duluan, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Dengan kecepatan kilat, Zar langsung keluar dari rooftop. Dia harus segera menyetorkan muka dan hasil pekerjaannya pada sang papa. Kalau tidak, bisa-bisa apa yang dikatakan Irzal akan jadi kenyataan. Bahaya kalau Kenzie sampai menangguhkan hari pernikahannya.
🍁🍁🍁
Sementara itu, Arya saat ini sedang berada di kediaman Azriel. Seperti dugaan Daffa, pria itu kini sedang melakukan pendekatan pada Shifa. Dia ingin membujuk wanita pujaannya itu agar mau secepatnya menerima tunangannya. Arya ingin cepat-cepat mengakhiri masa lajangnya, syukur-syukur bisa mengikuti jejak Daffa, menikung Zar.
Arya baru saja selesai makan siang bersama dengan Azriel, Yossie dan Shifa pastinya. Hanya adik Shifa saja yang tidak ikut makan siang bersama karena sedang berada di kampus. Tentu saja makan siang ini terasa spesial untuk Arya. Baru sekarang dia sempat makan bersama dengan kedua orang tua bakal calon istrinya.
“Kamu ngga balik ke kantor?” tanya Shifa.
“Kamu ngusir?”
“Ngga.”
“Bagaimana pekerjaanmu, Arya?” tanya Yossie.
“Alhamdulillah lancar, tante. Ya walaupun akhir-akhir ini aku sibuk banget.”
“Sibuk tapi masih bisa ke sini,” sindir Shifa.
“Aku emang sibuk banget, tapi demi calon istri aku sebisa mungkin menyempatkan waktu.”
Mata Shifa membulat mendengar ucapan frontal Arya. Wajahnya seketika langsung merona, terdengar tawa Azriel dan Yossie. Keduanya sungguh berharap Arya akan menjadi pendamping Shifa. Mereka sudah tidak sabar ingin memiliki menantu. Azriel iri melihat sahabatnya, Ayunda yang ketiga anaknya sudah sold out semua.
“Om tinggal dulu, ayo sayang.”
Mendengar panggilan Azriel, Yossie bangun dari duduknya. Keduanya memilih duduk-duduk di halaman belakang sambil melepaskan rindu. Maklum saja, beberapa bulan ini Azriel sibuk mendampingi anaknya mengikuti turnamen di luar negeri. Mereka duduk di halaman belakang, Yossie merebahkan kepalanya di bahu sang suami.
“Bang.. mudah-mudahan mereka berjodoh, ya.”
“Aamiin.. mudah-mudahan aja. Arya anak yang baik. Walau usianya lebih muda dari Shifa, tapi abang yakin dia bisa menjadi imam yang baik buat Shifa.”
“Aamiin.. mudah-mudahan aja, bang.”
Sementara itu Shifa memilih membereskan peralatan bekas makan dan membawanya ke dapur. Dengan sigap Arya langsung membantu bakal calon istrinya itu. Setelah semua peralatan kotor berpindah ke tempat cuci piring, Arya membawa Shifa duduk-duduk di teras rumah.
“Kamu kapan ke Jakarta?” tanya Arya.
“Awal bulan besok. Aku langsung masuk karantina buat latihan sama yang lain.”
“Fa.. abis piala Sudirman, kita langsung nikah, yuk.”
“Ish.. apaan sih kamu.”
“Aku serius, Fa.”
“Sebenarnya apa sih yang kamu suka dari aku?”
“Ngga tau.”
Jujur saja, Shifa kecewa mendengar jawaban Arya. Sebenarnya dia ingin mendengar satu saja alasan yang membuat pria itu tergila-gila padanya. Tapi dengan jawaban Arya tadi, membuat Shifa menganggap pria itu tidak serius padanya. Kekecewaan di wajah Shifa tertangkap oleh Arya.
“Emang butuh alasan buat orang jatuh cinta?” tanya Arya.
“Bukan gitu. Masa kamu suka sama aku tapi ngga tau apa yang kamu suka dari aku.”
“Karena aku ngga tau mau jawab apa. Semua yang ada dalam diri kamu, aku suka. Ngga adil kalau aku cuma jawab satu atau dua dari diri kamu yang aku suka.”
“Kita kan baru saling kenal. Mana mungkin kamu tau soal aku.”
“Kenapa ngga? Aku udah jadi pengagum rahasia kamu dari dulu. Aku tahu semua tentang kamu. Apa yang menyangkut soal kamu, selalu aku cari tahu. Jadi wajar dong kalau aku bilang aku suka semua yang ada di diri kamu.”
“Tapi kamu belum tahu kejelakanku. Nanti kamu nyesal.”
“Dijamin ngga. Karena ketika aku jatuh cinta sama kamu maka aku sudah siap menerima semua kebaikan dan keburukan dalam dirimu.”
Shifa tak dapat berkata apa-apa lagi. Entah memang Arya sudah berhasil memikat hatinya, atau kata-kata pria itu berhasil menghinoptisnya. Tapi yang jelas, perlahan namun pasti hatinya sudah terpincut pada lelaki muda itu.
“Fa.. aku ngga tau gimana lagi membuktikan kata-kataku, tapi yang jelas aku serius sama kamu. Aku mau menikah denganmu, bukan cuma sekedar main-main aja. Kamu percaya kan?”
Arya menarik tangan Shifa, lalu menggenggamnya erat. Mata keduanya beradu dan saling mengunci. Shifa terus melihat pada pria di hadapannya tanpa berkedip. Kemudian perlahan kepalanya mengangguk, menerbitkan senyuman di wajah Arya.
“YESS!”
🍁🍁🍁
**Cieee.. Arya udah dapet lampu hijau.
Zar.. Baek-baek, penikung bertebaran🤣
__ADS_1
Besok Kamis, ngga usah bolak-balik ngecek. Aku ngga bakalan up. Cuma up Suddnely Married aja, ok😉
Aku baru ngeh kalo Naik Ranjang diturunin levelnya dari 8 ke 6. Fix ini semakin membulatkan tekadku untuk ngga lanjut sequel NR di sini.**