Hate Is Love

Hate Is Love
Cari-cari Jodoh


__ADS_3

Stella terkejut mendengar suara Tamar. Dia tak menyangka kalau pria itu sudah berada di ruang perawatannya. Irzal berusaha menahan senyumnya mendengar panggilan Stella untuknya. Perlahan Tamar mendekati bed Stella. Arsy langsung bergeser mendekati Irzal, memberi ruang untuk Tamar agar berada tepat di depan sepupunya itu.


“Tamara apa?” tanya Tamar pada Stella.


“Belepotan, hihihi..” jawab Arsy sambil terkikik geli. Irzal juga tidak bisa menahan senyumnya. Tamar menatap tajam pada Arsy.


“Jaga tuh mata. Mau gue colok?” ujar Irzal.


“Dasar bucin,” gumam Tamar pelan.


“Ayo sayang kita pergi. Kalau wanita dan pria berduaan, maka yang ketiga adalah setan. Aku ngga mau kita jadi setan. Cukup si Tamar aja yang jadi setan,” ujar Irzal seraya menarik tangan Arsy keluar kamar.


Ingin rasanya Tamar melempar sahabatnya itu dengan kursi yang ada di dekatnya. Namun pria itu memilih mendudukkan diri di sana. Ada hal yang perlu dibicarakannya dengan Stella.


“Dengar Stella, aku berterima kasih atas semua bantuanmu. Karenamu, Bertrand bisa tertangkap dan Yogi bisa diselamatkan. Tapi, pekerjaanku ini berbahaya. Aku harap kamu tidak melakukan hal ceroboh lagi ke depannya. Hari ini kamu bisa selamat, tapi besok-besok siapa yang tahu.”


“Aku terpaksa begitu karena kamu ngga mau dengar apa kataku.”


“Aku bekerja berdasarkan prosedur. Kita tidak bisa masuk sembarangan ke rumah orang dan melakukan penggeledahan.”


“Ya kalau aku ngga nekad, kita mana tahu yang udah dilakukan Bertrand.”


“Iya, aku tahu. Makanya aku ngucapin terima kasih untuk itu. Tapi.. ke depannya aku harap kamu tidak terlibat masalah lagi. Kalau kamu bertindak ceroboh lagi, kamu juga akan membuat keluargamu khawatir, mamamu, papamu, eyangmu dan yang lainnya. Berpikirlah sebelum bertindak.”


“Maaf..”


Stella menundukkan kepalanya. Untuk kalimat terakhir, gadis itu tak mengelak. Semua keluarganya memang khawatir. Apalagi tadi Anya dan Irvin sudah memarahinya, mereka tak mengijinkan dirinya untuk terlibat lagi dengan Suzy.


“Yogi.. gimana keadaannya?”


“Yogi sudah baikan. Dia masih dirawat di ruangan lain.”


“Anak-anak yang lain?”


“Mereka sudah meninggal.”


Walau Stella sudah bisa menebak saat melihat tubuh mereka, namun tak ayal gadis itu merasa bersedih juga. Mereka masih sangat muda dan harus meregang nyawa di dalam lemari pendingin.


“Kenapa mereka ada di sana? Siapa Bertrand itu?”


“Dia.. hanya manusia sampah dengan gangguan mental. Dia punya masalah dalam mengendalikan emosinya, dan dia menjadikan anak-anak tersebut sebagai pelampiasan. Mereka yang dimasukkan ke dalam lemari pendingin yang sudah tidak kuat menahan pukulannya.”


“Dasar brengsek!!”


Tamar terdiam, tadi juga dia merasakan kemarahan yang sama seperti Stella setelah Wintang menceritakan yang sebenarnya. Awalnya dia merasa was-was kalau Bertrand sampai jatuh ke tangan keluarga Hikmat. Tapi sekarang dia sudah tak peduli lagi, bahkan jika Bertrand diserahkan dalam keadaan tidak bernyawa sekalipun. Pria itu pantas mendapatkannya.


“Kenapa harus melampiaskannya sama anak-anak? Dia bisa mencari cara lain untuk melampiaskan emosinya. Emang dia ngga punya uang buat beli samsak? Atau hajar aja tuh asistennya yang nyebelin. Kenapa harus anak-anak?!”


