Hate Is Love

Hate Is Love
Calon Penagntin


__ADS_3

Usai sarapan, Irzal meminta Arsy untuk bersiap. Dia akan mengantarkan calon istrinya itu memeriksakan rahangnya. Tak ingin memicu pertengkaran lagi dengan Irzal, Arsy langsung menurut saja. Pria itu keluar dari kamar seraya membawa nampan. Dia memutuskan menunggu Arsy di ruang tengah.


Nara datang lalu memberikan teh manis hangat untuk calon menantunya itu. Sejenak dia melihat pria yang baru saja membuatnya baper saat mengintip bagaimana Irzal memperlakukan Arsy tadi. Calon menantunya itu benar-benar pria yang baik. Dia menghindari bersentuhan dengan sang putri sebelum kalimat ijab kabul terlontar dari mulutnya.


“Arsy mana?”


“Lagi mandi, tante. Aku mau ajak ketemu dokter bedah mulut.”


“Kenapa?”


“Aku takut posisi rahangnya bergeser gara-gara ditampar kemarin. Tadi dia masih kesakitan waktu buka mulut.”


“Anak itu.. tadi ditanya katanya ngga apa-apa. Atau jangan dia cuma pura-pura.”


“Mungkin dia ngga mau bikin tante cemas.”


“Panggil mama, jangan tante. Maksud mama, dia pura-pura sakit biar diperhatiin kamu.”


Nara terkikik setelahnya, apalagi ketika melihat wajah Irzal yang menunjukkan keterkejutan. Irzal meraih cangkir di depannya, kemudian menyesap tehnya perlahan. Lebih baik meminum teh manis itu dari pada menanggapi perkataan calon mertuanya.


Lima belas kemudian Arsy menuruni anak tangga. Irzal segera berdiri begitu calon istrinya menghampiri. Setelah berpamitan pada Nara, mereka segera berangkat menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Irzal segera mendaftarkan gadis itu ke poli bedah mulut. Mereka naik menuju lantai dua, tempat di mana ruangan dokter praktek berada. Sudah ada sepuluh pasien yang duduk menunggu panggilan dari dokter spesialis tersebut. Irzal dan Arsy mengambil duduk di kursi tunggu yang masih kosong.


“Mas ngga ke kantor?”


“Ngga. Aku udah telepon Aidan. Habis dari sini kita ke butik mami Al buat fitting baju.”


“Iya, mas.”


Tak ada perbincangan lagi di antara mereka. Irzal sibuk dengan ponselnya, membaca file yang dikirimkan Aidan ke e-mailnya. Keheningan di antara mereka terpecahkan ketika mendengar suara Aqeel.


“Sy..”


“Eh bang Aqeel.”


“Kamu ngapain di sini? Itu bibir kamu kenapa?”


“Keserempet bajaj,” jawab Irzal tanpa melepaskan pandangan dari ponsel. Arsy langsung menolehkan kepala padanya.


“Kamu kenapa?” tanya Aqeel lagi tanpa mempedulikan kalau sepupunya tengah dilanda kekesalan dengan kehadirannya.


“Ngga apa-apa, bang. Cuma kecelakaan dikit.”


“Ada masalah dengan rahang kamu?”


“Belum tau juga sih. Baru mau diperiksa.”


“Ok, deh. Aku tinggal dulu ya.”


“Buruan. Kasihan pasiennya nunggu,” celetuk Irzal.


Aqeel mengernyitkan keningnya melihat sikap Irzal padanya. Dia bangun dari duduknya kemudian bersiap untuk pergi. Pria itu sengaja mengambil jalan di belakang kursi yang Irzal duduki, kemudian tangannya menoyor kepala adik sepupunya itu seraya beranjak pergi.


“Aduh.. dasar dokter PEA,” gerutu Irzal pelan. Arsy hanya tersenyum saja. Matanya masih melihat pada Aqeel yang semakin menjauh.


