Hate Is Love

Hate Is Love
Completely Move On


__ADS_3

Keesokkan harinya, Vanila datang ke kantor Artha Boga untuk bertemu dengan Gibran. Pria itu mengajak Vanila ke lantai tiga. Di sana terdapat ruang kelas memasak, lengkap dengan dapurnya. Hari ini dia akan mengajarkan Vanila menu Chinese food keahliannya. Setelah mengenakan celemek, Vanila siap menerima pelajaran pertamanya.


“Menu chinese food itu sebenarnya banyak menggunakan bumbu yang simple, tidak seperti masakan nusantara yang kaya akan rempah. Kamu harus tahu bahan lain atau saos yang banyak digunakan dalam masakan chinese.”


“Kaya angciu ya, chef.”


“Iya. Tapi saya sendiri tidak pernah memakai angciu untuk masakan saya, karena kamu tahu sendiri itu haram untuk kaum muslim seperti kita. Jadi saya sering menggantinya dengan campuran kecap asin, jeruk lemon atau nipis dan jahe.”


Vanila mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Gibran mengeluarkan satu box yang akan menjadi bahan masakannya sekarang. Pria itu mengeluarkan sayuran dan juga daging dari dalamnya.


“Kita buat menu simple aja sekarang. Sapo tahu, kungpao chicken dan fuyunghai. Ok?”


“Ok, chef.”


Gibran meminta Vanila menyiapkan bahan untuk membuat ketiga masakan tersebut. Dirinya hanya mengawasi saja sambil menginstruksikan apa yang harus dikerjakan oleh gadis itu. Dia cukup puas melihat cara cutting Vanila yang sudah pas menurutnya. Begitu pula saat gadis itu mencincang bawang putih.


Dengan cepat Vanila menyiapkan semua bahan untuk ketiga menu yang akan dibuatnya. Dia mencuci bersih daging ayam, kacang mete, dan cabe kering untuk kungpao chicken. Memotong wotel, brokoli dan tofu untuk bahan sapo tahu. Dan menyiapkan telur untuk membuat fuyunghay serta bahan lain untuk saos asam manisnya.


Vanila memotong daging ayam bentuk dadu, dibumbui dengan kecap asin dan merica. Didiamkan ayam sebentar supaya bumbunya meresap. Dia lanjut dengan memotong sayuran. Sambil menggoreng ayam yang sudah dibumbui, Vanila membuat saos untuk bumbu kungpao chicken


Gibran terus mengawasi sambil beberapa kali mengatakan apa yang harus dilakukan Vanila selanjutnya. Dia juga memberi contoh bagaimana memotong bawang Bombay yang tepat untuk ketiga masakan tersebut. Beda menu, maka beda pula cara memotongnya.


Sudah satu jam lamanya Vanila berkutat di dapur. Satu menu sudah berhasil dibuat. Sapo tahu sudah selesai dibuat dan disajikan di dalam clay pot atau mangkok yang terbuat dari tanah liat atau keramik. Kini dia sedang memasak kungpao chicken. Gadis itu terus menggerakkan tangannya agar bumbu masakan tercampur rata. Setelah matang, dia memasukkan menu tersebut ke dalam mangkok. Sekarang dia bersiap membuat puyunghai.


Rakan yang baru selesai bekerja, segera menuju kantor sang paman. Dia segera menuju lantai tiga, karena tahu di sanalah tempat belajar masak-memasak. Pria itu segera masuk ke dalam ruangan. Matanya langsung tertuju pada Vanila yang tengah mengocok telur. Di meja sudah tersaji dua menu yang sudah selesai dibuatnya. Dia mendekati Gibran yang berdiri sedikit jauh dari area memasak.


“Baru pulang?” tanya Gibran.


“Iya, om. Masakannya udah mau selesai ternyata.”


“Iya, dia anak yang pintar. Cepat belajarnya. Kamu beruntung dapet istri dia.”


“Om..”


Gibran hanya terkekeh melihat wajah Rakan yang sudah memerah karena godaannya. Pria itu merangkul bahu sang keponakan. Soal Rakan yang sampai saat ini masih belum move on setelah ditinggal Shafa merupakan rahasia umum yang sudah diketahui oleh semua keluarga Ramadhan.


Banyak yang mengira kalau Rakan masih belum bisa melepaskan Shafa, termasuk Gibran. Tapi setelah bertemu Vanila dan melihat sikap keponakannya, pria itu yakin kalau Rakan sudah mulai terpincut oleh gadis cantik itu. Yang artinya anak tertua dari pasangan Reyhan dan Ayunda itu sudah mulai move on dari sosok Shafa.


“Kamu suka kan sama Vanila?”


“Iya, om.”


