Hate Is Love

Hate Is Love
Bebende


__ADS_3

Lina atau yang memiliki nama lengkap Herlina Widiastuti menghirup oksigen sebanyak-banyaknya begitu keluar dari lapas Sukamiskin. Tamar sudah selesai melakukan pengajuan ulang penyelidikan. Dia juga menyerahkan bukti-bukti keberadaan Putra yang ternyata masih sehat walafiat sampai saat ini.


Lina segera dibebaskan dari masa tahanannya karena tidak terbukti bersalah. Wanita itu bersyukur bisa dibebaskan dari hukuman atas kesalahan yang sama sekali tidak dilakukannya. Dia segera menghampiri Tamar yang menjemputnya. Dan jangan lupakan Stella, gadis itu masih senang menempeli polisi ganteng itu.


“Pak Tamar, terima kasih sudah membebaskan saya. Sekali lagi terima kasih banyak.”


“Sama-sama, bu. Maaf juga atas ketidakmampuan saya membuktikan kalau ibu tidak bersalah saat itu.”


“Tidak apa, pak. Suami saya dan komplotannya benar-benar membuat kejahatan yang sempurna untuk menjebakku.”


“Sekarang ibu mau kemana? Biar saya antar.”


“Saya ingin bertemu dengan anak saya.”


“Baik bu. Silahkan naik.”


Stella bergerak cepat membukakan pintu belakang mobil Tamar sudah seperti asistennya saja. Dia mempersilahkan Lina untuk naik ke dalamnya, sedang dirinya naik ke bagian depan. Tak lama Tamar ikut naik dan langsung menjalankan kendaraannya.


Tangan Stella meraih kantong plastik yang ada di dekatnya lalu mengeluarkan sebotol minuman dingin. Dia menyerahkan minuman tersebut pada Lina. Sambil mengucapkan terima kasih Lina mengambil minuman tersebut kemudian meminumnya.


“Mba ini pacarnya pak Tamar?” tanya Lina.


Tamar yang juga tengah meminum minumannya langsung tersedak mendengar pertanyaan Lina. Stella hanya mencibir saja seraya melihat pada pria di sebelahnya. Gadis itu kemudian membalikkan tubuhnya, melihat ke arah belakang. Kemudian dengan senyum manisnya dia berkata,


“Bukan pacar bu. Tapi calon istri.”


Uhuk.. uhuk..


Untuk kedua kalinya Tamar dibuat terbatuk. Lina hanya mengulum senyum saja melihat interaksi dua orang di depannya. Entah mengapa dia melihat keduanya sangat serasi sebagai pasangan.


Mobil yang dikendarai Tamar berbelok menuju daerah Arcamanik. Kendaraan itu terus melaju melewati lapangan pacuan kuda. Jantung Lina berdebar dengan kencang saat kendaraan yang ditumpanginya semakin mendekati kediaman mantan mertuanya. Rasa rindu dan takut bercampur menjadi satu, menantikan detik-detik pertemuan dengan anaknya.


Egi, anak semata wayangnya kini sudah berusia enam tahun. Dua tahun berturut-turut dia melewatkan hari jadi anaknya. Tapi tidak tahun ini. Dia ingin merayakan hari bahagia anaknya itu bersama. Namun Lina juga takut akan reaksi sang anak padanya. Apakah Egi masih mengenalinya? Apakah anak itu merindukannya? Lina meremat jari jemarinya dengan erat demi mengurangi kegugupannya.


Setelah melewati beberapa belokan, mobil Tamar berhenti di depan rumah yang berukuran cukup besar dan bercat biru muda. Lina menarik nafas dalam-dalam beberapa kali. Tangannya kemudian bergerak membuka handle pintu. Untuk sejenak wanita itu berpegangan ke sisi mobil saat turun dari dalamnya. Stella mendekatinya lalu membantunya berjalan mendekati rumah.


Terdengar suara bel berbunyi setelah Tamar memijitnya. Tak lama pintu terbuka. Nampak seorang wanita paruh baya mengenakan daster berjalan mendekati pintu pagar. Wajahnya nampak terkejut begitu melihat Lina.


“Bu.. bu.. Lina,” panggilnya.


“Bi Ina, ibu ada?”


Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Kemudian tangannya bergerak membukakan handle pintu. Bersama dengan Stella dan Tamar, Lina memasuki pekarangan rumah. Dia terus mengikuti langkah bi Ina memasuki rumah. Langkah Lina terhenti ketika melihat seorang anak laki-laki berdiri di hadapannya sambil memegang robot mainannya.


“Egi..” panggil Lina dengan pelan.


Mata bulat anak laki-laki itu memandang tak berkedip pada Lina. Kedua netra Lina memanas, dan perlahan buliran bening luruh membasahi pipinya. Dengan langkah terseok wanita itu mendekat kemudian menjatuhkan dirinya dengan posisi lutut menopang tubuhnya di depan sang anak.


“Egi.. ini mama, nak.”


“Mama.”


“Iya, ini mama, nak.”


Lina memeluk tubuh anaknya. Airmatanya tak kuasa lagi untuk dibendung. Wajahnya langsung bersimbah airmata. Tangan mungil Egi memeluk punggung sang mama. Namun di saat momen mengharukan itu, Yuni, ibu dari Putra datang dan melepaskan pelukan ibu dan anak tersebut.


Yuni segera meminta bi Ina membawa Egi ke dalam. Mata wanita itu menatap nyalang pada mantan menantunya. Perlahan Lina berdiri dan berhadapan langsung dengan wanita yang sejak awal pernikahannya tidak menyukai dirinya.


“Mau apa kamu ke sini? Dasar pembunuh!”


“Apa ibu yakin kalau aku pembunuh mas Putra?”


“Apa maksudmu? Dasar wanita tidak tahu malu! Beraninya kamu datang ke sini setelah apa yang kamu lakukan pada anakku!!”


“Berhentilah bersandiwara, bu. Apa ibu tidak muak melakukannya? Anakmu masih hidup, anakmu yang sudah menjebakku dan membuatku mendekam di penjara!”


Raut wajah Yuni nampak terkejut, namun wanita itu buru-buru menetralkan kembali perasaannya. Kemudian dari arah dalam muncul Dina, adik dari Putra. Wanita itu juga terkejut melihat Lina ada di kediaman orang tuanya.


“Kamu ngapain di sini? Bukannya harusnya kamu di penjara?”


“Dengan bu Dina Melinda?” Tamar menyela percakapan.


“Iya, ada apa?”


“Besok ibu ditunggu di kantor polisi untuk diminta keterangan,” Tamar memberikan surat panggilan pada wanita itu.


“Diminta keterangan untuk apa?”


“Atas pencairan dana asuransi milik pak Putra.”


“Apa ada yang salah? Aku hanya mencairkan apa yang menjadi hak keponakanku.”


“Memang benar. Tapi ibu mengirimkan 80% uang pencairan secara bertahap pada rekening lain. Rekening atas nama Liliana. Apa ibu tahu siapa Liliana itu? Dia adalah selingkuhan bapak Putra. Berarti ibu juga tahu kalau kakak ibu belum meninggal. Bukan hanya ibu, tapi semua penghuni rumah ini pasti tahu bukan?”

__ADS_1


Wajah Dina dan Yuni langsung pucat mendengar penuturan Tamar. Melihat itu, Lina segera mencari keberadaan anaknya. Tak lama wanita itu kembali dengan membawa Egi dalam gendongannya.


“Aku akan membawa Egi. Mulai sekarang aku yang akan mengurus Egi. Aku tidak bisa membiarkan anakku tumbuh dengan keluarga penipu seperti kalian semua.”


Tanpa menunggu persetujuan mertuanya, Lina segera keluar sambil membawa Egi. Dina dan Yuni tak bisa mencegah Lina membawa pergi Egi. Keduanya hanya diam terpaku di tempatnya. Tamar segera mengajak Stella untuk pergi.


“Jangan lupa, besok kami tunggu kedatangan ibu di kantor polisi.”


Setelah mengatakan itu, Tamar dan Stella segera keluar dari rumah. Di dekat mobil, Lina dan Egi sudah menanti. Pria itu mengarahkan remote mobilnya hingga terdengar suara kunci terbuka. Lina membuka pintu mobil dan meminta Egi naik ke dalamnya.


“Sekarang kita kemana bu?” tanya Tamar setelah beraad di belakang kemudi.


