Hate Is Love

Hate Is Love
Restu


__ADS_3

Minggu pagi Rafa sudah berada di kediaman Kevin. Dia bermaksud menjemput Dayana, mengajak gadis itu untuk membeli beberapa barang untuk pernikahan mereka. Kevin menyambut calon cucu menantunya dengan ramah. Dia mempersilahkan Rafa menunggu di ruang tamu sambil berbincang dengannya.


“Hari ini rencana kalian mau kemana?” tanya Kevin.


“Mau cari cincin pernikahan dan hantaran lainnya. Setelah itu saya mau ajak ke tempat lain. Opa ngga keberatan kan?”


“Asal jangan terlalu malam pulangnya.”


“Iya, opa.”


Dari arah tangga, nampak Dayana menuruni anak tangga. Seperti biasa, Dayana terlihat cantik mengenakan pakaian apapun. Mata Rafa tak lepas memandang Dayana yang baru saja sampai di ruang tamu. Skinny jeans dan tunik blouse melekat pas di tubuhnya, ditambah flat shoes dan tas selempang yang dikenakannya.


“Sudah siap?” tanya Rafa.


“Udah, mas.”


“Opa, kita pergi dulu ya.”


“Iya. Selamat bersenang-senang.”


Rafa bangun dari duduknya, setelah mencium punggung tangan Kevin, bersama Dayana, dia meninggalkan kediaman pria tua itu. Rafa memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Dia mengarahkan kendaraan menuju toko emas tempat keluarganya biasa membeli perhiasan.


Seorang pramuniaga toko menyambut kedatangan mereka. Sebelumnya ibu Rafa sudah menghubungi pemilik toko. Sang pemilik sudah menyiapkan kolekasi terbaru mereka untuk diperlihatkan pada pasangan calon pengantin.


Dayana memperhatikan semua koleksi yang diberikan oleh pramuniaga toko. Karena banyaknya pilihan, gadis itu jadi bingung sendiri. Rafa menyerahkan semua pilihan pada Dayana, termasuk memilih gelang yang akan dijadikan mas kawin, sesuai permintaan Dayana.


“Kamu mau yang mana?” tanya Rafa.


“Bingung mas, semuanya bagus-bagus. Mas ada masukan ngga?”


“Aku mana ngerti soal perhiasan. Terserah kamu aja.”


Melihat kebingungan Dayana, sang pramuniaga pun memberikan beberapa pilihan perhiasan yang dirasa cocok untuk gadis itu. Setelah memilih dan menimbang, akhirnya Dayana menjatuhkan pilihannya juga. Dia memilih cincin pernikahan dan gelang dengan motif simple namun elegan.


“Nanti perhiasannya dikirim ke mana pak?” tanya sang pramuniaga.


“Langsung saja ke kediaman pak Ravin. Sebentar saya kirimkan alamatnya.”


Setelah memberi alamat kediaman Kevin dan membayar perhiasan, Rafa dan Dayana meninggalkan toko tersebut. Destinasi selanjutnya adalah mengunjungi mertua Rafa dahulu. Dia sudah berjanji akan mengenalkan calon istrinya yang baru pada ibu dari mendiang istrinya.


“Kita mau ke mana mas?”


“Ke rumah mama Diana. Dia mamanya Maya, mendiang istriku. Kamu ngga keberatan kan? Mama Diana minta dikenalkan padamu sebelum kita menikah.”


“Ngga kok, mas. Mas Rafa masih berhubungan baik dengan keluarga mba Maya ya?”


“Iya. Mama Diana cuma punya dua anak. Kakaknya Maya tinggal di luar negeri, ikut dengan suaminya. Jadi setelah Maya pergi, mereka tidak punya anak yang tinggal bersamanya. Makanya mas sering mampir ke rumah mereka untuk melihat keadaan mereka.”


“Pasti mereka kesepian.”


“Tapi sekarang mereka sudah punya anak lagi.”


