Hate Is Love

Hate Is Love
Jembatan Sinyal


__ADS_3

Matahari sudah mulai bergeser menuju peraduannya. Semburat kemerahan nampak di ujung langit, sebentar lagi perannya akan digantikan oleh sang bulan. Nampak tiga orang berjalan menuju puskesmas yang terlihat sepi. Sepulang sekolah, Dayana sengaja mengunjungi rumah-rumah muridnya untuk lebih mengakrabkan diri.


Dia juga mengunjungi salah satu muridnya yang tidak masuk sekolah karena sakit. Ternyata murid yang bernama Wati itu tengah sakit panas. Sejak semalam panasnya tidak turun, dan mulai demam. Dayana mengusulkan membawa Wati ke puskesmas. Bersama dengan ibu Wati, gadis itu menuju pusat kesehatan masyarakat yang hanya tinggal beberapa meter lagi.


Melihat puskesmas yang nampak sepi, Dayana berharap masih ada dokter yang tinggal di sana. Kalau tidak, mungkin dia harus membawa Wati dan ibunya ke rumah yang ditempati Rafa. Dayana menghembuskan nafas lega melihat pintu puskesmas yang masih terbuka. Gadis itu segera masuk ke dalamnya. Tak terlihat seorang pun di dalamnya, baik dokter maupun suster.


“Assalamu’alaikum.. dokter… suster…”


“Waalaikumsalam.”


Rafa muncul dari salah satu ruangan. Dayana cukup lega melihat Rafa yang muncul. Dia sudah takut saja kalau-kalau temannya Stella yang menyambut kedatangannya di puskesmas yang sepi ini.


“Dok.. ini muridku sakit. Badannya panas.”


“Ayo masuk. Kita periksa dulu, ya.”


Dayana membantu Wati masuk ke ruang pemeriksaan. Dia menidurkan Wati di atas blankar. Rafa mendekat sambil memasang stetoskop ke telinganya. Dia mulai memeriksa Wati, mengukur suhu tubuhnya, lalu meminta anak itu membuka mulutnya. Dia menyorotkan senter ke mulut Wati.


“Wati terkena radang, wajar kalau tubuhnya panas dan demam. Saya akan memberikan obat penurun panas, obat radang dan juga antibiotik. Antibiotiknya harus diminum sampai habis, ya.”


Wati hanya menganggukkan kepalanya saja. Anak itu turun dari blankar dibantu oleh Dayana. Rafa segera menuju ruang obat dan mengambil obat-obat yang dibutuhkan oleh Wati. Sudah tidak ada suster atau apoteker di sana yang membantunya. Sejatinya pria itu sengaja tinggal untuk mengecek perlengkapan dan peralatan yang dikirimkan oleh rumah sakit Ibnu Sina dan baru saja tiba siang tadi.


“Terima kasih, dok,” ujar ibu Wati.


“Sama-sama, bu.”


“Bu Dayana, terima kasih.”


“Sama-sama, bu.”


“Bye miss..” ujar Wati.


“Bye Wati, get well soon.”


“Thank you, miss.”


Setelah berpamitan dengan Dayana dan Rafa, Wati dan ibunya segera meninggalkan puskesmas. Rafa yang sudah menyelesaikan pekerjaannya pun bersiap untuk meninggalkan tempat tersebut. Bersama dengan Dayana, pria itu keluar dari bangunan puskesmas. Namun saat dia hendak mengunci pintu, dua orang pria datang. Salah satunya terluka di bagian paha.


“Dokter tolong.”


Rafa kembali membuka pintu dan mengajak kedua pria itu langsung masuk ke ruang pemeriksaan. Dayana hanya terpaku saja di tempatnya melihat darah yang keluar dari sela-sela bambu yang menancap di paha pria tersebut.


“Ay..” panggil Rafa.


“Aya!!”


Gadis itu tersentak ketika Rafa memanggilnya dengan suara cukup keras. Pria itu menyuruh Dayana mengikutinya. Secepatnya Dayana berusaha mengembalikan kesadarannya. Dia masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


“Cuci tanganmu lalu pakai sarung tangan.”


Dengan cepat Dayana melakukan apa yang dikatakan oleh Rafa. Dia berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Setelah mengeringkan tangannya, Dayana segera memakai sarung tangan. Rafa memberi tanda agar Dayana mendekatinya.


“Begitu aku cabut bambunya, kamu langsung tutup lukanya dengan kasa dan tekan lukanya biar darah tidak banyak keluar, mengerti?”


“I.. iya..”


