Hate Is Love

Hate Is Love
Mangsa Baru


__ADS_3

Setelah dirawat sehari semalam, Arsy diijinkan pulang ke rumah. Bersama dengan Irzal, wanita itu pulang ke rumahnya. Azkia sudah menyiapkan makanan untuk menyambut menantunya pulang. Dia juga membuat banyak hidangan karena mendengar Abi beserta keempat sahabatnya akan datang menemui anak dan menantunya.


Irzal membenarkan letak bantal di kasur, mengaturnya agar Arsy bisa duduk dengan enak lalu membantunya untuk duduk. Kaki Arsy dibuat selonjor dan ditutupi oleh selimut. Pria itu lalu mengambil makanan dan hendak menyuapi istrinya.


“Kamu makan dulu ya.”


“Tapi aku belum lapar.”


“Tadi kamu ngga sarapan di rumah sakit. Kalau kamu ngga makan, kamu akan semakin lama untuk pulih. Apa itu yang kamu mau? Tetap berbaring sakit?”


“Ngga, mas.”


“Kalau begitu kamu harus makan. Lihat bunda sudah membuatkan banyak masakan untukmu. Apa kamu tega mengecewakan bunda? Bunda hanya ingin melihat menantunya cepat pulih dan sehat kembali.”


Mata Arsy berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya. Irzal mulai menyuapi Arsy. Pelan-pelan Arsy membuka mulutnya dan menelan makanan tersebut. Airmatanya kembali mengalir mengingat anaknya yang telah tiada. Sambil terus menyuapi istrinya, Irzal menghapus airmata di wajah istrinya.


“Jangan menangis lagi. Semua sudah terjadi. Kita harus mengikhlaskannya dan mengambil pelajaran dari semua yang terjadi. Mas minta maaf kalau selama kamu hamil kemarin kurang memperhatikanmu, karena sibuk dengan pekerjaan. Dan sekarang, kita akan hadapi ini bersama.”


“Mas..”


“Aku hanya ingin melihatmu tersenyum, Sy. Melihatmu bersedih seperti ini juga membuat hatiku sakit.”


“Maaf, mas.”


“Jangan minta maaf lagi. Bisakah kamu tersenyum untukku.”


Senyum terbit di wajah Arsy, bersamaan dengan itu airmatanya juga mengalir. Irzal meletakka piring di tangannya ken akas lalu menarik Arsy ke dalam pelukannya. Tangis Arsy kembali pecah dalam pelukan suaminya. Usapan tangan Irzal di punggungnya dan kecupan di puncak kepalanya membuat wanita itu sedikit membaik.


“Semua sudah terjadi, sayang. Jangan bersedih, ini adalah ujian dalam pernikahan kita. Bersama kita bisa melewati ujian ini.”


“Iya, mas. Makasih karena mas selalu mendampingiku.”


“Aku mencintaimu, Ar. Jangan bersedih terus.”


Perlahan Irzal melepas pelukannya. Tangannya kembali menghapus airmata di wajah Arsy dan memperlihatkan senyum di wajah tampannya. Melihat Irzal tersenyum, Arsy pun ikut tersenyum. Irzal menangkup wajah istrinya lalu mendaratkan ciuman di bibir wanita itu.


“Aku mencintaimu, mas. Maafkan aku karena sudah kehilangan calon anak kita. Aku berjanji akan menjadi istri yang lebih baik lagi mulai sekarang. Aku juga ingin membahagiakanmu.”


“Saat ini aku bahagia, Ar. Kamu harus banyak tersenyum kalau mau melihatku bahagia. Tapi jangan tersenyum pada laki-laki lain apalagi tersenyum sendiri.”


“Aku bisa dibawa ke rumah sakit jiwa kalau senyum-senyum sendiri. Dan ngga ada lelaki yang menarik di mataku sekarang selain mas.”


“Pastikan itu. Karena aku sangat pencemburu, sayang.”


“Aku juga ngga mau melihat mas tersenyum pada perempuan lain.”


“Termasuk bunda dan kak Yumna?”


“Itu pengecualian.”


