
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Sedari tadi Adisty tidak enak tidur, tubuhnya terus bergerak ke kanan dan kiri. Rasa mulai mulai dirasakan di area perutnya. Wanita itu bangun dari tidurnya kemudian berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Ingin rasanya wanita itu membangunkan suaminya, tapi tidak tega melihat Aidan sedang tidur dengan pulasnya.
Sejak menikah dengan Aidan, Adisty memang memutuskan untuk hidup mandiri. Mereka tinggal terpisah dari kedua orang tua masing-masing. Bahkan untuk asisten rumah tangga, mereka hanya mempekerjakan pagi sampai sore saja. Di sisa hari, Adisty yang menangani semuanya.
Menjelang HPL, wanita itu juga tidak mau ketika diajak pindah ke rumah mertua atau orang tuanya. Dia tetap bertahan di rumahnya, mengurusi segala sesuatunya sendiri. Dan sekarang, di saat dirinya mulai merasakan kontraksi, wanita itu pun memendamnya sendiri. Dia masih belum mau membangunkan suaminya. Menunggu sampai waktu yang benar-benar tepat.
Setelah meneguk satu gelas air putih, wanita itu kembali ke kamar. Dia membaringkan tubuhnya di samping Aidan. Tak berapa lama dia bangun lagi, ketika merasakan kontraksi. Sejenak Adisty duduk terdiam di atas kasur, kemudian berjalan-jalan di kamarnya, sambil mengelusi perutnya.
Tak terasa sudah satu setengah jam berlalu. Waktu kini menunjukkan pukul dua dini hari. Rasa sakit yang menyergap semakin dekat saja jaraknya. Akhirnya Adisty memuntuskan untuk membangunkan sang suami. Sambil meringis menahan sakit, dia berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di tepinya.
“Mas.. bangun mas..” Adisty menepuk pundak suaminya pelan.
“Mas..”
“Eeuughhh..”
Terdengar lenguhan Aidan. Merasakan guncangan di bahunya, akhirnya pria itu membuka matanya. Nampak Adisty duduk di sisi ranjang dengan wajah meringis, menahan sakit. Sontak Aidan bangun dari tidurnya.
“Sayang.. kamu udah mulai kontraksi?”
“Iya, mas. Bisa antar ke rumah sakit sekarang?”
“Iya… iya..”
Bergegas Aidan bangun, kemudian menuju kamar mandi. Setelah menggosok gigi dan mencuci muka, pria itu membuka lemari dan mengambil tas yang sudah disiapkan sebelumnya. Dia juga memakaikan cardigan di tubuh sang istri.
“Hujan ya, Yang.”
“Iya, mas. Udah sejam hujan.”
“Ayo.”
Dengan membimbing tubuh istrinya, dia segera keluar dari kamar. Pria itu menuju garasi, kemudian memanaskan mobil. Setelah membantu Adisty masuk ke dalam mobil, pria itu mulai mengeluarkan mobil dari garasi. Dia turun sebentar untuk menutup gerbang, kemudian kembali ke mobil. Adisty mengeringkan tangan dan wajah sang suami yang terkena air hujan dengan tisu.
Wiper mobil terus bergerak menghalau air yang jatuh membasahi kaca mobil. Suasana jalan cukup lengang, Aidan menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia melihat sang istri yang terdengar beberapa kali menarik dan menghembuskan nafas.
“Kita telepon mama ya.”
“Jangan, mas. Nanti aja kalau udah lahiran. Pasti mereka masih istirahat.”
“Kamu ngga apa-apa? Lebih tenang kalau ada mama.”
“Ngga apa-apa, mas. Cukup mas yang di samping aku.”
Aidan hanya menganggukkan kepalanya. Dia kembali menjalankan kendaraannya, setelah tadi berhenti cukup lama di lampu merah. Tak berapa lama kemudian, dia sudah sampai di rumah sakit Ibnu Sina. Dia mengarahkan kendaraan menuju IGD rumah sakit tersebut. Seorang perawat sudah menunggu di depan pintu masuk IGD. Tadi pria itu memang sudah menghubungi rumah sakit.