“Biasa aja lihatnya. Masih aja ditatap, udah jauh juga.”


“Ish… kamu kenapa sih?”


Tak ada jawaban dari Irzal. Dia mengakhiri kegiatannya membaca file kerjanya, lalu memasukkan ponsel ke dalam saku celana kemudian berdiri dari tempatnya. Kepala Arsy terdongak melihat Irzal yang tiba-tiba berdiri.


“Mau kemana?”


“Cari minum, haus.”


Tanpa menunggu jawaban Arsy, Irzal segera meninggalkan gadis itu. dia berjalan menuju mesin minum otomatis yang letaknya di dekat meja pendaftaran. Setelah mendapatkan dua minuman dingin, pria itu kembali ke tempatnya. Diberikannya satu kaleng pada Arsy. Gadis itu hanya memegangnya saja karena sebentar lagi waktunya masuk melakukan pemeriksaan.


🍁🍁🍁


Selesai memeriksakan diri dan menebus obat yang diberikan dokter, Irzal dan Arsy meninggalkan rumah sakit. Tujuan mereka selanjutnya adalah butik Alea. Keduanya akan bertemu dengan Ily untuk melakukan fitting baju pengantin dan juga akad nikah. Irzal memarkirkan kendaraan di depan butik. Ily langsung menyambut keponakannya itu begitu Irzal memasuki butik.


“Ini calon kamu, Bie?” Ily melihat pada Arsy. Gadis itu menyalami Ily seraya mencium punggung tangannya.


“Iya, ma."


"Baju pengantinnya sudah siap. Kamu ke lantai dua aja. Di sana ada yangpa.”


Mendengar ada Dimas di lantai dua, bergegas Irzal menuju ke sana. Kening Arsy berkerut mendengar kata yangpa. Karena tak bisa menahan rasa penasarannya, Arsy pun bertanya pada Ily.


“Yangpa siapa, ma?”


“Yangpa itu suami mama. Kalau anak-anaknya ayah Elang, papa Farel sama mama Yunda manggilnya yangpa, alias eyang-papa, hihihi..”


“Eyang-papa?”


“Iya. Kalau dari keluarga ayah Elang, Dimas, suami mama itu, kakek buat Bibie sama semua kakak dan sepupunya. Nah kalau dari keluarga mama, masuknya om. Jadi biar ngga bingung, mereka manggilnya yangpa.”


Ily jadi terkikik sendiri menceritakan hal ihwal keluarganya yang mungkin cukup membingungkan bagi semua orang. Bahkan sampai sekarang Elang masih enggan memanggilnya dengan sebutan tante. Dia sendiri juga geli harus dipanggil tante oleh teman masa kecil yang usianya satu tahun lebih tua darinya.


“Udah ngga usah dipikirin. Nanti kamu bingung sendiri. Mending kita siap-siap aja. Kamu mau coba kebaya apa gaun dulu?”


“Kebaya aja, ma.”


“Oke.”


Sambil merangkul bahu Arsy, Ily mengajaknya masuk ke sebuah ruangan. Di sana sudah tergantung kebaya dan gaun untuk pernikahannya. Ily mengambilkan kebaya berwarna putih gading lalu memberikannya pada Arsy. Wanita itu sendiri yang membantu Arsy mencoba kebayanya.


“Cantik. Kamu mau ke atas? Siapa tau Bibie mau lihat.”

__ADS_1


“Ngga usah, ma. Dia mana peduli bajunya pas atau ngga di aku.”


“Hahaha.. ya ngga gitu juga, sayang. Ayo kita ke atas.”


Ily menarik tangan Arsy kemudian masuk ke dalam lift yang ada di ruangan tersebut. Pintu lift terbuka, ternyata lift tersebut juga terhubung pada salah satu ruangan di lantai 2. Nampak Irzal baru saja selesai memakai beskapnya. Untuk sesaat keduanya saling beradu panjang tanpa mengatakan apa-apa.


