Hate Is Love

Hate Is Love
Alur Cinta


__ADS_3

Ridwan membaca laporan yang diberikan oleh Tamar. Pria itu puas karena dalam waktu cepat anak buahnya sudah bisa meringkus pelaku pembunuhan yang diketahui kemarin pagi. Dia meletakkan berkas laporan di atas meja, lalu melihat pada Tamar.


“Kerja bagus. Kamu berhasil meringkus pelaku kurang dari 24 jam. Dari mana kamu mendapatkan informasinya? Padahal lokasi penangkapan dan TKP cukup jauh.”


“Euung ituu..”


Tamar terdiam sejenak, mencoba mencari alasan yang masuk akal. Tidak mungkin dirinya mengatakan mendapatkan informasi atas bantuan makhluk astral. Bisa-bisa sang atasan akan merekomendasikan dirinya konsultasi ke psikiater.


“Dari kesaksian warga, sepertinya ada yang janggal. Saya telusuri itu sampai akhirnya mengarah pada pelaku yang sebenarnya.”


“Intuisimu memang tidak pernah salah. Saya tahu kamu adalah polisi yang handal. Sudah banyak kasus yang berhasil kamu pecahkan. Saya kasih kamu libur dua hari. Habiskan waktu dengan calon istrimu, jangan bekerja terus.”


“Hah?”


Pria itu terkejut saat mendengar sang atasan membahas perihal calon istri. Entah pria itu mendapat kabar palsu dari mana. Jangankan calon istri, pacar saja dia belum punya. Melihat gerakan tangan Ridwan yang mempersilahkannya keluar ruangan, Tamar pun beranjak dari tempatnya.


Seorang rekannya datang menghampiri lalu memeluk bahu Tamar. Dia membawa Tamar ke ruangan di mana teman-temannya berkumpul. Dipikirnya temannya itu akan memberikan ucapan selamat karena keberhasilannya mengungkap kasus dengan cepat.


“Tam.. kapan mau kasih undangan?” ujar pria yang merangkulnya. Beberapa temannya yang sedang bekerja pun langsung fokus melihat padanya.


“Hmm?”


“Eeyy.. ngga usah ngeles. Kita udah tau kok kamu diam-diam ternyata udah punya calon istri, mana cantik lagi. Sengaja ya diumpetin biar yang diembat Yoyo.”


“Kampret.. mana pernah aku ngembat cewek orang,” protes Yoyo yang merasa nama baiknya dirusak. Gelak tawa langsung terdengar di ruangan tersebut. Sedang Tamar masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.


“Kalau calon istri kamu punya saudara yang sama cantiknya, kenalin Tam. Biar aku cepat nyusul dan ngga jadi jomblo terus,” ujar rekannya yang lain.”


“Nemu di mana calon istri cantik begitu?”


“Pas ngajakin nikah gimana bilangnya?”


“Kalian kalau kencan ngapain aja?”


Berondongan pertanyaan terus menyapa indra pendengaran Tamar. Pria itu semakin pusing dibuatnya. Dia lebih baik menyingkir lalu masuk ke dalam ruangannya. Tamar menghempaskan bokongnya ke kursi kerjanya. Tak lama Aji masuk ke dalam ruangan.


“Ji.. itu mereka pada ngomong apaan sih?”


“Itu, capt.. eeung.. kemarin Stella kan ke sini nganter pizza. Pas ditanya dia siapa, dia ngakunya calon istri.”


“Astaga!” Tamar menepuk keningnya.


“Hehehe… terima aja, capt. Kan Stella cantik, bisa bantu mecahin kasus juga.”


“Haaiissshh.. pergi sana!”


Aji segera keluar dari ruangan begitu melihat tangan Tamar yang memegang buku terangkat. Dia tak mau terkena ciuman dari buku tebal yang ada di tangan atasannya. Tamar meletakkan kembali buku ke meja. Pria itu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Stella kembali membuat kepalanya pusing. Pengakuannya sebagai calon istri di depan semua rekan kerjanya, jelas akan menimbulkan dampak untuknya. Belum apa-apa dia sudah menjadi bulan-bulanan.


TOK


TOK


TOK


Sebuah ketukan di pintu menyadarkan Tamar dari lamunannya. Dia meminta orang yang mengetuk pintu untuk masuk. Tak lama seorang wanita paruh baya masuk ke dalam. Dia berjalan pelan menuju meja Tamar.


“Siang, pak.”


“Siang. Ada yang bisa saya bantu?”


“Saya Isma kalau bapak lupa. Saya yang menjadi saksi pembunuhan pak Putra.”


