
“Ay..”
“Kenapa mas?”
“Kamu.. ada niatan menikah muda?”
“Tergantung, mas.”
“Tergantung apa?”
“Kalau yang melamarku adalah laki-laki yang bertanggung jawab, serius menikah denganku, mencintaiku dan aku juga mencintainya, sudah pasti aku mau.”
“Kalau aku yang melamarmu, apa kamu mau menerimanya?”
Untuk sesaat Dayana hanya mampu terdiam. Gadis itu terkejut mendengar ucapan Rafa yang tiba-tiba ingin melamarnya. Kedekatannya dengan Rafa baru berlangsung kurang dari satu bulan, tapi pria itu sudah menunjukkan keseriusannya. Apa seperti ini berhubungan dengan pria dewasa?
“Mas mau melamarku?”
“Tujuanku menjalin hubungan denganmu bukan untuk pacaran. Aku adalah pria dewasa, dan aku juga seorang duda. Sudah pasti tujuanku menjalin hubungan adalah untuk menikah.”
“Kalau tujuan mas seperti itu, bukan padaku mas harus mengatakannya.”
“Lalu pada siapa?”
“Kedua orang tuaku.”
Senyum Dayana mengembang setelah mengatakannya. Awalnya Rafa hanya terbengong, namun kemudian senyumnya juga ikut mengembang setelah tahu maksud dari wanita yang kini sudah memenuhi relung hatinya.
“Aku akan datang melamarmu pada kedua orang tuamu. Akhir pekan ini, kamu setuju?”
“Boleh, mas. Aku ngga nyangka mas akan lamar aku secepat ini. Apa karena Stella dan bang Tamar?” goda Dayana.
“Bukan.”
“Terus karena apa?”
“Karena aku ngga mau kamu berubah pikiran dan ada orang lain yang mendahuluiku.”
“So sweet banget sih, mas.”
“Tolong katakan pada kedua orang tuamu, akhir pekan ini aku akan datang bersama kedua orang tuaku.”
Senyum terbit di wajah Dayana. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Rafa pun tak kalah bahagia melihat bahasa nonverbal yang diberikan Dayana. Seandainya tidak terlarang, ingin rasanya dia memeluk dan mencium bibir gadis yang sudah membuatnya tergila-gila. Tapi pria itu sadar harus menahan diri sampai Dayana halal untuknya.
🍁🍁🍁
“Opaaaa!!”
Setelah Rafa mengantar dirinya pulang, Dayana langsung mencari keberadaan opanya. Kevin yang sedang bersantai dengan Rindu di halaman belakang, terkejut mendengar suara sang cucu yang mencarinya. Dari arah dalam muncul Dayana, gadis itu langsung duduk di sampingnya.
“Opaaa… mas Rafa mau lamar aku akhir pekan ini. Opaaa… aku bahagiaaaa…”
“Alhamdulillah,” seru Kevin dan Rindu bersamaan.
“Kira-kira mama sama papa setuju ngga?”
“Kalau mereka ngga setuju, opa bakalan jewer kupingnya.”
“Oma juga bakalan kutuk mereka jadi karung goni.”
“Hahaha… opa, oma love you..”
Dayana memeluk opa dan omanya bergantian. Hatinya benar-benar bahagia, pria yang dicintainya akhirnya memutuskan untuk melamarnya. Gadis itu berdiri hendak mencari kedua orang tuanya. Sebelum meninggalkan halaman belakang, dia mencium pipi Kevin dan Rindu bergantian.
Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, Dayana menuju kamar kedua orang tuanya. Dia yakin mama dan papanya sedang berada di kamar. Tak butuh waktu lama baginya sampai di depan kamar orang tuanya yang tertutup rapat.
TOK
TOK
TOK
Tanpa menunggu jawaban dari dalam, Dayana langsung membuka pintu. Dilihatnya Freya dan Ravin tengah duduk santai di atas ranjang dengan punggung bersandar pada headboard ranjang. Gadis itu masuk lalu naik ke atas ranjang. Menempatkan diri di antara kedua orang tuanya.
“Mama sama papa udah mau ngadon aja, baru juga jam delapan malem.”
Sebuah jitakan mendarat di kepala Dayana, sang pelaku sudah pasti adalah Freya. Untung saja Ravin belum melancarkan serangan malamnya. Ravin hanya terkekeh mendengar ucapan putrinya. Dia memang bermaksud mengajak Freya berolahraga malam sesudah perbincangan mereka selesai dan mengunci pintu pastinya.
