
Di akhir pekan, Rafa menepati janjinya pada Dayana. Bersama kedua orang tuanya, pria itu mendatangi kediaman Kevin untuk melamar Dayana. Kedatangan Rafa dan kedua orang tuanya disambut baik oleh Ravin dan keluarganya. Tidak hanya Kevin dan Rindu, tapi Abi dan Nina juga ada di sana.
Ravin mempersilahkan Rafa dan kedua orang tuanya untuk masuk. Agar lebih leluasa berbicara, mereka berkumpul di ruang tengah. Freya memanggil Dayana dan juga Firhan yang masih ada di dalam kamar. Mata Rafa langsung menangkap sosok Dayana yang menuruni anak tangga. Gadis itu terlihat cantik dalam balutan dress berwarna hijau tosca.
“Sebelumnya, kami mengucapkan terima kasih atas sambutan hangatnya. Perkenalkan, saya Rusmana dan ini Reni, istri saya. Kedatangan kami ke sini untuk mengantar anak sulung kami, Rafa melamar Dayana.”
Rusmana melihat pada Dayana, gadis cantik yang sudah berhasil memikat hati putranya. Dia bersyukur Dayana bisa meluluhkan hati Rafa dan membuat pria itu keluar dari keterpurukkannya dan melanjutkan hidup. Reni juga melihat pada gadis itu sambil melemparkan senyum. Dayana membalas senyuman dan tatapan calon mertuanya dengan senyum manisnya.
“Kami hargai niat baik Rafa yang datang melamar Dayana secara baik-baik. Saya dan seluruh keluarga, pada dasarnya tidak keberatan dengan lamaran ini. Tapi alangkah baiknya jika kita mendengarkan apa keputusan Dayana, karena mereka berdua yang akan menjalani biduk rumah tangga. Aya.. apa jawabanmu, nak?”
Kepala Ravin menoleh pada Dayana. Bukan hanya sang papa, tapi semua yang ada di dalam ruangan melihat padanya. Gadis itu melihat pada Rafa yang melihatnya secara intens. Kemudian dia menganggukkan kepalanya. Terlihat kelegaan di wajah Rafa, pria itu sempat takut kalau Dayana belum siap menerima lamarannya.
“Alhamdulillah.”
Terdengar suara yang lain ketika sang gadis yang dilamar menganggukkan kepalanya. Reni terlihat bahagia mengetahui anaknya yang sudah empat tahun menyandang status duda, akhirnya akan berakhir juga. Sebagai seorang ibu, dia merasa kalau Dayana bisa memberikan kebahagiaan pada anak sulungnya itu.
“Kalau calon istrinya sudah setuju, mungkin kita akan membicarakan waktu pernikahannya,” ujar Ravin.
“Rafa, kapan kamu berencana meresmikan hubungan kalian?” tanya Abi.
“Kalau saya, lebih cepat lebih baik. Tapi semua tergantung Aya, saya mengikuti saja kemauannya.”
“Aya..” panggil Nina seraya melihat pada cucunya itu.
“Aku ikut mas Rafa saja.”
“Akhir bulan ini bagaimana?” tanya Ravin.
“Jangan akhir bulan, awal bulan aja. Mundur seminggu,” bisik Kevin di telinga Ravin.
“Kenapa, pa?”
“Papa kalah strategi waktu adu suit sama Cakra. Stella sama Tamar yang duluan nikah.”
Karuan Ravin melotot mendengarnya. Bisa-bisanya Kevin melakukan suit dengan Cakra untuk menentukan siapa yang dulu menikah. Freya yang bisa mendengar percakapan suami dan ayah mertuanya hanya bisa tersenyum saja. Dia jadi teringat saat menikah dulu, Ravin menjadi pemenang pernikahan estafet setelah menang gambreng dari Aric dan Fathan.
“Ehm.. maaf, kalau awal bulan depan bagaimana?” Ravin meralat ucapannya.
“Bagaimana Rafa?” tanya Rusmana pada anaknya.
“Aku setuju, pa.”
“Kamu mau minta mahar apa, sayang?” tanya Reni pada Dayana.
