
BYUR!
Zar tersadar dari pingsannya, ketika salah seorang pria menyiram pria itu dengan seember air. Perlahan mata Zar terbuka. Matanya langsung memandang berkeliling, saat ini dirinya berada di dalam sebuah gudang tak terpakai. Kepalanya mendongak, melihat tangannya yang terikat pada dua buah tiang di kanan kirinya.
Pandangannya teralih ke depan ketika mendengar suara langkah kaki mendekat diiringi suara tepukan tangan. Richie muncul di hadapan Zar seraya menyunggingkan senyum liciknya. Pria itu terlihat senang, anak buahnya berhasil menangkap pria yang sudah meringkus teman-temannya, dan menjadikan dirinya hidup dalam persembunyian.
“Richie..” desis Zar.
“Terkejut melihatku? Kamu kaget karena aku selangkah di depanmu sekarang? Roda sudah berputar Zar. Tidak selamanya kamu berada di atas. Sekarang sudah waktunya kamu merasakan pembalasan dariku.”
BUGH
Sebuah pukulan diberikan Richie pada Zar. Pria itu semakin geram melihat Zar tersenyum mengejek ke arahnya, sebuah pukulan kembali diberikan oleh Richie. Sudut bibir Zar terluka akibat pukulan kencang Richie. Dia mengeluarkan ludah dari mulutnya dan mengenai ujung sepatu Richie.
“Brengsek!”
Didorong rasa kesal dan marah, Richie kembali mendekati Zar. Tangannya sudah terkepal, siap untuk melayangkan tinjunya lagi pada pria itu. Namun gerakan Richie tertahan ketika mendengar suara seseorang.
“Richie hentikan!”
Mendengar Zar telah tertangkap oleh Richie, Alvaro bergegas menemui Richie. Sesuai rencananya, dia akan mengambil keuntungan dari peristiwa ini. Pria itu mendekati Richie dengan langkah tenang.
“Tahan emosimu. Kamu tidak bisa melukai Zar lagi sampai ayahnya datang menemuiku.”
“Apa keuntungannya bagiku? Aku hanya ingin melihatnya dan Renata menderita.”
“Kamu bisa hidup bebas setelah, dan juga saham Metro East dan Humanity Corp, aku jamin kamu akan mendapatkannya juga.”
“Apa om yakin?”
“Tentu saja. Mana ada ayah yang mau melihat anaknya menderita. Kenzie akan melakukan apapun untuk membebaskan anaknya. Bersabarlah, sebentar lagi pria itu pasti akan datang.”
Alvaro melihat sekilas pada Zar, kemudian meninggalkan gudang tersebut. Richie mendekati Zar, tangannya mencengkeram erat rahang pria itu.
“Aku punya kejutan untukmu. Aku akan memberikan pertunjukkan yang tidak akan kamu lupakan seumur hidupmu.”
Richie melepaskan cengkeramannya di rahang Zar. Diambilnya ponsel dari sakunya, lalu mengambil gambar Zar yang wajahnya dipenuhi lebam dan pakaiannya terkena percikan darah. Dia mengirimkan foto tersebut pada Renata. Tak lama ponselnya berdering. Seringai muncul di wajahnya, lalu mengangkat panggilan tersebut.
“Halo Rena..”
“Brengsek kamu Richie. Di mana Zar?!”
“Tenang perempuan sampah. Aku akan mengirimkan lokasinya padamu. Aku beri kamu waktu setengah jam untuk sampai ke sini.”
“Rena!! Jangan dengarkan dia!!” teriak Zar.
“Kalau kamu tidak datang, maka Zar hanya akan tinggal nama. Ingat, datang sendiri!”
Tanpa menunggu jawaban Renata, Richie memutuskan sambungannya. Dia lalu mengirimkan lokasinya sekarang. Richie kembali melihat pada Zar. Pria itu melihat Richie dengan mata nyalangnya. Tangannya bergerak-gerak seperti hendak melepaskan diri.
“Tenanglah Zar, bidadarimu sebentar lagi akan datang. Aku akan memperlihatkan pertunjukkan istimewa untukmu. Setelah diriku, semua anak buahku anak menikmati tubuhnya bergantian. Dan aku akan melakukannya di depanmu, hahaha…”
“Brengsek!! Berani kamu sentuh dia, aku akan membunuhmu!!”