Rafa menyentuh bambu yang menancap. Terdengar erangan pria tersebut, merasakan sakit yang menderanya. Rafa terdiam sebentar, mengumpulkan tenaganya di tangan, kemudian dengan satu tarikan, dia menarik bambu keluar dari paha pria tersebut. Darah langsung menyembur keluar dari luka.


Mata Dayana membulat melihat darah yang menyembur tepat di depan matanya. Tubuhnya terasa lemas dan kesadarannya mulai berhamburan. Rafa melihat pada Dayana yang tidak melakukan apa-apa.


“Aya tutup lukanya!! AYA!!”


Kesadaran Dayana kembali begitu mendengar suara Rafa. Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, gadis itu mengambil kain kasa cukup banyak kemudian menutup luka pria tersebut lalu menekannya. Kedua tangan Dayana bergetar saat melihat kain kasa yang berwarna putih itu mulai berubah menjadi merah. Jantungnya berdegup dengan kencang, nafasnya terasa sesak, lututnya juga mendadak lemas.


Rafa datang membawa cairan NaCL. Dia menyingkirkan tangan Dayana kemudian menuangkan cairan tersebut ke luka pasiennya. Tetesan cairan turun membasahi lantai. Perlahan Dayana berjalan mundur, lalu berjongkok di pojokan. Matanya terus memandangi sarung tangannya yang terdapat noda darah.


Dengan cepat Rafa menghentikan pendarahan, kemudian menjahit jaringan yang terluka. Beruntung kiriman obat dan peralatan medis untuk petolongan darurat sudah tiba. Dia bisa memberikan pertolongan pada pasien. Usai menjahit dan membungkus luka, Rafa juga memberikan obat yang harus diminum.


“Terima kasih, dokter.”


“Sama-sama. Jangan lupa perbannya diganti. Bapak bisa ke sini untuk menggantinya.”


“Baik, dok.”


Dengan langkah pelan, kedua pria tersebut meninggalkan puskesmas. Rafa masuk kembali ke ruang pemeriksaan untuk mencari keberadaan Dayana. Dia terkejut melihat Dayana yang terdiam di pojokan sambil berjongkok. Matanya terus memandangi tangannya. Rafa berjongkok di depan gadis itu.


“Aya.. Aya,” Rafa sedikit mengguncang bahu Aya untuk menyadarkan gadis itu.


“Eh.. do.. dok.. pa.. pasiennya su.. sudah per..gi?”


“Iya, kamu kenapa?”


“A.. aku.. aku..”


“Kamu takut melihat darah?”


Dayana menganggukkan kepalanya dengan lemah. Rafa membantu Dayana berdiri kemudian membawa gadis itu menuju wastafel. Dilepaskan sarung tangan dari tangan Dayana kemudian mencuci tangannya.


“Sudah selesai, ayo pulang.”


“Ta.. tapi.. itu.. lantainya..”


“Biarkan saja, besok biar dibersihkan tim kebersihan. Lebih baik kita pulang sekarang. Sebentar lagi mau maghrib.”


Rafa mematikan lampu di ruangan yang tidak digunakan, kemudian keluar dari puskesmas. Setelah mengunci pintu, pria itu berjalan pulang sambil membimbing Dayana yang masih terlihat lemas.

__ADS_1


“Terima kasih Ay, sudah membantuku.”


“Sama-sama, mas.”


“Kamu anak yang hebat. Berani menyingkirkan rasa takutmu untuk membantu pasien.”


Segurat senyum tercetak di wajah Dayana. Tak menyangka dirinya akan mendapat pujian seperti itu dari Rafa. Apalagi mengingat sikapnya yang belakangan ini terkesan dingin padanya. Rafa melihat pada Dayana seraya tersenyum. Keduanya terus berjalan hingga akhirnya berhenti di depan rumah yang ditinggali Dayana.


“Terima kasih sekali lagi. Istirahatlah.”


Tangan Rafa bergerak mengusak puncak kepala Dayana. Kemudian dia beranjak pergi menuju rumah yang ditempatinya. Untuk sesaat Dayana hanya terpaku melihat punggung Rafa yang semakin menjauh. Sebuah harapan terbit di hatinya, cepat atau lambat Rafa akan membalas perasaannya.


🍁🍁🍁


“Win.. dari mana?” tanya Dayana begitu temannya itu baru saja masuk ke rumah.


Sejak pulang dari sekolah, Wina menghilang entah kemana dan baru kembali barusan. Wajahnya nampak berseri, seperti habis menang lotre. Dia berjalan mendekati Dayana yang masih bingung melihat sikapnya.


