
Setelah melakukan CT Scan dan ternyata hasilnya baik-baik saja, Adisty diperbolehkan untuk pulang. Aidan masih bertahan di rumah sakit. Dia sengaja menunggu hasil pemeriksaan Adisty selesai. Tekadnya untuk mendekati gadis yang ucapannya kadang membuat telinganya memerah sudah bulat. Dia ingin mengakhiri masa jomblonya bersama dengan Adisty.
Tanpa diminta Aidan langsung membereskan masalah administrasi. Selesai membayar semua biaya perawatan dan pemeriksaan, pria itu kembali ke IGD. Di sana Adisty masih berbincang dengan Arsy. Dengan cepat Aidan menghampiri.
“Soal administrasi udah kuurus. Kamu mau pulang sekarang?” tanya Aidan.
“Makasih ya, udah nolong aku sama bayarin biaya rumah sakit. Kasih tau aja berapa total biayanya, nanti aku ganti.”
“Ngga usah, santai aja.”
“Beneran? Makasih banyak loh, bang Ai eh Aid, eh Dan.. haiisshhh bingung aku mau manggil apa.”
“Ngga usah dipenggal kan bisa, langsung Aidan gitu.”
“Kalau dipenggal kan bisa ngirit waktu dan energi,” balas Adisty tak mau kalah.
“Terserah ajalah,” jawab Aidan pasrah.
“Sy.. gue balik, ya. Soal kecelakaan gue jangan dikasih tahu ke grandpa, bisa heboh nanti.”
“Iya, tenang aja.”
Adisty memandang ke tempat duduknya, lalu ke blankar yang tadi ditempatinya. Namun dia tidak bisa menemukan apa yang dicarinya. Aidan yang mengikuti gadis itu ikut celingukan mencari barang yang tidak diketahuinya.
“Nyari apaan?”
“Tasku.”
“Eh tas kamu di mobil. Aku ngga bawa.”
“Mobilku di mana?”
“Tadi kutinggal. Tapi udah diderek kok ke bengkel langgananku, tenang aja.”
“Anterin ke bengkel, aku mau ambil tas.”
“Ya udah, ayo.”
Adisty mengikuti langkah Aidan keluar dari IGD. Keduanya segera menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu masuk Instalasi Gawat Darurat tersebut. Aidan mengingatkan Adisty untuk mengenakan sabuk pengamannya sebelum pria itu menjalankan kendaraannya. Tak lama kemudian, kendaraan roda empat itu segera melucur pergi.
Sesampainya di bengkel langganan Aidan, Adisty segera menuju mobilnya. Dia terlihat lega melihat tasnya masih utuh berada di dalam mobilnya. Gadis itu segera memeriksa isinya. Ponsel dan dompetnya masih utuh. Tapi uang di dalam dompenya sudah raib. Rupanya ada tangan jahil yang begitu rajin membersihkan isi di dompetnya. Namun Adisty masih bersyukur karena KTP, ATM, SIM dan kartu kreditnya masih utuh.
“Ada yang hilang?”
“Cuma uang aja.”
“Wah masih aja ada orang yang memanfaatkan situasi pas lagi ada musibah,” kesal Aidan.
“Ngga apa-apa. Anggap aja sedekah.”
Adisty tak ingin memperpanjang. Sebenarnya dia bisa mengecek black box di kamera yang terpasang di mobilnya untuk mengecek siapa yang sudah mengambil uangnya. Namun gadis itu tidak mau repot melakukan itu. Dia masih bisa selamat dari kecelakaan itu saja sudah bersyukur.
“Ayo aku antar pulang sekarang.”
“Tapi aku laper. Traktir aku makan, dong.”
“Kamu mau makan apa?”
“Aku pengen makan mie ayam. Selama di London aku ngga nemu makanan itu.”
“Ya udah, ayo.”
Keduanya kembali ke dalam mobil. Aidan kembali memacu mobilnya. Otaknya berputar kemana harus membawa Adisty pergi untuk menikmati makanan yang diinginkannya. Lalu pria itu teringat pada temannya, Mustafa yang berjulanan mie ayam. Dia segera mengarahkan mobilnya menuju jalan Diponegoro.
Di depan kantor dinas pemerintahan, terdapat warung tenda yang menjual mie ayam. Nampak beberapa mobil sudah terparkir di dekat warung tenda tersebut. Kelezatan mie ayam Mustafa memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Setiap harinya warung tenda teman SMA-nya itu selalu dipenuhi pelanggan.