“Hah? Bayi maksudnya? Bukannya udah tua ya, kok bisa punya bayi lagi?”


“Hahaha.. bukan bayi. Tapi mama Diana ngambil anak dari panti asuhan, dua orang. Sekarang rumah mereka ramai lagi.”


“Ooh.. masih kecil atau udah besar?”


“Sekarang kelas 1 SMP.”


“Udah ABG ya.”

__ADS_1


“Iya. Mereka anak kembar sepasang. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan dan dititipkan di panti asuhan sudah tiga tahun. Keluarganya ngga ada yang mau ngurus. Akhirnya mama Diana yang adopsi mereka.”


Dayana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Hatinya sebenarnya resah bertemu dengan keluarga mendiang istri Rafa. Pria itu terlihat menyanyangi mantan mertuanya itu. Dia ragu apakah ibu Diana akan menyukainya dan menerimanya menjadi istri baru Rafa.


Jantung Dayana semakin berdegup kencang saat kendaraan yang ditumpanginya semakin mendekati rumah Diana. Tak lama kemudian mobil tersebut berhenti di depan rumah bercat biru muda. Dayana segera turun setelah Rafa turun dari mobil. Sambil menggandeng tangannya, Rafa masuk ke dalam rumah tersebut.


“Assalamu’alaikum..”


“Waalaikumsalam. Rafa…”


Diana menyambut kedatangan Rafa dengan senang. Pria itu memeluk ibu mertua yang sudah dianggap ibu sendiri. Kemudian dia membawa Diana ke depan Dayana dan mengenalkannya.


“Ma.. kenalin ini Aya, calonku.”


Dayana mendekati Diana lalu mencium punggung tangan wanita itu. Sejenak Diana memandangi gadis cantik di depannya. Dia menebak usia Dayana di awal dua puluh. Itu artinya jarak antara Dayana dan Rafa cukup jauh.


“Ini calonku, ma. Cantik kan?”


“Cantik dan masih sangat muda. Ayo duduk dulu.”


Mata Diana terus melihat pada Dayana, membuat gadis itu risih sendiri. Sedari tadi dia hanya menjadi pendengar saja saat Rafa berbincang dengan Diana. Perasaan Dayana semakin tak menentu.


“Aku ke kamar mandi dulu, ma.”


Saat Rafa pergi, asisten rumah tangga datang membawakan minuman dan camilan untuk mereka. Diana meletakkan cangkir teh ke depan Dayana dan mempersilahkan gadis itu untuk meminumnya.


“Berapa usiamu?”


“22 tahun, tante.”


“Masih sangat muda. Kamu yakin akan menikah muda?”


“In Syaa Allah, tante.”


“In Syaa Allah aku yakin, tante. Usia mas Rafa yang sudah matang, aku yakin dia sudah lebih dewasa dan bisa membimbingku lebih baik. Walau perbedaan usia kami jauh, tapi aku yakin itu bukan masalah. Opa dan omaku juga jarak usianya cukup jauh saat menikah dulu.”


“Kamu tidak masalah dengan statusnya?”


“Ngga, tante.”


“Keluargamu?”


“Keluargaku sudah tahu status mas Rafa.”


“Syukurlah kalau begitu. Maaf kalau tante terkesan cerewet. Tante hanya ingin yang terbaik untuknya. Tante senang dia bisa membuka lembaran baru dalam hidupnya. Tidak terkungkung dalam kenangan Maya lagi. Tante harap kalian hidup bahagia, dan memiliki banyak anak.”


“Aamiin..”


Perasaan Dayana lega setelah berbincang dengan Diana. Ternyata apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Diana juga mendukung hubungannya dengan Rafa. Tangan hangat Diana menggenggam erat tangan Dayana. Tak berapa lama, Rafa kembali datang bergabung.


“Rafa.. barang-barang Maya, tolong kirimkan ke sini.”


“Kenapa, ma?”