“Aku serahkan sama mas Rafa saja. Yang tidak memberatkan pastinya.”
Sebuah senyuman diberikan Reni mendengar jawaban Dayana. Dia menepuk pelan pundak anaknya. Wanita itu benar-benar bahagia sang anak akan segera mengakhiri kesendiriannya.
“Karena pembicaraan soal waktu selesai, bagaimana kalau kita menikmati hidangan dulu?” tawar Freya yang langsung diangguki yang lain.
Freya bangun lalu mempersilahkan Rafa dan keluarganya menuju ruang makan. Kevin dan yang lainnya segera menikmati. Nina menahan Abi yang hendak beranjak dari duduknya. Dia penasaran kenapa Kevin meminta pernikahan diundur sampai awal bulan, padahal pria itu paling semangat menjodohkan Dayana dengan Rafa.
__ADS_1
“Mas, kok tumben kak Kevin minta mundur waktunya.”
“Dia kalah suit dari Cakra.”
“Hah? Kalah suit gimana?”
“Stella sama Tamar juga mau nikah. Kalau ngga ada halangan, Tamar melamar Stella malam ini juga. Cakra sama Kevin ribut, mereka mau duluan menikahkan cucunya. Jadi biar adil mereka suit dan Kevin kalah.”
“Astaga, kalian ini sudah tua kelakuan masih kaya anak kecil. Pasti mas yang ngusulin.”
“Hehehe..”
“Ampun ya, mas. Kelakuan dari dulu ngga berubah.”
“Jangan ngomel terus sayang. Ayo kita makan, mas udah laper.”
Abi segera membawa istrinya ke ruang makan. Jika tidak dihentikan, maka omelan Nina akan terus memasuki gendang telinganya. Pasangan yang sudah memasuki usia senja itu segera bergabung dengan yang lain.
Rafa mengajak Dayana menikmati makanan di teras rumah. Pria itu ingin membicarakan mas kawin yang akan diberikan untuk calon istrinya itu.
“Ay.. kamu mau mahar apa?”
“Terserah mas aja.”
“Kapan kamu mau membeli cincin pernikahan? Sepertinya waktu persiapan kita tidak lama.”
“Kalau mas Rafa libur praktek aja.”
“Hmm.. boleh. Mau minggu depan atau besok?”
“Boleh.”
Senyum Dayana mengembang, malam ini dia benar-benar bahagia. Usahanya selama ini ternyata membuahkan hasil. Tidak sia-sia rasanya dia mengejar Rafa, melakukan gaya tarik ulur seperti layangan. Akhirnya Rafa jatuh juga ke dalam pelukannya. Keberhasilannya ini tentu tidak lepas dari campur tangan Rena. Dia akan mengunjungi wanita itu di kediaman Nara, anaknya.
🍁🍁🍁
Di kediaman Cakra, acara lamaran juga sedang berlangsung. Tamar yang sudah keluar dari rumah sakit, dipaksa oleh ibunya untuk melamar Stella. Adiknya, Bima, juga ikut dalam acara lamaran tersebut. Dia penasaran ingin melihat siapa wanita yang berhasil menaklukkan hati sang kakak yang terkenal cuek dan jutek.
Cakra, Irvin, Anya, Sekar, Radix dan Naysila menyambut baik kedatangan calon besannya. Sebelum membicarakan lamaran, mereka berbincang ringan. Irvin menanyakan Bima, yang bekerja sebagai ASN di Bogor. Sikap Bima lebih ceria dan supel, keduanya langsung terlibat perbincangan seru. Sedang Tamar hanya menyimak saja, sambil sesekali melihat pada Stella dengan wajah masam.
“Bima ini lucu ya, kamu sudah punya calon?” tanya Cakra.
“Belum eyang. Saya masih jomblo, gara-gara kakak saya yang ngga laku-laku ini.”
Mata Tamar melotot mendengar celotehan adiknya. Dengan kesal dia menjitak kepala sang adik. Cakra hanya bisa tertawa melihat tingkah kedua kakak adik di depannya. Stella nampak tertawa puas melihat Bima menjatuhkan harga diri sang kakak.