__ADS_1
Richie tak mempedulikan teriakan Zar. Dengan santai pria itu keluar dari gudang. Tersisa hanya dua orang saja yang berjaga di dalam. Zar berusaha menenangkan dirinya, kepalanya tertunduk, hatinya terus berdoa semoga bantuan akan segera datang sebelum Renata datang.
🍁🍁🍁
“Sudah siap?” tanya Elang pada Kenzie.
“Ayo berangkat.”
Dengan didampingi Duta dan Fathir, Kenzie dan Elang naik ke dalam mobil. Mereka akan bertemu dengan Alvaro, membicarakan soal kebebasan Zar. Duta segera menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Tanpa mereka sadari, Aslan yang sedari tadi mengikuti ayahnya mengikuti dari belakang.
Kendaraan yang ditumpangi Kenzie dan Elang terus melaju menuju daerah Bandung Utara. Mereka mengikuti GPS yang dikirimkan dari chip yang ada di tubuh Zar. Kenzie berusaha untuk tetap tenang. Berharap Zar bisa menahan semuanya sampai dirinya datang. Tak ayal sebagai ayah, hatinya cemas juga akan keadaan sang anak.
Lamunan Kenzie buyar ketika Elang menepuk pundaknya. Sahabatnya itu berusaha menenangkan perasaannya yang tak karuan karena memikirkan Zar. Sesekali Duta melihat wajah atasannya dari spion. Belum pernah dia melihat sang atasan sekhawatir ini.
“Tenanglah Ken. Zar anak yang kuat, dia pasti akan bertahan. Richie tidak berani macam-macam dengannya. Selama Alvaro masih menginginkan saham kita, anak itu akan baik-baik saja.”
Kenzie hanya menganggukkan kepalanya saja. Mobil yang dikendarai Duta terus melaju membelah jalanan yang penerangannya mulai meredup. Dia menambah kecepatannya, saat jaraknya sekarang dengan lokasi Zar semakin dekat. Di belakang mereka, mobil Aslan terus mengikuti.
🍁🍁🍁
“Rena, kamu mau kemana?” tanya Jojo yang melihat Renata bergegas keluar dari kamarnya.
“Aku harus menemui Zar. Zar diculik Richie.”
“Tenanglah, Kenzie dan Elang sedang menjemputnya sekarang. Kamu lebih baik tunggu di rumah.”
“Ngga bisa, KiJo. Aku ngga tenang. Aku akan menyusul Zar.”
“Sasaran Richie itu kamu, bukan Zar. Tunggulan di rumah.”
Renata mulai menangis, melihat wajah Zar yang babak belur, tangannya yang terikat dan bercak darah di pakaiannya, membuat hati Renata kalut. Dia takut sesuatu terjadi pada pria yang dicintainya itu.
“Biarkan Rena pergi, pa,” terdengar suara Barra.
“Itu berbahaya, Barra.”
“Aku dan Farzan akan mengikutinya dari belakang. Papa tenang saja.”
“Makasih pa,” Renata melihat pada Barra yang hanya dibalas anggukan pria itu.
“Baiklah. Tapi kamu harus hati-hati, jangan melakukan tindakan gegabah. Tunggu arahan dari papamu,” akhirnya Jojo mengalah.
“Iya, KiJo. Aku pergi dulu, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Renata mencium punggung tangan Jojo dan Adinda bergantian, lalu keluar dari rumah. Dia bergegas menuju mobilnya. Tanpa menunggu lama, dia segera menjalankannya, mengikuti lokasi yang dikirimkan oleh Richie. selama perjalanan, wanita itu terus berdoa semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Zar.
Melihat Renata sudah pergi dengan mobilnya, Barra bersama Farzan segera menyusul. Mereka menjaga jarak aman dari mobil Renata. Farzan mengikuti pergerakan mobil Renata melalui chip yang tertanam di tubuh wanita itu.
Mendengar Zar berhasil tertangkap oleh Richie, Irzal juga berencana untuk menyusul ayahnya untuk membebaskan pria itu. Daffa mengajukan diri untuk ikut, tak lupa dia membawa peralatan medisnya, takut jika terjadi hal yang tidak diinginkan di sana. Selain kedua pria itu, Tamar, Arya dan Ervano juga ikut. Dengan menggunakan dua mobil, mereka bergegas menuju lokasi di mana Zar berada.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Duta berhenti tak jauh dari gudang di mana Richie menyekap Zar. Kenzie dan Elang turun dari mobil. Alvaro bersama dua orang anak buahnya sudah menunggu kedatangan dua orang tersebut.