“Om senang kamu sudah bisa move on. Sudah saatnya kamu melanjutkan hidup. Shafa sudah tenang di alamnya. Sekarang waktunya kamu meraih kebahagiaanmu sendiri. Vanilla anak yang baik. Om doakan hubungan kalian lancar.”


“Aamiin..”


“Kamu sudah mengatakan perasaanmu?”


“Secara ngga langsung udah sih, om.”


“Perempuan paling males kalo kode-kodean, langsung aja tembak. Masa harus om ajarin caranya, hahaha..”


Senyum Rakan merekah mendengar ucapan Gibran. Kedua pria itu mendekat setelah Vanila menyelesaikan masakan ketiganya. Rakan memandangi tiga menu chinese di atas meja. Dilihat dari tampilannya saja dia sudah menebak kalau rasanya enak. Gibran mengambil sendok kemudian mencicipi masakan buatan Vanila.


“Kamu pakai pengganti angciu untuk kungpao chickennya?” tanya Gibran saat memasukkan sepotong ayam ke dalam mulutnya.


“Eh.. aku lupa, chef.”


“Angciu itu bahan dasar untuk masakan chinese. Walau tidak semua menggunakannya, tapi beberapa menunya memakai bahan itu. Dan kamu harus tahu apa yang dipakai sebagai pengganti angciu, saya tadi sudah bilang. Masih ingat?”


“Ingat, chef. Campuran kecap asin, jeruk lemon dan jahe.”


Gibran menganggukkan kepalanya. Dia mencicipi menu kedua dan ketiga yang rasanya sudah lumayan oke. Rakan yang penasaran ikutan mencoba makanan yang dibuat oleh Vanila. Dia mengacungkan jempolnya tanda suka pada rasa masakan tersebut.


“Kamu sudah masak nasi?” tanya Gibran lagi.


“Eh.. belum, chef,” Vanila kembali menepuk keningnya karena lupa akan satu menu wajib itu. Sama seperti orang Indonesia, masakan chinese juga menyajikan menu nasi dalam hidangannya.


“Saya sudah masak. Bagaimana kalau sekarang kita makan bersama?”


“Boleh, chef.”


Vanilla mengeluarkan nasi dari magic com. Dia mengaduk nasi sebentar kemudian menaruhnya ke dalam tiga piring yang sudah disiapkan oleh Rakan. Tak lupa dia mengambilkan hasil masakannya ke piring Rakan. Gibran hanya menyunggingkan senyuman saja melihat sikap Vanila.


“Kamu udah cocok jadi istri nih,” goda Gibran.


“Calonnya belum ada chef, hehehe..”


“Nih ponakanku nganggur. Kamu sama dia aja dari pada dia jadi bujang lapuk.”


“Astaghfirullah, om. Tuh mulut ngga kurang pedas apa?”


“Hahaha..”

__ADS_1


Acara makan sore menjelang maghrib diiringi perbincangan seru di antara ketiganya. Sesekali Rakan melihat pada Vanila seraya melemparkan senyum manis membuat Vanila tersipu malu dan pipinya memerah. Sejak Rakan mengajaknya pacaran setelah menikah kemarin malam, gadis itu menjadi sedikit malu-malu jika bersitatap dengan Rakan.


🍁🍁🍁


Sejak satu jam lalu Vanila sudah berada di rumahnya setelah Rakan mengantarkannya pulang. Pria itu tak bisa mengajak Vanila ke tempat lain sepulang dari kantor Gibran karena harus menghadiri meeting penting dengan kliennya.


Vanilla keluar dari kamarnya, kemudian mencari keberadaan kedua orang tuanya. Ternyata mama dan papanya sedang berada di kamarnya. Gadis itu segera menuju kamar orang tuanya kemudian mengetuk pintu.


TOK


TOK


TOK


“Masuk.”


Setelah terdengar suara menyuruhnya masuk, Vanila membuka pintu kamar. Nampak kedua orang tuanya tengah duduk di atas ranjang sambil menonton televisi. Vanila segera merangkak naik dan duduk di antara Viren dan Alisha.


“Gimana tadi belajarnya sama chef Gibran?”


“Seru, ma. Aku banyak belajar dari chef Gibran. Orangnya juga baik.”


“Dia baik karena Rakan kali,” goda Viren.


Pria itu sudah mendengar dari Juna soal Rakan yang mengajak Vanila berpacaran setelah menikah. Secara tak langsung anak dari Reyhan itu melamar putrinya.


“Ish papa..”


“Tapi benar kan?” kali ini Alisha yang menggoda putrinya ini. Vanila hanya tersenyum saja, dia menyukkan kepalanya ke dada Viren. Malu karena terus digoda oleh kedua orang tuanya.


“Kamu suka sama Rakan?” tanya Alisha lagi.


“Ngga tau ma. Tapi aku senang jalan bareng bang Rakan, orangnya baik, ramah dan perhatian banget.”


