Hate Is Love

Hate Is Love
Kapten Basket


__ADS_3

Arya nampak bersemangat sekali. Setelah membersihkan tubuhnya, pria itu langsung memakai kaos plus bokser tanpa dalaman lagi. Tentu saja hal tersebut untuk memudahkan acara jebol gawang nanti. Matanya melirik ke pintu kamar mandi yang masih tertutup. Sang istri masih belum selesai berganti pakaian. Dalam pikiran Arya, Shifa akan keluar mengenakan lingerie seksi.


Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Arya yang sedang duduk menyender di atas kasur langsung melayangkan pandangannya. Shifa terlihat keluar mengenakan lingerie berbahan tipis dengan belahan dada rendah. Rambutnya dibiarkan tergerai dikibaskan begitu saja olehnya. Itulah yang ada dalam bayangan Arya, nyatanya Shifa keluar mengenakan piyama lengan pendek.


“Ar..”


Shifa melambaikan tangannya ke depan wajah suaminya, membuat lamunan Arya buyar. Wanita itu langsung naik dan berbaring di sebelah Arya. Pria itu mengucek matanya, kini sosok Shifa mulai terlihat jelas. Alih-alih mengenakan lingerie, sang istri justru mengenakan piyama.


“Yang.. kok kamu pake piyama sih?” protes Arya.


“Emangnya kenapa? Kan piyama baju buat tidur juga.”


“Harusnya kamu pake lingerie bukan piyama.”


“Emang harus ya pake lingerie? Bisa masuk angin aku, pake baju kurang bahan kaya gitu.”


“Aaahh.. kamu tuh gimana sih. Aku kan udah beliin lingerie buat hantaran nikah. Harusnya dipake dong, nyenengin hati suami. Kamu pasti kelihatan lebih cantik kalau pake lingerie.”


“Jadi sekarang aku ngga cantik, gitu?”


“Ya ngga gitu, Yang.


Arya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bukan seperti ini malam pertama yang dibayangkan olehnya. Biasanya pada malam pertama pasangan pengantin akan malu-malu, ini malah terlibat perdebatan mulut. Bukan beradu bibir, tapi beradu kata-kata.


“Percuma dong aku beliin lingerie kalau ngga kamu pake.”


“Ish.. dari tadi kamu ngeributin lingerie mulu. Ini kamu mau malam pertama, ngga? Kalau ngga, ya udah. Aku mau tutup warung, mau tidur.”


Shifa langsung membelakangi Arya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Hatinya kesal, di malam pertamanya, Arya malah sibuk memprotes apa yang dipakainya. Sepertinya dia harus banyak bersabar menikah dengan berodong, yang sialnya sudah membuatnya jatuh cinta.


“Ayang… jangan tidur. Nasib ular cobraku gimana kalau kamu tidur.”


“Bodo.”


“Ayaaaang..” rayu Arya.


“Ih.. kamu tuh jadi laki bawel banget. Biasanya laki tuh banyak kerja, sedikit bicara.”


“Ok. Aku bakal buktiin, seperti apa yang sedikit bicara dan banyak kerja.”


Dengan cepat Arya membalik tubuh Shifa. Disibaknya selimut yang membungkus tubuh sang istri. Pergerakan Arya yang tiba-tiba, tentu saja membuat Shifa terkejut. Namun belum hilang keterkejutannya, pria itu sudah menghujani wajahnya dengan ciuman. Dari mulai kening, mata, hidung dan pipi mendapat ciuman dari suaminya. Dan kini bibir Arya sudah berada di bibirnya. Pria itu mulai menyesap dan memagut bibirnya yang baru terkena sentuhan bibir lelaki.


Rupanya Arya cukup lihai juga memainkan bibirnya. Entah dari mana dia belajar. Setahu Shifa, Arya itu jomblo sejak lahir. Mungkin saja dia sering melihat adegan ciuman di film, jadi secara teori sudah khatam. Bibir pria itu terus memberikan lum*tan dan pagutan yang membuai sang istri. Bahkan kini lidahnya sudah masuk ke rongga mulut Shifa, menarik dan membelit lidah istrinya.


Tangan Arya juga mulai bergerak. Awalnya dia hanya mengusap tubuh sang istri. Kemudian tangannya mulai meremat bukit kembar Shifa. Dia terkejut karena Shifa masih mengenakan penutup bukit kembarnya. Terlebih dulu pria itu membuka kancing piyama sang istri.


“Tuh kan, ribet banget, Yang. Terus kamu kenapa tidur harus pake bra segala sih. Ngga bagus tau. Kalau tidur tuh jangan pakai bra, masa mmpphhh..”