Setelah memarkirkan kendaraannya, Aidan bergegas memasuki IGD. Sang istri baru saja selesai diperiksa dan sekarang akan diantar menuju lantai lima. Suster yang bertugas segera menghubungi dokter Puspa. Dokter kandungan itu yang menangani kehamilan Adisty sejak wanita itu dinyatakan positif.
Bidan langsung memeriksa pembukaan Adisty yang baru saja masuk pembukaan enam. Dia diminta berjalan-jalan untuk mempercepat jalan lahir. Sambil menemani istrinya, Aidan menyuapkan roti pada sang istri. Walau tidak bernafsu, namun Adisty memaksakan diri untuk makan. Dia butuh tenaga besar untuk melahirkan putra pertamanya.
Terdengar suara adzan shubuh yang berasal dari ponsel Aidan. Sebelum berpamitan untuk shalat shubuh, terlebih dulu Aidan mengantarkan istrinya ke ruang persalinan. Bergegas pria itu menuju lantai sepuluh. Dia akan menunaikan ibadah shalat shubuh di mushola yang ada di rumah sakit tersebut.
Ketika Aidan selesai menjalankan kewajibannya dan kembali ke ruang persalinan, nampak dokter Puspa sudah berada di sana ditemani oleh bidan dan dua orang perawat. Rupanya pembukaan sang istri sudah lengkap. Pria itu segera memposisikan diri di samping sang istri. Beberapa kali Adisty mengambil nafas, kemudian mengejan untuk mengeluarkan anaknya.
“Aaaaaa..”
Terdengar teriakan Adian ketika rambutnya dijambak dengan kuat oleh Adisty, saat wanita itu mulai mengejan. Pria itu mengusap kepalanya yang terkena jambakan. Di tangan sang istri terlihat beberapa helai rambutnya yang tertarik tadi. Adisty bersiap kembali mengejan. Aidan menjauhkan kepalanya, agar tidak terkena jambakan lagi, naas, kali ini tangannya yang terkena cengkeraman kuku Adisty.
“Aaaaaa..”
Kembali terdengar teriakan Aidan. Kali ini tangannya sudah dipenuhi lecet bekas tapak kuku istrinya. Adisty merasakan kontraksi lagi, demi mengurangi rasa sakit, dia mencubit tangan Aidan hingga meninggalkan warna kemerahan. Penderitaan Aidan akhirnya berakhir ketika sang istri berhasil melahirkan anak pertamanya.
__ADS_1
OEK
OEK
OEK
Suara tangis bayi laki-laki yang dilahirkan Adisty terdengar kencang memenuhi sesisi ruangan. Semua yang ada di ruangan langsung mengucapkan syukur. Pukul lima lebih lima belas menit, anak pertama pasangan Adisty dan Aidan berhasil lahir dengan selamat. Suster segera membawa bayi mungil itu untuk dibersihkan, ditimbang dan diukur.
Aidan menciumi wajah Adisty yang nampak lelah setelah berjuang setengah jam lebih mengeluarkan anaknya. Rupanya kegiatan di pagi dan sore hari, berjalan-jalan, plus melantai, alias mengepel lantai manual, menggunakan tangan, bukan kain pel bergagang membuatnya tidak kesulitan saat melahirkan anak pertamanya. Konon kelahiran anak pertama itu cukup sulit, namun tidak terjadi padanya.
Dengan wajah menyunggingkan senyuman, dia melihat anaknya yang tengah menyusu di atas dadanya. Tangannya bergerak mengusap rambut sang anak yang cukup lebat dan berwarna hitam pekat. Aidan pun menatap buah hatinya tanpa berkedip. Tak percaya rasanya kalau sekarang sudah menjadi ayah.
“Berat badannya berapa, sus?” tanya Adisty.
“Beratnya 3,3 kg dan panjangnya 50 cm.”
“Alhamdulillah,” ujar Aidan.
Bidan masih terus membersihkan darah yang masih tersisa di dalam rahim. Beruntung Adisty tidak harus digunting jalan lahirnya, hingga wanita itu tidak perlu menerima jahitan setelah melahirkan. Setelah keadaan Adisty dinyatakan aman, dan bayinya juga sudah diinisiasi dini, dokter memperbolehkan wanita itu kembali ke ruang perawatan.