“Oh bu Isma. Maaf.. silahkan duduk.”


Wanita bernama Isma itu menarik kursi di depan meja kerja Tamar lalu mendudukkan diri di sana. Tamar membenarkan posisi duduknya, bersiap untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan Isma.


“Ada yang mau ibu sampaikan?”


“Soal kesaksian saya waktu itu.. memang benar kalau saya melihat seorang wanita yang membunuh pak Putra, walau saya tidak menunjuk Lina, tapi semua bukti mengarah pada wanita itu.”


“Lalu?”


“Tapi.. seminggu yang lalu, saat sedang berada di Kuningan, saya melihat laki-laki seperti pak Putra.”


“Apa ibu yakin?”


“Yakin, pak. Saya bertetangga dengan pak Putra sudah sepuluh tahun. Tentu saja saya tahu benar bagaimana pria itu. Walau dia mengecat rambutnya, tapi saya yakin kalau itu pak Putra. Tapi.. kalau itu pak Putra, lalu pria yang mati dibunuh dua tahun lalu itu siapa?”


Tak ada jawaban dari Tamar, pria itu seperti tengah memikirkan sesuatu. Dia memang mengendus ada yang ganjil dalam kasus itu. Dua tahun lalu saat dirinya baru setahun bergabung di kantor bareskrim, pria itu tak mampu membujuk sang atasan untuk tidak menutup kasusnya hanya berdasarkan intuisinya saja.


“Terima kasih atas laporannya bu. Kami akan menyelidikinya lebih lanjut. Ibu katakan saja di mana ibu melihatnya. Nanti biar kami yang melacaknya.”


“Saya sedang berlibur dengan keluarga saya dan berada di café yang ada di daerah palutungan. Nama cafenya Up Hill.”


“Baik, bu. Terima kasih atas laporannya.”


Isma bangun dari duduknya lalu keluar dari ruangan Tamar. Wanita itu cukup lega setelah mengatakan apa yang dilihatnya. Sebenarnya dia juga tidak yakin kalau Lina adalah pembunuh suaminya. Wanita itu adalah korban, dia kehilangan segalanya termasuk anaknya hanya karena tuduhan palsu.


Sepeninggal Isma, Tamar berencana untuk menyelidiki kembali kasus Lina secepatnya. Dia akan memanfaatkan waktu liburnya untuk pergi ke Kuningan. Pasti ada hal yang bisa didapatkan di sana.


🍁🍁🍁


Zar menghentikan kendaraannya di depan kediaman Jojo. Sesuai janjinya, akhir pekan ini dia akan mengajak Renata makan malam. Kedatangan Zar tentu saja disambut senang oleh Jojo. Dia mengajak Zar masuk sambil menunggu Renata selesai bersiap.


“Kalian mau kemana?” tanya Jojo.


“Makan malam, KiJo.”


“Mau makan di mana?”

__ADS_1


“Jiaaahhh Kijo kepo. Ngga akan bilang-bilang, tar KiJo nyusul sama Ninda, ngerecokin aku.”


Sebuah jitakan mendarat di kepala Zar. Cucu pertamanya itu selalu saja bisa mengeluarkan kata-kata nyeleneh yang kadang membuat orang kesal. Saat akan kembali menjitak Zar, Adinda datang menahan tangan suaminya itu.


“Beraninya mas jitak-jitak cucu kesayanganku. Mau tidur di luar?” ancam Adinda.


“Iya, Ninda. Lihat nih kepalaku sampe kentop dijitak sama KiJo.”


Zar memperlihatkan kepalanya pada Adinda dan semakin membuat Jojo ingin menjitak kepala cucunya ini. Namun Zar bergerak cepat, bersembunyi di belakang Adinda. Dari balik punggung Adinda, Zar melongokkan kepalanya sambil menjulurkan lidahnya pada Jojo.


Semua menolehkan kepalanya ketika terdengar suara pintu kamar Renata terbuka. Dari dalamnya keluar Renata mengenakan celana jeans dengan blouse lengan tiga perempat. Rambutnya dibiarkan tergerai dan hanya diberi jepit saja di satu sisinya. Mata Zar tak berkedip melihat wajah cantik Renata.


“Biasa aja lihatnya, jangan sampai ngacai,” Jojo mengusap wajah cucunya.


“Bau, KiJo.”


“Eh lupa barusan abis garuk v*nt*t, hahaha..”


“KiJo jorok… Ninda.. KiJo tuh,” adu Zar pada Adinda.