“Abis dari jembatan sinyal. Aku habis telepon keluargaku dan pacarku, hihihi..”


“Pantes girang banget. Sampe dua jam lagi, ngomongin apa kalian hayo?”


“Banyaklah. Kita video call-an. Kamu ngga mau telepon keluargamu?”


“Mau. Di mana sih jembatan sinyal?”


“Ngga jauh dari rumah relawan cowok. Kamu jalan aja lurus terus ke arah bawah, sekitar dua ratus meteran. Nah nanti ketemu deh jembatan dari bambu. Nongki aja di jembatan, sinyalnya kenceng di situ.”


“Ok, deh.”


Bergegas Dayana menuju kamarnya. Dia mengambil ponsel kemudian berjalan menuju jembatan sinyal yang dikatakan oleh Wina. Sambil bersenandung kecil, Dayana berjalan melewati kediaman Rafa, terus turun sampai akhirnya menemukan jembatan yang dimaksud. Ternyata selain dirinya, sudah ada juga Ari, salah satu relawan yang bertugas bersamanya.


Sayup-sayup Dayana mendengar Ari menanyakan keadaan anaknya yang baru berusia satu tahun. Gadis itu mengambil jarak yang agak jauh agar tidak mengganggu percakapan pria itu. Dia segera mendial nomor mamanya, beberapa saat dia menunggu sampai Freya menjawab panggilannya.


“Assalamu’alaikum..”


“Waalaikumsalam, mama.. kangen..”


“Oh ya ampun anak mama, kenapa baru telpon? Mama cemas, mana hape kamu ngga bisa dihubungi. Mama sampe nanya sama Irzal soal kamu,” cerocos Freya.


“Di sini susah sinyal, ma. Ini aku harus jalan dulu ke jembatan sinyal.”


“Jembatan sinyal?”


“Iya.”


Dayana mengganti tampilan kamera untuk memperlihatkan di mana keberadaannya kini. Freya memperhatikan dengan seksama. Sang anak memang sedang berada di atas jembatan yang terbuat dari bambu. Di bawahnya mengalir aliran sungai yang tidak terlalu deras, hanya sungai kecil saja. Dayana mengganti kembali tampilan kameranya.


“Papa mana, ma?”


“Papa belum pulang.”


“Opa lagi di teras. Sebentar.”


Kamera di ponsel Freya nampak bergerak-gerak ketika Freya berjalan mencari keberadaan Kevin. Tak lama nampak wajah Kevin memenuhi layar ponsel. Dayana tersenyum senang melihat sang opa.


“Opa… kangen..”


“Sama, opa juga kangen. Gimana di sana?”


“Ya gitu deh opa. Penduduknya baik, cuma panas, opa.”


“Daerah Sulawesi memang panas. Banyakin minum air putih biar kamu ngga dehidrasi.”


“Iya, opa.”


“Kamu di sana disuruh bunuh-bunuhan ngga?”


“Iya, opa. Bunuh tv-nya, bunuh lampunya.”


“Hahaha.. orang sana memang seperti itu kalau bilang matikan barang-barang elektronik. Terus hubungan kamu sama Rafa bagaimana?”


“Maju mundur cantik, opa. Kadang dia baik, kadang cuek. Eh iya opa, dua hari yang lalu aku bantuin dia rawat pasien yang terkena tusukan bambu.”


Dengan semangat Dayana menceritakan pengalamannya membantu pasien yang bersimbah darah dua hari yang lalu. Tak lupa juga dia menceritakan bagaimana tanggapan Rafa padanya. Kevin ikut tersenyum senang mendengarkan cerita sang cucu. Semoga saja hubungan Dayana dan Rafa bisa terjalin dengan baik selama di sana.


Ketika sedang asik mengobrol dengan Kevin, sang opa mengatakan kalau papanya baru saja pulang. Dayana pun minta berbicara pada Ravin. Kevin pun memberikan ponsel pada Ravin, membiarkan anak dan ayah itu melepas rindu.


“Papa.. Aya kangen..”


“Papa juga kangen, sayang. Kamu baik-baik aja kan di sana?”


“Baik, pa. Tapi Aya kangen masakan mama, kangen pengen makan pizza, dimsum, jalan-jalan ke mall, ke bioskop.”


“Hahahaha… sekali-kali kamu nikmati suasana pedesaan. Kapan lagi kamu bisa melakukan itu. Jauh dari hiruk pikuk kota, ngga melulu mantengin gadget, lebih banyak bercengkrama dengan orang bukan hape.”


