
Sejak pagi Renata tidak meninggalkan ruang rawat Zar sama sekali. Wanita itu dengan setia terus mendampingi pria yang begitu disayanginya. Dia tidak mempermasalahkan Zar yang bersikap manja dan tak berhenti mengoceh. Energi pria itu sepertinya tidak ada habisnya. Arya dan Ervano saja memilih untuk pergi dari pada meladeni ocehan Zar.
Renata membukakan jeruk untuk Zar. Setelah membersihkan jeruk dari serat-serat yang menempel, wanita itu menyuapkannya pada Zar. Wajah pria itu nampak begitu sumringah. Rasa sakit yang dirasakannya tidak sebanding dengan kebahagiaan yang dirasakannya saat ini.
“Kamu udah mikirin hukuman apa yang tepat untuk Richie?”
“Kalau ngga memikirkan soal kemanusiaan, maunya aku dia dikebiri aja. Biar ngga ada korban seperti aku karena ulahnya. Tapi aku juga ngga bisa bersikap kejam seperti itu. Setiap orang berhak kesempatan kedua. Makanya aku masih bingung mau kasih hukuman apa buat dia.”
“Richie itu anak manja yang terbiasa mendapatkan sesuatu secara instan. Gimana kalau kamu kasih hukuman yang membuatnya bisa merubah sikap manjanya itu. Bekerja keras seperti Yuke misalnya, bekerja untuk pasangan lansia. Atau suruh aja dia ke pulau Rinca buat nina boboin komodo.”
Renata tertawa kecil mendengar ucapan terakhir Zar. Dia tidak bisa membayangkan Richie menidurkan komodo sambil menepuk-nepuk badan hewan melata itu diiringi lagu nina bobo.
“Harus cepat aku kasih keputusan?”
“Ngga juga sih. Cuma takutnya dia bulukan disimpen di penjara bawah tanah markas om Duta, hahaha..”
“Dasar kamu, tuh.”
“Pokoknya apapun keputusanmu, aku akan dukung. Ingat, jangan lupakan soal ibunya. Dia juga harus dikasih pelajaran.”
“Kalau ibunya aku ngga berani, takut kualat. Biar kakek Abi sama yang lainnya aja yang kasih hukuman.”
“Terserah kamu aja, ayang.”
BLUSH
Wajah Renata merona mendengar panggilan Zar untuknya. Dia sampai menundukkan kepalanya karena malu terus ditatap oleh pria itu. Pandangannya beralih ketika mendengar suara pintu terbuka. Dari luar masuklah Rakan, Vanila, Irzal, Arsy, Aqeel, Aidan, Tamar, Stella, Dayana dan Rafa. Pengunjung jilid dua mulai berdatangan di sore hari.
“Gimana, Zar?” tanya Rakan.
“Alhamdulillah, udah mendingan, bang.”
“Ya pasti, perawatnya Rena pasti cepat sembuh tuh,” seru Aidan.
“Kuat ya, bang,” Stella menepuk punggung Zar.
“Aaaww.. buset pppssssttt tenaga kuli lo, ya. Masih sakit nih gue!”
“Lemah, gitu aja mewek.”
Ingin rasanya Zar melempar sepupunya itu dengan apel yang ada di atas nakas kalau tidak ingat wanita itu sedang hamil. Arsy mengajak para wanita untuk duduk di sofa. Kebetulan sekali Dayana membawakan camilan untuk mereka semua, bukan untuk pasien.
Irzal dengan santai mendaratkan bokongnya di samping Zar, membuat pria itu meringis karena tulang rusuknya yang retak terguncang. Aidan juga duduk di bagian ujung ranjang bersama dengan Tamar. Rakan menarik kursi yang ada di bed, sedang Aqeel dan Rafa memilih berdiri.
“Bang, gimana udah jebol gawang?” goda Zar.
“Belum, si Ila lagi palang merah, hahahaha…” Aidan tertawa senang.
“Wah.. padahal gue udah kasih jalan si Ila langsung tinggal bareng ngga ada acara pisah rumah segala. Emang apes nasibnya bang Rakan, hahaha..”
