
Kabar kehamilan Dayana sudah terdengar ke seluruh keluarga. Kevin tentu saja senang karena dirinya akan segera menjadi uyut. Dia pun menggelar syukuran di kediamannya. Bersama keempat sahabatnya, dia merancang acara tersebut. Nantinya dia juga akan mengundang orang tua dan mantan mertua Rafa.
Acara syukuran dilakukan pada hari Minggu, itu agar semua keluarga bisa berkumpul. Khusus untuk Arsy, Kevin mengundangnya melalui Irzal. Pria itu khawatir kalau Arsy masih bersedih atas kehilangan anaknya. Irzal berjanji akan datang bersama dengan Arsy ke acara tersebut.
Seperti biasa jika ada acara keluarga seperti ini, maka anak dan cucu yang memiliki kemampuan mengolah makanan akan berada di dapur. Freya, Zahra, Nara yang menjadi penanggung jawab di dapur. Mereka tak mengijinkan Nina, Adinda dan Nadia berada di dapur karena faktor usia. Selain ketiga wanita itu, mereka dibantu oleh Vanila dan Geya. Bahkan Yumna, kakak Irzal beserta Shaina juga menawarkan bantuan. Pasukan di dapur semakin lengkap.
Stella dengan santai berjalan menuju dapur. Dia sudah mendaftarkan diri sebagai pencicip hidangan. Tentu saja semua kru kitchen tidak ada yang bisa menolak. Kalau pun menolak, anak dari Anya itu akan tetap memaksa. Satu per satu Stella membuka tutup wadah yang berisi makanan yang sudah matang lalu mencicipinya.
“Wah mommy, ini asinan Bogornya juara, enak banget. Mantul..”
“Apa sih yang ngga enak buat kamu, Stel.. Tikus bakar juga pasti kamu bilang enak,” seru Freya.
Geya tertawa paling keras mendengar ledekan Freya untuk keponakannya itu. Namun bukan Stella namanya jika langsung berputus asa dan menghentikan kegiatannya mencicipi makanan. Dia kembali membuka wadah lain lalu mencicipinya.
“Ehmm.. bistik sapinya mantul. Kentangnya juga matang sempurna,” Stella sudah seperti juri master chef saja. Dia kembali mencicipi makanan lainnya.
“Sapo tahunya oke. Siapa yang buat?”
“Aku, chef,” jawab Yumna seraya mengangkat tangannya.
“Ok kak Yumna, the best,” Stella mengangkat kedua jempolnya. Vanila hanya memutar bola matanya saja melihat tingkah sepupunya.
Tanpa merasa lelah apalagi malu, Stella terus berkeliling mencicipi makanan yang sudah jadi. Kini dia sudah berada di depan wadah yang berisi salad buah. Vanila langsung berdiri di dekat makanan yang dibuatnya. Stella mengambil piring kecil lalu mengisinya dengan salad buah, tak lupa dia menambahkan parutan keju di atasnya.
“Ila.. beneran salad buahnya mantul,” puji Stella.
“Ya mantullah, orang tinggal makan doang.”
“Mencicipi juga butuh perjuangan. Kita harus jujur dengan rasa makanan yang kita coba.”
“Heleh apa sih yang ngga enak di lidah elo.”
“Hahaha…”
Tanpa rasa berdosa sama sekali Stella hanya tertawa saja. Setelah puas mencicipi, wanita itu keluar dari dapur. Namun dia segera masuk ke dalam dapur lagi begitu melihat Rakan datang bersama dengan Daffa. Stella segera menghampiri Vanila.
“Ila.. yayang lo udah dateng,” ujar Stella.
“Masa?” mata Vanila nampak berbinar.
“Lo udah dilamar belum?”
“Belum,” wajah Vanila nampak cemberut.
“Lah katanya waktu Aya nikah, dia mau lamar elo secepatnya.”
“Kan gue tolak. Gue bilang jangan cepat-cepat lamar, kasih waktu gue buat mikir. Eh sampe sekarang bang Rakan ngga lamar-lamar gue.”
“Sokooorr.. makanya jangan kebanyakan gengsi. Makan tuh gengsi.”
