Hate Is Love

Hate Is Love
Pasien Luar Biasa


__ADS_3

Demi bisa menjaga Zar di rumah sakit, Renata meminta ijin pada Rakan untuk tidak bekerja. Mengerti kekhawatiran Renata, Rakan mengijinkan wanita itu cuti sampai Zar keluar dari rumah sakit. Sepulang kerja nanti, pria itu akan menjenguk Zar di rumah sakit.


Dari hasil pemeriksaan, ternyata lambung Zar juga mengalami luka akibat pukulan yang diterimanya. Pria itu diminta tetap berada di rumah sakit untuk memulihkan kondisi lambungnya sambil menunggu jahitan di pinggangnya dibuka. Nara dan Kenzie sudah berada di rumah sakit pagi-pagi sekali.


Arsy yang bertugas pagi juga langsung menemui Zar di ruang inapnya. Semalam dia sudah mendengar kabar dari Irzal soal kondisi sang kakak. Awalnya Arsy bermaksud melihat Zar malam itu juga, namun sang suami melarang. Baru pagi ini wanita itu bisa melihat keadaan saudara kembarnya.


Geya yang mendengar kabar dari daddy-nya juga menyempatkan akan diri menengok Zar saat waktu magangnya. Biar bagaimana pun dia cemas akan keadaan kakak sepupunya itu. Tak lupa gadis itu membuatkan makanan kesukaan Zar dan juga untuk calon imamnya. Karena Daffa tidak pulang dari rumah sakit sejak semalam.


Sementara itu Richie dan Alvaro sudah diamankan. Mereka dibawa ke markas keluarga Hikmat. Hukuman untuk Richie masih menunggu keputusan Renata. Sedang untuk Alvaro, Kenzie menyerahkan semuanya pada pandawa lima. Kelima orang tua tersebut rasanya lebih pas jika memberikan hukuman.


Arsy masuk ke ruang perawatan Zar. Kenzie dan Nara sudah berada di sana sejak shubuh. Wanita itu mendekati bed sang kakak lalu menarik kursi di sampingnya. Matanya memandangi luka memar yang ada di bagian wajah.


“Gimana keadaannya?” tanya Arsy.


“Seperti yang lo lihat, Sy. Badan gue sakit semua, buat ngangkat sendok aja ngga mampu.”


“Hilih lebay. Bilang aja pengen dimanja. Modus nih biar diperhatiin Rena.”


“Bodo.. namanya juga orang usaha.”


“Jangan banyak gerak dulu. Lambung abang luka gara-gara kena pukulan, bed rest dulu. Mau aku pasangan kateter?”


“Buset Sy, gue masih sanggup jalan ke toilet,” sewot Zar yang hanya dibalas kekehan saja oleh Arsy.


“Abang belum mandi, mandi dulu gih.”


“Biar mama mandiin.”


“Jangan ma.. malu aku dimandiin sama mama.”


“Bentar lagi Arya datang, biar Arya aja yang mandiin,” ujar Arsy.


“Dimandiin sama papa aja,” usul Nara.


“Ngga mau. Pokoknya ngga mau, aku nunggu Arya aja.”


“Zar minder kalo dimandiin papa. Badannya kalah oke sama papa,” ledek Arsy.


“Weh sembarangan lo!”


Terdengar gelak tawa Arsy dan Nara. Kenzie hanya mengulum senyum saja. Hatinya lega ternyat kondisi Zar tidak separah dugaannya. Mulut anaknya itu juga tidak berhenti mengoceh sejak masuk rumah sakit. Sepertinya Daffa akan mengundurkan diri menjadi dokternya karena tak tahan dengan mulut cerewet sang pasien.


Pintu ruangan terbuka, dari luar muncul Arya dan Ervano. Zar melemparkan senyumnya melihat kedatangan para sepupunya. Akhirnya dia bisa mandi juga, menyambut kedatangan Rena yang sebentar lagi akan sampai ke rumah sakit.


