
Di jam istirahat beberapa dokter yang bertugas berkumpul di ruang istirahat. Faqih, Astrid dan Titian yang mengambil istirahat setelah anak-anak koas tengah menikmati masa istirahatnya sambil menikmati makan siang. Arsy yang lebih dulu istirahat juga berada di sana. Wanita itu tengah mempelajari beberapa bahan yang diberikan Daffa tentang kasus-kasus yang biasa terjadi di IGD.
Astrid melihat pada Arsy dengan pandangan tak suka. Melihat arah pandang temannya, Titian pun mengarahkan matanya pada objek yang sedang diperhatikan. Kembali teringat bagaimana akrabnya Arsy dengan Daffa, dan itu membuatnya semakin kesal pada wanita itu.
“Fa.. kira-kira kalau kita cuti magang berapa lama sih biasanya?” Astrid membuka percakapan untuk menyindir Arsy.
“Tergantung jenis cutinya. Kaya cuti melahirkan bisa juga diambil buat internship kaya kita. Asal kita mengganti waktu yang dipakai cuti. Sama aja sih hitungannya, cuma lebih lambat aja kita menyelesaikan internship,” jelas Faqih.
“Kalau cuti tanpa kabar gimana tuh? Satu bulan loh, kalau di rumah sakit lain udah dipecat kali.”
Astrid melirik pada Arsy. Faqih yang melihat tatapan Astrid mengerti kemana arah pembicaraan rekannya ini. Dengan suara pelan dia menjelaskan situasi Arsy pada dua rekannya yang sudah terbalut iri dan dengki.
“Kalau dokter Arsy diberikan cuti khusus pasca keguguran, langsung dari dokter Reyhan. Jadi tidak masalah dia mau masuk kapan. Toh tetap diganti masa magangnya yang terpakai cuti.”
“Enak banget ya, mentang-mentang punya koneksi, bisa cuti seenaknya. Beda sama kita-kita yang susah banget kalau mau cuti, ditanya dululah keperluannya apa. Apalagi kalau rumah sakit lagi sibuk, auto ditolak.”
Astrid sengaja mengencangkan suaranya agar terdengar oleh Arsy. Faqih hanya menepuk jidatnya melihat kelakuan dua rekannya. Titian pun ikut melakukan acara sindir sampir.
“Ya gitu deh. Orang yang merasa punya backing kadang suka bersikap seenaknya. Ngga tau apa pas ditinggal cuti selama itu, kita repotnya seperti apa.”
BRAK!
Dengan kencang Arsy meletakkan buku yang tengah dibacanya. Wanita itu bangun dari duduknya seraya mengambil stetoskop dari atas meja lalu mengalungkan ke lehernya. Dia sudah siap untuk kembali ke IGD setelah cukup beristirahat. Sebelum keluar dari ruangan istirahat, dia mendekati meja yang ditempati dua wanita yang sedari tadi menyindirnya. Arsy menatap dua wanita di hadapannya tanpa berkedip dengan dua tangan terlipat di depan dada.
“Ngga usah pake sindir-sindiran. Langsung aja bilang langsung di depanku. Sebenarnya apa masalah kalian? Mau aku cuti setahun atau tidak kembali lagi bukan urusan kalian. Aku juga tidak pernah merugikan kalian. Aku peringatkan, jangan menguji kesabaranku atau kalian akan menyesal.”
“Ya ampun, kamu dokter apa preman?” tanya Astrid pura-pura terkejut.
“Lalu kamu apa? Kamu itu dokter atau lambe turah? Bekerja di sini menggunakan otak dan tangan kita, bukan mulut. Paham?!”
“Kepala aja yang ditutup, tapi lidah ngga dijaga,” sambung Titian.
“Karena aku manusia, bukan malaikat. Bahkan aku bisa menjelma menjadi iblis kalau kalian terus menggangguku!”
Setelah mengatakan itu, Arsy segera keluar dari ruang istirahat tersebut. Dia terkejut melihat Daffa ada di depan pintu. Pria itu sedari tadi mendengarkan apa yang dikatakan dua dokter magang yang berada dalam pengawasannya dan perdebatan mereka dengan Arsy.
“Daf..” panggil Arsy.
“Sebentar lagi korban kecelakaan proyek akan datang. Total korban ada 20 orang. Siap-siap, Sy.”
“Ok.”