Ucapan Arya tidak bisa diteruskan. Shifa memilih membungkam bibir suaminya dengan bibirnya, dari pada mendengar ocehannya yang tidak jelas. Tentu saja Arya langsung menyambut ciuman sang istri. Tak berapa lama, dia melepaskan ciumannya.


“Yang, bangun dikit. Susah ini mau lepas pengaitnya,” protes Arya.


Mau tak mau Shifa sedikit mengangkat tubuhnya. Tangan Arya menelusup ke balik punggung sang istri, kemudian melepaskan penutup bukit kembarnya. Terdengar decak kagum Arya melihat bukit kembar yang terlihat montok di matanya. Shifa jadi malu sendiri dilihat begitu intens. Sontak pipinya merona.


Cukup lama Arya memperhatikan pemandangan indah di depannya. Tangannya hanya mengusap-ngusap permukaan bukit kembar itu. Malu terus ditatap, Shifa menarik kepala Arya, lalu membenamkannya di antara bukit kembarnya. Kali ini tidak terdengar lagi ocehan dari mulut Arya. Pria itu sibuk memainkan bukit kembar sang istri yang bentuknya bulat dan padat.


Setelah mendapatkan mainan baru, Arya tak lagi mengoceh. Kini hanya bahasa tubuhnya saja yang berbicara. Suasana pun semakin panas di antara mereka, padahal Arya baru menjeleajah bagian atas. Pria itu menghentikan sejenak cumbuannya, lalu melepas kaos yang membungkus tubuhnya.


Des*han Shifa terus terdengar saat Arya tak berhenti memberikan sentuhan dan ciuman di seluruh tubuh. Kini tangannya sudah melepaskan celana panjang sang istri dan menyisakan segitiga pengaman saja. Tak ingin repot, dia pun melepaskan kain yang tersisa. Lembah surgawi yang asri dan indah terpampang nyata di hadapannya.

__ADS_1


Tak ingin kalah dengan sang kakak, adik kecilnya mulai menggeliat, minta dikeluarkan dari sarangnya. Arya pun mengalah, dia membiarkan adik kecilnya bertemu dengan pasangannya. Wajah Shifa kembali merona melihat adik kecil suaminya yang gagah dan sudah siap tempur.


Semasa sekolah dulu, Arya adalah kapten basket di sekolahnya. Dan sekarang dia siap untuk kembali memainkan olahraga yang melambungkan nama Michael Jordan. Dengan gerakan cepat, dia memainkan bola dengan kedua tangannya. Sesekali tangannya menyentuh jaring yang akan menjadi tempat masuknya bola miliknya.


Arya terus bergerak mencari posisi yang tepat untuk memasukkan bolanya. Dia tidak mau melakukan kesalahan. Percobaan pertama dia melakukan lemparan three point, ternyata percobaan pertama gagal pemirsa. Bola tidak bisa masuk ke dalam ring. Arya tak berputus asa, dia kembali bergerak dan sekarang posisinya sudah berada di tengah-tengah. Dia akan melakukan tembakan free throw.


Pria itu berkonsentrasi melakukan tembakan penalty ke ring yang ada di depannya. Kemudian dia mulai melemparkan bola dan akhirnya bola berhasil masuk ke dalam ring. Untuk sejenak dia masih merasakan euphoria kegembiraan berhasil membobol ring lawan.


Setelah cukup beristirahat, Arya kembali melakukan gerakan-gerakan yang membuat Shifa semakin dibuat melayang. Pria itu terus menembakkan bolanya ke dalam keranjang. Kali ini dia melakukan one hand shoot, disusul dengan lay shoot, dan saat pria itu melakukan jump shoot, ring tersebut bergetar hebat hingga tiang penyangganya ikut bergetar.


Arya tak mengendurkan serangan. Dia kembali melemparkan bola miliknya dengan tembakan bebas, kemudian melakukan rebound. Pria itu berputar kemudian melakukan tembakan hook shoot. Cukup lelah juga dia bermain memporak porandakan ring basket sang istri.


Kali ini Arya merasakan dirinya sudah hampir berada di ujungnya. Dia harus segera mengakhiri permainan. Bola di tangannya dioper ke kanan dan kiri, melewati beberapa sisi lapangan, kemudian dia meloncat sambil melemparkan bola dengan gaya slam dunk. Upayanya berhasil, pria itu berpegangan pada sisi ring basket. Mengistirahatkan tubuhnya yang lelah sambil bergelantungan. Tiang ring kembali bergetar, keranjangnya juga bergoyang hebat. Keduanya sampai ke puncak secara bersamaan.