“Gimana, Bie? Cantik kan?” tanya Ily.


“Ya cantiklah, namanya juga perempuan,” jawab Irzal asal.


“Ish..” kesal Arsy.


“Mau ada yang dirubah ngga?”


“Ngga tau. Aku ngikut aja kata mama.”


“Udah cukup kayanya. Ayo, Sy.. kita coba gaunnya.”


Ily dan Arsy kembali masuk ke dalam lift. Wajah Arsy terlihat masam. Dia kesal sekali melihat respon Irzal tadi. Tidak ada kata pujian, melihat pun hanya sekilas saja. Sikapnya berbanding terbalik dengan yang diperlihatkan tadi pagi.


“Kenapa, Sy?” tanya Ily yang menyadari perubahan wajah Arsy.


“Ngga apa-apa, ma. Nanti abis nyoba gaun ngga usah ke atas lagi.”


“Kenapa? Kan biar Bibie lihat.”


“Mama ngga dengar tadi dia komennya apa? Lihat juga cuma sekilas, nyebelin banget. Padahal tadi pagi sikapnya udah manis, sekarang nyebelin lagi.”


“Masa? Dia lagi kesal kali. Kamu sebelum ke sini kemana dulu?”


“Ke rumah sakit, periksa rahang gigi.”


“Ketemu siapa di sana?”


“Cuma dokter Aqeel.”


Arsy terdiam sejenak. Gadis itu mulai menerka-nerka apakah Aqeel yang menyebabkan pria itu berubah dingin lagi. Apakah Irzal cemburu? Tapi Arsy buru-buru menepis kecurigaan itu. Irzal tidak mencintainya, jadi tidak mungkin pria itu merasa cemburu.


“Sy.. apa kamu mencintai Bibie?”


Pertanyaan Ily sukses menarik kesadaran Arsy, namun di saat bersamaan, dia bingung harus menjawab apa. Untuk sesaat gadis itu hanya terdiam. Ily masih sabar menunggu jawaban Arsy sambil memakaikan gaun padanya.


“Euung.. ngga tau, ma. Mama tau sendiri, aku sama mas Irzal dijodohkan. Aku belum tau soal perasaanku. Tapi aku senang kalau dia perhatian dan bersikap manis sama aku. Tapi dia kan seringnya jutek, nyebelin, ish..”


Terdengar tawa pelan Ily. Melihat Irzal dia seperti melihat Elang masih muda. Dulu Elang juga seperti itu, bicara seadanya kadang tidak ada manis-manisnya, dingin, jutek, tapi setelah bertemu dengan Azkia, semua sikap menyebalkannya hilang di hadapan wanita yang dicintainya.


“Kemarin aja dia marah-marah sama aku. Dia bentak aku, katanya aku selalu bikin dia cemas. Kalau dia cemas kan ngga usah ngomongnya sambil bentak-bentak juga.”


“Bibie itu persis seperti ayahnya juga almarhum kakeknya. Dia memang gitu, bicara ceplas ceplos, tapi.. kalau dia sudah mencemaskanmu, berarti dia sudah ada hati sama kamu. Mungkin juga dia bersikap seperti ini untuk menjaga dirinya agar tidak melakukan hal yang belum boleh dilakukan olehnya.”


“Belum boleh kaya gimana, ma?”


Kembali Arsy terdiam, mencoba mencerna kata-kata wanita itu. Ily membenarkan bagian bawah gaun yang sedikit terlipat, kemudian merapihkan bagian lengannya yang sedikit mengkerut. Sejak awal dia sudah yakin kalau Irzal akan memilih gaun seperti ini, yang bisa menutup aurat pengantin wanitanya.


Di lantai dua, Irzal dibantu salah seorang pegawai lelaki di butik ini mengenakan tuxedonya. Dia membenarkan posisi lengan jas pengantin pria itu. Dimas masih belum beranjak dari tempatnya duduk, dia memperhatikan Irzal yang wajahnya sangat mirip dengan sang kakak ipar.