Bergegas Arsy menuju IGD untuk menyambut pasien yang datang. Daffa masuk ke dalam ruangan. Melihat dokter ganteng itu, Titian dan Astrid langsung bersikap manis dan berusaha mencari perhatian. Faqih memilih untuk keluar dari ruang istirahat. Dia bermaksud kembali ke IGD.
“Sebentar lagi akan datang korban kecelakaan proyek. Kalian harus ke IGD sekarang.”
“Siap, dok,” jawab Titian seraya tersenyum.
“Fokus bekerja, jangan mengurusi orang lain! Ingat! Kalian adalah satu tim di IGD, bekerja samalah dengan baik!”
Daffa segera keluar dari ruang istirahat tersebut. Astrid dan Titian saling berpandangan, belum pernah mereka melihat Daffa berbicara penuh penekanan seperti tadi. Biasanya dokter tersebut selalu bersikap ramah dan banyak tersenyum. Tapi tidak kali ini, tatapannya begitu tajam dan menusuk.
Sementara di IGD, ambulans yang membawa korban kecelakaan proyek mulai berdatangan. Arsy, Dante, Faqih dan tiga anak koas segera menyambut kedatangan korban. Korban dengan luka parah segera dimasukkan ke dalam ruang tindakan. Untuk korban dengan luka sedang masuk ke bilik pemeriksaan, sedang untuk luka ringan didudukkan di kursi dikarenakan bilik sudah terisi penuh.
Arsy bersama anak-anak koas memeriksa pasien dengan luka sedang. Dante dibantu Faqih memeriksa pasien dengan luka parah. Ada dua orang yang dimasukkan ke dalam ruang tindakan. Satu ditangani Dante dan satu ditangani Daffa. Dokter Fabian yang mendengar kabar tersebut bergegas menuju IGD.
“Apa yang bapak rasakan?”
Arsy mengarahkan senter ke mata pasien. Kepala pria itu terkena reruntuhan bangunan, namun tidak terlalu parah. Faqih terkejut ketika pasien yang ditanganinya muntah. Sama seperti pasien yang ditangani Arsy, dia juga terkena reruntuhan bangunan.
“Sepertinya dia mengalami gegar otak. Segera kirim untuk melakukan CT Scan,” ujar Arsy.
Tanpa bertanya lagi, Faqih segera memanggil suster untuk mengantar pasien untuk melakukan CT Scan. Sambil menunggu, pria itu menangani pasien yang lain. Setelah memeriksa pasien dan mengobati cedera di kepalanya, Arsy juga mengirim pasien tersebut untuk melakukan CT Scan. Selanjutnya dia memeriksa pasien yang sedang diperiksa dokter koas.
“Bagaimana keadaannya?”
“Ada robekan di bagian betisnya,” jawab koas tersebut.
“Apa ada pembuluh darahnya yang kena?”
“Sepertinya tidak, dok.”
Arsy memeriksa betis sang pasien, ada luka robekan yang cukup panjang, beruntung luka tersebut tidak dalam. Suster datang membawakan peralatan untuk menjahit luka. Arsy menuangkan cairan saline ke luka tersebut. Sang korban nampak meringis menahan sakit. setelah menghentikan pendarahan dan mengobati luka, suster menyuntikkan bius lokal dan Arsy mulai menjahit luka robek tersebut.
Astrid dan Titian juga ikut sibuk menangani pasien. Titian segera masuk ke ruang tindakan ketika Daffa memanggilnya, dokter magang tersebut membantu Daffa menghentikan pendarahan dan melakukan pertolongan pertama saat tanda-tanda vital korban menurun. Dokter Fabian datang tepat waktu, dia mengambil alih pasien setelah menanyakan kondisinya lebih dulu.
Melihat dokter Fabian sudah menangani pasien di ruang tindakan, Daffa keluar untuk membantu pasien lain. Dia memerintahkan Titian memeriksa pasien dengan luka ringan, sementara dirinya melihat pasien dengan luka sedang. Pria itu menuju bilik di mana Arsy tengah melakukan penjahitan.
“Bagaimana keadaannya?”
“Luka panjang di bagian betis, tapi kondisinya tidak parah. Pendarahan sudah dihentikan, luka juga sudah diobati dan tinggal menjahit bagian yang robek.”
“Bagus.”
