
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Dayana tiba juga di lokasi tempatnya menjadi tenaga sukarelawan. Seluruh relawan akhirnya tiba di Desa Tampaure yang berada di kecamatan Bambaira, kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Kedatangan mereka disambut oleh aparat desa. Mereka sudah menyiapkan tempat tinggal untuk para relawan yang akan menetap selama satu bulan penuh.
Warga yang juga ikut menyambut kedatangan para relawan langsung membawa mereka menuju rumah yang sudah disiapkan. Hari sudah malam ketika mereka tiba. Dan langsung dipersilahkan untuk rehat, mengistirahatkan badan.
Perjalanan melintasi pulau, masih harus disambung dengan perjalanan darat yang memakan waktu berjam-jam membuat tubuh Dayana terasa letih. Gadis itu masuk ke dalam rumah yang sudah disiapkan untuknya dan beberapa relawan wanita lainnya. Di rumah ini terdapat tiga kamar, dan tiap kamar akan dihuni oleh dua orang.
Dayana menaruh kopernya di dekat tempat tidur. Di kamar ini hanya ada ada dua dipan dengan kasur kapuk, meja kecil dan cermin. Tidak ada lemari atau perabotan lain di dalamnya. Pintu kamar pun hanya memakai gorden saja. Dayana mendudukkan diri di sisi dipan. Di depannya, Lastri, relawan bagian kesehatan juga mendudukkan diri.
“Gerah ya, Ay,” ujar Lastri.
“Iya, mba.”
Lastri dan Dayana keluar dari kamar ketika ada yang memanggil nama mereka. Seorang wanita paruh baya yang meminjamkan rumahnya untuk dihuni datang dengan tiga buah obat nyamuk di tangannya.
“Ini buat di kamar, biar tidak ada nyamuk. Maaf keadaannya seperti ini.”
“Terima kasih, bu. Alhamdulillah, sudah mau menyediakan tempat untuk kami tinggal,” jawab Lastri sambil mengambil obat nyamuk.
“Sudah pada makan?”
“Sudah, bu.”
“Besok pagi, sarapan akan diantarkan ke sini.”
“Terima kasih ibu.”
“Silahkan beristirahat.”
Sang pemilik rumah keluar dari rumah tersebut. Dayana dan yang lainnya kembali ke kamar masing-masing. Lastri meletakkan obat nyamuk di sudut ruangan. Dia mengambil handuknya, bersiap untuk membersihkan diri. Hanya ada satu kamar mandi di rumah ini, jadi mereka harus menggunakannya secara bergantian.
Sambil menunggu gilirannya mandi, Dayana mengambil ponselnya. Ternyata sinyal sulit dijangkau di sini. Sedari tadi sinyal ponselnya hanya menunjukkan huruf E saja. Dayana menghembuskan nafas panjang. Dia meletakkan kembali ponsel ke atas kasur, lalu merebahkan tubuh dengan kaki menjuntai di lantai.
Dayana mulai melamun. Dia mengingat kembali percakapannya dengan Rena. Nenek dari Irzal itu banyak memberinya tips cara menaklukkan dokter Rafa. Menurut Rena, dulu sahabatnya, Dimas juga sama seperti Rafa. Tidak bisa move on dari mendiang istrinya yang sudah meninggal. Tapi kini Dimas hidup bahagia dengan istri barunya yang usianya berbeda 20 tahun darinya.
Mendengar kisah Dimas, semangat Dayana untuk menaklukkan Rafa kembali berkobar. Dia hanya perlu bersabar saja dan menjalankan semua arahan yang diberikan oleh Rena. Dia bersyukur mendapatkan mentor yang tepat.
Kamu harus menjadi dirimu sendiri. Atur kecepatanmu ketika mendekati Rafa. Sesekali kencang, dan tahu kapan harus mundur. Seperti main layangan saja, tarik ulur. Kalau dia terlihat tidak nyaman, mundur dulu baru kembali maju. Jika dia sudah terbiasa dengan kehadiranmu, sesekali kamu menghilang. Supaya dia tahu arti kehadiranmu.
Itulah nasehat yang diberikan oleh Rena sebelum Dayana berpamitan berangkat menjalankan tugasnya sebagai relawan. Gadis itu terus mengingat apa yang dikatakan Rena padanya. Tarik ulur seperti layangan dan sabar, itu kata kunci untuk pendekatannya.
🍁🍁🍁
Pagi harinya, sang pemilik rumah sudah menyiapkan sarapan untuk semua yang menginap di rumahnya. Hanya sarapan sederhana yang biasa dimakan warga setempat. Di rumah ini, selain Dayana dan Lastri, masih ada empat orang lainnya. Sinta, yang berprofesi sama seperti Lastri, perawat. Wina, dia akan mengajar bersama dengan Dayana. Reni, seorang lulusan teknologi pertanian. Dia akan membantu warga meningkatkan hasil taninya. Dan terakhir Nilam, dia adalah dokter yang akan mendampingi Rafa bertugas di puskesmas.
