Hate Is Love

Hate Is Love
Pertarungan Yang Sesungguhnya


__ADS_3

“OOII!!!”


Sebuah suara menginterupsi pria yang sedang mengancam Ansel. Pria itu melepaskan cengkeramannya, perhatiannya tertuju pada pria yang menggunakan pakaian yang sama seperti Ansel. Aqeel yang kebetulan lewat dan melihat apa yang terjadi, segera mendekati pria itu.


“Apa begitu caramu memperlakukan dokter yang sudah berjuang menyelamatkan nyawa bos kalian?”


“Kami tidak ada urusan denganmu! Menyingkirlah!!”


“Aku akan pergi kalau kamu tidak mengganggunya lagi.”


“Kamu tahu? Selain dokter ini, kamu juga akan mendapatkan pelajaran. Lihat saja apa yang akan kami lakukan dengan tanganmu itu. Hajar!!”


Mendengar perintah atasannya, semua anak buah The Cave yang ada di sana langsung menyerang Aqeel. Pria itu berlari mencari daerah yang sedikit luas, lalu menghadapi serangan mereka. Ansel juga tak luput dari serangan, pria itu jatuh tersungkur ketika mendapat bogeman di wajahnya. Seorang suster yang melihat kejadian tersebut bergegas menuju IGD untuk mencari pertolongan.


“To.. tolong.. do.. dokter Aqeel dan Ansel diserang di halaman belakang.”


Mendengar nama kakaknya, Daffa bergegas lari menuju halaman belakang, begitu pula dengan Arsy. Geya segera mencari keberadaan Tamar yang sedang menanyai korban. Pria itu juga bergegas menuju halaman belakang bersama Aji. Geya dan Adisty yang cemas, mengikuti ke sana.


Ketika Daffa sampai, dia melihat pertarungan yang tidak seimbang. Pria itu segera melayangkan tendangan ketika melihat salah seorang pria hendak menyerang kakaknya. Tak butuh waktu lama, Daffa pun ikut berjibaku dengan para penyerang. Tak lama Tamar dan Aji bergabung membantu. Ansel yang masih tersungkur di tanah, hanya bisa melihat dua rekannya dan juga petugas polisi berjibaku dengan anak buah The Cave. Kemudian dia melihat Arsy yang ikut membantu. Pria itu tak menyangka, dokter magang tersebut juga memiliki kemampuan bela diri.


Tubuh Arsy meliuk menghindari serangan dan membalas pukulan pada penyerangnya. Ketika salah seorang mencoba menghajarnya dari belakang, sebuah tendangan mengenai wajah pria itu hingga tubuhnya terpental dan punggungnya mengenai pohon di belakangnya.


“Mas..” panggil Arsy yang melihat Irzal datang bersama Aidan.


“Kamu ngga apa-apa, sayang?”


“Iya, mas.”


“Kamu diam saja. Temani Geya dan Disty.”


Arsy hanya menganggukkan kepalanya. Dia segera menuju ke tempat di mana kedua sepupunya berada. Irzal dan Aidan bergerak membantu menghajar anak buah The Cave yang membuat kekacauan di rumah sakit. Dalam waktu singkat, para pengacau itu berhasil dilumpuhkan. Tamar mendekati pria yang tadi mengancam Ansel. Dicengkeramnya rahang pria itu dengan kencang hingga meringis.


“Kalian sudah sangat meresahkan akhir-akhir ini. Dan sekarang kalian malah merusuh di rumah sakit. Mengancam dokter, dan berusaha mencelakainya, sudah bosan hidup rupanya,” dengan kesal Tamar kembali menghajar pria itu lagi.


“Bawa semua ke kantor polisi!” titah Tamar.


Aji segera menghubungi rekannya yang lain untuk mengumpulkan semua anak buah The Cave ke kantor polisi. Daffa mendekati Ansel, lalu mengulurkan tangannya pada dokter tersebut untuk membantunya berdiri.