Tubuh Arya ambruk di atas sang istri. Nafasnya terdengar memburu, namun begitu pria itu benar-benar merasa bahagia dan lega. Setelah seharian mengalami kesialan di hari pernikahannya, ternyata acaranya menjebol ring basket sang istri berjalan dengan mulus dan tanpa hambatan. Bahkan Shifa turut aktif, hingga permainan berjalan seru dan memuaskan.


“Makasih, Yang.”


Arya mencium kening istrinya, kemudian menggulirkan tubuhnya ke samping. Segurat senyum tercetak di wajah Shifa. Akhirnya impiannya sebagai wanita tercapai hari ini. Menikah dan memberikan mahkotanya yang berharga pada sang suami. Suami berondongnya ini ternyata benar-benar seorang pejantan tangguh, dibalik mulutnya yang tak berhenti mengoceh.


Arya membopong tubuh sang istri, lalu membawanya ke kamar mandi. Dia membersihkan **** ***** mereka yang basah akibat permainan panas tadi. Kemudian dilanjutkan dengan berwudhu. Keduanya kembali ke kamar, dengan Shifa berada dalam gendongan suaminya. Mereka kembali mengenakan pakaian dan berbaring di kasur.


“Yang.. kamu mau cepat-cepat punya anak, ngga? Atau kamu masih mau bertanding lagi? Kita bisa menundanya kalau kamu masih ingin bertanding. Dua atau tiga tahun ngga masalah.”


“Ngga, aku sedikasihnya aja. Kalau ditanya mauku, aku mau cepat punya anak. Kamu tahu kan umurku sekarang udah 27 tahun. Kalau ditunda lagi, nanti akunya keburu tua.”


“Aku sih ikutin kamu aja, Yang.”


“Makasih ya, Ar. Ehmm.. kamu mau aku panggil apa? Biar usia kamu lebih muda dariku, tapi kamu sekarang suamiku, imamku.”


“Senyamannya kamu aja, Yang.”


“Aku suka panggilan itu. Coba dong panggil aku.”


“Ay..ang.”


“Iya, bee.”


Shifa hanya tersenyum mendengar Arya merubah panggilannya dari Yang ke bee. Apapun panggilan yang diberikan suaminya, dia menyukainya. Arya menyatukan bibir mereka kembali, keduanya kembali terlibat pertarungan bibir yang cukup panjang dan harus diakhiri ketika oksigen di sekitar mereka mulai menipis. Arya menarik Shifa ke dalam pelukannya. Sambil memeluk tubuh istrinya, dia bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya.


🍁🍁🍁


Sepasang suami istri nampak sedang bersiap di kamar pribadinya. Sebuah koper dan satu buah traveling bag sudah siap di dekat pintu kamar. Irzal memakai jam di pergelangan tangannya sambil menunggu sang istri yang sedang mengenakan hijabnya.


Sesuai rencana, setelah masa magang Arsy selesai, mereka akan melakukan bulan madu kedua. Setelah pernikahan Arya dan persalinan Dayana, keduanya segera merealisasikan rencana mereka. Aidan memang mempersilahkan atasannya untuk mengambil cuti lebih dulu. Dia yang akan menjaga perusahaan selama Irzal berbulan madu kedua bersama istri tercinta.


Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit ketika keduanya turun ke lantai bawah. Di sana Elang dan Azkia sudah menunggu. Mereka memang sudah mengatakan rencana bulan madu kedua pada pasangan itu.


“Kalian berangkat sekarang?” tanya Elang.


“Iya, yah. Mumpung masih pagi, biar sampai di sana tidak terlalu siang.”


“Ngga sarapan dulu?” tawar Azkia.


“Kita sarapan di jalan aja, bun.”


“Kalian berapa lama di sana?”


“Kalau ngga ada halangan seminggu, bun.”

__ADS_1


“Baik-baik, ya. Bunda harap kalian bawa kabar gembira sepulang bulan madu nanti.”


“Aamiin..” jawab Arsy.


Acara bulan madu kedua ini memang dimanfaatkan Arsy sebagai ajang promil. Keduanya sudah berkonsultasi pada dokter kandungan untuk program memiliki momongan. Arsy juga sudah diberi resep obat untuk penyubur kandungan. Begitu pula dengan Irzal. Dan mereka sengaja pergi berbulan madu di saat Arsy sedang berada di masa subur.


Setelah berpamitan dengan Elang dan Azkia, keduanya segera menuju mobil yang sudah disiapkan di depan rumah. Sesuai permintaan Arsy, mereka tidak akan pergi keluar negeri atau ke tempat yang jauh untuk berbula madu. Mereka akan menuju Tasikmalaya, tepatnya di kecamatan Salopa. Irzal juga memilih mengendarai mobilnya sendiri.