Kak Irzal.. cucumu sangat mirip denganmu. Teh Poppy.. kalau teteh lihat Bibie sekarang, teteh seperti melihat kak Irzal saat muda dulu. Sifatnya juga mirip, kak Irzal meninggalkan warisan berharganya untuk Elang.


“Yangpa.. gimana?”


Dimas tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Irzal. Pria itu terlihat gagah dalam balutan tuxedo berwarna putih yang dikenakannya. Dimas berdiri kemudian menghampiri Irzal. Pria itu berjalan mengitari cucu sekaligus keponakannya.


“Wah.. cucu yangpa keren begini. Arsy pasti langsung jatuh cinta lihat kamu ganteng kaya gini.”


“Ck.. yangpa bisa aja. Arsy itu cintanya sama bang Aqeel, bukan aku. Kita kan nikah karena dijodohkan.”


“Memang kenapa kalau dijodohkan? Kakek dan nenekmu dulu juga dijodohkan. Lagi pula Aqeel sudah menikah, tidak ada harapan lagi buat Arsy. Justru kamu yang harus menunjukkan pada Arsy kalau kamu adalah lelaki yang terbaik untuknya. Buat dia jatuh cinta sama kamu. Masa cucunya yangpa ngga bisa bikin perempuan klepek-klepek.”


“Tau ah..” Irzal masih terlihat bête mengingat bagaimana pertemuan Arsy dan Aqeel tadi. Wajah Arsy terlihat senang bertemu dengan sepupunya itu.


Perhatian keduanya langsung teralihkan ketika terdengar suara berdenting. Kompak keduanya menoleh ke arah lift. Begitu pintu terbuka, terlihat Arsy berdiri di dalam lift dengan kepala menunduk. Ily membimbing wanita itu keluar dari lift dan membawanya ke hadapan Irzal.


Perlahan Arsy mengangkat kepalanya, kedua mata mereka bertemu dan saling mengunci. Irzal menolehkan kepala ke arah lain begitu menyadari sudah terlalu lama menatap calon istrinya. Begitu pula dengan Arsy yang langsung menundukkan kepalanya lagi demi menyembunyikan pipi merahnya karena dilihat begitu intens oleh Irzal.


“Gimana, Bie? Cantik kan?”


“Can.. ehem.. cantik, ma.”


“Heleh.. bilang cantik aja pake gugup,” bisik Dimas menggoda cucunya.


“Sudah tidak ada yang dirubah lagi ya. Ukurannya juga pas.”


“Iya, ma,” jawab Arsy.


“Ya sudah, sekarang ganti pakaian lagi.”


Ily kembali membawa Arsy masuk ke dalam lift. Irzal juga berjalan menuju ruang ganti. Dan Dimas kembali ke tempatnya semula. Mata tuanya sudah cukup melihat kalau pasangan calon pengantin itu sudah saling mencintai, hanya saja masih belum menyadari perasaan masing-masing.


🍁🍁🍁


Suasana saling diam melingkupi perjalanan Irzal dan Arsy sepulang dari butik. Hanya suara lagu yang berasal dari audio mobil yang menemani kebisuan mereka. Sesekali Arsy melirik pada Irzal yang hanya menatap lurus ke depan.


Sekilas Irzal bisa mendengar suara kriukan berasal dari perut Arsy. Gadis itu langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam saking malunya. Tadi pagi perutnya hanya diisi bubur saja, jadi wajar kalau sekarang sudah meronta-ronta minta diisi. Apalagi sekarang sudah hampir jam 12 siang.


