
Dengan membawa berkas di tangannya, Tamar memasuki ruangan atasannya. Dia mendekati meja sang atasan kemudian menarik kursi di depan meja kerjanya seraya menyerahkan berkas di tangannya.
“Bagaimana hasilnya,” tanya Ridwan sang atasan.
“Hasil lab sudah keluar. Cairan dalam jarum suntik sama seperti yang ada dalam kandungan darah Ferdi, begitu pula dengan sisa darah di jarum, DNA nya sama dengan Ferdi. Tapi kami tidak menemukan sidik jari di sana.”
“Kita sudah menunda kasus ini selama tiga hari. Pihak keluarga juga sudah mempertanyakan soal kematian korban. Kalau kamu yakin kalau ini adalah kasus pembunuhan, maka kita harus secepatnya mengatakan pada pihak keluarga.”
“Saya yakin kalau ini adalah kasus pembunuhan.”
“Kita tidak ada saksi, bukti yang dimiliki hanya jarum suntik yang kamu temukan di TKP. Tidak ada sidik jari di sana. Bagaimana kamu akan menangkap pelakunya?”
“Pelaku kejahatan akan kembali ke TKP untuk menyisir barang bukti. Kami akan menjebaknya di sana. Aji dan Rinto sudah berada di TKP.”
“Baiklah. Tangkap pembunuhnya.”
“Siap.”
Tamar berdiri dari duduknya kemudian segera keluar dari ruangan atasannya. Dia bergegas keluar dari kantor tempatnya bekerja. Saat akan menuju mobilnya, langkah pria itu terhenti ketika Stella menghadangnya.
“Mau apa?” tanya Tamar.
“Aku cuma mau tanya, apa kalian sudah menangkap pelakunya?”
“Memang kamu siapa, sampai aku harus melapor padamu?”
“Aku sudah membantumu menemukan barang bukti. Kenapa kamu pelit sekali berbagi informasi denganku?”
“Minggir.”
Tangan Tamar segera menyingkirkan Stella dari hadapannya dengan mendorongnya ke samping. Pria itu bergegas menuju mobilnya. Stella memandang kesal pada polisi yang selalu membuatnya naik darah. Melihat Tamar berlalu dengan mobilnya, Stella segera menuju kendaraannya.
“Dia pelit banget,” seru Suzy yang sudah duduk di samping Stella.
“Ya betul juga sih, emang kita siapa sampe dia harus berbagi informasi. Udah deh, kita ikutin aja.”
Stella melajukan kendaraannya, mengikuti mobil Tamar yang berjalan di depannya. Melihat rute yang diambil pria itu, Stella yakin sekali kalau Tamar menuju apartemen Ferdi. Dia ikut membelokkan mobilnya ketika melihat kendaraan Tamar memasuki pelataran parkir gedung apartemen tempat Ferdi tinggal.
Gadis itu masih bertahan di dalam mobil, menunggu Tamar kembali keluar. Setengah jam berlalu, namun tidak ada tanda-tanda pria itu akan keluar. Stella memutuskan untuk tetap menunggu di dalam mobil, sedang Suzy memutuskan untuk memasuki apartemen Ferdi.
Dari arah pintu lobi, masuk seorang pria dengan tinggi badan 175 cm yang wajahnya tertutup masker dan kepala mengenakan topi hitam. Pria itu terus berjalan dengan kepala menunduk, melewati sepasang security yang berjaga di depan pintu. Dia segera masuk ke dalam lift lalu memijit tombol 7.
Koridor lantai 7 terlihat begitu sepi ketika pria misterius itu keluar dari lift. Dengan langkah tergesa dia segera menuju unit apartemen Ferdi yang masih diberi garis kuning. Sambil menolehkan kepala ke kanan dan kiri, dia memasukkan enam digit angka ke kode akses. Dengan cepat pria itu masuk ke dalamnya.
Suasana di dalam apartemen cukup gelap. Apalagi waktu sudah memasuki malam hari. Pria itu langsung menuju sofa di ruang tengah. Tangannya masuk ke sela-sela sofa, dia langsung mengambil jarum suntiknya yang ada di sana. Bertepatan dengan itu, sinar senter mengenai wajahnya.