“Ke rumah orang tua saja, pak.”


“Ok, bu. kasih tahu saja jalannya.”


Kendaraan roda empat yang dikemudikan Tamar mulai bergerak meninggalkan kediaman orang tua Putra. Dari kaca spion Stella bisa melihat kebahagiaan Lina saat berinteraksi dengan anak semata wayangnya. Tanpa sadar gadis itu juga ikut tersenyum.


Kepulangan Lina tentu saja disambut bahagia oleh kedua orang tuanya. Mereka bersyukur, akhirnya Lina dapat dibebaskan dari segala tuduhan. Kebahagiaan semakin lengkap ketika Lina membawa pulang Egi, cucu yang sangat dirindukan oleh mereka.


“Terima kasih pak Tamar,” ujar Lina saat Tamar dan Stella berpamitan.


“Sama-sama, bu. Kami permisi dulu.”


Stella mendekati Lina kemudian memeluknya. Setelah itu dia mengikuti Tamar naik ke atas mobil. Sama halnya seperti Lina, gadis itu juga merasa bahagia bisa ikut andil membebaskan Lina dari tuduhan dan menyatukan kembali ibu dan anak.


“Kamu mau langsung pulang?” tanya Tamar membuyarkan lamunan Stella.


“Aku laper, mau makan.”


“Makan di mana?”


“Di punclut. Aku mau makan di warung teh Mita yang ada live musicnya.”


Tanpa banyak bertanya lagi, Tamar segera mengarahkan kendaraannya menuju daerah ciumbuleuit, tepatnya menuju punclut. Daerah yang terkenal memiliki banyak saung makan dengan pemandangan indah.


🍁🍁🍁


Rumah makan teh Mita sudah banyak didatangi pengunjung ketika Tamar dan Stella sampai di sana. Pertunjukkan musik di rumah makan tersebut juga sudah dimulai. Tamar mengajak Stella duduk di dekat panggung kecil supaya mereka bisa melihat pertunjukkan musik. Beberapa pengunjung juga sudah banyak yang berkerumun di depan panggung.


Seorang pelayan datang membawakan buku menu. Dengan cepat Stella membaca deretan menu yang tersedia. Tamar hanya menunggu saja apa yang akan gadis itu pesan untuk makan malam kali ini.


“Ayam goreng satu, pepes jamur satu, pepes tahu satu, sate udang dua, nasinya satu setengah porsi, sambel sama lalapnya jangan lupa.”


“Oh boleh. Bakul kecil aja.”


“Yakin bakul kecil?” sela Tamar.


Stella mencebikkan bibirnya ke arah Tamar, kemudian meralat pesanannya menjadi bakul sedang. Tamar menutup mulutnya dengan tangan terkepal, mencoba menutupi tawanya. Namun sayang sekali, Stella melihatnya. Dengan kesal dia menendang kaki Tamar yang langsung dibalas sentilan di kening gadis itu. Sang pelayan hanya tersenyum saja melihat tingkah pasangan ini.


“Saya pesan ikan bakar sama sambel lalapnya.”


“Baik, pak. Satu ayam goreng, satu pepes tahu, satu pepes jamur, dua sate udang, satu ikan bakar, sambel, lalap dan satu bakul sedang nasi. Ada tambahan lagi?”


“Ngga ada.”


“Baik."


Pelayan tersebut segera meninggalkan meja. Pandangan Stella langsung beralih pada panggung ketika mendengar suara biduan menyanyikan lagu Sunda. Mendengar lagu berirama cepat, Stella tak bisa menahan diri untuk tidak bergoyang. Dia menggerakkan tangan dan kepalanya sambil ikut menyanyikan lagu tersebut.


“Jadi inget ka mantan, jadi inget ka mantan. Aduh inget ka mantan. Timana asalna timana mimitina. Ujug-ujug inget mantan (Jadi ingat sama mantan, jadi ingat sama mantan. Aduh teringat mantan. Darimana asalnya darimana awal mulanya. Tiba-tiba teringat mantan).”


Tamar hanya bisa tersenyum melihat tingkah gadis di depannya. Namun bukan itu saja yang membuatnya terkesan. Ternyata suara Stella sangat merdu. Bahkan menurutnya lebih merdu dari biduanita yang menyanyi di atas panggung.