Irzal kembali tersenyum melihat senyum di wajah istrinya. Arsy mengalungkan tangannya ke leher sang suami. Irzal menarik pinggang sang istri lebih dekat padanya lalu kembali menyatukan bibir mereka. Pria itu mengakhiri ciuman setelah pertautan bibir yang cukup lama.


“Makan lagi, sayang.”


“Iya, mas.”


Tangan Irzal meraih piring di atas nakas lalu kembali menyuapi istrinya. Kali ini Arsy ikut mengambil sendok dan ikut menyuapi suaminya. Mereka menghabiskan makanan di piring bersama. Sesekali Irzal mencuri ciuman di bibir Arsy dan Arsy mencuri ciuman di pipi suaminya.


🍁🍁🍁


Siang harinya Abi datang bersama dengan Juna, Cakra, Kevin dan Jojo. Tentu saja para pria itu tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawakan masakan istrinya masing-masing, kecuali Rindu. Wanita itu membelikan kue kesukaan Arsy. Kedatangan pandawa lima disambut senang oleh Irzal dan Arsy.


Abi dan Jojo terus saja mengelilingi lantai tiga. Membuka semua pintu ruangan. Mereka cukup kagum dengan desain dan interior tempat cucunya tinggal. Di sana terdapat kamar tidur, ruang kerja pribadi Irzal, ruang tengah, ruang makan yang menyatu dengan dapur. Dan jangan lupakan balkon yang menghadap langsung ke gunung Tangkuban Parahu.


“Kamu betah tinggal di sini, Sy?” tanya Abi seraya mendaratkan bokongnya di samping sang cucu setelah selesai melihat-lihat.


“Betah, kakek. Udaranya juga sejuk. Aku suka sekali tinggal di sini. Tiap pagi aku selalu berolahraga di balkon.”


“Kalau anak kalian lebih dari satu bagaimana? Di sini hanya ada dua kamar,” tanya Jojo.

__ADS_1


“Anak-anak bisa tinggal di lantai dua. Di sana ada tiga kamar kosong,” jawab Irzal.


“Heh.. Irzal dan Arsy sudah menikah. Kalian jangan kepo dan sok-sok intergogasi. Mereka pasti sudah memilirkan di mana anak-anaknya tinggal, ngga mungkin juga Irzal naro kasur buat anaknya di pohon,” celetuk Cakra.


Irzal tertawa kecil mendengar ucapan Cakra. Jojo hanya menyebikkan bibirnya mendengar jawaban sahabatnya. Padahal dia hanya basa-basi saja mengatakan itu semua.


“Arsy.. ini nenek memasakkan makanan kesukaanmu. Harus dimakan ya,” Abi mendorong kotak bekal ke dekat cucunya.


“Iya, kakek. Sampaikan terima kasihku buat nenek.


“Ini eyang Sekar buatin kamu pudding sutra kesukaanmu.”


“Grandma buat camilan kesukaan kamu.”


“Ninda juga masakin buat kamu. Cumi crispy dibumbu cabe garam.”


“Oma Rindu juga kasih kue kesukaan kamu.”


“Pasti beli,” celetuk Jojo.


“So pasti. Kan sampe sekarang Rindu cuma pinter makan bukan masak, hahaha..”


Kevin melihat sebal pada Abi yang selalu bicara tanpa saringan. Tapi harus diakui kalau sampai sekarang memang Rindu masih belum bisa memasak dengan rasa istimewa. Untung saja menantunya mewarisi bakat memasak Nina dan mereka sekeluarga selalu bisa menikmati makanan lezat. Tapi biar begitu, Kevin sangat mencintai istrinya.


“Grandpa, gimana sama Ila? Katanya dia lagi pedekate sama bang Rakan ya?”


“Iya, Sy. Awalnya dia nolak waktu Rakan mau ngelamar dia. Tapi waktu Rakan ngga kasih kabar beberapa hari dia uring-uringan sendiri.”


“Udah kena virus bucin dia, grandpa.”


“Iya kayanya.”


“Kapan rencana Ila sama Rakan?” tanya Cakra.


“Mana kutahu. Sejak Ila minta Rakan menunda lamarannya, sampai sekarang Rakan belum bilang kapan mau datang ke rumah.”


