Hate Is Love

Hate Is Love
Parno


__ADS_3

Bersama dengan Renata, Zar mendatangi kantor L’amour. Mereka ingin melihat sampai sejauh mana perkembangan persiapan pernikahan mereka. Kedatangan keduanya disambut oleh Rain dan juga Raisya. Rain yang meneruskan bisnis sang mama, kini dibantu oleh Raisya, anak bungsunya.


Rain mengajak Zar dan Renata menuju meeting room. Di sana sudah ada tim yang menangani persiapan pernikahan calon pengantin tersebut. Untuk pernikahannya, Zar menginginkan konsep outdoor. Dia memilih mengadakan pernikahan di salah satu tempat wisata yang ada di bawah Das Archipel, perusahaan milik Kenan.


“Untuk satu hari, tempat wisata akan ditutup. Jadi acara bisa berlangsung sampai sore, seperti keinginanmu,” jelas Rain.


“Makasih, tante.”


“Kartu undangan dan souvenir juga sudah siap. Khusus untuk kartu undangan, tinggal tunggu kepastian tanggal aja dari kamu. Rencananya mau kapan?”


“Aku pengennya kalau ngga Sabtu, ya Minggu. Nanti aku pastiin dulu ke KUA, soal jadwalnya. Kalau penghulunya ngga bisa, kan gawat. Tar dapet penghulu gagap kaya nikahannya Daffa.”


Rain tak dapat menahan senyumnya mengingat pernikahan keponakannya itu. Karena mendadak, akhirnya mereka mendapatkan penghulu sisa. Pegawai baru yang baru pertama kali menikahkan pasangan pengantin.


“Pakaian pengantinnya udah siap, tan?”


“Seminggu lagi baru siap. Kalau sudah selesai, nanti tante kabari.”


“Tante ngga terima klien lain, kan?”


“Klien lain? Siapa?”


“Arya. Apa dia ada hubungi tante buat atur pernikahannya dengan Shifa?”


“Setahu tante, ngga. Apa Arya atau Shifa ada menghubungimu, Sya?” Rain melihat pada anaknya.


“Ngga, ma.”


Raut wajah Zar nampak lega. Sepertinya dia hanya ketakutan saja Arya menyalipnya. Benar apa yang Irzal katakan, pernikahan itu butuh persiapan. Tidak mungkin sepupunya itu menyalipnya.


“Kalau Arya datang minta diatur pernikahannya diatur dalam waktu dekat, jangan mau ya, tan.”


“Kenapa?”


“Aku ngga mau ditikung dua kali.”


“Hahahaha… ya ampun ada-ada aja kamu, Zar.”


“Ya udah, tan. Aku pulang dulu. Kabarin aja kalau bajunya udah jadi. Aku mau cari cincin pernikahan dulu.”


“Iya, Zar.”


Zar bangun dari duduknya, lalu mengajak Renata pergi. Kali ini tujuannya adalah mendatangi toko perhiasan. Dia ingin memaksimalkan waktunya hari ini bersama Renata mengurus pernikahannya, sebelum berangkat lagi ke Thailand, besok.


Keduanya memasuki mall The Ocean, lalu menuju toko perhiasan yang ada di sana. Kedatangan mereka disambut oleh salah satu pegawai. Ketika keduanya memasuki ruangan yang ditunjukkan pegawai tersebut, sudut mata Zar menangkap sosok seorang pria keluar dari ruangan lain.


“Kenapa Zar?” tanya Renata yang melihat pria itu menahan langkahnya.


“Aku kayanya tadi lihat Arya.”


“Itu perasaan kamu aja, kali. Udah dong jangan parno gitu.”


Zar mencari-cari pria yang dilihatnya tadi, namun tidak menemukannya lagi. Akhirnya pria itu segera masuk ke dalam ruangan. Di sana, pramuniaga sudah menyiapkan koleksi terbaru mereka. Renata mendudukkan diri di depan meja. Matanya melihat deretan cincin pernikahan yang banyak memiliki model cantik.


“Kamu mau yang mana?” tanya Zar.


“Aku bingung. Bagus-bagus semua.”


“Ya udah beli aja semua.”


“Ish.. gimana makenya coba?”


“Dipakein semua di jari kamu, biar kaya Tessy, hahaha..”


