Hate Is Love

Hate Is Love
Bimbang


__ADS_3

Perlahan Dayana membuka matanya. Wajah tampan suaminya yang pertama kali dilihatnya. Rafa nampak tertidur pulas sambil menghadap ke arahnya. Tangan pria itu melingkari pinggang Dayana. Wajah Dayana memerah saat mengingat kejadian semalam. Pria itu sudah berhasil merubah statusnya dari gadis menjadi wanita dengan cara yang sangat lembut.


Mengingat Rafa yang sudah berpengalaman, tentu saja pria itu sudah dikatakan lihai dalam urusan ranjang. Pria itu juga membimbingnya untuk melakukan hal-hal yang baru pertama dilakukannya. Perlahan tangannya terangkat kemudian mengusap rahang Rafa yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


Nampak kepala pria itu bergerak-gerak merasakan sentuhan yang mengganggu tidurnya. Dayana buru-buru menghentikan kegiatannya lalu memejamkan matanya lagi. Kelopak mata Rafa bergerak-gerak sebelum terbuka secara perlahan. Pandangan kaburnya pelan-pelan menjadi jelas dan wajah cantik Dayana yang pertama ditangkapnya.


Senyum mengembang di wajahnya melihat sang istri yang pura-pura tidur. Namun dia bisa melihat dengan jelas kelopak mata wanita dalam pelukannya bergerak-gerak. Mata Dayana langsung terbuka ketika merasakan kecupan di keningnya. Netra keduanya langsung beradu.


“Sudah bangun, sayang?”


Malu-malu Dayana menganggukkan kepalanya. Rafa meraba nakas di dekatnya kemudian mengambil ponsel dari atasnya. Waktu menunjukkan pukul setengah lima. Setelah meletakkan kembali ponselnya, dia melihat pada Dayana yang masih berada dalam pelukannya.


“Sudah shubuh. Sebaiknya kita mandi.”


“I.. iya, mas.”


“Mau mandi bersama?”


“Eh..”


Dayana tak mengatakan apapun atas tawaran Rafa, hanya saja wajahnya sudah seperti udang rebus. Rafa tertawa kecil melihat sikap malu-malu istrinya. Pria itu bangun dari tidurnya kemudian menggendong Dayana masuk ke kamar mandi. Dayana menutup matanya, terlalu malu melihat tubuh mereka yang masih polos.


Setelah melakukan ritual mandi wajib, keduanya segera menunaikan shalat shubuh secara berjamaah. Jantung Dayana berdebar kencang. Ini pertama kalinya dia diimami oleh seorang pria di luar keluarganya. Dan pria itu sekarang sudah sah menyandang status sebagai suaminya.


Terdengar suaranya mengamini doa-doa yang dipanjatkan oleh Rafa. Pria yang sudah membayar tunai dirinya di depan penghulu. Pria yang dicintainya sejak mereka pertama kali bertemu. Dayana tak pernah menyangka akhirnya Rafa akan jatuh ke dalam pelukannya. Sebelumnya dia merasa pesimis karena cinta Rafa yang begitu besar pada mendiang istrinya.


Rafa berbalik usai memanjatkan doanya. Dayana meraih tangan suaminya kemudian mencium punggung tangannya. Rafa membalasnya dengan ciuman di keningnya. Kemudian pria itu menarik Dayana ke dalam pelukannya. Udara dingin yang sempat menghinggap sedikit banyak berkurang karena pelukan mereka.


“Sayang.. apa kamu keberatan kalau aku ingin segera memiliki momongan?”


Terdengar suara Rafa membuka pembicaraan. Pria itu memang ingin mendiskusikan perihal momongan pada Dayana. Usianya yang sudah berkepala tiga, tentu saja membuatnya ingin segera memiliki keturunan. Tapi dia juga tidak bisa bersikap egois, mengingat sang istri masih berusia muda dan baru saja memulai kuliahnya meraih jenjang master.


“Kalau kamu keberatan, tidak apa kita menundanya sampai kamu siap.”


Rafa melanjutkan ucapannya karena Dayana tak kunjung menjawabnya. Wanita itu melepaskan diri dari pelukan Rafa lalu melihat wajah suaminya. Rafa cukup penasaran menunggu jawaban dari Dayana.


“Kenapa harus ditunda? Anak itu kan rejeki dari Allah. Aku siap kapan aja Allah memberikan rejeki itu untuk kita.”


“Kamu serius? Tapi kamu masih kuliah.”