Geya yang mendengar percakapan mereka, segera mendekat. Mendengar Rakan sudah datang, dia yakin kalau Daffa juga sudah datang. Gadis itu mencolek bahu Stella, hingga saudara sepupunya itu melihat padanya.
“Apa?”
“Calonku udah datang belum, kak?”
“Calon lo siapa?” kening Stella berkerut.
“Ya dokter Daffa. Kan bentar lagi gue jadi calon adik ipar bang Rakan.”
Yumna dan Shaina yang mendengarnya otomatis langsung menolehkan kepalanya pada Geya. Zahra menepuk keningnya melihat kelakuan anaknya. Freya yang juga ikut mendengar, karena penasaran menghampiri anak kedua dari Kenan yang kelakuannya persis seperti sang adik saat muda.
“Ge.. kata siapa Daffa calonnya kamu?”
“Kata aku. Emangnya mama ngga dengar tadi?”
“Maksud mama, emangnya Daffanya udah mau?”
“Bang Daffa mau atau ngga, ya harus mau. Lagian kakek Abi mau bantuin aku sama bang Daffa. Aku yakin sekarang kakek lagi ngerancang jebakan buat aku sama bang Daffa,” ujar Geya dengan sangat percaya diri.
“Ada ya, yang dijebak udah tau duluan mau dijebak terus girang,” timpal Stella sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ge.. ke kamar mandi sana,” seru Vanila.
“Ngapain?”
“Cuci muka, kalau perlu mandi terus keramas. Biar lo bangun, ngga mimpi mulu.”
“Hahahaha..”
Geya hanya memajukan bibirnya. Gadis itu segera meninggalkan area dapur karena tugas memasaknya sudah selesai. Dia mencari-cari keberadaan Abi. Wajahnya tersenyum senang ketika melihat kakeknya sedang berkumpul dengan para sahabatnya, ditambah Rena, Dimas dan Dharmawan. Dengan cepat Geya menghampiri para sesepuh.
“Kakek,” panggil Geya seraya mendekati Abi. Pria itu hanya berdehem melihat kedatangan Geya. Pasti ada yang diinginkan anak itu.
“Kakek, kapan mau pasang jebakan buat aku sama bang Daffa?”
Perkataan Geya tentu saja langsung menarik perhatian semua yang ada di sana. Dharmawan yang paling terkejut mendengarnya, karena baik Kenan maupun Zahra tidak mengatakan apapun padanya.
“Jebakan apa? Daffa siapa?” tanya Dharmawan bingung.
Bukan hanya Dharmawan, Rena dan Dimas juga dibuat terkejut. Pasalnya mereka belum pernah mendengar dari mulut Daffa kalau pria itu sedang menjalin hubungan dengan Geya. Bahkan tak ada pembicaraan dari Abi dan yang lainnya. Keduanya menatap Geya dengan mata tak berkedip.
“Memang kalian ada hubungan?” tanya Rena.
“Aku kan calonnya bang Daffa, nek,” jawab Geya penuh kepercayaan diri.
“Kok Daffa ngga bilang-bilang,” seru Dimas.
“Ge.. coba kamu periksa ke dapur, makanan sudah siap belum?”
__ADS_1
“Udah siap, kek.”
“Kalau gitu kamu bantuin mama kamu siapin makanan. Sana..”
Abi mendorong Geya menjauh dari mereka. Sambil memasang wajah cemberut gadis itu meninggalkan para sesepuh. Kini hanya tinggal Abi yang mendapat tatapan dari semua yang ada di sana.
“Bi.. kamu kok ngga bilang kalau Geya sama Daffa,” ujar Dharmawan.
“Ya gimana aku mau bilang, kalau itu idenya sendiri. Daffa juga belum ngomong apa-apa. Ampun itu anak narsis dan PD-nya nurun dari siapa sih,” Abi menepuk keningnya.
“Ya nurun dari kamulah, hahaha..” Juna tak bisa menahan tawanya.
“Terus kamu udah ada rencana apa buat jodohin mereka?” tanya Jojo penasaran.
“Ngga punya, nge-blank otakku. Kalian kan tahu sendiri, Daffa itu antek-antek kita. Dia pasti udah hafal semua trik yang mau kita pakai. Dan yang paling penting, tuh anak mau ngga sama Geya.”