Aidan memarkirkan kendaraannya sedikit lebih jauh dari warung tenda. Dia menunggu Adisty turun, lalu segera mengajaknya menuju gerobak mie ayam. Mustafa yang sedang sibuk melayani pelanggan, dibantu oleh anak buahnya, langsung menyambut kedatangan temannya.
“Dan!” teriak Mustafa.
“Wil.. gue pesan dua, ya. Makan di sini.”
“Ok. Mie ayam original, bakso, ceker atau katsu?” tanya Mustafa menyebutkan semua varian mie ayamnya.
“Kamu mau mie ayam apa?”
“Bakso plus ceker.”
“Mie ayam bakso tambah ceker dua, Wil.”
“Oke.”
Mustafa mengangkat jempolnya. Aidan mengajak Adisty menuju meja plastik yang letaknya berada di dekat pohon besar. Di sini mereka bisa menikmati makanan dengan ditemani semilir angin. Apalagi meja tempat mereka duduk dilindungi oleh dedaunan rimbun dari pohon besar di dekat mereka.
“Akrab banget sama yang jual,” seru Adisty.
“Dia teman SMA-ku. Dia nerusin usaha warisan bapaknya. Sampai sekarang terus berkembang. Malah udah buka tiga cabang.”
“Wah hebat. Siapa nama temanmu?”
__ADS_1
“Mustafa.”
“Kok tadi kamu manggilnya, Wil?”
“Aku biasa manggil dia kriwil, lihat aja rambutnya yang kriwil, hahaha..”
Tak ayal senyum Adisty terbit juga. Matanya kemudian melihat pada orang-orang yang tengah menikmati mie ayam atau yang sedang menunggu pesanan seperti dirinya. Pasti rasa mie ayam di sini lezat, apalagi menurut Aidan sudah membuka tiga cabang. Adisty semakin tidak sabar untuk mencicipi makanan yang bahan dasarnya mie tersebut.
Tak butuh waktu lama, dua mangkok mie ayam sudah tersaji di depan mereka. Mie ayam bakso plus ceker pesanan Adisty dan Aidan. Mustafa datang mendekat dengan membawa botol saos dan sambal di tangannya.
“Udah lama baru ke sini lagi, sibuk banget ya, Dan,” ujar Mustafa seraya meletakkan botol saos dan sambal di meja.
“Ya biasalah, tau sendiri si Bibie kalo kasih kerjaan ngga tanggung-tanggung.”
Mustafa hanya membalas ucapan Aidan dengan kekehan saja. Dia memang mengenal Irzal yang satu sekolah dengannya saat SMA. Irzal adalah pria yang serius ketika mengerjakan sesuatu. Pria itu juga tidak banyak bicara dan terkadang bersikap jutek pada lawan jenis. Makanya Mustafa heran ketika mendapat undangan pernikahan Irzal. Disangkanya pria itu akan lama hidup menjomblo. Justru Aidan yang sampai sekarang belum mendapatkan gandengan.
“Bentar deh.. dari tadi Arsy bilang Bibie, kamu juga. Emang namanya bang Irzal udah ganti ya?”
Aidan hampir saja tersedak mendengar pertanyaan Adisty. Bukan hanya dirinya, tapi Mustafa juga ikutan tertawa. Adisty memandangi wajah Aidan dan Mustafa bergantian. Namun begitu dia masih sabar menunggu jawaban dari pria yang duduk di sebelahnya.
“Nama lengkapnya itu Irzal Habibie Ramadhan. Nah kata Irzal itu diambil dari nama kakeknya Bibie. Jadi kita-kita mutusin manggilnya Bibie, bukan Irzal. Biar ngga ngelunjak manggil kakek Irzal nama aja, hahaha..”
“Oh gitu. Lagian iseng aja kasih nama sama kaya nama kakeknya. Udah kehabisan ide ya?”
“Bukan gitu. Bibie lahir beberapa jam setelah kakek Irzal meninggal. Makanya ayah Elang kasih nama Irzal buat anak bungsunya.”
Adisty hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Gadis itu tersenyum mengingat dirinya tadi mengajukan pertanyaan konyol soal nama suami dari saudara sepupunya. Adisty kemudian kembali konsentrasi memakan mie ayamnya. Rasanya memang juara, basonya juga enak dan cekernya empuk sekali.