“Sh*t!”
Secepat kilat pria itu meninggalkan ruang tengah. Tamar segera mengejarnya. Aji yang menunggu di dekat pintu langsung mencegatnya. Keduanya langsung terlibat perkelahian sengit. Rinto datang membantu, tapi pria itu terkena tendangan dan menimpa tubuh Aji hingga terjatuh.
Melihat itu, Tamar meloncat dan memberikan tendangan, tapi pria itu dapat menghindar. Dia segera membuka pintu dan berlari keluar. Tamar segera mengejarnya, dia mengikuti sang tersangka turun ke bawah dengan menggunakan tangga darurat. Di belakangnya Aji dan Rinto menyusul.
Stella yang bosan menunggu di dalam mobil, keluar dari dalamnya. Dia menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri di depan mobil. Gadis itu terkejut mendengar suara Suzy yang berteriak padanya.
“ITU PELAKUNYA!! TANGKAP!!”
Mendengar itu, Stella segera berlari mengejar pria berpakaian serba hitam dan wajah tertutup masker. Di belakang gadis itu menyusul Tamar, Aji dan Rinto. Sang tersangka terus berlari meninggalkan pada pengejarnya. Suzy yang berhasil mengejarnya berdiri menghadang pria itu. Namun dia bisa menembus Suzy dan terus berlari.
Stella, Tamar, Aji dan Rinto berhenti di pertigaan, mereka kehilangan jejak pelaku. Stella memandang berkeliling. Lalu matanya menangkap sosok kuntilanak yang tengah duduk santai di atas pot besar yang ada di dekat lampu jalan. Sang kunti nampak sedang asik mengupil. Stella segera mendekatinya.
“Mba kunti.. lihat ada yang lari? mukanya ditutup masker sama pake topi hitam.”
Tamar memperhatikan Stella yang seperti tengah berbicara dengan pot bunga di depannya. Pria itu hanya mendesis saja melihat kelakuan aneh gadis itu. Dia memerintahkan kedua anak buahnya untuk berpencar. Sementara itu Stella masih berusaha mendapatkan informasi dari neneng kunti.
“Lihat ngga?” tanya Stella lagi dan sang kunti hanya menganggukkan kepala.
“Dia lari kemana?”
Tangan kuntilanak itu menujuk gang di depannya. Stella segera berlari ke arah itu. Tamar yang baru selesai memeriksa jalan yang ternyata buntu, langsung mengikuti Stella. Dia berlari cepat menyusuri gang.
“HEI BERHENTI!!” teriak Stella.
Pelaku pembunuhan Ferdi yang terkejut mendengar suara Stella mempercepat larinya. Tamar menambah kecepatan larinya hingga menyusul Stella. Kemudian dia melihat ember kosong di dekatnya. Diambilnya ember tersebut kemudian ditendang dengan kencang hingga mengenai kepala orang yang dikejarnya.
Tamar mempercepat larinya lalu melompat dan menendang punggung pria yang dikejarnya hingga jatuh tersungkur. Belum sempat pria tersebut bangun dari posisinya terjatuh, Tamar segera meringkusnya. Kedua tangan pria itu ditarik ke belakang lalu dipakaikan borgol olehnya.
Dengan sedikit kasar Tamar menarik tubuh pria itu lalu mendorongnya. Aji dan Rinto segera menggiring pria itu. Stella menundukkan tubuhnya seraya memegangi kedua lututnya. Nafasnya nampak terengah setelah berlari cukup jauh. Dilihatnya Tamar mendekat ke arahnya. Namun gadis itu nampak kesal ketika Tamar berlalu begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih padanya.
“Terima kasih kembali!!”
Teriak Stella pada Tamar. Tapi polisi berpangkat AKP itu tak menggubrisnya. Dia terus berjalan keluar dari gang. Stella menarik nafas panjang, kemudian berjalan pelan menyusuri gang. Suzy sudah berada di sampingnya lagi.
“Dia benar pelakunya?” tanya Stella.
“Iya. Terima kasih kamu sudah membantuku untuk menangkapnya.”
“Lunas ya, janji gue. Bye.. gue mau pulang. Jangan ganggu gue lagi.”