Arsy melambaikan tangan pada kedua mertuanya ketika mobil yang dikemudikan suaminya bergerak. Mereka sengaja berangkat di pagi hari dan memilih sarapan di perjalanan saja. Arsy membuka kaca jendela mobil, membiarkan udara yang masih sejuk menerpa kulitnya.


Irzal membelokkan kendaraannya memasuki jalan Sulanjana. Dia ingin menikmati sarapan bubur di salah satu tempat yang cukup terkenal di kota Bandung. Selain bubur, di sana juga disediakan aneka macam makanan. Pria itu menghentikan kendaraannya di depan kedai bubur tersebut. Terlihat beberapa pengunjung sudah datang dan menikmati sarapan. Bersama sang istri, dia segera masuk ke dalam kedai.


Hanya setengah jam saja waktu yang dihabiskan Irzal dan Arsy untuk sarapan. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tak lupa mereka mampir dulu di toko kue basah untuk membeli makanan sebagai bekal selama perjalanan. Dan jangan lupakan kopi dan air mineral.


Selama perjalanan, mereka membicarakan banyak hal, terutama rencana masa depan mereka. Tentang pekerjaan dan anak-anak tentunya. Sesekali Irzal menggenggam tangan sang istri, kemudian mengecup punggung tangannya.


“Kamu mau langsung ambil residensi?” tanya Irzal.


“Ngga tahu, mas. Kalau aku langsung isi, kayanya ngga deh. Tapi kalau masih ketunda, aku mau ambil residen.”


“Apapun pilihanmu, mas akan dukung kamu.”


“Makasih, mas.”


Arsy mencium punggung tangannya. Wanita itu sungguh bersyukur memiliki suami yang begitu pengertian dan sangat mencintainya. Lelaki yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan menjadi pendamping hidupnya.


“Mas kenapa pilih pergi ke Salopa?”


“Ehmm.. di sana ada beberapa tempat wisata, dan ada yang masih alami. Belum banyak orang yang pergi ke sana. Kita bisa menghabiskan waktu berdua sambil berpetualang. Tapi aksesnya agak jauh dan harus jalan kaki lumayan juga. Kamu ngga apa-apa?”


“Yang penting perginya sama mas. Kalau cape. Ada mas yang bisa gendong aku.”


Irzal hanya menanggapi ucapan sang istri dengan kecupan di punggung tangan wanita itu. Arsy membuka kotak kue yang tadi dibelinya. Dia mengambil kue lumpur, kemudian menyuapkannya ke mulut sang suami.


“Ehm.. rasanya enak. Teksturnya lembut kaya bibir kamu.”


“Belum sampe mas, jangan mancing.”


“Hahaha…”


Setelah menempuh perjalanan selama empat jam lebih, akhirnya mereka tiba juga di kota Tasik. Irzal sengaja memesan kamar di salah satu hotel yang ada di sana. Besok baru mereka akan menuju Salopa, menikmati wisata alam yang ada di sana. Dia segera mengarahkan kendaraannya menuju hotel tersebut.


Pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur, mengistirahatkan punggungnya yang pegal berada di belakang kemudi hampir lima jam lamanya. Arsy menyusun baju di dalam koper ke dalam lemari dan juga mengeluarkan barang-barang dari travelbag. Dia menaruh alat kosmetiknya di meja rias lalu menyusul sang suami ke atas ranjang.


“Capek ya, mas.”


“Lumayan.”


“Shalat dulu, mas. Udah masuk dzuhur.”


“Vitamin dulu dong, sayang.”


Arsy memposisikan tubuhnya di atas Irzal. Dia lalu mencium bibir suaminya dengan mesra. Sebelah tangan Irzal memeluk pinggang istrinya, sebelah lagi menahan tengkuknya. Ciuman keduanya semakin dalam dan intensif. Arsy segera mengakhiri ciuman mereka sebelum terhanyut terlalu dalam.


Sambil menarik tangan suaminya, wanita itu berjalan menuju kamar mandi. Irzal segera berwudhu untuk memimpin shalat bersama sang istri. Setelah itu tentu saja dia akan melanjutkan adegan mereka yang tertunda. Anggap saja cicilan pertama untuk program kehamilan yang akan dijalani istrinya.


🍁🍁🍁


**Sosor teroooosss🤣🤣🤣

__ADS_1


Arya aku kasih hadiah jebol gawangnya sukses, abis dibikin sial🤭**


__ADS_2