Sang pramuniaga ikut tersenyum mendengar kelakar Zar. Renata kembali mengalihkan perhatiannya pada deretan cincin di depannya. Akhirnya pilihannya jatuh pada cincin yang terbuat dari emas putih dengan sebuah berlian kecil yang ada di bagian tengah, menjadi tempat pertemuan lingakaran cincin.


“Yang ini aja.”


Renata mengambil cincin tersebut, lalu mencobanya. Ternyata ukurannya pas dengan jarinya. Zar meminta sang pramuniaga membuatkan cincin dengan model yang sama, hanya berbeda bahan. Dia minta cincin berbahan titanium. Usai membayar cincin yang dibelinya, calon pengantin tersebut keluar dari toko.


“Sekarang kemana?”


“Kita jalan-jalan dululah. Nonton gitu, kan jarang-jarang aku bisa ngabisin waktu bareng kamu.”


“Ya udah, ayo. Bioskopnya ada di lantai atas.”


Keduanya segera menuju eskalator untuk menuju ke lantai atas. Suasana bioskop cukup ramai sore ini. Mereka berjalan menuju deretan poster yang terpajang. Bioskop ini memiliki enam studio yang menayangkan enam film berbeda. Dua di antaranya, tidak dijadikan pilihan, karena film bergenre anak-anak.


“Nonton ini aja,” Renata menunjuk poster film horror asal negeri Gajah Putih.


“Ck.. masa kencan nonton film horror sih?” protes Zar.


“Ya udah nonton film superhero aja.”


“Ngga ada romantisnya, nonton film superhero.”


“Ya udah yang ini. Ini drama kan?”


“Bikin ngantuk. Pasti isinya kaya ftv ikan terbang yang kumenangiiisss.”

__ADS_1


“Zaaaarrrr..”


Renata nampak kesal pada calon suaminya ini. Ada saja protesan yang keluar dari mulutnya. Dia yang mengajak nonton, tapi dia yang selalu menolak film yang dipilihnya. Satu-satunya yang belum dipilih adalah film entah dengan genre apa. Karena poster film hanya menunjukkan pria tengah mendorong troli. Film tersebut menggunakan bahasa Perancis sebagai judulnya, Chariot.


“Ya udah nonton ini aja,” Renata menunjuk poster film terakhir.


Kali ini tidak ada protesan dari mulut Zar. Akhirnya pasangan tersebut segera membeli tiket untuk film tersebut. Kening Renata mengernyit melihat yang membeli tiket tidak lebih dari sepuluh orang. Namun karena sudah terlanjur, dia tak jadi membatalkan. Setelah membeli popcorn dan minuman, keduanya segera menuju studio yang memang sudah terbuka.


Terdengar hembusan nafas kesal Renata. Sudah setengah jam berlalu, dia belum bisa menebak arah film yang ditontonnya. Sedari tadi layar lebar di depannya hanya menyuguhkan adegan seorang pria yang mendorong troli. Berhenti sebentar, berbicara dengan orang yang ditemuinya, lalu melanjutkan lagi perjalanan. Berhenti kembali untuk memasukkan barang ke dalam troli, kemudian mendorongnya lagi.


“Ini film apa sih?” akhirnya Renata tak bisa menahan mulutnya lagi.


“Itu orang dorong troli,” jawab Zar cuek.


“Ya maksudnya apa coba? Dari tadi kerjaannya dorong-dorong troli mulu. Ngobrol, dorong lagi, masukin barang, dorong lagi. Terus nanti kalau udah sampe tempat tujuan tamat gitu filmnya?”


“Bisa jadi.”


“Mending nonton horror atau action dari pada nonton film ngga jelas kaya gini,” kesal Renata.


“Kan kamu yang pilih.”


“Ya aku milih ini gara-gara kamu protes mulu.”


Sibuk berdebat dengan Zar, Renata sampai tidak menyadari kalau satu per satu penonton sudah meninggalkan studio. Mereka tidak sanggup melihat sampai tamat alur film yang membagongkan. Sadar hanya tinggal berdua saja di studio ini, Renata langsung mengajak Zar untuk keluar juga.


“Ada ya film kaya gitu, alurnya gaje banget,” Renata masih kesal dengan film yang ditontonnya barusan.


“Ada. Itu buktinya yang kamu tonton.”


“Diem! Aku ngga ngomong sama kamu.”


Sontak Zar langsung menutup mulutnya. Ternyata efek film tadi sungguh luar biasa. Renata yang biasanya sabar dan lemah lembut, tiba-tiba menjadi galak. Sudah seperti macan yang anaknya diganggu.