“Iya sih, pa.”


“Nanti kalau kamu pulang. Papa ajak kamu jalan-jalan sepuasnya.”


Dayana terus saja mengobrol dengan Ravin, Freya, Kevin dan juga Rindu. Omanya itu baru saja selesai menunaikan ibadah shalat maghrib. Tanpa gadis itu sadari, Ari sudah tidak ada lagi di dekatnya. Justru sudah berganti dengan orang lain. Seorang pria yang tadi menjadi bahan pembicaraan dengan Kevin.


Rafa terdiam sebentar di ujung jembatan, matanya menatap aliran sungai yang tidak seberapa debit airnya. Tangannya kemudian merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. dia mulai menghubungi ibu mertuanya. Hari ini adalah haul mendiang istrinya. Seperti biasa, di hari seperti ini Rafa lebih memilih untuk menyibukkan diri dan menghubungi ibu mertuanya menjelang acara pengajian.


“Assalamu’alaikum, bu..”

__ADS_1


“Waalaikumsalam. Kamu di mana, Raf?”


“Aku lagi jadi relawan di daerah terpencil. Di desa Tampaure.”


“Kamu baik-baik saja?”


“Alhamdulillah, bu. Bagaimana persiapan haul Maya?”


“Sudah beres semua. Nanti habis isya baru pengajian.”


“Maaf bu, kalau aku tidak pernah ikut acara haul.”


“Ngga apa-apa, ibu mengerti. Ibu harap kamu tidak terlalu lama hidup dalam kesedihan. Kamu masih muda, jalan hidupmu masih panjang. Kamu harus meneruskan hidup, menikah lagi, punya anak. Itu yang Maya inginkan darimu. Dia tidak mau melihatmu terus terpuruk. Carilah perempuan baik untuk pendamping hidupmu. Biarlah Maya hidup dalam kenanganmu saja.”


Kerongkongan Rafa terasa tercekat mendengar penuturan ibu mertuanya. Perasaannya pada Maya masih belum bisa dihilangkan sepenuhnya. Begitu banyak kenangan indah yang mereka habiskan bersama. Sebelum dan setelah mereka menikah. Baginya tidak ada wanita yang pantas menggantikan Maya di hatinya.


“Ibu akan selalu mendoakan untuk kebahagiaanmu. Kalau kamu sudah menemukan perempuan yang tepat, datanglah ke sini, perkenalkan pada ibu.”


“Iya, bu. Sudah dulu ya, bu. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Rafa mengakhiri panggilannya. Perlahan tubuhnya jatuh terduduk di atas jembatan. Matanya terpejam menikmati semilir angin sore. Dayana yang juga baru selesai menghubungi keluarganya baru menyadari keberadaan Rafa. Melihat pria itu sedang duduk melamun, dia berinisiatif mendekatinya.


“Mas Rafa,” sapa Dayana seraya mendudukkan diri dekat Rafa.


“Habis telepon keluarga juga, mas? Asik ya di sini sinyalnya bagus. Aku juga abis telponan sama mama, papa, opa, oma. Ya ampun kangen banget sama mereka.”


Tak ada tanggapan dari Rafa, pria itu masih setia mengatupkan mulutnya. Dayana melihat pada Rafa. Tatapan pria itu nampak kosong, seperti tengah memikirkan sesuatu. Untuk sesaat suasan menjadi hening. Dayana tidak tahu harus bicara apa karena Rafa hanya menutup mulut saja.


“Oh ya, mas. Gimana keadaan pasien yang luka?”


“Wati juga sudah sembuh. Dia sudah bisa kembali sekolah,” Dayana melanjutkan ucapannya karena Rafa tak kunjung menjawab pertanyaan.


“Besok bu RT bilang ada….”


“Hari ini adalah peringatan kepergian istriku yang keempat tahun.”


Dayana langsung terdiam mendengar ucapan Rafa. Pantas saja pria itu sedari tadi hanya diam membisu, sepertinya dia masih terkenang akan almarhumah istrinya. Dayana memberanikan diri menatap wajah Rafa yang nampak mendung. Kesedihan nampak jelas menggelayuti wajah tampannya.


“Semoga almarhumah tenang di sisi-Nya. Dan orang yang ditinggalkan diberi kesabaran, ketabahan dan semangat untuk melanjutkan hidup.”


“Aamiin..”