“Dia itu jutek banget, eyang. Makanya saya salut sama Stella, dia tahan banting sama sikap jutek kakak saya. Semoga kalian langgeng ya. Dan terima kasih Stella, karena kamu mau menerima bang Tamar, aku sekarang bisa cari calon istri, hahaha..”
“Heleh bilang aja ngga laku, pake gue sebagai alasan doang,” sembur Tamar yang kesal selalu dipojokkan oleh Bima.
“Emang bener. Gue ngga berani pacaran, takut ditagih nikah sama pacar gue, tapi gue kan ngga bisa ngelangkahin abang gue yang jomblo akut ini.”
__ADS_1
“Nih anak ya…”
“Sudah.. sudah.. kalian itu kalau bertemu pasti ribut. Pak, langsung saja,” Wida memberi tanda pada suaminya.
Melihat kode yang diberikan oleh istrinya, Ahmad segera mengutarakan tujuannya datang menemui Cakra sekeluarga. Pria itu bermaksud melamar Stella untuk anak sulungnya, Tamar. Kalau mau jujur, Radix sebenarnya lebih menyukai Bima dari pada Tamar. Pria itu jauh lebih ramah dan supel dibanding Tamar.
“Bagaimana Stel? Apa jawabanmu?” Irvin melihat pada putrinya.
“Penting gitu pa, jawabanku?” bisik Stella di telinga papanya.
“Alhamdulillah, Stella setuju. Dia malu makanya jawabnya bisik-bisik,” seru Irvin.
“Alhamdulillah,” sahut yang lain.
Stella hanya mencebikkan bibirnya. Lain di telinga lain di bibir. Gadis itu benar-benar terjebak dalam acara lamaran yang dirancang oleh keluarganya sendiri. Dia melihat pada Tamar yang tidak mengatakan apapun. Percuma juga, sang ibu pasti sudah menyiapkan jurus untuk menyangkal semua argumennya.
“Kira-kira kapan rencana pernikahannya?” tanya Ahmad.
“Akhir bulan ini saja,” putus Cakra.
“Bagaimana Tamar, kamu setuju kan?” Wida bertanya pada anaknya.
“Terserah mama aja. Kan mama yang ngebet pengen punya mantu,” jawab Tamar dengan suara pelan.
“Tamar setuju katanya.”
“Alhamdulillah.”
Baik Stella hanya pasrah saja mendengarkan pembicaraan kedua keluarganya. Mereka langsung memutuskan kapan waktu pernikahan dan menyerahkan semua persiapan pada L’amour. Wedding Organization milik Rain yang juga menangangi pernikahan Arsy dan Irzal dulu.
“Soal maharnya bagaimana?” tanya Ahmad.
“Biar pasangan pengantin saja yang putuskan,” jawab Anya.
“Asal jangan selongsong peluru aja mas kawinnya,” celetuk Bima yang langsung disambut gelak tawa lainnya.
Setelah perbincangan seru yang dilanjut makan malam, Wida dan Ahmad segera berpamitan. Besok mereka akan kembali ke Bogor. Ahmad dan Bima harus kembali bekerja di hari Senin. Cakra dan yang lainnya mengantar keluarga calon besan ke mobilnya.
“Puas kamu sekarang?” tanya Tamar yang berjalan di belakang bersama dengan Stella.
“Ngga usah geer. Abang pikir aku suka apa nikah sama abang?”
“Makanya kamu kalau ngomong jangan asal nyeplos.”
“Bodo.”
“Berdoa yang banyak, supaya pernikahan kita gagal.”
Setelah mengatakan itu, Tamar bergegas menyusul keluargaya. Dia berpamitan pada Cakra dan yang lain, kemudian naik ke mobilnya. Semua keluarga Stella masih berada di luar, sampai kendaraan yang membawa Tamar dan keluarganya meninggalkan kediaman mereka.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Jangan protes babnya terlalu sedikit. Hargai aja usahaku yg tetap up di tengah kesibukan keluarga besarku🙏
Besok aku OFF, dan Senin jangan ngarep up cepet². Lelah hayatun masih melanda**.