“Biarin aja grandpa. Biar Ila sendiri yang minta dilamar bang Rakan,” Arsy hanya terikik saja membayangkan Vanila yang uring-uringan kalau Rakan tak kunjung melamarnya.


Pertanyaan Cakra langsung dibalas tendangan di kaki pria itu. Juna menggelengkan kepalanya dan Cakra baru sadar kalau sudah melakukan kesalahan. Pria itu langsung menutup mulutnya. Arsy yang sadar suasana menjadi canggung karenanya langsung mencairkan keadaan.


“Aku ngga apa-apa grandpa, kakek. Bagus kalau Aya atau Stella hamil. Aku malah penasaran, kira-kira kalau mereka hamil ngidam apa.”


“Aya boleh ngidam apa aja, asal jangan suruh opa nyanyi ala K-Pop kaya omanya dulu.”


“Ya ngga mungkin Aya tega. Kamu itu ngga ingat umur. Disuruh turun tangga aja langsung encok apalagi disuruh ngedance, hahaha..” Juna tertawa mengingat saat Rindu hamil Ravin dulu.


“Sy.. kamu harus cepat hamil lagi. Nanti kamu ngidamnya pengen lihat KiJo nyanyi di lampu merah sambil bawa kecrekan, kayanya seru tuh.”


“Abi.. jangan macem-macem ya. Cukup sekali aja pengalaman memalukan seumur hidup kaya gitu,” sewot Jojo yang langsung disambut gelak tawa lainnya.


“Pengalaman apa, KiJo?” tanya Irzal penasaran.


“Jadi begini..”


Belum sempat Abi menceritakan pengalaman fenomenal Jojo bernyanyi di lampu merah bersama dengan Agung, mulut pria itu sudah dijejali kue oleh Jojo. Melihat itu, Cakra langsung menyambung ucapan Abi, tapi mulutnya kembali dibungkam oleh Jojo. Terakhir mulut Juna yang akan berbicara juga dimasukkan pisang oleh Jojo. Hanya Kevin saja yang terlihat santai. Jojo tersenyum senang aibnya tidak terbongkar.


“KiJo kalah taruhan dari kakekmu dan harus ngamen di lampu merah sambil pakai baju perempuan, hahahaha…”


Jojo menatap Kevin kesal, ternyata pria yang aslinya tidak banyak bicara itu akhirnya membongkar aibnya juga. Irzal yang tengah minum sampai tersedak mendengar cerita Kevin. Arsy menepuk-nepuk pelan punggung sang suami sambil tak berhenti tertawa.


“Itu cuma masa lalu dan bukti cinta KiJo buat Ninda,” elak Jojo.


“Apaan.. kamu nyanyi bukan buat Dinda tapi buat Abi, hahaha..”


Wajah Jojo memerah mendengar ucapan Cakra. Namun tak ayal pria itu akhirnya tersenyum juga mengingat tingkah konyol mereka saat muda dulu.


“Zar sama Rena gimana?” tanya Juna.


“Zar udah ngebet, cuma Renanya masih mikir-mikir. Kasih dia waktu,” ujar Jojo.

__ADS_1


“Kalau Sam belum ada tanda-tanda?” Cakra melihat pada Abi.


“Belum, anak itu persis Ken waktu muda.”


“Heran. Kok bisa ya, Zar mirip Nan dan Sam mirip Ken. Apa jangan-jangan Zahra waktu hamil sebel banget sama Ken. Cuma Sam aja yang ngga mirip kelakuannya sama Nan.”


Bukan hanya Cakra yang bingung, tapi Abi dan yang lain juga bingung melihat kedua cucu mereka yang sifatnya bertolak belakang dengan sang ayah.


“Emang daddy dulu gimana?” tanya Arsy penasaran.


“Ya kamu lihat ada Zar sekarang. Persis kaya daddy kamu. Dan Sam mirip sama papa kamu.”


“Kok bisa ya?” Arsy bingung sendiri.


“Kayanya pas pembagian sifat, rohnya ketuker.”