Rakan hanya mengulum senyumnya saja mendengar godaan para pria di dekatnya. Terhitung sudah lima hari dia dan Vanila hidup bersama di rumah barunya. Sang istri masih belum bisa disentuh, dia hanya bisa bersabar menahan hasrat yang terkadang tidak bisa ditahannya setiap berdekatan dengan Vanila.
“Si Richie kan udah ketangkep, kapan lo mau nikahin Rena?” tanya Irzal.
“Gue sih maunya besok. Tapi gimana dong, guenya masih di rumah sakit.”
“Geret aja penghulunya ke sini,” usul Aidan.
“Ngga bisa.. main geret aja ke sini. Emangnya nikah ngga butuh persiapan?” protes Aqeel.
“Betul itu, kan ngga mungkin kamu kasih mahar jarum infusan buat Renata. Sabar aja dulu sampai kamu keluar dari rumah sakit,” ujar Rafa.
“Buset, bang. Ya kali maharnya infusan.”
__ADS_1
“Hahaha..”
Para wanita langsung menolehkan kepalanya begitu mendengar suara tawa dari arah bed Zar. Mereka yakin sekali kalau ada salah satu dari mereka yang dijadikan bahan bulyy-an. Sambil menikmati camilan, mereka melanjutkan pembicaraan yang terjeda.
“Lagian kalau nikah besok, belum tentu juga lo bisa langsung malam pertama,” ceplos Tamar.
“Kenapa ngga bisa?”
“Tulang rusuk lo kan retak, mana bisa en*-en*. Baru juga ngegenjot pasti udah kesakitan tuh, hahaha…”
Zar melemparkan kulit jeruk pada Tamar yang sejak menikahi Stella semakin absurd ucapannya. Aidan tertawa terpingkal membayangkan Zar yang merasakan sakit saat menjebol gawang Renata.
“Jadi nanti yang nangis si Zar pas jebol gawang, bukan Renata, hahaha..” Aidan memegangi perutnya.
“Apalagi kalau pake gaya woman on top, tambah remek itu tulang rusuknya,” sambung Irzal.
“Hahaha..”
Zar hanya mendengus kesal mendengar ledekan para sahabatnya. Celetukan demi celetukan yang menyudutkan dirinya terus saja berdatangan. Mendapat serangan secara tawuran seperti ini tentu saja membuat Zar tidak bisa membalasnya.
“Tumben mingkem si bang Zar, mati kutu dia, hahaha..” Stella nampak bahagia sekali.
“Sekali-kali dibuat mingkem bibirnya bagus tuh,” sambung Vanila.
“Harusnya disumpel pake bibir lagi, sayang belum sah ya, Ren,” goda Arsy.
Wajah Renata kembali merona. Dia hanya tersipu malu menanggapi godaan para wanita keluarga Hikmat yang mulutnya hampir sama seperti para pria. Apalagi yang sudah menikah seperti Arsy, Stella dan Vanila. Hanya Dayana saja yang paling kalem di antara mereka.
“Ila.. lo belum dijebol gawang ya sama bang Rakan?” cetus Stella.
“Kepo banget. Tau dari mana?”
“Jalan lo masih normal waktu kita ketemu sehari habis lo nikah. Berarti belum dijebol, hahaha..”
“Masih palang merah pasti,” terka Arsy.
“Wah bakalan tokcer nih kalau abis palang merah terus dijebol bang Rakan, hahaha..”
Vanila hanya melongo saja melihat Dayana yang ikutan berkata tanpa saringan. Ternyata ibu hamil yang satu ini sudah mulai terkontaminasi juga otaknya. Hanya Renata yang menjadi pendengar setia. Selain belum punya pengalaman berumah tangga, dia pasti akan terus menerima ledekan jika menyambung pembicaraan.
Suasana di ruang rawat Zar kembali dibuat ramai dengan kedatangan Sam dan Gilang. Arya dan Ervano juga menyempatkan diri menegok Zar lagi di rumah sakit sepulang bekerja. Kondisi ruang VVIP tersebut sudah seperti pasar malam saja, ramai dan berisik.
🍁🍁🍁
Pagi-pagi pandawa lima sudah berada di markas tim keamanan keluarga Hikmat. Mereka mendengar laporan kalau orang tua Richie datang dan meminta anak mereka dibebaskan. Selain itu, Alvaro juga sudah siap untuk diterbangkan ke pulau tak berpenghuni yang baru dibuka dan diperuntukkan bagi para koruptor.
