
Usai menghadiri acara syukuran di kediaman Abi, sore harinya Arya langsung membawa istrinya ke rumah sakit. Sebelum masuk ruangan operasi, Shifa harus menjalani serangkaian tes. Begitu sampai di rumah sakit, Shifa langsung masuk ruang perawatan. Tentu saja Arya sudah menyiapkan ruang VIP untuk istrinya.
Suster yang bertugas langsung menjalankan serangkaian tes yang sudah diperintahkan dokter Suci. Shifa menjalani tes pemeriksaan darah, urine, rontgen thorax, EKG dan MRI. Arya dengan setia menemani istrinya menjalani tes. Setelah tes terakhir selesai dijalani, keduanya kembali ke kamar. Makanan untuk Shifa sudah tersedia.
“Sekarang kamu makan dulu ya, sayang.”
“Aku ngga nafsu makan, mas.”
“Jangan gitu, sayang. Kamu harus makan, biar ada tenaga.
“Aku kan operasi Caesar, mas. Bukan mau lahiran normal.”
“Emangnya masuk ruang operasi ngga butuh tenaga? Nanti pas perut kamu dibelek, cacing di perut kamu lagi demo, kan malu sama dokter Suci. Tar disangkanya aku suami pelit yang ngga pernah ngasih istrinya makan.”
“Apaan, sih. Ngaco aja kamu.”
Tak ayal senyum Shifa terbit juga mendengar ucapan nyeleneh suaminya. Akhirnya wanita itu mengalah dan mau memakan makanan yang disediakan rumah sakit. Arya menyuapi istrinya sambil mulutnya tidak berhenti mengoceh.
🍁🍁🍁
Tepat jam sembilan pagi, dua orang perawat masuk ke dalam ruang perawatan. Mereka akan segera membawa Shifa ke ruang operasi. Arya mengikuti langkah kedua suster tersebut yang sedang mendorong bed istrinya. Di lantai tiga, nampak kedua orang tua Arya dan juga mertuanya sudah datang untuk memberikan dukungan.
Baru saja suster hendak mendorong masuk bed memasuki ruang operasi, sebuah suara menahannya. Arya menolehkan kepalanya ke belakang. Nampak Cakra dan Jojo berjalan mendekat, disusul Abi, Juna dan Kevin di belakangnya. Pandawa lima sepakat menunggui Shifa menjalani operasi Caesar. Mereka tidak mau kecolongan lagi seperti saat Renata melahirkan.
“Eyang ngapain ke sini?” tanya Alya bingung.
“Ya mau kasih dukungan buat cucu mantu.”
“Suster.. kita-kita boleh masuk, ngga? Biar cucu saya ngga takut,” tanya Jojo asal.
“Maaf kakek, ngga boleh. Hanya suaminya saja yang boleh masuk.”
“Boleh ya, sus. Kita ngga akan gangguin. Paling Cuma ngopi cantik aja,” sambung Cakra tak kalah nyeleneh.
“Eyang sama yang lain kalau mau ngopi cantik, di kamar aja. Tunggu kita di kamar perawatan aja, ya. Aku udah sediain cemilan, papan catur sama monopoli.”
Kedua suster yang mendorong bed Shifa hanya terkikik saja mendengar ucapan Arya. Keduanya langsung mendorong masuk bed. Arya pun bergegas menyusul. Pandawa lima masih berdiri di depan pintu ruang operasi. Aric berdiri kemudian menghampiri kelima pria tersebut.
“Papa sama yang lain mending tunggu di kamar aja. Nanti kalau operasi Shifa sudah selesai, aku langsung kabari.”
“Ya sudah. Papa nunggu di ruang perawatan aja.”
Cakra bersama yang lain segera menuju lift. Mereka segera menuju ruang perawatan Shifa di lantai 11 menggunakan lift. Sedang Aric, Naya, Azriel dan Yoshie tetap menunggu di ruang tunggu operasi.
Setelah mengenakan pakaian steril, penutup kepala dan masker, Arya ikut masuk ke dalam ruang operasi. Di sana dokter Suci dan dua orang dokter serta perawat sudah menunggu pasiennya. Dokter anestesi segera memberikan suntikan yang berisi obat bius berisi anestesi spinal dan pereda nyeri melalui kateter.
Arya berdiri di samping sang istri yang masih terjaga. Hanya area bagian bawah saja yang merasakan bius yang tadi disuntikkan. Pria itu mulai menggunakan keahlian berbicaranya untuk meredakan ketegangan sang istri. Sesekali dokter dan perawat anestesi ikut berbincang dengan Arya dan Shifa.
“Dok.. kita main tebakan aja, yuk,” ajak Arya.
__ADS_1
“Tebakan apa, pak?” tanya suster anestesi.
“Cara masukin gajah ke kulkas gimana?”
“Gampang itu. Buka pintunya, masukin gajahnya, tutup pintunya.”
“Wah pinter, suster. Terus kalau masukin kuda nil ke kulkas gimana?”
“Sama aja. Buka pintunya, masukkin kuda nilnya, tutup pintunya.”
“Kurang tepat. Harusnya buka pintunya, keluarin gajahnya, masukkin kuda nilnya, tutup pintunya.”
Suster tersebut hanya tersenyum saja mendengar jawaban Arya. Dokter anestesi menggelengkan kepalanya. Shifa yang sedari tadi hanya mendengarkan sudah bisa menduga kalau tebakan sang suami pasti jauh dari kata nalar.