“Waktu kecil, Bertrand sering terkena pukulan ayahnya. Dia sering disiksa dan dikurung di kamar kalau melakukan kesalahan, mendapat nilai jelek atau membuat kegaduhan di rumah. Dia juga tidak diperbolehkan main bersama teman-temannya. Mungkin itu yang menjadikannya psikopat.”


“Kalau dia punya pengalaman seperti itu, harusnya dia lebih sayang sama anak-anak, bukan sebaliknya.”


“Sudahlah, kamu ngga usah pikirin soal itu. Lebih baik kamu istirahat. Sekali lagi terima kasih untuk bantuanmu. Aku pulang dulu.”


“Sebentar.”


Pergerakan Tamar yang hendak pergi tertahan ketika Stella menarik lengan jaketnya. Tamar melihat pada Stella yang tengah melihat ke arahnya juga.


“Ada apa?”


“Aku… laper, hehehe… bisa beliin aku makanan ngga? Mami sama papi lagi pulang dulu ke rumah.”


“Kamu mau makan apa?”


“Aku mau makanan Korea. Beliin bimbimbap sama chicken buldak. Sama minuman dinginnya jangan lupa.”


Tamar hanya melongo mendengar permintaan gadis itu. Apalagi dia tidak tahu bentuk makanan yang disebutkan oleh Stella. Melihat Tamar yang hanya bengong saja, Stella menggerak-gerakkan tangannya ke depan wajah Tamar.


“Hei.. malah bengong.”


“Aku harus beli makanan itu di mana?”


“Di warteg.”


“Hah??”


“Ya di rumah makan Korea lah. Oh ya, abang beli di sini, di tempat langgananku.”


Stella mengambil ponselnya kemudian mengirimkan lokasi tempat warung tenda yang menjual makanan Korea yang sering dikunjunginya. Tamar mengambil ponselnya ketika ada pesan masuk. Lokasi yang ditunjukkan Stella, ternyata tidak jauh dari rumah sakit.


“Ya sudah, aku pergi dulu.”


Senyum terbit di wajah Stella. Baru saja membayangkan Tamar membawakan makanan pesanannya, dia sudah menelan ludah. Sambil menunggu Tamar, Stella membaringkan kembali tubuhnya, kemudian menghidupkan layar datar di depannya. Gadis itu menonton drama Korea yang sedang on going.


Setengah jam kemudian, Tamar datang dengan membawa pesanan. Dengan senang dia menyambut kedatangan polisi ganteng tersebut. Tamar menarik meja yang ada di sisi bed, kemudian menaruh makanan di atasnya. Stella membuka kotak pembungkus bibimbap dan juga chicken buldak.


“Abang udah pernah makan ini belum?”


“Belum. Lihat bentuknya juga baru sekarang.”

__ADS_1


“Enak tau.”


Stella mengambil satu bimbimbap dengan sumpit kemudian menyuapkannya ke dalam mulut, kemudian mengambil ayam, melilitnya dengan keju mozzarella dan memakannya. Gadis itu mengambil satu bimbimbap lagi, tapi sekarang dia memberikannya pada Tamar. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya, tapi Stella memaksa. Akhirnya, mau tak mau Tamar membuka mulutnya. Ketika dia masih mengunyah bimbimbap, Stella kembali menyuapkan chicken buldak padanya.


“Enak kan?”


Tamar hanya menganggukkan kepalanya. Entah memang rasa makanan ini memang enak dan cocok di lidahnya, atau hanya karena dia merasa lapar. Sejak siang, pria itu memang belum makan apa-apa lagi. Dia sibuk mencari Stella dan menginterogasi Wintang. Stella terus menghabiskan makanannya. Bergantian dia menyuapi Tamar dan dirinya.


Diam-diam Tamar memperhatikan Stella yang tengah meminum minuman dingin yang dibelinya. Baru sekarang dia benar-benar memperhatikan wajah Stella. Ternyata gadis itu memang cantik. Kelakuan aneh gadis itu membuatnya tidak menyadari kecantikan yang dimilikinya.