“Mandiin gue,” ujar Zar begitu Arya dan Ervano mendekat.


“Wani piro?” Arya.


“Ogah mandiin makhluk berbatang, ngga asik,” Ervano.


“Dasar adek-adek durhakim lo,” Zar menepak kepala dua sepupunya tersebut.


“Arya, tolong mandikan Zar, ya. Kasihan nanti yang mau nengok dia kalau pasiennya bau asem,” ujar Nara.


“Sip mama. Ayo, bro.”


“Gendong.”


“Najis!!”


Sambil terkikik geli, Arsy membantu Zar turun dari bed. Arya langsung membawa Zar menuju kamar mandi. Ervano menyiapkan pakaian Zar lalu membawanya ke kamar mandi. Dia juga akan ikut membantu Arya memandikan kakak sepupunya.


Keributan di kamar mandi terdengar sampai ke ruangan. Arsy, Nara dan Kenzie tak bisa menahan tawa mendengar teriakan Zar karena terus dijahili sepupunya.


“Woi pelan-pelan, PEA! Masih sakit tulang rusuk gue!”


“Cemen lo! Gini doang sakit.”


“Arya! Gue sleding nih.”


“Bang… anu lo kok menciut sih, hahaha..”


“Sue lo! Eh Vano jangan dibuka woi!”


Setelah keributan di kamar mandi, akhirnya acara membersihkan diri yang diselingi dengan drama selesai juga. Zar naik kembali ke atas bednya. Tubuhnya sudah lebih segar dan wangi.


“Besok-besok gue ngga mau dimandiin lo-lo lagi.”


“Terus maunya sama siapa?”


“Renalah.”


“Jiaaahhhh ngarep. Nikah dulu woi..”


“Pa.. besok bawa penghulu ke sini. Aku mau nikahin Rena besok.”


“Kumat,” Arya menepak kepala Zar.


Pintu ruangan kembali terbuka, seorang suster masuk. Di tangannya terdapat peralatan untuk membersihkan luka Zar. Arsy mengambil peralatan dari tangan suster. Dia yang akan membersihkan luka kakak kembarnya.


Dia meminta Zar mengangkat pakaian pasien yang dikenakannya. Wanita itu membuka tape yang membungkus luka jahitan. Dengan saline dia membersihkan luka tersebut, mengeringkannya lalu memberinya lagi betadine. Setelahnya luka jahitan tersebut kembali ditutup dengan tape baru.

__ADS_1


“Jahitan gue kapan dibukanya?”


“Sekitar empat hari lagi.”


“Lama juga ya.”


Arsy hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia lalu menaruh makanan yang tersedia untuk sang kakak di meja yang ada di ranjang. Zar hanya memandangi makanan yang sama sekali tidak menggugah seleranya.


“Ngga ada makanan lain, apa?”


“Abang harus makan yang lembut-lembut dulu. Kan lambungnya masih luka. Udah ngga usah banyak milih, habisin makanannya terus minum obatnya.”


Baru saja Zar hendak memakan makanannya, Renata masuk ke dalam ruangan. Wajah pria itu nampak sumringah melihat kedatangan kekasih hatinya. Renata mencium punggung tangan Kenzie dan Nara bergantian, baru kemudian menghampiri bed yang ditempati Zar.


“Belum makan?” Renata melihat nampan makanan Zar yang masih utuh.


“Nunggu kamu, biar disuapin.”


“Hoek… bayi gede minta dimanja,” Arya.


“Duh kuping gue gatel,” Ervano mengorek telinganya.


“Mending balik ke IGD. Males banget lihatnya.”


Arsy segera berpamitan pada kedua orang tuanya lalu keluar dari ruangan. Renata meletakkan tas di atas nakas lalu menarik kursi di samping bed. Diambilnya piring berisi bubur, setelah menambahkan lauk di atasnya, wanita itu mulai menyuapi. Zar. Arya dan Ervano memilih duduk di sofa. Mereka tidak mau menjadi lalat pengganggu bagi sepupunya yang sedang dalam mode manja.


