
Rakan baru saja selesai berpakaian. Tubuhnya sudah terbalut kemeja lengan panjang warna biru muda, dilapisi jas dengan warna biru navy. Dasi juga sudah bertengger di lehernya. Vanila yang masih berada di atas kasur, bangun dari tidurnya, kemudian mendekati Rakan. Dipeluknya sang suami dari belakang.
“Kenapa, sayang?”
“Abang ngga usah kerja ya.”
“Kenapa?”
Pelan-pelan Rakan melepaskan pelukan sang istri, kemudian membalikkan tubuhnya. Kedua tangannya memeluk pinggang Vanila. Di kehamilannya yang akan memasuki usia empat bulan, Vanila masih sering merasakan morning sick. Seperti pagi ini, dia hanya berbaring saja di kasur karena pusing dan lemas.
“Aku lagi ngga mau jauh dari abang,” Vanila menyandarkan kepalanya ke dada sang suami.
Terdengar tawa pelan Rakan. Sejak hamil, Vanila memang bertambah manja padanya. Terkadang dia ikut ke kantor karena tidak mau jauh darinya. Makan pun harus disuapi, kalau tidak, maka makanan bisa keluar lagi mulutnya.
“Kamu mau ikut ke kantor?”
“Ngga ah. Aku mau di rumah aja, tapi sama abang. Abang ada meeting penting ya?”
Kepala Vanila mendongak, melihat pada sang suami dengan wajah memelasnya. Melihat itu tentu saja Rakan jadi tak tega. Sebenarnya hari ini dia ada pertemuan penting dengan salah satu kliennya. Tapi melihat sang istri, dia jadi tak tega. Pria itu mengecup kening Vanila dengan lembut.
“Ya udah, abang ngga akan kerja hari ini. Abang bakal temanin kamu di rumah.”
Senyum terbit di wajah Vanila. Rakan melepaskan pelukannya. Dia membuka kembali pakaian yang dikenakannya dan menggantinya dengan pakaian santai. Pria itu segera menghubungi asistennya, meminta membatalkan meetingnya, kemudian naik ke atas ranjang, berbaring di samping sang istri.
“Abang mau masakin aku, ngga?”
“Kamu yakin mau dimasakin abang? Abang ngga bisa masak.”
“Nanti aku kasih tau bumbu dan caranya. Abang yang eksekusi, ya.. mau ya..” Vanila mengedip-ngedipkan matanya.
“Ya udah, abang yang masak. Kamu mau dimasakin apa?”
“Ayam crispy saus madu, capcay sama perkedel jagung.”
Kening Rakan berkerut mendengarnya. Dirinya yang tidak pernah memasak, harus membuat tiga hidangan sekaligus. Tapi demi sang istri, dia menyanggupinya. Vanila mengajak Rakan berbelanja ke supermarket untuk membeli bahan masakannya.
Rakan berjalan mendorong troli belanjaan. Di sampingnya Vanila menemani sambil memasukkan bahan yang dibelinya. Wortel, jagung manis, baby corn, brokoli, bawang daun, jamur kancing, bawang bombay, tofu dan dada ayam fillet di masukkan ke dalam keranjang. Kemudian dia mengajak Rakan berburu bahan lainnya. Tepung bumbu serba guna, biji wijen, madu murni juga dimasukkan ke dalam troli.
“Abang mau buah apa? Kita bikin salad buah juga.”
“Terserah kamu aja.”
Pria itu kemudian mendorong troli menuju deretan kotak yang memajang buah-buahan. Vanila memasukkan buah naga, melon, apel, pir serta yoghurt dan susu kental manis ke dalam troli. Setelah tidak ada yang dibelinya lagi, mereka segera menuju kasir.
Usai berbelanja, Rakan bersiap untuk mengeksekusi bahan-bahan yang dibelinya tadi, tentunya dengan instruksi Vanila. Tak lupa dia mengenakan apron untuk melindungi pakaiannya. Pertama-tama, Rakan memotong-motong fillet ayam menjadi beberapa bagian kecil, lalu dimasukkan ke dalam tepung bumbu serbaguna yang sudah diberi air.
Kemudian lanjut memotong-motong sayuran yang akan dibuat capcay. Tidak lupa dia memotong tofu. Usai memotong sayuran, dia mencincang bawang putih dan memotong bawang bombay bentuk dadu.
menyisir jagung dari bonggolnya, kemudian menghaluskannya menggunakan hand blender, biar cepat. Dia menambahkan bawang putih bubuk, merica bubuk, garam, penyedap rasa, irisan daun bawang, telur dan tepung terigu lalu diaduk rata.