“Abang jangan lihatin aku terus, nanti naksir loh,” ceplos Stella yang sadar tengah diperhatikan Tamar.


Uhuk… uhuk..


Sebuah minuman langsung diberikan oleh Stella. Dengan cepat Tamar menyambar minuman tersebut lalu meneguknya sampai habis. Stella hanya tersenyum saja melihat pria di depannya yang nampak salah tingkah.


“Abang tuh ganteng, tapi kerjanya marah-marah mulu. Jangan keseringan marah, bang, nanti cepat tua loh.”


“Kamu juga jangan berteman terus sama si Susi.. Susi itu, bahaya.”


“Suzy ish.. bukan Susi.”


“Sama aja, beda S sama Z doang.”


“Ya beda, kalo Susi tuh pemain badminton. Kalo Suzy artis Korea.”


Tamar hanya memutar bola matanya saja mendengar penjelasan aneh Stella. Gadis itu hanya bisa bertahan sebentar saja dengan sikap manisnya. Selebihnya kembali membuat kepalanya pusing.


“Eh ngomong-ngomong tuh jin kemana ya?”


“Kenapa Stel? Kangen ya?”


Tiba-tiba saja Suzy sudah berdiri di sampingnya yang tentu saja membuat gadis tersebut terkejut.


“Astaghfirullah.”


Refleks Stella memegang tangan Tamar, dan sosok Suzy pun menghilang. Mata Stella memandang berkeliling, mencari keberadaan makhluk tersebut. Tamar memandangi tangannya yang dipegang oleh Stella.


“Lamaan dikit pegangnya, kena cash ya,” ujar Tamar.


Sadar kalau sedang memegang tangan Tamar, Stella pun melepaskan pegangannya. Dia kembali mencari sosok keberadaan Suzy yang menghilang. Lalu Stella melihat pada Tamar, ternyata pria itu memang masuk dalam golongan satpamnya. Bersentuhan dengan Tamar bisa membuat para makhluk halus menghilang.


“Kenapa kamu lihatinnya kaya gitu?” tanya Tamar curiga.


“Abang ternyata bisa jadi satpam juga.”


“Satpam apa?”


“Emang ada yang kaya gitu?”


“Ada. Kalau di keluargaku ada Dipa, adikku, ada Arya. Kalo Zar ngga masuk itungan, kerjaannya tebar pesona mulu, jadi makhluk halus juga demen ama dia.”


Tamar terkekeh mendengar ucapan Stella. Tingkah Zar memang pecicilan dan senang tebar pesona. Dia sering berdebat dengannya, karena Zar terkadang susah untuk diajak serius.


“Nah kalau orang luar, ada abang, dokter Daffa sama temen abang yang tadi si es kering.”


“Es kering?”


“Iya, suaminya Arsy.”


“Hahahaha…”


Senang sekali perasaan Tamar mendengar julukan Stella untuk Irzal. Besok jika bertemu dengan sahabatnya itu, dia akan menggunakan julukan Stella untuk mengejeknya.


“Abang temenin aku dulu ya di sini sebelum mami sama papi dateng. Aku takut didatengin lagi sama suster jadi-jadian.”


“Kamu kan udah berteman sama Suzy, kenapa masih takut?”


“Ya tetap takut, bang. Kalo Suzy kan baik, ngga jahat sama aku. Kalau yang lain belum tentu.”


“Tapi dia sering menjerumuskan kamu melakukan hal berbahaya.”


Stella tak mempedulikan apa kata Tamar, yang penting pria itu tetap menemaninya sampai kedua orang tuanya tiba. Lagi pula yang dibicarakan Tamar adalah Suzy, bukan dirinya. Suzy juga bukan tipe jin baperan, jadi tidak akan marah jika mendengarnya.


🍁🍁🍁


Cakra dengan serius mendengarkan penjelasan Duta tentang Bertrand. Kepala tim keamanan keluarga Hikmat itu tengah melaporkan hasil penyelidikannya tentang Bertrand. Dia sengaja datang ke kediaman Cakra dan menjelaskan secara langsung. Anya dan Irvin juga ikut mendengarkan apa yang dikatakan pria itu.


“Apa ada pergerakan dari Reksa?” tanya Cakra.