Daffa menepuk pundak istri dari kakak sepupunya itu, kemudian dia bergegas menuju bilik lain. Perhatiannya teralihkan ketika mendengar rintihan pasien yang ada di salah satu bilik. Daffa menyibak tirai, nampak seorang pria dengan wajah pucat tengah memegangi perutnya.
“Apa yang bapak rasakan?”
“Perut saya sakit, dok.”
“Bagian mana?”
__ADS_1
“Di atas pinggang, dok.”
Daffa memeriksa bagian yang disebutkan pria tersebut. Dia meminta suster membawakan mesin USG. Pria itu menyibak kaos yang dikenakan pria tersebut, di saat bersamaan suster datang membawakan mesin USG. Daffa segera menggerakkan probe di perut pasien yang sudah diolesi gel.
“Ambil sample darah dan urinenya,” perintah Daffa.
“Iya, dok.”
“Bapak, saya akan memberikan obat pereda nyeri untuk mengurangi rasa sakit. Setelah itu bapak harus menjalani pemeriksaan darah dan urine,” jelas Daffa.
“Saya sakit apa, dok?”
“Ada masalah dengan ginjal bapak. Kita lakukan tes dulu supaya lebih jelas hasilnya.”
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Seorang suster datang membawakan obat pereda nyeri. Daffa segera menyuntikkan cairan tersebut ke dalam tubuh sang pasien. Setelahnya, dia kembali berkeliling melihat kondisi pasien lainnya. Kemudian matanya tertuju pada Irzal yang memasuki ruang IGD.
“Bang..”
“Bagaimana keaadan para pekerja?”
“Sedang ditangani. Sebagian sudah boleh pulang, sebagian sudah masuk ruang perawatan. Itu pekerja di proyek abang?”
“Bukan. Tadi aku ketemu klien dan dia ngajak lihat pembangunan proyeknya. Bangunan yang baru setengah jadi tiba-tiba rubuh. Arsy mana?”
“Dia lagi nangani pasien. Aku lihat yang lain dulu.”
Irzal mengaggukkan kepalanya. Matanya mencari-cari klien yang tadi ditemuinya. Sosok yang dicarinya nampak sedang menunggu di depan ruang tindakan. Bergegas pria itu menyusul kliennya. Tanpa sengaja dia menabrak Astrid yang berjalan ke arahnya.
“Maaf.”
Hanya itu saja yang terlontar dari mulut Irzal tanpa melihat pada orang yang ditabraknya. Untuk sesaat Astrid terpana melihat pria yang baru saja menabraknya. Dia terus mengawasi Irzal yang tengah berbincang dengan seorang pria. Wanita itu terkejut ketika Titian datang dan menepuk pundaknya.
“Liatin apa?”
“Itu cowok yang lagi ngobrol di ruang tindakan.”
“Kenapa?”
“Ngga apa-apa. Tapi menurutku dia itu mempesona," Astrid mengulum senyumnya.
Titian hanya menggelengkan kepalanya. Dia mengajak Astrid melihat pasien lain. Arsy baru saja selesai menjahit luka pasien yang ditanganinya. Begitu keluar dari bilik, pasien yang tadi dikirim untuk melakukan CT Scan sudah kembali. Wanita itu mengamati hasil CT Scan yang diberikan suster.
“Kondisinya baik. Bagaimana dengan pasien satunya?”
Faqih memberikan hasil CT Scan pasiennya. Bersama Arsy mereka mendiskusikan hasil CT Scan tersebut.
“Cederanya tidak parah, dia hanya mengalami gegar otak ringan,” ujar Arsy.
“Iya, berikan banyak air putih, banyak istirahat dan sementara waktu tidak boleh melakukan pekerjaan berat.”
Kepala Faqih mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan rekannya itu. Faqih sudah cukup lama mengenal Arsy, sejak di bangku kuliah. Sebenarnya Arsy adalah juniornya, namun karena kecerdasannya, Arsy dapat lulus lebih cepat darinya dan memulai masa magang lebih dulu. Faqih juga sangat menghormati Arsy, karena wanita itu sangat professional saat menjalankan tugasnya.
Setelah berbincang dengan kliennya, Irzal bermaksud mencari istrinya. Tanpa sengaja Astrid melihat punggung tangan Irzal terluka. Luka itu didapat saat Irzal membantu pekerja yang terkena reruntuhan bangunan. Wanita itu segera menghampiri Irzal dan menghalangi langkahnya.