Zar langsung merubah tampilannya yang awalnya manja-manja gemesin, menjadi lebih dewasa dan berkharisma. Jojo hanya mencebikkan bibirnya saja melihat kelakuan cucunya ini. Entah turunan dari siapa Zar ini, yang jelas tidak seperti Abi dan juga Kenzie, apalagi dirinya. Kamu yakin Jo?


“Sudah siap, Ren?”


“Sudah.”


“Ayo.”


“Bye Ninda, bye KiJo. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Zar mencium pipi Adinda, dan hanya memeletkan lidahnya pada Jojo lalu keluar bersama dengan Renata. Pria itu membukakan pintu mobil untuk Renata lalu memutari bodi mobil dan naik ke belakang kemudi. Tak lama kendaraan roda empat tersebut meluncur pergi.


Suasana di dalam mobil begitu sunyi, Renata tak ada keinginan untuk memulai pembicaraan. Dia bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Jadi sepanjang perjalanan, wanita itu hanya mengatupkan mulutnya saja. Bahkan Renata tak menanyakan kemana Zar akan membawanya.


Mobil yang Zar kemudikan berhenti di depan sebuah taman. Di taman tersebut banyak terdapat gerobak penjual makanan. Mulai dari nasi goreng, siomay, bubur ayam, batagor, penjual minuman dingin, kue cubit, sate, roti bakar, martabak manis dan telor, dimsum, bakso, mie ayam, es krim, sampai penjual jus ada semua di sana.


Mata Renata memandang bingung melihat begitu banyaknya pedagang kaki lima yang mangkal di taman ini. Zar mengajaknya masuk ke dalam taman dan berhenti di depan beberapa karpet plastik yang dibentangkan di atas rumput. Dia melihat Zar, tak mengerti dengan konsep makan malam yang diberikan pria itu.


“Ini.. apa?”


“Ini tempat makan malam kita. Kamu bisa pesan apa aja yang kamu mau. Tinggal pilih mau makan apa,” tangan Zar menunjuk ke semua gerobak pedagang kaki lima.


“Euung..” Renata masih bingung dengan keadaan ini.


“Sebentar lagi ada yang akan bergabung dengan kita.”


Tak lama setelah Zar mengatakan hal tersebut, sebuah bis berhenti di depan pintu masuk taman. Dari dalamnya turun adik-adik panti Renata, bersama dengan Sundari. Renata dengan senang menyambut kedatangan Sundari dan adik-adik pantinya.


“Ibu.. sehat?” Renata mencium punggung tangan Sundari.


“Sehat, bu.”


“Kak Rena…” panggil Damar dan Dygta.


Kedua anak kembar itu segera menghambur ke arah Renata lalu memeluknya. Beberapa anak panti lain juga datang memeluk Renata bergantian. Mereka sudah sangat merindukan wanita itu. Sejak peristiwa memilukan yang menimpanya, Renata belum datang ke panti lagi. Dia masih belum sanggup kembali ke tempat tersebut. Renata hanya mengirimkan makanan dan hadiah saja untuk adik pantinya.


“Kangen kak Rena..”


“Kakak juga kangen. Kalian baik-baik aja kan?”


“Iya, kak.”


“Kangen-kangenannya dilanjut nanti ya. Sekarang kita makan dulu, abang udah laper nih,” ujar Zar sambil mengusap perutnya.


“Yeaay!! Makan.. makan…”


Zar mempersilahkan semuanya untuk memesan makanan apapun yang diinginkan. Anak-anak berlarian menuju pedagang kaki lima yang sengaja dibooking oleh Zar berjualan di sini. Dia sudah membayar semua makanan tersebut.


“Makasih ya, Zar,” ujar Renata.


“Sama-sama. Kamu pasti kangen sama adik-adik kamu. Nikmati waktu kalian.”


Senyum Renata terbit mendengarnya. Bersama Zar, dia berjalan mendekati gerobak makanan. Wanita itu memesan sate dengan lontong, sedang Zar memesan nasi goreng. Tak lupa dia memesan dimsum dan juga kue cubit. Setelah memesan makanan, mereka kembali ke karpet dan mendudukkan diri di sana.


Gelak tawa mengiringi acara makan malam. Renata dengan setia mendengarkan cerita adik-adik pantinya selama ditinggalkan olehnya. Beberapa dari mereka juga ada yang bolak-balik memesan makanan. Bukan hanya anak panti, tapi Sundari juga merasa senang. Melihat keadaan Renata yang mulai membaik, membuat kekhawatiran wanita itu sedikit berkurang.


“Kamu dapat ide dari mana acara makan malam kaya gini?” tanya Renata di sela-sela makannya.