“Sejauh ini belum, pak. Tapi kami terus memantaunya.”


“Terus pantau pria itu. Dia mungkin tidak akan melakukannya secara ternag-terangan. Pria itu punya cukup pengaruh di kepolisian dan kejaksaan.”


“Baik, pak. Lalu bagaimana dengan Bertrand? Apa langsung kita serahkan saja pada yang berwajib?”


Masih belum ada jawaban dari Cakra. Pria itu melihat pada menantunya, Irvin. Dia membiarkan Irvin yang mengambil keputusan tentang Bertrand. Mengingat kemarahan sang menantu, dia yakin Irvin tidak akan melepaskan Bertrand dengan mudah.


“Bagaimana, Vin? Apa yang mau kamu lakukan?” tanya Cakra.

__ADS_1


“Jadikan dia samsak hidup lalu masukkan ke dalam lemari pendingin. Biar dia merasakan apa yang anak-anak malang itu rasakan. Bisa kamu melakukannya selama tiga hari berturut-turut?”


“Bisa, pak.”


“Kalau begitu lakukan. Setelah itu serahkan dirinya ke polisi. Jangan lupa kumpulkan bukti lebih banyak agar dia tidak bisa meloloskan diri dari jeratan hukum.”


“Baik, pak.”


Duta segera berpamitan setelah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kini hanya tinggal Cakra, Sekar, Anya dan Irvin saja. Pada kesempatan kali ini, Irvin ingin membicarakan tentang rencananya menikahkan Stella. Dia tidak ingin mengambil resiko keselamatan anaknya terancam lagi.


“Pi.. aku berencana untuk menikahkan Stella dalam waktu dekat. Papi tahu sendiri bagaimana Stella. Kejadian hari ini pasti tidak akan membuatnya kapok. Apalagi dia bisa berinteraksi dengan makhluk astral.”


“Papi setuju. Tapi.. kira-kira siapa yang akan dijodohkan sama anak itu?”


Semua terdiam mendengar pertanyaan Cakra. Tingkah Stella memang ajaib, beberapa pria yang coba mendekatinya sering mental melihat tingkahnya yang aneh. Cakra dan Sekar coba mengingat siapa saja temannya yang mempunyai cucu yang pantas dijodohkan dengan cucunya.


“Kalau Rendra, anaknya Jihan gimana?” tanya Sekar.


“Rendra kan dua tahun di bawah Stella. Mana mau si Stella, lagian Rendra juga udah punya pacar.”


“Anaknya Ikal gimana?” tanya Anya.


“Anaknya Ikal baru masuk kuliah, kamu lupa?” ujar Irvin.


“Oh iya,” Anya menepuk keningnya.


Suasana kembali hening. Mencari jodoh untuk Stella sama seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Bukan karena gadis itu tidak cantik, tapi tingkah ajaib dan kemampuan indigonya yang membuat mereka kesulitan. Apalalagi jodoh Stella harus memiliki aura kuat yang bisa menghalau makhluk halus.


“Gimana kalau polisi yang tadi selamatin Stella?” celetuk Sekar.


Semua pandangan tertuju pada wanita yang masih terlihat sisa-sisa kecantikan di wajahnya. Anya menganggukkan kepala tanda setuju, Irvin masih ragu. Berbeda dengan Cakra, pria itu justru berpikir bagaimana caranya agar Tamar mau dijodohkan dengan cucunya.


🍁🍁🍁


BUGH


BUGH


BUGH


Beberapa kali Bertrand terkena pukulan dari dua anak buah Duta. Mereka tengah menjalankan perintah atasannya, memberikan pelajaran pada Bertrand. Astrid yang berada di ruangan yang sama namun dalam kondisi tangan dan kaki terikat ke kursi, hanya bisa berteriak melihat suaminya mendapat pukulan bertubi.


“Hentikan!! Jangan siksa suamiku!!”


“Ampun.. ampun..” ujar Bertrand.


Salah seorang yang memukulinya berjongkok di dekat Bertrand. Dia menarik kerah kemeja yang dikenakan pria itu. Warna kemejanya yang semula biru terang, sudah terdapat bercak darah di sana.