“Ma.. pa.. akhir pekan ini ngga ada acara kan?”
“Kenapa emang?”
“Mas Rafa mau melamar aku.”
“Ooh… apa??!!” Ravin terkejut mendengarnya.
“Papa biasa aja kagetnya.”
“Bentar.. kenapa Rafa tiba-tiba mau ngelamar kamu? Kamu itu masih muda, bukannya kamu mau kuliah S2 tahun ini?”
“Emang ngga boleh kuliah sesudah nikah?”
“Bukan gitu, sayang. Tapi bukannya lebih baik kalau kamu nikahnya nanti kalau sudah selesai S2?”
“Keburu mas Rafa tua dong, pa. Sekarang kan umur mas Rafa udah 33 tahun.”
“Tapi kamu itu masih terlalu muda untuk menikah. Kamu itu baru 22 tahun.”
“Emangnya salah? Arsy juga seumur sama aku waktu nikah.”
Wajah Dayana nampak kecewa melihat reaksi Ravin yang di luar ekspektasinya. Freya memeluk anak gadisnya ini. Dia memberi tanda pada Ravin untuk tidak mengatakan apa-apa lagi.
“Biar mama bicara sama papa. kamu istirahat aja sana.”
“Iya, ma.”
Dayana segera turun dari ranjang lalu keluar dari kamar kedua orang tuanya. Dengan langkah gontai, dia berjalan naik ke lantai dua, menuju kamarnya. Hatinya mendadak resah kalau Ravin tidak memperbolehkan dirinya menikah dalam waktu dekat dengan Rafa. Gadis itu masuk ke dalam kamar lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
Sementara itu di dalam kamar, Freya turun dari ranjang lalu mengunci pintu kamar. Dia kembali mendekati suaminya. Sepertinya mereka harus berbicara tentang lamaran Rafa yang akan dilakukan akhir pekan ini. Sebagai seorang istri, dia tahu apa yang dirasakan suaminya ini.
“Bang.. kenapa abang bilang seperti itu sama Aya. Lihat dia kecewa.”
“Aya memang masih muda. Masih banyak hal yang bisa dia lakukan sebelum menikah. Kalau dia menikah, apa yang dilakukannya nanti akan terbatas. Abang mau dia menikmati dulu masa mudanya.”
“Aku tahu, bang. Aku paham apa yang abang rasakan. Bagi seorang ayah, berapa pun usia anak perempuannya, pasti akan selalu dianggap anak kecil oleh ayahnya. Apa abang lupa? Waktu abang menikahiku dulu, usiaku juga masih 23 tahun. Tapi abang bisa meyakinkan papa dan menikahiku. Aku bahagia menikah di usia muda, abang juga ngga membatasi kegiatanku. Kenapa abang ngga memberikan kesempatan yang sama untuk anak kita? Rafa, aku yakin dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Dia ingin segera menikahi Aya, itu bukti kalau dia serius.”
“Entahlah, Frey. Rasanya baru kemarin dia keluar dari rahimmu, baru sebentar rasanya abang menggendongnya, mengajarinya berjalan, mengajaknya berbicara dan sekarang dia akan menikah.”
Ravin mengesah panjang mengingat pertumbuhan putrinya sejak lahir sampai sekarang. Rasanya dia masih belum siap berpisah dengan sang putri. Belum banyak waktu yang dihabiskan bersama anak sulungnya itu. Dan sekarang sudah ada seorang pria yang akan mengambil dari sisinya.
“Abang masih bisa bertemu dengan Aya setelah dia menikah. Statusnya juga tidak berubah, dia tetap anakmu sampai kapan pun. Hanya prioritasnya saja yang berubah. Dia harus lebih mementingkan suaminya di atas segalanya.”
“Abang tahu.”
“Percayalah, bang. Anakmu sudah siap untuk menikah. Rafa sudah siap memikul tanggung jawabmu pada Aya.”
Freya memeluk suaminya ini. Beberapa kali dia mendaratkan ciuman di bibir suaminya sampai senyum di wajahnya terbit. Pria itu memeluk tubuh istrinya dengan erat. Hatinya sedikit tenang mendengar ucapan Freya barusan.