“Okeh.. masih mau nambah lagunya?” tanya sang biduan.


“Lagi… lagi.. lagi..”


“Siapa yang mau nyanyi ke depan? Hadiahnya makan gratis dari teh Mita!”


Dengan cepat Tamar mengangkat tangan Stella. Gadis itu berusaha melepaskan pegangan Tamar namun sia-sia. Ditambah sang biduan sudah melihat Stella. Dia segera turun dari panggung lalu menghampiri Stella. Tangannya terulur pada gadis itu. Mau tidak mau Stella mengikuti biduan tersebut.


“Mau nyanyi apa?”


“Apa ya? Lagu Sunda ya?”


“Bebas aja sih.”


“Ok… lagu bebende.”


“Bebende kuy… musyrik!”


Pemain musik segera memainkan alat musiknya. Para penonton yang masih berada di sekitar panggung mulai ikut bergoyang mengikuti irama musik tersebut. Stella melemparkan senyum manis sebelum memulai nyanyiannya.

__ADS_1


“Duh bebende bebende anu ayeuna. Matak ngineung matak ngineung sagalana. Mun ker ambeuk matak ngineung cemberutna. Mun ker bageur matak ngineung kunyaahna. Duh bebende bebende anu ayeuna. Matak ngineung matak ngineung sagalana. Mun ker seuri matak ngineung ku lucuna. Mun ker ceurik ngineung ku goreng patutna (Duh kesayangan kesayangan yang sekarang. Membuat kepikiran membuat kepikiran segalanya. Kalau lagi marah membuat kepikiran cemberutnya. Kalau lagi baik membuat kepikiran kasih sayangnya. Duh kesayangan kesayangan yang sekarang. Membuat kepikiran membuat kepikiran segalanya. Kalau lagi senyum membuat kepikiran imutnya. Kalau lagi nangis memikirkan wajahnya yang jelek).”


Senyum tak lepas dari wajah Tamar melihat Stella yang begitu fasih dan lancar menyanyikan lagu Sunda milik Darso. Para penonton juga merasa terhibur dengan dengan penampilannya. Kemudian gadis itu turun dan menghampiri dirinya. Ditariknya tangan Tamar dan mengikutinya sampai ke panggung sambil terus menyanyikan lagunya.


“Resep ku goreng adatna. Sok mawa karep sorangan. Resep ku sae adatna. Mun gajihan loba pisan pamentana (suka sama sikapnya yang jelek. Selalu seenaknya sendiri. Suka sama sikapnya yang baik. Kalau gajian banyak sekali keinginannya).”


Tamar hanya bisa tersenyum ketika penonton yang ikut bergoyang mendekat padanya. Entah mengapa dia merasa lirik lagu yang dinyanyikan Stella seolah meledeknya. Apalagi ketika gadis itu menyanyikan lirik goreng adat terus melihat padanya.


Bunyi tepuk tangan langsung terdengar ketika Stella selesai menyanyikan lagu tersebut. Gadis itu segera kembali ke tempatnya duduknya diikuti oleh Tamar dar belakang. Di saat bersamaan pelayan datang membawakan pesanan.


“Untuk pesanan ini tidak usah bayar ya, teteh, aa. Gratis dari teh Meta,” ujar sang pelayan.


“Waahh.. makasih ya.”


“Ternyata ada gunanya juga ya kamu bisa nyanyi. Kita jadi bisa makan gratis.”


“Ish..”


Stella segera menyendokkan nasi ke dalam piringnya beserta lauk yang dipesannya tadi. Dengan lahap Stella memakan makanan tersebut. Tamar juga segera menyantap makanannya, karena perutnya sudah lapar. Apalagi melihat Stella yang begitu lahap, membuatnya semakin tergoda untuk segera makan.


Tamar mengambil bakul nasi, dan ternyata hanya tinggal tersisa sedikit saja di sana. Dia menumpahkan semua nasi ke dalam piringnya. Sedang Stella masih menikmati makannya. Tangan Tamar terulur mengambil sebutir nasi yang menempel di dekat bibir Stella, membuat gadis itu menghentikan makannya.


“Makannya pelan-pelan. Udah kaya dikejar setan aja.”


Gadis itu tak mempedulikan apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Tamar. Dia terus menghabiskan makanannya. Matanya melirik pada bakul nasi yang sudah kosong lalu melihat ke piring Tamar.