“Kita mau kemana sekarang?” tanya Zar.


“Shalat, terus makan. Aku lapeeeeeerrrrr.”


Tanpa banyak bicara, Zar bergegas mengikuti Renata yang berjalan menuju mushola yang ada di mall ini. Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bukan seperti ini kencan yang diinginkannya.


🍁🍁🍁


Untuk makan malam, Renata memilih makan di luar mall. Sudah lama dia ingin makan gudeg Yogya yang ada di jalan Banda. Walau pun gudeg tersebut dijual di warung tenda, namun rasanya bukan kaleng-kaleng. Semua hidangan yang disediakan di sana, selalu sukses membuat Renata meneteskan air liur.


Kedatangan Renata disambut ramah oleh sang pemilik. Wanita itu memang pelanggan tetap warung tenda miliknya. Renata mengajak Zar duduk di meja yang dibuat lesehan. Mereka mengambil meja yang ada di paling ujung.


“Pesan apa, mba Rena?”


“Kalau masnya, apa?”


“Samain aja, bu.”


Wanita itu segera kembali ke gerobaknya untuk menyiapkan pesanan kedua pelanggannya. Saat sedang menunggu makanan siap, seorang pengamen masuk. Dia langsung menuju meja yang ditempati oleh pasangan calon pengantin.


“Hancur.. hancur hatiku. Hancur.. hancur hatiku. Hancur.. hancur hatiku. Hancur.. hancur hatiku. Hancur… hancur.. hancur hatiku. Hancur… hancur.. hancur hatiku. Hancur.. hancur hatiku.. hancur.. hancur hatiku. Hancur… hancur hatiku.. hatiku hancuuuuurrr.”


“Mas, lagunya ngga ada yang lain?” tanya Zar.


“Sebentar, mas.”


Pria itu memainkan kembali gitarnya. Kali ini dia membawakan lagu milik ST 12 yang sekarang sudah berganti nama menjadi Setia Band.


“Dapatkah aku memeluknya. Menjadikan bintang di surga. Memberikan warna yang bisa menjadikan indah. Aku tak mampu mengatakan. Aku tak mampu tuk mengungkapkan. Hingga sampai saat ini. Perasaan tlah tertinggal.”


“Ganti, mas. Lagu baratlah.”


Sekali lagi pengamen itu tidak bisa menyelesaikan lagu yang dinyanyikannya, karena Zar terus meminta menggantinya. Dia berpikir sejenak, lalu mulai memainkan gitarnya.


“Tell them all I know now. Shout it from the rooftops. Write it on the skyline. All we had is gone now. Tell them I was happy. And my heart is broken. All my scars are open. Tell them what I hoped would be impossible. Impossible. Impossible. Impossible.”


“Ya ampun mas, kenapa dari tadi lagu patah hati semua sih,” kembali Zar melayangkan protesnya.


“Maaf, mas. Saya ini spesialis lagu patah hati.”


“Ganti lagu cinta. Nih gue kasih lima puluh.”


Zar menyodorkan selembar lima puluh ribuan pada pengamen tersebut, yang tentu saja langsung disambar oleh pria itu. Dia segera memetik gitarnya lagi. Zar mengernyitkan keningnya mendengar nada yang dimainkan oleh pengamen di depannya.


“Satu.. satu.. aku sayang Mirna. Dua.. dua.. juga sayang Berta. Tiga.. tiga… sayang Sari, Mila. Satu dua tiga, sayang semuanya.”


“Haaiiissshh.. kaga ada yang bener lo, nyanyinya.”


“Lah itu kan lagu cinta. Sayang semuanya. Saking adilnya, semua disayang,” kilah sang pengamen.


“Udah mending lo pergi, deh. Tambah pusing gue dengar lo nyanyi.”


Bergegas pengamen tersebut meninggalkan meja Zar. Dia takut kalau pria yang banyak protes itu mengambil kembali uang yang diberikan padanya. Zar mengacak-acak rambutnya. Kencan yang dibayangkan romantis, malah berjalan tragis. Apalagi Renata terlihat tak peduli padanya. Dia terus memakan makanannya karena perutnya memang sudah lapar mendengar protesan Zar yang seperti petasan renteng.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Zar, Arya sebenarnya memang tengah menyiapkan pernikahannya dengan Shifa. Bedanya dia mengurus semuanya sendiri, dibantu oleh asistennya, Galang dan juga Naima, anak bungsu Farel. Naima memang sering melakukan part time di L’amour jika sedang libur kuliah. Dan dia bersedia membantu Arya mempersiapkan pernikahannya dengan Shifa.