Di pulau tersebut, mereka diminta untuk mengolah lahan yang sudah disediakan untuk digarap. Ada yang membuka kebun jagung, umbi-umbian dan juga sayuran. Semua dikerjakan oleh para napi, dari mulai membuka lahan, merapihkan, menebar bibit hingga merawatnya sampai panen.
Di sana tidak ada akses internet, tapi pasokan listrik sudah ada. Di sana mereka harus terbiasa hidup sederhana, jauh dari hiruk pikuk keramaian perkotaan dan juga lobi-lobi politik. Mereka harus bekerja kalau ingin memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sana ada sebuah toko yang menjual bahan-bahan makanan dan bisa ditukarkan dengan hasil panen. Total ada 50 penghuni di sana. Mereka disediakan hunian sederhana dengan peralatan dan perlengkapan seadanya.
Alvaro keluar dari bangunan yang dijadikan markas oleh Duta dan anak buahnya. Tangannya terbelenggu borgol. Kepalanya hanya menunduk saja ketika salah satu anak buah Duta membawanya ke mobil. Dia akan segera dikirimkan ke pulau khusus koruptor yang ada di luar pulau Jawa.
Begitu dirinya tertangkap, istrinya langsung menggugat cerai. Kedua anaknya ikut dengan sang istri, meninggalkan dirinya menghadapi semua hukuman sendirian. Pria itu hanya bisa pasrah menerima hukuman untuknya. Bahkan Sergio dan anak buahnya sudah tidak bisa menolongnya lagi.
Alvaro mengangkat kepalanya ketika berhenti di depan lima orang pria yang usianya sudah tidak muda lagi, namun tetap memiliki aura yang tidak bisa dianggap remeh. Abi mendekati Alvaro dengan kantong plastik berwarna putih.
“Ini bibit tanaman untukmu. Bercocok tanam dengan baik, semoga kamu betah di sana.”
Abi memberikan kantong plastik di tangannya. Walau enggan, Alvaro menerimanya juga. setelah Abi, kini giliran Juna yang datang mendekat. Pria itu menyerahkan kantong plastik hitam di tangannya.
“Ini pupuk organik. Gunakan ini supaya tanamanmu bertambah subur.”
Lagi-lagi Alvaro menerima pemberian Juna. Setelahnya Jojo datang mendekat. Pria itu membawa plastik yang ukurannya lebih besar. Dia mengeluarkan isinya lalu menunjukkannya pada Alvaro. Pria itu hanya terbengong melihat Jojo memberikan topi caping untuknya.
__ADS_1
“Ini untuk melindungi kepalamu saat sedang bekerja. Kabarnya di sana cukup panas. Aku berikan beberapa untukmu. Semoga cukup untuk sepuluh tahun.”
Alvaro hanya menyunggingkan senyum tipisnya. Usai Jojo memberikan hadiah, kini giliran Cakra yang mendekat. Pria itu membawa plastik yang lebih besar lagi. Hampir setinggi pria itu, dia menyerahkannya langsung pada Alvaro.
“Itu bebegig sawah (orang-orangan sawah). Supaya tidak ada hama atau burung yang memakan tanamanmu nanti.”
Kepala Alvaro berputar cepat, hadiah yang diberikan pandawa lima benar-benar luar biasa. Terakhir Kevin mendekat padanya. Pria itu tidak membawa apa-apa. Dia menepuk pelan pundak Alvaro.
“Aku hanya mendoakan semoga kamu betah di sana. Pekerjaanmu berjalan dengan baik dan semoga Tuhan mengampuni dosa-dosamu. Kalau kamu bosan, di sana ada penangkaran buaya, kamu bisa main bersama buaya di sana.”
Kevin meremat sedikit kencang bahu Alvaro hingga pria itu meringis. Kemudian dia kembali ke tempatnya tadi. Alvaro menganggukkan kepalanya pada pandawa lima, lalu masuk ke dalam mobil. Tak lama kendaraan roda empat itu segera melaju.