“Raja hutan kasih pengumuman, semua warga hutan disuruh kumpul buat rapat pleno. Nah ada satu yang bandel, ngga ikut rapat. Siapa coba binatang yang ngga ikut rapat?”
“Monyet. Soalnya lagi sibuk panen pisang,” jawab suster asal.
“Buaya, dia lagi ngerayu korban php,” jawab Shifa.
“Beruang, lagi diajak syuting iklan,” sahut dokter anestesi.
“Salah semua.”
“Terus apa jawabannya?” tanya Shifa.
“Yang ngga ikut rapat itu, kuda nil.”
“Iya, kan dia masih di dalem kulkas.”
“Ish..”
Arya hanya terkekeh saja melihat sang istri yang mencebikkan bibirnya. Dokter Suci yang tengah berusaha mengeluarkan bayi kembar Arya dan Shifa, ikutan tersenyum mendengar tebakan asal pria itu. Suasana di ruang operasi tidak semenegangkan yang dibayangkan Arya. Shifa juga nampak rileks, tidak stress.
Empat puluh menit kemudian, operasi Caesar selesai dilakukan. Kedua anak Shifa berhasil dikeluarkan dengan selamat. Pertama-tama, bayi berjenis kelamin perempuan yang dikeluarkan, kedua, bayi berjenis kelamin laki-laki. Pasangan ini memang dikaruniai anak kembar sepasang.
Semua yang menunggu jalannya operasi Caesar merasa lega, setelah layar yang menunjukkan ruang operasi terdapat tanda kalau operasi sudah selesai dilakukan. Mereka tinggal menunggu Shifa dibawa keluar, bersama dengan kedua bayinya. Aric segera mengambil ponsel di saku celananya untuk menghubungi papanya yang berada di ruang perawatan.
Di dalam kamar, Cakra dan Jojo sedang asik bermain catur, sedang Abi, Juna dan Kevin bermain monopoli. Wajah Kevin nampak cemberut, uang miliknya habis, rumah dan hotelnya juga habis dijual. Dadu yang dikocoknya selalu saja membuatnya berhenti di rumah atau hotel milik Abi dan Juna.
“Biasa aja tuh mulut, ngga usah dimanyunin gitu. Ngga manyun aja udah jelek, apalagi manyun,” ledek Abi.
“Bukan aku aja yang manyun. Tuh lihat si Jojo juga. Keningnya udah keriput, tambah mengkerut aja, tuh. Hahaha…”
Jojo yang menjadi objek pembicaraan, langsung menolehkan kepalanya ke arah Kevin. Hal tersebut dimanfaatkan Cakra untuk memakan kembali pion milik sahabat sekaligus besannya ini.
“Eh kenapa pionnya dimakan lagi?” protes Jojo.
“Lah iya. Kan emang jalannya kuda gitu. Sapa suruh tuh pion posisinya di sana,” elak Cakra.
__ADS_1
Perhatian Kevin dan Juna beralih pada Jojo dan Cakra. Dengan cepat Abi merubah posisi dadu Kevin, hingga kalau dijalankan, bidaknya akan kembali berada di hotel milik Abi.
“Vin.. cepetan jalan.”
Kevin mengalihkan pandangannya ke arah permainannya. Dia bingung melihat dadunya berubah. Seingatnya tadi dadunya menunjukkan angka dua dan empat. Tapi sekarang menunjukkan angka dua dan lima.
“Kenapa dadunya jadi lima?” protes Kevin.
“Dari tadi juga lima,” elak Abi.
“Tadi empat, bukan lima.”
“Salah lihat kali.”
“Ah curang nih. Pasti kamu kan yang udah ganti dadunya.”
“Eh jangan fatonah. Emang ada buktinya?”
“Coba ada cctv ngga di sini?”
“Ya ampun cuma main monopoli aja ribut terus,” lerai Juna.
Perdebatan mereka terhenti ketika ponsel Cakra berdering. Mereka langsung membereskan papan catur, monopoli dan sampah bekas makanan. Aric menghubungi Cakra dan mengatakan operasi sudah selesai. Sebentar lagi Shifa dan Arya akan kembali ke ruangan.
🍁🍁🍁
Pandawa lima bersama Arya berdiri di depan ruangan inkubator. Mata Arya terus memandangi anak kembarnya yang masih harus berada di sana. Kedua bayinya dilahirkan dengan bobot sama, 2,4 kg, namun panjangnya berbeda. Anak perempuannya memiliki panjang badan 44 cm, sedang anak lelakinya, 46 cm.
“Kamu sudah siapkan namanya?” tanya Juna.
“Sudah, grandpa.”
“Eyang atau KiJo-mu nyumbang nama, ngga?” tanya Kevin.
“Ngga.”
“Mereka emang ngga kreatif,” komen Kevin.
“Heleh.. sendirinya juga ngga kreatif,” sahut Abi.
“Berisik! Siapa namanya, Ar?” tanya Cakra.
“Fara Aneska Dunia, Farraz Amartya Dunia.”
“Cakep,” sahut Kevin.
Semua setuju dengan yang dikatakan pria yang sering dijuluki kulkas dua pintu itu. Pandangan mereka kembali tertuju pada dua bayi mungil yang masih berada di dalam kotak penghangat. Jika tidak ada halangan, lusa mereka akan dipindahkan ke ruang perawatan bersama dengan Shifa.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Cuma tinggal 2 atau 3 episode lagi ya🙈