Untuk catering, Naima sudah membujuk Gibran untuk menanganinya. Anak ketiga dari Dimas itu setuju. Dekorasi dan make up, ditangani oleh teman Naima yang memang sering diminta L’amour jika mereka kebanjiran job. Desain kartu undangan sendiri sudah siap, hanya tinggal menunggu waktu pastinya saja dan langsung cetak.


Lokasi pernikahan yang agak sulit untuk dicari, karena banyak yang sudah mem-booking sejak jauh hari. Akhirnya Arya memilih tempat di ballroom Humanity Corp, tentunya setelah berdiskusi dengan Aslan, kapan waktu yang tepat dan tidak bentrok dengan penyewa lainnya. Dan untuk pakaian pengantin, lagi-lagi Arya dibantu oleh Naima. Gadis itu sendiri yang mendesain gaun pernikahan untuk Shifa. Sedang untuk Arya memesan di butik langganan pria itu.


Saat di mall kemarin, sebenarnya Zar memang tidak salah lihat. Pria yang baru saja keluar ketika Zar masuk, memang Arya. Dia baru saja memesan cincin pernikahan ke toko itu. Untung saja Zar tidak memergokinya langsung. Bisa-bisa upayanya memberikan kejutan pada Zar akan gagal total. Kini hanya tinggal mengurus surat-surat ke KUA sekaligus memastikan kapan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan. Tapi dikarena mengurus banyak hal di waktu bersamaan, waktu Arya di kantor banyak tersita. Kini dia sedang fokus membereskan pekerjaannya. Untuk urusan pernikahan ditangani oleh Shifa dan Naima.


Selesai berburu souvenir dan memilih bunga untuk pernikahannya, Shifa bermaksud mengunjungi Arya di kantornya. Wanita itu lebih dulu mampir di restoran Premium, membeli makan siang untuknya dan Arya. Dia sengaja tidak memberitahukan kedatangannya. Tujuannya sudah pasti memberi kejutan untuk calon suaminya. Upaya gigih Arya mengejar dirinya, membuat Shifa akhirnya bertekuk lutut juga pada pria yang usianya lebih muda empat tahun darinya.


Dengan membawa bungkusan di tangannya, Shifa memasuki gedung kantor Maeswara Dunia. Sang resepsionis yang mengenali wanita itu, langsung membantunya untuk naik ke lantai empat belas. Lantai di mana ruangan Arya berada. Kedatangan Shifa disambut oleh sekretaris Arya. Wanita yang usianya sudah empat puluh tahun itu segera membukakan pintu ruangan Arya.


“Pak Arya, ada tamu,” ujar sang sekretaris.


Arya yang tengah berkutat dengan dokumen kerjanya, segera mengangkat kepalanya. Dia tertegun melihat wanita yang selalu menjadi mood booster baginya, berdiri di dekat pintu. Sang sekretaris segera meninggalkan ruangan. Arya bangun dari duduknya lalu menghampiri Shifa. Tak percaya rasanya, wanita pujaannya menemuinya di kantor.


“Shifa.. ke sini kok ngga bilang-bilang?”


“Emangnya ngga boleh?”


“Boleh kok, boleh banget malah. Ayo sini.”


Arya menggandeng tangan Shifa, lalu mengajaknya duduk di sofa. Mata pria itu terus memandangi wajah cantik calon istrinya, membuat Shifa malu sendiri. Wanita itu melambaikan tangannya di depan wajah Arya, membuyarkan lamunan pria itu.


“Kamu pasti belum makan siang. Ini aku bawain makan siang.”


“Ya ampun, makasih ya, sayang. Kamu emang calon istri ter the best deh.”


“Gombal.”


Dengan cepat Shifa mengeluarkan kotak makanan dari kantong yang dibawanya, lalu menatanya di atas meja. Perasaan Arya langsung berbunga-bunga. Shifa memberi kejutan dengan datang ke kantornya tanpa pemberitahuan dan membawakan makanan kesukaannya. Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Tanpa menunggu lama, keduanya segera menikmati makan siang.


“Tadi abis dari mana aja?” tanya Arya di sela-sela makannya.