“Ada apa?” tanya Irzal dengan suara datarnya.
“Maaf, pak. Tangan bapak luka, biar saya obati dulu.”
Refleks Irzal mengangkat tangan kirinya. Dia lupa kalau tujuannya datang ke IGD, selain untuk menemui kliennya dan melihat keadaan para korban, juga untuk mendapatkan pengobatan pada lukanya.
“Tidak usah,” jawab Irzal.
“Takutnya nanti infeksi, pak. Biar saya obati.”
“Saya bilang tidak usah!”
Astrid tercekat mendengar nada suara Irzal yang penuh penekanan ditambah sorot matanya yang begitu menusuk. Wanita itu segera menyingkir dari hadapan Irzal. Ternyata lelaki yang sempat menarik perhatiannya begitu dingin dan terlihat menyeramkan. Tidak sesuai dengan wajah gantengnya.
Di bilik lain Titian sedang memeriksa korban kecelakaan kerja, pria itu mengeluhkan sakit di bagian bahu, punggung dan lengannya. Wanita itu selesai memeriksa pasien, dia melihat pada pasien yang masih meringis kesakitan.
“Bapak cedera lumbar atau punggung bawah. Tidak parah, hanya perlu minun obat antiinflamasi.”
“Bagian ini sakit banget, dok,” keluh sang pasien.
“Itu hal yang wajar, setelah diberi obat pereda nyeri, nanti juga akan berkurang sakitnya.”
“Tolong periksa lagi, dok.”
“Pak, saya sudah periksa. Apalagi yang mau diperiksa? Bapak tidak percaya pada saya?”
Mendengar perdebatan antara Titian dan pasiennya, Arsy langsung masuk ke dalam bilik tersebut. Wajah Titian langsung menunjukkan ketidaksukaan. Wanita itu menyuruh Arsy untuk pergi, namun sang pasien menahannya dan memintanya untuk memeriksa.
“Tolong periksa punggung saya, dok. Rasanya sakit sekali di bagian ini.”
Mau tak mau Arsy kembali memeriksa keaadan pasien. Titian hanya memutar bola matanya melihat apa yang dilakukan Arsy. Beberapa kali pasien diminta menarik dan mengeluarkan nafas.
“Dia cedera di bagian lumbar,” jelas Titian.
“Ini bukan cedera lumbar, tapi ada fraktur. Apa yang bapak lakukan tadi?”
“Saya biasa angkut batu kali untuk pondasi. Tadi bagian ini juga terkena reruntuhan.”
__ADS_1
“Sebaiknya bapak dirontgen. Saya curiga ada keretakan di bagian tulang belakang.”
“Kamu tidak mempercayai diagnosisku?” tanya Titian kesal.
“Aku bukan meragukan diagnosismu. Coba kamu periksa lagi.”
Titian hanya berdehem saja. Dia kembali memeriksa pasien. Kali ini dia memeriksa di bagian yang disebutkan pria tadi. Apa yang dikatakan Arsy memang benar. Dia meminta suster untuk mengantar pasien melakukan rontgen. Sambil menghela nafas, Arsy keluar dari bilik tersebut. Dia terkejut ketika sebuah tangan menariknya masuk ke bilik sebelah yang kosong.
“Mas..”
“Sibuk, sayang?”
“Iya.”
“Masih ada satu pasien lagi yang harus diobati,” Irzal mengangkat tangan kirinya yang terkejut.
“Ya ampun mas, kenapa?”
“Tadi luka waktu bantu pekerja yang tertimpa rerutuhan.”
“Aku ambil obat dan perban dulu.”
Mata Arsy langsung tertuju pada Astrid dan Titian yang sedang berbincang sambil melihat sinis padanya begitu keluar dari bilik pemeriksaan. Tanpa mempedulikan itu semua, dia segera menuju ruang obat. Diambilnya cairan pembersih luka, betadine dan juga perban lalu kembali ke bilik yang ditempati Irzal.
Arsy segera membersihkan luka di punggung tangan Irzal. Setelah mengoleskan obat pada luka tersebut, dia membebat luka dengan perban. Mata Irzal terus memandangi wajah cantik istrinya yang tengah membalut lukanya. Sesekali tangannya mengusap pipi wanita itu.
“Sudah selesai, mas. Diusahakan jangan terkena air dulu lukanya.”