“Ren.. Daffa ada ngomong apa sama kamu?” tanya Cakra.
“Ngga ada. Setahuku yang naksir tuh anak banyak, cuma dia emang belum mau serius sama siapa pun. Dia lagi konsen beresin residennya dulu.”
“Nah itu juga yang aku tahu.”
“Terus gimana itu si Geya?” tanya Juna.
“Biarin ajalah. Dia kan keturunan Nan, biar usaha sendiri aja, hahaha..” seru Abi.
Perkataa Abi tentu saja mengundang gelak tawa yang lain. Geya yang tengah membawa makanan ke ruang tengah langsung menolehkan kepalanya ke arah para sesepuh. Dia curiga, mereka tengah membicarakan dirinya.
Di tempat lain, para pria juga tengah berkumpul sambil berbincang. Zar, Rakan, Daffa, Aqeel, Sam, Arya, Tamar, Aidan dan yang pasti Rafa. Mereka turut bahagia, akhirnya kebahagiaan kembali lagi ke keluarga ini. Setelah beberapa saat lalu tertimpa duka karena kehilangan calon anak Arsy.
“Gue bilang juga apa, pasti pak dokter duluan yang launching cebongnya,” seru Zar.
“Udah kelihatan kali dari pengalamannya. Dokter Rafa udah ngga perlu diragukan lagi, sekali tembak juga kayanya langsung jadi. Ngga kaya yang onoh, latihan terus, masuk ke sarangnya ngga, hahaha…”
Perkataan Aqeel langsung disambut gelak tawa lainnya. Sejak menikah, mulut Aqeel jadi aktif berbicara. Bisa jadi pria itu tertular otak geser Zar. Rafa hanya mengulum senyum saja mendengar ucapan rekan kerjanya. Berbeda dengan Tamar yang tampak misah misuh.
“Sebagai sahabat, gue cuma bisa doain. Semoga aja cebong lo cepat berbuah dan beranak pinak,” Adian menepuk pundak Tamar.
“Coba periksa ke dokter, bang. Siapa tahu cebongnya lagi demo, hahaha..” Daffa tertawa puas sambil memegangi perutnya.
“Gimana cebongnya mau beranak pinak, pas masuk langsung diusir sama wadahnya, ppsssttt.. ppsssttt.. ya kabur lagi cebongnya.”
“Hahahaha…”
Dengan kesal Tamar menepak kepala Zar yang selalu tanpa saringan jika berbicara. Tapi pria itu malah makin terpingkal saja. Rakan memijat pundak Tamar, mencoba memberikan dukungan pada pria itu.
“Sabar, Tam. Nanti juga Stella isi,” ujar Rakan.
“Isi apa, bang?” tanya Daffa.
“Risoles, kroket kentang, lemper, bolu kukus hahaha.. kan Stella jago makan.”
Habis sudah Tamar dijadikan bahan bully-an para sahabatnya. Kalau ada lubang di sana, ingin rasanya Tamar langsung mencemplungkan dirinya di sana. Sementara itu sang istri sedang asik menikmati camilan di halaman belakang bersama dengan sepupunya yang lain. Tanpa tahu kalau sang suami tengah merasakan penderitaan dari mulut para sahabatnya.
“Ngga, tau. Tapi pasti ke sini, masa ngga.”
Baru saja Daffa selesai bicara, sebuah mobil berhenti di depan kediaman Kevin. Dari dalamnya keluar Irzal bersama dengan Arsy. Sambil memeluk pinggang istrinya, pria itu memasuki kediaman Kevin. Kedatangan keduanya langsung disambut oleh para sahabatnya. Zar berdiri kemudian memeluk adik kembarnya.
“Kamu datang juga, Sy,” ujar Zar.
“Harus, bang. Kan ini kabar bahagia buat Aya.”
“Sabar ya,” Zar menepuk punggung sang adik.
Hanya anggukan saja yang diberikan Arsy. Sejak Irzal mengabarkan soal kehamilan Dayana, dia sudah menyiapkan hati untuk datang dan memberikan selamat pada sepupunya itu. Arsy langsung masuk dan mencari keberadaan Dayana. Sementara Irzal berdiam sebentar dengan para sahabatnya. Dia hendak memberikan ucapan selamat pada Rafa.