“Abang bikin capcay aja dulu. Tofunya digoreng dulu, terus bawang putih sama bombanya ditumis. Kalau udah mateng, masukin wortel dulu, kasih air, baru masukin brokoli, jagung sama jamur. Terakhir baru masukin tofunya.”
__ADS_1
Rakan segera melakukan apa yang diperintahkan istrinya. Sayuran juga dimasukkan sesuai urutan. Tangannya kemudian memasukkan garam dan yang lain sesuai dengan takaran yang disebutkan Vanila. Terakhir dia memasukkan larutan maizena untuk mengentalkan kuah. Hidangan pertama selesai dibuat.
Sekarang lanjut hidanga kedua. Rakan mulai menggoreng perkedel jagung. Perkedel jagung buatan pria itu tidak sama bentuknya. Ada yang besar, ada yang kecil, ada yang tebal, ada yang tipis. Bahkan di gorengan terakhir, bentuknya besar dan pipih. Rakan sudah tidak sabar menggorengnya.
Usai menggoreng perkedel jagung, dia lanjut menggoreng ayam yang sudah dilumuri tepung basah. Sebelumnya dia membalurnya dengan tepung kering. Untuk yang satu ini juga, Rakan asal saja menggorengnya. Yang penting sudah terbalur tepung kering, langsung dimasukkan ke dalam minyak panas.
Setelah semua ayam digoreng, sekarang tinggal dibumbui. Kembali Rakan harus mencincang bawang putih dan jahe, serta mengiris bawang bombay bentuk dadu. Pria itu kemudian menumis bawang sampai matang. Kemudian memasukkan jahe, kecap manis, saos tomat, madu dan garam, aduk sampai rata. Setelahnya dimasukkan ayam crispy yang digoreng tadi, diaduk sampai bumbu tercampur semua.
Rakan menaruh ayam crispy madu ke dalam piring dan untuk sentuhan akhir, memberikan taburan wijen dan daun bawang. Pria itu kemudian membawa semua masakannya ke meja makan. Sedang perabotan kotor dibiarkan begitu saja. Sang asisten rumah tangga yang akan mengurusnya nanti.
Dengan mata berbinar, Vanila menyendokkan nasi ke atas piring. Dia juga menambahkan semua lauk yang tadi dimasak suaminya. Jempolnya terangkat ketika merasakan masakan suaminya benar-benar lezat. Tak percaya dengan reaksi sang istri, Rakan pun menyendokkan nasi dan yang lain ke dalam piring. Ternyata memang benar, masakannya benar-benar enak.
“Enak kan, bang? Ternyata abang beneran jago masak.”
“Ya kan kamu yang kasih tau bumbunya apa aja, berapa banyak. Kalo aku sendiri yang kasih takaran, ya ngga yakin juga.”
“Pokoknya masakan abang enak. Besok-besok masakin aku lagi, ya.”
Hampir saja Rakan tersedak mendengarnya. Hari ini saja, jari telunjuknya sudah dua kali terkena irisan pisau. Belum lagi tangannya yang terkena cipratan minyak. Dia lebih baik menandatangani berkas setumpuk dari pada berperang dengan alat dapur. Tapi melihat sang istri dengan lahap menyantap makanan buatannya, tak ayal membuatnya bahagia juga.
🍁🍁🍁
Arsy baru saja menyelesaikan prakteknya. Sekeluarnya dari ruangan, dia bergegas menuju apotek untuk membeli sesuatu. Setelahnya, wanita itu segera menuju kamar mandi. Cukup lama Arsy berada di dalam toilet, menunggu hasil test pack di tangannya. Arsy langsung melakukan test setelah dirinya terlambat datang bulan. Jadwal tamu bulanannya, harusnya seminggu yang lalu.
Dia juga merasakan perubahan dalam tubuhnya. Tapi belum mau mengatakan apa-apa pada sang suami. Dan untuk lebih memastikan, dia akan mengetesnya lebih dulu. Mata Arsy berkaca-kaca ketika melihat tanda positif di alat tes kehamilan tersebut. Dalam hatinya tidak henti mengucapkan syukur. Akhirnya setelah beberapa bulan berlalu, dirinya kembali diberikan kesempatan untuk mengandung.