“Mas juga jangan lama-lama bersedih. Pasti almarhumah istri mas akan sedih kalau lihat mas seperti ini. Mengenang seseorang yang sudah meninggalkan kita bukan berarti kita harus selalu terkungkung dengan masa lalu. Kenanglah secukupnya, ingatlah jika kita merindukannya tapi tetaplah lanjutkan hidup.”


Rafa hanya terdiam merenungi ucapan gadis di sampingnya. Apa yang dikatakan Dayana dan juga ibu mertuanya memang benar. Tidak seharusnya dia terus terpaku pada Maya. Wanita itu sudah hidup tenang di alamnya, dan dia juga harus melanjutkan hidup. Menemukan seseorang yang baru, menikah dan punya anak.


“Aku pulang ya, mas. Sepertinya mas ingin sendiri.”


Dayana baru saja hendak bangun dari duduknya, ketika tangan Rafa menahan pergerakannya. Refleks Dayana menolehkan kepalanya pada Rafa.


“Bisakah kamu tinggal di sini? Temani aku.”


Gadis itu mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia kembali mendudukkan dirinya di samping Rafa. Perlahan Rafa mendaratkan kepalanya di bahu Dayana. Sontak jantung gadis itu berdetak tak karuan.


“Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Apa dia juga merindukanku?” gumam Rafa pelan.


Tak ada kata-kata yang mampu Dayana ucapkan. Gadis itu juga tengah bergelut dengan hatinya. Di satu sisi dia senang Rafa membutuhkan dirinya di saat ini. Tapi di sisi lain hatinya sakit mengetahui bukan dirinya yang dirindukan oleh pria tersebut.


🍁🍁🍁


Nilam tiba-tiba saja menghampiri Dayana yang sedang bersantai di teras rumah menikmati angin malam. Udara malam ini terasa panas, dan gadis itu memutuskan mendapatkan udara segar di teras. Walau sesekali dia harus menepuk tangannya yang terkena gigitan nyamuk. Nilam mengambil tempat di samping Dayana.


“Tadi aku lihat kamu pergi ke jembatan sinyal,” Nilam membuka pembicaraan.


“Iya, aku telepon keluargaku. Kakak ngga telepon keluarga kakak? Ngga kangen apa?”


“Sudah.”


Hanya anggukan kepala saja yang diberikan oleh Dayana. Suasana menjadi sepi lagi di antara mereka. Sebenarnya Dayana bingung juga, kenapa tiba-tiba Nilam bersikap sok akrab padanya.


“Kamu dekat dengan dokter Rafa?” tanya Nilam lagi.


“Ngga terlalu sih. Kenapa kak?”


“Ngga.. tadi aku lihat aja kamu lagi ngobrol bareng di jembatan.”


“Oh.. itu dokter Rafa lagi kangen sama almarhumah istrinya. Hari ini kan haul mendiang istrinya. Pasti dokter Rafa sedih aja inget istrinya.”


“Kok kamu tahu hari ini haul istrinya?”


“Ya dokter Rafa yang bilang. Kenapa? Jangan-jangan kakak naksir dokter Rafa ya?”


Nilam terbatuk mendengar pertanyaan Dayana. Kalau gadis ini tahu bagaimana perasaannya pada Rafa, maka bukan tidak mungkin Rafa juga menyadari perasaannya. Dayana tersenyum tipis melihat kegugupan Nilam. Walau tidak terlalu menyukai wanita itu, tapi Dayana harus menjaga kedekatannya dengan Nilam. Dengan begitu dia bisa tahu apa yang akan dilakukan rivalnya itu.


“Kata orang bersaing dengan orang yang sudah meninggal itu lebih sulit dari orang yang masih hidup. Benar kan, kak?”


“Iya, benar.”


“Tapi bukan berarti tidak bisa melakukannya. Yang penting sabar dan terus berusaha. Fighting,” Dayana mengangkat sebelah tangannya memberikan semangat pada Nilam.


Senyum Nilam terbit melihat reaksi Dayana. Ternyata gadis itu tidak seburuk yang disangkanya, bahkan menyemangati dirinya untuk terus mengejar Rafa. Setidaknya itulah yang dipikirkan Nilam. Padahal Dayana tengah menyemangati dirinya sendiri. Pembicaraannya tadi dengan Rafa sedikit banyak sudah membuka peluang untuknya. Kini waktunya untuk menjaga jarak lagi dari Rafa.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Weh Dayana, tahu betul gimana menghadapi si Nilam ya, bravo👏


Buat yang kemarin bertanya² soal bunuh²an, udah terjawab ya sama opa Kevin😁**


__ADS_2