“Tadi aja ngeledek aku pesan nasi di bakul. Buktinya nambah juga.”


“Aku bukannya protes kamu pesan nasi di bakul, aku protes kamu pesan bakul kecil. Ternyata terbukti kan, habis juga.”


“Kan abang yang abisin.”


“Iya, aku masih kebagian biar sedikit. Coba kalau pesan yang bakul kecil. Udah pasti ngga akan kebagian.”


Lagi-lagi Stella hanya mencebikkan bibirnya. Pria itu senang sekali meledeknya. Padahal mereka bisa makan gratis karena suara merdunya. Diambilnya gelas berisi teh tawar lalu meneguknya sampai habis.


Sehabis makan, Tamar dan Stella tak langsung pulang. Keduanya masih menikmati penampilan live music di rumah makan tersebut. Setelah mendengarkan tiga buah lagu, keduanya segera meninggalkan rumah makan tersebut.


Stella menyandarkan punggung dan kepalanya ke jok mobil setelah memasang sabuk pengaman di tubuhnya. Tamar segera menjalankan kendaraannya. Pria itu memasang earphone Bluetooth ketika menjawab panggilan dari Aji yang melaporkan perkembangan pengejaran Putra.


Cukup lama juga pria itu berbicara, sampai akhirnya Aji mengakhiri panggilan. Pria itu menolehkan kepalanya ke samping karena curiga Stella tak bersuara sejak mereka meninggalkan rumah makan teh Mita. Tamar hanya terbengong melihat Stella sudah tertidur nyenyak.


“Ya ampun udah kaya uler aja, abis makan terus tidur. Ada ya gadis modelan begini. Heran, siapa juga yang mau jadi suaminya.”


Tamar hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah ajaib Stella. Kendaraannya terus melaju menuju kediaman Cakra. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke sana. Mobil yang dikendarainya segera berhenti di depan rumah bercat abu tersebut.


“Stel.. bangun.. oiii.. bangun…”


“Ehhmmm… masih ngantuk mami.”


“Eh buset gue disangka maminya. Stella… bangun..” Tamar menepuk-nepuk pipi gadis itu, namun Stella bergeming.


Melihat Stella yang tidur sudah seperti beruang yang sedang hibernasi, Tamar memutuskan untuk turun untuk mencari bala bantuan. Kebetulan sekali Cakra yang membukakan pintu untuknya.


“Malam, eyang.”


“Malam.. Stella mana?”


“Stella di mobi, eyang. Tidur, susah banget dibangunin. Mungkin kalau sama eyang, dia mau bangun.”


“Ya ampun anak itu.”


Bersama dengan Tamar, Cakra segera menuju mobil pria itu. Tamar membukakan pintu dan nampaklah Stella yang tertidur dengan nyenyaknya. Cakra menepuk keningnya melihat kelakuan cucu perempuannya.


“Kalau udah tidur gini dia suka susah dibangunin. Gendong aja.”


“Sama eyang?”


“Kamu pikir eyang masih kuat gendong dia? Ya kamulah.”


Tamar hanya melemparkan cengirannya. Dilepaskan sabuk pengaman di tubuh Stella. Kemudian pria itu menggendong Stella masuk ke dalam rumah. Ternyata gadis itu cukup berat juga. Apalagi dia baru saja makan, menghabiskan nasi setengah bakul. Satu per satu kaki Tamar menapaki anak tangga. Cakra membukakan pintu kamar Stella. Lalu dengan hati-hati Tamar membaringkan gadis itu di kasur.


“Terima kasih ya, Tamar.”


“Sama-sama, eyang. Saya pulang dulu.”


Setelah berpamitan dengan Cakra, Tamar segera menuju mobilnya. Pria itu menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Punggungnya lumayan pegal menggendong Stella sampai ke kamarnya di lantai dua. Tak lama kemudian, pria itu segera menjalankan kendaraannya.


🍁🍁🍁


**Astaga Stella tidurnya udah kaya beruang lagi hibernasi🤣


Maaf yo, jadwal up date molor sampe malem. Aku lagi ngga mood nulis, bawaannya ngantuk pengen tidur😴**

__ADS_1


__ADS_2