“Ngga masalah, kan bisa cuti. Pokoknya aku ngga akan nunda kehamilan. Aku juga tahu pasti mas pengen cepat punya momongan kan?”


“Makasih ya, sayang.”


“Iya, mas.”


Dengan bahagia Rafa kembali memeluk istrinya seraya mendaratkan ciuman di puncak kepalanya beberapa kali. Senyum juga mengembang di wajah Dayana. Dia merasa begitu dicintai dan disayangi oleh suaminya.


🍁🍁🍁


Ponsel Dayana berdering, sebuah panggilan dari sang mama masuk. Wanita itu mengajak Dayana dan Rafa sarapan bersama. Setelah mengakhiri panggilannya, Dayana segera mengajak suaminya untuk menuju kolam renang. Mereka akan sarapan bersama dengan semua keluarga di sana.


Langkah Dayana tidak bisa secepat biasanya. Dia masih merasakan sakit di area bawahnya akibat suntikan sang suami. Selain itu, dia merasa ada yang mengganjal hingga pergerakannya dirasa kurang nyaman. Apalagi sehabis shubuh tadi Rafa mengajak sang istri kembali mendayungi nirwana. Tentu saja Dayana tidak bisa menolak. Selain itu adalah kewajiban, dia juga sangat menikmatinya.


Freya tersenyum melihat gaya berjalan sang anak yang terlihat sedikit aneh. Dia bisa menebak kalau menantunya sudah berhasil memberikan suntikan yang bisa membuatnya menjadi nenek dalam waktu dekat. Wanita itu segera berdiri dan menyambut sang anak.


“Sini, sayang.”


Dayana mendudukkan diri di kursi yang sudah disiapkan oleh Freya. Rafa duduk bersama dengan ayahnya, Ravin, Kevin dan juga Abi. Mereka segera memulai acara sarapan mereka. Mereka sarapan sambil membicarakan masalah ringan saja.


“Rafa.. opa harap kalian tidak menunda untuk memberikan opa, cicit,” ujar Kevin.

__ADS_1


“In Syaa Allah, opa.”


“Tenang aja, Vin. Pasti Rafa udah ngasih depe semalam sama habis shubuh, iya kan?” terka Abi yang sukses membuat wajah Rafa memerah.


Sebagai yang sudah berpengalaman, tentu saja dia tahu kenapa rambut cucu dan cucu menantunya masih basah. Ayah Rafa sampai terbatuk mendengar ucapan frontal Abi. Pria itu tak menyangka Abimanyu, mantan CEO Metro East bisa melontarkan perkataan seperti itu. Disangkanya Abi adalah pria yang serius.


“Harap dimaklum aja, besan saya ini mulutnya emang dol. Kalau ngomong juga ngga pake saringan” ujar Kevin.


“Harap maklum juga kalau opanya Aya tuh irit bicara. Karena kosa kata yang ada di kepalanya terbatas,” balas Abi.


“Hahaha..”


Ravin tak bisa menahan tawanya mendengar perdebatan Abi dan Kevin. Sejak dirinya masih muda, Abi dan Kevin memang tak pernah bosan untuk beradu argument walau dia tahu sang papa pasti akan kalah melawan mertuanya yang selalu saja memiliki jawaban untuk membalas lawan bicaranya.


Rafa juga tak bisa menahan tawanya. Sikap Abi dan Kevin yang terus berdebat terlihat seperti dua anak kecil yang tengah berebut mainan. Matanya kemudian melirik pada Dayana yang juga tengah asik berbincang bersama mamanya, Freya, Nina dan Rindu.


“Nanti kalian harus punya banyak anak ya, biar ramai. Nanti opa kasih tipsnya” Kevin mengedipkan sebelah matanya.


“Jangan percaya, Rafa. Dia itu cuma punya anak dua. Kalau mau belajar sama kakek, udah terbukti anak kakek lebih banyak dari dia,” ujar Abi tak mau kalah.


“Udah jangan ribut lagi. Di antara kalian tetap aja KiJo yang jadi juaranya, anaknya kan empat,” Ravin mencoba melerai perdebatan jilid dua.


“Jojo itu curang, sekali tembak cebongnya langsung jadi dua, makanya dia punya anak empat,” jawab Abi. Seperti biasanya dia tak mau kalah dalam berdebat.


“Hahaha..”