“Ehem…”


Sebuah tepukan diberikan Vanila mendengar deheman sang papa yang dia tahu pasti meledeknya. Terdengar suara tawa Viren. Baru kali ini anaknya merasa malu digoda karena seorang pria. Dulu saat gadis itu berpacaran dengan senior di kampusnya, dia cuek saja saat Viren menanyainya.


“Masa bang Rakan ngajakin aku pacaran sesudah nikah. Dia lagi ngelamar aku bukan sih, pa?”


“Bisa jadi. Itu kode keras buat kamu kalau dia mau kamu jadi calon makmumnya.”


“Emang mama sama papa setuju kalau aku nikah muda?”


“Betul itu. Mama dan papa lebih tenang kalau seperti itu. Lagi pula Rakan orang yang baik. Mama yakin dia bisa menjadi suami yang baik untukmu.”


“Tapi sebelumnya bang Rakan pernah tunangan dan selama ini belum punya pasangan karena belum move on dari mantannya. Aku takut aja kalau aku cuma pelarian aja buatnya.”


“Setahu papa, Rakan belum pernah dekat dengan perempuan setelah tunangannya meninggal. Kamu perempuan pertama yang dekat dengannya dan diajak menjalani hubungan serius. Kamu tahu artinya apa?”


Vanila mendongakkan kepalanya, menatap Viren yang tengah melihat padanya. Segurat senyum terbit di wajahnya. Walau gadis itu belum yakin sudah ada rasa cinta untuk Rakan di hatinya, namun mendengar kalau pria itu serius dengannya, tak ayal membuatnya senang.


“Besok-besok kalau dia ngomong gitu lagi, langsung kamu tantangin. Kalau dia serius, pasti dia bakal datang ke rumah buat ngelamar kamu.”


Anak sulung Alisha itu hanya menganggukkan kepalanya saja begitu mendengar ucapan sang mama. Kalau memang Rakan serius dengannya, maka dia akan menerima pria itu. Dia yakin tak butuh waktu lama untuknya jatuh cinta pada pria itu.


🍁🍁🍁


Rakan baru saja kembali setelah bertemu dengan kliennya. Pria itu menghentikan kendaraan di pekarangan rumahnya, kemudian turun dari dalam mobil. Dia terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya. Ternyata Shifa, kembaran Shafa yang melakukannya. Pria itu tersenyum melihat wanita yang sudah hampir setahun ini tak pernah dijumpainya.


“Shifa.. kamu kemana aja baru nongol?”


“Abang kaya ngga tau aja gimana kesibukanku.”


“Iya, deh yang udah jadi pemain nomor satu dunia, hehehe..”


Setelah menutup pintu mobil, Rakan mengajak Shifa duduk di taman. Dia juga sudah merindukan adik kembar dari Shafa ini. Dulu mereka sering pergi bertiga, Shifa sering dijadikan setan jika Rakan dan Shafa pergi berkencan. Namun setelah Shafa meninggal dunia, Shifa memilih fokus dengan karirnya sebagai pebulutangkis yang bermain di sektor tunggal.


Wanita itu memilih menenggelamkan diri mengikuti berbagai turnamen bulu tangkis untuk menepikan kesedihannya kehilangan saudara kembarnya. Dan kerja kerasnya selama tiga tahun berhasil. Kini dia menduduki peringkat nomor satu dunia. Dan wanita cantik yang sebentar lagi berusia 26 tahun ini masih betah menjomblo sampai sekarang.


“Abang gimana kabarnya?”


“Alhamdulillah baik.”


“Masih jomblo?”


“Hahaha..”


Hanya tawa saja yang bisa diberikan oleh Rakan. Wanita di sebelahnya ini tahu betapa besar cintanya pada Shafa dan belum bisa melupakan wanita cantik itu sebelum bertemu dengan Vanila.


“Sebelum Shafa meninggal, dia pernah titip pesan ke aku.”


“Pesan apa?”

__ADS_1


“Katanya aku yang harus gantiin posisi dia.”


Sontak Rakan menolehkan kepalanya pada Shifa. Jujur saja dia terkejut mendengar penuturan wanita itu. Shifa melihat pada Rakan yang melihatnya tanpa berkedip. Sedetik kemudian tawanya meledak.


“Biasa aja bang lihatnya, sampe shock gitu, hahaha..”


“Serius Shafa bilang gitu?”


“Ehmm.. dua hari sebelum meninggal dia bilang gitu ke aku. Dia suruh aku gantiin dia di pelaminan sama abang. Tapi.. saat itu aku nolak. Aku sayang bang Rakan, tapi cuma sebatas kakak, ngga lebih. Dan aku juga yakin abang ngga bisa gitu aja mengganti sosok Shafa denganku. Biar muka kita mirip, tapi soal hati kan ngga mungkin sama.”