“Selamat datang pak Kenzie Nagendra dan Elang Ramadhan. Akhirnya kita bisa bertemu juga di sini.”
“Mana Zar?” tanya Kenzie tanpa basa-basi.
“Dia berada di tempat yang aman. Apa kalian sudah membawa yang kuminta?”
“Soal itu gampang, aku mau lihat Zar dulu.”
Alvaro mengambil ponsel dari saku jasnya. Dia menghubungi salah satu anak buah Richie yang menunggu di dalam gudang. Pria itu segera mengubah panggilannya menjadi video call lalu memperlihatkan keadaan Zar pada Kenzie. Tangan Kenzie mengepal erat melihat keadaan anaknya.
“Kalau begitu, kita tidak perlu tunggu lama-lama. Serahkan saham yang sudah kamu janjikan. Pak Elang, begitu juga dengan ada.”
Elang masih bergeming di tempatnya. Dia melihat pada Segio, orang nomor satu di gank Margarita. Pria itu sedari tadi hanya diam saja, memperhatikan apa yang dilakukan Alvaro. Elang berjalan mendekati Segio, lalu berhenti tepat di depannya.
“Aku tidak punya urusan dengan gank Margarita, tapi kalian berani mengusik keluarga kami. Anda pikir kami selama ini diam karena takut? Kalau kami mau, kami bisa melakukan perang terbuka dengan kalian. Sama seperti kalian, aku pun punya anak buah yang terlatih. Dan jangan lupakan musuh kalian, The Cave. Apa kalian pikir mereka hanya berdiam diri saja?”
“Apa maksudmu?”
“The Cave sedang mencari kesempatan untuk menghancurkan kalian. Kalau aku dan Ken memerintahkan anak buah kami untuk menyerang tempatmu, pikirkan apa kalian bisa bertahan?”
“Lalu?”
“Keluarkan salah satu anak buah terbaikmu untuk melawanku. Kalau aku kalah, kalian akan mendapatkan saham seperti yang kalian inginkan. Tapi kalau dia kalah, kamu dan anak buahmu harus lepas tangan dari Alvaro juga Richie, bagaimana?”
“ELAANG!!”
Terdengar teriakan kencang dari Alvaro, tapi pria itu sama sekali tidak mempedulikannya. Sejenak Sergio memandangi pria di hadapannya. Elang walau masih terlihat gagah, namun usianya sudah di atas lima puluh tahun. Kalau dirinya menurunkan Rambo untuk melawannya, sudah pasti Rambo akan memenangkan pertarungan. Rambo memiliki kemampuan bela diri yang cukup tinggi, baik tangan kosong maupun dengan senjata.
“Baiklah, aku terima tawaranmu.”
“Sergio!”
Bergegas Alvaro mendekati Sergio. Sepertinya pria itu tidak tahu bagaimana sepak terjang Elang. Walau usianya sudah tidak muda lagi, namun kemampuan pria itu tidak bisa dianggap remeh.
“Jangan lakukan itu,” ujar Alvaro.
“Tenang saja. Aku tidak pernah mengambil taruhan yang tidak pernah kumenangkan. Rambo!!”
Seorang pria bertubuh tinggi dan berbadan tegap keluar dari mobil. Pria itu berjalan mendekati Sergio. Mata pria itu menatap Elang dan Kenzie bergantian.
“Kamu lawan pria ini. Hancurkan semua tulang di tubuhnya, hingga dia tidak bisa membual lagi.”
Dengan seringai di wajahnya Rambo menggerakkan tangannya, membunyikan jari-jari tangannya. Matanya melihat Elang penuh intimidasi.
“Bisa kita mulai?” tanya Elang seraya menggulung kemeja lengan panjangnya sampai ke siku.
“TUNGGU!!”
🍁🍁🍁
**Nah siapa yang dateng tuh?
__ADS_1
Biar dikit ngga apa² ya buat obat pensaran. Tapi ujungnya gantung lagi🏃🏃🏃🏃**