Suara tawa kembali terdengar. Ravin hanya menggelengkan kepalanya saja. Abi memang sulit ditaklukkan. Walau usianya sudah di atas tujuh puluh tahun, tapi otak liciknya terus saja bekerja untuk dapat mematahkan argumen lawan.


Dayana melihat pada Rafa yang juga tengah melihat padanya. Rafa melemparkan senyuman yang langsung dibalas oleh sang istri. Abi dan Kevin tanpa sengaja menangkap bahasa tubuh dari cucu dan cucu menantunya.


“Ayo Rafa cepat habiskan sarapanmu. Kamu kan harus mengisi tenaga untuk ronde ketiga,” celetuk Abi.


Sontak Rafa terbatuk mendengarnya. Wajahnya juga langsung memerah. Melihat Rafa yang terlihat malu atas kata-kata Abi, yang lain hanya bisa tertawa saja. Rafa benar-benar harus menguatkan hatinya mulai dari sekarang. Kini dia tahu dari mana Zar mendapatkan bakatnya mengeluarkan kata-kata yang kerap membuat orang memerah.


🍁🍁🍁


Vanila mondar-mandir di dalam kamarnya. Hatinya bingung mengingat apa yang dikatakan Rakan padanya pada resepsi pernikahan Dayana kemarin. Jujur saja dia masih belum yakin untuk menerima lamaran Rakan. Selain perkenalan mereka yang baru seumur jagung, dia juga takut hanya dijadikan pelampiasan saja mengingat sejarah pria itu yang sulit beranjak dari mantan tunangannya yang sudah meninggal.


Di luar dua hal tersebut, Vanila juga belum yakin akan perasaannya pada Rakan. Dia masih belum yakin apakah perasaannya pada Rakan karena dia mulai menyukai lelaki tersebut atau hanya sebatas nyaman dan menganggapnya sebagai kakak saja. Gadis itu mendudukkan diri di sisi ranjang. Terdengar helaan nafas beratnya. Dari pada berperang sendiri tanpa solusi, dia memilih menemui kedua orang tuanya.


Cukup lama Vanila berputar-putar mencari keberadaan orang tuanya. Akhirnya dia bisa menemukan keduanya tengah duduk bersantai di dekat kolam renang. Vanila langsung menghampiri kedua orang tuanya dan memposisikan diri di tengah-tengah mereka.


“Mama.. papa..”


“Kenapa?”


“Masa bang Rakan bilang mau ke sini bawa orang tuanya akhir pekan nanti.”


“Masa?” Alisa cukup terkejut mendengar penuturan Vanila. Sontak dia melihat pada Viren yang masih belum bereaksi apapun.


“Terus kamu jawab apa?” tanya Alisa.


“Aku belum jawab apa-apa. Orang dia pengumuman bukan ngasih pertanyaan.”


“Hahaha..”


Tawa Viren lepas mendengar ucapan anaknya. Bibir Vanila manyun melihat sang ayah malah menertawakannya. Alisa merangkul anaknya yang masih dalam mode bingung. Wajar saja di usianya yang baru menginjak 22 tahun jika masih labil.


“Terus apa yang bikin kamu bingung?”


“Ya bingung aja, ma. Kan bang Rakan ngajakin nikah bukan pacaran.”

__ADS_1


“Mama juga gitu dulu sama papa. Malah papa ngga ada acara lamaran, langsung bayar tunai di depan penghulu.”


Alisa mengulum senyumnya mengenang masa di mana Viren tiba-tiba datang untuk membayar tunai dirinya. Memberikan salipan tajam pada tiga calon pengantin yang sudah mengantri untuk menikah.


“Ya tapi kan mama dan udah saling kenal sebelumnya. Beda sama aku dan bang Rakan. Aku sama bang Rakan baru dekat akhir-akhir ini aja. Aku belum tahu sifatnya seperti apa. Bisa aja kan dia manis dan baik di depan, tapi di belakangnya galak dan suka ngatur.”


“Kamu tuh ada-ada aja. Mama percaya, keturunan keluarga Ramadhan ngga seperti itu. Coba kamu lihat Irzal, gimana sayangnya dia sama Arsy. Atau kamu lihat dokter Aqeel yang sayang banget sama istrinya. Daffa juga anak yang baik, itu hasil didikan orang tuanya. Mama percaya, Rakan juga sama.”


Tak ada jawaban dari Vanila, gadis itu masih berperang dengan pikirannya sendiri. Dia masih takut untuk mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Jika sudah menikah nanti, langkahnya tidak akan sebebas sekarang. Apalagi dia belum begitu mengenal pria yang akan menikahinya.