🍁🍁🍁


“Abang..”


Geya mendekati Daffa yang baru saja keluar dari IGD. Pria itu bermaksud menemui Zar untuk mengganti tape di lukanya. Daffa melemparkan senyumnya melihat Geya datang dengan tote bag di tangannya.


“Abang mau kemana?”


“Mau ke kamar Zar.”


“Ayo bareng, aku juga mau nengok bang Zar. Abang udah sarapan belum?”


“Belum.”


“Aku bawain sarapan juga buat abang. Kita makan bareng ya.”


“Asik.”


Keduanya berjalan menuju lift untuk sampai ke lantai 11. Ansel yang baru saja tiba, melihat kepergian Daffa dan Geya dengan perasaan tak senang. Dia semakin kesal pada Daffa, apalagi Geya masih jual mahal padanya. Pagi-pagi kedua orang itu sudah merusak moodnya.


Zar baru saja menyelesaikan makannya ketika Geya dan Daffa sampai di kamar. Daffa mendekati bed Zar, sedang Geya memilih menghampiri Kenzie dan Nara lebih dulu. Dia meletakkan tote bag di atas meja.


“Udah.”


“Lukanya dibersihin dulu.”


“Udah tadi sama Arsy.”


“Ooh..”


Hanya itu saja yang keluar dari mulut Daffa. Pria itu memeriksa kantong infus lalu mengatur kembali ritmenya. Dia meminta Zar duduk tegak untuk memeriksa keadaan tulang rusuknya yang retak.


“Nafasnya gimana? Ada kendala ngga? Ada sesak?”


“Ngga ada. Biasa aja.”


“Syukur, deh. Jangan banyak melakukan kegiatan yang berat, mengangkat beban juga jangan dulu.”


“Kapan kira-kira tulang gue sembuh?”


“Kira-kira sebulan sampai dua bulan. Harus banyak makan yang mengandung kalsium biar proses penyembuhan berjalan cepat.”


“Nah.. masih lama tuh tulang lo sembuhnya. Jadi ngga usah mikir nikah dulu,” seru Arya sambil mendekati bed.


“Siapa yang mau nikah?” tanya Daffa bingung.


“Nih pasien badung. Besok minta dipanggilin penghulu katanya.”


“Oh.. aku tau. Bang Zar kayanya sengaja diculik, dipukulin biar bisa dirawat sama kak Rena. Modus nih biar cepat dinikahin. Kak Rena jangan sampe kena jebakan betmennya bang Zar.”


Geya yang sedari tadi mendengarkan segera mendekat sambil mengatakan analisanya. Wajah Zar nampak kesal mendengarnya. Tangannya langsung menoyor kepala Geya begitu adik sepupunya itu mendekat. Renata menundukkan kepalanya, wajahnya bersemu merah mendengar ucapan Geya.


“Udah jelas emang modusnya Zar. Dia sengaja sakit biar bisa dirawat sama manja-manjaan ke Rena,” sambung Arya.


“Sirik aja, lo.”


“Sorry Zar, kayanya lo ngga bisa nikah dalam waktu dekat. Kan tulang rusuk lo belum sembuh,” Daffa ikutan menggoda.


“Apa hubungannya?”


“Ya susah nantinya kalau mau jebol gawang. Pas lo terlalu semangat gerak, bukannya mend*sah malah teriak kesakitan, hahaha…”


“Kampret!!”


Nara dan Kenzie tak bisa menahan tawanya mendengar perbincangan para anak muda. Keduanya memilih pulang setelah memastikan keadaan Zar baik-baik saja. Sepeninggal keduanya, semua yang ada di kamar semakin senang menggoda Zar. Renata tak berani mengangkat kepalanya, karena ledekan Daffa, Arya dan Ervano selalu menjurus padanya.