Jika Dayana satu kamar dengan Lastri, Sinta satu kamar dengan Wina. Dan tentu saja Nilam yang satu kamar dengan Reni. Nilam terlihat tidak begitu semangat menikmati sarapannya. Menu sarapan tidak sesuai dengan seleranya. Karena mereka hanya disediakan ubi dan singkong rebus serta teh pahit.
Sambil menikmati ubi rebus, Dayana memperhatikan Nilam yang hanya sedikit saja memakan ubi rebus. Wajah Nilam masuk dalam kategori cantik, rambutnya yang sebahu dikuncir kuda, kulitnya kuning langsat dan tubuhnya juga tinggi semampai. Dan yang paling menarik perhatian Dayana, Nilam terlihat cukup dekat dengan Rafa.
Setelah meneguk habis teh pahitnya, Nilam beranjak dari duduknya. Dia bermaksud menemui Rafa di rumah yang lokasinya hanya terhalang lahan kosong. Dari jendela, Dayana terus memperhatikan Nilam yang berjalan semakin mendekati rumah yang ditempati relawan pria.
“Mba.. kalau yang barusan keluar itu siapa namanya?” tanya Dayana.
“Itu dokter Nilam.”
“Ooh Nilam. Ngomong-ngomong mba udah lama jadi perawat di Ibnu Sina?”
“Udah lumayan lama. Lima tahun lebih.”
“Wah lama juga, ya. Berarti kenal dong sama dokter Daffa atau Aqeel?”
“Kenal, tapi ngga terlalu kenal juga, cuma sepintas aja. Kalau aku lebih kenal dokter Rafa, yang ikut tugas ini juga.”
Mendengar hal tersebut, Dayana seperti kejatuhan durian runtuh. Dengan senang hati dia akan menjadikan Lastri sebagai sekutunya. Gadis itu bisa mengorek informasi lebih banyak soal Rafa darinya.
“Dokter Rafa, duda ya?”
“Iya. Udah tiga tahun istrinya meninggal. Kasihan, padahal dia sayang banget sama istrinya. Dokter Rafa itu dokter yang ramah. Tapi setelah istrinya meninggal, dia berubah jadi pendiam dan menutup diri dari perempuan yang berusaha mendekatinya.”
“Banyak ya yang naksir dokter Rafa?”
“Lumayan. Salah satunya dokter Nilam. Di antara para dokter dan suster yang suka sama dokter Rafa, cuma dia aja yang tahan banting. Dia itu pinter deketinnya, dan dokter Rafa kayanya ngga sadar kalau lagi dideketin dia.”
Hati Dayana langsung ketar-ketir mendengarnya. Tak disangka, ternyata dirinya memiliki saingan berat. Apalagi kemarin saat di perjalanan, Nilam memang terlihat berbincang akrab bersama dengan Rafa. Berbeda dengan dirinya, yang terkesan dihindari oleh Rafa.
“Dokter Nilam cantik, cocok sih kalau sama dokter Rafa,” sungguh ucapan Dayana berbanding terbalik dengan isi hatinya.
“Cantik luarnya aja. Dalemnya kadang nyebelin dan bikin orang yang kerja sama dia sesak nafas.”
__ADS_1
“Masa?"
“Orangnya perfeksionis banget, kalau kita ngelakuin kesalahan sedikit aja langsung marahnya kaya orang kesurupan. Temanku kan yang damping dia kalau tugas praktek. Harus kuat mental kerja bareng dia. Tapi anehnya banyak yang ngga tau sifat aslinya, kecuali orang-orang yang kerja langsung sama dia.”
“Oh gitu.. kalau gitu, berarti cocok sama namanya, Nilam alias Nini Lampir, hihihi..”
“Ada-ada aja kamu, Ay.”
Tak ayal Lastri ikut tertawa mendengar celotehan Dayana. Keduanya menjadi semakin akrab saja. Sinta yang sedari tadi hanya mendengarkan, juga ikutan nimbrung. Dia yang baru dua tahun jadi perawat sama sekali tidak tahu soal sifat Nilam. Karena dia juga bekerja di divisi yang berbeda dengan Lastri.
“Ngomong-ngomong, dokter Nilam tuh, dokter apa ya?” tanya Dayana.
“Dokter kandungan.”
Di tengah keasyikan mengobrol, masuk bu Ati, sang pemilik rumah. Dia bermaksud membereskan perabot yang digunakan untuk sarapan.
“Belum berangkat to?”
“Sebentar lagi, bu.”