🍁🍁🍁
Wida membereskan peralatan makan yang digunakan oleh anaknya lalu menaruhnya di atas nakas. Kini hanya ada dirinya dan suaminya saja di kamar perawatan anaknya. Dia juga ingin membicarakan perihal lamaran untuk Stella. Wida memberikan minuman pada anaknya sebelum memulai pembicaraan.
“Besok mama sama papa mau pulang sebentar ke Bogor, tapi langsung ke sini lagi. Adikmu juga akan ikut ke sini.”
“Emang mau ngapain?”
“Ya ngelamar Stella.”
“Ma.. jangan dianggap serius omongan pak Ridwan. Itu cuma kerjaan Stella aja ngaku-ngaku calon istri aku. Aku belum mau nikah, ma.”
“Kamu mau sampai kapan jadi jomblo? Kamu ngga lihat Bibie? Dia sudah nikah, sudah bahagia. Lihat ngga kamu sekarang Bibie seperti apa? Hidupnya lebih tertata, wajahnya juga kelihatan lebih segar. Ngga kaya kamu kuyu terus, karena apa? Karena belum nikah.”
“Mana ada, mama tuh suka ngadi-ngadi.”
Ahmad memberikan kode pada anaknya untuk tidak membantah perkataan Wida. Mata pria itu seakan-akan sedang mengatakan ‘jangan coba-coba melawan emak kamu. Dia punya seribu jurus untuk membungkam mulutmu dan memaksakan kehendaknya. Apapun yang kamu lakukan pasti akan kalah. Jadi jangan buang tenagamu’.
“Kamu mau cari calon istri yang kaya gimana lagi? Stella itu paket komplit, sudah cantik, pintar, sopan. Udah cocok sama kamu.”
“Makannya banyak. Ngga kuat aku kasih makannya, gajiku bisa habis buat ngasih makan dia doang,” ceplos Tamar asal.
“Ngga usah takut. Tiap bulan mama bakal kirim beras hasil panen kita. Masa anaknya haji Ahmad ngga sanggup kasih makan istrinya. Apa kata dunia,” cerocos Wida yang kesal mendengar jawaban Tamar.
Tamar hanya bisa menepuk keningnya. Apa yang dikatakan olehnya selalu bisa dipatahkan oleh ibunya. Wanita itu memang memiliki seribu jurus untuk mengelak dan membungkamnya.
“Begitu kamu keluar dari rumah sakit, kita akan melamar Stella.”
“Aku masih lama ma, keluarnya. Kata dokter mungkin sebulan atau dua bulan lagi.”
PLAK
PLAK
PLAK
Tiga pukulan beruntun mendarat di bahu kiri Tamar. Wanita itu masih punya hati tidak memukul putranya di tempatnya tertusuk. Ahmad segera menghentikan tindakan KDRT yang dilakukan istrinya.
“Mama tuh, anaknya lagi sakit malah dipukulin,” protes Tamar seraya mengusap bahunya yang terkena pukulan.
“Biarin.. biar tambah lama kamu dirawatnya. Biar jadi setahun.”
“Sudah, ma.. sudah.. jangan emosi. Kalau Tamar tetap ngga mau. Besok kita bawa pak Dudung ke sini.”
“Ngapain bawa pak Dudung?” tanya Wida bingung.
“Buat hipnotis Tamar biar mau melamar Stella.”
“Hahaha.. cocok itu, pa. Hubungi aja pak Dudungnya.”
“Astaga!”
Lagi-lagi Tamar hanya bisa menepuk keningnya. Mimpi apa dia semalam, kedua orang tuanya seketika berubah seperti ini setelah bertemu dengan Stella. Gadis itu benar-benar sudah menebarkan virus kesomplakan yang hakiki. Apakah dirinya akan kuat bersanding dengan gadis yang kerap membuat kepalanya pusing.
“Pokoknya ngga ada alasan lagi. Kamu harus menikah sama Stella, titik! Ngga pake koma.”
“Aku ngga cinta ma.”
“Kamu ngga usah munafik. Kalau cinta ya bilang, ngga usah gengsi. Bibir kamu bilang ngga suka, tapi badan kamu ngga bisa bohong. Itu punggungmu jadi saksi cinta kamu sama Stella.”
“Betul itu. Ngga mungkin kamu mau berkorban kalau ngga ada rasa cinta.”
“Aku cuma khawatir aja, pa. Aku ngga mau dia jadi korban. Itu kasusku, kalau terjadi sesautu sama dia, aku juga yang kena masalah.”
“Khawatir itu tandanya cinta!”