“Ini cekernya enak banget, sumpah. Empuk lagi. Tapi kok bumbunya kayanya ngga sama ya kaya bumbu ayamnya.”
“Emang beda. Cekernya kita olah terpisah, bumbunya beda dari bumbu ayamnya. Prosesnya juga cukup lama. Cekernya digoreng, direbus pake presto, terus digoreng lagi sambil dikasih bumbu, makanya empuk banget.”
“Oh gitu. Mantul deh.”
Dengan lahap Adisty menghabiskan mie ayam tersebut. Di mangkok hanya tersisa tulang ceker ayam saja, yang bentuknya sudah berantakan karena Adisty senang sekali menggigiti dan menyedot sumsumnya.
“Aku pesan dua lagi ya, dibungkus. Pake bakso sama ceker.”
“Belum kenyang?” tanya Aidan.
“Buat mama sama adikku.”
Hanya anggukan kepala saja yang diberikan Aidan. Mustafa bangun dari tempatnya duduk, lalu kembali ke warung tendanya. Dia segera membuatkan pesanan Adisty. Suasana antara Adisty dan Aidan menjadi hening sepeninggal Mustafa. Diam-diam Aidan melirik pada wanita di sebelahnya.
“Tadi kamu kenapa?”
“Kenapa apa?”
Adisty terkejut mendengar ucapan Aidan. Gadis itu menatap lekat-lekat pria di dekatnya. Aidan masih sabar menunggu jawaban dari Adisty. Dapat dia tangkap perubahan mimik wajah Adisty.
“Kamu kok tahu aku dari café?”
“Aku ada di sana. Lihat kamu buru-buru pergi, aku susulin kamu, takutnya ada apa-apa. Taunya kejadian, kamu kecelakaan.”
“Yang aku temui itu mantan pacarku sama sahabatku. Eh.. aku ngga tau apa harus bilang dia sahabatku atau bukan. Nyatanya dia udah nusuk aku dari belakang,” Aidisty menundukkan kepalanya. Rasa sakit yang tadi dirasakannya kembali menyapa.
“Harusnya kamu bersyukur, bukannya berkubang dengan sakit hati.”
“Maksudnya?” Adisty mengangkat kepalanya, melihat lekat pada Aidan.
“Ya kamu harus bersyukur, lewat sahabat rasa pengkhianat, kamu jadi tahu laki-laki itu ngga layak untukmu. Masih untung kan kamu tahu keburukannya sebelum hubungan kalian terlalu jauh. Coba kalau kejadiannya setelah kalian menikah, pasti sakitnya lebih parah dan dalam.”
Tak ada tanggapan dari Adisty. Apa yang dikatakan Aidan memang benar. Hatinya sekarang sakit mengetahui pengkhianatan kekasih dan sahabatnya. Tapi dengan begitu, dia bisa menyongsong masa depan yang lebih baik lagi bersama orang yang baru. Cara Tuhan menunjukkan padanya kalau Arga bukanlah yang terbaik untuknya memang ekstrim. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya bersyukur bisa terlepas dari lelaki brengsek seperti Arga.
“Akhir pekan ini mereka tunangan. Dan aku diminta datang, cih…” Adisty berdecih setelahnya.
“Kenapa kamu ngga datang? Datang aja, tunjukkan kalau kamu tidak terpengaruh dengan pengkhianatan mereka. Kamu bisa tetap melanjutkan hidup dan tidak terpuruk seperti keinginan sahabatmu.”
“Gitu ya?”
“Hem.. kalau perlu kamu bawa pasangan. Lihat gimana reaksi mantan pacar kamu kalau kamu bawa gandengan ke sana.”
“Siapa?”
“Aku mau kok jadi relawan.”
Sepertinya Aidan tidak main-main dengan upayanya mendekati Adisty. Pria itu bersedia menjadi gandengan abal-abal wanita yang tengah dilanda patah hati. Siapa tahu dirinya jutsru bisa menyembuhkan luka sang gadis pujaannya.
“Aku pikir-pikir dulu deh.”
“Ok.. save aja dulu nomorku. Kalau kamu setuju, tinggal kabarin aku.”
Sejenak Adisty memandangi Aidan. Pria itu terlihat serius dengan ucapannya. Akhirnya gadis itu menyimpan nomor Aidan ke ponselnya. Dalam hati tentu saja Aidan bersorak senang. Semoga saja usahanya kali ini membuahkan hasil.