“Apa anak-anak yang kamu siksa mengatakan ampun juga saat kamu menyiksanya?”


“Ampun.. ampuni saya.”


“Ya teruslah mengatakan itu, supaya kamu bisa merasakan sakit yang dirasakan oleh mereka. Topan, bawa dia ke freezer!”


Topan menarik tubuh Bertrand, dia bersama dengan rekannya membawa Bertrand menuju sebuah freezer es krim yang berukuran besar. Tangannya membuka penutup freezer, kemudian memasukkan pria itu. Topan segera menutup freezer dan menguncinya dari luar. Beberapa kali Bertrand menggedor dari dalam.


“Biarkan dia di sana selama setengah jam. Setelah itu keluarkan, obati lukanya dan hangatkan tubuhnya. Biarkan dia beristirahat, lalu besok lakukan lagi hal yang sama padanya.”


Topan dan yang lainnya hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar perintah Duta. Pria itu kemudian mendekati Astrid. Dia melepaskan ikatan di tubuh Astrid. Wanita itu hendak melayangkan tamparan ke wajah Duta, tapi segera ditahannya. Dengan gerakan kasar, Duta membawa Astrid ke dalam ruangan lalu memasukkannya ke sana.


“BUKA!! BUKA!!”


Astrid berteriak seraya menggedor pintu. Tapi itu semua hanya dianggap angin lalu saja oleh Duta. Pria itu segera pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tubuh Astrid merosot jatuh ke bawah, wanita itu hanya bisa menangis, meratapi nasibnya kini.


🍁🍁🍁


Ketegangan di markas tim keamanan keluarga Hikmat, kebingungan di kediaman Cakra tidak dirasakan di kediaman Elang. Suasana berbeda justru dirasakan di sana, tepatnya di lantai tiga, tempat di mana pasangan pengantin baru tinggal. Di dalam kamar, Irzal dan Arzy asik berduaan di atas tempat tidur.


Arsy membaringkan tubuhnya di kasur dengan kepala beralaskan dada Irzal. Jemari tangan Arsy bermain di dada suaminya. Irzal menangkap tangan sang istri lalu menciuminya. Arsy mendongakkan kepala, melihat pada suaminya.


“Mas.. aku ngebayangin kalau jadi Stella seperti apa. Kekunci di lemari pendingin, tanpa tahu apa ada yang bakal nolong atau ngga.”


“Jangan membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Aku ngga akan membiarkanmu mengalami kejadian seperti Stella.”


Irzal menarik dagu istrinya kemudian mencium bibir istrinya dengan lembut. Arsy menaikkan posisinya hingga kini setengah tubuhnya berada di atas sang suami. Matanya memandangi Irzal yang terus melihat padanya dengan tatapan penuh cinta. Arsy mendekatkan wajahnya, kemudian mencium kembali bibir suaminya. Kali ini ciuman keduanya berlangsung cukup lama, bahkan mereka sudah saling berbagi saliva.


Kedua tangan Irzal memeluk punggung istrinya, kemudian membalik posisi mereka. Kini dirinya yang berada di atas Arsy. Bibirnya mulai menyusuri leher jenjang wanita di bawahnya. Dia tak berhenti sampai Arsy mengeluarkan des*han manjanya. Perlahan tangannya membuka kancing piyama sang istri.


Tangan Arsy meremat erat rambut Irzal, saat pria itu menyesap dadanya dengan cukup kencang hingga meninggalkan bercak kemerahan. Tubuh wanita itu sudah tak enak diam, merasakan sentuhan sang suami yang selalu membuatnya candu.


“Berapa ronde, sayang?” tanya Irzal sambil tersenyum.


“Satu aja. Besok kan aku kerja.”


“Satu malam, dan satu sebelum shubuh.”


Irzal langsung menciumi wajah, leher dan dada Arsy dengan gerakan cepat dan bertubi-tubi, hingga wanita itu kegelian. Terdengar tawa Arsy memenuhi ruangan. Sang suami terus melakukan hal yang membuatnya geli tapi juga nikmat.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Geli² nikmat kaya gimana, Sy? Emak kan masih volos😂


Kira² Tamar bakal shock ngga dijodohin ama Stella**?


__ADS_2