Perkataan Wida sukses membungkam mulut Tamar. Pria itu memilih menutup mulutnya saja dari pada terus-terusan mendapatkan cecaran dari kedua orang tuanya. Kalau memang Stella adalah jodohnya, dia hanya bisa pasrah. Lari kemana pun tidak akan bisa, tetap saja akan bertemu di depan penghulu.
🍁🍁🍁
“Aya..” panggil Ravin seraya mengetuk pintu kamar putrinya.
Karena tak ada jawaban dari dalam, Ravin berinisiatif membuka pintu. Nampak Dayana sedang duduk di sisi ranjang. Ravin masuk ke dalam kamar lalu mendudukkan diri di samping anaknya.
“Ayo turun. Semua udah nunggu untuk sarapan.”
“Papa duluan aja, aku ngga laper.”
Ravin menarik nafas panjang. Pasti Dayana tengah dalam mode ngambek karena perkataannya semalam. Pria itu memeluk bahu sang anak lalu menarik ke dalam pelukannya.
“Papa minta maaf soal semalam. Papa hanya terkejut mendengar Rafa yang mau melamarmu. Rasanya baru kemarin kamu masih di gendongan papa, dan sekarang sudah ada laki-laki yang mau melamarmu.”
“Aku sudah besar, pa.”
“Papa tahu. Tapi bagi papa, kamu masih tetap anak kecil. Anak manja kesayangan papa.”
Dayana mendongakkan kepalanya, menatap pada sang papa tercinta. Gadis itu tidak marah, hanya saja kecewa dengan penolakan Ravin semalam. Sebelumnya pria itu tak pernah membuatnya marah atau kecewa. Tapi reaksi Ravin kemarin benar-benar di luar dugaannya.
__ADS_1
“Bilang pada Rafa, kami siap menerima lamarannya.”
“Papa serius?”
“Iya. Asal kamu janji akan menjalani ini dengan serius. Pernikahan bukanlah hal main-main. Setelah menjadi seorang istri, prioritasmu adalah suamimu. Kamu harus menjaga nama baiknya dan juga kehormatannya. Kamu harus bisa menjadi tempatnya pulang.”
“Iya, pa. Aku akan ingat pesan papa.”
“Sekarang kita sarapan dulu.”
Dengan semangat empat lima, Dayana menganggukkan kepalanya. Sambil memeluk erat pinggang Ravin, gadis itu beranjak keluar dari kamar dan langsung menuju meja makan. Dia sana sudah menunggu Kevin, Rindu, Freya dan juga Firhan. Ravin menarikkan sebuah kursi untuk anaknya.
“Udah selesai ngambeknya?” goda Freya.
“Siapa juga yang ngambek,” Dayana memajukan bibirnya yang hanya dibalas kekehan oleh Freya.
“Jadi akhir pekan ini Rafa mau melamarmu?” tanya Kevin dengan mata berbinar.
“Iya, opa.”
“Frey.. kamu harus masak makanan enak buat calon besan kita,” ujar Kevin bersemangat.
Ravin hanya menggelengkan kepalanya saja melihat Kevin yang begitu bersemangat mendengar anak gadisnya akan dilamar oleh Rafa. Jika pria itu tahu dirinya sempat menolak Rafa melamar Dayana cepat-cepat, mungkin telinga akan merah mendengar ceramah panjang lebarnya.
🍁🍁🍁
Seperti biasanya, setiap satu bulan sekali, pandawa lima akan berkumpul bersama. Kali ini kediaman Juna menjadi tempat berkumpul mereka. Kelima pria itu duduk bersama di halaman belakang, di dekat kolam renang. Kevin terlihat begitu sumringah, sebentar lagi gilirannya yang akan menggelar pesta pernikahan.
“Bahagia banget kelihatannya, Vin,” celetuk Juna yang sedari tadi melihat sahabatnya selalu tersenyum. Tidak seperti biasanya yang terlihat anyep tanpa ekspresi.
“Oh iya, aku mau kasih kabar bahagia. Aya sebentar lagi mau dilamar Rafa. Aku bakal punya cucu menantu,” ujar Kevin jumawa.
“Heleh emang Aya aja. Stella juga mau dilamar sama Tamar,” sahut Cakra.
“Wah berarti keluarga kita bakal ada hajat lagi. Siapa yang bakal hajat duluan?”