“Dokter ngga apa-apa?”


“I.. iya, terima kasih.”


“Sepertinya dokter terluka. Sebaiknya diobati dulu.”


Ansel hanya menganggukkan kepalanya, dibantu Daffa, pria itu berjalan menuju IGD. Bukan hanya wajahnya, tapi perut dan beberapa anggota tubuhnya yang lain juga merasakan sakit akibat tendangan dan pukulan yang diterimanya.


Tak berapa lama, Aji beserta rekannya yang lain masuk ke dalam IGD dengan membawa semua anggota gank The Cave. Anggota gank Margarita yang masih berada di rumah sakit, terkejut melihat musuh bebuyutannya babak belur. Tamar yang masih bertahan di IGD langsung menghampiri Aji.


“Kenapa dibawa ke sini? Bawa langsung ke kantor!”


“Mereka harus diobatin dulu, capt.”


Sambil berdecak, Tamar memberikan tanda pada anak buahnya itu untuk memeriksakan keadaan anggota gank The Cave yang memang terlihat tidak baik-baik saja. Dokter magang dan koas yang bertugas, segera memeriksa mereka semua. Total ada tiga belas anggota gank yang tadi mengeroyok Aqeel. Empat orang babak belur di wajah dan beberapa anggota tubuhnya. Lima orang mengalami patah tulang tangan. Dan empat lainnya patah tulang rusuk.


Ansel yang sudah selesai diobati ikut membantu mengobati anggota gank The Cave yang tadi mengancamnya, begitu pula dengan Daffa. Ansel mendekati pria yang tadi sempat memukulnya. Dia meraba bagian bahu hingga punggung pria itu. Tendangan keras yang dilayangkan Daffa membuat tubuh pria itu terpental hingga membentur pohon.


“Aduh! Sakit! Bisa kerja ngga?! Mau gue hajar lagi?!” ancam pria itu pada Ansel.


PLAK!!


Sebuah tepakan keras mendarat di kepala pria itu. Kepalanya langsung menoleh dengan wajah sangar. Disangkanya Ansel yang sudah menepak kepalanya. Namun raut wajahnya langsung berubah ketika melihat sang pelaku adalah Daffa. Dia masih ingat pukulan dan tendangan yang pria itu layangkan hingga seluruh tubuhnya terasa sakit.

__ADS_1


“Bisa sopan ngga, ngomongnya? Mau sekalian gue jahit tuh mulut? Suster!!”


“Eh.. ja.. jangan dok. Ma.. maaf dok,” pria itu meminta maaf pada Ansel.


“Biar saya aja dok yang nangani pasien ini,” seru Daffa.


Tanpa menunggu persetujuan Ansel, Daffa langsung mengambil alih pekerjaan atasannya itu. Gerakan Daffa sengaja dibuat kasar, membuat pria tadi berteriak kesakitan. Dengan cepat Daffa menyumpal mulut pria itu dengan kassa yang ada di sana. Suster yang membantu hanya menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan tawanya.


“Ngga usah sok jadi jagoan. Kecuali lo makannya besi, minumnya lahar panas, baru gue salut. Tulang masih bisa patah aja belagu.”


PLAK!


“Aduh!”


Dengan sengaja Daffa memukul bagian tulang rusuk pria itu yang terluka. Pria itu sampai mengeluarkan airmata menahan rasa sakit yang mendera. Daffa memerintahkan suster untuk memberi obat pereda nyeri pada pasien tersebut, lalu meninggalkan blankar. Ansel bergegas menyusul Daffa.


“Dokter Daffa..”


“Ada apa, dok?”


“Terima kasih atas pertolongannya. Dan maaf..”


“Maaf untuk apa, dok?”


“Maaf karena sudah bersikap tidak baik padamu selama ini.”


“Santai aja, dok.”