“Kalau mandi gimana? Harus dimandiin ya?” goda Irzal.
“Apaan sih, mas,” wajah Arsy bersemu merah.
“Sudah makan?”
“Sudah, tadi pas jam istirahat.”
“Aku belum.”
“Aku taruh ini dulu. Habis itu aku temani makan.”
Irzal hanya menganggukkan kepalanya. Sebuah ciuman diberikan pria itu di pipi sang istri. Sambil tersenyum Arsy keluar dari bilik. Astrid dan Titian yang masih berada di tempatnya tadi masih terus memandangi wanita itu dengan tatapan sinis.
“Sumpah aku kesal banget sama si Arsy. Tadi dia bikin aku malu di depan pasien,” keluh Titian.
“Emang ngapain dia?”
“Dia meragukan diagnosisku langsung di depan pasien.”
“Aku heran sama dia. Sombong, sok pintar, serasa rumah sakit ini punya dia, mentang-mentang dokter Daffa selalu bersikap baik padanya. Istimewa banget kesannya, padahal ngga ada apa-apanya,” cerocos Astrid.
“Dia kaya gitu karena merasa punya backing di rumah sakit ini. Cih.. aku juga ngga yakin kalau dia magang di sini karena kemampuannya. Atau jangan-jangan kerudung yang dipakainya cuma kedok.”
“Iya, jangan-jangan dia dekati dokter senior di sini dengan cara merayunya.”
SREK!!
Tirai pembatas yang menutup bilik yang ditempati Irzal langsung terbuka. Matanya langsung tertuju pada dua wanita yang sedari tadi membicarakan istrinya. Astrid terkejut sekaligus senang melihat Irzal. Wanita itu melemparkan senyuman pada pria itu. Jantungnya berdetak lebih kencang saat Irzal menghampirinya.
“Apa kalian tidak ada pekerjaan lain?”
“Mak.. maksudnya pak?”
“Berhenti menggosipkan orang lain. Sebelum kalian menjelekkan orang lain, nilai dulu diri kalian sendiri. Jangan jadi tong kosong yang nyaring bunyinya! Kerja yang benar kalau tidak mau ditendang dari sini!”
Astrid dan Titian hanya ternganga mendengar ucapan Irzal. Tanpa tahu apa salah mereka, pria itu langsung menyemprot dengan kata-kata tegas. Mata Irzal melihat Daffa yang tengah melintas dan langsung memanggilnya. Bergegas sepupunya itu segera menghampiri.
“Kenap, bang?”
“Ajari dokter magangmu ini cara bersikap yang benar. Atau aku yang akan mengajarinya sendiri!”
Setelah mengatakan itu, Irzal segera meninggalkan Astrid dan Titian yang masih bingung akan sikap pria itu. Dia segera mendekati sang istri dan mengajaknya keluar dari IGD. Astrid dan Titian dibuat terkejut ketika Irzal memeluk pinggang Arsy.
“Saya sudah bilang, fokus bekerja dan tidak usah urus hidup orang lain!”
“Ba.. baik, dok.”
Dengan kesal Daffa meninggalkan dokter magang yang membuat kepalanya pusing. Satu dengan sikap keras kepala dan kearoganannya, satu lagi bersikap centil dan selalu mencari perhatian dirinya.
Faqih yang sempat mendengar teguran Irzal dan Daffa pada kedua rekannya, segera menghampiri dua wanita yang masih belum lepas dari keterkejutannya.
“Kalian ngga apa-apa?” tanya Faqih.
“Laki-laki yang pergi sama Arsy siapa?”
“Itu Irzal Ramadhan, salah satu pemegang saham terbesar di rumah sakit ini dan dia suami dari Arsy. Dokter Daffa adalah sepupu pak Irzal, jadi jelas kenapa hubungan Arsy dan dokter Daffa dekat. Berhentilah melakukan hal-hal yang akan merugikan kalian sendiri.”
Faqih menepuk pundak kedua wanita itu bergantian, kemudian meninggalkan mereka. Selain rasa terkejut, mereka juga merasa was-was. Jika Arsy mengadukan apa yang mereka lakukan pada sang suami, posisi mereka di rumah sakit ini tidak akan aman. Apalagi Daffa sudah memberikan peringatan pada mereka.
🍁🍁🍁
**Boleh bilang sokoooorrr ngga sih🤣
__ADS_1
Segitu Irzal masih baek ya😂**