“Semua keputusan papa serahkan padamu. Kalau kamu memang belum siap, jangan dipaksakan. Sebaiknya kamu cepat-cepat bicara pada Rakan sebelum dia datang dengan kedua orang tuanya.”


Vanila hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar nasehat dari Viren. Gadis itu beranjaka dari tempatnya kemudian mendaratkan ciuman di kedua pipi orang tuanya. Dia harus segera menemui Rakan dan mencegahnya datang bersama kedua orang tuanya. Vanila masih membutuhkan waktu untuk memantapkan hatinya.


🍁🍁🍁


Rakan bangun dari duduknya begitu melihat gadis itu masuk ke ruangan kerjanya. Tepat di hari Senin, jam sepuluh pagi Vanila nekad menemui Rakan sebelum gadis itu menuju gedung Artha Boga, meneruskan latihannya bersama dengan Gibran. Wajah Rakan nampak sumringah menyambut kedatangan Vanila.


“Ada angin apa ini kamu datang pagi-pagi?”


Pria itu mempersilahkan Vanila duduk di sofa. Dia juga menyusul duduk di depan Vanila. Untuk beberapa saat gadis itu masih belum mengatakan apapun. Rakan masih sabar menunggu, padahal sebentar lagi dia harus menghadiri meeting penting.


“Ehmm.. abang. Soal rencana abang bawa orang tua abang ke rumahku bisa diundur ngga?”


“Kenapa? Apa orang tuamu sibuk?”


“Ngga, bukan gitu, bang. Tapi.. tapi akunya belum yakin aja.”


“Maksudnya?”


“Gini, bang. Jujur aku masih belum yakin soal perasaanku sama bang Rakan. Begitu juga abang aku minta yakinin dulu perasaannya ke aku. Apa benar abang suka sama aku atau cuma pelarian aja. Aku ngga mau kita salah mengambil keputusan karena terburu-buru.”


Tak ada jawaban dari Rakan, pria itu hanya menatap Vanila tanpa berkedip. Sepertinya dia memang terlalu cepat mengajak gadis di depannya untuk menikah. Melihat tak ada jawaban dari Rakan, Vanila jadi takut sudah menyinggung perasaan pria itu.


“Abang marah sama aku?”


“Ngga. Kenapa juga aku harus marah padamu.”


“Abang diam aja. Aku pikir abang marah.”


“Aku minta maaf ya, kalau sikapku yang terburu-buru membuatmu ngga nyaman. Baiklah aku setuju dengan yang kamu katakan. Kita jalani ini perlahan dan saling mengenal lebih dulu. Kalau kamu sudah siap tinggal bilang padaku atau kalau kamu ngga nyaman denganku juga katakan saja, aku akan berhenti.”


Vanila termenung mendengar jawaban Rakan. Kalimat terakhir yang dilontarkan pria itu membuatnya tak nyaman. Namun senyum Rakan sedikit membuat perasaan tak enaknya sedikit berkurang.


“Apa masih ada yang ingin kamu katakan?”


“Ngga ada, bang.”


“Ok.. maaf sebelumnya bukan maksudku mengusir. Tapi aku ada meeting penting sebentar lagi.”


“Ah.. ya.. aku pergi sekarang. Maaf udah ganggu waktu abang.”


Vanila bangun dari duduknya. Bertepatan dengan itu, Renata masuk ke dalam ruangan. Sekretaris Rakan tersebut mengatakan kalau meeting akan dimulai sebentar lagi. Rakan beranjak mengambil jasnya yang tergantung di kapstok. Bersama dengan Renata dan Vanila, pria itu meninggalkan ruang kerjanya.


Rakan dan Renata langsung menuju ruang meeting yang ada di lantai yang sama, sedang Vanila menuju lift. Mata Vanila terus memandangi Rakan yang memasuki ruang meeting. Dirinya juga segera masuk ke dalam lift. Walau hanya sesaat, dia tadi melihat raut kekecewaan di wajah Rakan dan itu membuatnya tak enak hati.


Gadis itu menghembuskan nafas panjang seraya menyandarkan punggung ke dinding lift. Hatinya bertanya-tanya apakah yang dilakukannya sudah benar? Tapi mengapa perasaannya jadi tak tenang setelah mengatakan itu semua.


🍁🍁🍁


Vanila galon nih..

__ADS_1


__ADS_2