Tanpa mengatakan apapun, Irzal membelokkan mobil memasuki rumah makan Sunda. Setelah memarkirkan kendaraannya, pria itu mengajak Arsy turun. Gadis itu masih saja menundukkan kepalanya saat memasuki restoran. Karena tak melihat ke depan, kepalanya membentur punggung Irzal ketika pria itu tiba-tiba berhenti.


“Apa kamu lagi cari semut di lantai?”


“Ish..”

__ADS_1


“Mau makan di meja makan atau di saung?”


“Di mana aja, yang penting makan.”


Irzal melanjutkan langkahnya. Dia menuju sebuah saung yang berada di atas kolam ikan. Setelah melepas sepatunya, dia masuk ke dalam saung lalu mendudukkan diri di sana. Arsy bergegas mengikutinya lalu duduk di depan Irzal.


“Mau pesan apa, pak?” tanya sang pelayan yang datang dengan notes di tangannya.


“Ada nasi merah ngga?”


“Ada.”


“Minta nasi merah satu boboko kecil, pepes ikan mas, sambal, lalap, tempe goreng, tumis kangkung. Kamu mau apa?” Irzal melihat pada Arsy.


“Ayam bakar, sisanya samain. Minumnya orange juice aja.”


“Saya teh tawar dingin,” lanjut Irzal.


“Saya ulang ya. Nasi merah satu boboko kecil, pepes ikan mas, ayam bakar, tumis kangkung, tempe goreng, sambal dan lalapan, orange juice dan teh tawar. Ada tambahan lagi?”


“Cukup.”


Pelayan itu menganggukkan kepalanya, lalu segera meninggalkan saung tersebut. Ponsel Irzal berdenting, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Raisya baru saja mengirimkan gambar souvenir pernikahan. Dia langsung memperlihatkannya pada Arsy.


“Kamu suka souvenirnya kaya gini?”



“Ya ampun lucu banget. Iya aku suka.”


Irzal langsung membalas pesan Raiysa. Hanya kata ok saja yang dikirimkan pria itu. pandangannya kemudian tertuju pada Arsy yang tengah menggerak-gerakkan rahangnya.


“Masih sakit?”


“Sedikit. Kalau buka mulut lebaran dikit masih sakit.”


“Harusnya kamu makan yang berkuah aja.”


“Ngga ah. Lagian mas pesannya nasi merah, mana cocok dimakan sama sop atau soto.”


“Ganti aja.”


“Jangan. Aku ngga apa-apa.”


Pembicaraan mereka selesai ketika pelayan membawakan pesanan mereka. Mata Arsy berbinar melihat makanan yang tersaji di meja. Dengan cepat dia menyendokkan nasi ke dalam piring, kemudian memasukkan ayam bakar, tumis kangkung, tempe goreng, sambal dan lalap. Gadis itu membuka mulutnya lebar-lebar.


“Aduh.. ssshhh…”


“Pelan-pelan buka mulutnya. Kamu kan masih sakit.”


Arsy mengambil nasi dan lauk dengan tangannya dengan porsi lebih sedikit kemudian memasukkan ke dalam mulut pelan-pelan. Mata gadis itu terpejam ketika harus menguyah hati-hati ketika merasakan sakit ketika menggerakkan rahangnya.


“Aaiisshh.. Daus sialan, bikin rahang gue sakit aja,” keluh Arsy pelan.


“Makannya pelan-pelan aja.”


Arsy sedikit kehilangan selera makannya karena kondisi rahangnya yang masih terasa sakit. Setelah berjuang cukup lama, akhirnya dia bisa menyelesaikan makan siangnya. Orange juice pesanannya juga sudah diseruput habis olehnya. Irzal yang sudah selesai makan sejak tadi hanya memperhatikan calon istrinya.


“Aku shalat dulu. Kamu mau shalat sekarang?”


“Iya, ikut, ” Arsy segera berdiri kemudian menuju mushola yang ada di dalam restoran.