Ati segera mengambil gelas-gelas kotor. Sedang ubi dan singong rebus yang tersisa, dibiarkan saja. Siapa tahu masih ada yang ingin memakannya. Dia membawa gelas kotor ke dapur untuk dicuci. Tak lama wanita itu kembali.
“Kalian mau makan apa nanti?”
“Apa saja, bu,” jawab Lastri.
“Suka ikan tak?”
“Suka, bu.”
“Nanti ibu masakan ikan asap untuk kalian. Ibu pergi dulu, jangan lupa dibunuh tv-nya kalau mau pergi.”
Semua yang mendengarkan ucapan Ati hanya terbengong saja. Namun Ati yang merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya, segera keluar dari rumah.
“Dibunuh maksudnya tv-nya matiin kali, ya,” terka Reni.
“Kayanya, mba. Serem ya, tv-nya disuruh dibunuh,” Dayana terkikik geli.
Tak lama setelah Ati pergi, Nilam kembali. Dia meminta yang lainnya segera bersiap, terutama Lastri dan Sinta. Mereka akan segera berangkat ke puskesma. Dayana dan Wina juga bersiap menuju sekolah, sedang Reni akan menuju balai desa lebih dulu. Setelah mematikan televisi, semuanya keluar dari rumah.
Mata Dayana langsung beradu dengan Rafa ketika pandangan mereka bertemu. Dengan cepat Rafa mengalihkan pandangan ke arah lain. Nilam mendekati Rafa dan berjalan bersama pria itu. Dayana dan Wina berjalan mengikuti rombongan. Namun di pertigaan, mereka harus berbelok ke kiri. Sekolah tempat mereka mengajar memang letaknya tidak sejalur dengan puskesmas.
🍁🍁🍁
“Wah banyak juga bekalnya,” ujar Sinta.
“Iya. Kalau makanannya ngga sesuai lidah kita. Bisa masak ini.”
“Ay, bikin puding kayanya enak.”
“Boleh… boleh.”
Dayana mengambil tiga bungkus puding instan, dia mengambil puding rasa mangga. Dengan cepat dia dan Sinta membuat pudding tersebut. Untung saja mereka sudah tidak perlu menambahkan gula lagi karena semua bahan sudah siap masak. Sambil menunggu puding matang, Sinta mencari-cari wadah yang bisa digunakan untuk menampung puding.
“Pake ini aja gimana, Ay?” Wina memperlihatkan dua wadah plastik berbentuk persegi.
Melihat anggukan Dayana, Wina segera membersihkan wadah tersebut. Setelah mengelapnya menggunakan tisu, Dayana segera menumpahkan pudding ke dalam dua wadah tersebut. Kemudian dia lalu lanjut membuat fla.
“Sayang ya ngga ada kulkas.”
“Di rumah bu RT kayanya ada deh.”
“Numpang simpen puding boleh kali, ya.”
“Boleh kali.”
Kedua gadis itu membawa puding yang sudah berkurang panasnya ke rumah bu RT. Rumah ketua rukun tetangga itu hanya berselang tiga rumah saja. Dengan ramah bu RT mempersilahkan Dayana menyimpan pudingnya. Wanita itu bahkan menyuguhkan minuman dingin untuk dua gadis cantik itu.
“Bu.. kalau di sini ada yang jual es batu?”
“Ada. Itu pak Wazir jualan es batu. Rumahnya di belokan sebelah. Di sana juga ada warung, biasanya pak Wazir jual buah hasil kebunnya.”
“Wah nanti sore kita bisa buat minuman dingin nih,” celetuk Dayana dan diangguki dengan senang oleh Wina.
Senyum tersungging di wajah Dayana. Dia akan membuatkan minuman dingin untuk Rafa sekembalinya pria itu dari puskesmas. Dari perut naik ke hati, inilah rencana pertama yang akan dijalankan oleh Dayana.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Dengan membawa wadah berisi es campur ala-ala, Dayana berjalan menuju rumah para relawan pria. Di sampingnya, Wina ikut mengantar. Di tangannya juga terdapat wadah berisi puding. Tak lupa dia membawa flanya.
Melihat kedatangan Dayanan dan Wina yang tidak bertangan kosong, tentu saja para pria ini merasa senang. Mereka langsung mengambil gelas dan piring kecil untuk puding. Dayana memasukkan es campur buatannya ke dalam gelas, dia juga memotongkan puding dan menambahkannya dengan fla. Matanya berkeliling mencari keberadaan Rafa.
“Dokter Rafa mana?” tanya Dayana.
“Tadi sih lagi di samping rumah.”
Dengan gelas dan piring berisi puding di tangannya, Dayana berdiri kemudian menuju samping rumah yang tadi ditunjukkan. Benar saja, nampak Rafa tengah duduk memandangi pepohonan yang daunnya bergerak-gerak ditiup angin sore. Gadis itu meletakkan gelas dan piring di tangannya di dekat Rafa. Membuat pria tersebut terjaga dari lamunannya.