☘️☘️☘️
Di akhir pekan, pertunangan Arga dan Maya digelar. Pesta pertunangan diadakan di salah satu ballroom hotel bintang empat yang ada di kota Bandung. Orang tua Arga dan Maya memang orang berada. Ayah Maya merupakan pejabat di salah satu perusahaan BUMN dan ayah Arga memiliki usaha supplier.
Sebenarnya orang tua Arga menyayangkan anaknya putus dari Adisty. Selain gadis itu berkelakuan baik, dia juga berasal dari keluarga terpandang. Siapa yang tidak mengenal keluarga Hikmat di kota ini. Namun mereka juga tidak berdaya, anak mereka sendiri yang melakukan kesalahan. Setelah menghamili Maya, Arga memang harus bertanggung jawab atas ulahnya.
__ADS_1
Dari arah pintu masuk, muncul Adisty didampingi oleh Aidan. Keduanya nampak serasi mengenakan pakaian dengan motif sama. Sebelum hari pertunangan, Adisty sengaja membeli pakaian couple motif batik dari butik mamanya. Gadis itu terlihat cantik mengenakan dress selutut, sedang Aidan mengenakan kemeja batik dengan motif serupa.
Mama Arga langsung menyambut kedatangan mantan calon menantunya dengan hangat. Wanita itu memeluk Adisty untuk beberapa saat. Hubungan gadis itu dengan anaknya cukup lama juga terjalin, tiga tahun. Namun wanita itu harus menelan kekecewaan karena gadis cantik yang dipeluknya gagal menjadi menantunya.
“Bagaimana keadaanmu, Dis?” tanya mama Arga seraya melepas pelukannya.
“Alhamdulillah, baik tante.”
“Maafkan Arga. Kamu pasti sangat terluka dengan apa yang dilakukannya. Tante juga malu harus berhadapan denganmu. Terima kasih kamu mau datang ke sini, sekali lagi tante minta maaf.”
“Ngga apa-apa, tante. Semuanya udah takdir, Arga memang bukan jodohku.”
“Om harap kamu bisa menemukan laki-laki yang lebih baik lagi dari Arga.”
“Terima kasih, om.”
Rasa sakit yang Adisty rasakan sedikit berkurang melihat sikap hangat kedua orang tua Arga. Sebelum menemui pasangan yang sudah memporak porandakan hatinya, Adisty mengenalkan Aidan pada orang tua Arga. Ternyata ayah Arga mengenali Aidan. Mereka pernah beberapa kali terlibat urusan bisnis.
Usai berbincang sebentar dengan orang tua Arga, Adisty dan Aidan mendekati Arga dan Maya. Mata Arga terus menatap lekat pada mantan kekasihnya. Seperti biasa, Adisty selalu terlihat cantik dengan balutan pakaian apapun. Menyesal rasanya harus melepas wanita yang seperti bidadari itu.
“Selamat ya, Ga.. May.”
Adisty mengulurkan tangannya pada pasangan di depannya. Arga menyambut uluran tangan Aidsty kemudian menggenggamnya erat. Maya terlihat tidak suka melihat reaksi tunangannya. Dengan paksa dia melepaskan genggaman tangan Arga pada Adisty. Hanya senyum tipis saja yang dilemparkan Adisty.
“Dis.. aku peringatkan padamu, jangan coba-coba menggoda Arga. Dia sekarang adalah milikku.”
“Kenapa? Kamu takut aku merebutnya darimu? Tenang saja, aku sudah merelakan lelaki hidung belang ini padamu.”
“Dis..” panggil Arga.
“Oh iya, kenalkan.. ini mas Aidan. Dia.. calon suamiku.”
Bukan hanya Arga dan Maya yang terkejut, tapi Aidan juga terkejut mendengarnya. Meski begitu, pria itu juga terlihat senang. Dia akan memastikan apa yang dikatakan Adisty tadi akan menjadi kenyataan. Pria itu menyalami Arga dan Maya bergantian.
“Kamu bohong kan, Dis? Ngga mungkin dia calon suamimu. Kita baru putus beberapa bulan.”
“Kami memang tidak berpacaran. Kedua orang tua kami yang menjodohkan. Dan aku rasa tidak ada salahnya menerima perjodohan ini. Mas Aidan adalah laki-laki yang baik, dan aku juga yakin dia bukan orang yang mudah tergoda wanita lain,” Adisty melihat pada Maya saat mengatakan itu.