Daffa menepuk pelan lengan Ansel, kemudian segera meninggalkan pria itu. Tujuannya sekarang adalah menemui istrinya yang berada di ruang tunggu yang ada di lobi. Selain Geya, Adisty, Irzal dan Aidan ada di sana. Bahkan Arsy juga sudah berada di samping suaminya.


“Ayang ngga apa-apa?” tanya Geya begitu melihat suaminya datang.


“Ish.. jomblo karatan ngga usah komen,” balas Geya.


“Astaga, Daf. Bini lo mulutnya mercon juga.”


Hanya kekehan saja yang keluar dari mulut Daffa. Bukan hanya Daffa, tapi Adisty ikut tertawa mendengar celotehan Geya. Mata Aidan melirik pada gadis di sampingnya. Melihat Adisty tertawa seperti itu semakin menambah kecantikannya.


“Biasa aja lihatnya. Ingat.. belum mahram, ngga boleh mandang lama,” sindir Irzal.


“Sirik aja, lo.”


“Dis.. yakin mau sama bang Idan?” tanya Daffa.


“Ngga juga, aku cuma kasih kesempatan aja. Soal diterima atau ngga, lihat nanti aja.”


“Aseem,” rutuk Aidan mendengar jawaban Adisty.


“Dis.. aku ngga mau ikut campur sama hubungan kamu dan Idan. Tapi aku cuma mau bilang, aku pengen lihat dia nyanyi di perempatan sambil pake daster, hahahaha…”


“Dasar kampret!”


Tawa Irzal semakin keras melihat kekekian di wajah sahabatnya. Nampak Aidan tengah mencari sesuatu untuk menimpuk sahabat durjananya itu. Arsy mencubit lengan suaminya, yang tidak ada tenggang rasa sama sekali pada sahabatnya itu. Tapi wanita itu justru senang melihat wajah Aidan yang sudah seperti kertas lipat.


“Perasaan kemarin pedenya selangit, kenapa sekarang kaya kerupuk kena kuah bakso,” sindir Adisty.


“Itu mah taktik bang Idan aja, pura-pura pede, padahal dalam hatinya ku menangiiiissss, hahaha..”


Aidan hanya mampu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga paru-parunya yang seketika terasa kosong mendengar ledekan para sahabatnya. Adisty hanya tersenyum saja melihat pria yang ditantang untuk membuatnya jatuh cinta dibuat mati kutu. Ada sorot mata lain yang dilemparkan Adisty. Sorot mata yang masih sulit diartikan.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Geya menggerakkan badannya ke kanan dan kiri, mencoba meregangkan otot tubuhnya yang kaku. Sejak pagi gadis itu terus berkutat di depan laptopnya, sampai sore hari. Selingannya hanya untuk shalat dan makan saja, selebihnya dia menghabiskan waktu menyusun laporan magangnya. Segurat senyum tercetak di wajahnya ketika laporan yang dikerjakan sejak lima hari lalu selesai juga.


Mata gadis itu terus memandangi lembaran kertas yang keluar dari mesin printer. Besok dia akan ke kampus untuk menemui pembimbingnya, semoga saja tidak banyak revisi yang harus dilakukannya. Di saat bersamaan Daffa masuk ke dalam kamar. Pria itu baru saja pulang dari rumah sakit. Geya bangun dari duduknya, lalu mencium punggung tangan suaminya.


“Tumben ayang pulang cepat,” ujar Geya.


“Iya, ngga ada pasien darurat, jadi abang bisa pulang cepat.”


Kepala Daffa langsung tertoleh ke arah meja kerjanya ketika mendengar suara printer. Melihat kertas yang terus keluar setelah mencetak file, pria itu tahu kalau istrinya sudah selesai mengerjakan laporan magagnya.


“Udah selesai, sayang?”


“Udah, dong. Besok aku ke kampus buat bimbingan. Mudah-mudahan revisinya ngga banyak.”