“Bang.. selamat ya. Semoga ibu dan calonnya sehat-sehat terus.”
“Aamiin.. makasih, Zal.”
“Gue ke dalem dulu ya. Mau nemenin Arsy.”
Semua hanya menganggukkan kepalanya saja. Mereka tahu walau tak menampakkan, namun jauh di dalam hatinya pasti Arsy merasakan kesedihan. Irzal terus berjalan menuju halaman belakang. Istrinya itu tengah menemui Dayana.
“Arsy..” Dayana menyambut kedatangan Arsy dan langsung memeluknya.
“Selamat ya, Ay.”
“Makasih, dan maaf.”
“Maaf untuk apa?”
“Ngga seharusnya aku ngerayain hari bahagia ini di saat lo masih sedih.”
“Gue baik-baik aja. Ada mas Bibie yang selalu mendampingi. Ada bunda dan ayah yang selalu menguatkan. Papa, mama, bang Zar dan Azzam. Jaga baik-baik kandungan lo, ya. Jangan terlalu cape apalagi di trimester pertama.”
“Makasih, Sy,” Dayana kembali memeluk sepupunya. Bertepatan dengan itu, Irzal datang.
“Selamat ya, Ay.”
“Makasih, bang.”
“Bang..”
Sebuah tepukan mendarat di pundak Irzal. Geya sang pelaku langsung mendekati suami dari sepupunya ini. Dia tahu kalau Irzal sangat dekat dengan Daffa. Gadis itu ingin mencari tahu lebih banyak tentang Daffa dari Irzal.
“Bang.. sekarang bang Daffa lagi dekat sama siapa?” tanya Geya tanpa basa-basi.
“Katanya elo calonnya, kenapa lo masih nanya Daffa dekat sama siapa? Calon palsu ya lo,” sambar Vanila.
__ADS_1
“Calon Daffa versi dirinya sendiri alias halu, hahaha..” sambung Stella.
Irzal cukup dibuat bingung mendengar pertanyaan Geya dan celetukan dari yang lain. Setahunya Daffa tidak pernah berhubungan dengan perempuan mana pun, termasuk Geya.
“Kamu naksir Daffa, ya?” tanya Arsy.
“Banget, Sy. Bukan naksir lagi, bucin parah. Kemarin dia semangat nganter aku periksa ke rumah sakit, taunya pengen ketemu sama Daffa,” terang Dayana.
“Wah kamu harus siap mental, Ge. Fans-nya Daffa banyak banget di rumah sakit. Dari mulai dokter, suster sampai pasien.”
“Serius, kak?”
“Iya. Hampir tiap hari dia dapet coklat, minuman, makanan dari para fans-nya.”
“Huaaaa… aku harus cepat-cepat maksa kakek buat jebak aku sama bang Daffa.”
“Kuliah aja yang bener,” Stella menoyor kepala Geya.
“Tau.. kuliah yang bener, katrol tuh IPK jangan sampe nasakom, hahaha..” timpal Vanila.
“Siapa yang nasakom?” tanya Irzal.
“Nih si jaran kepang, hahaha…” ujar Dayana.
“Enak aja, IPK ku 2,85.”
“Jiaaahh IPK segitu aja bangga. Kaga nyampe 3 juga, hahaha..” timpal Stella.
Sebisa mungkin Irzal menahan tawanya mendengar ucapan Stella dan Dayana. Wajah Geya sudah seperti kertas lipat, dan auranya kecut seperti jeruk lemon yang belum masak. Arsy merangkul bahu adik sepupunya ini. Biarpun secara akademik, Geya di bawah dirinya dan saudara sepupu yang lain, namun tingkat kepercayaan dirinya yang paling pol. Geya juga sosok yang superl, ceria dan tidak mudah terintimidasi. Selain itu, dia juga pintar masak.
“Kamu salah ambil jurusan kuliah kayanya, Ge. Harusnya kamu ambil tata boga kaya Ila,” ujar Dayana.