Stella terus berjalan menuju tempat parkir di gedung apartemen Ferdi. Dia segera naik ke dalam mobil dan menjalankan kendaraannya. Suzy hanya berdiri di depan gerbang apartemen, memandangi mobil Stella yang meninggalkannya. Tak ada ekspresi apapun di wajahnya. Hanya matanya yang terus mengikuti pergerakan mobil Stella.
__ADS_1
🍁🍁🍁
“Oii bestie!”
Sambil berteriak Stella masuk ke dadam kamar Arsy lalu menghempaskan bokongnya di samping saudara sepupunya yang nampak malas-malasan. Arsy duduk sambil menyenderkan punggungnya ke headboard ranjang. Kedua tangannya memeluk boneka teddy bear pemberian Irzal kemarin. Matanya hanya menatap kosong ke depan.
"Eh gue udah berhasil nangkep penjahat, loh. Semalem orang yang udah bunuh Ferdi ditangkep. Gue yang udah bantu. Terus gue dengan beraninya nanya ke neneng Kunti pas si penjahat kabur. Mungkin karena situasinya tegang bin urgent kali ya, jadi gue ngga takut. Tapi yang bikin kesel, tuh polisi nyebelin ngga ada terima kasihnya ama gue."
Stella bercerita panjang lebar pada Arsy soal kejadian semalam. Namun ternyata sang sepupu sama sekali tidak merespon ucapannya. Stella melihat pada Arsy yang masih melamun.
"Eh.. Diem bae.. Komen kek?"
Tak ada reaksi dari Arsy. Hanya helaan nafas panjangnya saja yang terdengar.
“Lo kenapa? Eh ini boneka dari siapa? Buset ngga kurang gede nih.”
Stella mencoba menarik boneka dari tangan Arsy. Tapi secepat kilat Arsy menahannya. Matanya melotot pada Stella, seolah-olah mengatakan, jangan berani-berani sentuh boneka gue.
“Biasa aja tuh mata.”
Stella menjatuhkan kepalanya ke perut teddy bear, tangannya mengusap-ngusap bulu putih itu. Beberapa kali dia menggerakkan tubuhnya untuk mengganggu konsentrasi sepupunya, namun Arsy hanya bergeming. Gadis itu akhirnya membalikkan posisinya menjadi tengkurap dengan kepala mendongak melihat pada Arsy.
“Lo kenapa sih? Udah kaya ayam abis makan karet?”
“Stel.. gue mesti gimana?”
“Gimana kenapa? Oh gue tau, lo stress kan mau nikah sama si es kering? Terima nasib aja. Berdoa aja siapa tau menjelang akad nikah ada kejadian apa gitu, terus lo batal nikah.”
PLAK!
“Aduh!! Sakit monyong.”
Gadis itu mengusap lengannya yang terkena pukulan sepupunya. Arsy membenamkan wajahnya ke kepala teddy bear. Stella pusing sendiri melihat tingkah saudaranya yang aneh. Dia bangun dari posisinya, kemudian duduk di hadapan Arsy. Dipegangnya kedua bahu Arsy agar gadis itu melihat padanya.
“Lo kenapa? Cerita sama gue.”
“Stel.. gue harus gimana? Hiks.. hiks.."
“Yaaa dia nangis. Kenapa lo? Kesambet?”
“Dulu gue ngga kaya gini… kenapa sekarang kaya gini. Dulu gue anteng-anteng aja kalau ngga ketemu, tapi kenapa sekarang kaya gini.”
“Sumpah gue kaga ngerti, lo ngomong apa sih?”
“Dulu kalau ngga ketemu sama bang Aqeel, cuek aja. Pernah sampe dua minggu gue ngga ketemu, biasa aja. Tapi kenapa pas sama mas Irzal kaya gini, huaaaaa..”
“Gue baru tiga hari ngga ketemu dia, tapi udah kangen banget.”
Stella melongo untuk sepersekian detik, kemudian tawanya pecah melihat sepupunya sudah dilanda kebucinan pada calon suaminya, si es kering. Arsy menghapus airmatanya sambil melihat sang sepupu dengan wajah keki. Sadar diperhatikan oleh Arsy, Stella menghentikan tawanya.