🍁🍁🍁
Di ruang perawatan VIP, nampak Aidan sedang tertidur lelap di atas bed, sambil memeluk Adisty. Anak mereka pun sedang tertidur pulas di dalam boks. Pintu ruangan perawatan tersebut terbuka, dari luar masuk Azra bersama dengan Fathan. Di belakangnya menyusul orang tua Aidan. Mereka baru saja mendapatkan kabar dari pihak rumah sakit kalau Adisty sudah melahirkan.
Kepala Azra menggeleng melihat anak dan menantunya yang tengah tertidur pulas. Saking bahagia dan lelahnya menemani sang istri melahirkan anak pertama mereka, Aidan sampai lupa mengbarkan pada kedua orang tua dan mertuanya perihal kelahiran cucu mereka. Dokter Puspa sendiri yang menghubungi Azra dan memberitahunya.
Tidur Aidan terusik ketika mendengar suara-suara di ruang perawatan. Perlahan matanya terbuka. Dia terkejut saat melihat orang tua dan mertuanya sudah berada di ruangan ini. Dengan cepat dia bangun dari tidurnya.
“Papa.. mama..” Aidan mencium punggung tangan keempat orang tersebut.
“Keterlaluan kamu, Dan. Istrimu melahirkan kenapa ngga kasih tau mama?” semprot mana Aidan.
“Kapan anakmu lahir?”
“Jam lima lebih lima belas menit, ma. Kita ke rumah sakit jam dua, makanya ngga sempat kasih kabar.”
Kali ini Adisty yang terbangun mendengar perbincangan suaminya. Masih dalam keadaan mengantuk, wanita itu memanggil kedua orang tuanya. Fathan segera menghampiri sang anak, kemudian mendaratkan ciuman di keningnya.
“Papa.. maaf aku ngga langsung kasih kabar.”
“Ngga apa-apa, sayang. Yang penting anak kalian lahir dengan selamat, kamu juga selamat. Itu sudah cukup.”
“Anak nakal. Kamu membuat mama cemas saja,” Azra mendekat lalu memeluk anaknya. Kedua mertuanya pun ikut mendekat dan memeluknya.
Perhatian mereka langsung teralihkan ketika mendengar suara tangis cucu mereka. Aidan mengambil anaknya, kemudian memberikannya pada Adisty. Dia menarik tirai untuk menutupi bed. Kemudian mengajak yang lain duduk di sofa. Azra segera menghubungi Juna dan mengatakan kabar bahagia tersebut. Fathan juga menghubungi Agung untuk mengabarkan kelahiran cicit pria itu.
“Namanya siapa, Dan?” tanya papa Aidan.
“Ganendra Hadrian Basman.”
“Nama yang bagus. Papa suka,” Fathan menepuk pundak menantunya ini.
“Syukuran aqiqah, nanti sekalian dengan syukuran Fara dan Farraz,” cetus Azra.
“Aku ikut aja, ma.”
“Ini permintaan grandpa. Acaranya diadakan di rumah grandpa.”
Hanya anggukan kepala saja yang diberikan Aidan. Rencana acara syukuran tersebut memang sudah didengarnya sejak kelahiran anak kembar Arya. Aidan sendiri tidak keberatan dan mengikuti saja kemauan para tetua. Acara kumpul bersama keluarga, kembali dilaksanakan.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Semua anak dan cucu keluarga Hikmat dan Ramadhan kembali berkumpul di hari bahagia. Mereka merayakan kelahiran anak kembar Arya dan anak Adisty. Acara dilangsungkan di kediaman Juna. Hal itu untuk menghindari perdebatan antara Cakra dan Jojo yang bersikeras syukuran kelahiran cicit kembar di adakan di kediaman mereka.
Rumah Juna sudah dipenuhi oleh anggota keluarga, tak lupa juga dengan cicit mereka yang baru saja lahir. Pria itu sampai harus memasang tenda di depan rumahnya untuk menampung tamu yang berasal dari tetangga, kerabat dan rekan bisnis dua keluarga besar tersebut.
Sebelum datang ke kediaman Juna, Shifa dan Arya menghadiri acara konferensi pers lebih dulu. Shifa mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia bulu tangkis. Tentu saja banyak yang menyayangkan keputusan ibu muda itu. Shifa mundur saat dirinya berada di puncak kejayaan. Namun Shifa sudah membulatkan tekadnya, dia hanya ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik. Mengurus anak-anak dan suaminya. Keputusannya itu juga mendapat dukungan penuh dari Azriel.