“Habis cari souvenir sama pesan bunga buat resepsi.”


“Buat hantaran nikah udah beli?”


“Belum. Nanti aja minta diantar mama. Ngomong-ngomong, keluarga besar kamu belum tahu soal pernikahan kita ya?”


“Belum, hehehe.. sengaja aku umpetin dulu. Aku mau kasih kejutan buat Zar, hahaha..”


“Ish.. kamu tuh jahat banget sama sepupu sendiri.”


“Kemarin waktu dia disalip Daffa. Dia datengin Daffa di rumah sakit, mereka kejar-kejaran udah kaya Tom and Jerry. Kebayang ngga kalau dia tahu aku nyalip lagi di tikungan? Hahaha…”


Tak ayal senyum Shifa mengembang juga. Dia memang tidak terlalu mengenal Zar, tapi menurut penuturan para sepupunya dan dari hasil pantauan mata telanjang, Zar memang tipe pria yang tidak bisa diam, baik mulut maupun anggota tubuhnya. Tapi sebenarnya tipikal Zar hampir sama dengan Arya. Hanya saja mulut Zar lebih aktif.


“Ehmm.. Ar.. kalau kita udah nikah. Aku masih boleh ikut turnamen?”


“Ya boleh, dong. Kamu harus terus bertanding sampai kamu bosen. Apalagi sekarang kamu masih jadi pemain nomor satu dunia. Kapan lagi Indonesia punya pemain tunggal putri nomor satu dunia? Dulu cuma Susi Susanti yang kita punya, sekarang ada Shifa Qirani Prakarsa.”


Tangan Arya bergerak mengusap puncak kepala calon istrinya. Senyum di wajah Shifa mengembang. Siapa sangka dirinya akan berlabuh pada pria yang lebih muda darinya, namun mampu memberikan cinta dan kehangatan yang besar. Arya mampu meruntuhkan dinding ego Shifa yang sebelumnya tak ingin menjalin hubungan dengan berondong. Lewat kesungguhannya, dia berhasil meluluhkan hati wanita itu.


“Habis piala Sudirman masih ada turnamen lain, kan? Kamu ikut, ngga?”


“Ngga. Aku mau fokus ngurus pernikahan kita aja.”


“Nanti posisi kamu kegeser gimana?”


“Ngga masalah. Yang penting aku udah sampai di puncak. Karena sekarang ada yang lebih penting dari posisi nomor satu dunia.”


“Aku, ya?” tanya Arya seraya tersenyum.


Hanya anggukan kepala saja yang diberikan Shifa, namun mampu memberikan banyak kebahagiaan pada pria itu. Arya tersenyum senang. Tak sabar rasanya untuk segera sampai ke titik itu. Titik di mana dirinya membayar tunai Shifa, dan menyalip Zar tentunya.


🍁🍁🍁


Khusus untuk hari ini Aidan meminta ijin pada Irzal untuk pulang lebih cepat. Dia akan bertemu dengan Adisty. Gadis itu berjanji akan memberikan jawaban padanya, setelah memberinya waktu sebulan lebih untuk dirinya melakukan pendekatan. Perasaan Aidan tentu saja ketar-ketir. Akankah Adisty menerima dirinya atau justru mengakhiri hubungan mereka?


Mobil yang dikendarai Aidan berhenti di depan Rose café, tempatnya dan Adisty bertemu. Pria itu segera masuk ke dalamnya dan menuju lantai dua. Di salah satu sudut, terlihat Adisty sudah menunggunya. Dengan jantung berdegup kencang Aidan mendekati meja tersebut. Ditariknya kursi di depan Adisty, sesampainya di sana.


“Lama ngga nunggunya?”


“Aku baru lima menit sampai.”


“Udah pesan makanan?”


“Udah. Aku juga udah pesan buat kamu.”


Aidan hanya menganggukkan kepalanya. Sebisa mungkin dia berusaha menetralisir degupan jantungnya. Dipandanginya wajah Adisty lekat-lekat. Wanita itu nampak begitu santai, seperti tidak ada beban sama sekali.


“Dis.. langsung aja, apa yang mau kamu omongin?”


“Kamu udah tahu, kok. Aku mau kasih jawaban soal kita.”


“Apa jawabanmu?”


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Apa hayo jawabannya? Essay apa multiple choice?😂


Nih kira² pada dukung Zar disalip atau mempertahankan pole position sampe garis finish**?


__ADS_2