“Hahaha… sorry Sy.. sorry.. abis lo nangis kaya anak kecil gitu. Jadi ceritanya lo kangen nih sama kang mas Irzal? Cieeee… udah kena virus eceng ya, hahaha..”
“Elo mah..”
Tangan Stella terangkat menutupi wajah ketika Arsy mengangkat bantal, hendak memukulnya. Dia menarik bantal dari tangan Arsy kemudian memeluknya. Wajah gadis itu mulai menunjukkan ekspresi serius.
“Jadi ceritanya lo kangen sama si es kering?”
“Mas Irzal! Awas lo manggil es kering lagi.”
“Jiaaahhh… beneran udah kena eceng bucin,” Stella menutup mulut dengan tangannya.
“Emang kalian ngga boleh ketemuan? Lagi pingitan gitu?” tanya Stella lagi.
“Ngga juga. Cuma dia bilang seminggu ini kita ngga akan ketemu. Sampai ketemu pas akad nanti. Dia juga ngga telepon atau kirim pesan. Gue kan kangen, Stel.”
“Ya elo aja yang kirim pesan. Tanya-tanya soal acara nikahan kalian.”
“Dia udah bilang kalau urusan pernikahan, tanya aja sama Raisya atau mama Rain.”
“Ooh gitu ya.. ehmm.. gimana kalau gue yang telepon. Ngga ada larangan dong kalau gue yang telepon.”
“Lo mau ngomong apa?”
“Iya ya, gue mau ngomong apa? Modelan es kering kaya dia pasti langsung to the point nanya, ada apa? Ngapain lo telepon gue? Masa iya gue bilang, nih calon istri lo kangen.”
“Awas aja lo bilang gitu.”
“Hahaha…”
Untuk sejenak kedua gadis itu hanya terdiam saja. Otak Stella berpikir keras bagaimana caranya bisa melihat wajah Irzal walau hanya melalui panggilan video call. Kemudian jari gadis itu terjentik.
“Gue tau. Abang lo pasti lagi sama bang Irzal kan? Gue telepon Zar aja.”
Tanpa menunggu persetujuan Arsy, Stella segera melakukan panggilan video pada Zar. Dia berpindah duduk ke samping Arsy sampai Zar menjawab panggilannya. Tak lama saudara kembar Arsy itu menjawab panggilannya. Nampak di belakang Zar ada beberapa pria yang tengah berbincang.
“Ppsssttt.. apaan pake video call segala?” tanya Zar.
“Duh sumpah gedeg gue sama abang lo,” ujar Stella, Arsy tak bisa menahan tawanya. Zar memang tak pernah mengubah panggilannya pada Stella.
__ADS_1
“Ppsstt.. oii.. ngapain lo telepon? Butuh pawang lo?”
“Kaga. Coba lo gerakin hape lo. Gue mau lihat ada siapa aja di belakang elo.”
“Mau ngapain?”
“Turutin aja, elah. Kepo bener, gue sumpahin rorombeheun lo!”
Zar berdecak kesal, namun tak ayal tangannya bergerak agar para pria di belakangnya bisa tertangkap kamera. Pertama Stella melihat Imron, Aidan, Fathir, Tamar. Begitu kamera menyorot Tamar, Stella meminta Zar berhenti.
“Zar.. lo kenal si polisi songong itu ya.”
“Siapa? Tamar?”
“Oh namanya Tamar.. polisi rese tuh, ngga tau terima kasih. Udah dibantuin ngomong nuhun kek, thank you kek, xie.. xie.. kamsa hamnida juga kaga. Bisa tolong getok palanya ngga?”
“Eh buset lo mau bikin perang barata yudha apa?”
Stella hanya mendengus saja. Melihat Tamar mengingatkannya pada kejadian semalam. Setelah berhasil menangkap pelaku pembunuhan Ferdi, pria itu langsung pergi tanpa mengucapkan apa-apa padanya.
“Jadi lo telepon gue cuma mau lihat si Tamar?”
“Dih najong gue mau lihat si Tamara Belepotan. Coba geser lagi kamera lo.”