“Aamiin.. abang mandi dulu, ya.”


Setelah mengusak puncak kepala istrinya, Daffa menaruh tas kerjanya lalu menyambar handuk yang ada dibalik pintu. Pria itu segera masuk ke kamar mandi. Dia senang melihat istrinya yang terlihat bersemangat ketika mengerjakan tugas kuliahnya. Keputusan dirinya menikahi Geya memang tepat. Sekarang istrinya itu sudah lebih berkonsentrasi pada kuliahnya.


Dengan cepat Geya membereskan kertas laporannya, menyusunnya dengan baik, lalu menjepitnya dengan klip besar. Selesai dengan pekerjaannya, gadis itu kemudian menyiapkan pakaian untuk suaminya. Setelahnya Geya keluar dari kamar dan langsung menuju dapur. Dia hendak membuatkan minuman untuk suaminya.


Sambil membawa cangkir berisi teh hangat di tangannya, Geya kembali ke dalam kamar. Daffa masih belum selesai mandi. Baru saja dia meletakkan cangkir di atas meja. Terdengar suara pintu terbuka. Dari dalam kamar mandi, Daffa keluar dengan tubuh terbalut handuk sepinggang. Geya refleks menundukkan kepalanya melihat tubuh suaminya yang hanya tertutup handuk.


Walau sudah menikah lebih dari dua minggu, tetap saja Geya merasa malu melihat suaminya seperti itu. Melihat sang istri yang malu-malu, Daffa malah berniat menggodanya. Apalagi istrinya itu sudah menyelesaikan laporan magangnya, itu artinya dia sudah bisa melakukan malam pertama yang sempat tertunda. Tapi semuanya tergantung pada Geya juga, karena Daffa tidak mau memaksa istrinya jika belum siap.


“Bajuku mana, sayang?”


“I.. itu di atas kasur,” jawab Geya tanpa melihat pada Daffa.


Jantung gadis itu berdetak semakin kencang ketika melihat kedua kaki Daffa sudah berada di depannya. Harum aroma sabun langsung tercium oleh hidung mancung Geya. Dengan telunjuknya, Daffa mengangkat dagu istrinya, hingga kepala gadis itu terangkat. Dapat Geya lihat tetesan air dari rambut Daffa jatuh menimpa dadanya dan semakin membuat suaminya itu terlihat tampan.


Detak jantung Geya semakin kencang saja ketika tangan Daffa meraih pinggangnya, hingga posisi mereka sekarang tidak berjarak lagi. Tanpa sengaja tangan Geya kini berada di dada suaminya. Kedua tangan Daffa langsung mengungkung pergerakan istrinya itu. Dia mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir Geya dengan lembut.


Mata Geya terpejam rapat saat bibir suaminya itu memberikan pagutan lembut yang sukses membuat jiwanya melayang. Kedua tangannya sudah berpindah ke leher sang suami dan Daffa mengangkat tubuh istrinya, hingga sekarang posisi Geya berada dalam gendongannya.


Rasa canggung dan malu perlahan mulai terkikis seiring dengan semakin intensnya pertautan bibir yang mereka lakukan. Bunyi decapan terdengar mengisi seluruh ruangan. Daffa menggerakkan kakinya, melangkah pada ranjang yang ada di sudut ruangan. Pelan-pelan pria itu membaringkan tubuh istrinya di atas kasur, sedang posisinya berada di atas Geya.


Ciuman panjang keduanya berakhir, hanya menyisakan nafas keduanya yang terdengar memburu. Geya kini sudah berani menatap mata suaminya. Pipinya terlihat merona akibat aktivitas panas yang dilakukan mereka tadi. Wajah Geya semakin terasa panas ketika merasakan ada tonjolan yang menekan pelan perutnya.


“Ge.. boleh?” tanya Daffa dengan suara berat.