“Nasi udah jadi bubur, jalani aja yang sekarang. Kamu bentar lagi magang kan? Kamu mau magang di mana? Bang.. di Infinity ada lowongan buat anak magang ngga?” tanya Dayana.
“Oh jangan di sana. Nanti si Geya sawan. CEO nya sadis,” sahut Arsy.
Sontak semuanya langsung melihat pada Irzal. Namun seperti biasanya, pria itu nampak tidak peduli. Irzal merengkuh pinggang Arsy, kemudian membawanya pergi dari halaman belakang.
“Aah.. lihat mereka, kok aku jadi kangen sama paksu. Suamiku… di mana dirimu,” Stella langsung menyusul Arsy mencari keberadaan Tamar.
“Ah.. anakku juga kangen sama papanya nih,” Dayana ikut menyusul.
Kini hanya tinggal Vanila dan Geya saja. Keduanya duduk termenung di halaman belakang memikirkan nasib percintaan mereka. Vanila yang galau karena Rakan belum juga melamarnya, dan Geya yang berpikir keras bagaimana membujuk sang kakek agar secepatnya menjebak dirinya dengan Daffa.
Setelah semua makanan tersaji, Kevin mempersilahkan semua yang datang untuk menikmati hidangan yang tersedia. Elang dan Reyhan yang baru datang juga diminta langsung bergabung dengan yang lainnya. Sebelum acara makan dimulai, tak lupa mereka memanjatkan doa agar Dayana diberi kesehatan bersama dengan calon bayinya.
Selama acara berlangsung, Irzal terus mendampingi Arsy. Dia tahu kalau Arsy masih merasakan kesedihan setelah kehilangan calon buah hatinya. Terbukti sampai sekarang wanita itu masih belum mau kembali ke rumah sakit. Terkadang dia menangkap sang istri duduk melamun di balkon.
Daffa menarik tangan Irzal sedikit menjauh dari Arsy. Dia ingin membicarakan sesuatu dengan sepupunya itu. Pria itu mengajak Irzal ke dekat dapur. Di sana juga ada Rakan dan Zar.
“Bang.. kira-kira Arsy kapan balik ke rumah sakit?”
“Belum tahu, emangnya kenapa?”
“Ngga apa-apa sih. Cuma sayang aja kalau Arsy ngga nerusin magangnya. Tinggal lima bulan lagi.”
“Kasih dia waktu sebentar lagi. Aku yakin bentar lagi dia bakalan balik ke rumah sakit. Menjadi dokter itu passionnya. Cuma saat ini dia masih membutuhkan waktu untuk menyembuhkan lukanya.”
“Iya, bang.”
“Abang kapan ngelamar Ila?” Irzal melihat pada Rakan.
“Ck.. dianya masih butuh waktu katanya. Santai ajalah.”
“Terus lo kapan ngelamar Rena?” kali ini Irzal melihat pada Zar.
“Nanti kalau si Richie udah ketangkep.”
“Belum ketahuan dia di mana?”
“Udah sih. Cuma tuh si kutu kupret dalam perlindungan gank margarita. Salah langkah bisa kacau semuanya.”
Irzal hanya menganggukkan kepalanya saja. Setelah tak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan Daffa, pria itu kembali ke tempat semula. Dia duduk di samping Arsy yang sedang makan.
“Mas makan,” ajak Arsy.
“Suapin.”
“Ish.. di sini?”
“Iya.”
“Dasar manja.”
Tak ayal senyum Arsy terbit mendengar permintaan suaminya. Tangannya bergerak menyuapi Irzal. Kenzie hanya tersenyum melihat anaknya yang terlihat bahagia bersama suaminya.
“Ay.. ayo makan dulu. Kamu mau apa?” tanya Freya.
“Ngga ah, ma. Aku maunya makan pake telor ceplok.”
“Ya ampun, Ay. Mama udah masak banyak, kamu malah pengen telor ceplok.”
“Aku pengen makan telor ceplok kaya yang Geya buatin kemarin.”
“Ya udah aku buatin,” Geya hendak bangun dari duduknya.
“Tapi mas Rafa yang buat.”
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Go buatin Rafa, permintaan ibu hamil tuh😂
Para tetua sukses dibuat shock ama Geya🤣**