Setelah menunaikan shalat dzuhur dan membayar makan siang, Irzal dan Arsy kembali menaiki mobil. Kali ini Irzal akan mengantarkan Arsy pulang ke rumah. Tapi sebelum menuju kediaman Kenzie, Irzal mampir lebih dulu ke toko yang menjual boneka.


“Kita ngapain ke sini?” tanya Arsy.


“Aku udah janji mau beliin kamu boneka.”


“Ngga usah. Emangnya aku anak kecil.”


“Janji adalah utang. Terserah bonekanya mau kamu kasih ke orang lain atau mau dibuang. Yang penting aku udah nepatin janjiku. Ayo turun.”


Tanpa menunggu jawaban Arsy, Irzal segera turun dari mobil lalu masuk ke dalam toko. Arys akhirnya turun dari mobil dan menyusul calon suaminya. Nampak Irzal tengah memperhatikan deretan boneka teddy bear yang seukuran manusia dewasa. Lalu dia mengambil boneka berwarna putih dengan bulu yang sangat halus lalu membawanya ke kasir.



Irzal memasukkan boneka ke kursi penumpang di bagian belakang kemudian naik kembali ke dalam mobil. Arsy sedari tadi hanya mengikuti pria itu tanpa bertanya atau mengatakan apapun. Kendaraan yang ditumpanginya kembali melaju sampai akhirnya berhenti di depan kediamannya.


Arsy segera turun dari mobil diikuti oleh Irzal. Pria itu mengambil boneka dari jok belakang kemudian mengikuti gadis itu sampai ke depan teras. Arsy membalikkan tubuhnya menghadap pada Irzal sebelum masuk ke dalam rumah.


“Ar.. bisa kita bicara sebentar?”


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya, kemudian duduk di kursi yang ada di teras. Irzal mendudukkan diri di samping Arsy sambil memangku boneka yang dibelinya. Dia terdiam sebentar sebelum mulai berbicara.


“Ar.. aku tahu pernikahan kita terjadi karena perjodohan. Tapi bukan berarti aku tidak menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Aku sudah berjanji pada kakekmu akan belajar mencintaimu, aku harap kamu pun melakukan hal yang sama. Aku tahu kalau kamu masih menyimpan perasaan pada bang Aqeel dan itu bukan hal mudah untuk langsung dihilangkan. Aku hanya berharap kamu bisa merelakan perasaanmu itu. Lakukan pelan-pelan kalau masih sulit. Pernikahan kita tinggal seminggu lagi, dan aku mau pernikahan itu menjadi pernikahanku seumur hidup.”


“Aku tahu, mas. Aku juga harap mas bisa bersikap lebih lembut. Jangan bersikap impulsif dan mengambil kesimpulan tanpa bertanya lebih dulu. Sama seperti mas, aku juga mau pernikahan yang kita jalani sekali seumur hidup. Aku juga akan berusaha mencintai dan menerimamu sebagai imam hidupku.”


“Baiklah, aku pulang dulu. Kalau ada yang mau kamu tanyakan soal pernikahan, kamu bisa hubungi Raisya atau mama Rain. Aku akan mengirimkan nomernya padamu. Selama seminggu ke depan kita tidak akan bertemu. Sampai bertemu saat akad nanti. Dan ini, terserah mau kamu apakan boneka ini. Aku pulang, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Irzal berdiri kemudian memberikan boneka pada Arsy. Tubuh gadis itu sedikit terhuyung ketika menerima boneka yang tingginya hampir setara dengannya. Matanya terus menatap Irzal yang berjalan menuju mobil. Tak lama kemudian kendaraan roda empat itu meninggalkan kediamannya. Arys memeluk erat boneka yang diberikan Irzal, diciuminya kepala boneka berbulu halus itu.


🍁🍁🍁


**Ada yang udah cemburu tapi gengsi mau bilangnya😂


Yang kangen om Dimas, itu udah nongol om Dimasnya, sekarang dipanggil Yangpa🤭**

__ADS_1


__ADS_2