“Cobain mas, es campur sama puding buatanku.”
Tak ada tanggapan dari Rafa. Mata pria itu hanya melihat gelas dan piring di dekatnya. Melihat reaksi Rafa, Dayana kembali berkata,
“Jangan geer dulu, mas. Aku bawain bukan cuma buat mas Rafa, tapi buat semua yang ada di sini. Aku cuma bantu bawain ke sini. selamat dinikmati. Kalau ngga suka, buang aja kasih ke ayam.”
Setelah mengatakan itu, Dayana berdiri dari duduknya lalu masuk ke dalam rumah. Dia bergabung dengan Wina, membaur dan berbincang dengan para relawan pria. Rafa terus memandangi Dayana yang tertangkap dari jendela yang terbuka. Nampak gadis itu tengah tertawa, entah apa yang membuatnya tertawa.
Tangan Rafa bergerak mengambil gelas, kemudian mencoba es campur buatan Dayana. Rasanya ternyata lumayan enak. Dia lalu mencoba puding yang sudah diberi fla. Rasanya juga enak. Ditemani semilir angin, Rafa menghabiskan kedua hidangan yang dibuat oleh Dayana.
Baru saja Rafa menghabiskan es campurnya, datang Nilam lalu mendudukkan diri di samping pria itu. Pandangan Nilam langsung tertuju pada gelas dan piring kosong yang ada di dekat Rafa. Melihat sisa-sisa fla di atas piring, Nilam sadar pasti Dayana yang sudah mengirimkan makanan ke sini. Mendadak perasaan Nilam jadi tak enak. Nalurinya sebagai perempuan mengatakan kalau Dayana juga memiliki perasaan pada Rafa.
“Dok.. soal ibu hamil yang tadi saya periksa. Saya curiga kalau ibu itu ada masalah dengan jantungnya. Saya sudah suruh ibu itu buat datang lagi ke puskesmas besok. Bisa kan dokter bantu periksa?”
“Bisa.”
“Terima kasih sebelumnya.”
“Sama-sama.”
“Ini pasti dari Aya,” Nilam menunjuk gelas dan piring bekas di samping Rafa.
“Iya.”
“Dokter kenal sama dia?”
“Iya. Saya dulu yang mengoperasi opanya.”
“Ooh.. dia masih kuliah atau sudah bekerja?”
“Sudah lulus. Kayanya dia mengisi waktu ikut jadi relawan sambil nunggu kuliah S2 nya mulai.”
Nilam hanya menganggukkan kepalanya saja. Sekilas dia melihat Dayana dari jendela, gadis itu masih asik mengobrol dengan yang lain sesekali tawanya terdengar. Sejak awal melihat Dayana, Nilam tidak menyukainya. Apalagi ketika melihat Ravin menitipkan gadis itu pada Rafa.
“Anak manja seperti dia apa bisa kuat tinggal di sini selama sebulan? Kok aku ngga yakin,” gumam Nilam, namun masih bisa terdengar oleh Rafa.
“Jangan under estimate seseorang. Karena apa yang terlihat dari luar belum tentu sama dengan yang di dalam.”
Setelah melontarkan kata-kata tersebut, Rafa bangun dari duduknya kemudian masuk ke dalam rumah sambil membawa gelas dan piring kotor. Sesampainya di dalam rumah, Rafa terus berjalan menuju dapur. Dari arah dapur, dia mendengar suara orang tengah berbincang.
“Win, aku mau bikin alat peraga buat bantuin anak-anak lebih paham soal bahasa Inggris. Tapi cari bahannya di mana ya?”
“Harus ke kota kali, ya.”
“Beuuh.. jauh.”
“Iya, sih. Namanya juga di daerah terpencil.”
“Mana susah sinyal juga.”
“Di dekat jembatan lumayan tuh sinyalnya. Tadi aku nyoba.”
“Masa? Nanti deh aku coba ke sana. Ke jembatan cinta eh sinyal hehehe…”
Keduanya terkejut ketika Rafa datang membawa piring dan gelas kotor. Dayana sebisa mungkin tidak mempedulikan kedatangan Rafa. Dia terus saja mencuci piring dan gelas kotor.
“Eh dokter Rafa. Gimana enak ngga dok, es campurnya?”
“Enak.”
“Itu Aya loh yang buat.”
“Enak, manisnya pas.”
“Manis kaya yang bikin ya, dok.”
Rafa hanya melemparkan senyuman tipis saja. Kemudian dia segera keluar dari dapur. Dalam hati Dayana kesal melihat Rafa yang nampak cuek padanya. Tapi dia mencoba untuk bersabar. Akan ada waktunya nanti Rafa mengejar-ngejar dirinya. Semoga saja, aamiin.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Aamiin yang kenceng ya Ay😁