Rakan hanya terdiam mendengarkan penuturan wanita di sebelahnya, namun dalam hati dia membenarkan apa yang dikatakan Shifa. Wajah Shifa memang mirip dengan Shafa, namun perasaannya hanya untuk Shafa, bukan Shifa.


“Terus Shafa bilang apa?”


“Ngga bilang apa-apa. Dia juga ngga mau maksa aku. Aku bilang lebih baik bang Rakan bertemu dengan perempuan lain. Karena kalau abang denganku, hanya akan membuat terpaku pada kenangan Shafa, karena kemiripan wajah kami. Lagi pula abang kan bukan tipeku, hahaha…”


“Emang tipemu yang seperti apa?”


“Ehmm.. apa ya.. ngga tau juga sih, bang. Belum nemu hehehe..”


Tawa keduanya kembali terdengar. Rakan mengusak puncak kepala Shifa yang usianya berbeda dua tahun darinya. Karena tidak mempunyai adik perempuan, Rakan memang sudah menganggap Shifa seperti adiknya sendiri. Rasanya dia juga tidak akan menyanggupi jika Shafa memintanya menikahi Shifa.


“Abang udah punya pengganti Shafa?”


“Hmm.. sudah.”


“Wow.. congrats abang. Kenalin dong.”


“Nanti ya, kalau dianya sudah setuju.”


“Emang dia belum jawab?”


“Belum,” Rakan menggelengkan kepalanya.


“Emang abang ngomongnya gimana?”


“Aku ngajakin dia pacaran sesudah nikah.”


“Ah abang jangan gitu. Langsung aja to the point. Will you marry me? Gitu. Jangan pake kode kaya gitu.”


Rakan hanya menganggukkan kepalanya saja mendengarkan ucapan Shifa. Hal sama yang dikatakan Gibran padanya. Mungkin dia akan mencoba mengatakan isi hatinya kembali pada Vanila. Dirinya sudah yakin melepas Shafa dan menggantikannya dengan sosok Vanila. Gadis cantik, supel dan ceria yang selalu terbayang di matanya.


“Kamu sendiri gimana? Katanya lagi dekat sama siapa tuh, pemain dari Korea.”


“Lee Dong Shin?”


“Iya.”


“Ngga, bang. Kita cuma berteman aja. Abang tahu sendiri aku tuh orangnya simple, ngga mau repot. Menjalin hubungan dengan orang di luar negara kita itu ribet kataku. Beda agama, beda prinsip, beda budaya, belum apa-apa udah cape duluan ngebayanginnya. Aku mah masih pecinta ploduk-ploduk Indonesia, hahaha…”


“Dasar..”


Tak ayal tawa Rakan terdengar juga mendengar penuturan Shifa. Dia memang memiliki sifat bertolak belakang dengan Shafa. Jika Shafa cenderung pendiam dan lemah lembut, berbeda dengan Shifa yang sedikit bar-bar dan asal ceplos saja bicaranya. Bahkan wanita itu sempat menyemprot wartawan yang memberitakan gossip murahan tentangnya.


“Bang, Darren lagi sibuk ngga? Dia lagi ngga disuruh bikin program baru kan sama ayah?”


“Setahuku ngga, emangnya kenapa?”


“Aku mau suruh dia ngelacak seseorang.”


“Siapa?”


“Ada fans rahasiaku. Dia itu sering banget kirim hadiah buat aku. Boneka lah, coklat lah, kue, bunga. Setiap aku menang pertandingan, dia orang pertama yang kasih hadiah ke aku. Dan herannya dia itu tahu apa aja yang aku suka.”


“Siapa tuh?”


“Ya mana aku tahu, bang. Namanya juga pengagum rahasia. Dia ngga pernah sebutin namanya. Makanya aku penasaran, pengen tahu dia siapa.”


“Coba aja kamu minta Darren. Suruh semedi aja ke gunung kalau dia ngga bisa ngebuka identitas rahasia pengagum rahasiamu.”


“Hahaha… oke deh, besok aku telpon dia. Aku pulang dulu, bang.”


“Iya. Papa Ziel pulang juga bareng kamu?”


“Iya, bang. Abang main ke rumah. Papa udah kangen, tapi sambil bawa calonnya ya,” Shifa mengedipkan matanya.


“Hahaha.. oke..”


Shifa bangun dari duduknya, kemudian keluar dari pekarangan rumah Rakan. Wanita itu berjalan masuk ke rumahnya yang posisinya tepat di sebelah rumah Rakan. Setelah Shifa pergi, Rakan pun masuk ke dalam rumah.


🍁🍁🍁


Buat penggemar Stella dan Dayana, mereka lagi minggir dulu bentar. Lagi dipingit dulu, kan mau nikah. Aku lagi fokus deketin pasangan baru😉

__ADS_1


__ADS_2