“Ngga modal amat, cuma kasih doa,” sindir Abi.
“Doa itu hadiah paling berharga,” jawab Kevin tak mau kalah.
“Bilang aja males keluarin duit,” timpal Jojo.
“Ciri khas Kevin banget itu,” sahut Juna.
“Jangan gitu. Dia bilang kaya tadi aja boleh mikir sehari semalem, hahaha..” sambung Cakra.
Tanpa mempedulikan ledekan para sahabatnya, Kevin segera masuk ke dalam rumah yang dijadikan markas tim keamanan keluarga Hikmat. Tak lama kemudian, keempat sahabatnya menyusul. Di dalam Kenzie dan Elang sudah menunggu. Di sana juga ada keluarga dari Richie.
Kenzie dan Elang mencium punggung tangan pandawa lima bergantian. Keduanya mempersilahkan pandawa lima untuk duduk. Ayah Richie mendekat lalu menyalami kelima pria itu.
“Kamu.. ayahnya Richie?” tanya Abi.
“Iya, pak Abi. Atas nama anak saya, saya minta maaf atas semua perbuatan Richie.”
“Kamu tahu kalau anakmu sudah melakukan banyak perbuatan jahat?” tanya Cakra.
“Iya, pak.”
“Terus kenapa istrimu terus meminta anakmu dibebaskan? Sudah tahu anaknya salah masih saja minta dibebaskan. Bagaimana anakmu akan belajar dari kesalahannya? Menjadi orang tua yang baik bukan hanya memberikan yang terbaik untuk anak, tapi harus bisa mengingatkan anaknya jika melakukan kesalahan.”
Kepala orang tua Richie tertunduk mendengar ucapan Abi. Jelita yang sejak datang terus saja mengoceh kini hanya diam seribu bahasa. Kedatangan Kenzie dan Elang saja sudah membuat nyalinya ciut. Setelah pandawa lima muncul, wanita itu semakin tidak berani mengeluarkan suaranya.
“Bu Jelita. Saya dengar ibu masih memberikan bantuan dan fasilitas pada Richie. Karena dukungan ibu yang salah kaprah, akhirnya anak ibu semakin melenceng. Dia sudah melecehkan Renata, menculik Zar dan berusaha melecehkan Renata lagi. Coba pikir kalau ibu berada di posisi Renata, apa ibu bisa memaafkan anak kesayanganmu?”
Tak ada jawaban dari Jelita, wanita itu hanya menangis saja mendengar penuturan panjang lebar Abi. Ayah Richie hanya bisa memegangi tangan istrinya itu. Apa yang terjadi pada anak dan istrinya juga kesalahan darinya yang tidak bisa mendidik mereka dengan baik.
“Saya mau bu Jelita bekerja tanpa pamrih di panti jompo. Nanti Duta yang akan menunjukkan tempatnya. Selama setahun penuh ibu harus mengabdikan diri mengurus kaun jompo tanpa digaji. Dan kamu..” Abi melihat pada ayah Richie.
“Setiap sebulan sekali kamu harus melakukan acara amal, membantu kaum dhuafa. Infakkan hartamu untuk orang yang membutuhkan. Tidak usah panggil media, lakukan diam-diam.”
“Baik, pak.”
“Hukuman untuk Richie masih menunggu keputusan Rena. Berdoalah semoga dia tidak meminta Richie untuk dikebiri.”
Usai memberikan hukuman pada kedua orang tua Richie, Abi dan yang lain segera meninggalkan ruangan. Kenzie dan Elang segera mengikuti kelima orang tua tersebut. Sebelum masuk ke dalam mobil, Abi melihat pada anaknya juga Elang.
“Urus dengan baik Desmond Group. Minta Fathan secepatnya mengisi jabatan CEO di sana.”
“Iya, pa.”
Abi menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam mobil. Tak lama dua mobil yang membawa pandawa lima segera meluncur. Mereka akan menuju destinasi selanjutnya, tempat memancing. Mereka akan menghabiskan waktu dengan melakukan hobi baru, memancing.
🍁🍁🍁
**Hukuman buat Richie masih belum diputusin, Renata lagi nunggu ilham😂
Hobi baru pandawa lima bukan mancing keributan kan🤣**
__ADS_1