“Fa.. kamu beneran mundur dari bulu tangkis?” tanya Rakan yang tadi melihat siaran langsung konferensi persnya.
“Iya, bang. Aku mau fokus sama anak-anak dan suami aja.”
“Kamu ngga ada niatan come back gitu?” tanya Zar.
“Ngga. Aku rencananya nanti mau bantu papa aja, mencari dan melatih bibit baru untuk regenerasi.”
“Bagus, tuh.”
“Nanti rencananya kita mau buat sekolah khusus untuk bulu tangkis, kaya akademi gitu. Mereka yang keterima di akademi, tetap sekolah formal, tapi juga berlatih teratur. Mereka juga bakal tinggal di asrama, supaya lebih disiplin,” terang Arya.
“Wah keren tuh. Tenang aja, aku bakalan dukung soal finansial,” seru Zar.
“Haruslah. Bukan cuma kamu, Irzal, bang Rakan, Ervano, pokoknya semuanya harus dukung secara finansial. Termasuk si Nalen, harus masok sayuran, buah dan daging buat gizi anak-anak nantinya, hahaha..”
Irzal hanya tersenyum saja mendengar ucapan Arya. Dia sudah membicarakan hal ini dengan Azriel, Rakan dan Nalendra. Selain mereka, tentu saja usulan Azriel mendapat dukungan dari Gala Corp, Golden Chains dan juga Mahameru Group. Bahkan PT. Adhijaya Reka Cipta dan Kencana Group juga sudah menyatakan kesiapannya untuk membantu. Akademi besutan Azriel ini akan menjadi akademi bulu tangkis terbesar nantinya. Perekrutan dimulai dari usia dini.
Sementara itu, pandawa lima juga tengah berkumpul bersama. Selain membicarakan cicit mereka yang baru lahir, mereka juga membicarakan rencana pembangunan akademi yang digagas Azriel. Mereka tentu saja memberikan dukungan penuh atas keinginan anak bungsu dari Ega tersebut.
“Selain mencetak pemain bulu tangkis, aku usul ada pendidikan lain juga,” seru Abi.
“Apa? Pendidikan buat pelatih?” tanya Cakra.
“Itu memang akan ada.”
“Konseling psikolog juga akan ada nantinya. Itu untuk membentuk mental pada pemain nantinya,” sambung Juna.
“Kayanya udah lengkap deh. Emang apalagi yang mau ditambah?” tanya Jojo.
“Pelatihan supporter, hahaha…”
Semua tertawa mendengar jawaban nyeleneh Abi. Mereka tidak berhenti terpingkal, ketika pria itu menyebutkan kurikulum apa saja yang akan diajarkan untuk pelatihan supporter ini.
“Nanti ada pelajaran bikin yel-yel, bikin atribut yang mendukung pemain, dan juga trik untuk menjatuhkan mental lawan. Keren kan ideku?” ujar Abi jumawa.
“Heleh.. udah tua juga, tuh otak masih aja korslet,” seru Kevin, tentu saja dengan wajah tanpa dosanya.
“Protes mulu, kasih ide juga ngga,” sindir Jojo.
“Eh boleh nambah satu materi lagi, ngga buat pelatihan supporter?” tanya Cakra.
“Apaan?”
“Bikin kalimat makjleb. Pelatihnya tuh, si kulkas dua pintu, hahaha...”
“Hahaha…”
“Aku sih, yes,” ujar Abi disambung tawanya lagi.
Kevin hanya mencebikkan bibirnya saja mendengar slogan andalannya dipakai oleh Abi. Azriel yang kebetulan posisinya berada dekat dengan pandawa lima, tak bisa menahan tawanya. Dia membayangkan kalau saja pelatihan supporter benar adanya, maka bisa jadi lulusan pelatihan supporter akan kebanjiran job untuk menjadi supporter di setiap pertandingan. Apalagi kalau mereka berhasil mengintimidasi lawan, pasti honornya semakin tinggi. Pria itu menggelengkan kepalanya, mencoba menghalau pikiran nyelenehnya itu.
🍁🍁🍁
Yang mau ikut pelatihan suporter, silahkan daftat ke mang Irut🤭
__ADS_1