__ADS_1


“Abang mending makan dulu,” ajak Geya.


Gadis itu menarik tangan Daffa menuju sofa. Dia mengeluarkan wadah tempat makan yang ada di tote bag lalu menyusunnya di atas meja. Dengan cekatan Geya menyiapkan makanan untuk Daffa. Hal tersebut tidak luput dari perhatian Zar, Arya dan Ervano.


“Geya.. bisa juga tuh si kaleng rombeng pedekate sama Daffa,” Zar.


“Dilihat dari gelagatnya, kayanya bakalan ada yang nyusul ke KUA nih,” Ervano.


“Wei kaga bisa. Tetap gue yang duluan. Abis piala Sudirman, gue bakalan nikahin Shifa.”


“Piala Sudriman masih dua bulan lagi. Si Daffa tiga minggu lagi beres residennya. Duluan dia lah yang nikah,” Ervano tak mau kalah debat.


“Kaga bisa. Tetap gue yang duluan!” seru Zar.


“Heleh pasien mah diem aja. Ngantri paling belakang.”


“Wah ngajak ribut nih, gambreng aja gambreng.”


Ervano tertawa keras mendengar perdebatan Arya dan Zar. Kedua pria itu ngotot ingin menikah lebih dulu. Pandangannya kemudian beralih pada Geya dan Daffa. Pasangan tersebut terlihat asik menikmati sarapan tanpa terganggu dengan perdebatan Zar dan Arya.


🍁🍁🍁


Abi dan yang lainnya berkumpul di kediaman Juna. Mereka berunding untuk memberikan hukuman terbaik bagi Alvaro. Pria itu bukan hanya berurusan dengan keluarga Hikmat dan Ramadhan saja. Tapi sudah ada beberapa perusahaan yang dibuat merugi olehnya.


“Menurut kalian bagaimana?” tanya Abi.


“Kalau hukuman, kirimkan saja ke pulau baru yang kita buka khusus untuk para koruptor. Minta pihak kepolisian untuk bekerja sama. Dia bisa tinggal di sana tujuh sampai sepuluh tahun. Siapa tau dia bisa bertobat,” ujar Juna.


“Nah aku setuju dengan usul kak Juna. Mudah-mudahan dengan cara ini dia bisa tobat,” sambung Cakra.


“Soal perusahaannya gimana?” tanya Jojo.


“Nah itu yang agak bingung. Kalau aset aslinya hanya 30% aja dari keseluruhan aset Desmond Group. Sisanya itu didapat dari akuisisi perusahaan lain dengan cara licik atau merebut secara paksa. Total ada lima perusahaan yang dibuat bangkrut dan diambil asetnya. Kalau ngga diatur, bisa-bisa mereka berebut untuk mendapatkan Desmond Group,” tutur Abi.


“Kalau dibuat pailit dan perusahaan ditutup, kasihan dengan para pegawainya. Mereka tidak tahu apa-apa.”


Keadaan menjadi hening sejenak. Mereka masih memikirkan langkah terbaik untuk Desmond Group. Kabar tertangkapnya Alvaro sudah terdengar oleh para korban pria itu. Sebentar lagi pasti akan terjadi kehebohan memperebutkan Desmond Group yang ditinggal pemiliknya. Alvaro adalah pemilik saham terbesar, sisanya dikuasai oleh anak dan istrinya.


“Minta Ken mendata berapa nominal aset yang diambil Alvaro. Jadi untuk pembagian asetnya bisa disesuaikan dengan nilai kerugian mereka,” usul Jojo.


“Tumben tokcer,” seru Abi yang hanya dibalas cebikan bibir Jojo saja.


“Saham yang dimiliki istri dan anak Alvaro biarkan saja. Jumlahnya juga tidak banyak,” sambung Juna.


“Okelah. Nanti biar Ken dan Elang mengaturnya. Mereka juga akan merombak perusahaan. Kelima perusahaan yang dibuat bangkrut bisa bergabung mengurus manajemen sesuai dengan kapasitasnya masing-masing,” lanjut Abi.