Melihat wajah Daffa yang tengah menahan hasrat yang tersulut akibat ciuman panas tadi, ditambah tusukan di area perutnya dan jangan lupakan tangan Daffa yang sekarang berada di atas salah satu bukit kembarnya, membuat Geya tak kuasa menolak ajakan sang suami. Biar bagaimana pun Daffa sekarang adalah suaminya. Dia berhak melakukan apapun terhadap dirinya. Termasuk melakukan malam pertama yang sudah tertunda lama.


Perlahan kepala Geya mengangguk, tanda memberi ijin pada sang suami untuk melakukan apa pun yang diinginkannya. Segurat senyum tercetak di wajah Daffa yang sudah hanyut dalam g*irah. Rematannya di bukit kembar Geya menjadi sedikit kencang, membuat sang empu mengeluarkan d*sahannya.


Dengan cepat Daffa mendaratkan ciuman di leher sang istri. Bibirnya terus bergerak liar memberikan sensasi geli sekaligus membuat Geya terbang ke awan. Kepala gadis itu semakin terdongak, seolah memberikan akses lebih pada suaminya itu untuk mengeksplore lehernya lebih ganas lagi. Tangannya meremat rambut Daffa, dan kakinya mulai bergerak-gerak saat cumbuan suaminya semakin buas saja.


Tangan Daffa mulai menelusup masuk ke dalam kaos longgar yang digunakan istrinya. tubuh Geya menggelinjang, seperti baru saja merasakan sengatan listrik. Telapak tangan suaminya itu terus menelusuri kulit mulusnya, memberikan stimulus yang menghantarkan gelombang-gelombang elektromagnetik, mengirim sinyal pada susunan sarafnya untuk meminta lebih dari apa yang diterimanya sekarang.


Perlahan Daffa melepaskan kaos yang dikenakan Geya. Tangannya terus bergerak menelusup ke belakang punggung, lalu melepaskan pengait penutup bukit kembar istrinya. Sekali tarik, kain yang menjaga bulatan kenyal istrinya terlepas. Jakunnya bergerak naik turun melihat tubuh mulus di bawahnya. Ini kali pertama baginya melihat bagian tubuh atas istrinya tanpa penghalang lagi.


Geya menutup matanya, perasaan malu langsung menderanya saat Daffa menatap tubuhnya begitu intens. Sementara tusukan di perutnya semakin terasa saja. Batang tegak itu terasa semakin mengeras saja. Otak Geya langsung berputar, seperti apa bentuk senjata pusaka suaminya yang masih berada dibalik handuk. Didorong rasa penasaran, seketika tangan Geya bergerak memegang senjata laras panjang yang sedang menusuk perutnya. Sontak erangan Daffa langsung terdengar.


Merasakan r*ngsangan di senjata pusakanya, Daffa tak menunggu lama lagi untuk meningkatkan cumbuannya. Dengan cepat dia meraup pepaya California yang terpampang bebas di depannya. Dan sekarang giliran sang pemilik pepaya yang mengeluarkan lenguhannya. Daffa terus menciumi, menyesap dan mengulum pepaya yang hanya mempunyai satu biji di bagian tengah.


Suasana di dalam kamar semakin terasa panas saja. Kedua insan sudah terlanjur jatuh dalam birahi yang diciptakan mereka sendiri. Tak peduli kalau waktu maghrib hanya tinggal menyisakan waktu satu jam lagi. Daffa terus mencumbui istrinya tanpa henti. Bahkan sekarang tubuh Geya sudah seperti bayi yang baru lahir. Polos tanpa tertutup apapun. Senjata pusaka Daffa pun sudah terbebas dari belitan handuknya. Keduanya sudah siap untuk pertempuran sesungguhnya.


🍁🍁🍁


**Tahan nafas..... Hembuskan... Preeettt🤣🤣🤣


Yang kemarin nebak Daffa or Tamar, tetooottt kalian terkecoh🤣**

__ADS_1


__ADS_2