“Kamu akan menikah. Jangan buat istrimu cemburu karena kamu masih menyimpan barang-barangnya. Kirimkan barang-barang Maya, tata ulang rumahmu. Buatlah nuansa berbeda, supaya kehidupan kalian nantinya juga berbeda.”


“Iya, ma.”


Keharuan meliputi hati Dayana. Hubungan Diana dan Rafa ternyata lebih dekat dari yang dibayangkan olehnya. Wanita itu juga terlihat bijak. Dia sangat menjaga perasaan Dayana dan memikirkan kehidupan rumah tangga Rafa selanjutnya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Sama seperti pasangan Dayana dan Rafa, Stella dan Tamar pun tengah berburu barang-barang untuk pernikahan mereka. Keduanya juga pergi untuk mencari cincin pernikahan. Tak banyak perdebatan di antara keduanya, mereka sama-sama memilih desain simple untuk cincin pernikahan.


Setelah membeli cincin, mereka membeli barang-barang untuk hantaran pernikahan. Tamar mengikuti saja keinginan Stella membeli barang yang diinginkan. Setelah mendapatkan semua barang, mereka memutuskan mengisi perut dan membasahi kerongkongan di café.


“Buat mas kawinnya belum beli. Kamu mau beli apa?” tanya Tamar sambil menikmati makanannya.


“Aku mau uang aja buat mas kawinnya.”


“Berapa?”


“Satu juta.”


“Yakin cuma satu juta?”


“Iya. Tapi semuanya harus uang koin seribuan.”


“Hah? Ngga salah, buat apa?”


“Buat dipajang di kamar kita, hehehe… dimasukin ke toples terus dipitain. Awas harus cantik dan unik toplesnya ya, jangan toples plastik yang buat jual sosis siap makan.”


Tamar hanya menepuk keningnya mendengar permintaan nyeleneh calon istrinya. Berarti dia harus ke bank untuk menukarkan uang koin seribuan. Jadi ada 1000 uang koin seribuan yang harus disiapkan olehnya.


“Udah uang aja? Mau tambah yang lain?”


“Tambah apa?”


“Beras dua karung.”


Mata Stella melotot mendengarnya, namun Tamar hanya membalasnya dengan kekehan saja. Pria itu kembali melanjutkan makannya. Beberapa kali Stella mencomot makanan miliknya. Pantas saja gadis itu memesan menu yang berbeda, supaya bisa mencicipi miliknya juga.


“Habis dari sini mau kemana?” tanya Stella.


“Pulang. Aku mau istirahat, capek. Besok banyak kerjaan di kantor.”


“Mau aku bantuin?”


“Ngga usah, yang ada nambah kerjaan jadinya.”


“Ish..”


“Kamu main aja sama Suzy, jahilin orang kek.”


“Aku ini tipe solehah ya, ngga mau ganggu orang lain.”


“Solehbor kali,” ceplos Tamar asal.


Hanya bibir manyun saja yang diberikan Stella sebagai balasan atas ucapan calon suaminya itu. Dia kembali mencomot makanan di piring Tamar yang hampir setengah piring masuk ke dalam perutnya.


"Tapi kalau bisa, kamu bawain makan siang aja buatku."


"Siaaappp."


"Tapi harus kamu yang masak."


"Siapa takut."


Dengan penuh percaya diri, Stella menyanggupi permintaan calon suaminya. Namun otaknya berpikir keras, menu apa yang harus dibuat olehnya. Masakan andakannya hanyalah membuat mie instan dan telor ceplok saja.


🍁🍁🍁


**Kira² Stella bakal masak apa buat calon suaminya ya🤭

__ADS_1


Maaf yo hadirnya menjelang malam. Habis hajat aku belum take a break. Jadi hari ini khusus buat istirahat dan kumpul barsng suami & anak. NR ngga up ya🙏


Mudah²an besok udah bisa up normal lagi walau jamnya masih tentatif**.


__ADS_2