“Tapi kalau bisa untuk pemimpinnya di luar dari mereka, supaya kondisi perusahaan lebih cepat stabil dan tidak terjadi perebutan kekuasaan,” sahut Cakra.


“Ide bagus itu. Aku akan memanggil Kenzie dan Elang sore ini. Dan untuk kandidatnya apa ada usulan?”


Semua hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar pertanyaan Abi. Juna bermaksud mengusulkan dari pihak keluarga Ramadhan yang memegang kendali, ada satu nama yang terlintas di pikirannya dan dirasa cocok untuk menjadi pimpinan sementara Desmond Group.


“Bagaimana kalau Nalendra? Dia cukup bagus dan rasanya siap kalau diberi tanggung jawab mengurus Desmond Group.”


“Nalendra masih muda. Dia nanti bakal kesulitan menghadapi orang-orang tua di bawahnya. Lagi pula menurut Farel, passion Nalendra ngga di sana. Dia lebih senang mengurus dan mengembangkan perkebunan Humanity di Ciwidey. Sekarang perkebunan itu tanggung jawabnya,” tutur Abi.


“Gimana kalau Fathan? Biarkan saja dia yang mengurus Desmond Group. Selama ini dia membantu Kenzie dan Kenan bergantian. Sudah saatnya dia memegang perusahaan sendiri.”


Semua langsung menoleh pada Cakra. Usulan pria itu sangat bagus. Fathan sudah banyak makan asam garam soal perusahaan. Sejak muda dia selalu mendampingi Kenzie dan mengembangkan Metro East sampai sekarang. Pria itu juga membantu Kenan saat diberi tanggung jawab mengurus perusahaan sendiri. Semua sepakat dengan usulan Cakra.


“Oke, aku setuju kalau Fathan,” Abi.


“Menantuku itu,” ujar Juna seraya tersenyum.


“Fathan tidak mudah diintimidasi. Jadi pilihan yang pas,” Cakra.


“Dia pasti bisa menjalankan perusahaan dengan baik,” Jojo.


“Kalau aku sih, yes,” ujar Kevin dengan ekspresi datarnya.


Kompak Abi, Juna, Cakra dan Jojo langsung menolehkan kepalanya pada Kevin. Sejak tadi pria itu tidak mengeluarkan suaranya sama sekali. Dia membiarkan keempat temannya saja yang berpikir. Dengan wajah tanpa dosanya, Kevin menatap balik keempat sahabatnya.


“Kenapa?”


“Benar-benar ngga ada sumbangsihnya. Sekalinya ngomong cuma aku sih yes doang,” sewot Abi.


“Kan udah ada kalian-kalian yang mikir. Aku tinggal kasih suara aja, setuju atau ngga. Gitu aja repot.”


“Besok-besok kalau dia minta tolong cucunya dijodohin jangan didengerin,” ceplos Jojo.


“Cucuku, berarti cucunya Abi sama Juna juga. Ngga mungkin mereka ngga mau ikut mikir.”


Jojo menghembuskan nafas kesal. Semakin tua, sikap Kevin semakin membuatnya jengkel. Juna hanya terkekeh melihat Jojo dan Kevin yang memang kerap berdebat. Untung saja keduanya tidak ada ikatan besan.


“Kasihan cucunya punya kakek modelan Kevin.”


Mata Kevin membulat mendengar ucapan Abi. Yang lain hanya tertawa saja mendengarnya. Setelah diskusi mereka selesai, Nadia meminta kelima pria itu untuk menikmati camilan. Dia sudah menyiapkan camilan sehat untuk pria-pria yang usianya sudah tidak muda lagi.


🍁🍁🍁


**Zar kesempatan dalam kesempitan, modus terus😂

__ADS_1


Kevin... Aku cuma bisa geleng² ajah😂**


__ADS_2