“Akhir-akhir ini kamu jarang tersenyum. Aku cuma mau lihat kamu tersenyum. Aku tahu salah satu hal yang bisa membuatmu tersenyum adalah adik-adik pantimu.”


“Sekali lagi terima kasih. Aku bahagia banget.”


“Aku senang kalau kamu bahagia. Ke depannya aku mau kamu lebih banyak tersenyum.”


“Kamu baik banget, Zar. Maaf kalau aku pernah memfitnahmu, aku malu kalau ingat itu.”


“Yang lalu ngga usah diingat lagi. Aku juga menyesal karena ketidak pedulianku, kamu sampai mengalami musibah mengerikan.”


“Itu bukan salahmu. Wajar kalau kamu tidak menggubrisku. Apa yang kulakukan sudah mematahkan kepercayaanmu.”


Renata menundukkan kepalanya. Dia sudah tak ingin mengingat lagi masa kelamnya. Yang diinginkan saat ini adalah menata hidupnya, dan melakukan sesuatu yang berguna untuk dirinya dan juga orang lain.


“Aku juga harap kamu mau membuka hatimu untuk laki-laki yang ingin masuk dalam hidupmu. Jangan jadikan peristiwa dulu sebagai halangan untuk mencapai kebahagiaanmu. Jangan tahan perasaanmu kalau kamu menyukai seseorang hanya karena merasa dirimu kotor atau tidak berharga. Aku yakin, akan ada laki-laki yang mau menerima keadaan dirimu apa adanya.”


Wajah Renata menyunggingkan senyuman tipis. Apa yang dikatakan Zar tak semudah untuk dilakukan. Perasaan minder dan tak percaya diri kerap menyergapnya. Wanita itu tak yakin ada orang yang mau menerima dirinya lengkap dengan noda hitam di dirinya.


“Bang Rakan, sepertinya dia suka sama kamu.”

__ADS_1


“Bang Rakan? Hahaha.. kamu salah. Bang Rakan itu selalu bersikap baik sama semua orang. Aku juga sempat dengar kalau bang Rakan pernah minta ijin om Rey untuk menikahiku. Tapi.. aku tahu apa yang dilakukannya itu hanya karena perasaan iba, bukan cinta. Bang Rakan masih cinta sama almarhum tunangannya.”


“Bang Rakan pernah punya tunangan?”


“Huum.. tunangannya meninggal karena sakit. Sejak saat itu bang Rakan belum membuka hatinya untuk orang lain lagi.”


“Kamu sendiri suka ngga sama bang Rakan?”


“Suka.. tapi hanya sebatas kakak.”


“Jangan bilang kamu suka sama Farzan.”


“Farzan? Ya ampun Zar, masa aku suka sama Farzan. Dia itu udah aku anggap kaya adik sendiri.”


“Arya?”


“Ish.. kamu kenapa jadi kepo gitu. Ngga ada.. ngga ada yang aku suka saat ini. Atau lebih tepatnya, aku belum berani untuk menyukai laki-laki lain saat ini.”


Renata kembali melanjutkan makannya. Zar juga tak bertanya lagi. Sesekali dia melihat pada Renata. Terlepas dari kejadian yang menimpanya dahulu, dan juga fitnah yang dilontarkan padanya, Zar masih mengagumi sosok Renata. Melihatnya bisa bangkit dan bersemangat menjalani hidup seperti ini, membuktikan kalau Renata adalah wanita yang kuat.


“Bang Zar!! Mau es krim ngga?” teriak Damar.


“Mau.. mau..”


Mendengar teriakan Damar, Zar bangun dari duduknya lalu menghampiri Damar dan Dygta yang sedang memilih es krim. Mata Renata terus memandangi Zar yang tengah bersama dua adik pantinya.


Kamu laki-laki baik, Zar. Aku yakin kamu akan mendapatkan pendamping yang baik nanti. Bukan seperti aku yang kotor. Sebesar apapun rasa sukaku padamu, tetap saja, aku bukan wanita yang baik untukmu. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik segalanya dariku.


Renata hanya mampu menekan perasaannya dalam-dalam. Sejak Zar datang menyerahkan Daus padanya, perasaan Renata mulai tumbuh pada pria itu. Namun Renata sadar akan keadaan dirinya. Dia memilih memendam perasaan itu sendiri.


🍁🍁🍁


Suasana puskesmas Desa Tampaure nampak sepi. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Sudah tidak ada lagi kesibukan di pusat kesehatan masyarakat tersebut. Rafa tengah membereskan alat-alatnya, bersiap untuk pulang. Bersama suster Lastri, pria itu meninggalkan puskemas.