Irzal tak bisa menahan tawanya mendengar jawaban asal Jojo. Arsy juga ikut tertawa mendengarnya. Irzal melihat pada istrinya yang mulai terlihat ceria. Diam-diam dia merasa bahagia melihat istrinya sudah bisa tertawa lepas. Kehadiran Abi dan yang lainnya membuat kesedihan Arsy menguap dengan cepat.


🍁🍁🍁


Shifa keluar dari rumahnya lalu menuju kediaman Elang. Dia bermaksud mengunjungi Arsy di rumah karena kemarin belum sempat melihat ke rumah sakit. Sebuah kendaraan berhenti di depan kediaman Elang, membuat Shifa menghentikan langkahnya. Arya turun dari dalam mobil seraya melemparkan senyuman pada Shifa.


“Hai.. kok bisa ketemu di sini? Jodoh ya,” ujar Arya.


Shifa hanya memutar bola matanya saja mendengar ucapan Arya. Wanita itu segera masuk ke dalam rumah. Dengan senyum tersungging di wajah, Arya mengikuti langkah Shifa. Azkia menyambut kedatangan Shifa dan Arya dengan ramah. Wanita itu meminta keduanya segera naik ke lantai tiga.


Arya hanya terbengong melihat kakek, grandpa, eyang, opa dan KiJo ada di kediaman sepupunya. Shifa yang juga terkejut tidak punya pilihan selain melanjutkan rencananya menjenguk Arsy. Dia langsung menghampiri Arsy dan Irzal.


“Sy.. gimana keadaanmu?”


“Alhamdulillah baik.”


“Maaf ya, kemarin aku ngga sempat jenguk ke rumah sakit.”


“Ngga apa-apa, kak. Makasih loh udah mau nengok ke sini.”


“Kalau ngga nengok kebangetan, rumahnya di pinggir juga,” celetuk Irzal.


Mendengar ucapan Irzal, Shifa hanya melayangkan cengirannya saja. Kemarin dia harus segera ke Jakarta memenuhi undangan PBSI. Dia akan kembali dimasukkan ke dalam tim untuk perebutan piala Sudirman yang akan diselenggarakan empat bulan lagi.


“Sebenarnya dia mau jenguk bareng aku, Sy. Makanya nengoknya ke rumah bukan rumah sakit,” sambar Arya.


“Mana ada,” protes Shifa.


Abi dan yang lainnya saling berpandangan melihat interaksi dua orang di dekatnya. Kelimanya saling bermain mata, dalam pikiran mereka, pasangan baru akan segera meluncur.


“Bentar-bentar, sejak kapan kalian punya hubungan?” tanya Arsy bingung.


“Kita ngga ada hubungan, Sy. Arya ini ternyata secret admirer yang aku minta selidikin ke Darren.”


“Awalnya secret admirer, tapi akhirnya calon suami,” jawab Arya dengan kepercayaan diri tinggi.


Wajah Shifa sontak memerah mendengar ucapan Arya. Tentu saja apa yang dikatakan Arya mengundang atensi pandawa lima. Otak mereka mulai berputar bagaimana caranya Shifa mau menerima Arya sebagai kekasihnya. Apalagi mereka sudah mengenal Shifa yang juga bagian dari keluarga Ramadhan.


“Mangsa baru, bi,” bisik Juna di telinga adiknya.


“Iya, kak. Cak.. gimana?”


“Lanjut aja. Jangan kasih kendor.”


“Perlu bantuan Rena ngga?” tanya Kevin.


“Kaga usah. Si Arya kan sama gilanya kaya Abi. Kita tinggal kasih stimulus aja, tuh anak pasti langsung ngerti.”


Semua hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar penjelasan Jojo. Kelimanya menatap Shifa bersamaan seraya melemparkan senyuman manis. Bulu di tubuh Shifa tiba-tiba saja berdiri melihat senyuman pandawa lima. Entah mengapa dia merasa dibalik senyum manis itu, ada bahaya yang mengincarnya.


Kemudian matanya melihat pada Arya yang juga tengah tersenyum padanya. Pria muda yang tak pernah absen mengiriminya pesan. Dalam sehari Arya bisa mengirimkan sampai dua puluh pesan ke ponselnya, membuat kepala wanita itu pening.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Kira² apa tuh rencana pandawa lima buat Arya dan Shifa?


__ADS_2