Pertanyaan Juna sukses membuat Kevin dan Cakra saling berpandangan. Jojo dan Abi mulai mencium gelagat mencurigakan dari kedua sahabatnya. Bau-bau persaingan mulai tercium. Pasti di antara keduanya tidak akan ada yang mengalah.
“Ya sudah pasti Aya dulu. Kan ngelamarnya juga Rafa duluan.”
“Oh ngga bisa, yang jelas Stella duluan. Tamar juga langsung ngelamar Stella, begitu keluar dari rumah sakit.”
“Tamar itu masih lama dirawatnya, mungkin sebulan,” ceplos Kevin sekenanya.
“Calon cucu menantuku itu kuat. Dia ngga butuh waktu lama buat sembuh,” balas Cakra.
“Tetap saja, Aya yang duluan.”
“Stella..”
“Haaiissshhh.. kenapa pada ribut? Udah tua juga, ngga ada yang mau ngalah,” celetuk Juna.
“Ngalah, Vin. Biar Stella yang duluan nikah.”
“Ngga ada, Aya yang duluan.”
“Barengin aja, biar kaya Upin Ipin,” ceplos Jojo yang langsung mendapat pelototan dari Kevin dan Cakra.
“Jangan.. nanti panggungnya rubuh kalau langsung dua pengantin mejeng,” ujar Abi asal.
“Hahaha…”
Juna dan Jojo tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Abi. Perdebatan kembali terdengar antara Kevin dan Cakra. Mereka tidak mau mengalah dan bersikeras cucunya yang pertama menikah.
“Suit aja suit.. pada ngga mau ngalah,” usul Abi.
“Nah bener. Suit aja,” sahut Juna.
“Aku jadi jurinya,” lanjut Jojo.
Pria itu segera memberi aba-aba pada Kevin dan Cakra untuk memulai pertarungan adu strategi dan kecepatan tangan. Jojo mengangkat tangannya kemudian memberi tanda pada keduanya.
“Gunting, batu, kertas!!”
Teriakan keras Jojo langsung dibarengi dengan kecepatan tangan Kevin dan Cakra. Kevin menunjukkan kepalan tangannya tanda batu, sedang Cakra memperlihatkan dua jarinya yang menandakan gunting.
“Whoaaa menang!!!” teriak Kevin kegirangan.
“Jangan seneng dulu. Baru babak pertama,” ujar Jojo
Keduanya kembali bersiap untuk pertarungan babak kedua. Mereka menunggu aba-aba Jojo.
“Gunting, batu, kertas!!”
Dengan cepat Kevin kembali menunjukkan kepalan tangannya. Dia percaya tanda batu yang diperlihatkan, akan kembali membuatnya menang. Namun kali ini dia salah, karena Cakra melemparkan telapak tangannya yang artinya kertas.
“Yess!!” seru Cakra senang.
“Ok siap-siap ronde terakhir!!”
“Kak.. kita taruhan. Aku pegang Cakra,” seru Abi.
“Ok, aku Kevin. Yang kalah traktir makan.”
Abi hanya mengangkat jempolnya tanda setuju. Mata Kevin dan Cakra saling beradu. Keduanya bersiap melakukan pertarungan terakhir. Yang menjadi pemenangnya berarti akan melangsungkan pernikahan cucunya lebih dulu. Jojo melihat kedua temannya bergantian sebelum melemparkan aba-aba.
“Gunting, batu, kertas!!”
Dengan penuh keyakinan diri, Kevin melebarkan telapak tangannya, menunjukkan tanda kertas. Saat yang bersamaan, Cakra menunjukkan kedua jarinya tanda gunting. Mata Kevin membelalak melihatnya.
“Whoooaaaa menaaaaang!! Stella nikah duluan.”
Cakra bangun dari duduknya kemudian berjoged-joged merayakan kemenangannya. Kevin hanya mendengus kesal. Harusnya tadi dia mengeluarkan kepalan tangannya, agar sahabatnya itu kalah. Abi tersenyum bahagia karena jagoannya menang. Dia melihat pada Juna dengan tatapan mata yang mengatakan ‘kutunggu traktirannya’.
🍁🍁🍁
**Dulu calon pengantin yang gambreng, sekarang para kakek🤣
__ADS_1
Dua hari ke depan kayanya aku ngga bakalan up, mungkin sampai Senin. Udah mulai sibuk pernikahan adik iparku. Maaf yoo, HIL dan NR ngga akan tayang🙏**