Dengan cepat wanita itu keluar dari toilet. Dia akan langsung mengunjungi suaminya di kantor. Pasti Irzal bahagia mendengar kabar kehamilannya. Sepulang kerja nanti, Arsy akan mengajak Irzal bertemu dengan dokter kandungan. Wanita itu segera memesan layanan taksi online untuk sampai ke kantor suaminya. Sengaja dirinya tidak memberitahukan kedatangannya, untuk memberi kejutan pada sang suami.
“Sayang..”
“Aku ganggu ngga, mas?”
“Ngga dong, sayang.”
Irzal mengulurkan tangannya. Arsy berjalan menuju sang suami, seraya menyambut uluran tangannya. Wanita itu kemudian duduk di atas pangkuan Irzal. Sebuah kecupan lembut mendarat di pipinya. Arsy mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya, lalu memberikannya pada Irzal.
“Apa ini?”
“Hadiah buat mas.”
“Hadiah?”
Arsy hanya menganggukkan kepalanya. Irzal segera membuka penutup kotak. Matanya membulat melihat test pack di dalamnya. Dan di sana tertera tanda positif. Sontak dia melihat pada sang istri.
“Sayang.. kamu.. hamil?”
“Iya, mas. Alhamdulillah, aku hamil.”
Dengan cepat pria itu memeluk tubuh wanita di atas pangkuannya. Ciuman bertubi diberikan pria itu ke wajah sang istri. Hatinya benar-benar bahagia. Akhirnya mereka kembali diberi kepercayaan untuk memiliki momongan. Sebuah ciuman panjang diberikan Irzal di bibir istrinya.
“Kamu sudah periksa ke dokter?”
__ADS_1
“Belum, mas. Aku mau periksa bareng mas aja.”
“Kapan kamu mau diperiksa?”
“Nanti sore aja, sepulang mas kerja.”
“Ok, deh. Kamu udah makan belum?”
“Belum. Mau makan sambil disuapin mas.”
“Boleh. Mau makan di mana?”
“Di EDR aja ya.”
“Boleh. Ayo sayang, kita makan sekarang. Jangan sampai calon anak kita kelaparan.”
Sambil memeluk pinggang istrinya, Irzal keluar dari ruangannya. Mereka segera menuju EDR yang ada di lantai lima. Semua mata langsung tertuju pada CEO Infinity Corp tersebut ketika memasuki EDR. Irzal memang jarang makan di EDR. Dia lebih sering makan siang di luar bersama klien atau sang istri.
Kedatangannya tentu saja mengejutkan para karyawan yang sedang menikmati makan siang. Irzal hanya menganggukkan kepalanya saja ketika melihat karyawan yang tersenyum atau menganggukkan kepalanya. Pria itu memang jarang tersenyum, dan sudah menjadi rahasia umum di kantor ini.
Irzal mengambilkan makanan untuk sang istri juga dirinya, kemudian menuju meja yang masih kosong. Para karyawan memang mengenali Arsy sebagai nyonya Irzal. Wanita itu pernah muncul saat acara suksesi Irzal. Hanya saja penampilan wanita itu yang sudah berubah. Sekarang nyonya Irzal sudah terbalut pakaian muslim.
“Sayurnya dimakan ya, biar calon anak kita sehat.”
Arsy hanya menganggukkan kepalanya. Dengan sabar dia menunggu Irzal menyendokkan makanan kemudian menyuapkan ke mulutnya. Apa yang dilakukan sang bos, sedikit banyak menimbulkan rasa iri bin nganan para pegawainya. Mereka jadi berandai-andai, pasangan mereka juga ada bersama mereka dan melakukan adegan suap menyuap seperti bosnya.
“Enak ngga makanannya?”
“Enak mas. Tambah enak karena disuapin mas.”
“Kamu sejak kapan jadi tukang gombal?” goda Irzal.
“Sejak jadi nyonya Irzal, hihihi..”
“Habis makan siang, kita belanja susu hamil, buah dan makanan lain ya. Pokoknya calon anakku dan ibunya jangan sampai kelaparan.”
“Siap, mas.”
“Kamu mau apalagi?”
“Pengennya dicium, tapi jangan di sini. Di ruangan mas aja.”
“Habisin makanannya dulu.”
Arsy terus membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan yang diberikan suaminya. Kebahagiaan yang dirasakannya benar-benar lengkap. Diberi kesempatan memiliki momongan lagi dan mendapat perlakuan manis dari suaminya. Sesekali Irzal mengusap sudut bibir Arsy yang terkena saos. Dan hal tersebut semakin membuat iri siapa saja yang melihatnya.
🍁🍁🍁
**Yang baca jangan iri bin nganan juga ya😂
Seperti biasa, besok aku libur😉**
__ADS_1