Tidak terasa sudah tiga minggu dirinya bertugas sebagai relawan di bidang kesehatan. Selain memberikan layanan kesehatan. Rafa juga aktif memberikan penyuluhan pada masyarakat untuk menjalani hidup sehat. Dia juga memberikan informasi bagaimana memberikan pertolongan pertama pada orang yang terkena serangan jantung.


Rafa menolehkan kepalanya ke arah kanan jalan. Jalan tersebut menuju sekolah di mana Dayana mengajar. Sudah seminggu ini dia tidak bertemu atau berbincang dengan gadis itu. Dayana selalu berangkat lebih awal dan pulang lebih lambat darinya.


“Akhir-akhir ini saya jarang melihat Aya.”


“Aya lagi sibuk, dok. Setiap habis mengajar, dia selalu mengunjungi murid-muridnya di sekolah. Satu-satu didatangi di rumahnya. Memberikan pelajaran tambahan untuk mereka.”


“Sendirian?”


“Ngga juga. Dia pergi didampingi Amran, guru honorer yang mengajar di sekolah yang sama. Murid-murid Amran kabarnya malah menjodohkan Aya sama dia.”


Terdengar tawa kecil Lastri setelahnya. Wanita itu memang tahu banyak, karena Dayana selalu bercerita kegiatannya di sekolah pada Lastri sebelum tidur. Tak ada respon apapun dari Rafa. Pria itu hanya diam saja, sambil terus melangkahkan kakinya. Tapi ada sedikit rasa tak nyaman mendengar kabar tersebut.


Saat mendekati rumah yang ditempati Lastri dan relawan wanita lainnya. Dia melihat Dayana tengah berbincang dengan Amran di depan rumah. Nampak Dayana tertawa-tawa, entah apa yang mereka bicarakan.


“Nah tuh anaknya, panjang umur. Kayanya makin dekat aja sama Amran.”


Mata Rafa terus memandangi pria bernama Amran tersebut. Tubuh Amran tinggi, badannya tidak gemuk, bahkan bisa dikatakan kurus. Kulitnya sawo matang dan rambutnya sedikit ikal. Wajah Amran masuk dalam golongan manis, apalagi jika pria itu tersenyum.


“Ay..” panggil Lastri.


“Eh mba Lastri. Baru pulang?”


“Iya.”


“Halo mas,” sapa Dayana pada Rafa.


Rafa hanya melemparkan senyum tipis saja, lalu segera meninggalkan kediaman Dayana tanpa ada basa basi. Dayana sudah tak aneh melihat sikap Rafa, sebelum menjadi relawan bersama, pria itu memang sering bersikap dingin padanya. Justru Lastri yang bingung melihat reaksi Rafa.


“Tadi nanyain. Udah ketemu ngga ada basa-basinya,” gumam Lastri.


“Kenapa mba?” tanya Dayana.


“Tadi dokter Rafa nanyain kamu. Katanya udah seminggu ngga lihat kamu. Giliran ketemu malah cuek bibeh, aneh.”


“Hahaha… kirain apa. Udah lihat muka aku, udah hilang penasarannya kali, mba.”


“Iya juga kali.”


“Ay.. aku pulang dulu, ya.”


“Oke. Makasih ya, Amran.”


“Sama-sama.”


Pria bernama Amran itu berpamitan pula pada Lastri, kemudian meninggalkan rumah tersebut. Dayana memeluk lengan Lastri, mengajak wanita itu masuk ke dalam rumah.


“Makin dekat aja nih sama Amran. Cieee..”


“Yeey.. apaan si mba. Amran udah punya calon istri. Dua bulan lagi mau nikah.”


“Oh.. kirain masih jomblo.”


“Hahaha.. penonton kecewa.”


Terdengar tawa kedua wanita itu. Nilam yang tengah menonton televisi, tak sengaja mendengar pembicaraan mereka berdua. Usahanya mendekati Rafa masih belum membuahkan hasil. Tadinya dia ingin meminta bantuan Dayana. Tapi ternyata gadis itu sibuk dengan pekerjaannya dan jarang berinteraksi dengan Rafa. Wanita itu harus mencari cara lain untuk bisa mendapatkan hati Rafa.


🍁🍁🍁


**Tamar yang sabar yeee... Nikmati aja ledekan rekan²mu🤣


Renata... Ternyata udah ada rasa ya sama Zar🤔


Cemburu, bilang dok😜**

__ADS_1


__ADS_2