“Selain itu, mas Aidan juga sudah mapan, tidak bergantung pada orang tua lagi. Kamu pasti tahu Infinity Corp. Dia itu asisten CEO Infinity Corp.”
Arga menelan ludahnya kelat mendengar penjelasan Adisty. Maya hanya mencebikkan bibirnya, dia tidak suka Adisty dengan cepat mendapatkan pengganti Arga. Apalagi pria itu berada di atas segalanya dari Arga.
“Selamat untuk pertunangan kalian. Semoga perjalanan kalian menuju jenjang pernikahan berjalan mulus. Pastikan lelakimu tidak melirik perempuan lain, apalagi ingin menggoda calon istriku,” Aidan memeluk pinggang Adisty.
Dalam hati Adisty merutuki tangan Aidan yang curi-curi kesempatan memeluk pinggangnya. Namun gadis itu membiarkannya saja, agar sandiwaranya tidak terbongkar. Tangan Maya mengepal melihat kemesraan pasangan di depannya. Setelah berhasil membuat Arga dan Maya gondok, Adisty mengajak Aidan menjauh dari mereka.
“Lepas ngga,” ujar Adisty pelan.
Sambil tertawa Aidan melepaskan pelukannya. Pria itu sama sekali tidak terintimidasi dengan sorot mata Adisty yang terlihat kesal.
“Dasar tukang azas manfaat.”
“Aku hanya menambahkan bumbu untuk drama yang kamu buat. Lagi pula kamu ngga bilang apa-apa soal kita sebelumnya. Harusnya aku yang marah karena kamu udah ngaku-ngaku calon istriku. Bisa rusak pasaranku kalau berita ini tersebar.”
Lain di mulut, lain di hati. Memang pintar Aidan menyembunyikan kebahagiaan yang meletup-letup di hatinya. Adisty hanya mencebikkan bibirnya saja. Dia mengajak Aidan untuk menikmati hidangan.
“Ucapanmu tadi bisa jadi boomerang untukmu, Dis.”
“Maksudnya?”
“Kamu ngaku-ngaku kalau kita ini dijodohkan. Bagaimana kalau Arga atau Maya sampai tahu kalau kamu cuma ngehalu. Bisa habis diketawain kamu sama mereka berdua.”
“Kalau begitu kita wujudkan saja.”
“Apa maksudmu?”
“Ayo kita menikah.”
“Dis.. pernikahan itu bukan permainan. Kamu mengajakku menikah cuma untuk membalaskan sakit hatimu. Sorry.. aku ngga mau menikah dengan perempuan yang masih menyimpan nama laki-laki lain di hatinya.”
Jika orang lain melihat dan mendengar apa yang dikatakan Aidan, pasti mereka percaya dengan kata-kata yang diucapkan pria itu. Padahal Aidan sedang memancing di air keruh, berpura-pura menjadi korban dan secara halus mendesak sang pelaku untuk mewujudkan apa yang dikatakannya tadi.
“Kalau begitu buatlah aku mencintaimu,” tantang Adisty.
“Kamu serius?”
“Iya, kenapa? Kamu ngga yakin bisa membuatku jatuh cinta padamu?”
Aidan tak langsung menjawab. Dia berjalan mendekati Adisty. Matanya terus menatap netra gadis di hadapannya tanpa berkedip. Sialnya apa yang dilakukan Aidan justru membuat jantung Adisty berdetak kencang. Apalagi kini jaraknya dengan pria itu semakin menipis saja. Dapat gadis itu hirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh Aidan.
“Baiklah.. aku akan terima tantanganmu. Dalam waktu kurang dari dua bulan, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Dan kita akan segera menikah, deal?”
“Bagaimana kalau kamu gagal?”
“Ehmm.. aku akan pakai daster terus nyanyi sambil joget di semua perempatan yang ada di Bandung. Deal?”
“Deal!”
Dengan mantap Adisty menyambut uluran tangan Aidan. Dia penasaran bagaimana cara pria itu membuatnya jatuh cinta. Apalagi pria itu menyanggupi hukuman yang diusulkannya sendiri kalau sampai gagal membuat dirinya jatuh cinta.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Aidan gercep beud, curi² kesempatan sambil memancing di air keruh? Dapat apa nih dari hasil memancing?😂