Walau tak tahu kemana arah pembicaraannya dengan Stella, Zar kembali menggerakkan tangannya. Kali ini kameranya menangkap sosok Irzal tengah duduk sambil berbincang serius dengan Imron. Stella menyenggol Arsy, mata calon pengantin itu langsung berbinar melihat wajah calon suaminya.
“Lo sebenernya mau ngapain sih? Pegel nih tangan gue,” protes Zar.
“Sabar napa. Itu posisinya udah pas, dah diem dulu di situ.”
“Lo liat siapa sih?”
Karena penasaran, Zar menolehkan kepalanya ke layar ponsel. Ternyata Stella memintanya tetap fokus mengarahkan kamera pada Irzal. Pria itu langsung mengarahkan kamera pada wajahnya lagi.
“Dih gue bilang diem,” protes Stella.
“Ngapain lo mau lihat si Irzal? Dia calonnya Arsy, lo mau nikung ya?”
“Sembarangan lo! Bukan gue yang mau lihat dia, nih adek lo!”
Dengan cepat Stella mengarahkan kamera ponsel pada Arsy. Refleks Arsy langsung menutup wajahnya dengan tangan begitu Zar melihat padanya. Seperti yang sudah diduga, tawa Zar langsung terdengar.
“Hahaha…. Oii.. udah bucin lo! Gue bilangin ya.”
“Jangan!!!” seru Arsy sambil melotot.
Zar terus terpingkal melihat reaksi adiknya. Tak disangka adik kembarnya yang kerap bersikap jutek dan bar-bar pada Irzal sudah jatuh cinta pada pria itu. Tapi dalam hatinya juga senang sang adik sudah menemukan cintanya.
“Udah aah.. lo lo pada gangguin aja.”
Tanpa menunggu persetujuan Stella, Zar langsung mengakhiri panggilan. Stella sontak berteriak kesal karena Arsy sepertinya masih belum puas melepas rindu melihat wajah tampan Irzal. Tapi kekesalannya berakhir ketika ponsel Arsy bergetar, Zar mengirimkan beberapa foto Irzal pada adik kembarnya itu.
“Beneran deh si Zar emang best brother. Puas-puasin neng lihat calon suami lo,” goda Stella.
Tangan Arsy terus menggulir layar ponsel, memperhatikan foto-foto Irzal yang dikirimkan padanya. Segurat senyum tercetak di wajah cantiknya. Rasa rindunya terobati melihat wajah tampan Irzal.
“Duh… beneran deh, kalo udah bucin, seketika jadi orgil.”
“Bersisik lo. Gue sumpahin lo juga bucin.”
“Sama siapa?”
“Tamara Belepotan.”
“Ogah!!”
“Hahaha…”
Arsy membaringkan tubuhnya dengan posisi miring. Boneka teddy bear masih berada dalam pelukannya, sedang tangannya masih memegang ponsel. Belum puas rasanya memandangi wajah Irzal. Pria yang tiga hari lagi akan membayarnya tunai di hadapan penghulu.
Diam-diam Stella merekam apa yang dilakukan oleh Arsy. Video berdurasi kurang dari satu menit itu segera dikirimkan pada kakek Abi tercinta. Wajahnya tersenyum membayangkan saat ini sang kakek jingkrak-jingkrak kegirangan mengetahui sudah ada benih-benih eceng tumbuh di hati Arsy.
🍁🍁🍁
Irzal yang tengah berbaring di kasur dikejutkan dengan suara ketuka di pintu. Pria itu bangun dari tidudnya, kemudian membuka pintu. Ternyata Ita, asisten rumah tangga di kediamannya yang mengetuk pintu.
"Maaf mas Bibie... Itu ada tamu."
"Tamu? Siapa, bi?"
"Ngga tau, mas. Bibi juga baru lihat."
Ita segera pergi setelah mengabarkan pada Irzal. Setelah menutup pintu, Irzal menuruni anak tangga, kemudian menuju teras. Nampak di sana seorang pemuda yang tinggi badannya hampir setara dengannya dengan tubuh tegap berdiri membelakanginya.
🍁🍁🍁
**Eh siapa tuh yang datang?
Cieeee... Arsy udah kaya Dylan, rindu itu berat🤭**
__ADS_1